COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 34 - 41 id/index. php/CIJGC PERAN KONSELOR MULTIKULTUR DALAM PENDIDIKAN SOCIAL JUSTICE UNTUK MEMENUHI HAK LANSIA Belardo Farjantoky Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Email: Belardoexpresso@gmail. Info Artikel ________________ Riwayat Artikel Diterima: Juni 2020 Disetujui: Juni 2020 Publikasi: Juni 2020 ________________ DOI : Abstrak ___________________________________________________________________ Elderly is one phase where every human being will experience it. This situation will be seen when it reaches the age of over 60 years and above. By looking at these conditions can be determined that the existence of problems experienced by the elderly, especially related to the reduction of physical efficiency for optimization in besides that, with this situation raises a lack of acceptance in the community, so that the elderly will feel that the price is valued as properly as humans in the previous phase. these conditions will be very much needed with the existence of social with the existence of social justice, the elderly will get distribution and justice which will make it better to get recognition rights. therefore the counselor as someone who can provide social justice to the elderly in a special population scope has the duty to provide justice education and an important role in creating a person who has the capacity and can fulfill their rights in recognition in the family and community Keywords: Multicultural Counselors. Social Justice Education. Elderl Abstrak Lansia merupakn salah satu fase dimanan akan dialami setiap manusia. Keadaan tersebut akan terlihat ketika telah mencapai usia di atas 60 tahun keatas. Dengan melihat kondisi tersebut dapat di pastika bahwa terdapatnya permaslahan yang di alami oleh lansia. Khususnya berhubungan dengan berkurangya efetifitas fisik untuk pengoptimalan dalam beraktifitas. selain itu juga, dengan keadaan tersebut menimbulkan kurangnya penerimaan dimasyarakat, sehingga lansia akan merasakan kuranya di hargai seperti selayaknya manusia pada fase sebelumnya. keadaan tersebut akan sangatlah dibutukan dengan adanya suatu keadilan sosial . ocial justict. Dengan adanya sosial justice, lansia akan mendapatkan distribusi dan keadilan yang akan menjadikan lebih baik untuk mendapatkan hak pengakuan. oleh karenanya konselor sebgai seorang yang dapat memberikan sosial justice terhadap lansia dalam suatu lingkup populasi khusus, memiliki tugas untuk memberikan pendidikan keadilan dan peranan penting dalam menciptakan suatu pribadi yang memiliki kapasitas dan dapat terpenuhinya hak-haknya dalam pengakuan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Kata Kunci: Konselor Multikultural. Pendidikan Social Justice. Lansia A 2020 Universitas Tunas Pembangun Surakarta e-ISSN Belardo Farjantoki COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 34 - 41 PENDAHULUAN Lanjut usia merupakn salah satu fase dimanan akan dialami setiap manusia. Jika kita lihat secara umum bahwasannya lansia dapat kita ketahui seseorang disebut lansia atau manusia lanjut usia dimana jika telah berusia 65 tahun atau bahkan melebihi dari usia Di sisilain terdapat beberapa batasan-batasan usia yang termasuk dalam golongan batasan usia orang yang masuk di dalam kategori lansia, seperti yang di jelaskan pada UU No. 13 Tahun 1998 diantaranya adalah 60 tahun dan juga sama halnya dengan WHO 6074 tahun (Mayalasari, et. al: 2. Dengan melihat kondisi tersebut dapat di pastika bahwa terdapatnya permaslahan yang akan muncul dari individu tersebut seperti dengan di mulainya pengurangan konsumsi makanan dan gizi, tingkat kesehatan yang mulai melemah, tingkat pendidikan serta pengakuan terhadap masyarakat atau bahkan orang Peningkatan jumlah penduduk lansia di indonesia setiap tahun bertambah dimanan yang di jelaskan oleh Adioetomo dalam Howell dan Priebe . bahwa presentase lansia yang ada di indonesia setiap tahun akan diperkirakan