Agro Estate. Vol 8 . Desember 2024 ISSN : 2580-0957 (Ceta. ISSN : 2656-4815 (Onlin. AGRO ESTATE Jurnal Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit dan Karet Available online https: //ejurnal. id/index. php/JAE UJI EFEKTIVITAS CENDAWAN Cordyceps militaris TERHADAP HAMA ULAT API Setothosea asigna THE EFFECTIVENESS TEST OF Cordyceps militaris FUNGUS AGAINST FIREWORM Setothosea asigna Makhrani Sari Ginting. Hasanal Fachri Satia Simbolon. Wanda Sandy Pratama. Nurliana . Muhammad Yusuf Dibisono . Proteksi Tanaman. Fakultas Sains dan Teknologi. Institut Teknologi Sawit Indonesia . Sistem Teknologi dan Informasi. Fakultas Sains dan Teknologi. Institut Teknologi Sawit Indonesia . Budidaya Perkebunan. Fakultas Vokasi. Institut Teknologi Sawit Indonesia *Corresponding email: makhrani. sari13@gmail. Abstrak Industri kelapa sawit merupakan salah satu sumber pendapatan Indonesia yang terpenting. Dalam budidayanya, tanaman kelapa sawit menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya adalah serangan hama ulat api Setothosea Ulat api merupakan serangga yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada kelapa sawit. Berbagai usaha kerap dilakukan untuk mengendalikan ulat api, salah satunya adalah dengan menggunakan agen hayati seperti jamur Cordyceps militaris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas jamur C. terhadap ulat api S. Penelitian dilaksanakan di Areal Lahan Percobaan Institut Teknologi Sawit Indonesia, pada bulan Maret sampai dengan Mei 2024, dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan 5 perlakuan yaitu F0/Kontrol . anpa aplikasi C. F1 (Aplikasi C. 15 gram/1 liter ai. F2 (Aplikasi C. militaris 20 gram/1 liter ai. F3Aplikasi C. militaris 25 gram/1 liter ai. dan F4 (Aplikasi C. militaris 30 gram/1 liter ai. dengan 5 ulangan. Data yang diperoleh diuji menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji DuncanAos Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan Jamur C. militaris efektif dalam mengendalikan ulat api S. Konsentrasi jamur C. yang paling efektif dalam mengendalikan ulat api S. asigna adalah 30 gram/1 liter air (F. , dimana pada perlakuan ini mortalitas 100% dan LT50 terjadi lebih cepat dibanding perlakuan F0. F1. F2 dan F3. Kata Kunci: Cordyceps militaris. Entomopatogen. Pengendalian hayati. Sethotosea asigna Abstract Oil palm industry is an important source of Indonesian income. In its cultivation, oil palm plants also face some challenges, one of which is the attack of fireworm Setothosea asigna. Fireworms are insects that can cause serious damage to oil palms. Various efforts were often made to control fireworm, one of which is by using biological agents such as the Cordyceps militaris fungus. The aim of this research is to determine the effectiveness of C. militaris fungus against S. The research was carried out in the Experimental Area of Institut Teknologi Sawit Indonesia, from March to May 2024, using the Non-Factoral Randomized Block Design (RBD) with 5 treatments, namely F0/Control . ithout application of C. F1 . pplication C. militaris 15 grams/1 liter of wate. F2 . pplication of militaris 20 grams/1 liter of wate. F3 application of C. militaris 25 grams/1 liter of wate. and F4 . pplication of C. militaris 30 grams/1 liter of wate. with 5 repetitions. Data obtained was analyzed by using Analysis of Variance (ANOVA) and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT). Result showed that C. militaris fungus was effective in