Pelatihan Peran Sekolah Minggu Dalam Pembentukan Karakter Sosial Generasi Alfa Di Klasis Lewa Rakawatu Andriarto Kapu Enda*1. Solfina Lija Kolambani2. Enansio Mirna Dama3 123STT Gereja Kristen Sumba Email koresponden: andrikapuenda@gmail. Submit: 29-03-2026 Review: 10-04-2026 Diterbitkan: 13-04-2026 Keywords: Generation Alpha. Social Character. Sunday School. Kata Kunci: Generasi alfa. Karakter Sosial. Sekolah Minggu. p: ISSN: 2723-7036 e-ISSN: 2723-7028 Abstract Community Service (Pengabdian kepada Masyaraka. with the topic AuThe Role of Sunday School in the Formation of Social Character among Generation Alpha in the Lewa Rakawatu ClassisAy is motivated by the reality that generation alpha tends to display weak social character. This condition is influenced by the nature of the generation as a group that is highly familiar with technology. As a result, they tend to become more individualistic and egocentric, moreover, feel afraid of public speaking, show limited empathy, and lack adequate skills in listening and engaging in direct interpersonal interaction. This program activity aims to equip Sunday School teachers with a constructive understanding of the social character of the generation alpha and to implement the knowledge into sunday school teaching practices. The participants were sunday school teachers from churches within the Lewa Rakawatu Classis. The implementation methods used in this community service included seminars, group discussions, question sessions, and practical activities focusing on strategies to develop the social character of the generation. The results of the program indicate that the Sunday School teachers gained a strong understanding of the seminar presented, particularly regarding generation alpha's characteristics, and the concept of social Furthermore, the teachers reported that they were equipped with creative strategies to foster social character development in their practice with the children. Abstrak A 2026. The Authors. License: Open Journals Publishing. This work is licensed under the Creative Commons Attribution License. https://jurnal. id/index. php/pkm/index Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan topik Pelatihan Peran Sekolah Minggu dalam Pembentukan Karakter Sosial Generasi Alfa di Klasis Lewa Rakawatu dilatar belakangi oleh realitas kehidupan generasi alfa yang memiliki karakter sosial yang lemah. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan generasi alfa yang dikenal sebagai generasi yang sangat akrab dengan teknologi dan dunia digital sehingga mereka menjadi sangat individualis, egosentris, takut berbicara di depan umum, kurang berempati serta kurang memiliki keterampilan dalam mendengarkan dan berinteraksi secara langsung. PkM ini bertujuan untuk memperlengkapi guru-guru sekolah minggu supaya mereka memiliki pemahaman yang konstruktif mengenai pembentukan karakter sosial generasi alfa dan bagaimana menerapkannya dalam pengajaran-pengajaran di sekolah minggu. PkM ini diikuti oleh guru-guru sekolah minggu seklasis Lewa Rakawatu. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam PkM ini adalah seminar, diskusi kelompok, tanya jawab serta kegiatan praktis bagaimana mengembangkan karakter sosial generasi alfa melalui sekolah minggu. Hasil kegiatan menunjukkan guru-guru sekolah minggu memahami dengan baik materi yang disampaikan terkait generasi alfa. Pelatihan Peran Sekolah Minggu A (A. Enda. Kolambani. Dam. karakteristik generasi alfa dan karakter sosial. Mereka juga merasa dibekali dengan strategi kreatif dalam pembentukan karakter sosial bagi anak-anak sekolah minggu yang merupakan generasi alfa. PENDAHULUAN Generasi alfa merupakan generasi kelahiran antara tahun 2010-2025. Ciri khas dari generasi ini adalah generasi yang terpapar oleh teknologi. Generasi ini merupakan generasi yang sangat memahami dunia digital sejak usia dini. Generasi ini adalah generasi yang mendominasi sekolah minggu pada masa kini (Panuntun et al. 2019, 197Ae. Generasi alfa merupakan generasi yang paling erat dengan perkembangan teknologi dan Karakteristik umum generasi alfa, sebagai berikut: . Fasih teknologi atau generasi digital, generasi yang sangat dekat dengan penggunaan iptek di semua perangkat Kemudahan dan kecepatan dalam mengakses informasi yang mereka perlukan sehari-hari. Sosial generasi alfa, generasi yang berinteraksi dengan orang lain sebanyak-banyaknya, terlebih dengan teman sebaya yang mereka bisa jangkau melalui media sosial. Multitasking, generasi ini terbiasa melakukan banyak kegiatan dalam satu Mereka suka dengan hal yang dapat diselesaikan secara cepat. Generasi alfa adalah generasi yang ketergantungan dengan teknologi digital (Siskawaty 2024, . Anak-anak pada generasi ini lebih memilih berkomunikasi melalui dunia maya/media sosial daripada menghabiskan waktu bertatap muka dengan orang lain. Fadlurrohim dan kawan-kawan mengutip Crindler yang mengatakan bahwa generasi alfa tidak lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas dan bersikap Generasi alfa menginginkan hal-hal yang instan dan kurang menghargai Keasyikan mereka dengan gadget membuat mereka teralienasi secara sosial (Fadlurrohim et al. 2020, . Ciri utama generasi alfa adalah dikenal sebagai