KRITIK NAWAL EL-SAADAWI ATAS BUDAYA PATRIARKI MESIR TERHADAP IDENTITAS PEREMPUAN DALAM NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL PERSEPEKTIF SEMIOTIKA UMBERTO ECO Khoirurrosi1. Ayu Siwi Wening Nurahnis2 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya1,2 khoirurrosi13@gmail. com1, ayusiwi96@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya patriarki mesir terhadap hak ataupun identitas Perempuan ditengah-tengah budaya patriarki dalam novel Perempuan di Titik Nol karya el-saadawi. Perempuan dalam sudut pandang budaya patriarki seringkali diperlalukan dengan tidak adil, perempaun sering dilihat sebagai makhluk kasta kedua bahkan disebut sebagai manusia yang tidak sempurna. Keberadaan perempuan dianggap sebagai sesuatu yang kebetulan dan tidak penting akan keberadaannya. Nawal El-Saadawi menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan yang hidup ditengah-tengah budaya patriarki yang penuh dengan penindasan dan ketidak adilan. Firdaus yang merupakan pemeran utama dalam novel ini sebagai gambaran kehidupan Perempuan yang menjadi pelayan sebagai makhluk kasta kedua dalam budaya ptriarki. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Umberto Eco sebagai landasan teoritis dalam menemukan tanda pada teks yang menunjukkan kritik pengarang terhadap budaya patriarki khususnya di mesir. Metode yang digunakan oleh peniliti adalah deskriptif-analitik, sedangkan sumber data yang diambil berupa novel yang perjudul Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi. Hasil penelitian ini menunjukkan kritik El-Saadawi terhadap ketidak adalian gender dan bentuk identitas perempuan serta budaya patriarki yang menindas kaum Kata kunci: Budaya Patriarki. Perempuan di Titik Nol. Semiotika Umberto Eco PENDAHULUAN Novel AuPerempuan di Titik NolAy merupakan karya sastra Nawal El-Saadawi yang telah melakukan berbagai kajian tentang pembebasan perempuan dari diskriminasi budaya Dalam sebagian besar kebudayaan, perempuan seringkali ditempatkan pada posisi inferior dibandingkan laki-laki, dianggap sebagai manusia kelas dua di bawah dominasi laki-laki yang masih dianggap sebagai manusia kelas satu. Nawal el Saadawi mencoba mengecam struktur patriarki ini dan menegaskan bahwa perempuan dan lakilaki harus memiliki martabat kemanusiaan yang setara. Oleh karena itu, penulis tertarik dengan perspektif Nawal El-Saadawi tentang representasi perempuan dalam novel AuPerempuan di Titik NolAy. Saadawi menggambarkan permasalahan perempuan dengan menggabungkan pengetahuan medisnya dengan bakatnya dalam menyusun kata-kata. Berangkat dari latar belakangnya sebagai seorang dokter, ia mencoba mengungkap permasalahan fisik yang dihadapi perempuan dan mengaitkannya dengan aspek budaya, gender, dan patriarki yang semakin merugikan perempuan. Setelah itu, hasil penelitiannya ia gunakan sebagai landasan untuk menciptakan karya sastra (Pranowo, 2. Saadawi berpendapat bahwa perempuan harus mampu membebaskan diri dan menegaskan diri dalam mengutarakan pemikirannya. Hal ini melibatkan perlawanan terhadap kesalahpahaman, pandangan minoritas dan sikap lemah yang sering diasosiasikan terhadap perempuan. Dengan hal tersebut, diharapkan muncul kesadaran baru dalam diri mereka, menyadari bahwa pada kenyataannya tidak ada perbedaan yang signifikan antara perempuan dan laki-laki (Saadawi, 2. Patriarki adalah sistem sosial dan serangkaian praktek yang menempatkan lakilaki pada posisi superior untuk mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi perempuan (Setyowati, et al. , 2. Sistem ini menjadi salah satu penyebab terjadinya kesenjangan gender yang menempatkan perempuan pada posisi lebih rendah dibandingkan laki-laki. Sejak