MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM EFEKTIFITAS MANAGEMENT STRES TERHADAP TINGKAT STRES IBU HAMIL TRIMESTER i DALAM MENGHADAPI PERSALINAN DI TPMB V KABUPATEN MALANG 1,2,3 Nurun Ayati Khasanah1 Sri Wadini Puji Lestari2 Dwi Nurhidayati3 Program S1 Kebidanan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Majapahit Mojokerto ABSTRAK Persalinan merupakan peristiwa yang penuh dengan stres bagi kebanyakan ibu yang melahirkan, menyebabkan peningkatan rasa sakit, ketakutan, dan kecemasan, terutama pada ibu yang melahirkan untuk pertama kali. Di Indonesia, penelitian yang dilakukan pada ibu hamil trimester ketiga yang melahirkan untuk pertama kali menemukan bahwa 33,93% mengalami stres. Tujuan: Untuk menentukan pengaruh manajemen stres terhadap tingkat stres ibu hamil trimester ketiga dalam menghadapi persalinan. Studi ini menggunakan metode observasional analitis dengan pendekatan cross-sectional. Populasi terdiri dari semua ibu hamil trimester ketiga, dan sampel berjumlah 35, dengan analisis menggunakan uji statistik Wilcoxon. Hipotesis yang digunakan adalah terdapat hubungan jika p < 0,05. Hasil penelitian Sebagian besar responden . ,6%) mengalami stres ringan sebelum diberikan pengobatan manajemen stres. Dan semua responden . ,0%) tidak mengalami stres atau normal setelah diberikan pengobatan manajemen stres. Berdasarkan uji statistik Wilcoxon, nilai signifikansi . sign = 0,. menunjukkan bahwa p < 0,05, sehingga H1 diterima, artinya terdapat pengaruh Pengelolaan Stres terhadap Tingkat Stres Ibu Hamil Trimester Ketiga di BPM Ibu Veronika di Desa Tulus Bear. Kecamatan Tumpang. Kabupaten Malang. Sebagai bidan, kita dapat mengambil beberapa tindakan terkait kemungkinan stres pada ibu hamil dengan menggunakan manajemen stres untuk mengurangi tingkat stres pada ibu hamil saat menghadapi persalinan. Kata kunci: Manajemen Stres. Kehamilan Trimester Ketiga. Persalinan ABSTRACT Childbirth is an event full of stress for most mothers giving birth, causing increased pain, fear, and anxiety, especially in first-time mothers. In Indonesia, research conducted on third-trimester primigravida found that 33. 93% experienced stress. Objective: To determine the effect of stress management on the stress levels of third-trimester pregnant women in facing childbirth. This study uses an analytical observational method with a cross-sectional The population consists of all third-trimester pregnant women, and the sample is 35, with analysis using the Wilcoxon statistical test. The hypothesis used is that there is a relationship if p < 0. Research results Most respondents . 6%) experienced mild stress before being given stress management treatment. And all respondents . 0%) did not experience stress or were normal after being given stress management treatment. Based on the Wilcoxon statistical test, the significance value . sign = 0. indicates that p < 0. thus H1 is accepted, meaning there is an effect of Stress Management on Third Trimester Pregnant Mothers' Stress Levels at BPM Mrs. Veronika in Tulus Bear Village. Tumpang District. Malang Regency. As a midwife, we can take several actions related to the possibility of stress in pregnant women by using stress management to reduce the stress levels in pregnant women when facing childbirth. Keywords: Stress Management. Third Trimester Pregnancy. Labor MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM PENDAHULUAN Seorang wanita akan menghadapi berbagai masalah psikologis yang berbeda beda saat menghadapi proses persalinan. Persalinan merupakan suatu proses yang alami dan normal, tetapi jika tidak ditangani dengan tepat, dapat berubah menjadi abnormal. Pengalaman melahirkan bayi merupakan tugas perkembangan keluarga yang membutuhkan persiapan mental atau psikis ibu. Peristiwa kelahiran bukan semataAemata proses fisiologis murni. Selain itu, kelahiran juga banyak diwarnai oleh komponen lancar atau tidaknya proses persalinan sangat bergantung pada kondisi psikologis ibu. Hal ini sangat beresiko bagi calon ibu ataupun bayinya (Astari,2. Survei yang dilakukan di Columbia pada 650 ibu hamil berisiko rendah dengan umur kehamilan 35-39 minggu sebanyak 25% mengalami ketakutan tingkat tinggi untuk melahirkan dan ini berkorelasi positif dengan stres. Takut melahirkan masih