individualis atau egosentris. Anakanak generasi alfa menghabiskan lebih banyak waktu dengan perangkat dan internet daripada berinteraksi langsung dengan orang lain. Mereka biasanya menghabiskan waktu sendiri untuk melakukan aktivitas online. Generasi ini kurang peka terhadap lingkungan sosial, kurang empati dan peduli pada orang lain (Siskawaty 2024, . Lemahnya karakter sosial dalam diri generasi alfa akan memberikan dampak berupa kurangnya perhatian terhadap orang lain, interaksi yang kurang menyenangkan, kekurangan rasa percaya diri, jarang berkomunikasi dengan orang lain, dan merasa tidak nyaman saat proses pembelajaran baik di sekolah maupun di sekolah minggu karena kurangnya dukungan motivasi eksternal. Anak cenderung mengalami rasa takut, malu, dan kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya (Aurelia. Fitriani, and Nuroniah 2024. Melihat realitas di atas, penting bagi gereja dalam hal ini sekolah minggu, untuk melakukan pembentukan karakter sosial generasi alfa. Sekolah minggu adalah sarana yang penting dalam pembentukan karakter sosial anak. Sekolah minggu merupakan salah satu tempat bagi anak-anak untuk mendapatkan pendidikan dan bimbingan selain dari Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 rumah dan sekolah formal. Sekolah minggu adalah lingkungan di mana anak-anak dapat belajar lebih banyak tentang Tuhan Yesus Kristus dan cerita-cerita Alkitab lainnya sebagai pembentukan iman bahkan karakter sosial anak (Panjaitan and Fransisco 2024. Sekolah Minggu merupakan lembaga pendidikan Kristen di gereja yang mengajarkan dan membentuk karakter anak agar sesuai dengan nilai-nilai Alkitab. Melalui sekolah minggu anak-anak dibimbing, dituntun, diajar dan dididik mengenai dasar-dasar kekristenan, sehingga anak memiliki pondasi iman yang kuat sejak dini. Melalui ibadah sekolah minggu anak usia dini diperkenalkan kepada Kristus. Tujuan pendidikan karakter melalui sekolah minggu adalah membentuk karakter seseorang menjadi lebih baik. Selain itu pendidikan karakter juga bertujuan untuk mengembangkan potensi, membangun kebiasaan positif, menanamkan rasa tanggung jawab, mengasah kemampuan, dan mengembangkan kreativitas anak (Romika. Varyanti, and Palar 2024, 1. Sekolah minggu merupakan pelayanan penting bagi generasi alfa dalam pertumbuhan karkter sosial yang baik. Sekolah minggu dapat membantu generasi alfa dalam menguasai diri di ruang digital, memahami apa yang positif dan negatif, mengimbangi waktu yang dihabiskan secara online dan offline, bersosialisasi dan berinterksi dengan teman-teman secara langsung, memilah informasi, hiburan, komunitas online yang berguna untuk pertumbuhan pribadi dan sosial mereka, mereka tidak mudah terjerumus pada konten semua yang hanya memberikan kesenangan sementara (Siskawaty 2024, . Pembentukan karakter sosial generasi alfa merupakan proses pembentukan sosial self . ribadi dalam masyaraka. oleh seseorang untuk memperoleh kemampuan berperilaku sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sosialnya. Perkembangan sosial juga merupakan bagian dari proses belajar berprilaku, berhubungan atau berinteraksi dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari Pembentukan karakter sosial sebagai perolehan kemampuan berperilaku sesuai dengan tuntutan yang berlaku di lingkungan sosialnya meliputi. belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial, . memainkan peran sosial yang diterima, dan . menunjukkan sikap sosial yang tepat (Aprily. Rosidah, and Hashipah 2023, 124Ae Pembentukan karakter sosial generasi alfa berarti menanamkan nilai-nilai kelemahlembutan, cinta, kepekaan, perhatian, tanggung jawab serta penanaman kepribadian pada setiap pribadi agar memiliki nilai-nilai loyalitas, solidaritas, damai, demokratis, rela berkorban dan membangun nilai-nilai sosial yang tinggi dalam kehidupan sehingga mampu membangun relasi dengan orang lain secara langsung. Indikator dari karakter sosial yang dikembangkan di sekolah minggu antara lain: kerja sama, toleransi, menghargai dan menghormati sesama, kepedulian dan solidaritas (Wahidah 2021, . Penanaman karakter sosial anak adalah suatu proses penyesuaian diri dengan aturan-aturan yang kuat dalam berbaur dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Penanaman karakter sosial yang baik untuk generasi alfa Pelatihan Peran Sekolah Minggu A (A. Enda. Kolambani. Dam. merupakan investasi yang sangat penting untuk keberhasilan anak di masa depan (Saniya and Filasofa 2025, 11Ae. Berdasarkan pengamatan penulis, kemampuan interaksi sosial secara langsung menjadi sesuatu yang jarang dimiliki oleh generasi alfa. Kedekatan dengan gadget telah menjadi penyebab bagi mereka untuk tidak mengembangkan komunikasi sosialnya seperti berbicara di depan umum, empati, serta keterampilan dalam mendengarkan dan berinteraksi langsung (NakhmaAoussolikhah et al. 2025, . Penurunan dalam bersosialisasi atau interaksi juga menyebabkan generasi alfa seakan memiliki dunianya sendiri dan selalu sibuk dengan handphonenya sehingga mengabaikan orang disekitarnya (Wahyuliarmy and Sari 2021, . Hilangnya relasi sosial secara langsung pada generasi alfa menjadikan mereka pribadi yang kurang empati dan individualis. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya strategis untuk membekali guru-guru sekolah minggu dalam pembentukan karakter sosial generasi alfa. Dengan demikian, guru-guru sekolah minggu mampu memberikan bimbingan dan arahan yang tepat kepada generasi alfa untuk tidak hanya unggul dalam memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga memiliki karakter sosial yang sesuai dengan iman Kristen dan mampu berperan serta menyesuaikan diri dalam keluarga, gereja, sekolah dan masyarakat. Pembentukan karakter sosial generasi alfa melalui sekolah minggu perlu dilakukan oleh gereja-gereja saat ini. Sebagai bentuk respons dan tanggung jawab terhadap realitas ini, maka STT Gereja Kristen Sumba melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). PkM ini dilaksanakan sebagai bentuk perwujudan tanggung jawab moril terhadap pertumbuhan karakter sosial generasi alfa sebagai masa kini dan masa depan Gereja Kristen Sumba (GKS). Melalui PkM ini, para guru sekolah minggu mengikuti serangkaian kegiatan presentasi dan diskusi yang membahas topik-topik seputar generasi alfa dan strategi pembentukan karakter sosial generasi alfa. Guru sekolah minggu diharapkan dapat memiliki pemahaman yang konstruktif mengenai pembentukan karakter sosial generasi alfa dan bagaimana menerapkannya dalam pengajaran-pengajaran di sekolah minggu. METODE PELAKSANAAN Metode penelitian yang digunakan untuk menyusun artikel kegiatan PkM ini adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggambarkan isi tetapi tidak berdasarkan akurasi statistik. Kata-kata yang disusun ke dalam bentuk cerita atau peristiwa mempunyai kesan lebih nyata, lebih hidup dan penuh Metode yang digunakan untuk memaparkan data penelitian adalah metode deskriptif, yakni penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau kecenderungan yang tengah berlangsung (Silalahi 2009, . Selain itu, metode deskriptif adalah metode yang Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 digunakan untuk menggambarkan subjek atau objek penelitian berdasarkan fakta yang ditemukan (Sugiyono 2010, . Data diperoleh melalui wawancara terhadap sejumlah guru sekolah minggu. Wawancara dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD). FGD merupakan suatu metode pengumpulan data dengan memusatkan teknik pengambilan data melalui diskusi kelompok yang terarah. Dalam diskusi FGD, penulis akan berperan sebagai moderator dan dibantu satu orang teman sebagai pencatat proses dan pengatur logistik (Hennink 2014, 1Ae. Metode yang dilakukan pada kegiatan ini adalah metode ceramah, metode tanya jawab dan metode diskusi. Materi yang disampaikan pada PkM ini merupakan hasil riset pemateri yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2026 di Gereja Kristen Sumba (GKS) Klasis Lewa Rakawatu. Kegiatan diselenggarakan di gedung gereja GKS Jemaat Rakawatu bersama dengan guru-guru sekolah minggu di wilayah klasis tersebut dengan jumlah peserta 40 orang. Tema dari kegiatan PkM ini adalah Pelatihan Peran Sekolah Minggu Dalam Pembentukan Karakter Sosial Generasi Alfa Di Klasis Lewa Rakawatu. Subtema dari kegiatan ini adalah Strategi Guru Sekolah Minggu dalam Membentuk Karakter Sosial Generasi Alfa. Bentuk kegiatan ini dilakukan dengan cara melakukan seminar dan pelatihan bagi guru sekolah minggu. Selain guru sekolah minggu, hadir juga ketua klasis, pendeta jemaat, vikaris dan guru injil. Survei lokasi dilaksanakan satu bulan sebelum pelaksanaan serta beberapa kali melakukan komunikasi secara langsung dengan ketua klasis. Pengambilan data dilakukan 2 minggu sebelum pelaksanaan kegiatan seminar dan pelatihan dengan mengadakan wawancara melalui FGD dengan guru-guru sekolah minggu. Pelaksanaan kegiatan dilakukan satu hari dari jam 09. 00 WITA. Kegiatan yang dilakukan adalah memberi pemahaman kepada guru sekolah mingu tentang karakteristik generasi alfa, karakter sosial generasi alfa . antangan dan peluan. serta strategi pembentukan karakter sosial generasi alfa. Secara umum bentuk pelaksanaan kegiatan ini berupa seminar disertai diskusi dan tanya Pemaparan materi dilakukan menggunakan powerpoint dan dengan menggunakan alat LCD dan laptop, sebagai media untuk memperjelas suara pada saat pemutaran video dan juga sebagai pengeras suara pada saat menyampaikan materi, digunakan sistem suara pendukung. Sebelum seminar dan pelatihan dimulai. PkM dimulai dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Pdt. Miranti Natalia Djami. Th selaku ketua klasis Lewa Rakawatu. menyampaikan tentang krisis karakter sosial generasi alfa yang membutuhkan perhatian serius dari gereja sebagai mitra dari keluarga dan sekolah. Lalu dilanjutkan dengan penjelasan pemandu acara, yaitu Enansio Mirna Dama mahasiswa program studi Pendidikan Agama Kristen STT Gereja Kristen Sumba, yang menjelaskan tentang garis besar kegiatan PkM yang dilaksanakan. Setelah sesi kata sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi seminar dan pelatihan yang dibuka dengan sesi pertama oleh Solfina Lija Kolambani. M,Si selaku ketua program studi Pendidikan Agama Kristen. Kolambani menyampaikan tema tentang AuKarakteristik Generasi AlfaAy dan AuKarakter Sosial Generasi Alfa (Tantangan dan Peluan. Ay. Lalu. Pelatihan Peran Sekolah Minggu A (A. Enda. Kolambani. Dam. pemateri selanjutnya adalah Andriarto Kapu Enda. Pd. K yang menyampaikan materi tentang AuStrategi Kreatif Guru Sekolah Minggu dalam Pembentukan Karakter Sosial Generasi AlfaAy sekaligus pelatihan model-model pembelajaran sekolah minggu untuk pembentukan karakter sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan sebuah kontribusi yang signifikan dalam memahami tentang generasi alfa, khususnya dalam pembentukan karakter sosial generasi alfa. Kegiatan ini akan memperluas wawasan tentang peran sekolah minggu dalam pembentukan karakter sosial generasi alfa dengan mengembangkan model-model sekolah minggu berbasis proyek kolaboratif, sekolah minggu kreatif interaktif dan sekolah minggu berbasis nilai kearifan lokal Sumba. Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan wawasan bagi guru sekolah minggu tentang pembentukan karakter sosial generasi alfa. Selain itu kegiatan ini mengingatkan guru sekolah minggu agar dapat menjalankan peran sebagai pengajar dan pembimbing yang tidak hanya menyampaikan cerita-cerita alkitab tetapi melaksanakan pembentukan karakter sosial generasi alfa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan sekolah minggu. Pada akhir kegiatan ini, guru sekolah minggu berkomitmen untuk merancang pembelajaran sekolah minggu yang dapat membentuk karakter sosial generasi alfa dengan mengembangkan sekolah minggu berbasis proyek kolaboratif, kreatif interaktif dan berbasis nilai-nilai kearifan lokal Sumba. Mengenal Karakteristik Generasi Alfa Generasi alfa merupakan generasi yang lahir sejak tahun 2010 sampai dengan 2025, tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan dengan generasi Mereka dibesarkan dalam ekosistem digital, teknologi canggih, serta keterbukaan informasi yang luar biasa. Akses yang begitu mudah terhadap media sosial, konten visual, dan berbagai bentuk interaksi daring telah mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan membentuk jati diri mereka (Kaligis and Tewu 2025, . Lebih lanjut, generasi alfa juga dikenal sebagai digital native karena mereka memiliki ketertarikan yang besar dan kuat pada hal-hal yang tersaji di layar gadget. Mereka juga dikenal sebagai screenagers karena karakter mereka yang sangat akrab dengan layar . gawai (Sidabutar and Prasetya 2024, . Menurut McCrindle yang dikutip oleh Nella Novianti Dakhi dan Suzawato Telaumbanua, mengatakan generasi alfa adalah generasi yang paling akrab dengan internet. Ia menilai bahwa generasi ini tidak dapat lepas dari gadget, kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas dan juga memiliki sikap individualis. Menurutnya, generasi alfa juga lebih menyukai berbagai hal yang serba instan dan kurang mampu menghargai proses dan kecenderungan mereka untuk menyukai gadget akan membuat mereka tereleminasi secara sosial (Dakhi and Telambanua 2023, . Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa generasi alfa merupakan generasi yang sangat akrab dengan teknologi dan memiliki kecenderungan untuk bergantung pada teknologi. Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Adapun karakteristik generasi alfa antara lain: generasi terdidik, menurut Mc. Crindler yang dikutip oleh Rusmiatiningsih dan Okky Rizkyantha terdapat 2,5 juta generasi alfa lahir per minggu di dunia. Generasi alfa akan menjadi generasi yang paling terdidik karena kesempatan sekolah yang lebih banyak di era sekarang. akrab dengan paling sejahtera. punya jarak umur paling jauh dengan generasi sebelumnya . engalahkan jarak antara baby boomer dan generasi X). Oleh karena itulah, generasi ini dianggap generasi paling cerdas dibandingkan dengan generasi sebelumnya, karena sudah terbiasa menggunakan teknologi sedari lahir sehingga untuk akses semakin mudah dan cepat. Lebih dari pada itu, generasi ini paling kaya informasi. Generasi internet, generasi alfa adalah generasi yang paling dekat dengan internet sepanjang masa. Jika generasi Y mengenal internet sejak remaja, generasi Z, mengenal internet sejak anakanak, sedangkan generasi alfa mengenal internet dari lahir, artinya sejak hadir di dunia mereka sudah berdampingan dengan internet. Mencari informasi dan eksis bersosialisasi di media sosial, generasi ini erat kaitannya dengan dunia virtual, baik itu media sosial maupun cara pencarian informasi, sehingga tidak heran jika seorang anak generasi alfa misalnya bisa mempunyai berbagai akun media sosial. Hal ini dikarenakan lingkungan dan keinginan untuk mengikuti perkembangan dunia. Individualis, karakteristik generasi alfa juga ditandai dengan sikap individualis yang tinggi. Hal ini dikarenakan sejak lahir sudah terbiasa bersama akses internet, sehingga generasi alfa secaramandiri mampu mencari informasi untuk memecahkan masalahnya sendiri. Yosep Tandian juga menyatakan bahwa sikap individualis ini juga didukung oleh sikap kritis dan multitasking. Namun, generasi alfa dianggap sulit bahagia dikarenakan kehidupan individualis yang antisosial sedari dini, sehingga yang dibutuhkan adalah natural relationship seperti nilai respect antarsesama, dan ini bisa diperankan oleh generasi Y dan Z sebagai generasi contoh bagi generasi alfa (Rusmiatiningsih and Rizkyantha 2022, 300Ae. Dari beberapa karakteristik generasi alfa di atas, terdapat pula tantangan yang dihadapi oleh generasi