Jurnal Bindo Sastra 8 . : 105Ae114 KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL RAHASIA SALINEM (ANALISIS DENGAN PERSPEKTIF TEORI FEMINIS KONTEMPORER) Annida Hanifah Elshanti Universitas Gunadarma hanels@gmail. Diterima: 31 Agustus 2024 Disetujui: 16 Januari 2025 Diterbitkan: 07 Juli 2025 Abstrak Novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang sering kali digunakan sebagai media penyampai Baru-baru ini, suara mengenai ketidakadilan gender merupakan satu dari banyak topik yang ramai dimuat dalam novel, salah satunya adalah novel AuRahasia SalinemAy. Meskipun novel tersebut berfokus mengisahkan tokoh perempuan tangguh, tetapi bentuk ketidakadilan gender tetap ditemukan di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang diterima oleh tokoh perempuan dalam novel. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Rahasia Salinem. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan melibatkan teknik close reading . embaca secara cermat, detail, dan repetiti. Seluruh data dianalisis menggunakan teori bentuk ketidakadilan gender. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima bentuk ketidakadilan gender dapat ditemukan dalam novel Rahasia Salinem, yaitu: beban kerja ganda: harus bekerja di rumah dan mencari nafkah, kekerasan, marginalisasi, subordinasi, dan stereotipe terhadap perempuan. Kata kunci: ketidakadilan gender. Mansour Fakih, novel. Rahasia Salinem Abstract Novels are a type of literary work that is often used as a medium to convey messages. Recently, gender inequality has been one of the most prevalent topics in novels, one of which is AuRahasia SalinemAy. Although the novel focuses on telling the story of a strong female character, forms of gender inequality are still found in it. This study aims to reveal the forms of gender inequality received by female characters in the novel. The data source in this research is the novel AuRahasia SalinemAy. The research method is descriptive qualitative by involving close reading technique. All data were analyzed using the theory of forms of gender inequality proposed by Fakih . The results showed that five forms of !gender inequality can be found in the novel AuRahasia SalinemAy, namely double workload, violence, marginalization, subordination, and stereotypes against women. Keywords: gender inequality. Mansour Fakih, novel. Rahasia Salinem APendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UM Palembang DOI: https://doi. org/10. 32502/jbs. Pendahuluan Dalam banyak budaya, sistem patriarki menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama, sementara perempuan sering dibatasi pada peran Misalnya, masyarakat, perempuan dianggap tidak perlu berpendidikan tinggi karena dianggap akhirnya akan kembali ke urusan rumah Adanya pelabelan negatif bahwa perempuan adalah lemah, rasional, dan emosional yang bermula dari adanya mitos- mitos yang terbangun dalam suatu Dari anggapan masyarakat bahwa perempuan rasional, dan emosional, maka menjadikan perempuan sebagai manusia nomor dua, dan tidak dapat tampil memimpin maka dianggap tidak penting. Anggapan tersebut telah menjadikan perempuan korban dari perbedaan gender yang menimbulkan diskriminasi (Astuti, 2018:. Novel memang termasuk ke dalam kategori sastra Namun, kisah fiksi dalam novel Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Annida. Ketidakadilan Gender TerhadapA pengarang terhadap masyarakat di dunia Karena itulah banyak ditemukan kemiripan antara kejadian-kejadian yang dikisahkan dalam novel dengan yang terjadi sehari-hari. Tidak hanya hal-hal indah, tetapi juga hal-hal tidak mengenakkan yang terjadi di masyarakat juga dapat tercermin dalam novel. Mulai dari konflik hingga diskriminasi, semua dapat direpresentasikan dalam novel. Akhir-akhir ini, topik mengenai kesetaraan dan ketidaksetaraan gender