meningkat hingga pencapai 23 persen pada tahun 2050. Selain itu, juga kurang dari lima tahun ini Indonesia telah menghadapi kenyataan dengan penuaan penduduk yang di tandai dengan selalu adanya peningkatan kurang lebih kisaran 10 persen dilihat pada tahun 2021. Keadan tersebut akan memberikan dampak yang positif jika lansia dalam keadaan sehat, aktif dan Tetap disisilain, jika peningkatan tersebut lebih ke arah negatif maka akan memberikan maslah pada penurunan kesehatan dan akan menimbulkan suatu dampak disabilitas terhadap lansia itu sendiri sehingga akan mengurangi adanya suatu dukungan sosial dan kurangnya penerimaan oleh lansia tersebut. Banyaknya permasalahan yang di alami lansia menyebankan kurangnya respon terhadap keefektifan atau tanggapan dapat memberikan anggapan yang berguna menurut lanisa itu sendiri. Selain itu, juga lansia secara psikologis akan merasa kesepian, merasa tiada guna lagi, dan timbulnya kemunduran diri atau hilangnya kemandirian yang awalnya ia adalah orang yang aktif sekarang telah berubah secara drastis. Untuk memberikan pengatan atau pengakuan terhadap lansia, pemerintah telah memberikan layanan seuai dengan UU No. 13 Tahun 1998. Yang manan lansia memiliki hak untuk memiliki kesejahteraan social, meliputi spiritual dan spiritual, mendapatkan pelayanan kesehatan, pelayanan kesempata kerja, mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan kemampuannya, mendapatkan kemudahan dalam penggunaan fasilitas yang sesuai, sarana dan prasarana umum, mendapatkan kemudahan dalam pelayanan dan bantuan hukum, dan mendapatkan perlindungandan bantuan social. Untuk layanan lebih di fahami tentang pedoman pelayanan lansia maka di dalam Permensos RI Nomor 19 tahun 2012 menyebuutkan bahwa pedomanan pelayanan social merupakan suatu usaha yang di tunjukan dalam membantu lansia untuk memulihkan serta mengembangkan sosialnya. Pelayanan tersebut meliputi kegiatan yang di lakukan dalam panti atau di luar panti. Kegiatan-kegiatan tersebut sangatlah memberikan damak yang positif bagi lansia akan lebih mersakan perlindungan, dan pengembangan kelembagaan social bagi lansia. Dengan begitu lansia akan lebih merasa sehat baik secara fisik maupun psikisnya. Seperti dengan adanya pembinaan kesehatan lansia yang ada dalam lingkup tesebut dimanan merupakan salah satu kegiatan yang seharusnya selalu di adakan untuk mewujudkan lansia sejahtera, bahagia dan berdayaguna bagi kehidupan keluarga dan lingkup masyarakat (Rosidah. A, , al 2. Dalam pelayanan tersebut tidak terlepas dari seseorang yang akan memberikan bantuan dan arahan dalam memberikan hak yang seharusnya di dapatkan, karena tidak semua hak tersebut akan sampaikan kijalau tidak ada yang memberikannya. Seperti Belardo Farjantoki COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 34 - 41 seorang yang telah di berikan tugas dalam memberikan hak lansia, dengan inilah seorang konselor sebagai seseorang yang memiliki memiliki tanggungjawab salah satunya sebagai konselor multikultural yang merhubungan keadilan social maka konselor multikultur ikut serta dalam memberikan hak dari lansia khususnya memalui pendidikan social justice dimanan mereka melaporkan bawasannya dalam menempatkan pengajaran dalam keadilan sosial di kehidupan siswa atau seseorang di di ajarnya, dengan menggunakan pedagogik serta adanya kurikulum dalam berkomuniksai dimanan ia dapat menempatkan keadilasn tersebut sesuai dengan pengajaran yang di berikan oleh seorang pendidik (Rojas & Liou :2. Denggan adanya pendidikan ini akan memeberiakan pemberdayaan bagi lansia sehingga lansia puan akan merasakan penerimaan dan pengakuan dari lingkuakannya tanpa memandang keadaannya. PEMBAHASAN Koselor Multikultur Perlu kita ketahui bahwasannya konseling multi budaya merupakan suatu layanan bimbingan dan konseling yang dalam prosesnya konseling terjadi antara individu yang memiliki latar budaya yang berbeda (Jakson dalam Retts & Pendersen: 2. Kegiatan tersebut di lakukan oleh seorang professional