PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 8 No. Oktober 2025 e-ISSN : 2622-6383 Pengaruh Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Return on Asset dan Ukuran Perusahaan Terhadap Financial Distress Pada Perusahaan Sub-Sektor Konstruksi Jessica Maharani1. Rosmini Ramli2 jessicamaharani_21p314@mn. rosminiramli@mn. Program Studi Manajemen. Universitas Jenderal Achmad Yani1,2 Abstrak Tujuannya menganalisis pengaruh Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Return on Asset, serta Ukuran Perusahaan terhadap Financial Distress pada perusahaan konstruksi tercatat di Bursa Efek Indonesia sepanjang periode 2019 hingga 2023. Populasi penelitian mencakup seluruh perusahaan sub-sektor konstruksi terdaftar dalam periode tersebut, dengan pemilihan sampel sebanyak 11 perusahaan berdasarkan kriteria tertentu. Pendekatan kuantitatif dipergunakan dengan metode Regresi Logistik. Data dianalisis diperoleh Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan diterbitkan dalam rentang waktu lima tahun, dan pengolahan data dilaksanakan memanfaatkan perangkat lunak SPSS Hasil analisis melihatkan variabel Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Ukuran Perusahaan tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap financial distress, sementara Return on Asset terbukti berpengaruh. Implikasi dari hasil ini mengarah pada perlunya perusahaan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan aset untuk mendongkrak profitabilitas guna mencegah kondisi financial distress. Di sisi lain. Return on Asset direkomendasikan sebagai indikator utama untuk investor maupun analis keuangan mengevaluasi potensi risiko finansial perusahaan sub-sektor konstruksi. Kata kunci: Current Ratio. Debt to Equity Ratio. Return on Asset. Ukuran Perusahaan. Financial Distress This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pendahuluan Secara umum, perusahaan memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan (Zhafirah & Majidah, 2. , namun tidak selamanya suatu perusahaan selalu berjalan sesuai keinginan, ada hambatan-hambatan yang akan dilalui suatu perusahaan. Satu di antara sektor penting di sebuah negara ialah sektor infrastruktur, sektor ini berpotensi besar guna memacu kemajuan ekonomi nasional. Maka demikian, diperlukan perencanaan serta pelaksanaan yang tepat agar meminimalkan potensi masalah yang kemungkinan terjadi (Hendrayanti et al. , 2. Pada tahun 2022, sektor infrastruktur di Indonesia mengalami penurunan kinerja, menurut Indonesia Stock Exchange (IDX) terlihat bahwa indeks sektor infrastruktur (IDXINFRA) mencatat penurunan sebesar -9,45%. Sub-sektor konstruksi berperan penting agar tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan dan menciptakan efek positif yang terus berlanjut bagi masyarakat dan perekonomian secara keseluruhan. Salah satu proyek yang sedang digarap oleh sub-sektor konstruksi adalah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pembangunan jalan tol dibeberapa titik di Indonesia. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 131 Kesehatan dari sebuah perusahaan tercermin apabila bisa bertahan menghadapi ekonomi yang tidak stabil juga memenuhi kewajiban keuangannya serta melaksanakan operasi secara stabil (Cynthia, 2. Apabila perusahaan tidak dapat bersaing dan gagal memenuhi tanggung jawabnya, kerugian yang terus menerus bisa berpotensi membawa pada krisis finansial yang serius (Khasanah & Ramli, 2. Dari pendapat Platt & Platt . financial distress yakni langkah turunnya finansial sebelum perusahaan menghadapi likuidasi atau kebangkrutan. Dari pendapat Hani . ada beberapa tanda peringatan diantaranya ialah. terjadinya