tengah ramai diperbincangkan, terlebih yang berkaitan dengan perempuan. Novelnovel pun banyak yang mengangkat tema tentang perempuan, mulai dari emansipasi perempuan hingga ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Salah satu novel yang mengambil tema tersebut adalah novel AuRahasia SalinemAy yang ditulis oleh Brilliant Yotenega dan Wisnu Suryaning Adji pada tahun 2019. Secara garis besar, novel ini mengisahkan tentang perjalanan dan perjuangan hidup seorang perempuan bernama Salinem. Meskipun secara dominan novel ini membahas tentang ketangguhan perempuan dalam menjalani hidup, tetapi ternyata bila ditelaah lebih dalam, akan ditemukan bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang dialami oleh para tokoh perempuan yang hidup di Gender sendiri didefinisikan sebagai: kepribadian dan perilaku yang diasosiasikan secara spesifik kepada perempuan atau laki-laki. konstruksi sosial yang membedakan antara perempuan dan laki-laki . ermasuk ciri tubuh yang membedakan perempuan dan laki-lak. keberadaan dua kelompok sosial yang berbeda. Aolaki-lakiAo dan AoperempuanAo (Connel & Pearse dalam Richardson & Robinson, 2. Lips . 0, . mengemukakan bahwa gender merupakan aspek non fisiologis pada laki-laki dan perempuan, dalam kata lain, merupakan ekspektasi dan peran feminitas dan maskulinitas dalam budaya. Konsep gender menolak gagasan bahwa anatomi perempuan adalah takdir dan bersikeras bahwa peran-peran yang dilimpahkan kepada perempuan merupakan konvensi sosial dan bukan berdasarkan ciri biologis (Scott, 2. Oleh sebab itu, banyak orang yang melabeli diri dengan gender yang berbeda dengan jenis kelamin Ada yang secara fisik termasuk perempuan, tetapi melabeli diri dengan ada yang secara fisik termasuk laki-laki, tetapi melabeli diri dengan ada pula yang memilih untuk tidak melabeli diri dengan gender apa pun. Sayangnya, terhadap gender. Yang dimaksud dengan ketidakadilan gender di sini adalah sebuah sistem yang struktur yang kaum laki-laki dan kaum perempuan (Fakih, 2. Meskipun kedua gender sama-sama mengalami ketidakadilan, tetapi yang lebih banyak mengalaminya adalah kaum Fakih . ketidakadilan gender, yaitu marginalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, dan beban kerja ganda. Berikut ini adalah pemaparan lebih rinci mengenai bentuk ketidakadilan gender yang dikemukakan oleh (Fakih: 14-. Marginalisasi pemiskinan terhadap kaum perempuan. Sumber marginalisasi perempuan, antara lain kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi, kebiasaan, dan asumsi ilmu Bentuk ketidakadilan gender ini tidak hanya terjadi di tempat kerja, melainkan juga dalam rumah tangga, masyarakat, kultur, dan negara. Diskriminasi anggota keluarga sudah termasuk Subordinasi anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang tidak rasional dan hanya mengedepankan perasaan sehingga tidak bisa menampilkan diri sebagai Hal tersebut terjadi karena adanya pandangan gender. Stereotipe terhadap perempuan, yaitu pelabelan terhadap kelompok tertentu, dalam hal ini kaum perempuan. Meskipun hanya ungkapan verbal, tetapi stereotipe ini selalu merugikan Jurnal Bindo Sastra 8 . : 105Ae114 Misalnya saja, maraknya victim blaming pada kasus pelecehan seksual. Kekerasan pada perempuan, yaitu serangan terhadap fisik ataupun psikis Kekerasan sering kali terjadi akibat adanya anggapan terhadap perempuan. Seorang laki-laki merasa memiliki kekuatan dan kekuasaan berlebih sehingga bisa dengan bebas menyerang perempuan. Fakih . 