zaman dahulu, berbagai kebudayaan di seluruh dunia menempatkan laki-laki pada posisi teratas dalam struktur sosial, sedangkan perempuan ditempatkan pada posisi lebih rendah (Sakina dan Siti, 2. Fenomena ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari, di mana patriarki dianggap sebagai prasyarat terciptanya tatanan sosial yang terkonstruksi. Salah satu contohnya adalah pada zaman Weda, sekitar tahun 1500 SM, di mana perempuan tidak diperbolehkan menerima warisan dari mendiang suami atau keluarganya. Menurut tradisi masyarakat Budha yang ada sejak 1500 SM, perempuan diharuskan menikah sebelum masa pubertas dan seringkali tidak berpendidikan, sehingga banyak dari mereka yang buta huruf. Dalam hukum agama Yahudi, perempuan dianggap makhluk inferior, tidak murni, dan sumber Karena pandangan ini, perempuan dilarang menghadiri upacara keagamaan dan hanya diperbolehkan pergi ke tempat ibadah (Setyowati, et al. , 2. Refleksi kehidupan atau situasi sosial sebagaimana terlihat pada budaya patriarki dapat tersampaikan melalui tokoh atau konflik yang diungkapkan dalam karya sastra, khususnya novel. Novel merupakan suatu bentuk prosa fiksi yang panjangnya berbedabeda, tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang (Nurgiyantoro, 2. Dalam novel, penggunaan bahasa menunjukkan tujuan dan aspek tertentu terkait isi cerita (Setyowati, et al. , 2. Penulis memilih novel AuPerempuan di Titik NolAy karya Nawal El-Saadawi karena karya ini menggambarkan banyak penderitaan yang harus dialami perempuan Mesir dalam konteks budaya Arab yang didominasi oleh patriarki, termasuk kekerasan terhadap perempuan, penindasan dan hukum serta ketidakadilan terhadap perempuan. Oleh karena itu peneliti memilih novel AuPerempuan di Titik NolAy karya Nawal El-Saadawi sebagai objek penelitian. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, dimana peneliti memberikan respon terhadap rumusan masalah terkait kritik Nawal El-Saadawi atas budaya patriarki mesir terhadap identitas perempuan dalam novel Perempuan di Titik Nol menggunakan teori semiotika Umberto Eco. Pendekatan penelitian ini adalah mengumpulkan data sebagai landasan utama, termasuk menganalisis kritik penulis terhadap budaya patriarki mesir terhadap perempuan. Data-data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teori semiotika Umberto Eco dan hasil analisis disajikan dalam bentuk naratif. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah cerpen Perempuan di Titik Nol yang ditulis oleh Nawal El-Saadawi untuk mengungkapkan kritiknya terhadap budaya patriarki mesir terhadap perempuan. PEMBAHASAN Semiotika Secara etimologis, semiotika berasal dari kata Yunani AusemeionAy yang berarti Semiotika merupakan salah satu bidang ilmu yang mempelajari konsep tanda dan cara kerja tanda tersebut. Suatu tanda digambarkan sebagai sesuatu yang berdasarkan norma-norma sosial yang sudah ada sebelumnya, diyakini mewakili sesuatu yang lain. Secara terminologi, semiotika diartikan sebagai ilmu yang mempelajari berbagai objek, peristiwa dan seluruh aspek kebudayaan yang berupa tanda-tanda. Oleh karena itu, semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tanda dan simbol yang berperan penting dalam memahami komunikasi. Kajian semiotika ini berkaitan dengan teori utama tentang bagaimana tanda merepresentasikan objek, ide, situasi, emosi, dan lain-lain, di luar diri Charles Peirce . alam Rusmana, 2014:22-. menjelaskan semiotika sebagai suatu bidang studi yang membahas tentang tanda-tanda dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Hal ini mencakup bagaimana tanda berfungsi . intaksis semiotik. , hubungannya dengan tanda lain . emantik-semiotik. , dan bagaimana