penurunan aset, penurunan penjualan, penurunan laba serta profitabilitas, penurunan modal kerja, juga tingkat hutang yang makin tinggi. Serta dapat menggunakan nilai earning per share (EPS) negatif (Platt & Platt. Untuk mencegah suatu perusahaan mengalami kebangkrutan, manajer berperan penting dalam memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi perusahaan dan kemungkinan terjadinya kebangkrutan, serta memitigasi risiko-risiko tersebut (Agule, 2. Melalui analisis laporan keuangan perusahaan bisa memantau keadaan keuangan perusahaannya serta mencegah potensi masalah keuangan lebih dini. Menurut Kasmir . rasio keuangan yang bisa diterapkan guna menganalisis financial distress ialah rasio likuiditas, rasio leverage serta rasio profitabilitas. Selain menggunakan rasio tersebut, ukuran perusahaan juga bisa diterapkan sebagai alat prediksi financial distress (Malasari & Isbanah, 2. Likuiditas memperlihatkan seberapa baik perusahaan dalam membayarkan utanga jangka pendeknya (Wijaya & Suhendah, 2. Rasio ini menilai kapasitas perusahaan guna memenuhi kewajiban finansial jangka pendek yang harus cepat terselesaikan ketika tagihan (Kasmir, 2018:. Rasio likuiditas memperlihatkan kemampuan perusahaan yang lebih baik untuk membayar utang jangka pendeknya. Studi ini menerapkan current ratio sebagai pengukurnya. Rasio leverage melihatkan perbandingan modal dimiliki pemilik dengan dana diperoleh melalui pinjaman. Debt to equity ratio diterapkan sebagai indikator leverge pada penelitian ini. Analis serta investor kerap menerapkan rasio ini guna membandingkan utang perusahaan dan modal yang dipunyai (Ginting, 2. Nilai dari debt to equity ratio yang tinggi memperlihatkan besaran utan dari perusahaannya, apabila tak dikelola secara baik bisa mengganggu operasional serta memicu kesulitan keuangan (Widyawati, 2. Rasio profitabilitas mengukur efektivitas untuk menciptakan profit (Sutrisno, 2017:. Tingkat profitabilitas menggambarkannya efisiensi perusahaan, seperti yang terlihat dari kemampuan perusahaan untuk memdapatkan laba. Rasio profitabilitas di penelitian ini diukurnya melalui return on asset yakni membandingkan earning after tax (EAT) dengan keseluruhan asset (Kasmir, 2. Semakin tingginya laba yang didapat menandakan keberhasilan perusahaan dalam melangsungkan aktivitas operasional perusahaannya (Widyawati, 2. Ukuran perusahaan mencakup nilai total aset dipunya. Perusahaan mempunyai aset besar dapat melihatkan kemampuan diversifikasi dan memenuhi kewajiban di waktu mendatang (Malasari & Isbanah, 2. Perusahaan yang asetnya besar memilikj kemampuan lebih bagus guna Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 132 menghindari financial distress, karena lebih mudah memenuhi kewajibannya (Widyawati, 2. Menganalisis laporan keuangan membantu dalam mengidentifikasi tanda-tanda awal financial distress. Dari pendapat Elloumi dan Gueyie . financial distress adalah perusahaan mengalami kerugian per saham negatif (Earning Per Share / EPS). Dari pendapat Kristanti . EPS negatif menandakan bahwasanya perusahaann mengalami kesulitan laba, sebagai tanda potensi financial distress. Berikut ini merupakan beberapa sub dari sektor Gambar 1 Jumlah Perusahaan Yang Mengalami Earning Per Share (EPS) Negatif Pada Sub Sektor Yang Terdapat Pada Sektor Infrastruktur 2019-2023 Sumber: Bursa Efek Indonesia Di gambar 1 terlihat bahwasanya sub-sektor konstruksi memiliki jumlah perusahaan dengan EPS negatif paling banyak jika dibandingkan dengan subsektor lainnya. Dilihat dari 5 tahun terakhir, jumlah perusahaan dengan nilai EPS negatif paling banyak puncaknya di tahun 2022 sejumlah 9 perusahaan. Subsektor