8, 18-. mengkategorikan kekerasan ke dalam delapan kategori, antara lain pemerkosaan, tindakan pemukulan, penyiksaan terhadap organ pemaksaan sterilisasi, dan kekerasan Beban kerja ganda, yaitu anggapan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab untuk mengerjakan pekerjaan Jadi, ketika seorang berfokus pada kariernya, tanggung jawab itu harus tetap dilakukan. Penelitian terdahulu yang membahas mengenai ketidakadilan gender dan digunakan sebagai referensi adalah penelitian berjudul Ketidakadilan Gender terhadap Perempuan dalam Novel Padusi Karya KaAobati yang disusun oleh Daratullaila Nasri pada tahun 2016. Sumber data penelitian tersebut adalah novel berjudul AuPadusiAy karya KaAobati yang terbit pada tahun 2015 oleh penerbit Kaki Langit Kencana. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan teori bentuk ketidakadilan gender yang dikemukakan oleh Fakih . Dari penelitian ini, dapat ketidakadilan gender dalam novel AuPadusiAy KaAobati, perempuan, stereotipe negatif terhadap perempuan, dan beban kerja ganda. Penelitian Marginalisasi-Subordinasi Perempuan dalam Novel AuGadis PantaiAy Karya Pramoedya Ananta Toer: Kajian Feminisme yang disusun oleh Amelia Ari Sandy pada tahun 2019. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul AuGadis PantaiAy karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit pada tahun 1987 oleh penerbit Hasta Mitra. Seluruh data kemudian dianalisis menggunakan tinjauan feminisme. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan adanya tiga bentuk ketidakadilan gender dalam novel AuGadis PantaiAy karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu: . marginalisasi, diantaranya menerima keputusan sepihak, membatasi gerak gerik perempuan, menginginkan adanya kebebasan, tuntutan atas kebutuhan laki-laki. subordinasi, diantaranya kekuasaan milik laki-laki, mendapat perlakuan tidak adil, pandangan rendah dari orang sekitar, perbedaan hak antara perempuan dan laki-laki, perbedaan kedudukan atau derajat antara perempuan dan laki-laki. stereotipe, diantaranya objek atas pemenuhan kebutuhan laki-laki, perempuan menikah dan mempunyai anak, serta memiliki rasa emosional dan sensitif. Penelitian ketiga berjudul Refleksi Ketidakadilan Gender dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban: Perspektif Gender dan Feminisme yang disusun oleh Maria Botifar dan Heny Friantary pada Sumber data penelitian ini AuPerempuan Berkalung SorbanAy karya Abidah El Khalieqy pada tahun 2001 oleh Yayasan Kesejahteraan Fatayah. Seluruh data perspektif gender dan feminisme. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa ketidakadilan gender berada dalam tiga lingkaran, yaitu . lingkaran kekuasaan dari garis patriarki yang mengatur perempuan dari berbagai sisi, . lingkaran anggapan yang memandang perempuan kaum yang lemah sehingga berbagai akses untuk memperoleh kesetaraan tidak berfungsi, dan . lingkaran patriarki yang menjadi dasar untuk mengontrol, menindas dan mengeksploitasi perempuan di ranah publik dan privat. Untuk itu, sikap feminisme dalam novel ini tergambar dalam perilaku tokoh berupa: . pembentukkan konsep diri perempuan. kemandirian dan . perjuangan kebebasan atas penentuan tubuh sendiri. Berdasarkan beberapa teori tentang menggunakan teori milik Mansour Fakih . Teori ini dipilih untuk dapat mengkategorisasikan bentuk ketidakadilan gender dalam novel AuRahasia SalinemAy dengan jelas dan terperinci. Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Annida. Ketidakadilan Gender TerhadapA bertujuan untuk mengungkapkan bentukbentuk ketidakadilan gender yang terdapat dalam novel AuRahasia SalinemAy. Novel yang memusatkan sudut pandang pada wanita ini juga terdapat adegan-adegan ketidakadilan pada kaum perempuan. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Fakih . , kelima bentuk ketidakadilan gender ada dalam novel AuRahasia SalinemAy, yaitu beban kerja ganda, kekerasan, marginalisasi, subordinasi, dan stereotipe terhadap perempuan. Tidak ada adegan marginalisasi perempuan dalam novel ini. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut masing-masing ketidakadilan gender dalam novel AuRahasia SalinemAy. Metode Penelitian Penelitian ini berjenis deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian deskriptif adalah penelitian yang hasil akhirnya berupa fakta, gejala, kejadian mengenai sifat populasi atau daerah tertentu yang disajikan secara sistematis dan akurat (Hardani, dkk. , 2. Pemilihan novel AuRahasia SalinemAy sebagai objek penelitian didasari oleh adanya bentuk ketidakadilan gender yang dimunculkan secara implisit menceritakan hebatnya sosok perempuan bernama Salinem. Peneliti juga menggunakan teknik pemahaman terhadap novel AuRahasia SalinemAy dengan mendalam. Data yang diambil dari novel tersebut berupa kutipankutipan kalimat atau paragraf yang menampilkan bentuk-bentuk ketidakadilan Seluruh data yang terkumpul dianalisis menggunakan teori bentuk ketidakadilan gender oleh Mansour Fakih . 8: 14-. Hasil dan Pembahasan "Salinem berdiri di sudut dapur, tangannya kasar oleh kerja, matanya tak pernah berani menatap lurus. " Kata "sudut" . , "tangan kasar" . eban domesti. , dan "tak berani menatap" . memperkuat ketidakadilan. "Diam! Perempuan tak pantas bicara!" . alimat perintah vs. Salinem yang diam atau menangi. Bahasa sementara diamnya Salinem bisa dibaca sebagai bentuk resistensi pasif. AuRahasia SalinemAy mengisahkan tentang kisah hidup Salinem, seorang abdi dalem yang mengabdikan dirinya untuk mengurus kebutuhan keturunan keraton. Novel ini menggunakan alur maju-mundur . latar masa penjajahan Belanda untuk menceritakan hidup Salinem. latar petualangan Tyo dan Bulik Ning dalam menyingkap misteri terkait Salinem. Beban Kerja Ganda Perempuan identik dengan pekerjaan domestik, mulai dari memasak hingga merawat anak. Beban kerja tersebut dianggap lebih rendah bila dibandingkan dengan pekerjaan lain yang biasa dikerjakan oleh laki-laki sehingga jenis Aupekerjaan perempuanAy ini dianggap tidak berperan dalam perekonomian negara (Fakih, 2. Akibatnya, perempuan yang diharuskan untuk bekerja terpaksa memikul beban kerja ganda. bentuk ketidakadilan gender ini tampak pada beberapa kutipan dari novel AuRahasia SalinemAy di bawah ini. Keesokan paginya. Daliyem akan menjemput, membawa Salinem kembali ke pasar, menaruhnya di samping dagangan atau dititipkan ke teman-teman sesama pedagang. (Yotenega & Adji, 2019: 41-. Daliyem sesungguhnya akan jadi sangat kerepotan jika saja temanteman di pasar tidak membantunya mengawasi Salinem yang sudah satu tahun lebih. (Yotenega & Adji, 2019: . Kutipan di atas menunjukkan bentuk ketidakadilan gender berupa beban kerja Salinem adalah seorang perempuan yang kehilangan ibunya sejak lahir. Salimun sang ayah mau tak mau menitipkan Salinem kecil pada adik iparnya yang bernama Daliyem karena dirinya harus mengabdikan diri pada Gusti Wedana. Daliyem yang Jurnal Bindo Sastra 8 . : 105Ae114 sudah menikah harus membagi waktu antara berdagang dan mengurus keluarganya Hadirnya Salinem tidak membuat Daliyem berat hati, tetapi tetap saja dia merasa cukup kesulitan untuk berdagang sembari menjaga Salinem. Dia juga merasa memiliki tanggung jawab akan Salinem karena anak itu adalah keponakannya Kutipan ini menunjukkan bahwa perempuan yang bekerja tidak hanya diharuskan untuk bertanggung jawab akan pekerjaan yang dipilihnya, melainkan juga tetap terikat pada beban kerja domestik, yaitu menjaga anak. Salinem bingung, ia juga ingin Tapi, kalau ia bekerja, anak-anak siapa yang jaga? (Yotenega & Adji, 2019: . Kutipan di atas menunjukkan kegelisahan Salinem sebagai abdi dalem sekaligus sahabat dari Gusti Kartinah. Setelah kematian Gusti Soekatmo sang melemah, bisnis hancur, dan hutang di mana-mana. Kartinah yang dahulu seorang bangsawan rela bekerja siang dan malam demi menghidupi keluarganya. Di sisi lain. Salinem sang abdi dalem hanya ditugaskan untuk menjaga anak-anak Kartinah di Namun. Salinem gusar bila hanya berdiam diri saja tanpa membantu