PALLANGGA JOURNAL OF AGRICULTURE SCIENCE AND RESEARCH Volume . No . Juli 2025 CFakultas Pertanian Universitas Bosowa Available online at https://journal. id/pallangga e-ISSN: 2987-5994C p-ISSN: 2987-4149CDOI: 10. 56326/pallangga. Kontribusi Pendapatan Usaha Tani Cabai Katokkon Terhadap Pendapatan Petani Di Desa Madandan. Kecamatan Rantetayo. Kabupaten Tana Toraja Contribution of Income from Katokkon Chili Farming Business to Farmers' Income in Madandan Village. Rantetayo District. Tana Toraja Regency Wahyudi Ramadhan*. Baharuddin. Suryawati Salam Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Bosowa *email: yudikajrs@gmail. Diterima: 10 Februari 2025 / Disetujui: 30 Juli 2025 Abstract: Due to determine how the contribution of katokkon chili farming income increases farmers' income in Madandan Village. Rantetayo District. Tana Toraja Regency. The sample taken was 8 The analysis used is quantitative descriptive analysis. The results of this study are the contribution of income from katokkan chili farming reached 67. 48% of the total farmer income, which shows that katokkan chili is the main commodity that supports the economy of farmers in Madandan Village. Rantetayo District. Tana Toraja Regency. Keywords: Katokkon Chile. Contribution. Income Abstrak: Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontribusi pendapatan usahatani cabai katokkon dalam meningkatkan pendapatan petani di Desa Madandan. Kecamatan Rantetayo. Kabupaten Tana Toraja. Sampel yang diambil sebanyak 8 orang petani. Metode Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Hasil dari penelitian ini adalah kontribusi pendapatan dari usahatani cabai katokkan mencapai 67,48% dari total pendapatan petani, yang menunjukkan bahwa cabai katokkan menjadi komoditas utama yang mendukung perekonomian petani di Desa Madandan. Kecamatan Rantetayo. Kabupaten Tana Toraja. Kata Kunci: Cabai Katokkon. Kontribusi. Pendapatan This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license PENDAHULUAN Cabai memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani dan perekonomian Sebagai salah satu komoditas hortikultura dengan permintaan tinggi, cabai memiliki nilai jual yang relatif stabil meskipun fluktuasi harga sering terjadi. Pendapatan dari usaha cabai tidak hanya berasal dari pasar domestik, tetapi juga dari ekspor ke berbagai negara, terutama di kawasan Asia. Di tingkat petani, budidaya cabai menjadi sumber penghasilan utama maupun tambahan bagi banyak rumah tangga di pedesaan. Pola tanam cabai yang fleksibel memungkinkan petani menanamnya secara monokultur maupun tumpangsari dengan tanaman lain, sehingga meningkatkan efisiensi lahan dan diversifikasi pendapatan. Selain itu, sektor hilir dari industri cabai, seperti produksi saus, bubuk cabai, dan olahan lainnya, juga membuka peluang kerja serta menambah nilai ekonomi bagi industri makanan dan minuman. Dengan demikian, usaha cabai tidak hanya berperan dalam ketahanan pangan, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan petani, dan pengembangan sektor agribisnis di Indonesia (Bachtiar et al. , 2. Oleh karena berbagai jenis cabai penting bagi tradisi kuliner pada banyak daerah di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, maka menanam cabai tidak hanya menguntungkan tetapi juga memiliki nilai budaya. Cabai Katokkon (Capsicum chinense Jacq. ) merupakan produk pertanian yang unik, berasal dari pegunungan Tana Toraja. Sulawesi Selatan. Indonesia (Sheyoputri, 2. Cabai ini menonjol dari jenis cabai lainnya karena rasa pedasnya yang ekstrem, rasa aromatik, dan ukuran buahnya yang lebih besar. Produksinya merupakan sumber pendapatan utama bagi petani di daerah seperti Desa Madandan. Kecamatan Rantetayo, dan terjalin erat dengan Kontribusi Pendapatan Usaha Tani Cabai Katokkon TerhadapA (Wahyudi Ramadhan. Baharuddin. Suryawati Sala. DOI: x x struktur sosial ekonomi desa-desa di sekitarnya. Pemeriksaan menyeluruh terhadap prospek pertanian cabai katokkon di daerah tertentu, seperti Desa Madandan, diperlukan karena kendala yang terkait dengan sifat endemiknya, teknik agronomi, dan kemampuan beradaptasi terhadap iklim, meskipun potensi pasarnya besar (Febrianty et al. , 2. Adaptasi budidaya