Bentuk Film Dokumenter Ekspositoris Menggunakan Open Caption untuk Audiens dengan Keterbatasan Pendengaran I Gede Nyoman Wisnu Satyadharma, 2Arthur S. Nalan, 3Retno Dwimarwati Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah-Batu No. Cijagra. Lengkong. Kota Bandung 40265 satyadh @gmail. com1, nalanarthur@gmail. comA, rdwimarwati@gmail. ABSTRACT The form of documentary film created in this this research is a documentary film art entitled "Berujar Dalam Sunyi". This is a documentary film with an expository style of exposure, using a comparative narrative style. This research is a creative process creating a documentary film of which applies the use of open caption to give access people with hearing impairments in Indonesia to documentary films. The issue of this research is the reality of the life of people with hearing impairments in Indonesia. This film uses koentjaraningratAos seven elements of culture to explore the visual potential of the life of a deaf-deaf community. Access to films, especially documentary films for people with hearing impairments in Indonesia is still very limited. The form of access in question is open caption, which can help people with hearing impairments enjoy and understand the contents of a film which is an audio-visual art form. This research is a creative process of making documentary films applying the use of open captions to provide access to documentary films for deaf people in Indonesia. In its application, a combination of voiceover and open caption is used, so that this documentary film can be enjoyed by both hearing audiences and audiences with hearing impairments. The results of this study illustrate how to present the reality in the life of people with hearing impairments into a documentary film that can be enjoyed by audiences with hearing impairments. Keywords: Documentary Film. Expository Style. Comparative Narrative Style. Open Caption fakta yang diketahui, daripada menciptakan sebuah alegori fiktif (Nichols. Bill. Di antara masyarakat Indonesia terdapat masyarakat dengan keterbatasan pendengaran yang keterbatasannya tidak terlihat langsung secara kasat mata. Mereka merupakan aktor-aktor sosial dengan cerita dan perspektif kehidupan yang belum banyak orang awam pahami, sehingga menarik untuk diangkat sebagai sebuah karya film dokumenter. Masyarakat Indonesia umumnya mengenali penyandang keterbatasan pendengaran dengan sebutan AuTunarunguAy. Fenomena yang terjadi saat ini adalah munculnya gerakan penyandang keter- PENDAHULUAN Latar Belakang Dokumenter adalah bentuk sinema yang berbicara kepada kita tentang situasi dan peristiwa aktual. Ini melibatkan orang-orang nyata . ktor sosia. yang menampilkan diri mereka kepada kita dalam cerita yang menyampaikan proposal yang masuk akal tentang atau perspektif tentang kehidupan, situasi, dan peristiwa yang ditampilkan. Sudut pandang yang berbeda dari pembuat film membentuk cerita ini menjadi sebuah proposal atau perspektif tentang dunia sejarah secara langsung, dengan berpegang pada fakta156 Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 5 No. 2 Desember 2020 batasan pendengaran yang lebih memilih disebut AuTuliAy. Di dunia, ada dua organisasi aktivis/penyandang disabilitas pendengaran yang menyikapi disabilitas pendengaran dengan perspektif sosial yang berbeda. Dua organisasi tersebut adalah International Hard Of Hearing People (IFHOH) dan World Federation Of The Deaf (WFD). Pada dasarnya IFHOH memperjuangkan akses terhadap alat bantu dengar agar penyandang disabilitas pendengaran bisa kembali mendengar, sedangkan WFD memperjuangkan akses terhadap bahasa isyarat. Dalam komunitas AuTunarunguAy di Indonesia, sebagaimana halnya dalam International Federation Of Hard Of Hearing People, aktivitasnya melingkupi perjuangan untuk mendapatkan akses terhadap alat bantu dengar sehingga orang dengan kondisi AuTunarunguAy dapat direhabilitasi lalu kemudian bisa mendengar dan belajar berkomunikasi secara oral/verbal. Sedangkan dalam komunitas AuTuliAy. AuDeaf CultureAy atau dalam Bahasa Indonesia Budaya Tuli diadaptasi dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Budaya Tuli berkembang di kalangan difabel Tuli yang kemudian memperjuangkan akses terhadap bahasa isyarat. Menurut Koentjaraningrat . 1: . , kebudayaan merupakan sebuah sistem gagasan dan rasa, sebuah tindakan serta karya yang dihasilkan oleh manusia didalam kehidupannya yang bermasyarakat, yang dijadikan kepunyaannya dengan belajar. Berdasar kepada definisi kebudayaan tersebut, penulis melihat adanya potensi yang bisa digali dari kehidupan penyandang keterbatasan pendengaran melalui perspektif kebudayaan. Masih menurut Koentjaraningrat, unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia berjumlah tujuh buah, yaitu: sistem pengetahuan. organisasi sosial. sistem peralatan hidup dan teknologi. sistem pencaharian . sistem religi. oentjaraningrat, 2015: . Dalam film dokumenter ini, pengkarya menggunakan tujuh unsur kebudayaan sebagai acuan dalam melakukan eksposur kehidupan masyarakat tunarungu-tuli. Menurut (Gerzon, 2007: . , meriset subjek dapat meliputi dapat dibagi dalam tiga kategori data, yaitu data fisik, data sosiologis, dan data psikologis. Dengan memperhatikan data-data tersebut, dan Gambar 1 Logo World Federation Of The Deaf (Sumber: http:// w. Wfdeaf. org, ) Gambar 2 Logo International Federation Of Hard Of Hearing People (Sumber: http://w. org, ) Wisnu Satyadharma: Bentuk Film Dokumenter Ekspositoris Menggunakan Open Caption untuk Audiens dengan keterbatasan Pendengaran Of God, wawancara, terjemahan