Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2652-2661 Analisis Kinerja Kelompok Tani di Kecamatan Sungai Kakap Analysis of Farmer Group Performance in Sungai Kakap District Dewi Kurniati*. Nia Permatasari Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Jl Prof Dr H Hadari Nawawi No 1 Pontianak *Email: dewi. kurniati@faperta. (Diterima 22-03-2025. Disetujui 01-07-2. ABSTRAK Di Kecamatan Sungai Kakap, kelompok tani berperan sebagai wadah bagi petani untuk meningkatkan kapasitas produksi, mengadopsi teknologi pertanian, dan memperkuat kerjasama antar anggota. Namun, kinerja kelompok tani di daerah ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya partisipasi anggota, kurangnya inovasi, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya. Penelitian bertujuan untuk menganalisis kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling pada 50 kelompok tani dan 150 anggota kelompok tani yang tersebar pada 13 Desa. Data dianalisis menggunakan metode deskriptif dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap secara keseluruhan termasuk dalam kategori baik. Kelompok tani telah mampu menjalankan tiga fungsi utamanya, yaitu sebagai kelas belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi, dengan cukup efektif. Peningkatkan kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas manajeril, pemupukan modal internal, peningkatan kualitas kelas belajar, penguatan kemitraan eksternal, evaluasi dan monitoring rutin, peningkatan partisipasi anggota. Kata kunci: Kelas Belajar. Kelompok Tani. Kinerja. Unit Produksi. Wadah Kerjasama ABSTRACT In Sungai Kakap District, farmer groups serve as a platform for farmers to enhance production capacity, adopt agricultural technology, and strengthen collaboration among members. However, the performance of farmer groups in this area still faces several challenges, such as low member participation, lack of innovation, and limited access to resources. This study aims to analyze the performance of farmer groups in Sungai Kakap District. A quantitative descriptive approach was employed, with a purposive sampling technique selecting 50 farmer groups and 150 farmer group members across 13 villages. Data were analyzed using descriptive analysis and scoring techniques. The results indicate that the overall performance of farmer groups in Sungai Kakap District falls into the good category. Farmer groups have effectively fulfilled their three main functions: as a learning class, a collaboration platform, and a production unit. Improving the performance of farmer groups in Sungai Kakap District can be achieved through enhancing managerial capacity, strengthening internal capital, improving the quality of learning classes, reinforcing external partnerships, conducting regular evaluations and monitoring, and increasing member participation. Keywords: Collaboration Platform. Farmer Group. Learning Class. Performance. Production Unit PENDAHULUAN Kelompok tani berperan sebagai salah satu elemen kunci dalam mendukung pembangunan sektor pertanian di Indonesia, khususnya di tingkat kecamatan. Kelompok tani berfungsi sebagai institusi lokal yang mendorong pembangunan pertanian melalui peningkatan kapasitas dan kolaborasi antar petani (Indraningsih & Swastika, 2. Di Kecamatan Sungai Kakap, kelompok tani berperan sebagai wadah bagi petani untuk meningkatkan kapasitas produksi, mengadopsi teknologi pertanian, dan memperkuat kerjasama antar anggota. Studi oleh (Jandu et al. , 2. menunjukkan bahwa kelompok tani di daerah pedesaan berperan penting dalam memfasilitasi transfer teknologi dan meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, kinerja kelompok tani di daerah ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti rendahnya partisipasi anggota, kurangnya inovasi, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya. Rendahnya partisipasi anggota dan keterbatasan akses terhadap sumber daya menjadi faktor utama yang menghambat