Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 13. Nomor 1, 2026 pp. P-ISSN: 2355-6633 E-ISSN : 2548-5490 Open Access: https://jurnal. id/index. php/Deiksis/index MARYAMAoS RESISTANCE AGAINST PATRIARCHAL IDEOLOGY IN THE SHORT STORY MARYAM BY AFRION 1Khairul Anam 1Pendidikan Bahasa Indonesia. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Medan. Indonesia 1khairulanam@umsu. Corresponding authorAos email: khairulanam@umsu. ARTIKEL INFO ABSTRACT Article history: Received: 13 November 2025 Accepted: 2 Januari 2026 Published: 28 Januari 2026 This study aims to describe the hegemony of patriarchal ideology over women and the resistance of the character Maryam against patriarchal ideology in AfrionAos short story Maryam. The study employs feminist theory to examine gender roles and the characterAos resistance. This research uses a descriptive qualitative method with note-taking techniques. The data source is AfrionAos anthology of short stories Lelaki Bukan Pilihan, published by the Medan Literature Laboratory in 2018. The results indicate that men dominate women in economic and social control, while womenAos roles in the domestic sphere are more pronounced. Maryam resists this patriarchal structure by choosing not to remarry and by working independently to support herself. Keywords: Resistance. Feminism. Ideology of Patriarchy. Maryam short story DOI: 10. 33603/deiksis. INTRODUCTION Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1. Hariyadi. , & Ridwan. mengungkapkan bahwa Sastra merupakan wujud gagasan seseorang melalui pandangan terhadap lingkungan sosial yang berbeda di sekelilingya, dengan menggunakan Bahasa yang indah. Karya sastra diciptakan oleh penulis tidak melulu berisi cerita romantisme. Adakalanya karya sastra lahir dari tangan seorang penulis membawa misi pembelaan terhadap kaum yang lemah. Menurut Astuti . karya sastra adakalanya menceritakan problematika Representasi perempuan dalam teks sastra kerap merefleksikan konstruksi sosial yang membentuk identitas dan posisi perempuan dalam masyarakat (Astriyani et al. , 2. Perempuan sebagai individu memang selalu memiliki sisi Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. menarik dipandang dari berbagai aspek, terlebih bila dihubungkan dengan adat dan Seringkali dalam pandangan adat dan budaya tradisional, perempuan menempati posisi inferior bila dibandingkan dengan laki-laki. Realitas perempuan dan hubungannya dengan adat banyak tergambar dalam prosa dari masa ke masa, misalnya saja dalam novel Sitti Nurbaya. Salah Asuhan. Pengakuan Pariyem. Orang-orang Blanti dan sebagainya. Dalam kurun waktu tahun 1990-an hingga saat ini banyak sekali karya sastra yang membawa misi pembelaan terhadap kaum yang lemah bermunculan di Indonesia. Khususnya kaum perempuan dalam hegemoni ideologi patriarki. Namanama seperti Djenar Maesa Ayu. Dewi Lestari. Ayu Utami. Oka Rusmini dan lain sebagainya adalah beberapa nama yang selalu menelurkan karya dengan misi pembelaan terhadap perempuan. Tidak hanya penulis perempuan yang disebutkan tadi saja, banyak juga penulis laki-laki yang melakukan hal serupa. Emha Ainun Najib. Remy Sylado. Seno Gumira Ajidarma. Arswendo Atmowiloto. Putu Wijaya dan lain Sedangkan di Medan sendiri terdapat beberapa penulis yang membawa misi Salah satunya adalah Afrion. Selain dikenal sebagai seorang sastrawan, ia juga menekuni seni teater. Hijrah ke Jakarta . bergabung mengikuti latihan di Bengkel Teater Rendra dan mendapat kesempatan ikut dalam lakon AuThe Ritual Of Solomons ChildrenAy di New York International Festival of The Art. Membentuk Genta Enterprise bersama Ali Jauhari Productions . Mengundang Bengkel Teater Rendra. Teater Kecil Arifin C. Noor. Ikranagara, dan N. Riantiarno bersama Teater Koma Jakarta. Membentuk teater Blok . Naskah dramanya antara lain Orang Orang Tercecer . Orang Orang Terasing . Dialog Batin . Monolog Orang Orang Tercecer . Di Ujung Malam . Huma . , dan Monolog Tanah Negeri dan Semak Kuburan . Karya yang telah diterbitkan, kumpulan puisi Gelombang (Kencana Ungu Medan, 1. Sangsi (CV Sinar Agung Medan, 1. Nyanyi Jiwa (Politeknik Negeri Medan, 2. Waktu Beku (Laboratorium Sastra Medan, 2. Parade Teater Sekolah (Dewan Kesenian Medan, 2. Amuk Gelombang (Star Indonesia Group, 2. Jelajah (Valentino Group, 2. (Afrion, 2018: . p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Dalam kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Lelaki Bukan Pilihan . hampir keseluruhan cerita pendeknya mengusung misi pembelaan terhadap kaum Salah satunya adalah cerita pendek yang berjudul Maryam. Maryam adalah janda muda yang dicerai mati oleh suaminya. Sebagai seorang perempuan yang hidup dalam masyarakat yang memiliki ideologi patriarki. Maryam berusaha untuk melepaskan diri dari hegemoni ideologi tersebut. Barker . mengemukakan bahwa ideologi dapat dipahami sebagai ide, makna dan praktik yang merupakan peta makna yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Ideologi tidak dapat dipisahkan dari aktivitas praktis kehidupan, tetapi dia adalah fenomena yang berakar pada kondisi sehari-hari. Dalam analisis Gramscian, ideologi dipahami sebagai ide, makna dan praktik yang merupakan peta makna yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu. Di atas itu semua, ideologi tidak dapat dipisahkan dari aktivitas praktis kehidupan, dia adalah fenomena material yang berakar pada kondisi sehari-hari. Mies . menyatakan bahwa budaya patriarki dianggap sebagai suatu sistem nilai yang menempatkan laki-laki pada tempat yang lebih tinggi daripada Azhari, dkk. Penempatan perempuan pada posisi inferior dalam banyak narasi disebabkan oleh faktor-faktor minoritas, dan Ketika perempuan memperjuangkan kesetaraan, mereka dianggap membangkang dan disimbolkan sebagai monster. Najah . Pada pemahaman patriarki, perempuan selalu diletakkan di bawah kekuasaan laki-laki, sehingga terkesan adanya kebolehan untuk mengatur dan memanfaatkan perempuan. Menurut Ruthven . alam Sofia 2. , patriarki adalah sebuah sistem yang memungkinkan laki-laki dapat mendominasi perempuan pada semua hubungan Kaum laki-laki mewarisi sebuah tatanan sosial dimana mereka mendominasi ruang kekuasaan dan kewenangan. Sehingga aktivitas-aktivitas sosial selalu dikaitkan dengan tindakan mereka. Patriarki memberikan otoritas kepada laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan perempuan hanya memliki sedikit pengaruh dalam masyarakat. Dominasi laki-laki dalam sistem sosial bukan hanya persoalan relasi individual, melainkan bagian dari konstruksi maskulinitas hegemonik yang Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. dilembagakan secara struktural (Connell, 2. Perspektif ini membantu membaca relasi kuasa dalam cerpen sebagai representasi struktur sosial yang lebih luas. Walby . memaparkan bahwa patriarki memiliki dua bentuk yaitu patriarki domestik . rivate patriarch. dan patriarki publik . ublic patriarch. Partiarki domestik menitikberatkan pada kerja dalam rumah tangga sebagai bentuk stereotipe yang melekat pada kaum perempuan. Sedangkan patriarki publik dapat dilihat dalam struktur masyarakat. Hegemoni patriarkisme dalam struktur sosial di berbagai kelompok individu akhirnya memunculkan sebuah paham tandingan yang sering disebut dengan feminisme. Fenomena kepatuhan perempuan terhadap sistem patriarki tidak selalu dimaknai sebagai bentuk ketundukan absolut, melainkan sebagai strategi negosiasi dalam struktur yang membatasi. Deniz Kandiyoti . menyebut strategi ini sebagai patriarchal bargain, yakni bentuk kompromi perempuan dalam sistem patriarki untuk memperoleh ruang aman atau keuntungan tertentu. Feminisme adalah paham perempuan yang berupaya memperjuangkan hakhaknya sebagai kelas sosial (Selden dalam Sugihastuti, 2. Paham feminisme sering diartikan sebagai paham tentang kesetaraan gender (Anggarista, 2. Arinahaten . menyatakan gerakan perempuan yang terjadi di seluruh dunia seakan tidak ada habisnya, banyak parakaumperempuan yang menuntut untuk diperlakukan secara adil layaknya perlakuan terhadap kaumpria. Lalumuncullah gerakan revolusioner yang kita kenal saat ini sebagai gerakan Feminisme. Feminisme dalam sastra menitikberatkan perempuan sebagai pusat studi atau pusat kajian. Feminisme dalam sastra berawal dari dua sebab utama. Pertama, keinginan untuk mengkaji karya-karya penulis perempuan. Menginginkan sebuah pengakuan bagi para sastrawan perempuan, ingin membongkar dominasi para sastrawan laki-laki. Ingin memperkenalkan dan mengkaji tulisan-tulisan para sastrawan perempuan karena selama ini para pengarang perempuan jarang disinggung oleh kritikus. Dan yang sedikit itu pun merupakan kajian tulisan perempuan secara tidak adil. Kedua, untuk menampilkan dan merepresentasikan citra perempuan yang selama ini ditekan, ditindas, dan didominasi oleh tradisi patriarkis. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Boleh dikatakan sebagai hasrat untuk membongkar, melawan, dan memberontak terhadap dominasi tradisi patriarki. (Endraswara, 2. Teori feminis bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang lebih dalam mengenai situasi perempuan. Feminisme berpandangan bahwa perempuan juga memiliki hak terhadap dirinya sendiri, baik secara individu maupun sosial. Feminisme yang meliputi penelitian tentang bagaimana perempuan digambarkan dan bagaimana potensi yang dimiliki perempuan di tengah kekuasaan patriarki. Feminisme menawarkan berbagai analisis mengenai penyebab, pelaku dari penindasan perempuan (Humm, 2. Dalam wacana feminis, suatu perlawanan atau pertahanan terhadap dominasi tertentu disebut resistensi. Resistensi merupakan tindakan perlawanan yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu yang merasa tertindas baik secara langsung maupun tidak langsung. Maghfiroh . menyatakan bahwa Resistensi merupakan sikap bertahan, berusaha melawan, tindakan menentang dengankekuatan dan sumber daya yang dimiliki. Bentuk resistensi beragam dan dilakukan dengan berbagai cara. Dalam hal ini, resistensi yang dimaksud adalah resistensi perempuan terhadap bentuk dominasi patriarki dalam masyarakat serta adat istiadat yang mengungkung perempuan. Dengan demikian kritik sastra feminis lebih dari sekedar perspektif, ia menampilkan teori-teori kritis (Ruthven, 1. Berdasarkan pemaparan pada paragraf-paragraf sebelumnya, dapat diketahui bahwa penelitian ini memiliki kebaruan karena secara khusus memfokuskan kajian pada cerpen Maryam dalam kumpulan Lelaki Bukan Pilihan karya Afrion dengan menggunakan perspektif hegemoni patriarki Gramscian yang dipadukan dengan konsep resistensi dalam kritik sastra feminis, yang hingga kini belum banyak disentuh dalam kajian terhadap karya-karya Afrion. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang cenderung membahas representasi perempuan secara umum, studi ini menegaskan analisis pada bentuk-bentuk hegemoni patriarki domestik dan publik serta strategi resistensi tokoh perempuan dalam konteks lokalitas Medan, sehingga memberikan kontribusi baru dalam khazanah kritik sastra feminis Indonesia, khususnya terhadap karya sastrawan daerah yang masih minim kajian akademik. Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. METHODS Penelitian ini meneliti tentang perlawanan tokoh Maryam terhadap ideologi patriarki yang dialami oleh perempuan dalam kumpulan cerita pendek Lelaki Bukan Pilihan karya Afrion dengan menggunakan metode kulaitatif. Anggito. Albi, dan Setiawan, . alam Aulia. , & Efendi. mengemukakan penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar belakang alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Sumber data dalam penelitian ini adalah kumpulan cerita pendek Lelaki Bukan Pilihan karya Afrion. Tebal kumpulan cerita pendek tersebut secara keseluruhan adalah 98 halaman. Buku ini diterbitkan oleh Laboratorium Sastra Medan pada tahun 2016 dengan nomor ISBN 978-602-1239-24-7. Sejalan dengan apa yang disampaikan Kusumawardani et. Ramadhani. , & Febriyana. Teknik simak dan catat merupakan instrumen kunci dalam melakukan penyimakan secara cermat, terarah, dan teliti terhadap karya sastra sebagai sasaran penelitian yang berupa teks kumpulan cerita pendek Lelaki Bukan Pilihan untuk memperoleh data yang diinginkan. Hasil penyimakan tersebut, kemudian dicatat untuk digunakan sebagai sumber data yang akan digunakan dalam penyusunan penelitian sesuai dengan maksud dan tujuan yang ingin dicapai. Teknik yang dilakukan setelah pengumpulan data adalah analisis data. Analisis data merupakan faktor yang penting dalam menentukan kualitas dari hasil Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Penggunaan metode