dalam bentuk voiceover dan open caption untuk menyampaikan pesannya. Karya yang akan diciptakan sedikit banyaknya terinspirasi dari film tersebut, yang menjadi pembeda adalah adanya dua objek yaitu kehidupan disabilitas pendengaran yang memilih untuk menggunakan AutunarunguAy, dan kehidupan disabilitas pendengaran yang memilih untuk menggunakan AuTuliAy. Perkembangan film dari film bisu ke film bersuara/AytalkiesAy pada tahun 1927 merupakan sebuah perkembangan besar di dunia film. Dari sudut pandang lain hal ini menjadi sebuah bencana bagi para penyandang disabilitas pendengaran. Hal ini disebabkan oleh cara penyampaian cerita sebuah film yang awalnya mengutamakan visual dan teks untuk menyampaikan cerita dalam film bisu, menjadi penggunaan dialog para aktor dan suara tanpa menampilkan teks dari dialog tersebut untuk dibaca oleh para penyandang disabilitas. Banyak sekali tipe suara dalam sebuah film yang tidak bisa dinikmati oleh penyandang disabilitas pendengaran, diantaranya: on-screen dialogue, off-screen dialogue, on-screen action sound, off-screen action sound, background noise, music soundtrack, in-story media, dan sound Hal ini tidak dapat didengar oleh para penyandang disabilitas pendengaran sehingga menjadi kendala bagi para dalam menikmati ataupun mengapresiasi sebuah karya film yang merupakan sebuah pengalaman audio-visual. Berbeda dengan subtitle yang fungsinya untuk menerjemahkan bahasa asing ke dalam bahasa yang dipergunakan oleh penonton, open caption adalah teks yang membandingkan kecocokannya dengan kerangka unsur-unsur kebudayaan menurut Koentjaraningrat, maka penulis menilai keunikan budaya tunarungu-tuli di Indonesia memiliki potensi untuk diangkat menjadi sebuah karya seni film dokumenter yang menarik. Dalam penciptaan ini, objek yang ditonjolkan adalah kehidupan subjek yang memilih identitas tunarungu, dan kehidupan subjek yang memilih identitas AuTuliAy. Kehidupan subjek yang memilih untuk menggambarkan sebagian dari asumsi masyarakat umum terhadap anak tunarungu, dan pencapaian anak tunarungu yang belum diketahui oleh masyarakat umum. Kehidupan subjek yang memilih untuk menggunakan identitas Tuli, ditampilkan untuk menggambarkan bagaimana nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat tuli. Konten dari film dokumenter ini dibangun dengan memperhatikan tujuh unsur kebudayaan yang disampaikan oleh Koetjaraningrat. Tujuan dari penciptaan karya film dokumenter ini adalah upaya untuk mencipta sebuah karya yang memiliki konten budaya, dan pendalaman potensi pemanfaatan seni film dokumenter baik dari sisi pemaknaan representative, maupun aspek teknis dalam menampilkan kehidupan para penyandang disabilitas Selain itu, film ini dirancang sedemikian rupa agar dapat diakses dan dinikmati oleh orang dengan keterbatasan Karya film dokumenter yang dijadikan acuan adalah AuThrough Deaf EyesAy . karya Lawrence Hott dan Diane Garey. Film tersebut menceritakan sejarah perkembangan kehidupan masyarakat Tuli di Amerika. Film tersebut bertutur menggunakan suara narrator sebagai pembentuk argumen. Film ini menggabungkan penggunaan narasi Voice Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 5 No. 2 Desember 2020 segala bentuk audio yang ada dalam sebuah film. Open caption adalah teks yang embedded ke dalam film sehingga penonton tidak memiliki opsi untuk menghilangkan Jenis caption yang bisa dihilangkan adalah closed caption, dimana penonton dapat memilih untuk menggunakannya atau tidak. Penggunaan open caption yang embedded dalam film membantu para penonton dengan keterbatasan pendengaran untuk memahami dan menikmati film. Penggunaan maupun closed tergantung pada platform media pemutarannya. Untuk film yang didistribusikan pada media digital me-mungkinkan untuk menggunakan closed caption sehingga penonton dapat memilih untuk menampilkan atau tidak menampilkan caption tersebut. Sedangkan untuk film yang didistibusikan di bioskop, apabila ditujukan agar bisa dinikmati oleh penonton dengan disabilitas pendengaran maka idealnya menggunakan open caption. menyediakan fasilitas rear window captioning system sehingga penonton dengan keterbatasan pendengaran bisa membaca caption dan penonton tanpa keterbatasan pendengaran tidak terganggu oleh adanya caption yang dianggap tidak perlu Sedangkan di Indonesia tidak ditemukan fasilitas serupa. Sebagai gantinya, di Indonesia beberapa film fiksi mulai menyediakan pemutaran film yang secara khusus ditayangkan untuk memfasilitasi penonton dengan keterbatasan pendengaran. Sayangnya tidak semua film menyediakan fasilitas semacam, sehingga tidak semua film yang diputar di bioskop bisa dinikmati oleh penonton dengan keterbatasan Secara umum, masyarakat Indonesia mengenal istilah subtitle sebagai bentuk teks yang dimunculkan pada bagian bawah frame sebagai bentuk penerjemahan dari dialog aktor yang menggunakan bahasa asing atau film yang menggunakan bahasa Teks terjemahan dalam bahasa Indonesia dalam sebuah tayangan audiovisual, adalah kebutuhan yang penting bagi para penyandang disabilitas pendengaran. Selain dapat membantu para penyandang disabilitas pendengaran dalam memahami isi dari film yang ditonton, teks terjemahan Gambar 3. Rear Window Captioning System (Sumber: http://videotechnology. com/2010/12/rear-window-captioning. Desember 2. Gambar 4. Fitur Closed Caption pada Platform DigitalYoutube (Sumber: http://w. Desember Wisnu Satyadharma: Bentuk Film Dokumenter Ekspositoris Menggunakan Open Caption untuk Audiens dengan keterbatasan Pendengaran dalam bahasa Indonesia membantu audiens dengan