Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 Februari 2018 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI ALAT PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA MELALUI PENERAPAN METODE MAKE A MATCH UNTUK KELAS V SD NEGERI 2 LHOKSEUMAWE Rahma dan Hayatul Husna Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Almuslim. Bireuen ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar siswa yang masih rendah dan kurangnya aktivitas guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan Hasil belajar siswa pada materi alat pencernaan makanan pada manusia dalam pembelajaran IPA dengan menggunakan metode Make A Match. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan di SD Negeri 2 Lhokseumawe tahun ajaran 2017/2018. Subyek penelitian adalah siswa kelas V SD Negeri 2 Lhokseumawe yang terdiri dari 20 siswa yaitu 5 laki-laki dan 15 perempuan. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak II siklus, dimana setiap siklus terdiri 4 tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode Make A Match dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi alat pencernaan makanan pada manusia di kelas V SD N 2 Lhokseumawe tahun ajaran 2017/2018. Berdasarkan hasil analisis hasil belajar siswa pada siklus I diperoleh sebesar 65% sedangkan pada siklus II sebesar 90%. Aktivitas guru pada siklus I sebesar 71% dan pada siklus II 95%. Aktivitas siswa pada siklus I sebesar 62% dan pada siklus II 91%. Respon siswa kelas V SD Negeri 2 Lhokseumawe pada materi alat pencernaan makanan pada manusia melalui metode Make A Match menunjukkan respon yang sangat baik, sebanyak 45% siswa sangat senang dengan penggunaan metode Make A Match. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Make A Match dalam pembelajaran disukai oleh siswa. Kata Kunci: Hasil Belajar IPA. Make a Match. Alat Pencernaan Manusia PENDAHULUAN Pada hakikatnya IPA terdiri atas kumpulan produk ilmiah dan serangkaian proses ilmiah. Produk ilmiah yang dihasilkan dari proses ilmiah pada gilirannya akan menjadi dasar bagi proses ilmiah berikutnya untuk menghasilkan produk ilmiah yang baru. Oleh karena demikian, sudah seharusnya bagi guru untuk menjadikan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar khususnya sebagai mata pelajaran yang membuat pemikiran siswa mengalami tahap konsep, proses, dan produk. Namun kenyataan di lapangan dalam proses pembelajaran, guru kurang menggunakan model pembelajaran yang bervariasi, sehingga dalam proses belajar mengajar guru tidak termotivasi untuk melakukan demonstrasi, pengamatan atau percobaan walaupun dengan media sederhana. Siswa diharapkan bisa aktif dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga mampu menguasai materi secara ideal dan bermakna dengan bekerja serta berfikir sehingga akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta melatih kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor siswa di sekolah dan dalam kehidupan mereka. Berdasarkan observasi yang dilakukan sebelumnya, bahwa keaktifan siswa kelas V SD N 2 Lhokseumawe belum maksimal, hal itu disebabkan karena, guru pada saat mengajar masih menggunakan metode ceramah, metode tersebut mengakibatkan siswa asyik bermain sendiri, serta tidak fokus terhadap mata pelajaran. Dalam pembelajaran tentang alat pencernaan makanan pada manusia, siswa kurang memperhatikan ketika guru menjelaskan materi pelajaran sehingga siswa sulit memahami pelajaran IPA tersebut. Sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa kelas V SD N 2 Lhokseumawe masih rendah, yaitu 60 di bawah nilai kriteria ketuntasan minimal yaitu 65. selain itu juga karakter dari siswa kelas V SD masih suka bermain, maka akan lebih baik jika guru menggunakan sebuah model pembelajaran yang menggabungkan kegiatan bermain dengan belajar. Sehingga siswa akan lebih tertarik untuk mengikuti pelajaran. Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 Februari 2018 ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ ____________________ Solusi yang dianggap peneliti bisa untuk mengatasi masalah diatas adalah guru wali kelas di SD Negeri 2 Lhokseumawe harus menggunakan metode pembelajaran yang menggabungkan permainan dengan proses belajarnya agar siswa termotivasi pada waktu pembelajaran Seperti metode Make A Match. Metode pembelajaran mencari pasangan (Make A Matc. merupakan metode pembelajaran kelompok yang memiliki dua orang anggota. Masing-masing anggota kelompok tidak diketahui sebelumnya, tetapi dicari berdasarkan kesamaan pasangan misalnya pasangan soal dan jawaban. Kelebihan dari metode pembelajaran ini yaitu dapat digunakan untuk membangkitkan aktivitas peserta didik belajar dan cocok digunakan dalam bentuk permainan. Alasan peneliti terdorong untuk menggunakan metode Make A Match karena ada beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti, yaitu diantaranya penelitian oleh F. Djayaddin yang berjudul AuPeningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas V SD Inpres Perumnas dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran Make A Match Materi Alat Pencernaan ManusiaAy. Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik untuk menerapkan metode pembelajaran Make A Match agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SD pada materi alat pencernaan pada manusia di SD Negeri 2 Lhokseumawe, oleh karena demikian, maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian yang berjudul AuUpaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Alat Pencernaan Pada Manusia Melalui Penerapan Metode Make A Match untuk Kelas V SD Negeri 2 LhokseumaweAy. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut McNiff . alam Kusumah, 2010:. memandang bahwa hakikat PTK adalah sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan keahlian mengajar. Sedangkan menurut Kusumah . PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan cara . merencanakan, . melaksanakan, . merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan parsitipatif dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Belajar Siswa Setelah melaksanakan penelitian dengan menggunakan metode Make A Match pada materi alat pencernaan makanan pada manusia terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari hasil analisis tes hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II secara ringkas terlihat bahwa pada siklus I terdapat 13 orang siswa tuntas hasil belajarnya dengan perolehan nilai > 65 sehingga persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 65% dan 7 orang siswa mendapatkan nilai O 65 dengan persentase siswa tidak tuntas sebesar 35%. Sedangkan pada siklus II terdapat 18 orang siswa tuntas hasil belajarnya dengan perolehan nilai > 65 sehingga persentase ketuntasan secara klasikal sebesar 90% dan 2 orang siswa mendapatkan nilai O 65 dengan persentase siswa tidak tuntas sebesar 10%. Dengan demikian, setelah melaksanakan tindakan pada siklus I dan siklus II terdapat peningkatan hasil belajar siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 25%. Peningkatan persentase hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II yang merupakan pengaruh dari penggunaan metode Make A Match pada materi alat pencernaan makanan pada manusia. Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 Februari 2018 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Aktivitas Guru Hasil pengamatan terhadap aktivitas guru selama kegiatan berlangsung dianalisis dengan menggunakan persentase. Hasil analisis untuk setiap siklus dapat dilihat bahwa persentase aktivitas guru pada siklus I sebesar 71%, sedangkan aktivitas guru pada siklus II sebesar 95% dengan demikian peningkatan aktivitas yang dilakukan guru selama proses pembelajaran berlangsung sebesar 24%. Aktivitas Siswa Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa selama kegiatan berlangsung dianalis dengan menggunakan persentase. Hasil analisis untuk tiap siklus dapat dilihat bahwa persentase aktivitas siswa pada siklus I sebesar 62%, sedangkan aktivitas siswa pada siklus II sebesar Dengan demikian peningkatan aktivitas yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran berlangsung sebesar 29%. Respon Siswa Hasil dari analisis respon siswa menggunakan persentase. Berdasarkan analisis angket respon siswa selama pelaksanaan proses belajar mengajar, maka dapat disimpulkan bahwa persentase yang peneliti dapatkan pada saat menggunakan metode Make A Match pada materi alat pencernaan