controlling S. In this research the most effective concentration of C. militaris fungus in controlling S. asigna was 30 grams/1 liter of water (F. , where in this treatment mortality 100% and LT50 occurs faster than in treatments F0. F1. F2 and F3. Keywords: Biocontrol. Cordyceps militaris. Entomopathogen. Sethotosea asigna PENDAHULUAN Kelapa sawit (E. telah terhadap perekonomian petani dan negara. lama menjadi salah satu komoditas pertanian Menurut Simanjuntak et al. terpenting di Indonesia. Indonesia merupakan Setothosea asigna merupakan jenis ulat api produsen minyak sawit terbesar di dunia dan yang paling besar menyebabkan kerugian di menghasilkan mayoritas produksi minyak pertanaman kelapa sawit. sawit global. Komoditas ini memberikan ini memakan daun tanaman baik yang muda maupun tua. Serangan hama S. perekonomian Indonesia, baik dari sisi pendapatan pemerintah maupun lapangan kerja masyarakat (Siregar et al. , 2. Serangan S. asigna terhadap pohon kelapa Budidaya tanaman sawit hingga saat Diketahui jenis sawit dapat berdampak pada beberapa aspek, ini masih menghadapi banyak kendala yang dapat menurunkan produktivitas, diantaranya terhambat karena fotosintesis terganggu adanya serangan hama dan penyakit. Hama (Susanto et al. , 2. Selain itu juga terjadi dan penyakit dapat menyerang tanaman kelapa sawit mulai dari pembibitan hingga produksi TBS . andan buah sega. sebesar 40 Ae 60% (Pahan, 2. yang mengakibatkan menyebabkan penurunan produksi hingga Upaya pengendalian serangan hama menyebabkan kematian pohon kelapa sawit. ulat api yang umum digunakan selama ini Salah satu hama utama kelapa sawit adalah dengan menggunakan pestisida kimia. adalah dari kelompok ulat api seperti Namun penggunaan pestisida kimia dalam Setothosea asigna. Ulat api merupakan jangka panjang dapat menimbulkan dampak serangga yang dapat menyebabkan kerusakan serius terhadap lingkungan dan kesehatan serius pada kelapa sawit. Menurut Yuliani & Menurut Pratiwi dkk. Syamsudin . ), serangan ulat api dapat menurunkan hasil dan kualitas buah kelapa berlebihan dapat mencemari tanah dan air serta meningkatkan risiko kesehatan bagi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui petani yang terpapar pestisida. efektivitas jamur C. militaris terhadap ulat Untuk api S. budidaya kelapa sawit, diperlukan alternatif METODE PENELITIAN Tempat dan waktu Salah satu alternatif yang Penelitian dilaksanakan di areal lahan menarik adalah dengan menggunakan agensi penelitian Institut Teknologi Sawit Indonesia. Beberapa pada bulan Maret sampai dengan Mei 2024. entomopatogen seperti Beveuria bassiana. Cordyceps Bahan dan Peralatan Metarrhizium Bahan-bahan yang digunakan di dalam anisopliae telah banyak diteliti efektivitasnya penelitian ini antara lain: biakan jamur C. dalam mengendalikan serangga pengganggu. Jagung, larva S. asigna instar 5. Penelitian Iswanto & Siswanto . bibit sawit berumur A6 bulan. PDA, aguadest, menunjukkan bahwa jamur C. berpotensi menjadi agen hayati yang efektif dalam mengendalikan hama serangga. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: saringan, lakban bening blender, militaris merupakan jamur entomopatogen Gelas ukur. Sprayer, timbangan analitik, dll. Desain penelitian Lepidoptera baik pada fase larva maupun Metode penelitian yang dilakukan pupa (Sung et al. , 2. militaris acap dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non Faktorial yaitu: menginfeksi larva dan pupa ulat api di Akan tetapi FO: Tanpa Pengaplikasian C. biasanya lebih banyak ditemukan pupa yang Fl: Aplikasi C. militaris 15gr/l liter air F2: Aplikasi C. militaris 20gr/l liter air disebabkan karena sifat C. militaris yang soil F3: Aplikasi C. militaris 25gr/l liter air F4: Aplikasi C. militaris 30gr/1 liter air perkebunan kelapa sawit. Hal bersinggungan dengan pupa yang biasanya Jumlah ulangan = 5, dimana setiap ulangan berada di tanah di sekitar piringan kelapa terdiri dari 5 Larva S. asigna Instar 5 Oleh sebab itu Data dianalisis menggunakan metode efektivitas C. militaris terhadap larva S. ANOVA. Dilanjutkan dengan Uji Duncan's asigna masih perlu diteliti lebih lanjut. Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. sawit (Kalshoven, 1. Tahapan Penelitian Benih jamur Cordyceps ditempatkan Pengadaan Jamur C. di media jagung yang telah disterilkan. Ini Jamur C. militaris didapat dengan cara dapat dilakukan dengan metode seeder atau mengisolasi pupa ulat api S. asigna yang pembibitan lainnya yang sesuai. terinfeksi C. militaris di kebun Laras. PTPN A Pemeliharaan. IV, yang berada di kecamatan Bandar Wadah yang berisi media jagung dan Huluan, kabupaten Simalungun. Sumatera benih Cordyceps harus dijaga dalam kondisi Utara. lingkungan yang sesuai, seperti suhu dan Proses pemeliharaan ini dapat berlangsung selama 1 minggu hingga spora jamur Cordyceps tumbuh dan berkembang dengan baik. Persiapan Larva S. Gambar 1. Pupa Setothosea asigna yang Terinfeksi Cordyceps militaris Perbanyakan Jamur C. Jamur Pengambilan larva S. asigna di kebun PTP. Nusantara IV Kebun Laras sebanyak 125 ekor. Larva kemudian dipindahkan ke dengan ditumbuhkan pada media jagung. bibit kelapa sawit yang berusia 6 bulan Adapun tahapan perbanyakan jamur pada sebanyak 5 ekor/bibit. media jagung yaitu: beradaptasi selama 5 hari sebelum diterapkan A Persiapkan media jagung. perlaluan penelitian. Jagung direndam dalam air selama Larva dibiarkan Aplikasi Jamur C. beberapa jam, kemudian dikukus untuk A Media jagung yang berisi C. memastikan kebersihan. Setelah itu, media dengan sebanyak 15 gr, 20 gr, 25 gr dan 30 jagung dikeringkan dan ditempatkan dalam gr menggunakan timbangan. A Kemudia diigiling sampai halus kemudian A Sterilisasi media. tuangkan kedalam gelas ukur yang sudah Media jagung harus disterilkan untuk diisi air sebanyak 1 liter dan di campur membunuh semua mikroorganisme patogen hingga merata. yang mungkin bersaing dengan jamur A Selanjutnya dimasukkan kedalam hand Cordyceps. Sterilisasi dilakukan dengan sprayer, yang terlebih dahulu disaring menggunakan kukusan. menggunakan saringan. A Inokulasi. A Pengaplikasian dilakukan dengan cara penyemprotan langsung C. militaris pada larva S. asigna sebanyak 20 ml dengan juga melaporkan gejala yang sama didahului hand sprayer hingga daun kelihatan basah. dengan nafsu makan berkurang, gerakan pasif A Bibit sawit kemudian diberi sungkup agar dimana larva menjadi lebih lamban dan larva tidak terserang predator dan tidak kurang aktif bergerak bahkan tidak dapat bergerak sama sekali. Parameter Penelitian Pengamatan setiap hari. Dimulai dari hari pertama setelah aplikasi hingga semua larva mati. Gambar 2. Larva Setothosea asigna yang berubah warna dan mengalami mumifikasi Parameter yang diamati mencakup Menurut mortalitas S. asigna adalah persentase Song perubahan perilaku ulat api S. asigna yang mortalitas S. asigna/hari, rata-rata waktu terinfeksi C. militaris dikarenakan jamur C. militaris yang menginfeksi menghasilkan Adapun mortalitas