konstruksi terjadi stagnasi pertumbuhan beberapa tahun belakangan akibat dari kombinasi tekanan politik, dinamika politik, serta tekanan persaingan globa yang semakin ketat (Munandar et al. , 2. Perusahaan konstruksi merasakan tekanan yang diakibatkan proyek yang terlambat serta kenaikan hutang yang signifikan, berdampak terhadap penurunan hasil penjualan di beberapa tahun belakangan. Hal ini mengindikasikan bahwa sub sektor konstruksi memiliki peluang besar untuk mengalami kondisi financial distress. Nilai EPS negatif masing-masing perusahaan bisa terlihat dari tabel dibawah ini: Tabel 1 Perusahaan Sub Sektor Konstruksi Yang Memiliki EPS Negatif Periode Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah kembali 2024 Dari table rata-rata sub-sektor konstruksi masih mengalami EPS negatif yang signifikan selama 5 tahun berturut-turut. Dilihat dari rata-ratanya, tahun Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 133 2020 menunjukan angka yang paling tinggi sebesar Rp,-120 dibandingkan yang Hal itu dikarenakan adanya pandemi Covid 19, lalu pada tahun 2021 sedikit bangkit namun masih dalam kondisi yang negatif hingga tahun 2023 sebesar Rp,-16. Salah satu perusahaan yang mengalami EPS negatif yang signifikan adalah PT Acset Indonusa Tbk hal tersebut karena kenaikan pada beban pokok dan operasionalnya sehingga menyebabkan kerugian yang tinggi. Lalu PT Waskita Karya, yang mengalami kerugian disebabkan oleh tingginya hutang, beban umum dan administrasi. Di bawah ini adalah rata-rata current ratio, debt to equity ratio. EPS sektor konstruksi: Gambar 2 Rata-rata Current Ratio. Debt to Equity Ratio, dan Earning Per Share Pada Sub-sektor Konstruksi Pada Periode 2019-2023 Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah kembali 2024 Dari gambar 2 terlihat bahwasanya current ratio mengalami penurunan dari tahun 2019-2022 yaitu sebesar 191,49% - 135,21% dan sedikit naik pada 2023 sebesar 136,73%. Namun EPS negatif mengalami peurunan dari tahun 2020-2023 sebesar Rp -120 hingga Rp -16. Hal ini tak sesuai dari signalling oleh Spence . yang menyatakan bahwa semakin tingginya rasio lancar perusahaan, semakin kecil EPS negatif yang dialami. Dari gambar 2 memperlihatkan bahwasanya debt to equity ratio terjadi kenaikan pada 2021-2023 sejumlah 1,66x Ae 2,56x. Namun EPS yang negatif mengalami penurunan pada 2020-2023 sebesar Rp -120 hingga Rp -16. Hal ini tidak sejalan dengan teori signalling oleh Spence . yang mengatakan semakin tingginya nilai debt to equity ratio semakin perusahaan akan terjadi EPS yang negatif, karena menggunakan utang untuk pertumbuhan bisnisnya. Berikut merupakan rata-rata return on asset, ukuran perusahaan dan EPS pada subsektor konstruksi: Gambar 3 Rata-rata Return on Asset . Ukuran Perusahaan dan Earning Per Share Pada Sub-sektor Konstruksi Pada Periode 2019-2023 Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah kembali 2024 Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 134 Dari gambar 3 terlihat bahwasanya return on asset mengalami penurunan pada 2020 sebesar -81,83% dan pada tahun 2022 sebesar -47,04%, namun EPS yang negatif mengalami penurunan pada 2021-2023 sebesar Rp 120 hingga Rp -16. Hal tidak selaras pada teori signalling Spence . menyebutkan semakin tingginya nilai return on asset, maka perusahaan yang mengalami EPS negatif bisa menurun atau terhindar dari financial distress. Berdasarkan gambar 3 terlihat ukuran perusahaan mengalami penurunan dari 2019-2022 sebesar Rp348. 193-Rp280. 139 dan kenaikan pada tahun 2023 mencapai Rp9. 