Misykat Cahaya Spiritualitas dalam Seni Tauhid Teguh Agus Priyanto, 2Supriatna, 3Benny Yohannes T. Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. Cijagra. Kec. Lengkong. Kota Bandung. Jawa Barat 40265 teguhap22@gmail. com1, ekosupriatna28@gmail. com2, benjon62@gmail. ABSTRACT AoMisykat CahayaAo is an artwork inspired by personal spiritual experiences about self-existence, the search for religious human beings overshadowed by the existence of God. Through qualitative research methods, the artist tries to dissect this spiritual phenomenon to find values that will be used as a guide in the work process. The combination of the non-figurative style of Ismail RajiAo Al-Faruqi (Art of Tawhi. with SartreAos Existentialism is used to show the relationship between man and his God. This combination is used to show the choice of being a free human being or who recognizes God as a source of value and provides a way to better understand the existence of Muslim artists today. The Awareness of position as a human being who must exist at the same time as a servant leads to always build sensitivity to the surroundings. This is also regarding encounters with objects which are often underestimated and the light in which the existence is often ignored. This experience leads to awareness of the life force. The object of beads and light becomes a metaphor to reveal the veil that covers it in order to be able to find Allah SWT. The objects enable power to stimulate the emergence of imagination to the level of spiritual awareness, which ultimately brings awareness to the position of Muslim artists who are not autonomous. Keywords: Spirituality. Al-Faruqi Aesthetics. SartreAos Existentialism, object, light para seniman muslim. Lewat karya seni, mereka berusaha untuk mengungkapkan sisi-sisi spiritualitasnya. Spiritualitas ini akhirnya mampu membangun pendekatan tersendiri tentang Estetika Islam yang berbeda dengan Estetika Barat. Ali Audah mengutarakan pendekatan tentang Estetika Islam yang berbeda ini dalam buku AoIslam dan Kebudayaan Indonesia: Dulu Kini dan EsokAo, dia berujar sebagai berikut: PENDAHULUAN Latar Belakang Al-Ghazali menuntun umat Islam untuk memahami tentang cahaya di atas cahaya. Melalui buku AoMisykaatul AnwaarAo. AlGhazali mencoba menafsirkan Al-QurAoan surat An-Nur ayat 35. Misykat diartikan sebagai sebuah lubang kecil tempat untuk menyimpan lampu minyak. Misykat oleh Al-Ghazali dijadikan sebagai metafora yang menggambarkan tentang batin seseorang yang dipenuhi dengan cahaya Ilahi (Nu. lewat perantara lampu minyak yang cahaya dari apinya dipantulkan oleh kaca yang melindungi api tersebut. Metafora tentang Nur yang diungkapkan oleh Al-Ghazali juga sering dilakukan oleh AuPengertian estetika di sini rupanya lebih banyak ditekankan pada kesadaran pribadi yang akan mengekspresikan karya seninya, dari pada teori dan kritik seni. Ini tidak berarti bahwa kesadaran pribadi sudah lepas sama sekali dari akal pikiran, tetapi peranan hati nurani yang berpangkal pada akhlak agama, tidak dapat diabaikanAy (Yustiono dkk, 1993:. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Bila berbicara tentang estetika, intuisi dan selera akan mengambil peranan Setiap orang mempunyai rasa keindahannya sendiri-sendiri, namun perbedaannya terdapat pada nilai. Rasa indah yang terdapat pada satu kebudayaan belum tentu dapat dinikmati oleh kebudayaan yang lain. Begitu juga dengan Islam, keindahan yang dapat diterima di dalamnya adalah keindahan yang terikat oleh etika dan Agama Islam yang menggunakan Al-QurAoan dan Hadits sebagai pedoman dasarnya. Fahrudin Faiz dalam kajian filsafat rutinnya di AoNgaji FilsafatAo dalam sesi Seni Tauhid Al-Faruqi menerangkan hubungan agama dalam perwujudan bentuk benda dan tindakan. us berjalan dan penggalian nilainya takkan pernah berhenti, akan selalu menyesuaikan dengan tempat dan waktu. Menurut Agung Puspito dengan menyadur pendapat Ismail RajiAo Al-Faruqi. AuKebudayaan adalah perspektif kenyataan Kebudayaan adalah kesadaran atas nilai-nilai universal yang di dalamnya meliputi pengenalan identitas dan kesadaran untuk mewujudkan nilai-nilai tersebutAy (Agung Puspito, 2007: . Penilaian ini tidak akan adil apabila semuanya diserahkan ke manusia, sebab manusia tak bebas dari kesalahan. Kita memerlukan acuan objektif yang mampu mengatasi subyektivitas manusia, dan itu hanya bisa didapat dari Tuhan. Seni Islam yang ada di masa kini tidak akan luput dari pengaruh Budaya Urban dan Seni Kontemporer. Sekilas mungkin orang akan menganggap Budaya Urban sangat bertentangan dengan budaya yang diyakini dalam Islam. Anggapan ini bertentangan dengan keyakinan akan konsep hidayah yang dapat