perekonomian keluarga Kartinah. Dia sangat ingin bekerja, tetapi bila dia bekerja, tidak ada yang menjaga anak-anak Kartinah. Kutipan ini menunjukkan bahwa seorang perempuan tidak bisa bebas bekerja di luar karena secara tidak langsung telah terikat dengan beban kerja domestik. Kekerasan Brilliant dan Wisnu tidak secara langsung mengisahkan adegan kekerasan pada perempuan dalam novel AuRahasia SalinemAy. Meskipun novel ini meletakkan sudut pandang pada kehidupan perempuan, tetapi seluruh tokoh perempuan tidak digambarkan lemah dan mudah menjadi objek penindasan. Namun, karena latar waktu novel ini juga memasukkan saat-saat penjajahan Jepang di Indonesia, fenomena kekerasan yang pernah terjadi pada perempuan pada masa itu pun ditampilkan secara implisit. Berikut ini adalah kutipan yang mengandung bentuk ketidakadilan gender berupa kekerasan. AuIni rumah siapa?Ay AuRumah kosong,Ay jawab Parjo. AuPenghuninya Jepang. Katanya, dijadikan romusha dan jugun ianfu. Ay AuApa itu?Ay AuBudak. Pelacur. Ay (Yotenega & Adji, 2019: . Kutipan adegan di atas menunjukkan percakapan antara Parjo dan Salinem saat sedang menjalani misi rahasia untuk menyelundupkan senjata rakitan Gusti Soekatmo. Mereka berdua membuat janji temu di halaman belakang sebuah rumah Salinem yang penasaran pun bertanya mengenai keberadaan para pemilik Namun, jawaban dari Parjo cukup mencengangkan karena ternyata penghuni rumah tersebut hilang diculik oleh tentara Jepang. Dari kalimat Parjo, dapat diketahui bahwa penghuni rumah laki-laki diculik untuk dijadikan budak romusha, sedangkan penghuni rumah perempuan diculik untuk dijadikan sebagai pelacur . ugun ianf. Istilah jugun ianfu merujuk pada sebuah sistem yang menjadikan perempuan sebagai pemuas nafsu seksual tentara Jepang (Suliyati, 2. Lain halnya dengan perempuan penghibur dan pelacur yang menawarkan jasa pemuas nafsu secara sukarela dan dibayar, para jugun ianfu melakukan hal tersebut atas paksaan militer Jepang dan tanpa dibayar sepeser pun. Para korban dari sistem jugun ianfu ini direkrut dengan berbagai macam trik, mulai dari beasiswa hingga pekerjaan dengan bayaran menggiurkan (Elmira, 2. Berdasarkan kategori kekerasan terhadap perempuan yang dikemukakan oleh Fakih . 8: 1. , fenomena jugun ianfu ini termasuk dalam kategori pemerkosaan karena para korban melakukan hal tersebut atas dasar paksaan dan dengan tanpa kerelaan. Marginalisasi Perempuan Marginalisasi perempuan identik perempuan dengan cara disingkirkan dari Sumber marginalisasi dapat Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Annida. Ketidakadilan Gender TerhadapA keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi, kebiasaan, dan asumsi ilmu pengetahuan (Fakih, 2. Fakih . juga mengemukakan bahwa fenomena marginalisasi perempuan tidak hanya dapat terjadi di lingkungan kerja, melainkan dapat terjadi dalam rumah tangga, masyarakat. Sandy . mengemukakan indikator analisis untuk bentuk marginalisasi perempuan, yaitu: . membatasi gerak-gerik perempuan. menginginkan adanya kebebasan. tuntutan atas kebutuhan laki-laki. Kartinah berbisik. AuApakah kita masih bisa seperti ini setelah aku menikah?Ay bersama dengan bebas. Setelah menikah. Kartinah memiliki kewajiban untuk mengurus suaminya. Dia tidak bisa melawan perubahan tersebut meskipun kelak kebebasannya akan menjadi terbatas. Pelan, laiknya takut menyakiti. Salinem menggeleng. AuSetelah ini Gusti akan menjadi seorang istri. Tak sepantasnya berbuat seperti ini Ay Soeratmi yang sepemberontak itu pun cuma bisa diam waktu mendengar kata-kata Salinem. Ketika seorang perempuan memutuskan untuk menjadi seorang istri, ada konsekuensi yang harus diambil: Perubahan. Entah apa pun itu, perubahan harus dan pasti bisa baik, bisa buruk, atau segala rentang yang terbentang di kemungkinan jalan tengah. (Yotenega & Adji, 2019: . Data