menjadi bagian dari kompleks gambaran pengalaman emosional perempuan selama kehamilan. Penelitian di Swedia tentang antenatal care pada kehamilan 35 minggu sebanyak 24% mengalami kecemasan dan 22% mengalami stres, di Hongkong pada ibu hamil trimester I. II dan i, 54% mengalami kecemasan, 37% mengalami gejala stres, serta penelitian di Pakistan dari 165 ibu hamil, sebanyak 70% mengalami cemas dan stres. Di Indonesia penelitian yang dilakukan pada primigravida trimester i sebanyak 33,93% mengalami Penelitian lain menyebutkan bahwa ibu hamil normal dalam menghadapi persalinan mengalami 47,7% stres berat, 16,9% stres sedang, dan 35,4% mengalami stres ( Yazia V. Suryani. Mekanisme koping dalam menghadapi nyeri persalinan merupakan upaya ibu mengatasi diri selama proses persalinan yang meliputi upaya-upaya yaitu konsentrasi dengan menerima perubahan rasa nyaman yang terjadi akibat kontraksi, relaksasi, berdoa, mengatur sikap dengan jalan-jalan, istirahat mengatur posisi, mengatur aktifitas seperti pernafasan, minum, makan, relaksasi otot-otot ekstremitas dan tidak mengejan sebelum waktunya. Mekanisme koping yang efektif menghasilkan adaptasi menetap sehingga membentuk kebiasaan baru dan perbaikan dari situasi yang lama, sedangkan koping yang tidak efektif berakhir dengan maladaptive yaitu perilaku yang menyimpang dari keinginan normal dan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain atau Setiap individu dalam melakukan koping tidak sendiri dan tidak hanya menggunakan satu strategi tetapi dapat melakukannya bervariasi, hal ini tergantung dari kemampuan dan kondisi individu (Primawati,2. Kondisi individu sangat mempengaruhi mekanisme koping dalam mengatasi masalah, seperti yang terjadi pada ibu hamil dengan gangguan hipertensi. Berdasarkan hasil penelitian Purwaningsi . di Klinik Annisa Husada Kota Surakarta tentang Mekanisme Koping Untuk Mengatasi Nyeri Persalinan Kala 1 dimana persalinan yang didampingi oleh suami mekanisme koping yang digunakan adalah non adaptif. Selain konseling terdapat beberapa terapi non farmakologis yang dapat digunakan oleh ibu hamil untuk mengurangi kecemasan, mengingat minimnya dampak yang dapat diakibatkan dari terapi non farmakologi ini dibandingkan dengan terapi farmakologi untuk menjaga kesehatan serta mendukung kebutuhan dasar ibu inpartu perlu adanya dukungan dari keluarga dan tenaga kesehatan. mencari bantuan tenaga professional seperti bantuan layanan psikologis untuk mengurangi ketakutan, kekhawatiran hingga kecemasan yang dialami bukanlah suatu hal yang memalukan. Layanan-layanan psikologis atau profesional yang terpercaya dapat membantu, seperti rumah sakit atau biro-biro layanan psikologi (Vivi S, 2. Manajement stress . engalaman stre. MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM dengan pemberian terapi Psikoreligius (Konseling proses persalinan,Do. yang dilakukan sebanyak 2 kali dengan masing-masing-masing durasi kurang lebi Hasil studi pendahuluan dengan melakukan observasi pada 8 ibu hamil trimester i yang menjawab saat wawancara mengalami cemas sebanyak 5 orang dan 3 orang menjawab tidak cemas dalam menghadapi persalinan di TPMB Veronika Di desa tulus besar Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Berdasarkan data diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AoHubungan Manajemen Stres Pada terhadap tingkat stress pada ibu hamil trimester i dalam menghadapi persalinan Di Tpmb Veronika Di desa tulus besar Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. METODE PENELITIAN Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pra ekperimental one group pretest-posttest design. Populasi adalah ibu hamil tyrimester i di BPM Ny V Desa Tulus Besar Kec Tumpang Kab Malang sebanyak 40 orang. Teknik pengambilan sampel adalah probality sampling dengan teknik simple rondom sampling dengan jumlah sampel 36 orang sampling yaitu dengan mengobservasi suatu kelompok kemudian memberikan perlakuan, dan hasilnya diobservasi agar diketahui keakuratan Sumber data berasal dari data primer yaitu data yang diperoleh peneliti secara langsung dari responden dengan metode wawancara. Instrumen yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah adalah kuesioner tertutup atau close-ended question. Selanjutnya hasil dari jawaban responden disajikan