disabilitas pendengaran untuk menambah daftar kosakatanya dalam berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulis mengaplikasikan penggunaan open caption dalam film dokumenter ini. Mode merakit fragmen dunia sejarah ke dalam bingkai yang lebih retoris daripada estetika atau puitis. Mode dokumenter ekspositoris adalah mode yang pertama kali menggabungkan empat elemen dasar film dokumenter yaitu gambaran indeksikal dan realitas, asosiasi afektifpuitis, kualitas bercerita, dan persuasif Mode ekspositori menyapa penonton secara langsung, dengan judul atau suara yang mengusulkan perspektif atau menyampaikan sebuah argumen (Nicholson. Bill. 2001: . Menurut (Gerzon, 2007: . ada selusin gaya bertutur film dokumenter, satu diantaranya adalah gaya bertutur Dalam bentuk perbandingan umumnya diketengahkan perbedaan suatu situasi atau kondisi dari satu objek/ subjek dengan lainnya. Gaya bertutur ini dipiilih untuk dipergunakan dalam penciptaan film ini karena dirasa cocok untuk membandingkan antara kehidupan subjek yang menggunakan identitas tunarungu, dengan kehidupan subjek yang menggunakan identitas Tuli. Film dokumenter yang dibuat oleh penulis ini adalah sebuah film dokumenter ekspositoris, yang menggunakan pendekatan naratif, gaya bertutur perbandingan, dan mengaplikasikan penggunaan open Film dokumenter ini adalah bentuk eksplorasi penulis dalam menciptakan karya film dokumenter yang dapat dinikmati baik oleh audiens dengan keterbatasan pendengaran maupun tanpa keterbatasan pendengaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Penemuan Pola Berdasarkan hasil wawancara dengan para narasumber, penulis menyimpulkan bahwa pola umum yang dilalui para disabilitas adalah sebagai berikut: Identifikasi Gangguan Pendengaran Istilah medis yang dipergunakan oleh dunia kedokteran THT saat ini adalah gangguan pendengaran dan tuli/tuli Istilah tunarungu adalah istilah bahasa indonesia yang dipergunakan untuk memperhalus bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat umum. Gangguan pendengaran dan tuli bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda-beda. WHO merekomendasikan untuk melakukan deteksi dini kepada anak dengan gangguan pendengaran dan tuli yang kemudian ditujukan agar bisa segera dilakukan rehabilitasi sejak dini karena rata-rata perkembangan komunikasi anak berada diantara satu hingga dua tahun. Sikap Orang Tua Sikap orang tua pada umumnya akan mengalami shock ketika mengetahui anaknya mengalami gangguan pendengaran/tuli. Namun peran orang tua sangat penting dalam perkembangan anak. Orang tua harus berani mengambil keputusan bagaimana anaknya akan menjalani hidup di masa depan. Keputusan awal yang harus diambil oleh orang tua adalah keputusan untuk mengambil langkah Dalam memutuskan langkah rehabilitasi orang tua anak tunarungu/tuli harus mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya biaya, rencana pendidikan, dan perkembangannya di sosial masyarakat. Pendidikan Anak Melalui wawancara dengan staff yang ditunjuk untuk memberikan informasi kepada penulis, penulis memahami Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 5 No. 2 Desember 2020 umumnya orang tua anak tunarungu/tuli mengalami tingkat tekanan yang cukup Untuk anak tunarungu/tuli sendiri tantangan terbesarnya adalah proses belajar mendengar, dan berkomunikasi verbal. Penggunaan alat bantu dengar, atau pemasangan implan koklea tidak semertamerta menyelesaikan permasalahan sehingga anak bisa mendengar dengan jelas. Butuh proses belajar untuk membedakan suarasuara yang diterima melalui alat bantu dengar yang bersangkutan. Untuk berkomunikasi secara verbal pun tidak mudah karena tidak jarang proses terapi wicara menimbulkan ketidaknyamanan bagi sang anak. Misalkan, untuk mengucapkan vokal/konsonan/fonem tertentu diperlukan bantuan alat atau bahkan jari tangan dari terapis yang dimasukkan kedalam mulut sang anak sehingga bisa membentuk lidah atau bentuk mulut yang diperlukan untuk menyuarakan huruf tersebut. Selain ada potensi ketidaknyamanan, hal ini perlu dilakukan berulang-ulang agar menjadi muscle memory dan untuk melakukan hal tersebut beberapa anak membutuhkan energi/tenaga ekstra untuk menggerakkan otot yang ada di mulut/lidah sehingga terapi wicara tersebut juga berpotensi menyebabkan kelelahan. bahwa dalam pendidikan Sekolah Luar Biasa tiap anak dididik dengan menilai kemampuan masing-masing anak. Karena dalam satu kelas bisa terdiri dari anakanak dengan kemampuan yang berbeda. Dalam kategori anak tunarungu/tuli bisa memiliki kemampuan komunikasi verbal yang berbeda, dan kemampuan intelektual yang berbeda. Misalkan, seorang anak tunarungu/tuli, ada yang bisa lebih cepat mempelajari bahasa isyarat dengan cepat, ada pula yang lebih lambat karena faktor keterbatasan intelektual anak itu sendiri. Oleh karena itu tiap anak dinilai sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dalam pendidikan SLB anak-anak tunarungu/tuli diproyeksikan agar bisa berdaya di masyarakat dengan keterbatasan mereka, salah satunya melalui pendidikan keterampilan. Sebagaimana dengan anak tunarungu/tuli yang menempuh pendidikan umum, anak-anak yang menempuh pendidikan SLB pada umumnya berprestasi di bidang visual dan bidang Meskipun tidak banyak anakanak tunarungu/tuli lulusan SLB yang melanjutkan pendidikan ke tingkat pendidikan tinggi, tidak sedikit pula anak-anak tunarungu tuli yang tingkat komunikasinya baik, dan kemampuan intelektual lebih yang bisa meneruskan pendidikan hingga pendidikan tinggi. Untuk anak-anak tunarungu/tuli yang menempuh jalur pendidikan umum, yang