kualitatif deskriptif bertujuan untuk mengungkap semua masalah yang terjadi terhadap tokoh utama Maryam dalam cerita pendek berjudul Maryam baik dari sisi hegemoni patriarki dan perlawanan yang dilakukan oleh tokoh utama sebagai perempuan. Metode kualitatif deskriptif dapat digunakan untuk menguraikan permasalahan yang menjadi topik dalam penelitian ini dari sumber data yang diperoleh sehingga mendapatkan pembahasan yang lebih terperinci. RESULTS AND DISCUSSION p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Hegemoni Ideologi Patriarki Pada Cerita Pendek Maryam Menurut Purba. Nasution. & Warjio . Setiap kekuasaan dalam masyarakat yang menganut sistem patriarki dikontrol oleh laki-laki. Perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh dalam masyarakat atau bisa dikatakan tidak memiliki hak, pada wilayah-wilayah umum dalam masyarakat. Mereka secara ekonomi, sosial, politik, dan psikologi tergantung pada laki-laki, khususnya dalam institusi pernikahan. Sehingga dalam keluarga maupun masyarakat perempuan diletakkan pada posisi subordinat atau inferior. Hegemoni ideologi patriarki dimana laki-laki sebagai pemegang dominasi dan kontrol atas perempuan dalam hal ekonomi dapat ditemukan dalam cerita pendek Maryam. Setelah suami Maryam meninggal. Angku Gadang, mertua Maryam, setiap hari datang menemuinya di ladang untuk memberikan uang belanja untuk sehari atau sekadar membawakan kayu bakar untuknya. Sejak suaminya meninggal. Maryam menjadi sendirian bekerja mengurus ladang karet, menderes getah, menyabit rumput liar dan mengumpulkan ranting-ranting membelah kayu seukuran yang bisa ia bawa pulang. (Afrion, 2016: . Telebih lagi Angku Gadang, mertuanya yang selama ini begitu mengasihinya. Saban hari ketika maryam selesai bekerja mengurus ladang pohon karet, menderes getah, menyambit rumput liar dan mengumpulkan ranting-ranting pohon di tengah ladang. Angku Gadang datang merayunya. Kalau tidak sekedar memberikan uang belanja sehari, ia akan membawa beberapa ikat kayu bakar. (Afrion, 2016: . Sedangkan hegemoni ideologi patriarki di mana laki-laki sebagai pemegang dominasi dan kontrol atas perempuan dalam hal sosial tampak sejak suami Maryam meninggal dunia. Maryam, janda muda yang tinggal di kampung dengan budaya patriarki yang kental dianggap tidak pantas untuk melakukan pekerjaan yang digeluti almarhum suaminya sebelum suaminya meninggal, yakni menderes getah. Keganjilan pandangan budaya patriarki terhadap apa yang dikerjakan oleh Maryam menimbulkan hasrat para lelaki di kampungnya untuk membawa Maryam kembali pada kodratnya sebagai perempuan dalam kacamata patriaki, yaitu perempuan hanya Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. sebagai subordinat atau inferior yang pekerjaannya hanya membantu pekerjaan lakilaki dalam hal mengurus rumah tangga. Meneruskan kerja suaminya, bukan pilihan yang mudah baginya. Kalau ia tidak mau mati kelaparan dengan wajah keriput dan tubuh kurus kering. Ia harus bekerja keras mencari nafkah untuk menyambung hidupnya. Ditinggal suami mati muda, hal yang tidak pernah disangka-sangka terjadi begitu cepat. Bekerjalah ia memaksakan diri, mengurus pohon karet peninggalan suaminya. Sebagaimana kebanyakan perempuan di kampung itu, terbiasa membantu suami mengurus ladang-ladang mereka. Meskipun hanya mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kemampuan tenaga, selebihnya, mereka akan mengurus anak-anak dan mengatur rumah tangga. Di tengah pekerjaan menderes, ada saja lelaki lajang yang menawarkan tenaga. Para lelaki itu sesekali merayunya dan mengajak kawin. (Afrion, 2016: 76-. Tak hanya lelaki lajang saja, bahkan mertua Maryam. Angku Gadang pun berhasrat ingin menikahi Maryam. AuKalau kau mau jadi istriku, tak perlu kau pergi menderes getah,Ay rayu Angku Gadang suatu ketika. Ayhidup sendirian itu tidak baik untuk masa depanmu,Ay lanjutnya. (Afrion, 2016: Hegemoni ideologi patriarki terhadap perempuan yang menganggap perempuan sebagai subordinat atau inferior dalam keluarga tergambar jelas dalam cerita pendek Maryam. Maryam sebagai seorang anak perempuan dari keluarga yang hidup dengan ideologi patriarki harus rela, mau tidak mau menerima kehendak orang tuanya untuk dinikahkan di usia muda. Sebenarnya kalau tidak karena paksaan orang tua. Maryam tidak mau kawin di usia Kala itu usia Maryam baru 15 tahun. Kebanyakan orang tua di kampung itu memang ketakutan kalau anak gadisnya jadi perawan tua. Begitu cepat ia menikah, hingga tak ada kesempatan baginya menikmati masa gadis. (Afrion, 2016: . Madsen . menyatakan bahwa pekerjaan perempuan hanya pada wilayah domestik, mengurus suami, menjadi ibu dengan mengurus anak-anaknya. Peranperan domestik tersebut dilekatkan pada sosok perempuan oleh masyarakat yang menganut sistem patriarki. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Peran-peran domestik yang dilekatkan pada perempuan tersebut juga melekat pada Maryam dan perempuan lain yang telah menikah di kampungnya. Hal ini tergambar jelas dari kutipan berikut. Sebagaimana kebanyakan perempuan di kampung itu, terbiasa membantu suami mengurus ladang-ladang mereka. Meskipun hanya mengerjakan pekerjaan sesuai dengan kemampuan tenaga, selebihnya, mereka akan mengurus anak-anak dan mengatur rumah (Afrion, 2016: . Maka itu, setiap hari menjelang siang. Maryam pergi ke ladang mengantarkan makanan untuk suami. Sesekali ia ikut menderes getah sambil mengumpulkan kayu bakar untuk dibawa pulang. (Afrion, 2016: . Berdasarkan pemaparan tersebut dapat ketahui bahwa hegemoni ideologi patriarki yang terdapat dalam cerita pendek Maryam karya Afrion adalah hegemoni dalam hal dominasi laki-laki terhadap perempuan di bidang ekonomi dan sosial. Selain itu, hegemoni ideologi patriarki juga melekatkan peran yang lebih besar pada bagian domestik terhadap perempuan. Menurut Azhari, dkk. Penempatan perempuan pada posisi inferior dalam banyak narasi disebabkan oleh faktor-faktor domestifikasi, minoritas, dan diskriminasi. Cerita pendek Maryam dalam kumpulan Lelaki Bukan Pilihan karya Afrion menggambarkan bagaimana ideologi patriarki menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Maryam, setelah ditinggal suami, tetap berada di bawah pengawasan dan kontrol laki-laki, baik dari mertuanya maupun masyarakat Laki-laki memiliki dominasi terhadap perempuan dalam kontrol ekonomi dan sosial, yang sejalan dengan temuan Sylvia Walby . dan Gilbert . bahwa patriarki bekerja melalui struktur sosial yang melekat secara material dan simbolik. Kontrol ekonomi terhadap perempuan menjadi salah satu instrumen utama pelanggengan patriarki, terutama dalam sistem sosial yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang bergantung secara finansial (Fraser, 2. Dalam cerpen Maryam, ketergantungan ekonomi tersebut tampak sebagai mekanisme pembatasan otonomi tokoh perempuan. Dalam konteks ini, patriarki tidak hanya hadir sebagai relasi personal, tetapi sebagai sistem yang terinstitusionalisasi dalam kehidupan kampung. Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Tekanan patriarki tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga simbolik. Misalnya, rayuan Angku Gadang, mertuanya, yang dibungkus sebagai perhatian dan bantuan sehari-hari, merupakan bentuk kontrol tersembunyi terhadap perempuan (Afrion. Bezhan . menekankan bahwa perempuan dalam masyarakat patriarkal sering menghadapi bentuk kontrol halus seperti ini, yang dapat membatasi kebebasan psikologis mereka. Kontrol simbolik tersebut memperlihatkan bahwa dominasi lakilaki tidak selalu tampil dalam bentuk kekerasan langsung, tetapi juga melalui relasi ketergantungan yang dilegitimasi sebagai kepedulian. Selain itu, struktur sosial kampung menuntut perempuan untuk tunduk pada norma tradisional, misalnya Maryam dipaksa menikah pada usia 15 tahun. Hal ini sesuai dengan teori Nguyen . bahwa patriarki mengekang perempuan melalui norma sosial yang membatasi pilihan hidup mereka, termasuk hak untuk menentukan pernikahan dan pekerjaan. Jika dibandingkan dengan representasi perempuan dalam Sitti Nurbaya karya Marah Rusli yang juga menghadirkan kawin paksa sebagai instrumen dominasi. Maryam berada dalam pola struktur yang serupa, tetapi dengan perkembangan agenitas yang berbeda. Perbandingan ini menunjukkan adanya pergeseran representasi perempuan dalam sastra Indonesia dari figur korban pasif menuju subjek yang memiliki potensi resistensi. Perlawanan Maryam