412, namun EPS yang negatif mengalami penurunan pada 2020-2023 sebesar Rp -120 hingga Rp -16 . Hal tidak selaras pada teori signalling Spence . menyebutkan semakin tinggi nilai ukuran perusahaan, maka EPS yang negatif semakin menurun serta terhindar dari risiko adanya financial distress. Beberapa penelitian sebelumya menemukan bahwasanya current ratio berdampak positif pada financial distress seperti yang dilaksanakan oleh Wijaya & Suhendah . dan Ginting . , tetapi hal ini berlawanan dari kajian yang dilaksanakan oleh Purwaningsih & Safitri . serta Stepani & Nugroho . yang mendapati bahwasanya current ratio berdampak negatif pada financial Kemudian kajian yang dilaksanakan oleh Pratiwi & Sudiyatno . membuktikan bahwasanya current ratio tidak mempengaruhi financial distress. Beberapa kajian sebelumnya menemukan bahwasanya debt to equity ratio berdampak pada financial distress yang dilaksanakan Gusti . dan Fitria & Syahrenny . , tetapi berlawanan dari kajian yang dilaksanakan oleh Asmarani & Lestari . mendapati hasil bahwasanya debt to equity ratio tak berdampak ke financial distress. Beberapa kajian sebelumnya menemukan bahwasanya return on asset berdampak ke financial distress yang dilaksanakan Hertina et al . serta Stepani & Nugroho . , tetapi penelitian yang dilaksanakan Pratiwi & Sudiyatno . serta Asmarani & Lestari . memperlihatkan hasil bahwasanya return on asset tidak berpengaruh signifikan pada financial distress. Kajian yang dilaksanakan oleh Tan Kristiyanto Pratama . memperlihatkan hasil bahwasanya ukuran perusahaan berdampak signifikan pada financial distress. Tetapi tak sejalan dari kajian yang dilaksanakan oleh Fitria & Syahrenny . dan Stepani & Nugroho . menunjukkan hasil dimana ukuran perusahaan tidak berpengaruh dalam financial distress. Dari berbagai hasil kajian tersebut memperlihatkan bahwasanya faktor yang mempengaruhi financial distress masih belum konsisten maka masih harus dikaji ulang dalam penelitian ini. Situasi financial distress di perusahaan konstruksi tetap menunjukkan EPS negatif selama lima tahun terakhir. Studi ini menawarkan kebaruan pada penelitian yang ditujukan secara khusus kepada perusahaan di sektor konstruksi terdata Bursa Efek Indonesia dalam lima tahun terakhir, yakni 2019 hingga 2023, yang mana secara konsisten menunjukkan kondisi EPS negatif. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang cenderung menggabungkan berbagai sektor atau menggunakan data lintas industri dalam satu analisis, penelitian ini memusatkan perhatian secara spesifik Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 135 pada dinamika dan tekanan keuangan sektor konstruksi yang sangat dipengaruhi oleh proyek pemerintah skala besar dan ketidakpastian ekonomi. Penelitian ini juga merancang suatu model prediktif dengan pendekatan regresi logistik, yang didasarkan pada empat variabel utama current ratio, debt to equity ratio, return on asset, ukuran perusahaan dalam rangka memperkirakan kemungkinan terjadinya financial distress. Hal ini memberikan kontribusi empiris yang lebih kontekstual dan relevan dalam menilai kerentanan finansial subsektor konstruksi Indonesia secara aktual dan terkini, yang belum banyak dieksplorasi secara mendalam dalam studi-studi sebelumnya. Metode Penelitian Dipergunakan pendekatan kuantitatif dengan fokus pengaruh empat variabel independen, antara lain current ratio, debt to equity ratio, return on asset, ukuran perusahaan terhadap variabel dependen berupa financial Jenis data dianalisis yakni data sekunder dikumpulkan lewat sejumlah sumber, termasuk Bursa Efek Indonesia dan laporan keuangan dijangkau lewat laman resmi perusahaan untuk periode tahun 2019 sampai dengan 2023. Studi kepustakaan serta dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data