menjadi tantangan adalah peranan orang tua untuk membimbing anak selama proses belajar berkomunikasi secara konsisten baik dalam mencari cara agar anak bisa mendengar baik dengan cara menggunakan alat bantu dengar konvensional, atau implan koklea. maupun mencari cara untuk berkomunikasi dengan verbal yang umumnya dengan cara mengikuti terapi Biaya yang dibutuhkan untuk membeli alat bantu dengar terbaik dan terapi wicara pun relatif besar, sehingga Aktualiasi Diri Seiring dengan perkembangan kedewasaan anak tunarungu/tuli, berkembang pula kesadaran dan daya nalar sang anak. Beberapa penyandang tunarungu/tuli dewasa memilih menggunakan identitas/ melabeli diri mereka dengan istilah tunarungu, beberapa memilih menggunakan identitas/melabeli diri mereka dengan istilah tuli, dan beberapa justru tidak mempermasalahkan mereka disebut tunarungu/ Orang-orang identitas tunarungu cederung memper- Wisnu Satyadharma: Bentuk Film Dokumenter Ekspositoris Menggunakan Open Caption untuk Audiens dengan keterbatasan Pendengaran Sudut kamera tidak berhadapan langsung, tapi agak miring ke kiri/kanan, sehingga menimbulkan kesan bahwa subjek sedang berdialog dengan seseorang yang tidak terlihat dalam layar . ff scree. Baik pewawancara maupun yang diwawancarai tampak dalam layar . n Gerzon kemudian melanjutkan penjelasan bahwa pada posisi kedua, karena sudut pengambilan agak menyamping memberi kesan wawancara tersebut dilakukan dengan santai. Unsur wibawa agak berkurang, bahkan berkesan informal, kadang memiliki unsur anekdot. Berdasarkan pada penjelasan tersebut, penulis menggunakan posisi kedua pada tiap adegan wawancara sehingga baik pada narasumber yang berkomunikasi secara verbal maupun dengan bahasa isyarat dapat terlihat gerak bibir, ekspresi wajah, dan gestur tubuhnya. Dalam berisyarat, terkadang yang orang yang berisyarat tetap menggunakan gerak bibir untuk memperjelas makna dari isyarat yang disampaikan. Selain itu, bentuk isyarat BISINDO yang variatif sesuai dengan juangkan akses terhadap alat bantu dengar dan terapi wicara, sedangkan orangorang yang menggunakan identitas tuli atau teman tuli memperjuangkan akses terhadap bahasa isyarat. Di masa kini, teman identitas tuli gencar digaungkan di masyarakat oleh komunitas-komunitas tuli sehingga masyarakat mulai mengenal istilah tuli. Di lain pihak, meskipun tidak digaungkan secara masif, komunitas tunarungu pun masih bergerak dalam memperjuangkan akses alat bantu dengar dan kesetaraan dalam memperoleh masa depan yang baik. Sebagian besar teman tuli memperoleh kesadaran akan budaya tuli pada usia remaja/dewasa. Hal ini penulis simpulkan berkembang seiring dengan berkembangnya daya nalar teman tuli, perkembangan teknologi informasi, dan respon terhadap lingkungan masyarakat. Penanganan Audio Visual Dalam pembentukan film ini ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Type of shot yang dipergunakan pada film ini umumnya sama dengan yang umumnya dipergunakan dalam film-film lain yang tentunya dipilih sesuai dengan kebutuhan, yang menjadi perlakuan khusus adalah type of shot yang dipergunakan ketika menampilkan seorang tokoh Tuli yang Perhatian khusus dibutuhkan karena ketika seorang Tuli berisyarat, bukan hanya gerakan tangan saja yang perlu terlihat, melainkan ekspresi wajah dan gestur tubuh. Hal ini perlu diperhatikan karena dalam bahasa isyarat ekspresi wajah dan gesture tubuh menentukan makna dari isyarat yang disampaikan. Dalam Bukunya. Gerzon . 8: . menjelaskan bahwa ada tiga posisi umum ketika perekaman wawancara, diantaranya: Arah pandang subjek yang diwawancarai menatap lurus/langsung ke arah Gambar 5 Type Of Shot dan Posisi Kamera Adegan wawancara (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 5 No. 2 Desember 2020 terlihatnya gerak bibir atau ekspresi agar orang yang menggunakan bahasa isyarat daerah yang berbeda bisa tetap memahami isyarat yang disampaikan. Oleh karena itu type of shot yang harus dipergunakan dalam film ini ketika merekam aktivitas tokoh Tuli adalah medium long shot atau medium close up. Selain type of shot, sudut pandang kamera/camera angle terhadap narasumber Tuli ketika wawancara tidak boleh menghilangkan kemampuan audiens untuk melihat ekspresi narasumber ketika sedang berisyarat. Dalam proses editing film ini penulis menemukan beberapa kondisi yang mungkin bisa membuat audiens tidak nyaman dalam menonton film ini. Yang pertama adalah audio-visual tanpa open Dalam Jurnalnya, (Y. Kim&Jeong, 2. menemukan bahwa video edukasi multimedia, hanya dengan menggunakan caption, telah mengindikasikan memiliki dampak positif terhadap komprehensi konten, komprehensi membaca, dan kemampuan belajar. Lebih lanjut. Koskinen . menemukan bahwa captions mendukung kemampuan membaca, komprehensi konten, memori kata, dan ketertarikan terhadap kegiatan belajar. Kemudian Royer dan Cable . melaporkan penemuan bahwa kombinasi gambar dan tulisan membantu murid untuk memahami kalimat konseptual. Agar audiens dengan keterbatasan pendengaran bisa menikmati film ini, maka diperlukan adanya open caption atau burnin caption. Open caption dibutuhkan karena di Indonesia belum ada bioskop yang memiliki fasilitas untuk menampilkan closed caption. Berbeda jika pemutaran dilakukan melalui media player digital seperti youtube dan sejenisnya yang sudah memiliki fitur tombol CC atau closed caption untuk menampilkan closed caption, penonton bioskop Indonesia tidak bisa Gambar 6. Proses Pembuatan Open Caption Dalam Software Editing (Sumber: Tangkapan Layar Software Editing Ditangkap pada tanggal 14-12-2. memilih untuk