alfa karena sangat dekat dengan teknologi, antara lain: perkembangan sosial yang terganggu karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget, anak-anak generasi alfa juga menuntut kepuasan instan sehingga kurang menghargai proses, mereka cenderung kecanduan teknologi, tumbuh lebih cepat dari semestinya dan cenderung mengalami intimidasi online (Hale 2022, . Tantangan-tantangan ini menjadi hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh gereja dalam melayani anak-anak generasi alfa melalui sekolah minggu. Selain tantangan, ada pula masalah yang akan dihadapi anak-anak generasi alfa akibat ketergantungan pada teknologi, yaitu: . Kerusakan mata akibat penggunaan gadget sejak kecil. Orangtua menjadi kewalahan karena generasi ini lebih ahli mengoperasikan komputer, media sosial dan android. Mudah terserang penyakit karena tidak banyak bergerak/berolahraga. Kebanyakan waktu mereka gunakan untuk mengoperasikan gadget atau komputer. Lebih cepat pubertas dan mengenal cinta. Cenderung mudah sakit hati dan memilih jalan pintas seperti bunuh diri jika mengalami banyak masalah dan . Moralitas berkurang (Dakhi and Telambanua 2023, . Pelatihan Peran Sekolah Minggu A (A. Enda. Kolambani. Dam. Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa generasi alfa meski memiliki banyak keunggulan dan kelebihan, namun terdapat pula berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi terutama dalam menjalin relasi sosial secara langsung . Karena itu, penting untuk menanamkan karakter sosial dalam diri generasi alfa agar mereka mampu menjalin relasi dengan baik bukan saja secara online, tetapi juga secara langsung. Gambar 1. Nara sumber memaparkan materi tentang karakteristik generasi alfa dan karakter sosial generasi alfa . antangan dan peluan. Karakter Sosial Generasi Alfa (Tantangan Dan Peluan. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark . dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Pusat Bahasa Depdiknas memaknai karakter sebagai bawaan, hati, jiwa, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak. Lebih lanjut karakter juga diartikan sebagai penilaian subjektif terhadap kualitas moral dan mental seseorang. Selain itu, karakter juga dipahami sebagai tabiat atau kepribadian. Sedangkan sosial merupakan segala perilaku manusia yang menggambarkan hubungan manusia dalam kehidupan masyarakat, antar manusia, hubungan manusia dengan kelompok, serta hubungan manusia dengan organisasi untuk mengembangkan dirinya. Dalam kehidupan anak, perkembangan yang dialami merupakan kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi, faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang menjadikan anak-anak sebagai insan yang secara aktif melakukan proses sosialisasi dan proses inilah yang disebut sebagai karakter sosial (Wardati 2005, . Karakter sosial merupakan keseluruhan perilaku individu dengan kecenderungan tertentu dalam berinteraksi dengan serangkaian situasi. Hal tersebut menyatakan bahwa setiap orang mempunyai cara berperilaku yang khas seperti sikap, bakat, adat, kecakapan, kebiasaan, dan tindakan yang sama setiap hari. Selanjutnya, karakter sosial berkembangan dan mengalami perubahan-perubahan, tetapi di dalam perkembangannya makin terbentuklah pola-pola tetap, sehingga merupakan ciri-ciri yang khas bagi setiap individu (Wardati 2005, . Wardati mengutip Dindin Jamaluddin yang memaparkan nilai-nilai lain yang akan memperkuat karakter sosial yaitu: sportif, toleransi, disiplin, mandiri, tanggung jawab, menghargai prestasi, peduli kebersihan, peduli kesehatan, dan Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 bersahabat/komunikatif (Wardati 2005, . Dengan demikian, karakter sosial yang dimiliki anak dalam hal ini anak generasi alfa semakin kuat sehingga mereka terbentuk menjadi generasi yang berdampak baik bagi diri sendiri, masyarakat dan bangsa. Dalam iman Kristen, karakter mengacu pada karakter kristiani yakni kumpulan nilai, sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Yesus Kristus dalam Alkitab. Karakter ini tidak hanya menunjukkan iman seseorang kepada Tuhan, tetapi juga bagaimana iman tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai utama yang membentuk karakter ini mencakup kasih, kejujuran, tanggung jawab, kerendahan hati, pengampunan, kesetiaan dan pelayanan kepada sesama. Nilai-nilai tersebut bersifat praktik dan bertujuan membentuk pribadi yang berintegritas dalam hubungan dengan Tuhan, sesama dan lingkungan (Tonapa et al. 2025, 17Ae. Karakter kristiani sejalan dengan nilai-nilai yang ada dalam karakter sosial. Bahkan jika ditelusuri lebih dalam pengembangan karakter sosial berasal dari nilai-nilai agama secara khusus karakter kristiani. Dengan demikian, penting untuk mengembangkan karakter sosial berdasarkan nilai-nilai kristiani bagi generasi alfa sehingga mereka terbentuk menjadi generasi yang kuat, tangguh dan mampu berdampak di lingkungan sosial. Tantangan Karakter sosial merupakan salah satu strategi yang digunakan gereja untuk menolong generasi alfa dalam mengembangkan diri dan kepribadiannya menjadi lebih baik, namun dalam realitasnya ada tantangan yang dihadapi oleh gereja. Salah satu tantangan yang paling sering dihadapi adalah ketergantungan anak-anak generasi