di kajian ini. Studi kepustakaan yakni peneliti menerapkan bermacam literatur misalnya buku-buku, jurnal, karya tulis yang berkaitan pada penelitian ini. Dokumentasi studi ini menggunakan laporan finansial dari perusahaan. Seluruh perusahaan sub-sektor konstruksi terdata di Bursa Efek Indonesia dengan rentang waktu 2019 sampai 2023, dengan total sebanyak 29 perusahaan, dijadikan sebagai populasi penelitian. Pemilihan sampel dilaksanakan metode purposive sampling mengacu pada kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Kriteria yang diterapkan di antaranya: Perusahaan sub-sektor konstruksi yang menerbitkan laporan tahunan dengan berturut-turut dari tahun 2019-2023. Perusahaan sub-sektor konstruksi yang pernah terjadi Earning Per Share negatif dalam periode 2019-2023. Dari kriteria di atas, maka ditemukan sebanyak 11 perusahaan sub-sektor konstruksi terdata Bursa Efek Indonesia periode 2020-2024 sampel pengamatan sebanyak 55 sampel. Peneliti menerapkan teknik analisis regresi logistik untuk pengolahan data melalui menerapkan aplikasi statistik SPSS 23. Dengan model persamaan regresi logistik yaitu: yaya = CA CACR CCDER CEROA CELn(Total Asse. e 1Oeyaya Keterangan : = Financial Distress 1Oeyaya = Konstanta CsCAAuCECa= Koefisien regresi tiap variabel independen = Error Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 136 Uji Keseluruhan Model (Overall Model Fi. Keseluruhan kecocokan model (Overall Model Fi. dinilai melalui selisih antara nilai awal -2LogL . nitial -2LogL functio. dan nilai -2LogL pada tahap metode berikutnya. Pengurangan nilai log likelihood ini mengidentifikasi model diajukan semakin sesuai pada data, serta menunjukkan adanya perbaikan pada performa regresi yang dibangun (Ghozali, 2. Uji Kelayakan Model (Hosmer n Lemesho. Metode Hosmer dan Lameshow dipergunakan menguji hipotesis nol mengenai kecocokan data model . ak terdapat perbedaan model dan data yang membuat modelnya bisa disebut fi. A Nilai statistik Hosmer and LemeshowAos Goodness of Fit Test berada di bawah 05 menandakan penolakan terhadap hipotesis nol, bermakna terdapat perbedaan signifikan antara prediksi model dan hasil observasi. Kondisi ini melihatkan model tidak selaras pada data serta tidak dipergunakan memperkirakan nilai observasi dengan andal. A Apabila nilai statistik tersebut melebihi 0. 05, hipotesis nol tidak mampu Dengan demikian, model dianggap layak karena mencerminkan data observasi dan dapat diterima sebagai model yang sesuai. Uji t (Parsia. Uji Wald . menggunakan tingkat signifikasi 5% sebagai patokan pengambilan keputusannya, uji ini mengukur signifikasi dampak setiap variabel independen pada variabel dependen (Ghozali, 2018:. H0 diterima apabila p-value > 0. 05, yang memperlihatkan bahwasanya suatu variabel independen tak memengaruhi variabel dependen. Saat p-value < 0. 05, satu di antara faktor independen berpengaruh atas variabel dependen. H0 ditolak. Uji f (Simulta. Uji statistik secara simultan yang disebut dengan Omnibus of model coefficients . ji F) diterapkan pada penelitian ini guna mengetahui apakah variabel independen mempengaruhi variabel dependen dengan bersamaan, (Ghozali, 2. Signifikasi 5% sebagai dasar kriteria pengambilan sampel. Variabel dependen mendapat pengaruh dari faktor independent dengan bersamaan apabila p-value < 0. Maka mengindikasikan bahwasanya H0 ditolak serta H1 diterima ketika p-value < 0. Koefisien Determinasi Koefisien NagelkerkeAos R square, yang yakni pengembangan Cox dan Snell, telah disesuaikan agar nilai berada dalam rentang nol sampai satu. Interpretasinya menyerupai koefisien determinasi RA dalam regresi