terlatih dari suatu latar belakang yang budaya/ etnis/ ras yang berinteraksi dengan konseli dari latar belakang budaya/ etnis/ ras yang berbeda dengan tujuan untuk mempromosikan pengembanga kognitif, emosinal psikologis, dan/ aspiritual konseli (DAoAndrea & Daniel dalam Retts & Pedersen :2. Dapat di ketahu bawasannya konselor multikultur merupakan seorang professional yang berkecimpung dalam pelayanan budaya tersebut. Dalam bimbingan konseling memiliki cakupan yang memang akan memberikan khasanah dan sebagai seorang yang professional dalam bidangnaya untuk lebih luas mengetahui lebih dekat kepada lingkungan dengan berbagai macam budaya dan ras. Dengan itulah seorang konselor juga harus mampu untuk memiliki kompetensi multikultur berkaitan dengan munculnya isu-isu dan keragaman. Seperti di tujukan oleh Corey . Aymore than ethnic or racial heritage. culture also include factors such as age, gender, religion, sexual orientation, physical and mental health ability, and socioeconomic statusAy. Oleh karenanya seorang konselor harus mampu dalam memberikan pengaruh baik dalam memberikan suatu pemahakan dan bahakan lebih dari itu juga dalam pemberian layanan terhadap seorang individu dengan lain budaya. Secara khusus konselor multikultur harus memiliki pemahaman yang meluas seperti yang di tuliskan pada rumusan-rumusan kompetensi konselor seuai dengan kerangak kompetensi multikutural yakni dalam Permendiknas No 27 Tahun 2008 dimanan menjelaskan tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi seorang konselor dalam dengan kompetensi konseling multicultural model (MMC) yaitu dilihat dari . kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadan, komperensi social, dan komptensi professional (Hastuti, & Marheni : 2. Oleh karenanya konselor multikultuh agar data lebih peka dan mampu beradaptasi ke dalam lingkup multi kultur dalam suatu kelompok atau suatu komunitas dengan penyesuaian lingkungat tersebut. Dengan itulan perlu adanya suatu pengengalaman belajar multikultur dengan pengembangan dan pembangaunana melalui tingkat kompetnsu konselor akan memberikan suautu capaian dalam tujuan pembelajaran yang meluat ke komunitas globa. pengalaman-pengalaman tersebut dapat disatukan pada kompetensi budaya guna memberikan landasan pengembangan pendekatan yang lebih mnyeluruh dalam pelatihan dengan berbasis kompetensi mutikultur (Clarke: 2. Konselor multikultur juga harus faham tentang hal-hal yang mencakup ranahnya, seperti lebih pada perbedaan suatu kelompok. Kelompok tersebut biasanya memiliki suatu Belardo Farjantoki COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 34 - 41 anggapan atau kepercayaan sesuai dengan budaya yang ada di lingkupnya sehingga tidak bisa di samakan dengan kelompok-kelompok yang lainnya. Seperti misalnya di Indonesia sendiri, yang memang memilik berbagai ras dan suku bangsa. Keadaan tersebut sangatlah penting sekali bagi seorang konselor dalam memberian suatu layanan bimbingan dan konseling sehingga dapat memberikan manfaat bagi konseli yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Pendidikan Keadilan Sosial/ Social Justice Keadilan social merupakan ranah yang terdapat dalam konseling multikultur, dimanan terdapatnya budaya yang berbeda, ras, kepercayaan, pemahaman yang berbeda terkadang mempengaruhi penerimaan masyarakan atau di lingkup yang lebih luas sehingga menjadikan suatu permaslahan yang membelenggu suatu rasa atau kelompok Dengan permasalahan tersebut terkadang ras, atau sekelompok orang tidak akan berkembang atau kurang memiliki hak layaknya rasa atau lingkup kelompok budaya yang dapat diteriman secara global. Melihat permalasalahan yanag sering terjadi di lingkup multikultur sebagai konselor multikultur pastinya turuntangan dalam memberikan bantuan dan memberikan suatu keadilah yang memang akan memberikan anggapan atau merubah persepsi bahkan akan memberikan penerimaan di masyarakan akan adanya perbedaan rasa tau etnis, budaya, pemahaman, kepercayaan, social