KURVATEK Vol. No. November 2025, pp. e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 EFEKTIVITAS BIOKOAGULAN CANGKANG TELUR DAN KULIT PISANG DALAM MENURUNKAN TSS PADA AIR LIMBAH TAMBANG BATUBARA EFFECTIVENESS OF EGGSHELL AND BANANA PEEL BIOCOAGULANTS IN REDUCING TSS IN COAL MINE WASTEWATER Eva Novita Sari1. Eni Muryani2,*. Tissia Ayu Algary3. Titi Tiara Anasstasia4. Ekha Yogafanny5. Mhd. Marliansyah6 1,2,3,4,5, Prodi Teknik Lingkungan. Fakultas Teknologi Mineral dan Energi. UPN Veteran Yogyakarta Jalan Ring Road Utara. Ngropoh. Depok. Sleman. Yogyakarta 55281. Indonesia *Email corresponding: enimuryani@gmail. Email: novitasari851@gmail. Email: tissiaayu@gmail. Email: tiara. anasstasia@gmail. Email: ekha. yogafanny@upnyk. PT Mifa Bersaudara. Aceh Barat. Indonesia How to cite: E. Sari. Muryani. Algary. Anasstasia. Yogafanny, and M. Marliansyah, "Effectiveness of Eggshell and Banana Peel Biocoagulants in Reducing TSS in Coal Mine WastewaterAy Kurvatek, vol. 10, no. 2, pp. 189-198, 2025. doi: 10. 33579/krvtk. 6196 [Onlin. Abstrak Ai Industri pertambangan batubara menghasilkan limbah cair yang berpotensi mencemari lingkungan. Hasil analisis air limbah tambang batubara di PT Mifa Bersaudara menunjukkan parameter pH. Fe, dan Mn sudah sesuai baku mutu. Namun, kadar Total Suspended Solid (TSS) masih melebihi batas yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas awal air limbah tambang batubara serta menganalisis efektivitas cangkang telur dan kulit pisang sebagai biokoagulan alami dalam menurunkan TSS. Penelitian dilakukan melalui uji laboratorium menggunakan metode jar test pada air limbah dari Water Monitoring Point 13 di PT Mifa Bersaudara. Variasi yang digunakan meliputi dosis koagulan cangkang telur . -5 g/L) dan kulit pisang . -2 g/L) dengan waktu sedimentasi 30, 60, 90 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimum cangkang telur 2 g/L pada waktu 30 menit dapat menurunkan TSS dari 489 mg/L menjadi 138 mg/L, sedangkan dosis kulit pisang 1 g/L dapat menurunkan TSS menjadi 181 mg/L. Pemanfaatan biokoagulan alami ini terbukti efektif dan berpotensi menjadi alternatif ramah lingkungan sebagai pengganti koagulan kimia dalam pengolahan air limbah tambang batubara. Kata kunci: Air Limbah Tambang. Biokoagulan. Cangkang Telur. Kulit Pisang. TSS Abstract Ai The coal mining industry produces liquid waste that has the potential to pollute the environment. The analysis results of coal mine wastewater at PT Mifa Bersaudara show that the parameters pH. Fe, and Mn already meet quality standards. However, the Total Suspended Solids (TSS) level still exceeds the established This research aims to analyze the initial quality of coal mine wastewater and to analyze the effectiveness of eggshells and banana peels as natural biocoagulants in reducing TSS. The study was conducted thru laboratory testing using the jar test method on wastewater from Water Monitoring Point 13 at PT Mifa Bersaudara. The variations used include the dosage of eggshell coagulant . -5 g/L) and banana peel . -2 g/L) with sedimentation times of 30, 60, and 90 minutes. The research results show that the optimum dosage of eggshell is 2 g/L at 30 minutes, which can reduce TSS from 489 mg/L to 138 mg/L, while the dosage of banana peel is 1 g/L, which can reduce TSS to 181 mg/L. The use of these natural biocoagulants is proven effective and has the potential to be an environmentally friendly alternative to chemical coagulants in coal mine wastewater Keywords: Mine Wastewater. Biocoagulant. Eggshell. Banana Peel. TSS PENDAHULUAN Received Sep 26. Revised Oct 24. Accepted Oct 28,2025 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Pertambangan batubara merupakan salah satu sektor industri yang memiliki peran penting dalam penyediaan energi di Indonesia. Batubara dimanfaatkan dalam berbagai sektor seperti pembangkit listrik, transportasi, dan rumah tangga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional . Namun, aktivitas penambangan batubara dapat menimbulkan dampak lingkungan, salah satunya adalah pencemaran air, gangguan ekosistem, dan risiko kesehatan jangka panjang . Permasalahan utama yang sering ditemui adalah meningkatnya kandungan padatan tersuspensi (TSS) pada air limbah tambang yang berdampak pada penurunan kualitas perairan. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya pengolahan air limbah yang efektif dan berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Upaya pengolahan tersebut penting dilakukan untuk mendukung prinsip pembangunan berkelanjutan di sektor pertambangan. Hasil analisis kualitas air limbah di PT Mifa Bersaudara. Aceh Barat menunjukkan bahwa parameter pH. Fe, dan Mn memenuhi baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 113 Tahun 2003. Namun, nilai TSS pada air limbah tambang batubara di WMP 13 mencapai 489 mg/L, melebihi batas baku mutu yaitu 400 mg/L. Tingginya TSS pada limbah tambang dapat menyebabkan kekeruhan, menurunkan penetrasi cahaya, menggangu fotosintesis organisme perairan, dan berdampak negatif pada ekosistem akuatik. Jika tidak diolah dengan baik, limbah cair tambang akan terbawa ke badan air permukaan dan menurunkan kualitas air yang digunakan masyarakat sekitar. Tingginya kadar padatan tersuspensi dalam air juga dapat meningkatkan kekeruhan, sehingga menghambat penetrasi cahaya matahari yang diperlukan untuk proses fotosintesis fitoplankton. Dalam jangka panjang, pencemaran ini berpotensi menurunkan keanekaragaman hayati perairan dan memperburuk kondisi lingkungan hidup . Proses pengolahan limbah tambang pada umumnya dilakukan dengan metode koagulasi-flokulasi untuk menurunkan kekeruhan dan kandungan polutan organik . Di PT Mifa Bersaudara khususnya pada Water Monitoring Point (WMP) 13, telah dilakukan pre-treatment menggunakan koagulan kimia berupa aluminium sulfat . Penggunaan koagulan kimia kurang ramah terhadap lingkungan karena dapat menyebabkan permasalahan bagi lingkungan . Salah satunya yaitu menghasilkan residu lumpur aluminium yang sulit terurai, berpotensi menyumbat saluran dan membutuhkan pengolahan lanjutan yang berdampak pada peningkatan biaya. Selain itu, ketergantungan pada bahan kimia impor membuat ketersediannya kurang stabil, terutama di daerah terpencil. Dari sisi lingkungan, penggunaan tawas tidak sejalan dengan prinsip green technology dan pembangunan berkelanjutan karena berpotensi menambah Oleh karena itu, diperlukan alternatif koagulan yang lebih ramah terhadap lingkungan, mudah diperoleh dan tetap efektif menurunkan TSS. Salah satu bahan alami yang melimpah di sekitar area operasional dan belum dimanfaatkan secara optimal adalah cangkang telur dan kulit pisang . Cangkang telur memiliki kandungan utama kalsium karbonat (CaCOCE) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan koagulan dan dapat mengatasi kekeruhan air limbah tambang batubara . Kulit pisang memiliki kandungan kandungan selulosa, lignin, dan karbon aktif yang dapat digunakan untuk menjernihkan air . Pemanfaatan biokoagulan kulit pisang efektif untuk mereduksi TSS pada limbah cair industri . Selain itu, koagulan kulit pisang terbukti dapat menurunkan TSS mencapai 90% pada kondisi optimum . Kedua bahan ini dapat digunakan sebagai biokoagulan untuk mengikat partikel pada air Biokoagulan merupakan koagulan alami yang berperan untuk mengikat partikel pada air limbah . Pemanfaatan biokoagulan cangkang telur dan kulit pisang lebih ramah terhadap lingkungan sehingga tidak berdampak negatif bagi makhluk hidup, mengurangi ketergantungan terhadap koagulan kimia, mendukung penerapan prinsip circular economy. Dengan demikian, penggunaan biokoagulan dari limbah organik ini dapat menjadi alternatif teknologi pengolahan limbah cair tambang batubara yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan sesuai dengan arah pembangunan hijau . reen developmen. Oleh karena itu, penelitian bertujuan untuk menganalisis kualitas awal air limbah tambang batubara dan menganalisis efektivitas cangkang telur dan kulit pisang sebagai biokoagulan alami dalam menurunkan kadar Total Suspended Solid (TSS). II. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan pendekatan Sampel air limbah tambang batubara diambil secara grab sampling dari WMP 13 PT Mifa Bersaudara. Aceh Barat. Hasil analisis air limbah tambang batubara menunjukkan parameter pH. Fe, dan Mn sudah sesuai baku mutu, namun demikian, terdapat parameter yang masih melebihi baku mutu yaitu kadar Total Suspended Solid (TSS). Oleh karena itu, dilakukan pengolahan menggunakan biokoagulan alami berupa cangkang telur dan kulit pisang yang dapat dijadikan sebagai alternatif ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah organik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan kedua limbah ini tidak hanya menurunkan TSS, tetapi juga dapat mengurangi jumlah timbulan sampah di lingkungan sekitar. KURVATEK Vol. No. November 2025: 189 - 198 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Cangkang telur yang digunakan berasal dari limbah kantin yang terdapat di area operasional pertambangan batubara. Selanjutnya cangkang telur dibersihkan, direndam dengan air hangat, dilakukan penjemuran di bawah sinar matahari untuk mengurangi kadar air, kemudian dilakukan kalsinasi pada suhu 900 AC selama 1 jam untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel pada cangkang agar siap digunakan sebagai bahan koagulan. Hasil kalsinasi yang telah dilakukan terdapat perbedaan secara fisik akibat pengaruh suhu 900AC dengan perbedaan warna cangkang telur menjadi semakin putih dan memiliki tekstur halus dan tidak menimbulkan bau . Perubahan warna tersebut menunjukkan bahwa cangkang telur sudah mengalami aktivasi dan siap digunakan sebagai alternatif pengganti koagulan kimia dalam pengolahan air limbah. Hasil kalsinasi di ayak menggunakan saringan 100 mesh sehingga diperoleh serbuk dengan tekstur halus. Serbuk ini kemudian disimpan dalam wadah tertutup untuk mencegah kontaminasi udara dan kelembaban sebelum digunakan dalam pengolahan air limbah tambang batubara. Cangkang telur direndam air Pembersihan Limbah Cangkang Telur Aktivasi Cangkang Telur Pada Suhu Penjemuran Cangkang Telur Serbuk Cangkang Telur diayak dengan ayakan 100 mesh Gambar 1. Diagram Alir Prosedur Kerja Pembuatan Koagulan Cangkang Telur Kulit Pisang yang digunakan berasal dari limbah kantin yang terdapat di area operasional pertambangan batubara. Selanjutnya kulit pisang direndam selama 1 jam dalam larutan Natrium Tiosulfat, dilakukan penjemuran kulit pisang di bawah sinar matahari untuk menghilangkan kadar air, kemudian dilakukan pengovenan pada suhu 105 AC. Terdapat perubahan visual pada serbuk kulit pisang setelah dilakukan pengovenan pada suhu 105 AC yaitu warna kulit pisang menjadi semakin cokelat dan memiliki tekstur halus. Perubahan ini menunjukkan keberhasilan kulit pisang sebagai biokoagulan. Selain itu, serbuk kulit pisang yang telah dioven menjadi bubuk halus dan tidak berbau menyengat sehingga dapat digunakan sebagai alternatif koagulan dalam pengolahan air limbah . Hasil pengovenan di ayak menggunakan saringan 100 mesh sehingga diperoleh serbuk dengan tekstur halus. Serbuk halus hasil pengeringan kemudian disimpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi sebelum digunakan dalam proses pengolahan air limbah. Pembersihan Limbah Kulit Pisang Kulit Pisang direndam selama 1 jam dalam larutan natrium tiosulfat Pengovenan Kulit Pisang Pada Suhu 105AC Penjemuran kulit pisang di bawah sinar Serbuk Kulit Pisang diayak dengan ayakan 100 mesh Gambar 2. Diagram Alir Prosedur Kerja Pembuatan Koagulan Kulit Pisang Pengujian dilakukan dengan