linear Ketika nilai NagelkerkeAos RA rendah, hal ini menandakan kompetensi variabel independen menjabarkan perombakan variabel dependen masih Kebalikannya, nilai yang menghampiri satu menandakan variabel independen secara substansial dapat menjabarkan variabilitas dari variabel Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 137 Hasil dan Pembahasan Pengujian Statistik Deskriptif Tabel 2 Statistik Deskriptif Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS 23. Sebanyak 55 data sampel dari 11 perusahaan sub-sektor konstruksi terdata Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2019 hingga 2023 dianalisis, sebagaimana ditampilkan dalam tabel. Tabel 1 memuat ringkasan statistik dari seluruh variabel serta hasil analisis deskriptif terhadap variabel bebas maupun terikat yang dipergunakan. Pengujian Regresi Logistik Tabel 3 Regresi Logistik Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS 23 Tabel 3 diterapkan guna membentuk persamaan regresi logistik dengan yaya = 0. 565 Ae 0. 002CR Ae 0. 017DER Ae 0. 030ROA 0. 030UP e 1Oeyaya Dari persamaan regresi logistik tersebut bisa diuraikan, ketika current ratio (CR) naik 1%, asumsi nilai variabel lainnya tetap . , demikian bisa menurunkan Financial Distress (EPS) sejumlah 0. Selanjutnya, apabila debt to equity ratio (DER) naik 1%, dengan asumsi nilai variabel lainnya tetap . , demikian bisa menurunkan nilai Financial Distress (EPS) sejumlah 0. Berikutnya, jika return on asset (ROA) naik 1%, dengan asumsi nilai variabel lainnya tetap . , demikian bisa mengecilkan nilai Financial Distress (EPS) Selanjutnya, jika ukuran perusahaan (UP) naik 1%, dengan asumsi nilai variabel lainnya tetap . , demikian bisa menaikkan nilai Financial Distress (EPS) sejumlah 0. Uji Keseluruhan Model (Overall Model Fi. Tabel 4 Overall Model Fit Hasil Block Number = 0 Block Number: 1 Nilai -2Log Likelihood Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS 23. Nila blok pertama (Block Number = . 74,032 serta blok kedua (Block Number = . 66,931, sebagaimana tercantum dalam Tabel 4. Model awal yang Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 138 hanya mencakup konstanta tanpa variabel bebas menunjukkan nilai 74,032. Perbedaan nilai Ae2 log likelihood antara kedua blok tersebut sebesar 8,095, yang mencerminkan adanya peningkatan kecocokan model secara keseluruhan. Dengan demikian, penurunan tersebut menegaskan bahwa model regresi logistik yang dipergunakan adanya kualitas baik. Uji Kelayakan Model (Hosmer n Lemesho. Tabel 5 Hosmer and Lemeshow Test Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS 23. Analisis regresi yang ditampilkan dalam Tabel 5 menunjukkan bahwa uji Hosmer and Lemeshow menghasilkan nilai Chi-square 6. 355 signifikansi 0. Karena nilai probabilitas melebihi 0. 05, yaitu 0. 499, maka hipotesis nol tidak Hal menandakan tidak adanya perbedaan signifikan model dan data observasi, maka model regresi dinilai layak karena dapat memperkirakan nilai observasi secara tepat. Uji f (Parsia. Tabel 6 Uji Wald (Uji . Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS 23. Dengan tabel 6 bisa didapatkan hasil pengujian hipotesis melalui analisis regresi logistik, bahwasanya variabel current ratio tak berdampak secara signifikan pada financial distress bernilai probabilitas lebih besar dari tingkat signifikan . 535 > 0. , sehingga kesimpulannya H1 menyebutkan current ratio berdampak pada financial distress ditolak. Variabel debt to equity ratio tak berdampak secara signifikan pada financial distress bernilai probabilitas besar dari tingkat signifikannya . , maka bisa simpulkan pokok H2 yang menyebutkan debt to equity ratio berdampak pada financial distress ditolak. Nilai probabilitas 0. 