menampilkan atau tidak menampilkan caption. Atas pertimbangan itulah penulis mengaplikasikan open caption dalam film ini agar film ini bisa dinikmati baik oleh audiens dengan keterbatasan Sehingga pesangan open caption dilakukan pada saat proses editing sehingga caption bisa ditambahkan secara burned-in. Kondisi yang kedua adalah kejanggalan yang berpotensi dirasakan oleh audiens tanpa keterbatasan pendengaran. Selain memperhatikan kenyamanan audiens tentunya penulis harus memperhatikan kenyamanan audiens tanpa keterbatasan Gambar 7. Proses Export Video Dengan Burned-In Caption (Sumber: Tangkapan Layar Software Editing Ditangkap pada tanggal 14-12-2. Wisnu Satyadharma: Bentuk Film Dokumenter Ekspositoris Menggunakan Open Caption untuk Audiens dengan keterbatasan Pendengaran Kejanggalan yang dirasakan adalah ketika menyaksikan adegan seorang tokoh tuli sedang berisyarat tanpa ada Untuk mengantisipasi hal ini penulis menggunakan voiceover untuk membacakan terjemahan dari isyarat yang disampaikan oleh narasumber bersangkutan. Voice over pada film dokumenter ekspositoris bukanlah sesuatu yang baru, namun pada kasus film ini voice over dipergunakan pada bagian dimana narasumber sedang menjelaskan suatu informasi kepada Hal ini dilakukan agar audiens tanpa keterbatasan pendengaran tetap merasa sedang berkomunikasi dengan orang yang sedang berisyarat. Bukan hanya pada saat sang narasumber berisyarat dalam frame, tetapi pada saat ditampilkan insert visual pendukung pesan yang disampaikan oleh narasumber tersebut dalam bentuk offscreen dialogue. Dalam film ini tidak semua adegan yang didalamnya terdapat tokoh Tuli diberikan voiceover. Hal ini dilakukan untuk memberikan efek emosional lebih ketika ditampilkan tokoh-tokoh Tuli yang sedang berkomunikasi dengan usaha yang lebih berat dibandingkan dengan orang tanpa keterbatasan pendengaran. Bahasa Gambar 8. Adegan Shafa Berkomunikasi Secara Verbal (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Salah satu tahapan awal dari kehidupan seorang disabilitas pendengaran adalah menentukan bahasa atau cara berkomunikasi. Pada komunitas tuna-rungu, umumnya yang dipergunakan adalah bahasa oral karena mengutamakan tujuan agar anak dapat berkomunikasi secara oral. Sedangkan pada komunitas Tuli, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa isyarat. Dalam film ini. Shafa adalah representasi dari penyandang keterbatasan pendengaran dengan identitas tunarungu yang berhasil menjalani proses rehabilitasi pendengaran sejak dini. Ibu dari Shafa memutuskan agar Shafa harus bisa berkomunikasi secara verbal dengan harapan nantinya Shafa tidak memiliki keterbatasan peluang dalam mencapai cita-citanya. Hasil akhirnya. Shafa bisa berkomunikasi secara verbal dan umumnya menjalani hidup sebagaimana orang tanpa keterbatasan pendengaran. Shafa tidak mengalami hambatan dalam berbahasa dan juga hambatan terhadap akses ilmu pengetahuan berkat kemampuannya berkomunikasi secara verbal. Tidak semua penyandang keterbatasan pendengaran, memiliki kemampuan yang sama dengan Shafa. Banyak penyandang Analisis Konten Visual Dalam film ini penulis menggunakan tujuh unsur kebudayaan untuk menggali potensi visual dari objek dan subjek. Penggunaan tujuh unsur kebudayaan sebuah bentuk kerangka pembahasan dan penyajian informasi yang didapatkan oleh penulis ke dalam bentuk film Dengan menggunakan tujuh unsur kebudayaan sebagai kerangka pembahasan, maka akan lebih mudah untuk melihat ciri-ciri unsur kebudayaan apa saja yang muncaul dalam kehidupan masyarakat tunarungu-tuli di Indonesia. Adapun temuan-temuan yang didapatkan oleh penulis adalah sebagai berikut: Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 5 No. 2 Desember 2020 Indonesia, adalah system isyarat yang berupa terjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa isyarat. Dalam isyarat SIBI, terdapat bentuk-bentuk isyarat yang mewakili imbuhan dan akhiran, juga menggunakan kaidah tatanan bahasa dalam penyusunan kalimat seperti adanya Subjek. Predikat dan Objek. Di sisi lainnya. BISINDO atau Bahasa Isyarat Indonesia dinilai oleh para penggunanya sebagai sebuah bahasa tersendiri, bukan sebagai sebuah terjemahan dari bahasa Indonesia, melainkan sebuah bentuk bahasa tersendiri. Isyarat-isyarat yang ada dalam BISINDO lebih mudah ditangkap secara visual oleh AuTeman TuliAy dan tidak menggunakan kaidah penyusunan kata dan kalimat dengan urutan Subjek. Predikat, dan Objek, sehingga dalam penggunaannya lebih bersifat simbolik. Seorang AuTuliAy menilai bahwa tidak adanya kemampuannya untuk mendengar bukanlah sebuah kekurangan, dan bahasa isyarat sudah menjadi fitrahnya dalam menjalani kehidupan. keterbatasan pendengaran yang meskipun dengan dukungan kemampuan finansial untuk melakukan proses rehabilitasi pendengaran dan terapi wicara pada akhirnya tidak bisa mencapai kemampuan yang Shafa miliki. Para penyandang keterbatasan pendengaran yang tidak bisa berkomunikasi verbal seperti Shafa umumnya mendapatkan hambatan dari teknologi alat bantu dengar, dan terapi wicara yang harganya mahal, atau kemampuan berbicara verbal yang tidak sebaik Shafa meskipun sudah melalui proses terapi Para penyandang keterbatasan seperti inilah yang pada akhirnya memilih untuk menggunakan identitas sebagai seorang AuTuliAy. Puji adalah satu dari banyak penyandang keterbatasan pendengaran yang memilih untuk disebut AuTuliAy. Seorang AuTuliAy biasanya memilih untuk menggunakan bahasa isyarat karena merasa lebih nyaman. Untuk bisa berbicara verbal, seorang AuTuliAy membutuhkan usaha dan tenaga yang lebih dibandingkan