BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 Morphopragmatic Interference between the Nias Language and Slang in Junior High School StudentsAo Language Use: A Study at SMP Negeri 1 Lahewa Selianus Baeha1. Friska Ria Sitorus*2. Firaman Gula3 . Honoratus Irpan Sinurat4 1,3, 4Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Prima Indonesia 2PUI Educational and Technology. Univeristas Prima Indonesia Abstract This study examines morphopragmatic interference arising from the interaction of the Nias language. Indonesian, and slang among students at SMP Negeri 1 Lahewa. It focuses on identifying patterns of morphological and pragmatic interference and applies a Deep Learning approach to map linguistic features in studentsAo language use. A descriptive qualitative method was employed. Data were collected from studentsAo spoken utterances and written texts derived from school assignments and communication media. The data were manually labeled to identify morphological and pragmatic elements, then analyzed using Deep Learning models to detect patterns of language interference. The findings reveal multiple forms of interference. Morphological interference appears in the use of Nias affixes within Indonesian and slang vocabulary, while pragmatic interference is reflected in shifts in speech functions influenced by studentsAo sociocultural backgrounds. The study concludes that such interference represents studentsAo social identities and highlights the need for pedagogical attention in Indonesian language instruction. Keywords: Morphopragmatics. Local Language. Slang. Qualitative Study Submitted: 25 February 2026. Reviewed: 14 March 2026. Accepted: 4 April 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Dinamika Interferensi Morfopragmatik Bahasa Nias dan Bahasa Gaul pada Bahasa Siswa SMP Negeri 1 Lahewa Abstrak Penelitian ini mengkaji interferensi morfopragmatik yang muncul dari interaksi bahasa Nias, bahasa Indonesia, dan bahasa gaul pada siswa SMP Negeri 1 Lahewa. Penelitian ini berfokus pada identifikasi pola interferensi morfologis dan pragmatis serta menerapkan pendekatan Deep Learning untuk memetakan fitur kebahasaan dalam penggunaan bahasa siswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dari tuturan lisan dan teks tertulis siswa yang berasal dari tugas sekolah dan media komunikasi. Data kemudian diberi label secara manual untuk mengidentifikasi unsur morfologi dan pragmatik, lalu dianalisis menggunakan model Deep Learning untuk mendeteksi pola interferensi bahasa. Hasil penelitian menunjukkan adanya berbagai bentuk interferensi. Interferensi morfologis tampak pada penggunaan afiks bahasa Nias dalam kosakata bahasa Indonesia dan bahasa gaul, sedangkan interferensi pragmatis terlihat dari pergeseran fungsi tutur yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial budaya siswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa interferensi tersebut mencerminkan identitas sosial siswa dan menegaskan pentingnya perhatian pedagogis dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Kata Kunci: Morfopragmatik. Bahasa Daerah. Bahasa Gaul. Kualitatif * Corresponding Author: Friska Ria Sitorus, friskariasitorus@unprimdn. PUI Educational and Technology. Universitas Prima Indonesia. Medan. Sumatera Utara. Indonesia 111 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Selianus Baeha et. PENDAHULUAN Bahasa terus berkembang sesuai dengan tingkat interaksi sosial dari para penggunanya. lingkungan masyarakat yang memiliki banyak bahasa seperti di Indonesia, pemakaian bahasa sering terjalin erat antara bahasa Indonesia, bahasa lokal, dan bahasa informal. Kejadian ini menyebabkan terjadinya interferensi linguistik, di mana norma dari satu bahasa ikut mempengaruhi penggunaan bahasa lainnya. Interferensi tidak hanya merupakan kesalahan dalam berbahasa, tetapi juga menjadi tanda adanya interaksi bahasa yang mendalam yang mempengaruhi tata bahasa penggunanya. Pada