terjadi dengan berbagai pendekatan, baik yang bersifat sangat sakral maupun lewat hal-hal yang profan. Hidayah (Nu. akan datang kepada manusia yang mampu membaca tanda . Intensitas pertemuan atau pertemuan berulang-ulang . dengan benda-benda dalam keseharian mempunyai kemungkinan benda tersebut menjadi tanda akan hadirnya hidayah dalam hidup. Intensitas pertemuan dengan objek akan memberikan energi lebih untuk mendekatkan diri terhadap objek, sehingga hubungan antara subjek-objek akan menjadi kuat bahkan sering terjadi bertukar posisi antara keduanya. Dalam hubungan subjekobjek ini terjadi proses mengobservasi yang akan memberikan nilai karena munculnya banyak pemahaman yang lahir dari dialogdialog yang terjadi. Realitas akan terjadi AuTujuan agama adalah untuk kebaikan, bukan semata tentang keselamatan. Berarti agama berada dalam ranah etika, mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama dan semesta. Etika bertujuan untuk menghadirkan rasa tepat, benar, aman, tentram, nyaman, dsb. Ketika berbicara tentang rasa berarti sudah menyentuh domain estetika karena estetika akan memberikan kepuasan, kenyamanan, keindahan bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Dari uraian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa agama memerlukan perwujudan dalam bentuk benda dan tindakan, baik untuk mengungkapkan maupun membangkitkan emosi keagamaan di kalangan pemeluk kepercayaan suatu agama, agar agama tersebut benar-benar dirasakan atau dihayati manusia. Kemampuan suatu benda atau perilaku untuk membangkitkan atau mengungkapkan emosi keagamaan, pada dasarnya selaras dengan daya pesona yang dimiliki oleh benda atau perilaku tersebut. Oleh karena itu, benda atau perilaku agama sebenarnya berkorelasi dengan benda atau perilaku estetis/seniAy. Islam, estetika, kesenian dan kebudayaan tidak dapat dielakkan dengan sejarah pertumbuhan dan dasar-dasar hukumnya. Kesenian dan gagasan Islam akan ter1 Fahrudin Faiz. Ismail RajiAo Al-Faruqi - Seni Tauhid,https://w. com/watch?v=bO23fo3WyFw. Diakses 8 Mei 2021, pukul 21:14 WIB Priyanto: Misykat Cahaya Spiritualitas dalam Seni Tauhid ketika diobservasi dan akan nampak/terasa tergantung pada cara memandangnya. manusia sebagai makhluk ciptaan dengan Allah SWT sebagai pencipta . Untuk menggambarkan tentang posisi ini, perupa menggunakan teori Estetika Ismail RajiAo Al-Faruqi yang mempunyai pendekatan artistik non-figuratif dan mengedepankan creatio sebagai pijakan Pengkarya menyadari betul kerumitan tema yang diambil untuk dijadikan konsep karya, apalagi dihubungkan dengan kondisi kehidupan saat ini yang semakin kompleks. Kesadaran pengkarya tentang ketauhidan, menghadirkan banyak pertanyaan tentang eksistensi sebagai seorang muslim dan seniman muslim. Eksistensi seseorang dipertanyakan kembali, terutama mengenai kesadaran-kesadaran keberadaan dirinya. Latar belakang, proses dan capaiannya akan terasa selaras atau tidak. AuSeorang observer memainkan peran penting dalam menghadirkan potensi daya dari apa yang diobservasinya, seakan berperan sebagai subjek yang menolong kelahiran realitas. Melalui intervensi dan partisipasinya ia membantu mengedapankan salah satu wajah dari berbagai potensi yang mungkin dapat dihadirkan suatu realitasAy (M. Dwi Marianto, 2. Melalui pengalaman yang mendalam, suatu objek yang tadinya tidak berharga dan sebagai sesuatu di luar diri seorang obsever, akan menjadi pengalaman. Sehingga tidak heran observer akan lebih mudah ketika harus mengungkapkan tentang objek yang bersangkutan melalui bahasa verbal, tulisan bahkan karya seni, karena objek tersebut telah menjadi bagian dari pengalaman empiriknya. Berdasarkan urain di atas, dapat digambarkan bahwa spiritualitas dan objek mempunyai hubungan yang erat. Hal ini sesuai dengan konsep kehadiran hidayah. Kesadaran spiritual dapat hadir dari kemampuan seseorang dalam membaca tanda . alam hal ini objek dan cahay. , walaupun tanda tersebut hadir dari hal yang bersifat remeh dan keseharian. Intensitas pertemuan dengan objek akan menghadirkan realitas yang dapat dimaknai secara lebih mendalam, bahkan mampu membuat kesadaran spiritual Dalam proyek ini pengkarya berusaha menghadirkan tentang kesadaran proses spiritualitas dalam karya seni rupa yang memanfaatkan keberadaan medium . keseharian yang sering pengkarya temui yaitu manik-manik dan cahaya. Melalui observasi terhadap objek dan dihubungkan dengan realitas kehidupan, pengkarya mencoba membangun idiom seni berupa metafora untuk menggambarkan proses spiritualitas personal. Proses ketika pengkarya berusaha memahami tentang posisi AuSartre menuntun orang untuk membangun eksistensi ini lewat dua jenis kesadaran, yaitu