orang tanpa keterbatasan pendengaran dan keterbatasan kemampuan bicara, sehingga seringkali untuk seorang AuTuliAy yang memiliki kemampuan berbicara verbal, berbicara secara verbal merupakan aktivitas yang menguras tenaga. Selain itu, yang tidak orang pahami secara umum adalah tidak semua anak dengan keterbatasan pendengaran memiliki kemampuan untuk mendengar yang sama seperti Shafa, meskipun sudah menggunakan alat bantu dengar terbaik, dan tidak semua anak dengan keterbatasan pendengaran mampu berkomunikasi secara verbal sebaik Shafa, meskipun sudah mengikuti terapi wicara. Bahasa isyarat adalah pilihan paling nyaman bagi para AuTeman TuliAy. tunarungu-tuli dua jenis bahasa Isyarat, yaitu SIBI dan BISINDO. SIBI atau Sistem Isyarat Bahasa Sistem Pengetahuan Gambar 9. Shafa Berhasil Lulus S-1 Kedokteran (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Dalam film ini Ibu Roy menjelaskan alasannya memutuskan agar Shafa harus bisa berkomunikasi secara verbal adalah agar Shafa bisa memiliki kesempatan belajar seperti orang AuumumAy-nya. Hal ini disebabkan oleh adanya kekhawatiran Wisnu Satyadharma: Bentuk Film Dokumenter Ekspositoris Menggunakan Open Caption untuk Audiens dengan keterbatasan Pendengaran pengajar di SLB menguasai bahasa isyarat sepenuhnya, sehingga tidak semua materi bisa dijelaskan secara sempurna. Tidak semua teman Tuli memiliki pengetahuan kosakata yang sama, sehingga tidak semua teman Tuli bisa belajar hanya dengan membaca buku. apabila Shafa menjalani sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB), shafa tidak akan mendapatkan peluang untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya. Ibu Rini sebagai seorang representasi praktisi pengajar di SLB menjelaskan sebenarnya anak-anak yang bersekolah di SLB sebenarnya memiliki peluang yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Hanya saja hasil akhirnya dikembalikan kepada kemampuan anak dan dukungan dari orang tua anak bersangkutan. Ibu Rini memberikan gambaran bagaimana sistem pengajaran terhadap anak tunarungu-tuli di SLB dan bagaimana peluang masa depan anak tunarungu-tuli selepas bersekolah di SLB. Organisasi Sosial Gambar 11. Kegiatan Pertemuan Rutin Orang Tua dan Anak Tunarungu Di Sanggar Trifa (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Shafa dan Ibunya adalah salah satu contoh dari komunitas anak dan orang tua anak tunarungu yang memperjuangkan akses terhadap alat bantu dengar dan terapi wicara. Ibu Shafa menjadi salah satu orang tua yang mengkampanyekan pesan bahwa anak tunarungu bisa hidup AynormalAy seperti anak tanpa keterbatasan pendengaran lainnya. Tidak semua anak dan orang tua anak tunarungu memiliki kemampuan moril dan materil yang sama. Oleh karena itu. Ibu shafa mengadakan pertemuan orang tua dan anak tunarungu sebagai bentuk social support. Komunitas ini, menjadi sebuah tempat dimana orang tua dan anak tunarungu saling memberikan dukungan moril untuk memperjuangkan agar sang anak bisa berkomunikasi secara verbal dan menjalani kehidupan seperti anak tanpa keterbatasan pendengaran. Shafa dengan kemampuan berkomunikasi secara verbal tentunya tidak memiliki Gambar 10. Guru SLB Mengajar Murid Tingkat SMA (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Puji memberikan gambaran bahwa lulusan SLB memiliki hambatan dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan karena tidak ada perguruan tinggi yang memberikan akses terbaik untuk mahasiswa AuTuliAy. Akses yang dimaksud adalah akses terhadap bahasa isyarat atau typist dalam metode pengajarannya. Penggunaan Bahasa Isyarat menjadi penting karena sebagian besar AuTeman TuliAy memiliki keterbatasan dalam berbahasa Indonesia. Tidak semua Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 5 No. 2 Desember 2020 hambatan untuk berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Kemampuannya ini memberikan keuntungan kepada Shafa, dimana Shafa bisa bersosialisasi dan berkomunikasi di tengah kehidupan bermasayarakat tanpa kendala yang cukup teknologi meskipun dengan keterbatasannya masing-masing. Teknologi dasar yang banyak dipergunakan oleh disabilitas pendengaran adalah alat rehabilitasi pendengaran yang bisa berupa alat bantu dengar atau implant kokloea. Dengan kemajuan teknologi ada alat bantu dengar yang bisa tersinkronisasi dengan perangkat ponsel, stetoskop, dan perlengkapan audio jenis lain. Namun tidak semua orang dengan keterbatasan pendengaran mampu membeli alat bantu dengar dengan kualitas terbaik, dan tidak semua orang dengan keterbatasan pendengaran yang memiliki kemampuan untuk mendengar setelah menggunakan alat bantu dengar. Karena seorang Tuli menggunakan bahasa isyarat, maka alat komunikasi perbedaan unik. Karena tidak semua orang memahami bahasa isyarat, maka di saatsaat tertentu ketika seorang AyTuliAy harus berkomunikasi dengan seorang dengar seorang teman Tuli harus menggunakan alat tulis atau perangkat telepon seluler untuk berkomunikasi secara tekstual. Sering kali, apabila tidak ada alat tulis maka yang dipergunakan adalah perangkat ponsel dengan aplikasi penulis pesan atau Sedangkan untuk komunikasi Gambar 12 Kegiatan Kelas Isyarat (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Di lain sisi, teman-teman Tuli mengalami hambatan karena tidak semua orang paham bahasa isyarat. Oleh karena itu, organisasi aktivis Tuli muncul untuk mengkampanyekan agar masyarakat dengar peduli akan akses bahasa isyarat. Salah satu kegiatannya adalah dengan mengadakan kelas belajar bahasa isyarat. Kelas bahasa isyarat ditujukan agar lebih banyak orang yang belajar