kalangan remaja, fenomena bahasa menjadi semakin rumit dengan banyaknya penggunaan bahasa gaul atau slang. Bahasa gaul dianggap sebagai cara untuk mengekspresikan identitas dan kreativitas bahasa yang sering kali bertentangan dengan aturan morfologi yang resmi. Dalam kajiannya di Jurnal Linguistik Terapan, dijelaskan bahwa bahasa gaul menarik perhatian karena karakteristiknya yang singkat dan akrab (Mulyana. , 2. Namun, saat bahasa sehari-hari berinteraksi dengan bahasa daerah yang memiliki struktur solid seperti bahasa Nias (Li Nih. , terbentuklah sebuah variasi baru yang menarik pada tingkat morfopragmatik. Kabupaten Nias Utara, terutama di area Lahewa, memiliki ciri sosiolinguistik yang unik. Siswa di SMP Negeri 1 Lahewa berkembang dalam suasana yang masih kuat dengan dialek Nias, tetapi juga sangat terpengaruh oleh bahasa gaul yang tumbuh dari media sosial. Pergeseran bahasa Nias seringkali melibatkan penambahan morfem lokal ke dalam kalimat bahasa nasional (Zai, 2. Ini menunjukkan bahwa bahasa lokal tetap ada, tetapi berubah menjadi elemen dari dialek pelajar yang lebih modern. Analisis morfopragmatik menjadi sangat penting dalam memahami fenomena ini karena mengkaji bagaimana pembentukan kata melalui morfologi dapat memengaruhi cara komunikasi secara pragmatik. Penggunaan prefiks pada kosakata slang Nias tidak hanya mengubah bentuk kata, tetapi juga menyampaikan nuansa emosional atau kesopanan tertentu. Dalam kasus ini, perubahan bentuk kata sering kali dimaksudkan untuk mencapai dampak ilokusiner tertentu dalam interaksi sosial (Sari, 2. Masalah muncul ketika pengaruh ini masuk ke dalam konteks sekolah formal. Guru sering kali mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi pola pengaruh yang ditunjukkan oleh siswa karena terbatasnya kemampuan untuk memantau semua interaksi verbal dan non-verbal. Pengaruh morfologis dari bahasa Nias ke bahasa Indonesia yang terjadi pada siswa sekolah menengah seringkali dianggap sebagai penghalang dalam kemampuan membaca, padahal sebenarnya ada pola yang teratur yang dapat dipelajari untuk memahami cara berpikir linguistik siswa (Nazara, 2. Melihat perkembangan teknologi kecerdasan buatan, terutama Deep Learning, memberikan cara baru dalam menganalisis bahasa dengan lebih akurat. Penggunaan model jaringan saraf dapat menangani kumpulan data bahasa yang luas dan menemukan pola yang mungkin terlewat oleh analisis secara manual. Berdasarkan sudut pandang dan kebutuhan, metode ini sangat efisien untuk mengklasifikasikan teks dengan berbagai dialek (Vaswani. , et al. , 2. (Devlin. , et al. , 2. (Prasetyo. , 2. Integrasi antara ilmu linguistik konvensional dan metode Deep Learning masih jarang ditemui dalam penelitian bahasa lokal di daerah terpencil seperti Lahewa. Dalam studi ini, penggunaan Deep Learning tidak hanya berperan sebagai alat analisis, tetapi juga berfungsi untuk secara otomatis mengidentifikasi berbagai jenis interferensi morfopragmatik. Dengan melatih model menggunakan data percakapan siswa SMP Negeri 1 Lahewa, peneliti dapat mengamati kecenderungan utama pada interferensi yang lebih bersifat fonologis, morfologis, atau pragmatis. Ini sejalan dengan pandangan 112 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Morphopragmatic Interference between the Nias Language and Slang in Junior High School StudentsAo Language Use: A Study at SMP Negeri 1 Lahewa bahwa pengetahuan lokal dalam bahasa daerah dapat dipetakan secara digital untuk memahami perkembangan sosiokultural masyarakat (Zaluchu, 2. Berdasarkan keadaan yang ada, diharapkan bisa memberikan dua manfaat: dari segi teori, memperkaya pengetahuan tentang morfopragmatik dan dari segi praktik, menawarkan pendekatan baru bagi pengajar untuk memahami cara berkomunikasi siswa di zaman sekarang. Dengan memanfaatkan teknologi, kita berusaha menyambungkan perbedaan antara tradisi lokal dan inovasi global dalam menghadapi bahasa peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dukungan