metode jar test menggunakan variasi dosis cangkang telur 0-5 g/L dan kulit pisang 0-2 g/L. Tahap koagulasi dilakukan pengadukan cepat 150 rpm selama 2 menit dan pengadukan Effectiveness of Eggshell and Banana Peel Biocoagulants in Reducing TSS from Coal Mine Wastewater (E. Sari. Muryan. DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. lambat 50 rpm selama 10 menit. Setelah flok terbentuk, sampel kemudian didiamkan untuk sedimentasi dengan variasi 30,60 dan 90 menit. Jadi, waktu tersebut tidak menggantikan waktu kontak, namun untuk melihat efektif flok yang sudah terbentuk dan dipisahkan. Tanpa proses koagulasi flokulasi, sedimentasi saja tidak dapat menurunkan TSS secara signifikan. Oleh karena itu, pengujian ini dilakukan untuk mengetahui dosis optimum dan waktu sedimentasi yang efektif dalam menurunkan konsentrasi TSS menggunakan biokoagulan alami. Gambar 3. Diagram Alir Prosedur Kerja Pembuatan Koagulan Cangkang Telur Gambar 4. Diagram Alir Prosedur Kerja Pembuatan Koagulan Kulit Pisang Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif untuk menentukan dosis optimum dan menghitung persentase efisiensi penurunan TSS. Selain itu, dilakukan analisis regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh variasi dosis biokoagulan dan waktu sedimentasi terhadap penurunan TSS. Hasil analisis regresi ditampilkan dalam bentuk persamaan garis, koefisien determinasi (RA), serta uji signifikansi menggunakan analisis varians (ANOVA). Analisis ini bertujuan untuk melihat kekuatan hubungan antara variabel bebas . osis dan waktu sedimentas. dengan variabel terikat . enurunan TSS), sekaligus menguji apakah variasi perlakuan memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap efektivitas pengolahan air limbah tambang batubara. HASIL DAN DISKUSI Kualitas Air Limbah Tambang Batubara Sampel air limbah diambil dari Water Monitoring Point (WMP) 13 PT Mifa Bersaudara. Parameter yang dianalisis meliputi pH. TSS. Fe, dan Mn. Hasil analisis menunjukkan nilai pH sebesar 7,89 yang masih sesuai dengan baku mutu lingkungan . Konsentrasi Fe dan Mn juga berada di bawah baku mutu, masing-masing 1,99 mg/L dan 1,77 mg/L. Namun demikian, konsentrasi TSS sebesar 489 mg/L melebihi baku mutu yang ditetapkan, yaitu 400 mg/L. Perairan dengan konsentrasi TSS tinggi dapat mempengaruhi kondisi fisik perairan dan menghambat proses fotosintesis biota di dalamya . Kondisi ini menunjukkan bahwa TSS merupakan parameter utama yang harus diturunkan melalui pengolahan air limbah. Data hasil pengukuran ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Pengukuran Fe. Mn, pH, dan TSS di WMP 13 . Parameter Baku Mutu Satuan TSS Hasil Pengukuran Tahun 2024 September Oktober November 1,99 1,62 0,80 1,77 0,17 0,25 7,89 7,24 Tabel 1, menunjukkan hasil pengukuran kualitas air limbah tambang batubara dengan penggunaan tawas oleh perusahaan selama tiga bulan berturut-turut meliputi parameter Fe. Mn, pH, dan TSS. Semua parameter tersebut berada dalam batas yang sesuai dengan Baku Mutu Lingkungan. Parameter Fe dan Mn berkaitan dengan TSS. Saat parameter TSS berhasil dikurangi melalui proses koagulasi dan flokulasi, kandungan logam berat juga ikut mengendap bersama flok . pH netral juga mendukung terbentuknya flok stabil dan menjaga kadar Fe dan Mn tetap rendah. Pendekatan hubungan antar parameter digunakan dalam melakukan analisis karakteristik limbah. Jika parameter Fe. Mn dan TSS tinggi, maka akan KURVATEK Vol. No. November 2025: 189 - 198 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 berdampak langsung terhadap kejernihan air. Limbah cair dapat menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan seperti menurunnya kualitas air, terganggunya keseimbangan ekosistem, dan menyebabkan kematian pada biota air . Oleh karena itu, air limbah tambang harus diolah terlebih dahulu sebelum dialirkan ke badan air untuk mencegah terjadinya