ekonomi individu. Seperti yang di maksudkan oleh Lee dan Hipolito-Delgado dalam (Fickling. Lancaster, & Neal: 2. bahsawannya social justice merupakan pasrtisipasi penuh yang diberikan oleh semua orang dalam lingkup masyarakat, tetutama mereka yang memang berdasarkan pengecualian berdasarkan rasa tau etnis, usia, cacat fisik maupun cacat mental, jenis kelamin, pendidiakn, status social dan perekonomian individu, pendidikan, atau beberpapa karakteristik yang lainnya. Peran konselor multikultur dalam usaha meningkatkan keadialan social atau social justice sangatlah di butuhkan. Dengan adanya pendidikan sosial justice akan memberikan suatu dampak yang positif dalm pengakuan dalam penindasan atau tak adanya penerimaan di masyarakat dimana sesuai dengan landasan teori pendidkan keadilan sosial yaitu akan mendorong siswa atau konseli dalam mengambil peran aktif untuk pendidikan mereka sendiri dan mendukung para guru atau konselor dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang menghasilkan pemberdayaan, demokratis, dan kritis. oleh karena tujuan pendidikan keadilan sosial itu lebih pada memasukkan pemberdayaan konseli, dalam pendistribusi sumber daya yang adil dan tanggung jawab sosial, serta adanya prosesnya guna memasukkan demokrasi, sehingga akan lebih fokus berpusat pada konseli, mengenai dialog, dan analisis kekuasaan. (Hackman: 2. Terdapat lima komponen pendekatan keadilan sosial dalam pendidikan yang dirincikan sebagai berikur dirincikan (Hackman: 2. Penguasaan Konten: Penguasaan konten merupakan aspek penting dari pendidikan keadilan sosial dan terdiri dari tiga bidang utama: informasi faktual, kontekstualisasi historis, dan analisis konten makroto-mikro. Penguasaan konten adalah komponen pertama dari pendidikan keadilan sosial yang efektif karena perolehan informasi merupakan dasar yang penting untuk belajar. Alat untuk analisis kritis: dimanan sebuah informasi saja tidak cukup tetapi semua itu harus di fahamkan dengan seperti menciptakan kenyamanan dalam ruang kelas yang demokratis, memberdayakan, atau untuk mempersiapkan konseli secara memadai untuk perubahan yang lebih aktif dalam keadilan sosial di kehidupannya dan masyarakat. Belardo Farjantoki COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 34 - 41 Alat untuk perubahan social: konten saja tidak cukup untuk menciptakan pengaturan ruang kelas yang demokratis, memberdayakan, atau untuk mempersiapkan siswa secara memadai untuk menjadi agen perubahan yang aktif dan keadilan sosial dalam kehidupan dan masyarakat mereka Alat untuk refleksi pribadi: mengingatkan guru untuk merefleksikan secara kritis pada diri mereka sendiri dan kualitas pribadi yang menginformasikan praktik Kesadaran akan dinamika kelompok multicultural: pengajaran yang efektif untuk keadilan sosial yang melibatkan pemahaman dinamika kelompok kelas dan identitas yang dibangun secara sosial dari konselor dan konseli. Lansia Lanjut usia merupakn salah satu fase dimanan akan dialami setiap manusia. Jika kita lihat secara umum bahwasannya lansia dapat kita ketahui seseorang disebut lansia atau manusia lanjut usia dimana jika telah berusia 65 tahun atau bahkan melebihi dari usia Di sisilain terdapat beberapa batasan-batasan usia yang termasuk dalam golongan batasan usia orang yang masuk di dalam kategori lansia, seperti yang di jelaskan pada UU No. 13 Tahun 1998 diantaranya adalah 60 tahun dan juga sama halnya dengan WHO 6074 tahun (Mayalasari, et. al: 2. Selain itu juga di setiap kehidupan pasti akan melewati yang di namakan menua seperti yang di alami lansia, keadaan tersebut bukalah suatu penyakit, melainkan suatu proses yang berangsur-angsur dimana mengakibatkan sebuah perubahan yang semakin bertambah atau kumulatif, slain itu juga pada masa ini terjadinya proses penutrunan daya tubuh dalam menghadapi rangsangan yang di terimanya baik itu dari dalam maupun dari luar tubu dan di akhiri dengan kematian (Padila: 2. Lansia memiliki Batasan-batasan yang memang