GENTA MULIA: Jurnal Ilmiah Pendidikan eissn: 25806416 pISSN: 23016671 UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA DENGAN METODE PICTURE WORD INDUCTIVE MODEL PADA SISWA KELAS II SDN PULOGEBANG 07 Annisa1. Diana Ayuningsih 2. Nadira Ekaputri 3. Nidya Chandra Muji Utami4. Taofik5 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Negeri Jakarta Email: Annisa_1107620240@mhs. DianaAyuningsih_1107620238@mhs. NadiraEkaputri_1107620232@mhs. id, nidya-chandra@unj. id, taofik@unj. Abstract Keterampilan membaca sangat penting untuk dikuasai oles siswa Sekolah Dasar. Untuk meningkatkan keterampilan membaca di Sekolah Dasar adalah dengan menggunakan metode Picture Word Inductive Model (PWIM). PWIM dikembangkan sebagai bagian dari kurikulum seni bahasa dan berfokus pada pemula di sekolah dasar. PWIM membantu mengembangkan kosa kata dan keterampilan literasi awal dengan mengembangkan apa yang telah mereka Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan membaca siswa menggunakan metode PWIM di kelas II SDN 07 Pulogebang tahun ajaran 2022/2023 yang berjumlah 31 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan sebanyak dua siklus, pada setiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data menggunakan dokumentasi, observasi, dan tes. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan, dilihat dari rata-rata keterampilan membaca pada pra siklus sebesar Nilai rata-rata siswa pada siklus I menjadi 70 dan pada siklus II nilai rata-rata peserta didik menjadi 90. Pada pra siklus sebanyak 11 siswa tuntas belajar, siklus I siswa yang tuntas belajar sebanyak 16, dan siklus II sebanyak 26 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PWIM dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas II SDN 07 Pulogebang. Kata-kata kunci: Keterampilan Membaca. Metode Picture Word Inductive Model (PWIM) eissn: 25806416 pISSN: 23016671 GENTA MULIA- JURNAL ILMIAH PENDIDIKAN UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa Pendahuluan Salah satu keterampilan yang diajarkan di sekolah dasar adalah Satu dari empat keterampilan bahasa pokok adalah membaca, yang juga merupakan komunikasi tulis. Membaca adalah tindakan yang dilakukan untuk memperoleh informasi yang ada dari bahan bacaan. Karena itu, keterampilan membaca, yaitu kemampuan untuk memahami isi yang dibaca, sangat penting di Sekolah Dasar. Tujuan dari keterampilan membaca adalah untuk membantu anak mengkomunikasikan pikiran dan perasaan mereka dengan orang lain. Membaca memiliki banyak keuntungan. Membaca memberikan pengetahuan yang luas, dan membaca dengan lancar akan berdampak pada pembelajaran orang lain. Apabila anak mengalami kesulitan membaca, hal itu akan menghambat kemampuan mereka untuk menguasai informasi. Ini disebabkan fakta bahwa kemampuan tersebut merupakan dasar pelajaran di kelas berikutnya (Pratiwi C, 2. Keterampilan membaca di sekolah dasar mulai diajarkan dengan membaca permulaan. Membaca permulaan mulai diajarkan di kelas rendah sekolah dasar. Siswa diajarkan untuk melek huruf, yaitu siswa dapat melafalkan lambang menjadi bunyi pada membaca permulaan. Membaca permulaan ini adalah langkah persiapan siswa untuk membaca lanjut, dimana pada tahap ini nanti siswa diharapkan dapat membaca paragraf Selain itu, siswa dapat sukses di sekolah serta dapat dijadikan dasar untuk mendapatkan pengetahuan yang banyak bersumber dari buku atau bacaan (Afiifah, 2. Membaca permulaan adalah membaca dengan tujuan mampu melafalkan huruf dengan benar sedang memperoleh informasi adalah tujuan yang kedua. Keterampilan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan sangat berpengaruh pada kemampuan membaca lanjut. Sebagai kemampuan yang mendasari kemampuan berikutnya dan meningkatkan prestasi siswa dalam belajar. Kemampuan membaca permulaan memerlukan perhatian guru sebab jika dasarnya tidak kuat, tahap berikutnya akan mengalami kesulitan. Untuk melaksanakan dengan baik perlu perencanaan seperti: materi, metode, ataupun pengembangan (Kurniatin, 2. Namun dalam pelaksanaan keterampilan membaca di sekolah dasar siswa banyak mengalami kendala. Faktor intern . dan ekstern . dapat menjadi sumber kendala membaca siswa. Faktor intern mencakup semua faktor yang berasal dari siswa itu sendiri, sedangkan faktor ekstern mencakup semua faktor yang berasal dari