dalam bentuk tabel, peneliti melakukan tabulasi data menggunakan tabel excel pada computer analisis yang digunakan untuk menerangkan pengaruh antara variabel independent . anagement stre. dengan variabel dependent . inkat stre. menggunakan uji statistic Wilcoson dengan probabilitas O 0,05, dan data diolah dengan komputerisasi. HASIL PENELITIAN Distribusi Tingkat Stres sebelum diberi Manajement Stres Tabel 1. Distribusi frekuensi tingkat stres sebelum diberi manajement stres di BPM Ny. V di Desa Tulus Besar Kec. Tumpang Kab. Malang. Tingkat Stres Normal Stres Ringan Stres Sedang Stres Berat Jumlah Frekuensi . Prosentase (%) Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,6%) yaitu 20 responden mengalami stress ringan sebelum diberi perlakuan manajement Distribusi Tingkat Stres setelah diberi Manajement Stres MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Tabel 2. Distribusi frekuensi Tingkat Stres setelah diberi Manajement Stres Di BPM Ny. V di Desa Tulus Besar Kec. Tumpang Kab. Malang Tingkat Stres Frekuensi . Normal Stres Ringan Stres Sedang Stres Berat Jumlah Prosentase (%) Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa seluruh responden . ,0%) yaitu 36 responden tidak mengalami stress atau normal setelah diberi perlakuan manajement Pengaruh management stress terhadap tingkat stres ibu hamil trimester i menghadapi persalinan. Tabel 3. Distribusi frekuensi pengaruh management stress terhadap tingkat stres ibu hamil trimester i menghadapi persalinan di TPMB Ny V Desa Tulus besar Kec. Tumpang Kab. Malang Tingkat Stres Normal Stres Ringan Stres Sedang Stres Berat TOTAL Sebelum Sesudah Hasil Output Rank Uji Wilcoxon Sesudah - Sebelum Mean Rank Sum of Ranks Negative Ranks Positive Ranks Ties Total Berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa responden sebelum diberi perlakuan . ,6%) yaitu 20 responden mengalami stress ringan setelah diberi perlakuan manajement stress 36 respondon ( 100% ) tindak mengalami stress atau Berdasrkan uji statistic uji wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi . = 0,. dimana hal ini berarti p < 0,05 maka H1 diterima, artinya ada Pengaruh Manajemen Stres Pada Ibu hamil Trimester i Terhadap Tingkat Stress Di BPM Ny. Veronika di Desa Tulus Bear Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,6%) yaitu 20 responden mengalami stress ringan sebelum diberi perlakuan manajement stress. Tingkat Stress adalah gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas, kepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal (Hawari, 2. Ibu hamil yang mengalami stres stres saat hamil tua dapat menghambat kelancaran persalinan dalam berbagai cara, bisa juga membahayakan keselamatan bayi atau diri ibu sendiri. Pasa saat stress, tubuh memproduksi kortisol dan hormon stres lainnya. Pelepasan hormon adrenalin dan kortisol lama kelamaan menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah, pernapasan lebih cepat, pelebaran pembuluh darah di lengan dan kaki, dan kadar glukosa darah meningkat. Perubahan drastis dari kondisi tubuh ibu ini dapat meningkatkan risiko ibu melahirkan prematur bila stress pada ibu hamil trimester 3 tidak bisa teratasi dengan baik oleh ibu hamil. Jika stres secepatnya ditangani, respon tubuh terhadap stres akan menurun dan tubuh akan kembali ke kondisi semula. Perasaan takut akan muncul, ibu mungkin merasa cemas dengan kebijakan bayi dan dirinya sendiri seperti apakah bayinya akan lahir abnormal, terkait persalinan . yeri, kehilangan kendali dan lain-lai. khawatir dengan keselamatannya, khawatir bayi akan lahir tidak normal. Perubahan psikologis ibu hamil periode trimester ketiga terkesan lebih kompleks dan lebih meningkat kembali dari trimester sebelumnya. Hal ini dikarenakan kondisi kehamilan semakin besar. Kondisi itu tidak jarang memunculkan masalah seperti posisi tidur yang kurang nyaman dan mudah terserang rasa lelah dan kehidupan emosi yang fluktuasi atau emosi yang tidak stabil (Bethsaida & Herri, 2. Menurut peneliti Ibu hamil yang mengalami stres dan ketakutan menghadapi proses persalinan tentu saja akan mengganggu kesehatan ibu maupun bayinya, karena proses pikir ibu yang selalu berpikir akan hal negative terhadap proses persalinan seperti kematian ibu ataupun bayinya. Untuk itu diperlukan peran petugas Kesehatan untuk memberikan informasi kepada ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan dan tindakan yang dapat mengurangi tingkat stres ibu hamil dalam menghadapi proses persalinan, seperti kesiapan secara psikologis dengan dukungan suami dan keluarga. Berusaha merubah pikiran buruk tentang proses persalinan yang mengerikan, sehingga ibu hamil tidak semakin takut hingga stres dalam menghadapi proses persalinan. Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh responden . ,0%) yaitu 36 responden tidak mengalami stress atau normal setelah diberi perlakuan manajement Manajement stress ( pengalaman stre. dengan pemberian terapi Psikoreligius (Konseling proses persalinan,Do. yang dilakukan sebanyak 2 kali dengan masingmasing-masing durasi kurang lebih 30 menit. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati, . bahwa dukungan spiritual yang didapatkan ibu hamil dengan tingkat kecemasan sedang, karena kecemasan pada tingkat sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada masalah yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga dapat muncul dari suatu permasalahan yang mengakibatkan aktivitas sehari-sehari. Kecemasan dapat muncul dari pemikiran yang berlebih pada suatu peristiwa yang belum terjadi atau telah terjadi (Amita et al. , 2. MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM Kecemasan dapat terjadi pada ibu hamil yang dirasakan sejak trimester pertama, kecemasan dapat dirasakan karena adaptasi terhadap perubahan bentuk tubuh, perubahan pada payudara dan rahim yang mulai membesar. Kecemasan dapat berlanjut pada trimester pertama hingga trimester tiga. Kecemasan dapat meningkat pada bulan ketiga yang disebabkan karena persepsi mendekati persalinan menyebabkan rasa sakit dan beresiko pada status kesehatan, hal ini semakin meningkat sampai waktu persalinan (Asmariyah. Novianti & Suriyati. Kecemasan pada ibu hamil membawa perasaan tidak senang, rasa khawatir dan ketakutan yang terus menerus. Hal ini menyebabkan terjadinya resiko tinggi pada proses kehamilan yang dilalui oleh ibu hamil. Kecemasan dapat menyebabkan terjadinya rangsangan kontraksi rahim yang sangat membahay terutama pada trimester satu. Kebutuhan spiritual termasuk kebutuhan dasar dari setiap manusia, sehingga individu dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan tuhan semakin dekat dengan mengigatkan individu tersebut dalam kondisi sakit dan mampu membangkitkan dari kesembuhan kecuali sang pencipta diri (Hamidah, 2. Menurut peneliti bahwa Pentingnya peran agama dalam mengatasi stress dapat memberikan pengarahan, dukungan dan harapan melalui berdoa atau keyakinan agama. Sehingga, dalam menghadapi masalah yang berdampak pada fisik maupun psikologis sebagai bentuk implementasi koping religius melalui serangkaian pelaksanaan ibadah seperti salat, dzikir, puasa, doa dan ritual agama lainnya. Seseorang dapat menemukan makna dari suatu peristiwa yang menimpa dirinya tercipta pemaknaan terhadap kebesaran Allah SWT. Sesuai pendapat hamidah 2020 bahwa seseorang yang dapat menemukan tentang pemaknaan kepada Tuhan kan lebih logis dalam berpikir dan menerima yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Seseorang ketika memaknai apa yang telah ditetapkan kepada dirinya maka tercipta suatu kenyamaan di dalam diri. Manajemen stress religius dapat membentuk persepsi seseorang dalam keyakinan bahwa tekanan yang dapat dimiliki untuk dihadapi dengan baik dengan bantuan Allah SWT. Faktor-faktor yang dapat mengurangi tekanan kecemasan dan stress dengan cara coping religious, harapan keyakinan diri, ketahanan negatif, psikologis, optimisme, dukungan sosial, dan evaluasi kognitif dari orang lain terhadap identitas. Sedangkan gejala-gejala stres 2. keadaan hidup mereka (Juniarly & Hadjam, 2. Menurut Peneliti bahwa ibu hamil merasa lebih tenang setelah mendapatkan edukasi dari tenaga kesehatan tentang bagaimana cara mempersiapan persalinan sehingga ibu tidak stress, dan menganggap bahwa semua ibu hamil mengalami hal yang sama yaitu perubahan yang terjadi pada ibu hamil trimester 3 dan ibu hamil mempersiapan diri untuk menghapai persalinannya. Pengaruh Manajement Stres terhadap Tingkat Stress Berdasarkan uji statistic uji wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi . sign = 0,. dimana hal