perlu di perhatikan sesuai dengan yang di paprkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) yakni sebagai berikut: Middle Age Usia pertengaha. , merupakan kelompok kisaran usia 45 sampai 59 Elderly (Lanjut usi. , merupakan kelompok kisaran usia 60 - 74 tahun. Old (Lanjut usia tu. , merupakan kelompok kisaran usia 75 - 90 tahun. Very Old (Usia sangat tu. , merupakan kelompok kisaran usia 90 tahun. Sesuai dengan pemaparan dapat dei ketahui bawasannya memang adanya tingkatan yang dapat di golngkan di setiap rentang umur. Dengan bertambahnya umur juga mengurangi keoptimalan indara atau keadaan fisik maupun psikis pada diri lansia. Sehingga dalam kehidupanya tidak jarang banyak permasalahan selain dari fisi psikispun dirasakannya. Keadaan tersebut di karenakan beberapa sel yang terdapat pada tubuh manusia terbatas umurnya. Setehan pembelahan diri yang di lakukan oleh sel-sel yang terdapat pada tubuh manusia lebih dari 50 hingga 100 kali kemudia berhentilah dalam bembelahan tersebu. sel pun menjadi, sehingga membuat manusias tersebut mengalami yang di maksud dengan kemunduran kondisi fisik dan psikisnya/mental (Suhartin: 2. Dari permaslahan tersebut akan berdampak pada timbulnya prasangka dan anggapan yang kurangnya oleh masnusia atau individu yang lebih muda umurnya. Sebab lansia di anggap sudah mengurangnya kondisi fisik, sehingga timbullah anggapan dari manusia yang lebih muda terhadap lansia. Aulebih baik untuk beristirahat dari aktifitas kerjanyaAy. Peranan Konselor Multikultur dalam Pendidikan Keadilan Social Bagi Lasnia Peran konselor multikultur sangatlah penting dalam memberikan bantuan dan pemahaman baik itu berkaitan dengan individu maupun sekolompok komunitas yang Belardo Farjantoki COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 34 - 41 berlatar belaknang perbedaan rasa atau etnis, budaya, pendidikan, social ekonomi, dan masih banyak lagi. Bermacam-macam permasalahan budaya yang khususnya jika dilihat dinegara kita sendiri yakni di indobesia. Begitu banyaknya budaya yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Maka perlunya social jistice sebagai suatu upaya dalam menyeratakan hak-hak yang memang seharusnya dimiliki bagi setiap individu. Seperti apa yang dilihat dalam lingup populasi khusus yakni salahsatunya adalah lansia. Bahwa jika dilihat, lansia merupakan bentuk dari multikultur yang lebih pada perbedaan kebutuhan dan keadaan yang terkadang juga terlihat pada budaya dan kebiasaan lansia itu sendiru. Beda dimensi kehidupan juga memberikan suatu perbedaan yang perlu adanya penangan dan pemahaman yang perlu diberikan dari seseorang ahli yang professional. Selian itu juga jika dilihat bawasannya lansia merupakan fase dimanan telah memasuki usia 60 tahun Banyaknya permaslahan yang dirasakan dan dialami lansia menjadi sorotan utama yang memang dan perlu perhatian khusus. Permaslahan tesebut lebihnanyak pada pengakuan terhadap dirinya. Sebab dalam banyaknya manusia yang lebih muda menganngap bahwa lansia karena suadah berkrangnaya keefektifan indara yang mulai berkurang otomatis daya kerja juga mulai berkurang. Dari sisilah perhatian dan penganggapan terhadap lansia menjadi berkurang. Selain itu juga kuranya pemahaman dari lingkup keluarga yang kurang juga memberikan peluang terhadap perawat lain untuk membantu dalam memperhatikan. Alhasil dari beberapa lansia dititipkan di panti lansia sebagai ungkapan penerimanaan atau agar dapat terawatt dengan baik. Dengan inilah peran konselor multikultur dalam kaitanya memberikan bantuan dalam keadilan social terhadap populasi khusus untum mempromosiakn bahwa lansia memiliki hak dihaperhatikan, di hargai oleh lingkungannya baik itu dalam keluarga maupun di masyarakan. Dalam peranannya konselor multi kultur lenih menekankan pada pemahaman dan bimbingan dalam menyeratakakn haknya. Seperti yang di paparkan oleh Hyunhee Cho . bahwasanya social justice adalah berkaitan dengan semua orang yang mndapatkan distribusi secara adil dan