048 yang diperoleh untuk variabel return on asset menunjukkan bahwa pengaruhnya terhadap financial distress bersifat signifikan karena berada di bawah ambang signifikansi 0. Berlandaskan analisis tersebut, hipotesis H3 menyatakan return on asset memengaruhi financial distress dinyatakan diterima. Dengan nilai probabilitas 0. 755 yang tinggi dibanding batas signifikansi 05, variabel ukuran perusahaan terbukti tidak memberikan pengaruh signifikan atas financial distress. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis H4 menyatakan bahwa ukuran perusahaan memengaruhi financial distress ditolak. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 139 Koefisien Determinasi Tabel 7 Koefisien Determinasi Sumber: Hasil pengolahan data dengan SPSS. Tabel 7 menyajikan regresi bernilai Negelkerke R Square 0,185 sebagai ukuran koefisien determinasi. Demikian menunjukkan kemampuan variabel independen ialah current ratio, debt to equity ratio, return on asset serta ukuran perusahaan untuk menguraikan variabel dependen yakni financial distress hanyalah sejumlah 18,5%. Sementara selebihnya diuraikan dari variabel-variabel lainnya diluar model penelitian ini ialah senilai 81,5%. Pembahasan Pengaruh Current Ratio terhadap Financial Distress Penelitian ini menemukan current ratio tidak ada pengaruh yang signifikan atas kemungkinan berlangsungnya financial distress perusahaan subsektor konstruksi terdata Bursa Efek Indonesia (BEI) selama tahun 2019 hingga Temuan tersebut melihatkan tidak adanya perbedaan mencolok dalam current ratio antara perusahaan yang berada dalam keadaan financial distress serta tidak. Oleh karena itu, current ratio tinggi tidak secara otomatis melihatkan perusahaan berada dikondisi keuangan yang aman, begitu pula sebaliknya, current ratio rendah tidak selalu menandakan perusahaan sedang menghadapi financial distress. Temuan ini sesuai dari penelitian Pratiwi dan Sudiyatno . & Kusuma Ari . yang menyebutkan bahwasanya current ratio tidak berpengaruh terhadap financial distress. Pengaruh Debt To Equity Ratio terhadap Financial Distress Analisis menunjukkan bahwa debt to equity ratio tidak berpengaruh secara signifikan terhadap financial distress pada perusahaan konstruksi di BEI tahun 2019Ae2023. Tak adanya pengaruh disebabkan proporsi ekuitas yang lebih tinggi daripada utangnya, maka perusahaan mempunyai kemampuan untuk melunasi semua kewajibannya menggunakan aset yang dimiliki. Dengan demikian, perusahaan tak akan mengalami kesulitan serta terhindar dari risiko financial distress. Artinya debt to equity ratio rendah dimana lebih besar ekuitas dibanding utangnya, maka semakin rendah potensi terkena financial distress. Temuan ini selaras dari penelitian Asmarani dan Lestari . & Stepani dan Nugroho . yang menyebutkan bahwasanya debt to equity ratio tidak berdampak pada financial distress. Pengaruh Return On Asset terhadap Financial Distress Analisis memperlihatkan bahwa ROA memiliki korelasi negatif yang signifikan atas kemungkinan terjadinya financial distress perusahaan konstruksi terdata BEI dalam rentang waktu 2019 hingga 2023. Artinya, lebih tinggi return on asset lebih rendah risiko financial distress. Karena dengan ROA yang tinggi, menggambarkan suatu perusahaan dapat mengelola dan memanfaatkan asetnya dengan efektif serta efisien sehingga bisa mendapatkan laba yang Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 140 besar. Temuan ini sejalan dari teori sinyal bahwasanga perusahaan akan memberikan sinyal baik untuk para kreditur serta calon investor. Penelitian ini selaras dari temuan Stepani dan Nugroho . Runis et al . , & Oktaviani dan Barra . yang menghasilkan return on asset berpengaruh negatif atas financial distress. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Financial Distress Dengan temuan riset menyebutkan ukuran perusahaan tidak berdampak pada financial distress di perusahaan sub-sektor konstruksi terdata BEI periode Tak adanya dampak terhadap penelitian ini diakibatkan ukuran perusahaan yang besar ataupun kecil, tak dapat menjadi jaminan apakah perusahaan nantinya merasakan kesulitan keuangan ataupun tidak. Hal ini memperlihatkan bahwasanya kenaikan ataupun penurunan ukuran perusahaan tak bisa berdampak pada peluang perusahaan terkena financial Ketidak konsistenan nilai ukuran perusahaan ini menunjukkan ukuran perusahaan tak berdampak terhadap risiko financial distress. Penelitian selaras pada Stepani dan Nugroho . & Erminda dan Isbanah . yang menyebutkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh atas financial distress. Kesimpulan dan Saran Temuan mengungkapkan current ratio tidak berperan signifikan dalam memengaruhi keadaan financial distress, sehingga nilai current ratio yang tinggi tidak menjamin penurunan risiko tekanan keuangan pada perusahaan. Demikian pula, debt to equity ratio tidak menunjukkan pengaruh signifikan, yang mengindikasikan bahwa dominasi ekuitas atas utang belum tentu menjamin perusahaan bebas dari potensi kesulitan keuangan. Sebaliknya, variabel return on asset (ROA) terbukti memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap financial distress. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin besar ROA, maka semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami financial distress, karena hal tersebut mencerminkan tingkat efektivitas dan efisiensi dalam pemanfaatan aset yang dipunya perusahaan. Sementara itu, ukuran perusahaan tidak menunjukkan pengaruh atas financial distress, berarti risiko kesulitan keuangan dapat dialami baik oleh perusahaan besar maupun kecil. Temuan ini memberikan implikasi penting secara praktis maupun Perusahaan sub-sektor konstruksi diharapkan dapat lebih menjaga faktor timbulnya financial distress dan mengembangkan strategi mitigasi risiko yang tepat, khususnya dengan meningkatkan efektivitas pemanfaatan aset agar dapat memperkuat posisi keuangan. Bagi investor, analisis ini sebagai dasar pertimbangan mengambil keputusan investasi, di mana ROA dijadikan salah satu indikator utama untuk menilai kesehatan keuangan perusahaan Di sisi akademik, hasil analisis harapannya memperkaya literatur mengenai prediksi financial distress di sektor konstruksi serta menjadi referensi dalam pengembangan studi keuangan di lingkungan akademik, khususnya di Universitas Jenderal Achmad Yani. Adanya beberapa keterbatasan yang harus menjadi perhatian. Cakupan objek penelitian yang hanya terbatas pada perusahaan sub-sektor konstruksi terdata Bursa Efek Indonesia membuat temuan belum mampu digeneralisasi ke sektor industri lainnya. Metode pengukuran financial distress Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 141 yang sekadar memanfaatkan indikator laba per saham (EPS) negatif turut membatasi ruang analisis dalam mengevaluasi keadaan keuangan perusahaan secara menyeluruh. Karenanya, studi berikutnya diusulkan untuk memperluas objek penelitian ke sektor atau sub-sektor yang berbeda serta mengintegrasikan pendekatan prediktif lain, seperti Altman Z-Score. Zmijewski, atau Ohlson OScore, supaya hasil yang didapat lebih komprehensif serta akurat. Dengan demikian, penelitian lanjutan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika risiko keuangan pada berbagai sektor industri. Referensi