ini berarti p < 0,05 maka H1 diterima, artinya ada Pengaruh Manajemen Stres Pada Ibu hamil Trimester i Terhadap Tingkat Stress Di BPM Ny. Veronika di Desa Tulus Bear Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aditama, . didapatkan bahwa penelitiannya terdapat hubungan antara spirulitas dengan tingkat stres. Stres adalah respon tubuh yang bersifat non spesifik pada setiap tekanan psikososial. Gejala yang muncul seperti sakit kepala, sakit perut, penyakit kulit dan ketegangan otot (Hamidah, 2. Adanya stres pada individu menunjukkan adanya tekanan yang dialami individu untuk dapat beradaptasi atau menyesuaikan diri. Ibu hamil termasuk kelompok MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM rentan terhadap stress, keadaan tersebut dapat menimbulkan gangguan psikologi selama kehamilan dengan terjadinya peningkatan stres yang disebabkan oleh kekhawatiran ibu hamil tentang tidak terpenuhinya kebutuhan perawatan prenatal, keamanan diri dan janin. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk penyesuaian diri terhadap perubahan kondisi kehidupan selama proses kehamilan di masa pandemi (Wulandari dkk. Penyebab dari stres salah satunya yaitu rendahnya manajemen religius seseorang. Menurut Pergament . menajemen stres religius dapat digunakan untuk memahami dan mengatasi sumber-sumber stres dalam hidup dengan melakukan berbagai cara untuk mempererat hubungan individu dengan Allah/ sang pencipta . Menurut peneliti seseorang mempunyai religiusitas yang rendah menyebabkan tingginya tingkat stres individu. Religiusitas dapat dikaitkan dengan kesehatan mental yang lebih baik. Religiusitas yang tinggi dapat mengetahui rendahnya tingkat stres, penggunaan zat adiktif, perilaku anti sosial, dan bunuh diri. Keyakinan agama telah terbukti memiliki banyak manfaat, dengan adanya beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan positif antara agama dan kesehatan terkait dengan adanya hubungan agama dengan kesehatan mental . Manajemen religius sebagai suatu cara individu dalam menghadapi berbagai tekanan dan situasi yang mengancam dengan menggunakan praktik keagamaan yang dianutnya. Agama dapat berpengaruh positif pada kesehatan fisik dan meta dan ada beberapa kondisi agama yang berpengaruh buruk. Sehingga koping religius dibagi menjadi dua yaitu koping religius positif dan negatif. Koping religius positif adanya suatu hal adaptif dan merefleksikan hubungan yang aman dengan Tuhan. Sebaliknya, koping religius negatif mencerminkan hubungan yang kurang aman dengan Tuhan,terdapat ketegangan spiritual, serta ketidakpuasan religius. Hal tersebut pada sikap tawakal dan qanaah yang ditanamkan subjek teridentifikasi ke dalam strategi collaborative religious coping. Strategi tersebut mengibaratkan individu dan Tuhan adalah partner. Sehingga individu akan berusaha berdoa, kemudian Tuhan menentukan hasil yang terbaik terhadap individu tersebut. Sikap tawakal dan qanaah dapat menurunkan tingkat stres individu dalam menghadapi tekanan hidup (Damayamti & Marsitoh, 2. Beberapa fungsi religious coping diantaranya sebagai fungsi kontrol, kenyamanan, pemaknaan, keintiman, dan transformasi kehidupan dapat membantu individu untuk memiliki kondisi psikologis yang lebih baik. Dimana fungsi kontrol dapat diatasi dengan berdzikir dan pemberian obat yang dikonsumsi membantu mengurangi rasa sakit yang Dari fungsi kenyamanan, dapat mengatasi rasa sakit yang dimilikinya dengan cara berdzikir merasa lebih tenang setelah berdzikir. Sedangkan dari fungsi pemaknaan, individu dapat menagatasi dengan penyakit yang dimilikinya bukanlah hukuman dari Tuhan, tetapi individu mengartikan bahwa penyakit yang dimilikinya Tuhan menyayanginya mereka. Sehingga mereka berpandangan positif mengenai Semakin tinggi spiritualitas maka semakin rendah stres skripsi pada mahasiswa, sebaliknya semakin rendah spiritualitas maka semakin tinggi stres skripsi pada mahasiswa . (Aditama, 2. PENUTUP Ada Pengaruh Management stres terhadap tinkat stres ibu hamil trimester i menghadapi persalinan. Peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan pengembangan penelitian yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu kebidanan terutama tentang management MEDICA MAJAPAHIT Vol 17 No. 2 September 2025 https://ejournal. id/index. php/MM DAFTAR PUSTAKA