pengguna tanda berinteraksi dengannya . Peirce juga mengemukakan bahwa bahasa dan budaya tidak hanya mempunyai otoritas tetapi fenomena alam juga dapat dijelaskan melalui semiotika, yang dapat membantu memecahkan masalah inferensi . erpikir logi. melalui tanda-tanda, yang memungkinkan manusia berkomunikasi dan memahami Sebaliknya. Ferdinand De Saussure . alam Rusmana, 2014:. mendefinisikan semiotika sebagai studi tentang tanda-tanda dalam masyarakat, termasuk aspek psikologi sosial. Semiotika ini mempertemukan berbagai hal yang berkaitan dengan tanda dan aturan-aturan yang mengaturnya. Saussure percaya bahwa realitas terletak pada bahasa, yang merupakan inti teorinya. Ini berfokus pada struktur dan komponen sistem tertentu pada suatu waktu. Secara umum, semiotika merupakan ilmu yang lahir dari pemikiran dua tokoh yang berbeda. Saussure Eropa dan Peirce Amerika. Keduanya menjadi pionir dalam kajian ilmu simbol. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semiotika adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari konsep tanda dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, termasuk sistem tanda dan proses-proses yang berkaitan dengan Semiotika berupaya mengidentifikasi dan mengungkapkan ciri-ciri serta makna yang terkandung dalam tanda-tanda yang ada pada konteks tertentu. Mengikuti pemikiran kedua tokoh tersebut. Umberto Eco, dalam karyanya yang berjudul AuTheory of SemioticsAy pada tahun 1976, mengembangkan visi teoritis dan fungsional sosial dari pendekatan global terhadap fenomena makna dan komunikasi. Eco berupaya mengeksplorasi sifat dinamis tanda dan berfokus pada modifikasi sistem tanda. Ia juga mengganti konsep simbol dengan konsep fungsi simbolik, dan upayanya adalah menciptakan sistem semiotika umum yang mampu menjelaskan seluruh aspek sifat, bentuk dan fungsinya. Fungsionalitas suatu simbol didasarkan pada interaksi antar unsur dalam satu kode atau lebih. Teori Eco mengintegrasikan banyak teori semiotika sebelumnya dan memperdalam pokok bahasannya. Eco berupaya memahami tandatanda dalam konteks yang lebih luas, termasuk komunikasi linguistik, kode, evolusi, dan interaksi komunikatif. Ia memahami bahwa tanda datang dalam berbagai bentuk, termasuk simbol, dan memainkan peran penting sebagai sarana komunikasi antar manusia untuk menyampaikan makna bersama (Sholehah, et al. , ). Oleh karena itu, semiotika merupakan bidang studi yang kompleks dan luas yang berhubungan dengan tanda, makna, dan sistem komunikasi yang terkait dengan tanda tersebut. Kehidupan Tokoh Firdaus di Tengah Kebudayaan Patriarki Bentuk Patriarki (Pribad. Produksi rumah tangga Bentuk patriarki domestic produksi dalam rumah tangga tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut: AuDi atas kepala, saya menjunjung sebuah kendi berisi tembikar yang berat penuh berisi air. Karena beratnya kadang-kadang leher saya tersentak ke belakang, ke kiri, atau ke kanan. Saya harus mengerahkan tenaga saya untuk tetap menjaga keseimbangan di atas kepala saya, dan menjaga agar jangan Saya gerakkan kaki dengan cara yang diajarkan Ibu kepada saya, sedemikian rupa sehingga leher saya tetap tegak. Saya masih muda ketika itu, dan payudara saya belum membulatAy (Saadawi, 2018, 16-. Dari kutipan di atas dapat kita simpulkan bahwa Firdaus sejak dini sudah dibiasakan untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan rumah tangga. Hal ini disebabkan adanya persepsi bahwa perempuan dianggap kurang memenuhi syarat dalam pekerjaan berbayar sehingga harus mempelajari keterampilan pekerjaan rumah tangga sejak usia muda. Berbeda dengan pandangan Engels yang memisahkan pekerjaan lakilaki dan perempuan berdasarkan tugas yang