bahasa isyarat sehingga semakin banyak masyarakat dengar yang memahami bahasa isyarat. Harapannya, dengan banyaknya masyarakat dengar yang sadar akan pentingnya bahasa isyarat maka lambat laun akan berpengaruh positif terhadap akses bahasa isyarat di segala bidang sehingga temanteman Tuli bisa lebih nyaman dalam Gambar 13. Teman Tuli Mengoperasikan Peralatan Teknologi (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi Seorang tunarungu/tuli pada dasarnya dapat menggunakan peralatan hidup dan Wisnu Satyadharma: Bentuk Film Dokumenter Ekspositoris Menggunakan Open Caption untuk Audiens dengan keterbatasan Pendengaran bukti hidup bahwa seorang dengan keterbatasan pendengaran hanya memiliki kekurangan pada pendengarannya saja dan bukan pada intelejensinya, masih ada diskriminasi dan hambatan bagi para penyandang keterbatasan pendengaran dalam kesempatan untuk mendapatkan Sama halnya dengan teman-teman Tuli, selain hambatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kesempatan untuk bekerja di sektor formal pun masih sangat sedikit. Sebagian besar teman Tuli tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di bidang yang dianggap membutuhkan intelejensi yang tinggi. Stigma yang ada di masyarakat, adalah bahwa seorang Tuli tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang perlu menggunakan intelejensi yang tinggi. Padahal kenyataannya seorang Tuli hanya tidak bisa mendengar, bukan berarti mereka tidak memiliki intelejensi yang sama dengan orang tanpa keterbatasan pendengaran. Gambar 14. Shafa berkomunikasi Via Ponsel Menggunakan ABD Teknologi Terbaru (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. jarak jauh, seorang tuli bisa menggunakan aplikasi chat dengan seorang dengar, atau menggunakan video call untuk berisyarat dengan seorang teman Tuli, atau teman dengar yang memahami bahasa isyarat. Sistem Pencaharian Hidup Shafa sebagai seorang tunarungu yang hampir tidak terlihat secara kasat mata bahwa dia memiliki keterbatasan pendengaran karena kemampuannya berkomunikasi secara verbal, pada akhirnya tetap mendapatkan hambatan dalam mencapai cita-citanya. Meskipun pada tingkatan-tingkatan tertentu Shafa bisa melewati proses pendidikan tanpa ada masalah, tetap ada hambatan ketika Shafa melanjutkan pendidikan profesi Hal ini menggambarkan belum siapnya lingkungan pendidikan dan lingkungan kerja dalam menyerap tenaga kerja dengan keterbatasan pendengaran. Ketika di negara-negara maju sudah ada dokter-dokter yang memiliki keterbatasan pendengaran yang menggunakan alatalat yang khusus diciptakan untuk dokter dengan keterbatasan pendengaran, di Indonesia belum ada satupun dokter dengan keterbatasan pendengaran. Hal ini menegaskan bahwa di Indonesia. Shafa Sistem Religi Dengan kemampuan Shafa berkomunikasi verbal dan bersekolah di sekolah umum, tentunya Shafa tidak menghadapi kesulitan untuk memahami dan memaknai nilai-nilai religi karena Shafa tidak memiliki hambatan dalam berbahasa. Shafa bisa lebih mudah menjalankan ibadah dan memaknai religi sebagaimana orang tanpa keterbatasan pendengaran. Berbeda dengan Shafa, anak-anak Tuli tidak dengan mudah bisa belajar, menjalankan, dan memaknai ibadah. Dalam praktek Agama Islam, sebagian besar kegiatan ibadah melibatkan aktivitas Dalam pendidikan di SLB, pengajaran dilakukan oleh guru dengar secara praktis, dan perlu diingat bahwa tidak semua anak memiliki penguasaan kosa kata yang sama sehingga belum tentu Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 5 No. 2 Desember 2020 seni juga melakukan kegiatan kesenian yang melibatkan audio. Sedangkan Puji dan teman-teman tuli yang lain memiliki hambatan untuk menikmati sebuah karya seni audio. Di lain sisi. Puji bisa melakukan aktivitas kesenian yang bersifat visual, salah satunya berakting. Kemampuan Puji ini bisa di lihat pada cuplikan film pendek karya teman-teman tuli yang disisipkan dalam film dokumenter ini. Gambar 15. Guru dan Murid Tuli Membaca Surat Al-Fatihah Menggunakan Isyarat (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. semua anak dapat memahami materi yang disampaikan dalam bahasa Indonesia. Dan materi agama adalah materi pendidikan yang sifatnya abstrak. Untuk menjelaskan sebuah nilai abstrak kepada anak Tuli tidaklah mudah, sehingga hasil yang didapatkan tidak bisa dipastikan merata. The Little Hijabi Home Schooling, adalah sekolah informal untuk anak-anak Tuli dan down syndrome yang guru-gurunya adalah guru Tuli. Guru-guru Tuli yang sudah memahami materi-materi agama Islam, mengajarkan materi agama Islam menggunakan bahasa isyarat dengan tatanan bahasa isyarat yang tentunya lebih mudah untuk dipahami dan dimaknai oleh anak Tuli. Selain bahasa Isyarat Indonesia, anak-anak Tuli juga diajarkan untuk membaca tulisan arab menggunakan isyarat, melatih gerak bibir, juga kisah Dengan metode bahasa isyarat, anakanak Tuli lebih mudah memahami dan memaknai agamanya. Gambar 16. Cuplikan Film Pendek Karya Puji dan Komunitas Tuli (Dokumentasi: I Gede Nyoman Wisnu Satyadharmal. Desember 2. Apabila ditarik benang merah dari fakta-fakta yang diperoleh melalui tujuh unsur kebudayaan yang nampak pada kehidupan masyarakat tunarungu-tuli, maka dapat disimpulkan bahwa adanya gap/jurang pemisah yang menyebabkan orang-orang dengan disabilitas pendengaran tidak mendapatkan kesempatan yang sama seperti orang-orang tanpa keterbatasan pendengaran. Kurangnya akses terhadap media atau metode komunikasi menjadi hambatan baik bagi orang dengan keterbatasan pendengaran yang menggunakan identitas tunarungu maupun yang menggunakan identitas Tuli. Tanpa