Terhadap Ideologi Patriarki Menurut Ruthven . , dalam wacana feminis, suatu perlawanan atau pertahanan terhadap dominasi tertentu disebut resistensi. resistensi merupakan tindakan perlawanan yang dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu yang merasa tertindas baik secara langsung maupun tidak langsung. Bentuk resistensi beragam dan dilakukan dengan berbagai cara. Dalam hal ini, resistensi yang dimaksud adalah resistensi perempuan terhadap bentuk dominasi patriarki dalam masyarakat serta adat istiadat yang mengungkung perempuan. Dalam cerpen Maryam diceritakan bahwa setelah suami Maryam meninggal banyak lelaki lajang di kampungnya yang datang untuk menggoda dan merayunya dengan dalih menawarkan bantuan agar mau dinikahi oleh mereka. Bahkan mertua Maryam pun ikut memaksa Maryam agar mau menikah dengannya. p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Di tengah pekerjaan menderes, ada saja lelaki lajang yang menawarkan tenaga. Para lelaki itu sesekali merayunya dan mengajak kawin. Telebih lagi Angku Gadang, mertuanya yang selama ini begitu mengasihinya. Saban hari ketika maryam selesai bekerja mengurus ladang pohon karet, menderes getah, menyambit rumput liar dan mengumpulkan rantingranting pohon di tengah ladang. Angku Gadang datang merayunya. Kalau tidak sekedar memberikan uang belanja sehari, ia akan membawa beberapa ikat kayu bakar. (Afrion, 2016: Bentuk perlawanan yang dilakukan Maryam adalah dengan cara menolak dengan halus keinginan mertuanya itu. Penolakan tersebut tergambar dari kutipan Akan tetapi, dengan kelembutan dan keramahan Maryam, setiap kali Angku Gadang merayunya dan mengajaknya kawin, ia berusaha menolak dengan kata-kata yang santun agar lelaki itu tidak tersinggung. (Afrion, 2016: . Kungkungan terhadap Maryam oleh keluarganya yang memaksa ia menikah muda dengan almarhum suaminya serta kekerasan fisik yang diterima Maryam ketika sudah menikah membuatnya kehilangan kebebasan dan merasa ketakutan yang luar Kala itu usia Maryam baru 15 tahun. Kebanyakan orang tua di kampung itu memang ketakutan kalau anak gadisnya jadi perawan tua. Padahal jodoh tidak bisa dipaksakan. Ibarat buah mentah yang masak dikarbid, manisnya akan lain jika dibandingkan dengan buah yang masak di pohon. Begitu cepat ia menikah, hingga tak ada kesempatan baginya menikmati masa gadis. Hidup sendiri bagi Maryam tidaklah mengenakkan. Tetapi siapa yang bisa menjamin dirinya bisa sebebas sekarang ini. dibandingkan dulu ketika suami masih hidup, banyak hal yang membuat ia dicekam ketakutan. Setiap kali suami pulang dari menderes getah, ia akan selalu dimarahi, dicurigai, bahkan sering menerima tamparan kalau ia membantah. Sesungguhnya, keramahan Maryam kepada semua orang telah disalah artikan. Baik oleh suaminya sendiri maupun kebanyakan lelaki di kampung itu. Bukan main gundah perasaannya, kadang harus berdiam diri seharian di rumah. Membuat dirinya merasa (Afrion, 2016: 82-. Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Keinginan untuk tidak lagi terkungkung dan merasa ketakutan memunculkan perlawanan dalam diri Maryam yang direpresentasikan dalam bentuk sikap tidak ingin menikah lagi. Maryam bersumpah dengan dirinya untuk tidak menikah lagi sampai kapanpun. Sebagaimana digambarkan kutipan berikut. AuJangan sembarangan menerima orang! Apalagi yang namanya laki-laki, tidak baik dilihat tetangga! Laki-laki kalau dikasih hati, makin lama makin ngelunjak,Ay ujar Nek Suti AuMereka saja yang mata keranjang. NekAy jawab Maryam datar. AuMakanya kau secepatnya kawin, biar mereka itu tidak datang-datang lagi. Ay AuAku telah bersumpah. Nek. Ay AuBenar kau tidak akan kawin lagi. Ay AuYa. Ay AuKenapa? Kaukan masih muda. Ay AuKawin tidak menjadikan aku bisa sebebas sekarang ini. Ay AuSampai kapan. Ay AuSampai kapanpun. Ay (Afrion, 2016: 81-. Perlawanan yang dilakukan Maryam tidak hanya dilakukan dengan halus. Pada akhirnya Maryam dengan terpaksa membunuh Angku Gadang, mertua Maryam, demi mempertahankan dirinya dari penindasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Angku Gadang. Perlawanan tersebut tergambar dalam kutipan Angku Gadang yang begitu dibencinya sekarang ini. datang merayu dan Ia menjerit