pencemaran. Selain itu, perusahaan juga wajib melakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan kualitas air limbah yang dilepas sudah sesuai dengan baku mutu lingkungan yang berlaku. Efektivitas Cangkang Telur sebagai Biokoagulan Cangkang telur dapat dimanfaatkan sebagai bahan koagulan dalam pengolahan air limbah tambang batubara yang dapat mengatasi kekeruhan. Selain itu, penggunaan cangkang telur dalam pengolahan limbah juga bersifat ramah lingkungan, ekonomis dan mudah diperoleh . Secara umum, cangkang telur terdiri dari 94% kalsium karbonat (CaCO. , 1% kalsium fosfat, 1% magnesium karbonat, dan 4% bahan organik Proses kalsinasi cangkang telur dilakukan pada suhu 900 AC menghasilkan perubahan visual menjadi semakin putih dan memiliki tekstur halus, dan tidak menimbulkan bau. Perubahan warna tersebut menunjukkan bahwa cangkang telur sudah mengalami aktivasi dan siap digunakan sebagai alternatif pengganti koagulan kimia dalam pengolahan air limbah. CaO bermuatan positif yang dihasilkan mampu menetralkan partikel bermuatan negatif dalam limbah dan mempercepat pembentukan flok. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menyebutkan bahwa pemanfaatan kapur CaCO3 merupakan metode efektif untuk mengendapkan partikel koloid dan menurunkan kadar Fe dan Mn. Gambar 5. Hasil Cangkang Telur Tanpa Kalsinasi (A) Kalsinasi Suhu 900AC (B) Pengujian efektivitas dilakukan dengan variasi dosis 0-5 g/L dan waktu sedimentasi 30,60, dan 90 Secara umum, semakin tinggi dosis yang diberikan maka semakin besar efisiensi penurunan TSS yang dapat dilihat pada Gambar 6. Pada dosis 0 g/L yang digunakan sebagai kontrol, penurunan TSS tidak terjadi penurunan TSS karena tidak ada penambahan koagulan yang membantu dalam proses pengendapan. Saat dilakukan penambahan dosis koagulan menjadi 1 g/L, mulai terlihat pembentukan flok yang efektif, ditandai dengan efisiensi penurunan lebih dari 70% terutama pada waktu sedimentasi 60 sampai 90 menit. Effectiveness of Eggshell and Banana Peel Biocoagulants in Reducing TSS from Coal Mine Wastewater (E. Sari. Muryan. DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Gambar 6. Efisiensi Penurunan TSS (Y) Terhadap Variasi Dosis Koagulan (X) Cangkang Telur Berdasarkan Gambar 6, terdapat hubungan antara dosis dan dosis koagulan cangkang telur dengan efisiensi penurunan TSS. Pada dosis 0 g/L efisiensi sangat rendah yaitu sekitar 1,43% pada waktu sedimentasi 30 menit, 2,11% pada 60 menit dan 2,45% pada waktu 90 menit. Hasil rata-rata efisiensi dosis 0 gram menunjukkan efisiensi rendah karena tidak ada penambahan koagulan. Penambahan dosis 1 gram meningkatkan efisiensi menjadi 70,96% untuk waktu 30 menit, 75,46% untuk waktu 60 menit dan 82,55% untuk waktu 90 menit. Peningkatan ini menunjukkan koagulan mulai efektif untuk mengikat partikel Selanjutnya untuk dosis 2 gram menghasilkan rata-rata efisiensi 71,71% untuk waktu 30 menit, 81,80% untuk waktu 60 menit dan 89,50% untuk waktu sedimentasi 90 menit. Efisiensi tertinggi untuk waktu 30 menit terjadi pada dosis 4 gram yaitu 85. 07%, sedangkan untuk waktu sedimentasi 60 dan 90 menit efisiensi maksimum diperoleh pada dosis 5 gram dengan masing-masing sebesar 86,91% dan 90,39%. Secara statistik, waktu sedimentasi 60 menit memberikan nilai efisiensi yang lebih tinggi. Namun, dari sisi teknis dan efisiensi operasional, penggunaan dosis 2 g/L dengan sedimentasi 30 menit lebih efisien karena sudah mampu menurunkan TSS hingga 138 mg/L dari nilai awal 489 mg/L. Dengan demikian, kondisi ini dinilai paling efektif dan praktis untuk penerapan di lapangan. Oleh karena itu, dilakukan analisis lebih lanjut menggunakan regresi linear sederhana untuk menguji hubungan antara dosis koagulan dengan penurunan TSS, yang dapat dilihat pada Gambar 7. KURVATEK Vol. No. November 2025: 189 - 198 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Gambar 