luar siswa atau tidak berasal dari siswa itu sendiri. Faktor ekstern ini dapat berupa keadaan dan kondisi GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa lingkungan yang tidak mendukung, terutama dalam hal aktivitas belajar siswa (Pratiwi, 2. Sehubungan dengan temuan dari observasi dan wawancara dengan guru, siswa, serta dokumentasi di kelas II SDN Pulogebang 07 Jakarta Timur pada 15-21 Maret 2023, ditemukan beberapa permasalahan terutama terkait keterampilan membaca. Hal ini dibuktikan dari 31 siswa hanya 35% yaitu 11 siswa yang mendapatkan nilai di atas nilai rata-rata keterampilan membaca sedangkan 65% atau 20 siswa lainnya masih berada di bawah nilai rata-rata keterampilan membaca yaitu 74. Dilihat dari proses pembelajarannya, guru sudah menggunakan metode dan model abjad/huruf, bunyi, kata, suku kata, global untuk keterampilan membaca pada siswa kelas II, namun hasil yang didapatkan belum maksimal. Siswa kelas II seringkali cepat merasa jenuh karena, tingkat konsentrasi siswa yang sebentar diiringi dengan metode yang tidak sesuai dengan pembelajaran yang disampaikan guru, sehingga siswa mulai membuat keributan yang membuat pembelajaran menjadi tidak Saat siswa diminta membaca, mereka tetap bermain dengan temannya, menunjukkan bahwa minat dan fokus membaca mereka masih Beberapa siswa berjalan-jalan saat guru menjelaskan materi pembelajaran selama kegiatan pembelajaran. PWIM dirancang untuk menjadi komponen besar dalam kurikulum seni bahasa, dengan fokus pada pemula di tingkat dasar dan lebih tinggi. Model ini secara kebetulan dikelompokkan bersama dengan model pemrosesan informasi karena fokus pedagogisnya berada di sekitar konstruksi berbagai mata pelajaran sedangkan siswa dapat menyelidiki lebih dalam bahasa, dalam hal bentuk dan penggunaan huruf, kata, frase, kalimat, dll. Fungsi teks yang membantu berbicara dalam bahasa Inggris. Model ini mendorong siswa untuk membaca, memperluas kosa kata mereka, mengembangkan kemampuan mereka baik dalam fonetik maupun analisis struktural, serta membantu mereka memahami cara memanfaatkan jumlah teks yang lebih luas dengan baik (Salauwe et al. , 2. Kelebihan metode PWIM adalah membantu mengembangkan kosa kata, keterampilan membaca dan menulis pembaca tahap awal, dengan membangun apa yang sudah mereka bisa. Jadi, strategi ini dapat digunakan dalam keterampilan membaca. Selanjutnya, untuk mengarahkan pertanyaan tentang kata-kata, pendekatan ini dapat digunakan dalam kelas, kelompok kecil, atau individu. Secara khusus. PWIM adalah strategi keterampilan bahasa dengan berorientasi inkuiri menggunakan gambar-gambar yang berisi objek dan tindakan umum untuk mendapatkan kata-kata dari apa yang mereka dengar dan katakan. Ada beberapa keuntungan dari PWIM. GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa PWIM adalah aktivitas yang menyenangkan dan menghasilkan kepuasan. Mereka senang menemukan objek dan tindakan dalam gambar, melihat kata dan kalimat yang dihasilkan diekspresikan dalam cetakan dan menjadi bagian dari kurikulum, mengklasifikasikan kata dan kalimat, dan menemukan generalisasi dan konsep bahasa yang berguna. Karena sebagian besar menjadi pembelajar yang sukses. PWIM dapat memberikan motivasi kepada siswa. (Oktafiani & Husnussalam, 2. Oleh karena itu metode PWIM dapat membantu siswa dalam meningkatkan keterampilan membaca. Pengimplementasian PWIM dalam penelitian ini diadaptasi dari Joyce. Weil, dan Calhoun . , dengan langkah-langkah sebagai berikut: memilih gambar lalu menunjukkannya kepada siswa, . meminta siswa mengamati gambar lalu menyebutkan gambar yang dapat dilihat siswa, guru menuliskan kata di luar gambar, . guru menarik garis dari gambar ke kata yang telah disediakan guru, . guru menunjuk kata dan membacanya secara lantang, . guru meminta siswa mengucap, mengeja kata, dan menyebutkan per huruf secara bersama-sama, . guru membacakan kembali tabel gambar lalu meminta siswa menyebut kata beserta huruf yang diketahui, . guru menambahkan kata pada tabel gambar, kemudian guru meminta satu per satu siswa membaca kata berdasarkan gambar dan tulisan, kemudian siswa diminta mengeja atau membaca tiap suku kata, . guru membimbing siswa memikirkan judul yang tepat untuk tabel gambar, . siswa diminta untuk membentuk kalimat mengenai kata bergambar,. guru dan siswa mengulas kata-kata yang ada di tabel gambar. Dari latar belakang serta identifikasi masalah yang sudah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana cara meningkatkan keterampilan membaca menggunakan metode picture word inductive model pada siswa kelas II SDN Pulogebang 07. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan keterampilan membaca dengan metode picture word inductive model pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas II SDN Pulogebang 07. Membaca merupakan hal penting dalam masyarakat terpelajar karena membaca merupakan awal dari pembelajaran individu dan proses membaca buku sangat penting bagi seorang anak dalam kaitannya dengan kehidupannya di masa mendatang. Dapat disimpulkan bahwa membaca memiliki peranan yang sangat penting, oleh karena itu perlu diberikan perhatian khusus pada pelajaran membaca di sekolah dasar. Perhatian khusus guru harus diberikan sejak siswa berada pada kelas awal. Ketepatan serta keberhasilan proses pembelajaran pada kelas awal mempengaruhi pembelajaran siswa selanjutnya. Dengan demikian, guru yang mengajar . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa kelas memiliki tanggung jawab besar terhadap keberhasilan membaca siswa di kelas (Hasanah & Lena, 2. PWIM dirancang untuk menjadi komponen besar dalam kurikulum seni bahasa, dengan fokus pada pemula di tingkat dasar dan lebih tinggi. Model ini secara kebetulan dikelompokkan bersama dengan model pemrosesan informasi karena fokus pedagogisnya berada di sekitar konstruksi berbagai mata pelajaran sedangkan siswa dapat menyelidiki lebih dalam bahasa, dalam hal bentuk dan penggunaan sebuah huruf, kata, frase, kalimat atau lebih. Fungsi teks dapat mendukung berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Model ini mendorong siswa untuk membaca, memperluas kosa kata mereka, mengembangkan kemampuan mereka baik dalam fonetik maupun analisis struktural, serta membantu mereka memahami cara memanfaatkan jumlah teks yang lebih luas dengan baik (Salauwe et al. , 2. Metode Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca dengan menggunakan metode picture word inductive model pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di Kelas II SDN Pulogebang 07 Jakarta Timur. Penelitian ini dilakukan di SDN Pulogebang 07. Jalan Pendidikan No. RW. Kelurahan Pulo Gebang. Kecamatan Cakung. Jakarta Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2023 hingga April 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun modelnya, yaitu Kemmis dan McTaggart menggunakan sistem spiral dengan dua siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Gambar 1. PTK model Kemmis dan McTaggart GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas II SDN Pulogebang 07 Jakarta Timur tahun ajaran 2022/2023. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas II dengan jumlah 31 orang siswa. Partisipan yang terlibat dalam penelitian tindakan ini adalah guru kelas II SDN Pulogebang 07 Jakarta Timur, yaitu Dinar Rizkiah. Pd. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi pembelajaran Bahasa Indonesia dengan metode PWIM, lembar penilaian evaluasi keterampilan membaca, dokumentasi, dan wawancara. Observasi digunakan untuk melihat kesesuaian langkah pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menerapkan metode picture word inductive model di kelas. Penilaian dilakukan setelah tindakan guna mengetahui hasil belajar siswa, tes ini menggunakan bacaan cerita pendek yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa Indonesia kelas II Sekolah Dasar. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menganalisis hasil observasi, hasil penilaian keterampilan membaca, dokumentasi, dan Analisis hasil observasi pada saat pembelajaran berlangsung untuk melihat kesesuaian penerapan metode PWIM. Pengolahan hasil penilaian keterampilan membaca untuk melihat peningkatan kemampuan siswa dalam membaca di setiap siklusnya, serta melihat dokumentasi saat tindakan berlangsung dan hasil wawancara sebagai penunjang data yang Hasil dan Pembahasan Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan metode Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat langkah. Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti beserta guru berdiskusi terkait pelaksanaan metode pembelajaran yang akan digunakan diadaptasi dari pendapat ahli dan disesuaikan dengan kebutuhan serta bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca Dalam perencanaannya guru juga membuat rencana pembelajaran dengan metode Picture Word Inductive Model (PWIM), daftar nilai. Menyiapkan materi Bahasa Indonesia, menyiapkan lembar penelitian, menyiapkan media gambar. Pada tahap tindakan, guru menerapkan langkah pembelajaran bahasa Indonesia dengan metode PWIM. Dalam observasi, guru mengadakan pengamatan anak dalam proses belajar, perkembangan keterampilan anak dalam membaca kalimat, cara guru menyampaikan materi Bahasa Indonesia . eterampilan membac. , cara guru memberikan penilaian bahasa Indonesia kelas II, cara guru mengatasi siswa yang kesulitan membaca permulaan. Dan pada tahap refleksi, dilakukan apabila . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa pada siklus I belum menunjukkan peningkatan yang signifikan sehingga perlu mengadakan tindakan siklus II. Keterampilan membaca siswa SDN Pulogebang 07 Kelas II kurang Tabel di bawah ini menunjukkan bahwa nilai membaca siswa pra siklus adalah 55 dengan nilai ketuntasan keterampilan membaca 74. Selama ini pengelolaan pembelajaran di kelas kurang efektif dan menyenangkan. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas hanya terdiri dari guru yang menyampaikan materi dan siswa mendengarkan guru. Berdasarkan hasil pertimbangan tersebut, peneliti memutuskan untuk melakukan tindakan pembelajaran keterampilan membaca dengan menggunakan metode PWIM. Dalam pembelajaran metode PWIM, siswa diharapkan aktif dan termotivasi untuk meningkatkan keterampilan Tabel 1. Perbandingan Persentase Pra Siklus. Siklus I dan Siklus II Aspek yang Nilai Pra Siklus Nilai Siklus I Nilai Siklus II Rata-rata Rata-rata Nilai rata-rata Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) telah disiapkan sebelum pelaksanaan tindakan Siklus I dan Siklus II. RPP memuat rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mempelajari bahasa Indonesia dengan metode PWIM. RPP terdiri dari: . Pembuatan bahan pembelajaran Siklus I berupa teks cerita dan gambar, . Pembuatan lembar pengamatan pembelajaran, . Pembuatan lembar penilaian membaca siswa, . Penyiapan alat dokumentasi penelitian. Guru dan peneliti bersama-sama mengidentifikasi permasalahan yang terkait dengan membaca siswa kelas II SDN Pulogebang 07 dengan menggunakan metode PWIM sebagai solusi. Siklus I dilakukan sesuai dengan fase PWIM sebanyak dua Sintaks PWIM dalam melakukan pembelajaran dibagi menjadi empat fase, yaitu: Pertama, guru memperkenalkan kata gambar. Siswa GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa diminta untuk melihat gambar yang telah disiapkan oleh guru sebelum kelas Pada tahap ini, siswa tampak sangat antusias mempelajari. Kemudian siswa identifikasi kata tersebut. Saat tanya jawab, guru tidak melibatkan seluruh siswa. Guru hanya fokus pada siswa dengan keterampilan membaca yang kurang baik, sehingga kurang memperhatikan siswa dengan keterampilan membaca rata-rata. Hal ini menyebabkan siswa dengan keterampilan membaca rata-rata ramai. Pada tahap mereview kata bergambar kelas tidak kondusif, siswa membaca dan melafalkan dengan lantang, tetapi dengan kecepatan yang berbeda. Namun, guru memberikan isyarat agar siswa dapat membaca secara bersamaan. Langkah terakhir adalah menulis kata dan kalimat. Minimnya siswa berpartisipasi dalam pembelajaran, sehingga hanya siswa dengan keterampilan membaca permulaan yang baik yang aktif berpartisipasi dalam membentuk kata menjadi kalimat sederhana. Kemudian guru menuliskan kalimat pada kata bergambar tersebut dan siswa membaca kalimat sederhana dengan lantang. Pada setiap pertemuan Siklus I, pertanyaan yang disajikan kepada siswa tidak merata dan siswa gaduh dalam membacakan kata dan kalimat pada gambar, sehingga tidak menunjukkan peningkatan nilai keterampilan membaca yang signifikan. Dengan ini guru melaksanakan Siklus II menggunakan metode PWIM dengan mengajukan pertanyaan secara seimbang dan memberikan isyarat dalam melafalkan kalimat sederhana secara bersamaan. Siklus II dilakukan dalam dua pertemuan sesuai dengan fase PWM. Hasil observasi dan implementasi menunjukkan bahwa guru melakukan kegiatan sesuai fase Picture Word Inductive Model (PWIM). Dalam pertemuan ini, materi pembelajaran seputar kebun binatang pada pembelajaran 3, subtema 4, tema 7. Pada tahap pengenalan gambar, guru mengoptimalkan kata bergambar guna membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan aktif sehingga meningkatkan motivasi belajar siswa. Jika pada Siklus I kesulitan melihat gambar yang berukuran kecil dialami siswa, maka dalam siklus II masing-masing siswa mendapatkan gambar yang serupa dengan ukuran gambar yang sama. Dengan cara ini, siswa dapat lebih jelas mengenali gambar dan kalimat yang terkandung dalam kata Pada tahap identifikasi kata bergambar, guru memberikan kesempatan yang sama bagi tiap siswa. Siswa yang ditugaskan oleh guru untuk menjawab pertanyaan lebih beragam, mulai dari siswa yang memiliki kemampuan membaca rendah, rata-rata, atau tinggi. Dalam mereview kata bergambar, guru berhasil membuat kondisi kelas kondusif dengan "bertepuk tangan dan bernyanyi" untuk mengendalikan siswa yang gaduh. Selain itu, . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa terasahnya siswa dengan keterampilan membaca yang rendah. Terbukti dengan meninjau kata dan kalimat bergambar, siswa dapat aktif menanggapi pertanyaan guru. Pada tahap menyusun kata dan kalimat, guru mengajak siswa berpartisipasi dalam pembelajaran, dan siswa berani mengungkapkan pendapatnya dengan jelas dan lantang. Pembelajaran menjadi optimal dan keterampilan membaca siswa meningkat. Dengan pemberian pertanyaan yang diajukan guru secara merata kepada siswa, kegaduhan di dalam kelas terkendali, siswa berani mengemukakan pendapatnya menyebabkan peningkatan nilai keterampilan membaca siswa secara signifikan, sehingga penelitian yang dilakukan berakhir sampai pada siklus II. Gambar 2. Peningkatan Nilai Rata-rata Keterampilan Membaca pada Pra Siklus. Siklus I dan Siklus II Dari grafik tersebut menyatakan rata-rata keterampilan membaca siswa meningkat disetiap siklusnya. Hal ini dibuktikan dengan nilai rata-rata yang meningkat pada pra siklus 55 menjadi 70 pada Siklus I dan pada Siklus II menjadi 92. Tak hanya peningkatan keterampilan membaca siswa, peningkatan proses pembelajaran juga terjadi. Keberhasilan proses juga merupakan salah satu tujuan yang dicapai. Dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan mengalami peningkatan, dari pengamatan guru dan siswa terhadap aktivitas dalam proses pembelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan dengan semangat oleh guru, sehingga siswa antusias dan tertarik selama prosesnya. Proses pembelajaran di kelas antara guru dan siswa juga saling bertanya dan menjawab, tidak sebatas mendengarkan. Siswa mengetahui juga mengalami, siswa memperhatikan penjelasan guru dan tidak berbicara di kelas. Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui metode PWIM dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa kelas II SDN Pulogebang 07. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa keterampilan . GENTA MULIA-Jurnal Ilmiah Pendidikan UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMBACA Annisa membaca siswa kelas II SDN Pulogebang 07 meningkat melalui metode Picture Word Inductive Model (PWIM). Dengan metode PWIM, siswa sebagai pusat pembelajaran, sehingga proses pembelajaran melibatkan siswa secara penuh. Siswa dilibatkan secara langsung, mulai dari mengamati gambar hingga menyusun kata dan kalimat hingga kegiatan reflektif. Guru juga termotivasi melakukan pembelajaran bahasa Indonesia dalam keterampilan membaca dengan menggunakan sumber belajar. Metode PWIM dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa kelas II SDN 07 Pulogebang. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata kelas pra siklus Rata-rata keterampilan membaca siswa kelas meningkat pada Siklus I menjadi 70 dan 92 pada Siklus II. Peningkatan tersebut dikarenakan proses pembelajaran menggunakan metode PWIM. Tahapan pembelajaran keterampilan membaca dengan metode PWIM pada penelitian ini adalah . Mengenal kata bergambar, . Mengidentifikasi kata bergambar, . Meninjau kata bergambar, . Pembentukan kata dan kalimat. Ucapan Terimakasih Terimakasih atas bimbingan dan dorongannya kepada Ibu Nidya Chandra Muji Utami. Pd. dan Bapak Taofik. Pd. selaku dosen mata kuliah kolokium dan publikasi ilmiah yang temah memberikan kesempatan pada peneliti untuk merangkai dan menyusun artikel ini. Daftar Pustaka