alfa pada perangkat digital. Ada banyak anak generasi alfa baik yang usia dini hingga remaja menghabiskan waktu yang sangat lama di depan layar. Apalagi aktivitas mereka di depan layar tidak selalu berkaitan dengan pembelajaran, melainkan lebih banyak digunakan untuk hiburan seperti bermain game, menonton video, atau mengakses media sosial. Jika aktivitas ini tidak disertai dengan pengawasan yang tepat, kebiasaan ini dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian mereka. Anak-anak akan menjadi lebih cenderung individualis, cenderung pasif dalam interaksi sosial yang nyata, dan mengalami kesulitan dalam membangun empati karena kurangnya pengalaman berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar (Nggolaon and Supu 2025, . Selain itu, dunia digital juga menyajikan arus informasi yang sangat cepat namun tanpa filter. Anak-anak yang belum memiliki kemampuan literasi digital dan karakter sosial yang baik akan berisiko tinggi untuk terpapar konten-konten yang tidak mendidik, bahkan bersifat negatif. Konten-konten yang mengandung kekerasan, ujaran kebencian, stereotip budaya, hingga materi tidak pantas dengan mudah dapat diakses. Situasi ini mempersulit upaya penanaman nilai-nilai karakter seperti kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Ketika anak terbiasa dengan tayangan yang menormalisasi perilaku menyimpang tersebut, hal tersebut dapat terbawa ke kehidupan sehari-hari mereka tanpa disadari. Tantangan berikutnya muncul dari perubahan gaya komunikasi yang dialami oleh generasi alfa. Interaksi yang dilakukan melalui pesan singkat, emoji, atau rekaman suara singkat mengurangi keterampilan berkomunikasi secara verbal dan tata muka. Padahal nilai-nilai karakter seperti empati, sopan santun. Pelatihan Peran Sekolah Minggu A (A. Enda. Kolambani. Dam. serta kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat banyak dipelajari melalui komunikasi langsung. Minimnya kontak sosial yang dialami menyebabkan anak kesulitan memahami ekspresi emosi orang lain, dan ini dapat berdampak pada kemampuan mereka dalam membangun hubungan interpersonal yang sehat (Nggolaon and Supu 2025, 57Ae Lebih lanjut. Zidan Fahmi dan Amrullah menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi generasi alfa di tengah arus informasi melalui teknologi digital ialah etika digital, di mana kurangnya perhatian terhadap privasi, penyebaran berita palsu dan perilaku yang tidak pantas dapat dengan mudah mempengaruhi pola pikir anak-anak generasi alfa yang belum dewasa. Selain itu, ketergantungan pada media sosial juga dapat menimbulkan masalah seperti krisis citra diri dan pencarian validasi online yang mengganggu pembentukan karakter sosial yang kuat (Arbi and Amrullah 2024, . sini peran penting gereja sebagai salah satu lembaga sosial melalui sekolah minggu untuk menanamkan karakter sosial sangat dibutuhkan. Upaya penanaman karakter sosial perlu terus digaungkan agar meminimalisir tantangan-tantangan yang dihadapi oleh anak-anak generasi alfa yang merupakan masa kini sekaligus masa depan gereja. Peluang Meskipun tantangan dalam menanamkan nilai-nilai karakter sosial cukup kompleks, kehidupan anak-anak generasi alfa yang sangat dekat dengan teknologi tetap menyimpan berbagai potensi yang bisa dimanfaatkan. Generasi alfa adalah generasi yang cepat untuk belajar dan beradaptasi, memiliki rasa penasaran dan ingin tahu yang tinggi, memiliki imajinasi yang kuat dan kreatif dalam mengekspresikan diri, serta terbiasa dengan kemandirian dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi (Putri et al. 2024, . Oleh karena itu, ini menjadi peluang bagi guru sekolah minggu untuk mengembangkan karakter sosial generasi alfa. Sekolah minggu tidak boleh mengabaikan potensi besar dari generasi alfa ini, pemanfaatan teknologi dan media sosial dalam proses pembelajaran sekolah minggu tidak hanya dipandang sebagai respons terhadap perubahan zaman dan gaya belajar yang merupakan bagian dari rutinitas tetapi sebagai starategi yang efekti untuk memperkuat pertumbuhan karakter sosial generasi alfa (Pasaribu 2025, . Lebih lanjut Arbi dan Amrullah mengatakan salah satu peluang yang bisa dimanfaatkan adalah mengembangkan nilai-nilai positif pada diri anak (Arbi and Amrullah 2024, . Dalam rangka mengembangkan nilai-nilai positif pada diri generasi alfa, pemanfaatan media digital bukan hanya akan meningkatkan kemampuan akademik tetapi juga untuk mengajarkan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja sama dan toleransi pada generasi alfa. Strategi Kreatif Guru Sekolah Minggu Dalam Pembentukan Karakter Sosial Generasi Alfa. Dalam menghadapi tantangan zaman modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi digital dan arus informasi yang begitu cepat, pengajaran sekolah minggu dituntut untuk menyesuaikan diri dengan karakter dan kebutuhan generasi alfa. Generasi ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat akrab dengan teknologi, memiliki cara berpikir yang cepat, lebih menyukai pembelajaran visual dan interaktif, serta terbiasa memperoleh informasi secara instan. Kondisi ini membuat metode pembelajaran yang Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 bersifat konvensional seperti ceramah panjang dan hafalan tidak lagi