S. asigna dihitung dengan senyawa cordycepin yang bersifat racun bagi mengunakan rumus: serangga inang. P = a/b y 100% Persentase Mortalitas Larva S. Keterangan: (%) P = Presentase mortalitas (S. Dari penelitian yang telah dilakukan, c = Jumlah larva S. asigna yang mati didapatkan data mortalitas ulat api S. b = Jumlah larva S. asigna keseluruhan seperti Tabel 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Mortalitas (%) S. asigna pada Beberapa Hari Setelah Aplikasi (HSA) Pada Gambar1. dapat dilihat bahwa Perlakuan Mortalitas larva S. asigna yang diaplikasikan C. militaris mengalami beberapa gejala yang . r/liter ai. merupakan ciri atau gejala dari serangga yang F0 . F1 . F2 . terinfeksi jamur entomopatogen, seperti Hari Setelah Aplikasi (HSA warna tubuh berubah dari hijau menjadi F3 . kuning lalu coklat dan berubah menjadi hitam F4 . Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5% menurut Uji DMRT. diikuti oleh proses mumifikasi, di mana tubuh larva menjadi keras dan kaku ketika sudah Tabel 1. menunjukkan bahwa tidak mengalami kematian. Wibowo et al. terjadi mortalitas pada serangga uji yang tidak diberi aplikasi C. Mortalitas Pada perlakuan F4 rata-rata asigna mulai terjadi pada 3 hari setelah kematian S. asigna terjadi pada 3,7 hari, aplikasi C. militaris dengan persentase yang merupakan waktu yang paling singkat berbeda antar perlakuan. Seluruh perlakuan dibanding perlakuan yang lain. Sedangkan menunjukkan perbedaan nyata pada setiap yang terlama adalah perlakuan F1 yaitu 5,6 hari pengamatan hingga hari ke 6. Mortalitas 100% pertama kali terjadi pada hari ke 6 HSA Gambar 4. menunjukkan angka LT50 pada perlakuan F4, sedangkan perlakuan F1, masing-masing perlakuan. Dimana dapat F2 dan F3 terjadi pada hari ke 7. Lebih singkatnya waktu yang diperlukan untuk menunjukkan waktu yang tercepat yaitu 3,3 mencapai mortalitas 100% pada perlakuan F4 dan yang terlama Perlakuan F1 yaitu 5,3 hari. disebabkan karena jumlah jamur yang diaplikasikan lebih banyak. LT50 . Akibatnya miselium jamur lebih cepat menyebar ke seluruh jaringan larva, dan memproduksi F1 . F2 . F3 . F4 . Perlakuan menyebabkan kematian serangga. Gambar 4. LT50 Aplikasi Cordyceps militaris pada Larva Setothosea asigna. Rerata Waktu Mortalitas S. Rerata waktu mortalitas S. Secara umum dapat dilihat bahwa pada masing-masing perlakuan dapat dilihat semua perlakuan aplikasi C. militaris yang pada Gambar 3. diterapkan dapat menyebabkan mortalitas Waktu . larva S. asigna 100%. Selaras dengan hasil penelitian Ginting et al. bahwa aplikasi C. militaris 25, 30, dan 35 gr dapat menyebabkan persentase mortalitas larva S. asigna sebesar 100% pada hari ke 6 hingga F1 . F2 . F3 . F4 . hari ke 8 setelah aplikasi. Hal ini disebabkan Perlakuan karena pada rentang waktu tersebut jamur Gambar 3. Rerata waktu mortalitas Setothosea asigna pada aplikasi Cordyceps militaris telah menyelesaikan 4 tahapan infeksi, yaitu tahap inokulasi, dimana terjadi kontak antara Pada Gambar 3. dapat dilihat bahwa jamur dengan tubuh serangga. rerata kematian S. asigna berbeda pada setiap Kemudian tahap gram/1 liter ai. mampu menyebabkan mortalitas 100% pada ulat api S. asigna di Selanjutnya terjadi tahap ketiga, hari ke 6 setelah aplikasi, dan merupakan yakni penetrasi dan invasi, yaitu menembus yang paling efektif dibanding perlakuan kutikula dan membentuk kecambah. Diikuti yang lain. dengan tahap keempat, yaitu destruksi pada titik penetrasi dan pembentukan blatospora DAFTAR PUSTAKA