setara, dan dalam hal ini juaga untuk mendapatkan hal tersebut dengan adanya pendidikan social justice. Melalui suatu pendidikan social justice diharapkan dapat lebih diterima dengan baik dan mendapat respon yang postitif. Pendidian tersebut meliputi lima komponen pendekatan keadilan sosial dalam pendidikan yang dirincikan sebagai berikur dirincikan (Hackman: 2. Penguasaan Konten: dimanan lannsia membutuhkan informasi yang cukup tentang dunia yang sedang di lalui saat ini dengan pemahaman yang dei beriakn oleh konselor multikultur dengan pengenalan dan bimbingan dalam kegiatan pemahaman. Walau terkadang yang namanya lansia memang sudah berkurangnya panca indra, tetapi perlahan diberikan penahaman untuk mengetahui beberapa hal baru yang ada di dunia saat ini dan pemahakan apa yang seharusnya memang di terima untuk di Analisis kritis: walaupun yang menjadi sasaran adalah lansia, namun perlu juga adanya analisi yang kritis dalam pemahakan dan meberian bimbingan dalam penyamaan hak bagi lansia. Dimana analisis tersebut dengan adanya penciptaan suasana bimbingan dan ketika mengajak dalam memahami suatu hal dapat diajak dengan perasaan yang bahagia dan penerimaan yang lebih. Sehingga lansia lebih dapat di berdayakan dengan beberapa kegiatan semiisal yang ada di panti lansiia tersebut, agar lansia tidak merasakan kebosanan dan kecemasan yang mengakibatkan beberapa permasalhan yang akan muncul lebih banak lagi. Belardo Farjantoki COUNSENESIA Indonesian Journal of Guidance and Counseling 1 . : 34 - 41 Alat untuk perubahan social: dimanan bagi lansia disini, seorang konselor memberikan layana dalam untuk memahami lingkungannya dengan mennggajak dang berkomunikasi dengan baik kantar sesame konseli lansia yang ada di dalam populasi tersebut. Alat untuk refleksi pribadi: memberikan pemahaman terhadap dirinya untuk dalap lebih hidup yang mandiri dan dapat memberikan atau mempromosikan terhadap lingkungannya untuk lebih menerima keadaannya saat ini. Kesadaran akan dinamika kelompok multicultural: dengan adanya perbedaan latar kebudayaan yang berbeda dan jaman yang berbeda pula. Sekelompok lansia diajak dalam kegiatan yang memberikan interaksi kelompok dalam hal ini agar dapat menerima dan menghargai serat adanyasaling memperhatikan antar lansia. Dengan kegiatan tersebut akan mendapatka pengajaran dan bimbingan yang efektif, sehingga lansia dapat lebih mandiri. Simpulan Lansia merupakn salah satu fase dimanan akan dialami setiap manusia. Keadaan tersebut akan terlihat ketika telah mencapai usia di atas 60 tahun keatas. Dengan melihat kondisi tersebut dapat di pastika bahwa terdapatnya permaslahan yang di alami oleh lansia. Khususnya berhubungan dengan berkurangya efetifitas fisik untuk pengoptimalan dalam Setiap masnusia pasti akan merasakan proses dimanan mengalami kemunduran yang akan mempengaruhi berkurangya keefektifak indara dalam bekerja dengan baik. Permalasahan yang akan muncul di dalam fase tersebut akan muncul dengan berkuranya juga dengan kondisi tubuh yang semakin melemah. Permalasahan tersebut dalapt meliputi persalalahan fisik maupun psikis yang sangat mempengaruhi pada penerimaan terhadap diri dan hilanya hak-hhak yang seharusnya memang dimiliki selayaknya masnusia yang lebih muda daripada lansia tersebu. Karena sebab dari lingkungan keluarga ataupun lingkungan masyarakan dalam kaitanya tentang hak untuk memperhatikan dan perawatan. Dengan inilah konselor multikultur dapat memberikan layanan memalui adanya sosial justice, lansia akan mendapatkan distribusi dan keadilan yang akan menjadikan lebih baik untuk mendapatkan hak pengakuan. oleh karenanya konselor sebgai seorang yang dapat memberikan sosial justice terhadap lansia dalam suatu lingkup populasi khusus, memiliki tugas untuk memberikan pendidikan keadilan dan peranan penting dalam menciptakan suatu pribadi yang memiliki kapasitas dan dapat terpenuhinya hak-haknya dalam pengakuan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. DAFTAR PUSTAKA