kinerja kelompok tani di Indonesia Analisis Kinerja Kelompok Tani di Kecamatan Sungai Kakap Dewi Kurniati. Nia Permatasari (Fita Dwi Untari et al. , 2. Fenomena ini menunjukkan bahwa kinerja kelompok tani belum optimal dalam menjalankan perannya sebagai kelas belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi. Efektivitas kelompok tani dalam menjalankan peran tersebut masih rendah akibat kurangnya dukungan infrastruktur dan kapasitas manajerial (Hayanti et al. , 2. Meskipun kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap telah berperan dalam mendukung kegiatan pertanian, beberapa permasalahan masih ditemui. Studi (Nur, 2. menyatakan bahwa meskipun kelompok tani memiliki peran strategis, berbagai kendala struktural dan non-struktural masih menghambat kinerja mereka. Pertama, sebagai kelas belajar, kelompok tani belum sepenuhnya efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani. Studi oleh (Ensor & Bruin, 2. mengungkapkan bahwa metode pembelajaran dalam kelompok tani seringkali kurang inovatif dan tidak sesuai dengan kebutuhan petani, sehingga dampaknya terhadap peningkatan kapasitas petani menjadi terbatas. Kedua, sebagai wadah kerjasama, sinergi antar anggota masih lemah, sehingga menghambat pencapaian tujuan bersama. Rendahnya tingkat kepercayaan dan komunikasi antar anggota menjadi faktor utama yang melemahkan kerjasama dalam kelompok tani (Sulistiawati. Ketiga, sebagai unit produksi, kelompok tani belum mampu memaksimalkan pemanfaatan sumber daya lokal yang berpotensi meningkatkan produktivitas serta pendapatan petani. Kurangnya akses terhadap teknologi modern dan modal menjadi penghambat utama dalam meningkatkan produktivitas kelompok tani (Sharma & Singh, 2. Permasalahan ini perlu diatasi agar kelompok tani dapat berkontribusi lebih besar terhadap pembangunan pertanian di daerah tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh (Eyitayo Raji et al. , 2. (Yosua et al. , 2. , upaya peningkatan kinerja kelompok tani memerlukan intervensi kebijakan yang holistik, termasuk peningkatan kapasitas manajerial dan akses terhadap sumber daya. Penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap berdasarkan tiga peran utamanya. Pentingnya evaluasi kinerja kelompok tani untuk mengidentifikasi area perbaikan dan meningkatkan kontribusi mereka terhadap pembangunan pertanian (Aktar et al. , 2. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi kebijakan dan strategi untuk meningkatkan kinerja kelompok tani, sehingga mampu mendorong pertumbuhan sektor pertanian di tingkat lokal. Rekomendasi berbasis data empiris sangat diperlukan untuk merancang intervensi kebijakan yang efektif dalam meningkatkan kinerja kelompok tani (Balashankar et al. , 2. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi pemangku kepentingan dalam merancang program pemberdayaan petani yang lebih efektif. Seperti yang diungkapkan oleh (Nurhidayati et al. , 2. , penelitian tentang kinerja kelompok tani dapat menjadi dasar bagi pengembangan program pemberdayaan yang lebih terarah dan berkelanjutan. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji kinerja kelompok tani dari berbagai perspektif. Misalnya, penelitian oleh (Sugianto et al. , 2. menekankan pentingnya peran kelompok tani sebagai kelas belajar dalam meningkatkan kapasitas petani. Sementara itu, penelitian oleh (Rini, 2. mengidentifikasi penentu efektivitas kelompok tani sebagai wadah kerjasama. Studi oleh (Handayani et al. , 2. menyoroti peran kelompok tani sebagai unit produksi dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, belum banyak penelitian yang mengintegrasikan ketiga peran tersebut secara komprehensif, khususnya dalam konteks Kecamatan Sungai Kakap. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan holistik yang digunakan untuk menganalisis kinerja kelompok tani berdasarkan tiga peran utamanya, yaitu sebagai kelas belajar, wadah kerjasama, dan unit Penelitian ini juga mengintegrasikan perspektif lokal dengan mengkaji kondisi spesifik di Kecamatan Sungai Kakap, yang belum banyak dieksplorasi dalam studi-studi sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam memperkaya pemahaman terkait strategi pemberdayaan kelompok tani. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif deskriptif dalam menganalisis kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap. Pendekatan ini dipilih karena mampu menggambarkan kondisi nyata kinerja kelompok tani berdasarkan data yang dikumpulkan secara sistematis. Penelitian deskriptif kuantitatif juga memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi hubungan antar variabel dan memberikan gambaran yang komprehensif tentang fenomena yang diteliti (Sugiyono, 2. Waktu penelitian dilakukan dari bulan April Ae Oktober 2024. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2652-2661 Kecamatan Sungai Kakap. Kabupaten Kubu Raya. Provinsi Kalimantan Barat, merupakan lokasi pada penelitian ini. Lokasi ini dipilih karena potensi pertanian yang besar dan peran strategis kelompok tani dalam mendukung kemajuan pertanian di wilayah tersebut. Kelompok tani yang terletak di 13 Desa di Kecamatan Sungai Kakap adalah subjek penelitian ini. Dengan menggunakan kriteria kelompok tani yang aktif dalam kegiatan pertanian selama 2 tahun terakhir, teknik purposive sampling digunakan untuk mengumpulkan sampel. Sebanyak 50 kelompok tani dan 150 anggota kelompok tani dipilih sebagai sampel penelitian. Metode purposive sampling diterapkan untuk memastikan bahwa sampel yang dipilih relevan dengan tujuan penelitian serta dapat mewakili populasi yang diteliti (Etikan et al. , 2. Penelitian ini mengukur kinerja kelompok tani berdasarkan tiga peran utamanya, yaitu: kelas belajar, wadah kerjasama dan unit produksi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, kuesioner, dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan metode deskriptif dan teknik skoring untuk mengukur tingkat kinerja kelompok tani. Penilaian kinerja dilakukan menggunakan skala Likert 1-5, di mana skor 1 menunjukkan sangat tidak setuju, sementara skor 5 menunjukkan sangat setuju. Selanjutnya, total skor yang diperoleh diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu kinerja baik, kinerja cukup baik, dan kinerja tidak baik. Hasil analisis kemudian diinterpretasikan untuk memberikan gambaran tentang kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kelompok tani memiliki tiga peran utama. Pertama, sebagai wadah pembelajaran, kelompok tani berfungsi untuk meningkatkan wawasan, keterampilan, dan sikap anggotanya, sehingga mereka dapat lebih mandiri dalam mengelola usaha tani. Hal ini berdampak pada peningkatan produktivitas, pendapatan, dan kesejahteraan petani (Supriadi et al. , 2. Kedua, kelompok tani berperan sebagai sarana kerja sama, yang memungkinkan terjalinnya hubungan yang lebih erat antaranggota, antar kelompok tani, serta dengan berbagai pihak eksternal. Dengan adanya kerja sama ini, usaha tani dapat dijalankan lebih efisien, mampu mengatasi berbagai tantangan, serta memberikan keuntungan yang lebih besar (Sarman et al. , 2. Ketiga, kelompok tani berfungsi sebagai unit produksi, di mana usaha tani setiap anggota dipandang sebagai bagian dari satu kesatuan yang terintegrasi. Pendekatan ini memungkinkan kelompok tani untuk mencapai skala ekonomi yang lebih optimal dengan menjaga konsistensi dalam jumlah, mutu, dan keberlanjutan produksi (Sriati & Santri, 2. Berdasarkan pendekatan fungsi dari kelompok tani yang tercantum dalam Permentan RI, 2016 akan dijadikan sebagai pengukuran kinerja kelompok tani pada penelitian ini. Peran Kelompok Tani Sebagai Kelas Belajar Keberadaan suatu kelompok tani akan sangat memengaruhi kreativitas dan gagasan anggota Kelompok tani berperan sebagai platform untuk berbagi ide, inovasi, dan praktik terbaik di antara petani, sehingga mendorong pengembangan kapasitas individu dan kolektif (Aron et al. Hal ini