adanya akses terhadap bahasa akhirnya akan menyebabkan tidak adanya akses terhadap ilmu pengetahuan. Tanpa adanya akses terhadap ilmu pengetahuan, maka akan sulit untuk mengangkat stigma Kesenian Kesenian dalam kehidupan disabilitas pendengaran menarik untuk diangkat karena adanya perbedaan cara menikmati/mengapresiasi sebuah karya seni. Shafa dengan kemampuannya mendengar tentunya bisa lebih mudah mengapresiasi masyarakat terhadap orang-orang dengan keterbatasan pendengaran. Bahkan untuk seorang disabilitas seperti Shafa yang memiliki kemampuan berkomunikasi verbal di atas rata-rata, tidak akan mendapatkan kesempatan meraih citacita yang sama dengan orang-orang tanpa keterbatasan pendengaran. Film dokumenter ini adalah sebuah film yang bentuk dan premisenya adalah perwujudan bagi orang-orang dengan keterbatasan menentukan aplikasi audio dan visual. Hal ini dilakukan agar film dokumenter yang dihasilkan dapat dinikmati oleh penonton dengan keterbatasan pendengaran, maupun masyarakat tanpa keterbatasan Film dokumenter yang aksesibel bagi masyarakat dengan keterbatasan di Indonesia melalui ketersediaan open caption pendengaran perlu dijadikan sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pembuat film agar filmnya dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Selain jangkauan yang lebih luas, manfaat dari karya yang dibuat akan terasa oleh semakin banyak orang. Film ini dibuat agar masyarakat dapat memperoleh, ilmu, wawasan mengenai kaum difabel khususnya penyandang disabilitas pendengaran. serta mampu melihat melalui perspektif mereka hingga mampu lebih berempati kepada mereka tanpa merendahkan derajat mereka. Semoga karya film dokumenter ini menjadi sebuah karya yang menjadi sumber informasi bermanfaat bagi masyarakat. Dalam mewujudkan film dokumenter yang dapat dimengerti oleh apresiator dengar dan juga apresiator dengan disabilitas pendengaran diperlukan penyesuaian teknis agar apresiator dengar dan apresiator tunarungu/tuli bisa menikmati dan memahami film yang disajikan. Penggunaan subtitle bahasa indonesia dalam film dokumenter tidak sematamata menjadikan film dapat dimengerti oleh apresiator tuli, utamanya pada film dokumenter yang menggunakan narasi tanpa menampilkan visual orang yang sedang berbicara. Dan sebaliknya bagi apresiator dengar, subtitle terjemahan isyarat tokoh yang sedang berisyarat memiliki kelemahan ketika ditampilkan dalam durasi panjang tanpa adanya SIMPULAN Kehidupan masyarakat disabilitas di Indonesia memiliki budaya sendiri yang terlihat dari data fisik, data sosiologis, dan data psikologisnya yang kemudian dicocokkan dengan unsur-unsur kebudayaan. Sebagai sebuah kebudayaan yang berlangsung dalam realitas masyarakat apabila diangkat ke dalam sebuah film dokumenter akan menambah khazanah pengetahuan masyarakat, baik itu masyarakat tanpa keterbatasan pendengaran, maupun masyarakat dengan keterbatasan pendengaran. Gaya pemaparan ekspositoris dengan perbedaan-perbedaan antara realita hidup masyarakat dengan keterbatasan pendengaran dengan identitas tunarungu maupun tuli. Dengan cara ini pula dapat memperlihatkan realita kehidupan masyarakat dengan keterbatasan pendengaran kepada masyarakat awam yang melakukan stereotip terhadap masyarakat dengan keterbatasan Dalam mengemas sebuah film yang didalamnya mengekspos subjek yang menggunakan cara berkomunikasi yang berbeda diperlukan kejelian sutradara dalam pendukung audio lain seperti music scoring/ background music juga ambience lokasi Solusi yang bisa diambil adalah dengan melengkapi film dengan subtitle bahasa indonesia, yang juga mencantumkan sumber suara yang berbicara ketika visual yang ditampilkan tidak menampilkan visual yang menunjukkan siapa yang Sedangkan untuk terjemahan isyarat tokoh yang sedang berisyarat, solusi yang bisa dilakukan adalah dengan menyeleksi narasi yang paling penting untuk disampaikan dalam bentuk isyarat, kemudian melengkapi adegan tersebut dengan background music/scoring atau menggantinya dengan voice over terjemahan Kehidupan masyarakat disabilitas di Indonesia memiliki budaya sendiri yang terlihat dari data fisik, data sosiologis, dan data psikologisnya yang kemudian dicocokkan dengan unsur-unsur kebudayaan. Sebagai sebuah kebudayaan yang berlangsung dalam realitas masyarakat apabila diangkat ke dalam sebuah film dokumenter akan menambah khazanah pengetahuan masyarakat, baik itu masyarakat tanpa keterbatasan pendengaran, maupun masyarakat dengan keterbatasan pendengaran. Gaya pemaparan ekspositoris dengan perbedaan-perbedaan antara realita hidup masyarakat dengan keterbatasan pendengaran dengan identitas tunarungu maupun tuli. Dengan cara ini pula dapat memperlihatkan realita kehidupan masyarakat dengan keterbatasan pendengaran kepada masyarakat awam yang melakukan stereotip terhadap masyarakat dengan keterbatasan Dalam mengemas sebuah film yang didalamnya mengekspos subjek yang menggunakan cara berkomunikasi yang berbeda diperlukan kejelian sutradara dalam menentukan aplikasi audio dan Hal ini dilakukan agar film dokumenter yang dihasilkan dapat dinikmati oleh penonton dengan keterbatasan pendengaran, maupun masyarakat tanpa keterbatasan pendengaran. Film dokumenter yang aksesibel bagi masyarakat dengan keterbatasan di Indonesia melalui ketersediaan open caption pendengaran perlu dijadikan sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pembuat film agar filmnya dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Selain jangkauan yang lebih luas, manfaat dari karya yang dibuat akan terasa oleh semakin banyak orang. Daftar Pustaka