kesadaran pra-reflektif . angsung kepada objek tanpa usaha untuk merefleksika. dan kesadaran reflektif . esadaran yang tidak disadari menjadi kesadaran yang disadariAy. Dua kesadaran ini membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya dan benda-benda. Manusia dianggap sebagai makhluk yang mampu berpikir dan merubah eksistensinya berdasarkan kesadarannya sendiri dengan dibantu oleh lingkungan. Secara garis besar Eksistensialisme Sartre ini menilai eksistensi manusia tidak seperti benda dengan esensi tapi melalui eksistensi dia terhadap Keberadaan pengkarya sebagai seniman muslim membawa pada kenyataan untuk bersikap tentang kesenian. Sebagai seorang muslim, wajar kiranya pegkarya untuk membawa keagungan ajaran Islam. Menciptakan karya yang bernafaskan QurAoan dan sekaligus menyadari eksistensi kesenimanannya yang tidak lagi otonom. Sikap inilah yang pada akhirnya akan Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 menunjukkan kebesaran dari sifat Tauhid yang dimiliki oleh Allah SWT lewat kehadiran objek dan cahaya yang dijadikan sebagai metafor. objek dan cahaya dalam karya menjadi sangat penting karena ia akan hadir sebagai medium, yang mampu memetaforakan spiritualitas yang ditandai dengan hadirnya Nur Ilahiah. Seperti kebudayaan Islam, seni Islam dipandang juga sebagai ekspresi QurAoani. Menurut Al-Faruqi, ada tiga level untuk menjelaskan Seni Islam sebagai ekspresi QurAoani, yaitu: Al-QurAoan sebagai penjelas Tauhid atau transendental. Al-QurAoan sebagai model seni, dan Al-QurAoan sebagai ikonografi (Ismail RajiAo Al-Faruqi, 1999: Estetika Al-Faruqi atau yang sering disebut dengan Seni Tauhid secara singkat adalah sebuah penggambaran tentang posisi manusia yang mentauhidkan . Allah SWT. Pengesaan ini akan berujung pada posisi seniman yang tidak lagi otonom, harus selalu memposisikan diri sebagai hamba Allah. Pendekatan visual estetika Al-Faruqi adalah non-figuratif dengan melakukan pengulangan yang cenderung infinit . ak terbata. Secara garis besar karakter ekspresi estetis tauhid ini dapat digolongkan menjadi enam, yaitu: abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamisme, dan kerumitan. Pendekatan karakter estetis tersebut tidak hanya dihadirkan lewat visual karya, akan tetapi juga hadir sebagai spirit untuk menemukan jawaban tentang eksistensi sebagai seniman Muslim. Sartre mengganggap keberadaan manusia tidak dapat diukur hanya dengan esensinya seperti layaknya benda-benda. Sartre menegaskan bahwa sejatinya manusia pertama-tama ada dan kemudian mewujudkan kodrat/esensinya. Faktor kesadaran mempunyai peranan penting di sini, faktor kesadaran inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain dan benda mati. Metodologi Metode perancangan karya yang digunakan adalah kombinasi antara Estetika Ismail RajiAo Al-Faruqi dengan Eksistensialisme Sartre. Penggabungan metode ini lazim dilakukan dalam penciptaan seni rupa kontemporer. Seni rupa kontemporer diilhami oleh Budaya Posmodern yang tidak membawa hal baru . emangat kebarua. AuSebagai reaksi dari modernisme, posmodernisme memang tidak membawa hal Perbedaan yang mencolok dan yang dinampakkan oleh posmodernisme adalah penghilangan batas antara seni tinggi dan seni rendahAy (Yustiono, 1995:. Penghilangan batas ini membuka peluang untuk munculnya beragam gaya seni, bahkan bercampur-baurnya gayagaya tersebut. AuAKarya-karya paskamodern lebih cenderung memiliki kandungan isi yang bersifat majemuk. Paskamodernisme membuka pintu lebar-lebar bagi berinteraksi dan bersimpang siurnya berbagai gaya dari berbagai seniman, periode, kebudayaanAebahkan yang bersifat kontradiktif sekalipun-membentuk kontur-kontur gaya yang bersifat sinkretis, eklektik, atau hibrid. Pendekatan paskamodernisme terhadap makna satu gaya pun cenderung menekankan makna majemuk . dan bukan makna tunggal . Ay (Yasraf Amir Piliang, 2019: . Dalam kasus pengkaryaan Misykat Cahaya, pengkarya mencoba menggabungkan Seni Islam melalui Estetika AlFaruqi dengan Teori Eksistensialisme Jean Paul Sartre dalam rangka mengakomodir fenomena tentang spiritualitas pada jaman Spirtitualitas yang terbangun dari posisi manusia terhadap Tuhan dan intensitas pertemuan dengan objek dan Berdasarkan hal ini pemilihan AuSartre menyebutkan bahwa kesadaran membawa pada dua tipe eksistensi, yaitu: Etre-en-soi . eing-in-itsel. : identik dengan Priyanto: Misykat Cahaya Spiritualitas dalam Seni Tauhid Untuk kesempatan proyek karya Misykat Cahaya ini, pengkarya berusaha menginterpretasi kembali fenomena tentang spiritualitas yang dilatar belakangi oleh interaksi terhadap benda-benda temuan keseharian dan pemaknaan tentang cahaya yang berhubungan dengan pemahaman kata