diketahui oleh kelompok tani yang secara rutin berkumpul untuk membicarakan topik tertentu atau mendapatkan lebih banyak informasi tentang pekerjaan yang dilakukan pertemuan rutin kelompok tani merupakan sarana penting untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman, yang pada akhirnya meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola usaha tani (Handayani et al. , 2. Kegiatan pertemuan yang dimaksud disebut dengan kelas belajar anggota. Kelas belajar anggota merupakan mekanisme efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui pembelajaran partisipatif dan kolaboratif (Gani & Robandi, 2. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberi anggota lebih banyak pengetahuan dan informasi sehingga dapat meningkatkan kinerja dan produktivitas kelompok tani. Peningkatan pengetahuan dan informasi melalui kelas belajar anggota secara signifikan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan kinerja kelompok tani (Effendy & Apriani, 2. Berdasarkan indikator dari kinerja petani sebagai kelas belajar menyatakan bahwa fungsi kelompok tani sebagai kelas belajar dibagi dalam tiga kategori yaitu : kinerja baik, kinerja cukup dan kinerja tidak baik, yang disajikan pada tabel berikut. Tabel 1. Kinerja Kelompok Tani Sebagai Kelas Belajar Kinerja Kelompok Tani Persentase (%) Kinerja Baik 83,78 Kinerja Cukup Baik 15,83 Kinerja Tidak Baik 0,39 Sumber: Data Diolah . Analisis Kinerja Kelompok Tani di Kecamatan Sungai Kakap Dewi Kurniati. Nia Permatasari Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kinerja kelompok tani sebagai kelas belajar termasuk kategori kinerja baik . ,78%). Hal ini menunjukkan bahwa kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap telah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang efektif bagi anggotanya. Kelompok tani berperan dalam meningkatkan motivasi serta kedisiplinan anggotanya, menyusun serta mengadakan pertemuan rutin, baik di dalam kelompok maupun dengan lembaga terkait. Selain itu, kelompok tani menjalin kerja sama dengan berbagai sumber informasi dalam proses pembelajaran, baik melalui sesama anggota, lembaga pendamping, maupun pihak lain yang berkompeten. Mereka juga berupaya mencapai kesepakatan bersama dalam mencari solusi atas berbagai permasalahan serta aktif melaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan usaha tani. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh (Gani & Robandi, 2. yang menyatakan bahwa kelas belajar dalam kelompok tani merupakan mekanisme penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani melalui pembelajaran partisipatif dan kolaboratif. Kelompok tani yang efektif dalam menjalankan peran sebagai kelas belajar cenderung memiliki anggota yang lebih disiplin, termotivasi, dan mampu mengadopsi inovasi pertanian dengan lebih baik. Kemampuan kelompok tani dalam menjalin kerjasama dengan sumber-sumber informasi juga menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kinerja sebagai kelas belajar. Kolaborasi dengan instansi pembina dan pihak terkait, seperti penyuluh pertanian dan lembaga penelitian, dapat memperkaya materi pembelajaran dan mempercepat adopsi teknologi pertanian (Aron et al. , 2. Selain itu, kapasitas kelompok tani dalam menyusun kesepakatan bersama sebagai solusi permasalahan mencerminkan tingginya tingkat partisipasi dan kerja sama di antara para anggota (Waladow et al. , 2. menyatakan bahwa partisipasi aktif anggota dalam proses pengambilan keputusan merupakan indikator penting dari kinerja kelompok tani yang baik. Hal ini tidak hanya meningkatkan rasa kepemilikan anggota terhadap kelompok, tetapi juga memastikan bahwa solusi yang dihasilkan lebih relevan dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, kinerja kelompok tani sebagai kelas belajar yang baik ini mencerminkan keberhasilan dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan kolaboratif. Kelompok tani yang berkinerja baik dalam peran sebagai kelas belajar