efektif dalam menumbuhkan karakter sosial maupun pemahaman spiritual mereka. Oleh karena itu, pengajaran sekolah minggu harus bersifat kontekstual, partisipatif, dan berbasis teknologi, sehingga mampu menjangkau seluruh dimensi perkembangan peserta didik, baik intelektual, emosional, sosial maupun spiritual (Kordak and Sendow 2025, 7Ae. Strategi kreatif dalam pembentukan karakter sosial untuk generasi alfa mencerminkan fokus pada pengembangan metode pengajaran yang sesuai dengan karakteristik unik generasi alfa. Strategi kreatif dalam pengajaran sekolah minggu dapat mencakup berbagai pendekatan yang menarik dan interaktif untuk mendalami ajaran dan nilai-nilai Kristiani. Pengajaran sekolah minggu memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter sosial dan nilai-nilai moral individu (Pattinama 2025, . Berikut strategi kreatif dalam pembentukan karakter sosial generasi alfa yang dapat dilakukan oleh guru sekolah minggu: Gambar 2. Nara sumber memaparkan materi strategi kreatif guru sekolah minggu dalam membentuk karakter sosial generasi alfa Pembelajaran Sekolah Minggu Berbasis Proyek Kolaboratif Project-Based Learning (PjBL), atau pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada anak dengan menempatkan proyek nyata sebagai inti dari proses belajar. Dalam pembelajaran ini, anak diajak untuk merancang, melaksanakan, dan menyelesaikan proyek yang relevan dengan konteks kehidupan mereka. Melalui keterlibatan aktif dalam proyek, anak mengembangkan berbagai kompetensi, seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan tanggung jawab Proses pembelajaran dalam PjBL menuntut anak untuk saling berinteraksi, berbagi ide, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, sehingga kemampuan kolaboratif mereka berkembang secara alami. Model pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan Pelatihan Peran Sekolah Minggu A (A. Enda. Kolambani. Dam. keterampilan kerja sama dan komunikasi, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab, empati, dan keterampilan interpersonal. Dengan demikian. PjBL dapat dijadikan strategi pembelajaran yang efektif untuk mengembangkan kompetensi sosial dan karakter anak (Krisnawati 2025, 276Ae. PjBL diharapkan hadir untuk menjadi salah satu cara pembelajaran yang dapat diterapkan untuk mengubah pendekatan pembelajaran lama . embelajaran yang berpusat pada guru ke arah pendekatan baru . embelajaran yang berpusat pada sisw. Implementasi PjBL mampu menjawab situasi belajar yang terkesan monoton . erita, diskusi, ceramah/renunga. bagi generasi alfa. Dengan demikian, guru sekolah minggu dapat terdorong menerapkan konsep PjBL ini sebagai cara yang mungkin untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik dan membina suasana kelas yang positif. Selain itu, generasi alfa semakin terbangun dalam pola berpikir kritis, berkolaborasi dengan sesama, dan memiliki rasa empati. (Gaspersz. Leuwol, and Wonmaly 2024, . Salah satu contoh pembelajaran PjBL menciptakan karya seni berbasis tema alkitab. Pembelajaran Sekolah Minggu Yang Interaktif Model kreatif-interaktif merupakan model yang didasari untuk menciptakan model pembelajaran yang menarik sehingga anak-anak sekolah minggu senantiasa datang dan termotivasi untuk mengikuti sekolah minggu. Model ini secara kreatif menggunakan pemanfaatan permainan . dan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi sehingga diharapkan adanya suatu interaksi yang menyenangkan antara guru dan anak sekolah minggu. Harapan dan dampak yang dihasilkan adalah anak sekolah minggu termotivasi untuk belajar kebenaran Firman Tuhan dan Firman Tuhan tersebut tersampaikan secara maksimal kepada anak sekolah minggu terkhusus generasi alfa. Prinsip-prinsip model sekolah minggu kreatif-interaktif bagi generasi alfa diistilahkan prinsip kolaboratif dan prinsip konfrontatif. Pengertian prinsip kolaboratif yaitu dengan menekankan penggunaan teknologi informasi dalam pembelajaran Firman Tuhan terkhususnya penggunaan internet, youtube, ataupun media sosial lainnya. Pengertian prinsip konfrontatif adalah penggunaan permainan dalam pembelajaran Firman Tuhan pada sekolah minggu. Kedua prinsip ini yang mendasari metode/langkah-langkah penyampaian Firman Tuhan dan dilakukan secara bergantian sehingga sekolah minggu akan bervariasi dan tidak monoton (Panuntun et al. 2019, . Pertimbangan penggunaan prinsip kolaboratif adalah karena hal ini merupakan dunia generasi alfa dan pengaruh revolusi industri 5. 0 yang tidak akan bisa lepas dari perkembangan teknologi informasi. Pertimbangan penggunaan prinsip konfrontatif adalah untuk memaksimalkan tumbuh kembang anak sehingga tidak menjadi pribadi yang antisosial dan individualis serta pertumbuhan otak yang maksimal sehingga dapat berpikir kreatif dan mengambil keputusan dengan benar (Panuntun et al. 2019, . Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 Gambar 2. Guru sekolah minggu berdiskusi tentang sekolah minggu berbasis proyek kolabaoratif dan kreatif interaktif Pembelajaran Sekolah Minggu Berbasis Nilai Kearifan Lokal Sumba Kearifan lokal adalah pengetahuan dan kebijaksanaan yang dikembangkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, yang meliputi nilai-nilai, norma, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Dalam konteks gereja, kearifan lokal berfungsi sebagai alat untuk memperkaya proses pengajaran, termasuk pengajaran sekolah minggu yang menjadikannya lebih relevan dengan kehidupan jemaat dan budaya setempat (Hasugian and Pasaribu 2025, . Kearifan lokal merujuk pada pengetahuan, nilai, dan praktik yang berkembang dalam suatu komunitas atau masyarakat tertentu, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kearifan ini mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk tradisi, budaya, norma, dan cara pandang terhadap alam dan kehidupan sosial. Dalam konteks pendidikan, kearifan lokal menjadi sangat penting karena ia berfungsi sebagai landasan untuk membentuk identitas dan karakter generasi alfa. Pendidikan yang mengintegrasikan kearifan lokal tidak hanya membantu generasi alfa memahami dan menghargai budaya mereka sendiri, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat (Gunarto 2025, . Dalam pengajaran sekolah minggu, kearifan lokal dapat diintegrasikan dengan ajaran Alkitab untuk menciptakan pemahaman yang lebih holistik tentang kehidupan. Misalnya, nilai-nilai seperti kasih, keadilan, dan tanggung jawab sosial yang diajarkan dalam Alkitab dapat dipadukan dengan praktik-praktik kearifan lokal yang menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan dan sesama. Pengajaran sekolah minggu berbasis kearifan lokal Sumba merupakan model pengajaran sekolah minggu yang mengombinasikan budaya Sumba dengan pelaksanaan pengajaran di sekolah minggu. Contohnya dongeng . erita rakya. yang berisi cerita-cerita sakral tentang lingkungan hidup, kelakuan, persahabatan, permainan tradisional Sumba seperti Pelatihan Peran Sekolah Minggu A (A. Enda. Kolambani. Dam. permainan pamakangu, tarian Sumba seperti Kandinggang. Kabokang. Patanjangung. Panapang Baru dan Ningguharana serta lagu daerah Sumba seperti Koalambaku. Eri Rambu Mbalu. Rinjungu Paraingu. Dalam dongeng, permainan tradisional, tarian dan lagu daerah banyak terkandung nasihat yang mendidik, dan dapat dipakai untuk memberikan pengajaran kepada anak sekolah minggu yang adalah generasi alfa. Pendekatan melalui nilai-nilai kebudayaan yang menjadi kearifan lokal masyarakat Sumba menjadi cara untuk mencapai tujuan pengajaran di gereja. Selain itu, penelitian Suryaningsi Mila dan Solfina Kolambani terhadap komunitas Muslim. Kristen dan Marapu di Desa Watu Asa menunjukkan bahwa kearifan lokal melalui tradisi tana nyuwu watu lissi, palomai atau palonggamai, kalli kawana kalli kawinni, pandula wikki, mandara, dan paoli menghadirkan nilai-nilai cinta, hormat, gotong royong, persaudaraan, solidaritas, penerimaan dan keterbukaan di antara komunitas lintas Nilai-nilai tersebut diyakini menjadi kohesi sosial yang mampu menghubungkan seluruh umat beragama, tanpa memandang perbedaan geografis, etnis, dan gender (Mila and Kolambani 2020, 182Ae. Pembentukan karakter sosial berbasis kearifan lokal memiliki potensi yang besar dalam menghadapi isu-isu strategis di era digital. Pembentukan karakter sosial berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan kesadaran generasi alfa tentang nilai-nilai tradisional dan budaya lokal mereka. Melalui penggunaan cerita, legenda, dan praktik kearifan lokal dalam pembelajaran, generasi alfa menjadi lebih terhubung dengan warisan budaya mereka dan menginternalisasi nilai-nilai seperti kerja sama, gotong royong, dan rasa hormat terhadap sesama (Nawawi and Bedi 2025, 951Ae. Gambar 4. Guru sekolah minggu berdiskusi tentang sekolah minggu berbasis nilai kearifan lokal Sumba Jurnal PkM Setiadharma Volume 7 Nomor 1. April 2026 KESIMPULAN Pembentukan karakter sosial generasi alfa sangat penting di masa sekarang ini. Generasi alfa meski memiliki banyak keunggulan dan kelebihan, namun terdapat pula berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi terutama dalam menjalin relasi sosial secara langsung . Karena itu, penting untuk menanamkan karakter sosial dalam diri generasi alfa agar mereka mampu menjalin relasi dengan baik bukan saja secara online tetapi juga secara langsung. Penting untuk mengembangkan karakter sosial berdasarkan nilai-nilai kristiani bagi generasi alfa sehingga mereka terbentuk menjadi generasi yang kuat, tangguh dan mampu berdampak di lingkungan sosial. Pembentukan karakter sosial generasi alfa juga merupakan tanggung jawab sekolah minggu. Sekolah Minggu merupakan lembaga pendidikan Kristen di gereja yang mengajarkan dan membentuk karakter anak menjadi sesuai dengan nilai-nilai Alkitab. Melalui sekolah minggu anak-anak dibimbing, dituntun, diajar dan dididik mengenai dasar-dasar kekristenan termasuk pembentukan karakter sosial, sehingga anak memiliki fondasi iman yang kuat sejak dini. Strategi kreatif dalam pembentukan karakter sosial untuk generasi alfa yang dapat dilakukan oleh guru sekolah minggu adalah pembelajaran sekolah minggu berbasis proyek kolaboratif, pembelajaran sekolah minggu interaktif dan pembelajaran sekolah minggu berbasis nilai kearifan lokal Sumba. Tiga strategi ini diharapkan dapat menolong generasi alfa untuk memiliki karakter sosial yang baik di tengah arus perkembangan teknologi. DAFTAR PUSTAKA Aprily. Nuraly Masum. Anfa Kamilatul Rosidah, and Hani Hashipah. AuMaaf. Terima Kasih,