Nur dalam ajaran Islam. Karya seni yang dikembangkan merupakan bentuk ekspresi estetik secara personal. Hal ini sesuai dengan ucapan Henry Cobin. AuSpiritualitas adalah hal yang berkaitan dengan kehidupan jiwa terdalamAy (Henry Corbin, 2002: . Sisi terdalam dari spiritualitas bukan tidak bisa diungkap, seperti halnya agama akan dapat dirasakan keberadaan dan fungsinya ketika sudah ada medium yang dapat mewakilinya. Semangat mencari atau menggambarkan kebenaran tentang Tuhan adalah sumber dari tindakan seniman muslim. Seorang muslim dalam menghadapi karya seni hati nuraninya tidak akan mengkhianati kepercayaannya. Meskipun perwujudan karya seni kadang tidak mudah untuk dideskripsikan dan diinterpretasikan, setidaknya ada tindakan yang diambil untuk menggambarkannya secara visual. Dari visualisasi ini akan diamati/diobservasi agar terbaca realitas yang ingin disampaikan dalam karya dan akhirnya akan mampu diambil nilai yang terkandung di dalamnya. Dengan demikian sisi terdalam yang melatar belakangi terciptanya karya dapat terkuak dan dapat dinikmati tidak hanya oleh seniman sendiri, namun dapat diapresiasi pula oleh publik secara umum. Perbuatan untuk tidak melebih-lebihkan seni dan hanya menggunakan karya seni sebagai media untuk mengangkat martabat manusia sesuai dengan amanat dan tujuan Allah ketika menciptakan manusia, berarti seni dapat dikatakan sebagai media untuk Menurut sejarah perkembangan seni Islam, prinsip ini bahkan mampu Entre en soi tidak aktif, tidak pasif, tidak afirmatif, dan tidak negatif. Ada yang tidak sadar sehingga ia tidak mampu memberi makna pada eksistensinya, contohnya benda-benda yang padat. AuselesaiAy dan tanpa celah. Etre-pour-soi . eing for itsel. : ada yang berkesadaran dan AukosongAy sehingga banyak AucelahAy dalam dirinya untuk AumenjadiAy2. Pengkarya mencoba menerjemahkan eksistensi ini dengan menghubungkan Seni Tauhid yang mengesakan Allah, sehingga eksistensinya akan mengikuti hukum-hukum tauhid. Kesadaran sebagai makhluk ciptaan Tuhan membawa pada eksistensi sebagai seniman muslim yang eksistensinya tidak lagi otonom. Kesadaran akan eksistensi ini akhirnya menghadirkan jarak antara manusia dengan Allah SWT (Nu. , dan jarak ini dimaknai dengan adanya benda . yang dimanfaatkan sebagai medium untuk membangun kesadaran reflektif. HASIL DAN PEMBAHASAN Seniman Muslim Tidak Otonom Spiritualitas sering diasosiasikan dengan hal-hal yang sangat agung, sehingga sering muncul anggapan bahwa sesuatu yang besar harus diinspirasi oleh hal yang besar pula. Kita sering lupa, bahwa spiritualitas juga dapat dilatar belakangi oleh satu fenomena kecil yang sering terjadi dalam keseharian. Contohnya cahaya, sering tidak dianggap eksistensinya karena setiap hari kita selalu bertemu dengan Faktor kesadaran dan jaraklah yang menjadi kunci agar dapat memahami arti penting keberadaan cahaya ini. Begitu juga dengan spiritualitas, selama belum memahami arti hidayah, akan selalu sulit untuk menemukan kata pencerahan dalam Hidayah Allah bisa datang dari bermacam-macam cara. Fahrudin Faiz. Jean Paul Sartre Ae Cinta Eksistensialis,https://w. com/watch?v=yjCKHP8Rj74&ab_channel=MJSChannelMJSChannel. Diakses 11 Mei 2021, pukul 22:30 WIB Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Saifudin Anshari yang lain tentang posisi seniman Muslim dan seni Islam. menciptakan karya seni yang besar. Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa agama dinilai mampu memberi motivasi kepada Sebagai seorang muslim, wajar kiranya pengkarya membawa semangat Islam dalam berkarya. Selain sebagai wujud mengesakan Allah SWT, juga untuk menunjukkan diferensiasi terhadap Barat. Sebagai agama monoteis. Islam mengisi suatu sikap yang baru ke dalam jiwa Ciri-ciri sikap rohaniah kaum muslim nampak pada setiap kegiatan kebudayaan dan keseniannya. Endang Saifudin Anshari menegaskan hal ini dengan pernyataannya di bawah ini: AuEstetika Islam tidak menganut paham otonomi seni atau kebebasan seniman, artinya otonomi seni dan kebebasan seniman dibatasi oleh nilai-nilai dan norma-norma Islam dan dibatasi pula oleh kedudukan manusia dan TuhanAy (Yustiono dkk, 1993: . Gagasan Karya Karya berjudul Miskat Cahaya ini terdiri dari tiga struktur komponen yaitu medium, idiom, dan identitas. AuIslam itu nilai kebenarannya absolut, universal dan eternal: tidak terikat oleh ruang dan waktu. Dalam arti. Islam itu mengatur hubungan manusia: baik dengan Tuhannya, dengan sesama manusia dan Tujuan asasinya: secara vertikal ialah keridhaan Allah, dan secara horizontal ialah kebahagiaan di dunia dan akhirat nanti, dan dalam waktu yang sama menjadi rahmat bagi manusia lain dan alam sekelilingnyaAy (Yustiono dkk, 1993: . Gambar 1. Skema Struktur Karya. (Sumber: TeguhAgus Priyanto, 2. Medium AuAmedium menerangkan satu wahana tempat mewujudnya seni, yang menjadi perantara diwujudkannya gagasan seni oleh seniman sebagai kreator, dan yang kemudian dialami oleh apresiator. Proses ini juga menunjukkan satu arus linear bagaimana seni dalam wujud ideal . seniman dikonstruksi melalui wujud fisik, dan menjadi problem nilai, baik nilai estetik fisik maupun nilai artistik yang dialami apresiatorAy (Rik-rik Kusmara, 2018: . Seni Islam adalah kreasi manusia . mengungkapkan keindahan, nilai-nilai artistik dan estetik yang pada satu segi mengekspresikan perasaan sang seniman dan pada segi lainnya merefleksikan pandangan dunia dan pandangan hidup Islami. Seni Islam merupakan ekspresi zikir manusia pada Allah, ingat pada Asma-Nya . ama-Ny. , penghayatan pada keakraban, keagungan dan kekuasaan-Nya. Seni Islam merupakan ungkapan doa . ermohonan dan pengharapa. manusia kepada Allah Maha Perahmat. Seni Islam merupakan ekspresi syukur, ungkapan rasa terima kasih kepada Allah dengan jalan dan cara aktualisasi pemanfaatan segala nikmat Ilahi, baik berupa potensi bawaan manusia, alam media ataupun wahyu Ilahi. Hal ini sesuai dengan yang ungkapan Endang Proses pembentukan medium menjadi penting dalam karya karena akan menjadi tempat dititipkannya nilai seni dalam wujud yang dibentuk oleh seniman, yang kemudian wujud tersebut akan menjadi bahasa untuk mengkomunikasikan maksud seniman kepada apresiator. Pemilihan medium disini akan bersinggungan dengan subyektivitas pengkarya, karena akan didasari oleh pengalaman personal yang berhubungan dengan pemilihan objek. Akhirnya hal ini berhubungan dengan Priyanto: Misykat Cahaya Spiritualitas dalam Seni Tauhid eksistensi dan esensi manusia seperti yang disebutkan oleh Sartre. Idiom Perkembangan seni kontemporer tidak dapat dilepaskan dari relasi dan ekspansi medium terhadap gaya pengungkapan ekspresi seniman, yang sering disebut dengan isitilah idiom. AuIdiom berkaitan dengan maksud-maksud . pembuatnya sekaligus terhubung pada berbagai perubahan lingkungan hidup yang turut membentuk bagaimana sebuah maksud seharusnya atau sebaiknya munculAy (Rizki A. Zaelani, 2018: . Idiom bagaimana sebuah penilaian . aik-buruk, indah-tidak indah, benar-sala. dengan maksud penciptaan karya seni. Pemakaian idiom akan muncul ketika pemahaman tentang medium sudah tercapai. Dari tiga medium dengan karakter material dan filosofinya, akhirnya metafora dipilih sebagai bahasa ungkap yang akan ditempelkan dalam Metafora digunakan sebagai cara untuk mengungkapkan kesadaran tentang kehadiran Nur Ilahi dalam proses spiritualitas seseorang, terutama pengkarya sebagai seniman muslim. Gambar 2. Manik-manik spotlight dan glow in the dark (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Ada tiga medium yang digunakan untuk menyusun wujud karya, yaitu manikmanik plastik, tali nilon, dan cahaya. Karya ini menggunakan manik-manik spotlight dan glow in the dark yang sering dianggap sepele, tali nilon sebagai media penjalin antar manik-manik, dan filosofi cahaya secara transendental. Identitas Sebagai seorang muslim, pengkarya perlu untuk membawa semangat dan identitas Islam untuk menunjukkan jatidiri dan mengatur posisi dalam berkesenian. Sebagai seorang khalifah . akil Tuha. , seniman muslim wajib mempertanggungjawabkan kreasi artistik dan estetiknya kepada Allah SWT. Pada kesempatan ini pengkarya menggunakan Estetika Al-Faruqi yang meyakini tentang larangan menggambar manusia dan binatang . sebagai batasan dalam visualisasi karya. Bermaksud untuk memahami Estetika Al-Faruqi lebih mendalam menjadi semangat besar untuk membuktikan tentang tujuan estetika ini dalam mengesakan Allah SWT. Jalan ini tentunya akan berakibat pada hilangnya Gambar 3. Tali nilon (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Faig Ahmed otonomi seniman karena harus menjadi seorang hamba yang taat. Referensi Kekaryaan Untuk menunjang kekaryaan yang dilakukan, pengkarya memilih pendekatan tiga seniman yang dinilai sesuai untuk dijadikan acuan baik dari segi tema maupun Ketiga seniman tersebut, adalah sebagai berikut : Mona Hatoum Gambar 5. Faig Ahmed. Oiling, 2012 (Sumber: w. Faig Ahmed berasal dari Sumqayit. Azerbaijan. Ia terkenal dengan karya instalasi, pahatan dan karya seni konseptualnya yang menyusun ulang makna totem, religiusitas, sosial, politik dan estetika dari budaya oriental menjadi bentuk seni kontemporer. Dia mengekstrak bentuk dan memunculkan konten baru pada visual karpet-karpet tradisional dari Gambar 4. Mona Hatoum. Marbles Carpet, 1995 (Sumber: https://w. Artwork/Marbles-Carpet/40AACF49123BA. Mona Hatoum lahir di Lebanon dari keluarga keturunan Palestina. Pada tahun 1979 dia pergi ke London karena perang pecah di Lebanon, dan kejadian ini menciptakan semacam dislokasi yang memanifestasikan dirinya dalam berkarya. Karya Mona Hatoum yang berjudul AoMarbles CarpetAo menjadi salah satu referensi yang kuat sekaligus sebagai karya Hatoum dikenal menantang gerakan surealis dan minimalis, ia membuat karya yang mengeksplorasi konflik dan kontradiksi dunia. Pada akhir 1980-an, ia mulai membuat instalasi dan patung dalam berbagai bahan. Dia telah membuat sejumlah karya menggunakan bendabenda rumah tangga yang ditingkatkan atau diubah untuk membuat lebih akrab tetapi tidak biasa. AuPerubahan yang ia operasikan pada karpet tradisional mengungkapkan penampilan dan makna baru untuk simbol universal, karpet Faig bukan lagi benda dekoratif dengan keahlian tinggi, tetapi, diubah bentuknya, bangkit dari tempatnya di lantai dan menjadi benda seni, instrumen yang memberi tahu cerita disusun ulang dan ditulis ulang oleh senimanAy3. Tair Bayramov. PhD juga mengungkapkan pendapatnya yang lebih mendalam tentang karya Faig Ahmet, yaitu: https://w. com/il-tappeto-come-metafora-culturale-intervista-con faig-ahmed/?lang=en. Diakses 15 Mei 2021, pukul 15:30 WIB. Priyanto: Misykat Cahaya Spiritualitas dalam Seni Tauhid Proses Penciptaan Karya Eksplorasi media Aukarpet Faig Ahmed dapat dianggap sebagai teks bertingkat: tingkat pertama adalah pola karpet tradisional, lapisan kedua adalah transformasi karpet, perubahan bentuk, pola dan konteks. Dan lapisan ketiga terdiri dari konotasi filosofis dan ideolo- Setelah menentukan media, pengkarya melakukan eksplorasi untuk lebih mengenal dan memahami karakteristik material yang dimiliki oleh media. Langkah ini untuk mengetahui filosofi yang dapat diambil dari media yang kemudian akan dijadikan sebagai medium. gis dari seniman dan audiensAy. James Turrel Gambar 6. James Turrel. AuProjection Series : Carn GreendAy, light, 1968 (Sumber : https://jamesturrell. com/work/ Gambar 7. Eksperimen Cahaya dan Manik-manik (Sumber: Dokumentasi Teguh Agus Priyanto. James Turrell lahir pada tahun 1943 di Los Angeles. Pendidikannya di tempuh di Pomona College, dengan konsentrasi pada psikologi dan matematika. Sejak 1966, ia telah menciptakan karya seni terutama yang dibuat dari cahaya. Seluruh karyanya didedikasikan untuk menangani cahaya alami dan buatan serta manifestasi Pendekatan kekaryaan James Turrel menjadi salah satu referensi yang mampu membuat pengkarya merasakan perasaan yang dalam terutama perasaan tentang Benturan dan penggabungan antara cahaya dan ruang yang ditangani dengan penguasaan teknis yang mumpuni menjadikan karya tersebut sangat sublime bahkan subtil dan berhasil menghadirkan ambience yang kuat. Eksperimen ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh jenis dan warna cahaya yang disorotkan ke manik-manik spotligth dan glow in the dark. Eksperimen cara menyusun manikmanik Gambar 8. Eksplorasi merangkai manik-manik (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. https://faigahmed. com/tahir_bayramov (Tahir Bayramov. Transformations Applied Fine And Decorative Art Issues No 1-2 . Diakses 15 Mei 2021, pukul 15:00 WIB. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Pada tahap ini pengkarya membuat beberapa alternatif ornamen Arabesque, kemudian dipilih satu sketsa yang nantinya akan dijadikan acuan untuk tahap desain Ornamen Arabesque adalah contoh bentuk seni Islam yang lahir dari keyakinan akan larangan menggambar makhluk hidup . , sekaligus ornamen yang dapat menggambarkan sifat Tuhan yang tak terbatas lewat pola-pola Tahap ini dilakukan untuk mencari cara bagaimana sistem merangkai manikmanik yang kuat dan sesuai dengan wujud Selain itu, tahap ini juga digunakan untuk memilih jenis dan ukuran tali nilon yang kuat menahan beban karya dan mudah ketika menjahit. Sketsa Karya Disamping untuk mencari bentuk karya yang sesuai dengan konsep, tahap ini juga dimanfaatkan oleh pengkarya sebagai langkah untuk lebih memahami karakteristik estetis dari Estetika Al-Faruqi. Proses pemahaman ini terjadi ketika pengkarya melakukan eksplorasi pencarian bentuk ornamen Arabesque hingga sampai pada bentuk karya yang sama sekali tidak ada ornamen dan hanya mengandalkan kekuatan material dan shaping dari karya. Proses pembuatan sketsa karya terdapat empat tahapan, yaitu tahap sketsa manual, tahap digitalisasi sketsa, tahap komposisi warna, dan tahap desain akhir. AuIa (Arabesqu. merupakan entitas struktural yang selaras dengan prinsip-prinsip estetika ajaran Islam. Arabesque mampu memberi kesan kepada pengamatnya suatu intuisi sifat-sifat ketakterhinggaan . yang melampaui ruang-waktu, tanpa harus disertai Aebagi Muslim- klaim absurd bahwa pola-pola itu sendiri berada di luar ruangwaktu. Melalui kontemplasi atas pola-pola infinit ini, jiwa pengamat akan diarahkan kepada yang ilahi dan seni menjadi suatu penguat dan penegak keyakinan agamaAy (Al-Faruqi, 1999: . Dari pernyataan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Tuhan mempunyai sifat tak terhingga dalam segala hal . eadilan, ampunan, pengetahuan, cinta. Sifat-sifat-Nya selalu diluar jangkauan pemahaman manusia. Pola-pola yang tidak memiliki awal dan akhir yang memberikan kesan ketakterhinggaan . , dengan demikian pola ini merupakan cara terbaik untuk mengekspresikan ajaran Tauhid melalui seni. Melalui pola-pola infinit kandungan subtil ajaran Islam dapat dialami dan dirasakan. Tahap sketsa manual Ada dua proses dalam tahap ini, yaitu sebagai berikut: Proses pembuatan sketsa ornamen secara manual . Proses pembuatan sketsa sesuai ukuran manik-manik Setelah dipilih satu ornamen, tahap selanjutnya adalah mencoba mengaplikasikan ornamen dalam bentuk rangkaian manik-manik lewat sketsa gambar. Dalam tahap ini akan terjadi perubahan pola ornamen, karena disesuaikan dengan bentuk manik-manik dan teknis merangkai manik-manik tersebut. Perubahan pola or- Gambar 9. Proses sketsa manual (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Priyanto: Misykat Cahaya Spiritualitas dalam Seni Tauhid namen tidak akan berpengaruh pada konsep, karena sifat infinit dari pola yang terbentuk tidak hilang. dengan tahap mencari pola geometris seperti yang nampak dalam sketsa-sketsa di atas. Warna dapat membangun impresi awal dari sebuah karya, dengan begitu warna dapat difungsikan sebagai unsur visual paling awal untuk menarik perhatian calon apresiator. Untuk membangun kesan proses spiritualitas di tingkatan awal hingga menuju ke tingkatan yg paling mendalam, pengkarya memanfaatkan warna-warna pop yang didapat dari warna manik-manik plastik spotligth dan glow in the dark. Gambar 10. Proses pembuatan sketsa sesuai ukuran manik-manik (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Tahap digitalisasi sketsa Gambar 12. Proses komposisi warna (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Tahap desain akhir Gambar 11. Proses digitalisasi sketsa (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Tahap digitalisasi sketsa adalah proses mentransfer sketsa manual yang dibuat dalam tahap pertama ke dalam bentuk digital dengan bantuan komputer. Bentuk sketsa digital dibuat untuk mempermudah penggandaan modul yang kemudian disusun menjadi satu karya utuh. Sistem digital juga akan membantu pengkarya untuk mengukur kepresisian sistem modular ketika direpetisi. Gambar 13. Desain akhir karya (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Tahap komposisi warna Tahap pencarian komposisi warna ini menjadi tahap yang tidak kalah pentingnya Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 Pada tahap ini pengkarya sudah menentukan desain akhir karya dan berapa banyak seiries karya yang akan Dalam karya Misykat Cahaya ini akan diproduksi lima series karya yang menggambarkan tentang proses perjalanan spiritualitas pengkarya secara personal. Lima series desain akhir di atas adalah bentuk metafora dari kehadiran Nur Ilahi yang mempengaruhi tingkatan Seperti yang dikatakan oleh Al-Ghazali mengenai keindahan luar yang kasat mata yang mampu dipahami oleh orang awam bahkan anak kecil, hingga menuju pemahaman keindahan dalam yang tidak kasat mata dan tidak semua orang mampu merabanya. Gaya ekspresi estetis Seni Tauhid masih terasa sangat kental di dua sketsa awal, karena apresiator masih disuguhi dengan pola ornamental Arabesque yang kasat Namun untuk sketsa selanjutnya adalah karya yang menuntut apresiator untuk berpikir dan merasakan lebih dalam tentang unsur-unsur estetis pembentuk atau penanda ketauhidan dalam karya tersebut. Penghilangan ornamen digantikan oleh intensitas kehadiran cahaya lewat serapan dan pembiasan cahaya yang dilakukan oleh medium karya. Jadi sebenernya gaya estetis penyusun ekspresi Seni Tauhid (Abstraksi, struktur modular, kombinasi suksesif, repetisi, dinamisme, dan kerumita. tidak hilang, tapi diganti dengan wujud yang lebih esensial dari karakter medium. Untuk memaksimalkan potensi karya, presentasi karya juga harus dibangun dengan mempertimbangkan ruangan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, pengkarya juga mengadopsi teknis digital sebagai langkah untuk mensimulasikan Langkah ini sangat membantu pengkarya untuk menghasilkan banyak sketsa yang akan menjadi pilihan dalam menghadirkan suasana display yang lebih terkesan transendental. Gambar 14. Sketsa digital simulasi display