cenderung memiliki dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani (Gani & Robandi, 2. Peran Kelompok Tani Sebagai Wadah Kerja sama Kelompok tani terbentuk ketika seluruh anggota berkolaborasi dalam upaya mencapai harapan, yang kemudian disebut sebagai tujuan bersama. Pembentukan kelompok tani didorong oleh kesamaan tujuan dan kepentingan anggotanya, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama (Effendy & Apriani, 2. Kelompok yang terbentuk dengan sendirinya akan memperhatikan satu sama lain dan bekerja sama untuk menyelesaikan tugas yang telah Kelompok tani yang solid cenderung memiliki tingkat kerjasama dan kepedulian yang tinggi antar anggota, yang pada akhirnya mendorong keberhasilan dalam mencapai tujuan bersama (Aron et al. , 2. Selain itu, kegiatan yang melibatkan kelompok cenderung meningkatkan kesediaan anggota untuk membantu anggota lain yang mengalami kesulitan dalam usahatani. Penelitian oleh (Wiranda & Sari, 2. mengungkapkan bahwa kelompok tani yang efektif memiliki mekanisme saling membantu antaranggota, terutama dalam menghadapi tantangan dan masalah dalam usahatani. (Ismiasih et al. , 2. menegaskan bahwa kinerja kelompok tani sebagai wadah kerjasama dapat diukur melalui tingkat partisipasi anggota, kualitas kerjasama, dan kemampuan kelompok dalam mencapai tujuan bersama. Berdasarkan indikator kinerja petani sebagai wadah kerja sama, fungsi kelompok tani dalam aspek ini diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu kinerja baik, kinerja cukup, dan kinerja tidak baik, sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut. Tabel 2. Kinerja Kelompok Tani Sebagai Wadah Kerjasama Kinerja Kelompok Tani Persentase (%) Kinerja Baik 42,86 Kinerja Cukup Baik 49,03 Kinerja Tidak Baik 8,11 Sumber: Data Diolah . Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kinerja kelompok tani sebagai wadah kerjasama termasuk kategori kinerja cukup baik . ,03%). Kelompok tani telah berhasil menjalin kerja sama dalam penyediaan sarana dan jasa pertanian, membangun kemitraan dengan penyedia sarana produksi, pengolahan, pemasaran hasil, serta permodalan. Selain itu, mereka juga mampu mengatur Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2652-2661 dan melaksanakan tugas serta tanggung jawab yang telah disepakati bersama oleh anggota. Namun, salah satu kelemahan dalam kinerja kelompok tani adalah belum adanya upaya pemupukan modal untuk mendukung pengembangan usaha anggota. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh (Zogar et al. , 2. yang menyatakan bahwa kerjasama dalam kelompok tani seringkali terfokus pada aspek operasional, seperti penyediaan sarana produksi dan pemasaran, tetapi kurang dalam hal pengembangan modal dan investasi jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok tani masih menghadapi tantangan dalam mengelola sumber daya keuangan secara kolektif. Kemampuan kelompok tani dalam berkolaborasi dengan pihak eksternal, seperti penyedia sarana produksi dan pemasaran, berperan penting dalam meningkatkan efektivitas dan daya saing usaha tani, merupakan indikator positif dari kinerja sebagai wadah kerjasama. Kemitraan dengan pihak eksternal dapat meningkatkan efisiensi dan akses pasar bagi kelompok tani, meskipun hal ini seringkali tidak diikuti dengan pengembangan modal internal (Nofita et al. , 2. (Antriyandarti et , 2. Namun, keterbatasan kelompok tani dalam menghimpun modal untuk pengembangan usaha anggotanya menjadi salah satu kelemahan yang signifikan. (Tahitu et al. , 2. menyatakan bahwa pengembangan modal internal merupakan faktor kunci untuk meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan kelompok tani. Tanpa adanya mekanisme pemupukan modal, kelompok tani akan kesulitan dalam mengembangkan usaha dan menghadapi tantangan finansial di masa depan. Secara keseluruhan, kinerja kelompok tani sebagai wadah kerjasama yang cukup baik ini menunjukkan bahwa mereka telah mampu membangun kerjasama operasional