tersebut menunjukkan bahwa seorang perempuan yang sudah menjadi seorang istri tidak bisa bergaul secara bebas dengan orang lain. Adegan tersebut mengisahkan Gusti Kartinah. Gusti Soeratmi. Salinem bercengkerama dan bersenda gurau di malam sebelum pernikahan Gusti Kartinah. Setelah saling berbagi tawa, mereka terdiam, lalu Kartinah menyuarakan Jawaban dari Salinem seolah menegaskan bahwa hari itu adalah kali terakhir mereka dapat berkumpul Subordinasi Perempuan Subordinasi sebuah sikap menempatkan perempuan pada urutan kedua atau pada posisi yang tidak penting. Hal tersebut dikarenakan adanya anggapan bahwa perempuan adalah makhluk yang emosional dan tidak rasional sehingga tidak layak untuk tampil memimpin (Fakih, 2. Secara tidak langsung, adanya fenomena subordinasi perempuan ini menunjukkan bahwa kekuasaan dalam masyarakat ada di tangan laki-laki. Hal ini berkaitan dengan ideologi patriarki yang masih melekat pada masyarakat Indonesia. Berikut ini adalah kutipan dalam novel AuRahasia SalinemAy yang menunjukkan bentuk ketidakadilan Salinem membenak, jika Giyo sudah menikahinya, bukankah artinya ia harus pergi dari sini dan mengikuti suami? Seperti yang dilakukan oleh Gusti Kartinah yang mendukung dan mengikuti Gusti Soekatmo. Apakah ia harus menyampaikan ini? Harus. Tapi, bagaimana caranya? Kartinah, dan Giyo juga punya pekerjaannya sendiri di Tawangsari yang tidak mungkin ia tinggalkan. Pun, suami ikut istri bukan hal wajar saat ini. Malam itu. Salinem menangis sendirian, bantalnya basah, ia merasa akan berkhianat pada Kartinah. (Yotenega & Adji, 2019: . Kutipan di atas menunjukkan bentuk ketidakadilan gender berupa subordinasi Setelah dilamar oleh Giyo. Salinem merenungi banyak hal, salah satunya adalah pertanyaan mengenai kesetiaan dirinya terhadap keluarga Kartinah. Salinem, yang notabene abdi dalem sekaligus sahabat Kartinah, merasa telah berkhianat bila berhenti mengabdi Jurnal Bindo Sastra 8 . : 105Ae114 pada Gusti Kartinah dan Gusti Soekatmo. Di sisi lain, jika memang ingin menerima pinangan Giyo. Salinem mau tidak mau ikut ke mana Giyo pergi sebagai bentuk Hal menunjukkan bahwa perempuan akan kehilangan haknya untuk memutuskan hal besar bila telah menjadi istri dari seseorang. Selain itu, kutipan tersebut juga menunjukkan besarnya kekuasaan yang laki-laki miliki terhadap perempuan yang AuNem, aku dipindah tugas oleh pemerintah untuk mengajar di tempat lain. Jauh dari sini. Ay AuDi mana. Mas?Ay AuJakarta. Ay Hati Salinem mendadak gembos, seperti ban sepeda kehilangan Parjo bukan siapa-siapanya, tapi selalu membuatnya kosong setiap kali ia hilang. Salinem diam. Ia tahu bahwa pembicaraan model ini pernah ia alami sebelumnya. duda anak satu. Mereka merasa diberi kesempatan kedua untuk bersama. Namun, lagi-lagi masalah datang saat Parjo harus pindah tugas ke daerah lain. Lagi dan lagi. Salinem diberikan pilihan sulit oleh lakilaki yang melamarnya, yaitu ikut sebagai istri atau tetap bersama keluarga Kartinah. Salinem tentu ingin menjadi istri Parjo, tetapi kondisi keluarga Kartinah yang memburuk membuatnya tidak Anggapan yang terbangun di masyarakat bahwa istri harus ikut kata suami membuat perempuan sulit untuk Saat mereka benar-benar muncul di rumah Ngemplak, hati Salinem berteriak-teriak ingin membunuh mereka, namun mafhum kalau dirinya tak berdaya. (Yotenega & Adji, 2019: . AuTidak. Tapi, kamu bisa ikut. Ay Salinem AuMaksudnya. Mas?Ay AuIkut aku. Aku mau kamu jadi Jadi ibu untuk anakku. Ay (Yotenega & Adji, 2019: 318-. Kutipan di atas menunjukkan bentuk subordinasi perempuan di luar urusan Bagian menunjukkan besarnya dendam Salinem kepada Jepang atas terbunuhnya Giyo dalam sebuah serangan militer. Kata AumerekaAy dalam kalimat di atas merujuk pada tamu Gusti Soekatmo yang merupakan bagian dari militer Jepang. Salinem sangat ingin melampiaskan