menghindari tingkah Angku Gadang yang berlutut di kakinya. Maryam hampir terjatuh ketika Angku Gadang menarik kedua kakinya, namun secepat itu ia menghujamkan pisau deres hingga melukai wajah lelaki durjana itu. Angku Gadang membalas menampar wajah Maryam, memukul dan menghajarnya, sampai Maryam terjerembab ke tanah. Tak berdaya. AuAku tidak mau kalau kau kawin dengan laki-laki lain. Maryam!Ay AuAku tidak akan kawin. Pak! Tidak akan kawin dengan siapa pun!Ay AuLima tahun aku menunggu, sekarang kesabaranku sudah habis!Ay AuMalu pak! Aku malu! Jangan paksa aku kawin dengan mertuaku sendiriAy p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. AuAh! Persetan dengan mertua. Ay AuAmbilah tanah dan ladang itu, tapi jangan paksa aku, jangan pukul aku lagi. Pak. Ay AuAku kasihan melihatmu. Maryam! Aku hanya mau melindungimu. Kawinlah denganku, aku akan senang, akan bahagia. Ay Angku Gadang mengangkat tubuh Maryam, lalu tubuh yang tak berdaya itu dipeluknya kuat-kuat seakan tidak mau ia lepaskan. Maryam membiarkan saja Angku Gadang melakukan sesuka hati, membelai rambut, menghapus airmatanya. Tak ada daya lagi bagi Maryam melawan. Seterusnya, ketika Angku Gadang mulai nakal. Maryam menggeliat menghentakkan Maka lepaslah ia dari pelukan laki-laki itu. Menghindar, berlari menjahui. Angku Gadang mengejar, namun dengan cepat Maryam menarik parang dari pinggangnya. Begitu Angku Gadang mendekat, diayunkannya parang sampai mengenai tangan lelaki itu. Hilang pikiran Maryam, pandangannya gelap. Dengan membabi buta parang itu dihujamkan ke tubuh Angku Gadang, berkali-kali sampai lelaki durjana itu terjerembab ke tanah, lunglai bersimbah darah. (Afrion, 2016: 8. Bentuk lain dari perlawanan Maryam terhadap ideologi patriarki adalah dengan mengambil peran suaminya yaitu bekerja mengurus ladang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal itu tergambar dalam kutipan berikut. Sudah bulat hati Maryam untuk hidup sendiri dan memutuskan tidak kawin, sampai Meski ia kadang gemetar membayangkan waktu yang panjang, menderes getah, menggurat-gurat bayang membuat jalur parit getah putih itu kemudian mengucur ditampung Lalu sambil menunggu mangkuk itu penuh, ia menyabit rumput liar di sekitar batang pohon. Menjelang sore, getah yang dideres itu dikumpulkan dalam satu ember plastik Tidak terbayang olehnya akan bekerja sepenuh waktu, seharian mengerjakan ladang, membuka hutan liar dan menanam bibit pohon karet yang baru. (Afrion, 2016: . Berdasarkan pemaparan tersebut dapat diketahui bahwa perlawanan Maryam terhadap ideologi patriarki yang melingkupi masyarakat kampungnya yakni dengan memilih untuk tidak menikah lagi dan bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhan Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Maryam menunjukkan resistensi perempuan terhadap patriarki dalam bentuk simbolik dan radikal. Hal ini sejalan denga napa yang disampaikan oleh Indriani & Azzahra, . bahwa diskriminasi terhadap perempuan dalam karya sastra tidak hanya hadir dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga melalui normalisasi subordinasi sosial dan simbolik. Secara simbolik Maryam menolak rayuan Angku Gadang dengan kata-kata santun dan menjaga jarak, meskipun tetap berada dalam lingkungan yang menekan (Afrion, 2. Bezhan . menyebutkan bahwa perempuan dalam kondisi patriarki sering mengekspresikan resistensi secara halus atau terselubung untuk menghindari konsekuensi sosial. Pada tahap ini. Maryam masih bergerak dalam batas norma sosial, melakukan negosiasi tanpa konfrontasi terbuka. Keputusan Maryam untuk bertahan dalam relasi yang tidak setara sebelum akhirnya memilih mandiri dapat dibaca sebagai bentuk patriarchal bargain, yaitu negosiasi dalam struktur patriarki sebelum resistensi terbuka dilakukan (Kandiyoti. Namun, jika dibandingkan dengan tokoh perempuan dalam Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG yang resistensinya lebih bersifat internal dan reflektif, resistensi Maryam berkembang lebih progresif. Ia tidak berhenti pada kesadaran simbolik, tetapi bergerak menuju tindakan yang lebih tegas ketika tubuh dan martabatnya terancam. Ketika tekanan patriarki meningkat. Maryam beralih ke resistensi aktif, yakni