dan kemitraan eksternal, tetapi masih perlu meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan modal internal. (Putri et al. (Fita Dwi Untari et al. , 2. menambahkan bahwa kelompok tani yang berhasil dalam kerjasama cenderung memiliki mekanisme pengelolaan keuangan yang transparan dan partisipatif, yang dapat mendorong pengembangan usaha secara kolektif. Peran Kelompok Tani Sebagai Unit Produksi Suatu kelompok tani dapat berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan hasil produksi untuk mendapatkan harga jual yang lebih tinggi. Kelompok tani berfungsi sebagai platform kolektif untuk mengumpulkan dan memasarkan hasil produksi, sehingga petani dapat mencapai skala ekonomi yang lebih besar dan memperoleh harga jual yang lebih menguntungkan (Maulana, 2. (Sriati & Santri. Karena kelompok tani dapat dipertanggungjawabkan atas kualitas produknya, pembeli biasanya cenderung lebih percaya pada hasil panen usahatani. Studi oleh (Maulana, 2. menunjukkan bahwa kelompok tani yang terorganisir dengan baik cenderung menghasilkan produk dengan standar kualitas yang konsisten, sehingga meningkatkan kepercayaan pembeli dan akses Baik atau buruknya hasil panen yang diberikan kepada pembeli akan berdampak pada reputasi seorang petani. Reputasi kelompok tani sangat dipengaruhi oleh kualitas dan konsistensi hasil panen yang dipasarkan. Kelompok tani dengan reputasi baik cenderung memiliki akses pasar yang lebih luas dan harga jual yang lebih tinggi (Untari, 2. Kelompok tani dianggap berperan sebagai unit produksi bagi para anggotanya. (Sarman et al. , 2. menegaskan bahwa dengan menggabungkan usaha tani individu menjadi usaha kolektif, kelompok tani dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan daya saing di pasar. Berdasarkan indikator dari kinerja petani sebagai unit produksi menyatakan bahwa fungsi kelompok tani sebagai unit produksi diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu kinerja baik, kinerja cukup, dan kinerja tidak baik, sebagaimana ditampilkan dalam tabel berikut. Tabel 3. Kinerja Kelompok Tani Sebagai Unit Produksi Kinerja Kelompok Tani Persentase (%) Kinerja Baik 52,12 Kinerja Cukup Baik 23,54 Kinerja Tidak Baik 12,74 Sumber: Data Diolah . Berdasarkan tabel di atas, kinerja kelompok tani sebagai unit produksi tergolong dalam kategori baik . ,12%). Kelompok tani telah mampu merancang serta melaksanakan kegiatan secara kolektif, menyusun rencana kebutuhan berdasarkan pertimbangan efisiensi, serta mendukung penerapan teknologi pertanian, baik dalam hal bahan, peralatan, maupun metode, sesuai dengan rencana yang telah disusun. Selain itu, kelompok tani juga mengelola administrasi dengan tertib dan akurat serta melakukan evaluasi terhadap kegiatan dan kebutuhan bersama sebagai dasar dalam merancang kegiatan di masa mendatang. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh (Asih Farmia, 2. (Ali et Analisis Kinerja Kelompok Tani di Kecamatan Sungai Kakap Dewi Kurniati. Nia Permatasari , 2. yang menyatakan bahwa kelompok tani yang berfungsi sebagai unit produksi yang efektif cenderung memiliki kemampuan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang terstruktur, sehingga meningkatkan efisiensi dan produktivitas usahatani. Kemampuan kelompok tani dalam memfasilitasi penerapan teknologi usahatani, seperti bahan, alat, dan metode baru, merupakan indikator penting dari kinerja mereka sebagai unit produksi. Kelompok tani yang berhasil dalam mengadopsi teknologi cenderung memiliki produktivitas yang lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar (Jandu et al. , 2. Pengelolaan administrasi yang baik dan benar juga menjadi faktor kunci dalam kinerja kelompok tani sebagai unit produksi. (Molina et al. , 2. menegaskan bahwa administrasi yang transparan dan terorganisir membantu kelompok tani dalam mengelola sumber daya secara efisien dan memastikan akuntabilitas dalam pelaksanaan kegiatan. Selain itu, evaluasi kegiatan dan rencana