dendamnya pada mereka, tetapi dia sadar bahwa dirinya hanya seorang abdi dalem perempuan. Status abdi dalem saja sudah membuatnya inferior, ditambah lagi dengan gendernya yang merupakan perempuan. Dia tidak memiliki hak untuk melawan laki-laki, terutama para tentara Jepang yang kekuatannya jauh lebih besar. Perbedaan derajat itu membuat Salinem hanya mampu menyembunyikan rasa dendamnya hingga para tentara itu pergi dari kediaman. Konteks dalam kutipan di atas sama kekuasaan laki-laki terhadap perempuan yang dinikahi. Setelah berpisah selama berpuluh-puluh tahun. Salinem dan Parjo akhirnya bertemu lagi. Meskipun dalam keadaan yang cukup berbeda, tetapi pertemuan tersebut tepat saat Salinem masih melajang dan Parjo sudah menjadi Stereotipe terhadap Perempuan Secara umum. Fakih . 8: . mengemukakan bahwa stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap kelompok tertentu. Lebih lanjut. Nawir & Risfaisal . 5: . mendefinisikan stereotipe sebagai bentuk pembakuan pandangan terhadap suatu kelompok manusia dengan memberi ciri tertentu dan AuAku maunya tetap di sini,Ay lanjut Parjo. AuTapi. Mas Parjo punya pekerjaan. Ay Ia mengangguk. AuAku ndak mau pisah sama kamu lagi. Nem. Ay Hati Salinem lagi-lagi mencelus ke lutut. AuMas ndak mungkin melawan tugas, bukan?Ay Available online at: http://jurnal. um-palembang. id/index. php/bisastra/index ISSN 2549Ae5305 . ISSN 2579Ae7379 . Annida. Ketidakadilan Gender TerhadapA Pelabelan atau pandangan inilah yang kemudian digunakan oleh masyarakat sebagai dasar untuk menyikapi dan memperlakukan satu sama lain (Putri. Berikut ini adalah beberapa kutipan yang menunjukkan bentuk ketidakadilan gender berupa stereotipe pada novel AuRahasia SalinemAy. perbandingan sifat antara Gusti Kartinah dan Gusti Soeratmi, walaupun mereka sama-sama keturunan keraton. Hal tersebut seolah membuktikan bahwa Gusti Kartinah sesungguhnya, sedangkan Gusti Soeratmi bukanlah perempuan keraton AutulenAy. Saat bertemu, barulah Salinem Pantaslah Gusti Soekatmo rajin bawa bingkisan. Gusti Kartinah memang ayu. Sepertinya. Gusti Kartinah adalah jenis orang yang tak bisa marah. Wajahnya bulat telur dan matanya seperti Iya, tersenyum matanya, sementara bibirnya yang tipis seperti hanya menambah warna di wajahnya. Pas senyum, tak pernah lebar-lebar, seperti cuma dikulum. Kalau duduk, pahanya selalu dimiringkan dengan lutut rapat, membuat bentuk pinggulnya jadi Mungkin, karena ia dididik di sekolah Belanda yang tak luput mengajar tata krama. Suaranya halus macam kain beledu . eda jauh sama Soeratmi yang meledakleda. Jadi, walau anak bangsawan Jawa, jangan heran kalau Kartinah lebih sering mengenakan rok. dan kebaya dipakai sekali-sekali Kalau sedang pakai jarik, tubuhnya yang mungil berisi jadi (Yotenega & Adji, 2019: Jika dibaca secara sekilas, dua paragraf di atas hanyalah deskripsi biasa dari seorang tokoh saja. Namun, jika ditelaah lebih dalam, terdapat bentuk ketidakadilan gender berupa stereotipe di Secara tidak langsung, narasi tersebut memaparkan ciri-ciri perempuan ideal, atau lebih dipersempit perempuan keraton ideal. Gusti Kartinah digambarkan sebagai sosok perempuan yang ayu, tidak mudah marah, terbiasa tersenyum tipis, gemar duduk dengan posisi anggun, dan bersuara halus. Di dalam paragraf kedua, tampak pula Tak sampai dua hitungan. Gusti Kartinah dan Gusti Soeratmi tertawa terbahak-bahak, semoga suaranya tidak terdengar keluar. Putri bangsawan kalau tertawa tidak boleh ada suara. (Yotenega & Adji, 2019: . Masih berkaitan dengan data sebelumnya, paragraf di atas juga menunjukkan stereotipe yang terbentuk atas sikap seorang putri bangsawan. Sebagai bangsawan, seseorang harus bertutur lemah lembut dan tidak boleh berbicara atau tertawa dengan suara keras. Stereotipe tersebut tentu saja menghalangi perempuan untuk mengekspresikan diri mereka