cabai katokkon yang rendah di luar habitat dataran tinggi dan kerentanannya terhadap perubahan iklim membatasi potensinya. Petani Tana Toraja sering mengalami efisiensi teknis yang rendah sebagai akibat dari kepemilikan lahan yang tersebar dan ketergantungan pada metode adat. Lebih jauh, penyelidikan terhadap produksi tanaman pada berbagai ketinggian telah menunjukkan bahwa status endemiknya memerlukan upaya konservasi khusus untuk mempertahankan keragaman genetik. Intervensi yang terarah diperlukan untuk mengatasi masalah ini, termasuk pelatihan pertanian cerdas iklim dan inisiatif pendidikan benih berbasis masyarakat, untuk memberdayakan petani lokal (Karuru et al. , 2. Infrastruktur yang tidak memadai untuk pemasaran dan distribusi, kurangnya akses ke teknologi pertanian kontemporer, dan kurangnya keahlian teknis tentang teknik pertanian yang optimal merupakan beberapa tantangan yang menghambat pertumbuhan pertanian cabai di Desa Madandan (Yusuf et al. , 2. Selain itu, pertanian cabai berkelanjutan di wilayah tersebut sangat terhambat oleh masalah lingkungan seperti hama, penyakit, dan pola cuaca yang tidak dapat diprediksi (Sari et al. , 2. Mengingat kendala ini, sangat penting untuk menemukan metode yang akan memaksimalkan hasil dan keuntungan pertanian cabai katokkon sambil mempertahankan posisinya sebagai usaha pertanian utama di daerah Karakteristik agroklimat Desa Madandan, yang terletak di Kecamatan Rantetayo, sebanding dengan daerah penghasil katokkon lainnya di Tana Toraja, dengan ketinggian yang cocok untuk menanam cabai. Namun, produktivitas terhambat oleh akses yang tidak memadai terhadap metode pertanian kontemporer dan infrastruktur pasar. Upaya sebelumnya, termasuk lokakarya tentang pengelolaan benih yang disponsori oleh kelompok perempuan, menyoroti perlunya keterlibatan masyarakat dalam pertumbuhan agribisnis. Desa Madandan dapat menjadi pusat produksi katokkon yang berkelanjutan dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah tentang optimasi genetik, metode pertanian organik, dan model agribisnis. Hal ini akan sejalan dengan tujuan daerah untuk meningkatkan daya saing hortikultura (Lande et al. , 2. Cabai katokkon memiliki peran strategis dalam meningkatkan taraf hidup petani di Desa Madandan. Budidaya cabai dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan yang berkontribusi pada pengentasan kemiskinan di pedesaan serta penguatan ekonomi pertanian di Tana Toraja. Memahami berbagai faktor yang memengaruhi keberhasilan budidaya cabai, seperti kesehatan tanah, pengendalian hama, dan aksesibilitas pasar, sangat penting untuk memastikan pertumbuhan jangka panjang industri ini. Seiring dengan meningkatnya permintaan lokal dan regional, petani menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan produksi dan kualitas hasil panen mereka. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi mendesak untuk mengeksplorasi strategi yang dapat meningkatkan efisiensi budidaya cabai serta mengatasi kendala yang dihadapi petani. Pendapatan biasa disebut pula dengan penerimaan bersih suatu usaha (Nurlaela dan Ahfandi, 2. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pemangku kepentingan lokal termasuk petani, lembaga pemerintah, dan asosiasi pertanian dalam merumuskan kebijakan serta rencana pengembangan yang lebih Dengan dukungan yang tepat, potensi budidaya cabai di Desa Madandan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat perekonomian daerah (Karuru et al. ,2. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana kontribusi pendapatan usahatani cabai katokkon dalam meningkatkan pendapatan petani di Desa Madandan. Kecamatan Rantetayo. Kabupaten Tana Toraja. Pallangga: Journal of Agriculture Science Research C Volume 3 No. 2 (Juli, 2. C 177 Ae 182 METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Madandan. Kecamatan Rantetayo. Kabupaten Tana Toraja pada Januari Ae Maret 2025. Populasi dan sampel dalam penelitian ini merupakan pedagang pengecer yang berasal dari Maumere di kota Makassar yang berjumlah 10 orang. Sumber data yang digunakan yaitu data primer dan data sekunder. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani cabai katokkon di Desa Madandan, yang berjumlah 8 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sensus . ampel jenu. , yaitu mengambil seluruh populasi sebagai responden penelitian. Dengan metode ini, diharapkan penelitian dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi usahatani cabai Katokkon di lokasi Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah tahapan tabulasi dimana tahapan ini kuesioner yang telah terisi dengan jawaban responden diklasifikasi dan direcode. Kemudian dimasukkan dalam tabel. Tabulasi data berguna untuk melakukan analisis diskriptif kualitatif dan kuantitatif. Selanjutnya, data tersebut akan diolah dan dianalilis pendapatan dan analisis sebagai berikut: Analisis Biaya Analisis biaya produksi dirumuskan sebagai berikut: TC= TFC TVC Keterangan: TC = Total Biaya (Rp/Ha/M. TFC = Total Biaya Tetap (Rp/Ha/M. TVC = Total Biaya Variabel (Rp/Ha/M. Analisis Penerimaan TR= P X Q Keterangan: = Total Penerimaan (Rp /Ha/M. P = Harga Jual Produk (Rp/K. = Jumlah produksi nilam (Kg//Ha/M. Analisis Pendapatan A = TR Ae TC Keterangan: = Pendapatan (Rp/Ha/M. ) TR = Total penerimaan (Rp//Ha/M. TC = Total biaya (Rp/Ha/M. Analisis Kontribusi Kontribusi (%) = Pendapatan Cabai Katokkan y 100% ycEyceycuyccycaycyycaycycaycu ycEyceycycaycuycn HASIL DAN PEMBAHASAN Tujuan utama petani mengelola usahatani cabai katokkon adalah untuk menghasilkan jumlah pendapatan yang paling besar. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan analisis pendapatan, yang dibuat dengan mengurangi total biaya yang dikeluarkan petani dari total penerimaan seperti disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Pendapatan Usahatani Cabai Katokkon Permusim Tanam (Rp/ha/m. Uraian Penerimaan produksi (KG) Harga (Rp/K. Penerimaan (R. Total Biaya Biaya Variabel (R. Biaya Tetap (R. Total Biaya(R. Nilai Rata-rata 133,33 000,00 900,00 833,32 115,741 949,06 Kontribusi Pendapatan Usaha Tani Cabai Katokkon TerhadapA (Wahyudi Ramadhan. Baharuddin. Suryawati Sala. DOI: x x Uraian Keuntungan . Nilai Rata-rata 950,94 Sumber: Analisa Data, 2024 Berdasarkan Tabel 1, dapat dijelaskan bahwa penerimaan total dari usaha yang dianalisis mencapai Rp 192. 927,94 dengan jumlah produksi sebesar 8. 133 kg dan harga jual rata-rata Rp 30. 000,00/kg. Total biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan ini terdiri dari biaya variabel sebesar Rp 45. 333,32 dan biaya tetap sebesar Rp 5. 115,741, sehingga total biaya produksi mencapai Rp 51. 949,06. Dari perhitungan penerimaan dikurangi total biaya, diperoleh keuntungan sebesar Rp 192. 950,94. Hal ini menunjukkan bahwa usaha ini cukup menguntungkan karena selisih antara penerimaan dan biaya yang dikeluarkan sangat besar. Tabel 21. Pendapatan Petani Diluar Usaha Cabai Kattokan No. Jenis Penerimaan Non Usahatani Berdagang Berdagang Berdagang Buruh Bangunan Buruh Bangunan Membuka Warung Tanam padi Tanam Jagung Penerimaan (R. Sumber: Analisa Data, 2024 Berdasarkan Tabel 2, dapat dijelaskan bahwa total penerimaan dari kegiatan nonusahatani berasal dari berbagai sumber pendapatan yang beragam. Penerimaan terbesar berasal dari usaha membuka warung dan berdagang dengan jumlah tertinggi masing-masing Rp 10. 000, yang menunjukkan bahwa sektor perdagangan menjadi salah satu sumber utama dalam memperoleh penghasilan di luar sektor pertanian. Selain itu, aktivitas sebagai buruh bangunan juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan, dengan dua kategori penerimaan sebesar Rp 7. 000 dan Rp 8. 000, yang mencerminkan bahwa pekerjaan ini masih menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mencari pendapatan tambahan. Sementara itu, terdapat penerimaan dari usaha tanam jagung sebesar Rp 7. yang meskipun lebih kecil dibandingkan sumber pendapatan lainnya, tetap memberikan kontribusi terhadap perekonomian. Namun, dalam Tabel 2 juga dicantumkan penerimaan dari usaha tanam padi sebesar Rp 35. 000, yang sebenarnya lebih tepat dikategorikan sebagai usahatani daripada non-usahatani. Jika melihat keseluruhan data, terlihat bahwa masyarakat menerapkan strategi diversifikasi pendapatan dengan mengandalkan berbagai sektor, baik di bidang perdagangan, jasa, maupun usaha kecil, guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi Tabel 3. Total pendapatan petani cabai katokkon Pendapatan Petani Cabai Katokkon Pendapatan Cabai Katokkon Pendapatan Non Cabai Katokkon Total Pendapatan (R. Jumlah (R. 950,94 950,94 Sumber: Analisa Data, 2024 Diketahui pendapatan cabai katokan Rp 192. 