membela diri dari pelecehan fisik dan ancaman terhadap keselamatannya sendiri, bahkan menggunakan kekerasan terhadap Angku Gadang (Afrion, 2. Bezhan . menegaskan bahwa perempuan yang awalnya mengalami penindasan simbolik dapat berkembang menjadi agen aktif melawan struktur yang menindas. Dalam konteks ini, tindakan kekerasan yang dilakukan Maryam dapat dibaca bukan semata sebagai tindakan kriminal, melainkan sebagai bentuk perlawanan eksistensial terhadap dominasi yang telah melampaui batas. Tindakan tersebut tidak dimaknai sebagai glorifikasi kekerasan, melainkan sebagai representasi ekstrem dari akumulasi tekanan struktural yang tidak menyediakan ruang perlindungan hukum maupun sosial bagi perempuan. Dalam p-ISSN : 2355-6633, e-ISSN : 2548-5490 Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. situasi ketika norma adat, keluarga, dan komunitas justru memperkuat posisi pelaku dominasi, kekerasan yang dilakukan Maryam merefleksikan kondisi keterdesakan eksistensial, bukan pilihan ideologis yang bebas nilai. Selain itu. Maryam mengambil alih peran suaminya dalam mengurus ladang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Tindakan ini mencerminkan dekonstruksi peran gender tradisional yang melekat pada perempuan di masyarakat (Butler. Nguyen. Jika performativitas gender dari Judith Butler, tindakan tersebut merupakan bentuk subversi terhadap konstruksi sosial yang membatasi perempuan pada ranah Maryam tidak hanya menolak pernikahan ulang, tetapi juga menegaskan kemandirian ekonomi sebagai strategi pembebasan. Dengan demikian, resistensi Maryam bukan hanya bentuk pembelaan diri, tetapi juga upaya menegaskan agenitas perempuan dalam ranah sosial dan ekonomi. Berbeda dari banyak narasi perempuan desa yang berakhir pada kompromi atau kepatuhan strategis. Maryam menampilkan spektrum resistensi yang utuh: simbolik, konfrontatif, dan transformatif. Temuan ini memperlihatkan bahwa cerpen Maryam tidak sekadar mereproduksi wacana perempuan sebagai korban patriarki, tetapi menghadirkan model agenitas yang secara aktif mendekonstruksi relasi kuasa dalam Selain itu, temuan ini memperluas kajian resistensi perempuan desa dalam sastra Indonesia yang selama ini lebih banyak menempatkan perempuan pada posisi negosiatif, dengan menghadirkan model resistensi yang bersifat transformatif dan konfrontatif. CONCLUSION (Book Antiqua, 11 pt, bol. Penelitian ini menunjukkan bahwa hegemoni patriarki dalam cerpen Maryam pada kumpulan Lelaki Bukan Pilihan karya Afrion beroperasi melalui mekanisme kontrol ekonomi, kontrol sosial, dan pelekatan peran domestik yang secara sistematis membatasi ruang gerak Dominasi laki-laki tidak hanya hadir sebagai relasi personal, tetapi juga dilegitimasi oleh struktur budaya kampung yang menormalisasi subordinasi perempuan sebagai bagian dari tatanan sosial. Khairul Anamr1 . Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Vol. Sebagai respons atas tekanan tersebut. Maryam membangun resistensi yang berkembang dari bentuk simbolik hingga konfrontatif. Keputusannya untuk tidak menikah kembali dan memilih bekerja secara mandiri merupakan upaya afirmasi agenitas diri dalam menghadapi struktur yang represif. Tindakan tersebut tidak dimaknai sebagai glorifikasi kekerasan, melainkan sebagai representasi ekstrem dari akumulasi tekanan struktural yang tidak menyediakan ruang perlindungan hukum maupun sosial bagi perempuan. Secara teoretis, penelitian ini memperlihatkan bahwa representasi perempuan desa dalam sastra Indonesia tidak lagi semata ditempatkan sebagai korban pasif, tetapi sebagai subjek yang mampu membangun resistensi transformatif terhadap struktur patriarki. Temuan ini memperkaya kajian kritik sastra feminis dengan menunjukkan kompleksitas strategi perlawanan perempuan dalam teks prosa fiksi. Dalam konteks pendidikan dan kajian sastra, hasil penelitian ini relevan sebagai rujukan dalam pembelajaran apresiasi prosa berbasis perspektif feminis. Cerpen Maryam dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar untuk melatih kemampuan analisis relasi kuasa gender, membaca ideologi dalam teks sastra, serta menumbuhkan literasi kritis dan kesadaran gender dalam pendidikan sastra. REFERENCES