sendiri. Suasana rumah makin semarak karena matahari kedua lahir pada 1951, diberi nama Satya Winaru. Usia Salinem sudah 27, dan Gusti Kartinah kembali mengingatkan. AuKamu ndak mau nikah. Nem? Kamu sudah hampir 30. Cari Ay AuSiapa yang sudi sama perawan tua seperti saya. Gusti?Ay tanya balik Salinem sambil menimang-nimang bayi Satya. (Yotenega & Adji, 2019: Label Auperawan tuaAy disematkan untuk Salinem yang saat itu baru berusia 27 Pada kenyataannya, perempuan yang belum menikah saat umurnya sudah lebih dari 25 tahun dianggap akan sulit menemukan jodoh. Anggapan itu membuat orang terdekat jadi gemar mendesak perempuan supaya cepat menikah. Hal ini ditunjukkan oleh sikap Gusti Kartinah yang meminta Salinem untuk segera mencari calon suami karena sudah hampir berusia 30 tahun. Jawaban dari Salinem atas permintaan Kartinah seolah menunjukkan Jurnal Bindo Sastra 8 . : 105Ae114 bahwa dirinya sudah Autidak lakuAy karena Hal ini menunjukkan bahwa pelabelan negatif pada perempuan dapat meningkatkan rasa tidak percaya diri. Simpulan Berdasarkan pembahasan data yang telah dilakukan, sesuai dengan teori bentuk ketidakadilan gender yang dikemukakan oleh Fakih . 8: 14-. , terdapat lima bentuk ketidakadilan gender dalam novel AuRahasia SalinemAy, yaitu beban kerja ganda, kekerasan, marginalisasi, subordinasi, dan bentuk beban kerja ganda berkaitan dengan tokoh perempuan yang sedang/ingin bekerja, tetapi terhalang oleh tanggung jawab untuk menjaga anak. dalam novel AuRahasia SalinemAy, bentuk beban kerja ganda tampak pada kutipan Daliyem yang harus berjualan sambil membawa Salinem kecil, serta Salinem yang ingin bekerja, tetapi tidak bisa meninggalkan anak-anak Kartinah. Bentuk kekerasan tidak dimunculkan secara eksplisit dalam novel ini, melainkan hanya dikisahkan secara singkat bahwa perempuan pada masa pendudukan Jepang banyak yang diculik untuk dijadikan jugun bentuk marginalisasi perempuan dalam novel ini ditunjukkan dengan adanya pembatasan atas hak-hak yang semestinya dinikmati oleh perempuan, salah satunya adalah bergaul dengan teman-teman secara Di dalam novel AuRahasia SalinemAy, hal ini ditunjukkan dengan keresahan Gusti Kartinah. Gusti Soeratmi, dan Salinem bahwa mereka tidak bisa berkumpul dengan bebas lagi setelah Kartinah menikah. Bentuk dalam novel AuRahasia SalinemAy berkaitan dengan berkuasanya laki-laki pada sebuah Salinem dua kali merasakan kebingungan untuk memilih ikut calon suaminya atau tetap mengabdi pada Gusti Kartinah. Terakhir, bentuk stereotipe dalam novel AuRahasia SalinemAy berkaitan dengan pendeskripsian putri keraton yang ideal dan pelabelan pada perempuan yang masih melajang meski usia sudah lebih dari 25 Saran Novel AuRahasia SalinemAy menceritakan kisah hidup tiga tokoh utama perempuan, yaitu Salinem. Kartinah, dan Soeratmi. Tiga perempuan tersebut banyak hal Meskipun penelitian ini berfokus untuk mengkaji kutipan terkait ketidakadilan gender, tetapi banyak hal positif dalam novel ini yang dapat dijadikan sebagai pesan moral. Dengan demikian, novel ini dapat dijadikan sebagai media pembelajaran terkait gender. Daftar Pustaka Astuti. Puji, dkk. Widyatmika Gede Mulawarman. Alfian Rokhmansyah Ketidakadilan Gender terhadap Tokoh Perempuan Dalam Novel Genduk Karya Sundari Mardjuki: Kajian Kritik Sastra Feminisme. Jurnal Ilmu Budaya, 2. , 105-114. Botifar. , & Friantary. Refleksi Ketidakadilan Gender Dalam Novel Perempuan Berkalung Sorban: Perspektif Gender Dan Feminisme. Disastra: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 3. , 45-56. Elmira. Jugun Ianfu: The Darkest History of Human Rights Violation. The Indonesian Journal of International Clinical Legal Education, 2. , 481-490. Fakih. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Insist Press. Hardani, dkk. Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Ilmu.