analisis berbasis Deep Learning untuk mengkaji interferensi morfopragmatik dalam penggunaan bahasa siswa SMP Negeri 1 Lahewa. Data penelitian diperoleh dari tuturan lisan yang dicatat selama interaksi, serta data tertulis yang bersumber dari tugas sekolah siswa. Seluruh data kemudian diberi pelabelan secara manual untuk mengidentifikasi unsur morfologi dan pragmatik, seperti penggunaan afiks bahasa Nias . isalnya akhiran -ga atau -sa serta prefiks ma- atau la-) dan partikel bahasa gaul yang memengaruhi fungsi tuturan, makna, dan kesantunan berbahasa dalam konteks komunikasi seharihari. Selanjutnya, model Deep Learning digunakan untuk menganalisis pola keterkaitan kata dan mendeteksi bentuk interferensi yang muncul dari penggunaan campuran bahasa Indonesia, bahasa Nias, dan bahasa gaul. Analisis tidak hanya berfokus pada bentuk linguistik, tetapi juga mempertimbangkan perubahan makna pragmatis dalam konteks sosial budaya siswa. Untuk memastikan keandalan hasil, model dievaluasi melalui teknik validasi silang sehingga deteksi interferensi pada setiap sampel data dapat dilakukan secara lebih konsisten dan terukur. HASIL DAN PEMBAHASAN Identifikasi Interferensi Morfologi dan Pragmatik Berdasarkan data yang diperoleh dari interaksi lisan dan tulisan siswa di SMP Negeri 1 Lahewa, teridentifikasi dua kecenderungan utama dalam bentuk interferensi bahasa, yaitu interferensi morfologi dan interferensi pragmatik. Interferensi morfologi tampak pada penggunaan afiks bahasa Nias dalam kosakata bahasa Indonesia maupun bahasa gaul, misalnya pemakaian akhiran -sa atau prefiks ma- dalam konstruksi kalimat yang secara struktur seharusnya mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku. Fenomena ini menunjukkan adanya percampuran sistem morfologis yang tidak hanya bersifat spontan, tetapi juga mencerminkan kebiasaan berbahasa yang telah terinternalisasi dalam praktik komunikasi sehari-hari siswa (Zalukhu, 2. Sementara itu, interferensi pragmatik terlihat dari perubahan kekuatan ilokusi dalam tuturan. Siswa cenderung menggunakan partikel penegas dari bahasa Nias, seperti sa atau many, dalam konteks bahasa gaul untuk mengekspresikan emosi, penekanan, atau kedekatan sosial. Namun, penggunaan tersebut sering kali tidak selaras dengan norma kesantunan dalam bahasa Indonesia formal, sehingga berpotensi menimbulkan pergeseran makna atau ketidaktepatan konteks Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan interferensi tidak hanya berkaitan dengan bentuk bahasa, tetapi juga dengan pemahaman terhadap fungsi sosial dan pragmatik bahasa dalam situasi yang berbeda (Pranowo. , 2. 113 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Selianus Baeha et. Gambar 1 Beberapa contoh hasil tulisan siswa Analisis dengan Pendekatan Deep Learning Pendekatan Deep Learning digunakan untuk menganalisis pola penggunaan bahasa dan mengklasifikasikan tuturan siswa ke dalam beberapa kategori, yaitu tuturan yang menggunakan bahasa Indonesia secara dominan, tuturan yang mengandung unsur bahasa Nias, serta tuturan yang dipengaruhi bahasa gaul. Hasil analisis menunjukkan bahwa model mampu mengidentifikasi jenis interferensi dengan tingkat ketepatan yang cukup baik, yang mengindikasikan adanya pola morfopragmatik yang berulang dan dapat dipelajari secara sistematis (Devlin. , et al. , 2. Proses ekstraksi fitur juga menunjukkan bahwa interferensi paling sering muncul pada tataran morfofonemik, yaitu ketika perubahan bunyi dalam bahasa gaul berinteraksi dengan ciri fonologis khas bahasa Nias yang kuat (Mulyono. H, 2. Temuan ini sejalan dengan sejumlah kajian sebelumnya yang menempatkan interferensi bahasa ibu tidak semata-mata sebagai kesalahan berbahasa, tetapi juga sebagai refleksi identitas budaya dan strategi membangun kedekatan sosial di kalangan remaja (Sihombing, 2. Di sisi lain, ketidakmampuan sebagian siswa dalam membedakan konteks formal dan informal menunjukkan adanya tantangan pragmatik yang signifikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya terkait pemahaman kesantunan berbahasa (Pranowo, 2. Dari perspektif metodologis, penggunaan Deep Learning juga memperlihatkan potensi penting dalam kajian linguistik, karena algoritma jaringan saraf mampu menangkap pola dan nuansa bahasa termasuk ekspresi emosional, sarkasme, atau penggunaan leksikon daerah yang dalam banyak kasus sulit diidentifikasi secara konsisten melalui analisis deskriptif konvensional (Hidayat & Santoso, 2. 