950,94 dan rata rata pendaatan petani adalah Rp 285. 950,94. sehingga konstribusinya adalah 67,49%. Berdasarkan hasil penelitian, usahatani cabai katokkan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap pendapatan petani di Desa Madandan. Pendapatan dari usahatani cabai katokkan mencapai Rp 192. 950,94, sementara total pendapatan petani secara keseluruhan sebesar Rp 950,94. Dengan demikian, kontribusi cabai katokkan terhadap total pendapatan petani mencapai 67,49%. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas cabai katokkan menjadi sumber pendapatan utama bagi petani di wilayah ini. Pallangga: Journal of Agriculture Science Research C Volume 3 No. 2 (Juli, 2. C 177 Ae 182 Penerimaan dari usahatani cabai katokkan diperoleh dari hasil produksi sebesar 133,33 kg dengan harga rata-rata Rp 30. 000,00/kg, sehingga total penerimaan mencapai Rp 243. 900,00. Sementara itu, biaya produksi yang dikeluarkan terdiri dari biaya variabel sebesar Rp 45. 833,32 dan biaya tetap sebesar Rp 5. 225,94, sehingga total biaya yang dikeluarkan adalah Rp 51. 949,06. Dari hasil perhitungan, keuntungan bersih yang diperoleh petani cabai katokkan mencapai Rp 192. 950,94. Keuntungan ini menunjukkan bahwa usaha cabai katokkan memiliki prospek ekonomi yang sangat baik dan dapat menjadi pilihan utama dalam meningkatkan kesejahteraan petani Selain dari usahatani cabai katokkan, petani di Desa Madandan juga memiliki sumber pendapatan lain yang berasal dari sektor non-usahatani. Beberapa di antaranya adalah berdagang, buruh bangunan, membuka warung, serta bertani padi dan jagung. Dari berbagai sumber pendapatan non-usahatani ini, pendapatan terbesar berasal dari usaha pertanian padi, yaitu sebesar Rp 35. 000,00. Sementara itu, usaha berdagang dan buruh bangunan memberikan pendapatan tambahan yang cukup signifikan bagi petani. Meskipun demikian, jumlah total pendapatan dari sektor non-usahatani hanya mencapai Rp 93. 000 yang berarti masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan pendapatan dari cabai katokkan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rahmad . , yang menyatakan bahwa usahatani hortikultura, khususnya cabai, memiliki tingkat keuntungan yang tinggi dan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani di daerah Selain itu, studi yang dilakukan oleh Yulianti et al. juga menunjukkan bahwa cabai merupakan salah satu komoditas unggulan yang dapat meningkatkan taraf hidup petani jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Dari temuan ini, dapat disimpulkan bahwa usahatani cabai katokkan memainkan peran utama dalam struktur ekonomi petani di Desa Madandan. Keberlanjutan usaha ini sangat penting untuk mendukung kesejahteraan petani. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha cabai katokkan, seperti penerapan teknologi pertanian yang lebih modern, pengelolaan biaya produksi yang lebih efektif, serta penguatan akses pasar agar harga jual tetap stabil dan menguntungkan bagi Dengan demikian, usaha cabai katokkan dapat terus menjadi pilar utama dalam peningkatan pendapatan petani di wilayah tersebut. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendapatan usahatani cabai katokkon Di Desa Madandan. Kecamatan Rantetayo. Kabupaten Tana Toraja diperoleh dari selisih antara penerimaan sejumlah Rp 243. 900/ha/mt dengan biaya total yang dikeluarkan sejumlah Rp 51. 949,06 /ha/mt, sehingga dari hasil tersebut memperoleh keuntungan sebesar Rp 192. 950,94 /ha/mt. Kontribusi pendapatan dari usahatani cabai katokkan mencapai 67,48% dari total pendapatan petani, yang menunjukkan bahwa cabai katokkan menjadi komoditas utama yang mendukung perekonomian petani di daerah ini. Selain itu, petani juga memperoleh penghasilan dari sektor non-usahatani, seperti berdagang, buruh bangunan, membuka warung, serta bertani padi dan jagung. Namun, pendapatan dari sektor ini masih relatif kecil dibandingkan dengan hasil dari cabai katokkan. DAFTAR PUSTAKA