7. Grafik Analisis Polynomial Dosis Koagulan (X) Cangkang Telur Terhadap Efisiensi TSS (Y) Berdasarkan Gambar 7, hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan adanya hubungan positif antara dosis koagulan cangkang telur dengan efisiensi penurunan TSS pada seluruh variasi waktu Pada waktu 30 menit diperoleh persamaan regresi Y = 33,548 10,289X dengan koefisien determinasi (RA) sebesar 0,455. Artinya, sekitar 45,5% variasi efisiensi dapat dipengaruhi oleh penambahan dosis koagulan. Pada waktu 60 menit, persamaan regresi adalah Y = 36,488 12,767X dengan RA = 0,534, sedangkan pada 90 menit diperoleh persamaan Y = 41,052 12,764X dengan RA = 0,472. Nilai koefisien regresi yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis koagulan, semakin besar efisiensi penurunan TSS. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dosis optimum terdapat pada 2 g/L dengan waktu sedimentasi 30 menit. Pada kondisi ini. TSS berhasil diturunkan dari 489 mg/L menjadi 138 mg/L dengan hasil efisiensi sebesar 71,76%. Penggunaan dosis di atas 2 g/L dapat menyebabkan deflokulasi karena kelebihan ion kalsium (C. sehingga partikel koloid bermuatan positif saling tolak-menolak, membuat flok tidak stabil dan sulit mengendap. Secara mekanis, ion kalsium dari cangkang telur berperan menetralkan muatan negatif partikel koloid. Setelah muatan dinetralisir, partikel menjadi tidak stabil, bergabung membentuk flok, dan mengendap pada tahap sedimentasi. Oleh karena itu, pemanfaatan dosis 2 g/L tidak hanya efektif menurunkan TSS secara signifikan, tetapi juga efisien, hemat bahan, serta praktis untuk diaplikasikan di Hal ini menunjukkan bahwa cangkang telur berperan sebagai adsorben alami . Efektivitas Kulit Pisang sebagai Biokoagulan Penggunaan limbah kulit pisang digunakan karena limbah di area Kabupaten Meulaboh belum termanfaatkan dengan baik sehingga diharapkan dapat mengurangi limbah yang ada dan mengurangi cost penggunaan tawas. Salah satu limbah industri yang dapat digunakan untuk menjernihkan air adalah kulit pisang yang mengandung selulosa, lignin, dan karbon aktif. Kandungan selulosa pada kulit pisang dapat menyerap ion logam karena adanya asam galakturonat . Sedangkan lignin berperan sebagai senyawa karbon aktif . Proses pengovenan kulit pisang dilakukan pada suhu 105 AC menghasilkan perubahan visual menjadi semakin cokelat dan memiliki tekstur halus, dan tidak menimbulkan bau . Perubahan warna tersebut menunjukkan bahwa kulit pisang siap digunakan sebagai alternatif pengganti koagulan kimia dalam pengolahan air limbah tambang batubara. Effectiveness of Eggshell and Banana Peel Biocoagulants in Reducing TSS from Coal Mine Wastewater (E. Sari. Muryan. DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Gambar 8. Kulit Pisang Tanpa Pengovenan (A) Pengovenan Suhu 105AC (B) Pengujian efektivitas kulit pisang dilakukan dengan variasi dosis 0-2 g/L dan waktu sedimentasi 30, 60, serta 90 menit. Secara umum, semakin tinggi dosis dan lamanya sedimentasi, maka semakin besar efisiensi penurunan TSS. Pada dosis 0 g/L yang digunakan sebagai kontrol, penurunan TSS tidak terjadi penurunan TSS karena tidak ada penambahan koagulan yang membantu dalam proses pengendapan. Saat dilakukan penambahan dosis koagulan menjadi 1 g/L, mulai terlihat pembentukan flok yang efektif, ditandai dengan efisiensi penurunan lebih dari 62% terutama pada waktu sedimentasi 60 sampai 90 menit. Gambar 9. Efisiensi Penurunan TSS (Y) Terhadap Variasi Dosis Koagulan (X) Kulit Pisang Berdasarkan Gambar 9, terdapat hubungan antara dosis koagulan kulit pisang dengan efisiensi penurunan TSS. Pada dosis 0 g/L yang digunakan sebagai kontrol, efisiensi penurunan sangat rendah yaitu 1,43% pada waktu sedimentasi 30 menit, 19,43% pada 60 menit, dan 18,74% pada waktu sedimentasi 90 menit, karena tidak ada penambahan koagulan yang membantu proses