kebutuhan bersama yang dilakukan oleh kelompok tani menunjukkan tingkat kedisiplinan dan keseriusan dalam meningkatkan kinerja. Evaluasi rutin terhadap kegiatan dan rencana kelompok tani merupakan praktik terbaik untuk memastikan keberlanjutan dan peningkatan kinerja secara terus-menerus (Edward & Mohammad Yasin, 2. Jika secara keseluruhan dari kinerja kelompok tani melalui indikator sebagai kelas belajar, wadah kerjasama dan unit produksi maka hasil analisa dapat ditunjukkan pada tabel berikut. Tabel 4. Kinerja Kelompok Tani Kinerja Kelompok Tani Kinerja Baik Kinerja Cukup Baik Kinerja Tidak Baik Sumber: Data Diolah . Persentase (%) 64,50 35,50 0,00 Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa kinerja kelompok tani termasuk kategori kinerja baik . ,12%). Kelompok tani mampu menjalankan fungsinya sebagai kelas belajar, wadah kerjasama dan unit produksi. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap telah berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung peningkatan kapasitas anggota, kerjasama yang solid, dan produktivitas usahatani yang lebih baik. Studi (Soens & De Keyzer, 2. menyoroti bahwa kelompok tani yang berkinerja baik cenderung mampu mengintegrasikan peran sebagai kelas belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi secara seimbang. Hal ini mendorong peningkatan kapasitas anggota, efisiensi usahatani, dan akses pasar yang lebih luas. Sebagai kelas belajar, kelompok tani telah berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggotanya melalui pertemuan rutin dan pelatihan. Kelompok tani yang efektif dalam menjalankan peran sebagai kelas belajar cenderung memiliki anggota yang lebih inovatif dan mampu mengadopsi teknologi pertanian dengan lebih baik (Dhehibi. , et al, 2. (Amanah & Seminar, 2. Sebagai wadah kerjasama, kelompok tani telah mampu menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, seperti penyedia sarana produksi dan pemasaran. Kerjasama yang kuat antar anggota dan dengan pihak eksternal merupakan kunci keberhasilan kelompok tani dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing (Nikam. , et al, 2. (Edelman, 2. Sebagai unit produksi, kelompok tani telah mampu mengelola sumber daya secara efisien dan meningkatkan produktivitas usahatani. (Nur Cholisoh, 2. (Zakaria et al. , 2. menyatakan bahwa kelompok tani yang berfungsi sebagai unit produksi yang efektif cenderung memiliki kemampuan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan yang terstruktur, sehingga mendorong peningkatan hasil panen dan pendapatan anggota. KESIMPULAN Kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap secara keseluruhan termasuk dalam kategori Kelompok tani telah mampu menjalankan tiga fungsi utamanya, yaitu sebagai kelas belajar, wadah kerjasama, dan unit produksi, dengan cukup efektif. Sebagai kelas belajar, kelompok tani berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggotanya melalui pertemuan rutin dan Sebagai wadah kerjasama, kelompok tani mampu menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, seperti penyedia sarana produksi dan pemasaran, untuk meningkatkan efisiensi usahatani. Sebagai unit produksi, kelompok tani telah mampu mengelola sumber daya secara efisien dan meningkatkan produktivitas usahatani melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan yang Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2652-2661 Peningkatkan kinerja kelompok tani di Kecamatan Sungai Kakap dapat dilakukan melalui pelatihan manajemen dan administrasi yang lebih intensif, mengembangkan mekanisme pemupukan modal internal, meningkatkan kualitas kelas belajar melibatkan narasumber yang kompeten dan materi yang relevan dengan kebutuhan petani, menjalin kemitraan yang lebih erat dengan pihak eksternal, melakukan evaluasi dan monitoring rutin terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan, meningkatkan partisipasi anggota melalui pendekatan yang inklusif dan partisipatif. DAFTAR PUSTAKA