karya (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Proses Eksekusi Karya Setelah konsep dan desain akhir karya selesai, tiba waktunya rancangan tersebut untuk dieksekusi dengan material asli, yaitu manik-manik yang dirangkai satu per satu dengan tali nilon. Sekilas merangkai manik-manik ini terkesan mudah, namun setelah dieksekusi teknis ini ternyata butuh kesabaran dan konsentrasi yang tinggi, pengeksekusian karya harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati agar sesuai dengan sketsa yang sudah dirancang. Gambar 15. Proses merangkai manik-manik per modul (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Teknis merangkai manik-manik dilakukan permodul, cara ini dilakukan untuk mempermudah proses pengerjaan sekaligus sebagai jalan untuk lebih Priyanto: Misykat Cahaya Spiritualitas dalam Seni Tauhid memahami Estetika Al-Faruqi. Manikmanik dirangkai per modul, kemudian modul-modul tersebut disatukan membentuk sebuah karya yang utuh. yaitu manik-manik plastik, nilon dan Meskipun medium tersebut bagi orang lain terkesan remeh, namun bagi pengkarya mereka mempunyai nilai yang Nilai ini didapat dari pertemuan yang intensif dan berulang-ulang. Dwi Marianto lewat pendekatan daya levitasi menjelaskan fenomena tentang nilai ini, contohnya lewat karya seni. AuDaya levitasional dalam konteks seni dapat dianalogikan sebagai daya menarik keluar antusiasme dari bawah sadar kita. Atau sebagai daya yang merangsang pemunculan imajinasi ke tingkat kesadaran atau sebagai daya yang merangsang terbangunnya keinginan seseorang untuk melakukan sesuatu yang sesuai rangsangan yang ditimbulkan oleh suatu subjekAy (M. Dwi Marianto, 2015: . Gambar 16. Proses merangkai modul menjadi karya utuh (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. Setelah karya terangkai, karya harus diperiksa kebenaran susunan polanya dan diujicoba daya tahan jalinan tali nilonnya. Kemudian Tahap berikutnya adalah menguji pengaruh cahaya terhadap karya. Tahap ini untuk memastikan penggunaan warna cahaya, jenis cahaya dan kualitas terangnya cahaya. Seperti pernyataan M. Dwi Marianto, bagi pengkarya medium karya di atas mampu membangunkan daya hidup untuk lebih memahami spiritualitas lewat kedudukan hamba dengan Tuhannya. Ada tingkatan tanda yang harus dianalisa agar bisa memahami karya ini. Pertama adalah manik-manik dan nilon sebagai objek, kedua adalah ekspresil estetis Al-Faruqi dan ketiga adalah cahaya yang diserap oleh objek. Dari ketiganya dapat disimpulkan tentang eksistensi objek dengan pengaruh cahaya. Tanpa cahaya, sebuah benda tidak akan kelihatan oleh mata. Sementara objek yang dipilih dalam karya ini adalah benda yang lebih eksis apabila keberadaan cahaya semakin Bukan berarti karya ini tidak membutuhkan cahaya, akan tetapi cahaya akan diserap dan dipantulkan oleh daya material fosfor yang ada di dalam manikmanik penyusun karya. Peristiwa ini dapat ditarik benang merahnya dengan fenomena hidayah. Nur dapat diserap apabila kita mampu membaca tanda-tanda datangnya hidayah. Keberadaan Tuhan akan terasa hadir apabila mata batin sudah dibuka dari hijabnya. Gambar 18. Proses ujicoba cahaya pada karya (Sumber: Teguh Agus Priyanto, 2. SIMPULAN Esensi objek dan cahaya serta kombinasi bentuk . dipinjam untuk menggambarkan eksistensi pengkarya sebagai umat Islam sekaligus seniman muslim. Metafora digunakan sebagai idiom untuk mengkomunikasikan medium yang dipilih. Pantun Jurnal Ilmiah Seni Budaya Vol. 6 No. 1 Juni 2021 ini sesuai dengan ungkapan dari Yahya bin Muadz Ar-Razi. AuBarang siapa mengenal dirinya, sesungguhnya ia telah mengenal TuhannyaAy (Yunal Isra, 2. Dengan demikian manusia, alam, dan semua ciptaan Allah, seluruh peristiwa, bahkan benda-benda buatan manusia adalah tanda yang datang dari Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Tanda agar pengkarya menyadari posisinya sebagai seniman muslim yang selalu menghamba kepada Allah SWT. Kemampuan membuka hijab inilah yang pada akhirnya akan memperlihatkan tentang kenyataan akan eksistensi manusia yang seharusnya sadar akan keberadaan Allah SWT. Bagi seniman Muslim, karya seni adalah media atau jalan menuju pemahaman yang tak terpahami sekaligus cerminan dari Karya seni adalah medium untuk menunjukkan sifat keesaan Allah SWT. Mengingat karya seni sebagai ekspresi terdalam, seniman muslim sepatutnya lebih mengenal Tuhannya. Hal Daftar Pustaka Al-Faruqi. Ismail RajiAo. Cultural Atlas of Islam. Diterjemahkan oleh: Hartono Hadi Kusumo. Seni Tauhid: Esensi dan Ekspresi Estetika Islam. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Piliang. Yasraf Amir. Semiotika dan Hipersemiotika. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.