pengendapan. Penambahan dosis 1 g/L meningkatkan efisiensi secara signifikan menjadi 62,85% pada waktu sedientasi 30 menit, 66,39% pada 60 menit, dan 70,55% pada waktu sedimentasi 90 menit. Selanjutnya, pada dosis 1,5 g/L diperoleh ratarata efisiensi sebesar 65,24% untuk 30 menit, 69,60% untuk waktu sedimentasi 60 menit, dan 70,07% untuk waktu sedimentasi 90 menit. Pada dosis 2 g/L menghasilkan efisiensi sebesar 63,19% pada waktu sedimentasi 30 menit, 70,69% pada waktu 60 menit, dan 71,98% pada waktu 90 menit. Secara statistik, waktu sedimentasi 90 menit menunjukkan hasil yang lebih tinggi. Namun, dari sisi teknis dan efisiensi operasional, penggunaan dosis 1 g/L dengan sedimentasi 30 menit lebih efisien karena sudah mampu KURVATEK Vol. No. November 2025: 189 - 198 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 menurunkan TSS hingga 181 mg/L dari nilai awal 489 mg/L. Dengan demikian, kondisi ini dinilai paling efektif dan praktis untuk penerapan di lapangan. Oleh karena itu, dilakukan analisis lebih lanjut menggunakan regresi linear sederhana untuk menguji hubungan antara dosis koagulan dengan penurunan TSS, yang dapat dilihat pada Gambar 10. Gambar 10. Grafik Analisis Polynomial Dosis Koagulan (X) Kulit Pisang Terhadap Efisiensi TSS (Y) Berdasarkan Gambar 10, terdapat hubungan signifikan antara dosis koagulan kulit pisang terhadap efisiensi penurunan TSS. Pada sedimentasi 30 menit diperoleh persamaan regresi Y = 12,028 32,132X dengan RA = 0,774, pada 60 menit Y = 26,803 26,421X dengan RA = 0,827, dan pada 90 menit Y = 27,313 21,134X dengan RA = 0,790. Artinya, sekitar 79,0% variasi efisiensi dapat dipengaruhi oleh penambahan dosis koagulan. Nilai koefisien regresi positif menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis koagulan kulit pisang, semakin besar efisiensi penurunan TSS yang diperoleh. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa dosis optimum terdapat pada 1 g/L dengan waktu sedimentasi 30 menit. Pada kondisi ini. TSS berhasil diturunkan dari 489 mg/L menjadi 181 mg/L dengan efisiensi sebesar 62,99%. Penambahan waktu sedimentasi hingga 60 dan 90 menit dapat meningkatkan efisiensi, tetapi tidak memberikan perbedaan yang signifikan dan menyebabkan terjadinya deflokulasi. Hal ini terjadi karena penggunaan bahan berlebih sehingga partikel koloid menjadi bermuatan positif saling tolak-menolak dan menghambat proses Secara mekanis, kandungan lignin, pektin, dan selulosa pada kulit pisang dengan gugus bermuatan positif berperan menetralkan muatan negatif partikel koloid. Setelah muatan dinetralisir, partikel menjadi tidak stabil, bergabung membentuk flok yang lebih besar, dan mengendap pada tahap sedimentasi. Oleh karena itu, pemanfaatan dosis 1 g/L dinilai paling efektif, efisien, dan praktis dalam menurunkan TSS serta layak diterapkan sebagai alternatif biokoagulan alami pada pengolahan air limbah tambang batubara. IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa cangkang telur dan kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai biokoagulan alami untuk menurunkan TSS pada air limbah tambang batubara. Dosis optimum cangkang telur terdapat pada dosis 2 g/L dengan waktu sedimentasi 30 menit yang dapat menuurnkan TSS dari 489 mg/L menjadi 138 mg/L dengan efektivitas mencapai 80%. Sedangkan dosis Effectiveness of Eggshell and Banana Peel Biocoagulants in Reducing TSS from Coal Mine Wastewater (E. Sari. Muryan. DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. optimum kulit pisang terdapat pada dosis 1 g/L dengan waktu sedimentasi 30 menit dapat menurunkan TSS dari 489 mg/L menjadi 181 mg/L dengan efektivitas mencapai 70%. Kedua bahan ini terbukti lebih ramah terhadap lingkungan dibandingkan dengan penggunaan bahan koagulan kimia, dan mendukung upaya pengolahan limbah sesuai dengan prinsip ekonomi pembangunan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH