Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 UPAYA M ENINGKATKAN H ASIL BEL AJ AR SIS WA DEN GAN M ENGGUNAK AN M EDIA AUDIO VISU AL P AD A M AT A PELAJARAN SENI BUDAYA MATERI POLA LANTAI TARI KREASI KELAS IX-2 SMP NEGERI 7 MEDAN TAHUN AJ AR AN 2 0 1 8 /2 01 9 Lora Elpina Guru SMP Negeri 7 Medan Abstrak Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan menggunakan Media Audio Visual materi pola lantai tari kreasi di kelas IX SMP Negeri 7 Medan. Penelitian ini termasuk jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Ciri khas PTK adalah adanya siklus-siklus yang merupakan suatu pemecahan menuju praktek pembelajaran yang lebih baik. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas IX-3 SMP Negeri 7 Medan Tahun Ajaran 2017/2018 sebanyak 1 kelas yaitu 32 orang siswa. Berdasarkan dari hasil temuan data hasil penilitian tersebut maka dapat dijelaskan bahwa pada saat siklus I hasil belajar Seni budaya khususnya pada materi pokok pola lantai tari kreasi tergolong rendah dengan rata-rata 64,24. Dengan perincian tidak ditemukan siswa . %) yang mendapat nilai sangat rendah . , siswa mendapatkan nilai rendah . ditemukan sebanyak 3 orang siswa . %), siswa mendapat nilai sedang . sebanyak 13 orang siswa . %), mendapat nilai tinggi . sebanyak 17 orang siswa . %) dan tidak ditemukan siswa yang mendapat nilai sangat tinggi . Dari 32 orang siswa pada siklus II diperoleh 94% dinyatakan tuntas, sedangkan siswa belum mengalami ketuntasan sebanyak 1 orang siswa 6% dengan nilai rata-rata 87,33. Dengan demikian pada siklus ke II penulis katakan nilai siswa sudah mencapai nilai KKM penelitian ini dihentikan dan tidak perlu lagi dilanjutkan ke siklus berikutnya. Kata Kunci: Hasil Belajar. Media Audio Visual. Pola Lantai Tari Kreasi. PENDAHULUAN Muatan Seni Budaya memiliki keterampilan dan nilai keindahan dalam suatu karya. Muatan Seni Budaya Daerah merupakan mata pelajaran yang terdiri dari 4 materi yaitu Seni Musik. Seni Rupa. Seni Teater dan Seni Tari. Dalam Proses pembelajaran sekolah saat ini yang memakai Kurikulum 2013 sudah diterapkan pembelajaran Seni Budaya Daerah (SBdP) yang berkaitan dengan keterampilan seni yang berbasis budaya. Dengan Seni Budaya akan membentuk peserta didik agar bisa bersaing dengan baik, karena semakin banyak keterampilan yang dimiliki peserta didik maka semakin berkembang kemampuan siswa dalam berkompetensi di sekolah dasar. Permendikbud Nomor 24 tahun 2016 mengenai Kompetensi inti dan kompetensi dasar pelajaran pada kurikulum 2013, pada aspek keterampilan Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 peserta didik muatan SBdP kelas V. Dalam proses pembelajaran sekolah yang memakai kurikulum 2013 terdapat kompetensi inti dan kompetensi dasar yang mengaitkan keterampilan peserta didik yaitu mempraktikkan pola lantai pada gerak tari kreasi daerah. Tujuan utama memperlajari pelajaran seni budaya di sekolah adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari, baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat secara umum. Ada dua permasalahan yang dihadapi guru PSB (Pendidikan Seni Buday. yakni yang meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang dialamai oleh siswa meliputi hal-hal seperti. sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, kemampuan mengolah bahan belajar, kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar, kemampuan menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi atau unjuk hasil belajar, rasa percaya diri siswa, intelegensi dan keberhasilan belajar, kebiasaan belajar dan cita-cita siswa. Faktor-faktor internal ini akan menjadi masalah sejauh siswa tidak dapat menghasilkan tindak belajar yang menghasilkan hasil belajar yang baik. (Dimyati & Mudjiono, 2. Faktor eksternal meliputi hal-hal sebagai berikut. guru sebagai pembimbing belajar, prasarana dan sarana pembelajaran, kebijakan penilaian, lingkungan siswa di sekolah, dan kurikulum sekolah. Dari sisi guru sebagai pembelajar maka peranan guru dalam mengatasi masalah-masalah eksternal belajar merupakan prasyarat terlaksanannya siswa dapat belajar. (Dimyati & Mudjiono, 2. Dalam praktek pembelajarannya harus senantiasa memperhatikan konteks yang berkembang. Pendekatan-pendekatan pembelajaran efektif yang diambil dari teori pendidikan modern menjadi salah satu intrumen penting untuk diperhatikan agar pembelajaran tetap menarik bagi peserta didik serta senantiasa relevan dengan konteks yang berkembang. Hasil belajar yang merupakan daya serap siswa yang berupa kemampuan kognitif atau kemampuan mengerjakan tes sampai sekarang masih menjadi pedoman untuk menaikan siswa ke kelas yang lebih tinggi dan menerima siswa atau mahasiswa baru. Oleh karena itu, mutu pendidikan yang digambarkan dalam hasil belajar bidang studi PSB masih sangat perlu segera ditingkatkan, terutama karena memasuki tantangan baru era globalisasi. Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka macam bentuk dan jenis media Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. Dalam menerangkan suatu benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung ke hadapan anak didik di kelas. Pola lantai yaitu titik-titik yang ditempati dan garis-garis yang dilalui Titik-titik dimana penari berada menciptakan garis sehingga formasi keseluruhan membangun suatu bentuk dua dimensi. Kemudian penari akan berpindah tempat, ia akan meninggalkan bekas garis dan alur gerak dari jalan perpindahannya tersebut (Lindawati,dkk,2016:. Penyebab permasalahan yang peneliti temukan dilihat dari kegiatan guru dalam proses pembelajaran salah satunya adalah pembelajaran Seni Tari guru hanya berfokus pada teori dari buku, bukan bagaimana cara praktik berkesenian yang baik dalam menari. Guru meminta peserta didik untuk meniru/imitasi sebuah video tari sehingga kurang memberikan kesempatan pada peserta didik untuk berkreatif lebih luas. Menggunakan dalam pengajaran terkadang sukar dilaksanakan, disebabkan dana yang terbatas untuk membelinya serta memakan waktu yang Pada umumnya guru menggunakan media yang digunakan sanagat sederhana selama menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Cukup banyak bahan mentah untuk keperluan pembuatan media pendidikan dan dengan pemakaian keterampilan yang memadai untuk tercapainya tujuan. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Pembelajaran dengan menggunakan media Audio-visual adalah sebuah cara pembelajaran dengan menggunakan media yang mengandung unsur suara dan gambar, dimana dalam proses penyerapan materi melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran. Umar Hamalik . dan Sudirman, dkk menyatakan media pembelajaran berfungsi sebagai : menyiarkan informasi penting. memotivasi siswa dalam . menambah pengayaan dalam belajar. menunjukkan hubungan-hubungan antar konsep. menyajikan pengalamanpengalaman yang tidak ditujukan guru. membantu belajar perorangan. mendekatkan hal-hal yang ada diluar kelas ke dalam kelas. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran yang bisa melibatkan lebih dari satu indra akan berpengaruh terhadap kualitas informasi yang diterima, dan semakin efektifnya dalam proses mengingat terhadap informasi yang sudah Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 KAJIAN TEORITIS Pengertian Belajar Belajar pada prinsipnya adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar baik secara sengaja dirancang atau tanpa sengaja dirancang. Kegiatan belajar tersebut dapat dihayati . oleh orang yang sedang belajar. Selain itu kegiatan belajar juga dapat di amati oleh orang lain. Belajar yang di hayati oleh seorang pebelajar . ada hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh pembelajar . Pada satu sisi, belajar yang di alami oleh pebelajar terkait dengan pertumbuhan jasmani yang siap berkembang. Pada sisi lain, kegiatan belajar yang juga berupa perkembangan mental tersebut juga didorong oleh tindakan pendidikan atau pembelajaran. Ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar sebagai berikut : Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih lagi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu : faktor non-sosial dan faktor sosial. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, dan ini pun dapat lagi digolongkan menjadi dua golongan yaitu : Faktor-faktor fisiologi dan Faktorfaktor psikologi. Media Audio Visual Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi. Pembelajaran dengan menggunakan media Audio-visual merupakan saah satu cara pembelajaran yang memmakai media yang mengandung unsur suara dan gambar, dimana dalam proses penyerapan materi melibatkan indra penglihatan dan indra pendengaran. Dalam proses belajar mengajar media pembelajaran berfungsi sebagai: . menyiarkan informasi penting . memotivasi siswa dalam pembelajaran. menambah pengayaan dalam belajar. menunjuka hubungan Aehubungan antar . menyajikan pengalaman-pengalamn yang tidak ditunjukan guru. membantu belajar perorangan. mendekatkan hal-hal yang ada diluar kelas kedalam Dengan demikian penggunaan media belajar audio-visual akan merangsang keterlibatan indra penglihatan dan pendengaran dan juga suasana diri . sehingga akan memudahkan dalam penyerapan informasi yang pada akhirnya akan di simpan di otak dalam memori. Pola Lantai dalam Tari Kreas Pola lantai merupakan garis yang dilalui penari pada saat melakukan gerak tari. Pada dasarnya, ada dua pola garis dasar pada lantai, yaitu garis lurus dan garis lengkung. Garis Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 lurus memberikan kesan sederhana tetapi kuat. Sedangkan garis lengkung memberikan kesan lembut tetapi lemah. Tarian daerah adalah warisan berharga yang dimiliki setiap daerah. Tarian daerah merupakan hasil cipta karya seni dari ssuatu budaya. Sebagai negara yang memiliki banyak daerah yang terdiri atas kepualaun, maka Indonesia juga memuliki ragam tari daerah yang unik dan merupakan ciri khas setiap daerah. Tari daerah juga merupkana identitas bangsa. Tari kreasi adalah bentuk gerak tari baru yang dirangkai dari perpaduan gerak tari tradisional kerakyatan dengan tari tradisional klasik. Gerak ini berasal dari satu daerah atau berbagai daerah di Indonesia. Selain bentuk geraknya, irama, rias, dan busanannya juga merupakan hasil modifikasi tari tradisi. METODE PENELITIAN Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan proses pengkajian melalui sistem berdaur atau siklus dari berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Arikunto. menyatakan Auprosedur PTK dilaksana kan dengan 4 kegiatan utama atau tahapan, yaitu : Perencanaan. Pelaksa naan. Observasi. Refleksi. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa di Kelas IX-2 SMP Negeri 7 Medan Tahun Ajaran 2018/2019 yang berjumlah 32 orang. Objek dalam penelitian ini yakni keseluruhan proses pembelajaran Seni budaya pada model pembelajaran media audio visual untuk meningkatkan hasil belajar seni budaya materi pola lantai tari kreasi terhadap kelas IX-2 SMP Negeri 7 Medan Tahun Ajaran 2018/2019. Teknik Pengumpulan Data Alat yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini adalah tes dan observasi. Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 Teknik Analisis Data Data kuantitatif diperoleh dengan mengadakan . es awal, post tes siklus I dan post siklus II) dan menggunakan lembar observasi. Untuk mengetahui persentase kemampuan siswa digunakan rumus : x 100 % PPH : Keterangan : PPH = persentase penilaian hasil = skor yang diperoleh siswa = skor total Kriteria : 65 < PPH < 65 siswa belum tuntas dalam belajar 65 < PPH < 100 siswa sudah tuntas dalam belajar Untuk nilai rata-rata hasil belajar siswa digunakan rumus : EuX EuN Untuk mengetahui persentase ketuntasan kelas digunakan rumus : PKK = Dimana : = Siswa yang mengalami ketuntasan = Jumlah seluruh siswa Untuk menghitung hasil observasi mengajar guru sebagai berikut : EuB P = Dimana = Hasil observasi = Skor observasi = Jumlah item observasi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kondisi awal siswa guru melakukan pretest terhadap seluruh siswa kelas IX-2 SMP Negeri 7 Medan Tahun Pembelajaran 2018/2019 yang berjumlah 32 orang melalui pemberian pretest, maka akan diketahui tingkat keberhasilan siswa terhadap mata pelajaran Seni budaya khususnya materi pokok pola lantai tari kreasi sehingga nantinya akan disusun rencana tindakan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Untuk mengetahui persentase keberhasilan secara klasikal siswa Kelas IX-2 pada mata pelajaran Seni budaya berikut dapat dilihat pada tabel berikut ini : Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 Tabel 1 Nilai Pre Test Awal Siswa Kelas IX-2 SMP Negeri 7 Medan Nomor Skor Nilai Responden Jumlah Rata-rata 5,06 52,42 Jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas Keterangan Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas 24 orang siswa 72% 8 orang siswa 18,20% Dari tabel 1 di atas maka dapat diketahui dari 32 orang siswa pada saat diberikan pretest sebanyak 8 orang siswa . ,20%) yang mendapat nilai tinggi . sedangkan siswa yang memperoleh nilai rendah sebanyak 24 orang siswa . %) dengan nilai rata-rata 52,42. Siklus I Tahap perencanaan tindakan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara mempelajari kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dengan menerapkan strategi pembelajaran media audio Berdasarkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa, maka peneliti membuat alternatif-alternatif pemecahan masalah, yaitu dengan model pembelajaran media audio visual, yaitu: Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 . Menyiapkan skenario pembelajaran sesuai dengan karakteristik kesulitankesulitan yang dihadapi siswa materi pokok pola lantai tari kreasi. Merancang membentuk kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3 orang siswa dengan memperhatikan penyebaran kemampuan siswa berdasarkan nilai ulangan materi sebelumnya. Mempersiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan selama proses . Mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui kondisi kegiatan belajar mengajar yang meliputi : Lembar observasi untuk siswa,. menyusun alat evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa pada setiap siklus dengan diterapkannya strategi pembelajaran media audio Berdasarkan rumus ketuntasan belajar siswa secara klasikal diperoleh : x 100% A 51% . Dari test hasil belajar pada siklus I tersebut maka PKK = dapat diketahui dari 32 orang siswa terdapat sebanyak 17 orang siswa 51% mendapat nilai tuntas dan sebanyak 12 orang siswa 39% mendapat nilai belum Dengan kategori siswa yang mendapat nilai rendah 3 orang siswa . %), mendapat nilai tinggi sebanyak 17 orang siswa . %) dengan rata-rata nilai sebesar 64,24. Soal yang dianggap sulit bagi siswa yaitu soal nomor 1. 3, dan 4. Dari hasil temuan data hasil peneiitian tersebut maka dapat dijelaskan bahwa pada saat siklus I hasil belajar Seni budaya khususnya pada materi pokok pola lantai tari kreasi tergolong rendah dengan rata-rata 64,24. Dengan perincian tidak ditemukan siswa . %) yang mendapat nilai sangat rendah . , siswa mendapatkan nilai rendah . ditemukan sebanyak 3 orang siswa . %), siswa mendapat nilai sedang . sebanyak 12 orang siswa . %), mendapat nilai tinggi . sebanyak 17 orang siswa . %) dan tidak ditemukan siswa yang mendapat nilai sangat tinggi . Beberapa kelemahan yang diperoleh dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif media audio visual adalah sebagai berikut : Siswa belum dilibatkan dalam berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran, dimana kegiatan mengajar guru masih lebih tampak Guru juga masih mengalami kesulitan dalam memahami karateristik siswa sebab terdapat siswa yang merasa tidak senang dalam kelompoknya. Akibatnya ada siswa yang tidak serius dalam melakukan kerja kelompok dengan cara mengganggu temannya. Guru juga menemukan bahwa terdapat siswa yang menganggu temannya dalam kelonipok diskusi sehingga membuat keributan dalam kelompok. Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 Berdasarkan ketuntasan belajar siswa siklus I diperoleh persentase ketuntasan klasikal sebanyak 17 orang siswa . %) yang tergolong tuntas dengan nilai rata-rata klasikal yaitu 64,24. Sedangkan tingkat ketuntasan siswa pada saat dilakukan pretest sebanyak 17 orang siswa . 00%) yang tergalong tuntas dengan nilai rata-rata 64,24. Berdasarkan data temuan hasil penelitian di atas maka dapat dikatakan bahwa terjadi peningkatkan hasil belajar Seni budaya setelah siklus I atau setelah dilaksanakan model pembelajaran media audio visual dengan tingkat dibandingkan dengan hasil pretest awal. Walaupun demikian dari hasil postes pada siklus I menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar secara klasikal belum tercapai dengan kriteria ketuntasan minimal yaitu > 75. Oleh karena itu perlu dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus selanjutnya yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar Seni budaya siswa terhadap materi pokok pola lantai tari kreasi. Siklus II Berdasarkan data hasil postest pada siklus I, masih ditemukan tingkat ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I masih rendah. Itu artinya, bahwa terdapat siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep pola lantai tari Beberapa kesulitan yang dialami pada saat siklus I yaitu siswa yang tidak mengerti melakukan tugasnya dalam kelompok, guru juga masih mengalami kesulitan dalam memahami karakteristik siswa, dan guru juga menemukan bahwa tidak harmonisnya sosialisasi siswa dalam kelompok. Pada siklus II, upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran media audio visual. Pada siklus II ini, dilakukan tanya jawab pada setiap kelompok yang memperoleh nilai rendah dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri yaitu melalui kegiatan demostrasi. Siswa juga secara langsung mendemonstrasikan media gambar yang telah dipersiapkan dibantu dan penjelasan dan guru. Hal ini bertujuan untuk lebih mengaktifkan siswa didalam kelompoknya dan siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi berusaha membantu siswa tersebut sehingga dapat memahami konsep dengan benar. Upaya yang dilakukan penehti dalam meningkatkan hasil belajar Seni budaya siswa dilakukan dengan cara sebagai berikut ini: Mengembangkan skenario pembelajaran sesuai dengan karakteristik kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa materi pokok pola lantai tari . Merancang membentuk kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3 orang siswa dengan memperhatikan penyebaran kernampuan siswa berdasarkan nilai ulangan materi sebelumnya. Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 . Mempersiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan selama proses . Memberikan kesempatan yang lebih banyak kepada siswa untuk melakukan demontrasi dalam kelompok dan menjelaskannya. Mempersiapkan lembar observasi untuk mengetahui kondisi kegiatan belajar mengajar yang meliputi : Lembar observasi untuk siswa, . Lembar obeservasi untuk guru. Menyiapkan soal post test pada siklus II yang akan dikerjakan siswa di akhir Siklus II. Pada tahap ini guru melaksanakan kegiatan pembelajaran yang merupakan pengembangan dan pelaksanaan program pengajaran yang telah disusun pada kegiatan perencanaan sebanyak 2 kali pertemuan dimana setiap pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 45 menit. Untuk memulai proscs belajar mengajar guru terlebih dahulu memberikan pengenalan dan penerangan terhadap topik yang akan dibahas yaitu prinsip dan dasar klasifikasi tumbuhan. Kemudian guru menyapaikan kompetensi dasar dan menginformasikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dengan menggunakan media gambar yang telah dipersiapkan. Guru juga membagi materi menjadi beberapa bagian, yang nantinya akan dihagikan pada masing-masing kelompok dalam bentuk lembar kerja siswa. Guru membagi siswa ke dalam 6 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang dalam tiap kelompok. Setelah kelompok belajar terbentuk, guru memberikan tes hasil belajar siswa kepada masing-masing siswa. Lembar kerja tersebut memuat aktivitas yang harus dikerjakan siswa dalam kelompok. Masing-masing siswa diminta untuk mencari dan mengumpulkan informasi tentang materi pelajaran. Oleh karenanya setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas pekerjaannya sebab keberhasilan kelompok sangat tergantung masing-masing anggota kelompok. Selama kegiatan diskusi berlangsung guru memantau aktifitas belajar siswa dan membimbing kelompok yang kurang mengerti dalam mengerjakan tugas. Guru juga memberi motivasi kepada tiap-tiap kelompok agar berlomba mempersentasekan hasil pekerjaanya di depan kelas. Guru juga meminta agar kelompok lain memberikan tanggapan terhadap hasil kelompok yang ada didepan. Guru menanyakan kembali kepada siswa tentang materi yang kurang dipahami dan menjelaskan kembali secara singkat. Secara bersamaan guru bersama dengan siswa menyimpulkan materi pelajaran yang telah dipelajari dan memberikan tugas secara individu untuk dikerjakan di rumah. Hasil tes belajar siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini : Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 Tabel 2 Jumlah Rata-rata Kode Responden Skor Nilai 8,73 Jumlah siswa yang tuntas dan tidak tuntas 87,33 Keterangan Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas siswa 10% siswa 90% Tingkat Ketuntasan Hasil Belajar Siswa pada Siklus II Dari tabel di atas maka diketahui dari 32 orang siswa pada saat diberikan tes hasil belajar pada siklus II tingkat ketuntasan klasikal siswa kelas IX-1 sebanyak x100% = 94%. Dari 32 orang siswa 94% dinyatakan tuntas, sedangkan PKK = siswa belum mengalami ketuntasan sebanyak 1 orang siswa 6% dengan nilai ratarata 87,33. PEMBAHASAN Dari hasil temuan data hasil penelitian awal dapat dijelaskan bahwa terdapat sebanyak 6 orang siswa . ,20%) yang mendapat nilai tuntas dengan nilai rata- Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 rata 46,10, dengan perincian mendapatkan nilai rendah . sebanyak 11 orang siswa . ,67%), mendapat nilai sedang . sebanyak 16 orang siswa . ,10%), mendapat nilai tinggi . sebanyak 12 orang siswa . ,20%). Dari hasil temuan data hasil penilitian tersebut maka dapat dijelaskan bahwa pada saat siklus I hasil belajar Seni budaya khususnya pada materi pokok pola lantai tari kreasi tergolong rendah dengan rata-rata 64,24. Dengan perincian tidak ditemukan siswa . %) yang mendapat nilai sangat rendah . , siswa mendapatkan nilai rendah . ditemukan sebanyak 3 orang siswa . %), siswa mendapat nilai sedang . sebanyak 13 orang siswa . %), mendapat nilai tinggi . sebanyak 17 orang siswa . %) dan tidak ditemukan siswa yang mendapat nilai sangat tinggi . Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi kesulifan-kesulitan memperbaiki proses belajar mengajar agar hasil belajar siswa lebih meningkat dan mencapai tingkat ketuntasan. Pada siklus II ini, dilakukan tanya jawab pada setiap kelompok yang memperoleh nilai rendah dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk lebih mengaktifkan siswa didalam kelompoknya dan siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi berusaha membantu siswa tersebut sehingga dapat mengerjakan soal dengan benar. Disamping itu guru memperbaiki kondisi pembelajaran dengan cara memotivasi siswa, menambah soal dan melibatkan siswa dalam mendemostrasikan materi pelajaran. Dengan cara ini materi yang diajarakan akan lebih mudah dipahami dan lebih tahan lama. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh gambaran bahwa model pembelajaran media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar Seni budaya siswa dalam menyelesaikan soal-soal materi pola lantai tari kreasi. Hal ini disebabkan bentuk pembelajaran tidak hanya dipusatkan kepada guru semata yang berperan aktif akan tetapi lebih memperhatikan keterlibatan siswa secara aktif. Hal yang senada juga dikemukan Knowles, . alam Mulyasa 2. menyebutkan dengan model pembelajaran media audio visual, maka akan tercipta yaitu: Adanya keterlihatan emosional dan mental peserta didik. Adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan. Dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik dengan demikian maka hasil belajar peserta didik akan mengalami Berdasarkan asumsi di atas maka dengan menggunakan strategi pembelajaran Media audio visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Seni budaya pada materi pola lantai tari kreasi siswa SMP Negeri 7 Medan Tahun Pembelajaran 2018-2019Ay. Sabilarrsyad Vol. IV No. 01 Januari-Juni 2019 KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil temuan data hasil penilitian tersebut maka dapat dijelaskan bahwa pada saat siklus I hasil belajar Seni budaya khususnya pada materi pokok pola lantai tari kreasi tergolong rendah dengan rata-rata 64,24. Dengan perincian tidak ditemukan siswa . %) yang mendapat nilai sangat rendah . , siswa mendapatkan nilai rendah . ditemukan sebanyak 3 orang siswa . %), siswa mendapat nilai sedang . sebanyak 13 orang siswa . %), mendapat nilai tinggi . sebanyak 17 orang siswa . %) dan tidak ditemukan siswa yang mendapat nilai sangat tinggi . Dari 32 orang siswa pada siklus II diperoleh 94% dinyatakan tuntas, sedangkan siswa belum mengalami ketuntasan sebanyak 1 orang siswa 6% dengan nilai rata-rata 87,33. Dengan demikian pada siklus ke II penulis katakan nilai siswa sudah mencapai nilai KKM penelitian ini dihentikan dan tidak perlu lagi dilanjutkan ke siklus SARAN Setelah melakukan penelitian, saya sebagai guru merasakan adanya perubahan siswa terutama dalam pembelajaran Seni budaya khususnya pada materi pola lantai tari kreasi siswa memperoleh hasil belajar yang meningkat. Dalama hal ini saya sebagai guru yang melaksanakan penelitian ini menyarankan Kepada siswa diharapkan agar lebih aktif dalam proses pembelajaran agar diperoleh hasil belajar yang lebih baik. Sebaiknya guru menggunakan strategi pembelajaran Media audio visual sesuai dengan materi yang diajarkan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi guru lain dalam mengkaji variabel-variabel yang lebih luas tentang model pembelajaran Media audio visual. DAFTAR PUSTAKA