berbeda. Delphy lebih fokus pada perbedaan berdasarkan hubungan produksi. Ia menganggap ibu rumah tangga sebagai golongan yang bertanggung jawab atas produksi, sedangkan suami dianggap sebagai golongan yang bertanggung jawab atas produksi. Dengan adanya narasi diatas El-saadawi mengkritik keras terhadap budaya patriarki yaitu mempekerjakan seorang anak yang masih belum dewasa bahkan masih terhitung dibawah umur, alangkah malangnya negeri mesir yang dijung-jung sebagai negara yang memiliki pendidikan terkenal dengan alumninya yang paham akan agama namun patriarki begitu marak dan kehidupan yang keras sebagaimana yang dialami tokoh Firdaus. AuPada suatu hari saya bertanya kepada Ibu tentang dia. Apa sebabnya ibu melahirkan saya tanpa seorang ayah? Mula-mula ia memukul saya. Kemudian ia membawa seorang wanita yang membawa sebilah pisau kecil atau barangkali pisau cukur. Mereka memotong secuil daging di antara kedua paha sayaAy (Saadawi, 2018, . Dalam kutipan tersebut kita dapat melihat bahwa sunat pada perempuan juga sangat umum terjadi di negara-negara Arab. Praktek ini didasari oleh keyakinan bahwa dengan menghilangkan sebagian alat kelamin luar seorang wanita, maka hasrat seksualnya dapat berkurang. Sunat biasanya dilakukan pada anak perempuan saat berusia tujuh atau delapan tahun, sebelum masa menstruasi. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari risiko yang terkait dengan mutilasi perempuan, bahkan ada yang percaya bahwa jika mereka tidak melakukan mutilasi, mereka akan dipandang rendah oleh masyarakat. Mereka takut kelakuannya tidak baik, mereka akan mengejar laki-laki sehingga ketika tiba waktunya menikah, tidak ada yang mau menikah dengan mereka (Saadawi, 2011, . Bentuk budaya yang ada di masyarakat patriarki menjadi salah satu hal yang disampaikan dalam kutipan Berikutnya: AuDi musim panas saya dapat melihat Ibu duduk dekat kaki Ayah dengan sebuah mangkuk timah di tangannya ketika ia membasuh kakinya dengan air dingin. Ketika saya bertambah besar sedikit. Ayah meletakkan mangkuk di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan airAy (Saadawi, 2018, . Dalam kutipan tersebut, terlihat sebuah tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun di keluarga Firdaus. Praktik mencuci kaki suami atau ayah dianggap sebagai tindakan penghormatan dan pelayanan terhadap suami atau ayah, baik sebagai figur orang tua maupun sebagai kepala keluarga. Tindakan mencuci kaki suami diinterpretasikan sebagai simbol kedudukan perempuan yang lebih rendah daripada laki-laki dalam struktur keluarga. Selain itu, negara mempunyai pengaruh kepentingan patriarki seperti yang terlihat pada tindakan dan kebijakan. Kekerasan laki-laki terhadap perempuan ditoleransi secara sistematis dan disahkan oleh penolakan negara untuk campur tangan dalam melawan sebagaimana kutipan di bawah ini: AuPada suatu peristiwa dia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi memar. Lalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah PamanAy (Saadawi, 2018, . Dari pernyataan tersebut. Firdaus nampaknya lebih memilih kembali ke pamannya ketimbang melaporkan penganiayaan yang dialaminya di tangan suaminya ke polisi. Hal ini disebabkan karena budaya patriarki yang memandang bahwa kekerasan yang dilakukan suami terhadap istrinya tidak dianggap sebagai tindak pidana, sehingga Firdaus tidak berencana mencari perlindungan hukum kepada negara, negara tersebut merupakan negara tempat tinggal Firdaus yaitu Mesir. Kritik yang disampaikan ElSaadawi dalam oretan tintanya terhadap sikap negara mesir yang sangat jauh dari asas kemanusiaan begitu sangat padas, hal tersebut bis akita lihat dari kutipan. AuLalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah PamanAy. Bentuk Patriarki Publik AuKe universitas? Ke suatu tempat di mana dia akan duduk bersebelahan dengan laki-laki? Seorang syekh dan laki-laki yang saleh macam aku ini akan mengirimkan kemenakan untuk berbaur dengan kumpulan orang lakilaki?Ay (Saadawi, 2018, . Dalam kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa meskipun perempuan mempunyai hak atas pendidikan, namun mereka masih terkendala oleh tidak terdorongnya mereka untuk melanjutkan pendidikan tinggi di perguruan tinggi. Universitas dianggap sebagai tempat yang lebih cocok bagi laki-laki terhormat, sehingga perempuan tidak boleh bersaing dengan mereka. Alasan tersebut sebenarnya hanya sekedar alasan saja, karena laki-laki sadar jika perempuan mempunyai ilmu yang lebih tinggi maka akan sulit untuk Dalam struktur patriarki yang ada di masyarakat Mesir, perempuan selalu dirugikan dalam segala institusi. Meski diperbolehkan bekerja, namun mereka tetap ditempatkan pada jabatan yang lebih rendah. Dalam bidang pekerjaan berupah, sejumlah strategi digunakan untuk melemahkan semangat perempuan dengan mengizinkan mereka bekerja, namun membatasi mereka pada pekerjaan yang seringkali dianggap bernilai lebih rendah dibandingkan pekerjaan lain yang dilakukan oleh laki-laki. Selain itu, banyak pula laki-laki yang memanfaatkan kekuasaannya untuk mengontrol perempuan demi kepentingan pribadi. Hal ini mencerminkan pesan dalam kutipan AuSaya menatap matanya. Matanya dengan jelas berkata. Kau pegawai hina dan miskin yang tak ada harganya, berlari mengejar bis untuk menaikinya. Saya akan membawamu dalam mobil saya karena tubuh kewanitaanmu telah menimbulkan berahi. Suatu kehormatan bagimu untuk diingini seorang pejabat berpangkat yang terhormat seperti saya ini. Dan siapa tahu barangkali kelak di suatu hari, saya dapat membantumu untuk naik gaji lebih dulu dari yang lainnyaAy (Saadawi, 2018, . Pendapat El-Saadawi dalam menantang patriarki dinegaranya begitu sangat lugas, dimana Saadawi sangat menantang jika perempuan hanya dijadikan sebagai alat pemuas dan pelampiasan pribadi. Naif jika hal tersebut masih berlaku hingga sekarang. KESIMPULAN Hasil penelitian ini dapat diringkas sebagai berikut. Budaya patriarki dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu budaya patriarki keluarga . , yang melibatkan penindasan terhadap perempuan dalam bidang produksi keluarga, dimana patriark mengontrol perempuan dalam rumah tangga. Struktur patriarki yang dominan di negara ini berfokus pada produksi dalam negeri, sementara pengaruh patriarki meluas ke berbagai aspek kehidupan seperti pekerjaan, negara, seksualitas, kekerasan, dan Di sisi lain, budaya patriarki publik menyiratkan adanya subordinasi perempuan di ranah publik. Struktur dominan patriarki publik terkait dengan pekerjaan dan peran negara, namun juga mempunyai dampak yang mempengaruhi produksi keluarga, seksualitas, kekerasan, dan budaya. Data yang disajikan dalam artikel ini menunjukkan adanya permasalahan sosial secara luas yang mempunyai akar permasalahan yang sama, yaitu dominannya budaya patriarki dalam kehidupan manusia. Budaya patriarki tidak hanya ada di Indonesia tetapi juga menyebar ke seluruh dunia. Misalnya saja tokoh Firdaus yang kerap mengalami berbagai bentuk penindasan seperti kekerasan fisik, pelecehan seksual, dan ketidakadilan dari sistem peradilan ketika ia berusaha membela diri. Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan persepsi masyarakat terhadap perempuan dan membatasi kebebasannya, baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Tujuannya adalah untuk mencapai persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. DAFTAR PUSTAKA