makanan pada manusia, yaitu: 45% siswa sangat senang, 35% siswa senang, 14% siswa cukup senang, 5% siswa kurang senang, sedangkan 2% siswa tidak senang dengan penggunaan metode pembelajaran Make A Match. Dengan demikian kegiatan pembelajaran metode Make A Match pada materi alat pencernaan makanan pada manusia dianggap menyenangkan bagi setiap siswa serta meningkatkan ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran di dalam kelas. Pembahasan Berdasarkan Hasil Pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan dengan menerapkan metode pembelajaran Make A Match yang dilaksanakan di SD Negeri 2 Lhokseumawe, menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar, aktivitas guru dan siswa. Hal ini terlihat dari hasil penelitian yang menunjukkan peningkatan hasil belajar siswa dari, siklus I, sampai siklus II. Pada siklus I hanya 13 siswa yang tuntas dengan persentase 65% sedangkan yang tidak tuntas ada 7 siswa dengan persentase 35% hal ini disebabkan karena siswa masih belum memahami metode pembelajaran Make A Match yang diterapkan guru dan kurang memahami materi yang dipelajari. Pada siklus II terdapat peningkatan yaitu sebanyak 18 siswa yang tuntas dengan persentase 90% sedangkan yang tidak tuntas hanya 2 siswa dengan persentase 10%, sehingga dapat dilihat bahwa peningkatan hasil belajar siswa sebanyak 25%. Peningkatan disebabkan tidak hanya karena dari guru yang telah memotivasi siswa agar lebih giat belajar tapi juga karena siswa yang lebih bersemangat, lebih aktif, dan lebih memahami Juga menunjukkan kerja sama yang baik dengan temannya, sehingga pada siklus II mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil analisis aktivitas guru pada siklus I diperoleh persentase sebanyak 71%, disebabkan oleh beberapa hal, yang pertama, guru masih mengalami kesulitan saat mengontrol siswa yang baru belajar dengan metode Make A Match, yang kedua, guru pada saat menyampaikan materi masih ada materi yang lupa dan membuka buku karena masih kurang percaya diri, namun pada siklus II aktivitas guru mengalami peningkatan sebanyak 95%, guru pada siklus II sudah bisa menguasai kelas dan mengatasi permasalahan yang ada di dalam kelas serta mampu membimbing siswa yang mengalami kesulitan. Aktivitas siswa pada siklus I diperoleh persentase sebanyak 62%, hal ini disebabkan karena beberapa hal, yaitu yang pertama, siswa masih belum mengerti dan menguasai cara belajar menggunakan metode Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 Februari 2018 ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ ____________________ Make A Match, yang kedua, siswa masih banyak yang mengalami kesulitan saat menjalani proses metode Make A Match, yang ketiga, siswa masih sering bertanya kepada guru, disebabkan karena mereka masih kurang memperhatikan arahan dari guru. Sedangkan pada siklus II persentase yang diperoleh adalah sebanyak 91% dikarenakan siswa sudah memahami cara belajar dengan menggunakan metode Make A Match serta terlihat siswa lebih aktif berkeliling untuk mencari pasangan kartunya. Mereka juga mulai menunjukkan sikap kerjasama dengan baik dengan temannya. Adapun respon siswa secara keseluruhan terhadap penggunaan metode Make A Match dengan jumlah siswa 20 orang yaitu. sebanyak 45% siswa sangat senang, 35% siswa senang, 14% siswa cukup senang, 10% siswa kurang senang, sedangkan hanya 2% saja yang tidak senang dengan penggunaan metode Make A Match. Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode Make A Match memberikan hasil belajar lebih baik dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran dengan metode ceramah. Karena pada metode ceramah biasanya setelah guru menjelaskan materi, guru kemudian memberikan tugas berupa pilihan ganda, namun siswa masih banyak yang salah dalam menjawab, siswa menjawab soal dengan cara menebak jawaban yang benar, sehingga banyak siswa yang tidak tuntas dalam menyelesaikan soal, namun dengan adanya penggunaan metode Make A Match saat pembelajaran maka siswa tidak akan bisa menjawab soal dengan menebak jawaban, karena mereka hanya harus mencari jawaban dari pasangan kartu yang didapat oleh masing-masing siswa. Dan terbukti bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus II, begitu juga dengan aktivitas guru dan siswa, mengalami peningkatan pada siklus II. Respon siswa yang sangat senang dengan penggunaan metode Make A Match, selain itu juga dengan melibatkan peran siswa secara aktif dalam pembelajaran untuk menemukan konsep atau prinsip materi pembelajaran. Siswa juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah secara optimal karena siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dalam kegiatan pembelajaran. PENUTUP Simpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan kesimpulan yang dapat diambil pada penelitian ini adalah : Hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus I sebesar 65% dan termasuk dalam kategori kurang, disebabkan karena siswa belum pernah belajar dengan metode Make A Match, sedangkan hasil belajar yang diperoleh siswa pada siklus II sebesar 90% termasuk dalam kategori sangat baik. Oleh karena itu, ada peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II dengan persentase sebesar 25%. Peningkatan disebabkan tidak hanya karena dari guru yang telah memotivasi siswa agar lebih giat belajar tapi juga karena siswa yang lebih bersemangat dalam belajar dan memahami proses belajar dengan baik serta lebih aktif sehingga pada siklus II mengalami Aktivitas guru pada pembelajaran IPA pada materi alat pencernaan makanan pada manusia dengan menggunakan metode pembelajaran Make A Match pada siklus I sebesar 71%, disebabkan karena beberapa hal, yang pertama, guru masih mengalami kesulitan saat mengontrol siswa yang baru belajar dengan metode Make A Match, yang kedua, guru pada saat menyampaikan materi masih ada materi yang lupa dan membuka buku karena masih kurang percaya diri, dan pada siklus II mengalami peningkatan sebanyak 95%, dari setiap siklusnya mengalami peningkatan sebanyak Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 2 No. 1 Februari 2018 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Aktivitas siswa pada pembelajaran IPA dengan materi alat pencernaan makanan pada manusia menggunakan metode Make A Match pada siklus I sebesar 62%, disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: yang pertama, siswa masih belum mengerti dan menguasai cara belajar menggunakan metode Make A Match, yang kedua, siswa masih banyak yang mengalami kesulitan saat menjalani proses metode Make A Match, yang ketiga, siswa masih sering bertanya kepada guru, disebabkan karena mereka masih kurang memperhatikan arahan dari guru, dan pada siklus II mengalami peningkatan sebanyak 91%, dari setiap siklusnya mengalami peningkatan sebanyak 29%. Peningkatan dapat dilihat dari cara siswa dalam menjalani proses belajar, dengan metode Make A Match, siswa sudah lebih mengerti dan aktif dalam mencari pasangan kartu yang didapatnya, dan menunjukkan kerja sama yang baik dengan temannya. Respon siswa kelas V SD Negeri 2 Lhokseumawe pada materi alat pencernaan makanan pada manusia melalui metode Make A Match menunjukkan respon yang sangat baik, sebanyak 45% siswa sangat senang dan hanya 2% saja yang menjawab tidak senang dengan penggunaan metode Make A Match. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan metode Make A Match dalam pembelajaran disukai oleh siswa. Saran Dari hasil penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka saran-saran yang dapat disampaikan kepada pembaca khususnya adalah: Dengan menggunakan metode Make A Match dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah secara optimal karena siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dalam kegiatan Maka guru lebih selektif dalam menerapkan metode pembelajaran Make A Match pada materi yang dianggap sesuai. Bagi guru kelas V sebaiknya menggunakan metode Make A Matchsebagai salah satu alternatif dalam mata pembelajaran IPA untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Dengan ditemukannya peningkatan pada kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri 2 Lhokseumawe dengan menggunakan metode Make A Match, maka pihak sekolah diharapkan dapat menganjurkan penggunaan metode Make AMatch untuk dikembangkan tidak hanya pada siswa kelas V namun juga pada kelas dan mata pelajaran atau tema pembelajaran lainnya yang sesuai. DAFTAR PUSTAKA