114 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Morphopragmatic Interference between the Nias Language and Slang in Junior High School StudentsAo Language Use: A Study at SMP Negeri 1 Lahewa Tabel 1 Hasil Klasifikasi Deep Learning terhadap Interferensi Bahasa Siswa Jenis Interferens Ciri Linguisti k yang Terdetek Prefiks ma- pada Indonesia Contoh Tuturan Siswa Klasifikasi Model AuSaya ma-bawa buku itu. Ay Indonesia Nias AuKerja-sa baru pulang. Ay Indonesia Nias AuJangan begitu sa, nanti marah dia. Ay Indonesia Nias Gaul Pragmatik AuSudah bilang kan, many begitu. Ay Indonesia Nias Pragmatik AuCepatlah lama kali cuy. Ay Bahasa Gaul Pragmatik Partikel dong, cuy Penanda kedekatan sosial informal siswa AuDia sekolah pagi tadi. Indonesia Tidak ada Struktur Tidak terdeteksi interferensi Morfologi Morfologi Akhiran sa kata kerja Partikel sa Partikel Interpretasi Terjadi morfologi akibat pengaruh sistem afiksasi bahasa Nias Percampuran kebiasaan berbahasa seharihari siswa Perubahan kekuatan ilokusi emosi dan penekanan makna Penegasan emosional yang tidak selalu selaras dengan norma kesantunan formal SIMPULAN Peserta didik di SMP Negeri 1 Lahewa menunjukkan kecenderungan terjadinya interferensi ganda dalam praktik berbahasa. Pada tataran morfologis, ditemukan proses afiksasi campuran, yaitu melekatnya partikel bahasa Nias seperti sa, many, l, dan ba pada kosakata bahasa gaul maupun bahasa Indonesia baku. Fenomena ini mengindikasikan adanya percampuran sistem linguistik yang tidak hanya bersifat insidental, tetapi telah menjadi bagian dari kebiasaan berbahasa sehari-hari. Sementara itu, pada tataran pragmatik, fungsi tuturan kerap mengalami pergeseran makna, yang dipengaruhi oleh perbedaan latar belakang budaya penutur dengan tuntutan konteks komunikasi formal di lingkungan sekolah. Pergeseran ini menunjukkan bahwa interferensi tidak hanya menyentuh aspek bentuk bahasa, tetapi juga cara makna dan kesantunan dipahami serta diwujudkan dalam interaksi. Penerapan pendekatan Deep Learning dalam penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memetakan kompleksitas bahasa remaja secara lebih sistematis. Model yang digunakan mampu mengekstraksi fitur-fitur linguistik yang relatif halus, seperti kecenderungan nada, gaya bahasa, dan pola penggunaan leksikon yang menjadi ciri khas variasi yang dapat disebut sebagai AuSlang-NiasAy di wilayah Lahewa. Kemampuan ini memperlihatkan bahwa pendekatan komputasional tidak hanya berguna untuk klasifikasi bahasa secara umum, tetapi juga efektif dalam mengidentifikasi pola linguistik yang sering kali luput dari pengamatan deskriptif konvensional. 115 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Selianus Baeha et. Temuan penelitian ini menguatkan pandangan bahwa penggunaan bahasa daerah dan bahasa gaul di kalangan siswa tidak semata-mata dapat dipahami sebagai kesalahan berbahasa, melainkan juga sebagai bentuk adaptasi sosial dan ekspresi identitas kelompok. Namun demikian, apabila fenomena ini tidak diimbangi dengan pembinaan yang memadai, terdapat risiko menurunnya kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa Indonesia secara tepat pada situasi formal. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia perlu diarahkan pada pengembangan kesadaran metalinguistik, sehingga siswa mampu memahami perbedaan fungsi, norma, dan konteks penggunaan bahasa, serta dapat menempatkan ragam bahasa secara tepat sesuai situasi DAFTAR PUSTAKA