A Kampung Akuarium merupakan kawasan pesisir di Utara Jakarta dengan luas sekitar 10. 130 mA. Secara geografis, kawasan ini menempati posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta (Gambar . Pelabuhan Sunda Kelapa, serta dikelilingi oleh destinasi wisata sejarah seperti Museum Bahari. Menara Syahbandar. Pasar Hexagon, dan Kampung Luar Batang (Gambar . Lokasi ini berada dalam zona P3 . ub zona pemerintah daera. yang secara regulasi memungkinkan pengembangan rumah susun melalui skema kolaborasi antara pemerintah maupun sektor swasta. Gambar 1. Lokasi Kampung Akuarium Sejarah perkembangan Kampung Akuarium tidak dapat dilepaskan dari dinamika kebijakan revitalisasi kawasan Sunda Kelapa sebagaimana tertuang dalam Keputusan Gubernur No. 1766/2015 dan Perda No. 1/2014. Implementasi kebijakan tersebut berdampak pada penggusuran kawasan pada tahun 2016, yang memicu gerakan kolektif warga dalam memperjuangkan hak bermukim. Melalui proses advokasi panjang, lahirlah Kampung Susun Akuarium yang kini dikenal sebagai salah satu model perumahan rakyat berbasis partisipasi. Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri bersama dukungan LSM berperan penting dalam proses ini, khususnya melalui pengelolaan Sertifikat Pemanfaatan Pemanfaatan Lahan (SP3L) dengan sistem berbasis koperasi. Keberhasilan inisiatif ini memperoleh pengakuan internasional, antara lain melalui penghargaan Asia Pacific Housing Innovation Award 2023 serta Honorable Mention on Sustainable Consumption and Production Innovation Award dari SwitchAsia (CNN Indonesia, 2. Meskipun telah diakui secara global sebagai contoh inovasi perumahan rakyat, potensi kawasan Kampung Akuarium sebagai destinasi wisata masih belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, letaknya yang berada pada jalur wisata menuju Museum Bahari dan kawasan religi Kampung Luar Batang (Gambar . memberikan peluang besar untuk pengembangan ekonomi berbasis pariwisata. Saat ini, masyarakat Kampung Akuarium cenderung hanya menjadi AupenontonAy dari geliat wisata di kawasan Cagar Budaya Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya pendampingan yang terarah agar masyarakat mampu berperan lebih aktif dan memperoleh manfaat langsung dari potensi wisata yang ada. Mitra dalam Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri, yang DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. beranggotakan 12 pengurus serta warga Kampung Susun Akuarium. Koperasi ini telah memiliki legalitas sejak tahun 2019, namun masih menghadapi dua permasalahan utama. Pertama, keterbatasan dalam produksi produk wisata. Hingga saat ini, kegiatan wisata masih bertumpu pada kuliner bahari yang belum terstruktur, sementara potensi besar kawasan yang berkaitan dengan wisata sejarah, budaya maritim, serta edukasi Cagar Budaya belum tergarap secara optimal. Kedua, keterbatasan dalam aspek pemasaran. Pengurus koperasi belum mampu memanfaatkan media digital secara efektif, baik melalui platform pemasaran daring maupun pembuatan konten multimedia untuk memperkenalkan keunikan Kampung Akuarium kepada khalayak luas. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya optimalisasi potensi kunjungan wisatawan yang melintas menuju Museum Bahari maupun kawasan religi Kampung Luar Batang. Dengan demikian, diperlukan strategi pengembangan yang terarah agar masyarakat dapat mengelola dan memasarkan potensi wisata secara lebih profesional serta berkelanjutan. Penguatan kapasitas masyarakat dalam pariwisata seringkali memerlukan lembaga ekonomi lokal yang solid sebagai penggerak utama. Dalam konteks ini, koperasi berperan sebagai katalisator, mediator, dan integrator yang menyatukan kepentingan anggota dengan peluang pasar pariwisata (Ery Supriyadi & Arifin, 2. Model manajemen pariwisata berkelanjutan pada koperasi tidak hanya berfokus pada profit, tetapi juga menjaga keseimbangan antara dimensi lingkungan dan sosial-budaya, sehingga masyarakat tidak sekadar menjadi objek, melainkan subjek yang memegang kendali atas aset mereka (Fatimah, 2. Hal ini sejalan dengan prinsip Community-Based Tourism (CBT) yang menekankan pada kepemilikan dan pengelolaan sumber daya oleh komunitas lokal untuk meningkatkan kesejahteraan tanpa merusak identitas budaya (Suansri, 2003. Pantin & Francis, 2. Kegiatan pengabdian ini merupakan bentuk hilirisasi hasil riset multidisiplin yang diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG. Setidaknya terdapat dua SDGs yang menjadi fokus utama, yaitu: . SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pelatihan dan pendampingan pengelolaan wisata pintar untuk meningkatkan literasi digital dan kapasitas manajerial kader koperasi. SDG 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan melalui pelestarian Cagar Budaya berbasis konsep wisata pintar. Implementasi konsep wisata pintar . mart touris. menjadi krusial dalam menghubungkan narasi sejarah dengan wisatawan modern. Penggunaan teknologi digital bukan hanya alat promosi, melainkan sarana untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal dan interaktif melalui digitalisasi destinasi (Buhalis & Amaranggana, 2. Salah satu aspek pentingnya adalah digital storytelling, di mana narasi sejarah dan budaya dikemas dalam format multimedia untuk membangun keterikatan emosional wisatawan terhadap destinasi cagar budaya (Yung & Khoo-Lattimore. Dengan integrasi teknologi, pelestarian cagar budaya dapat bertransformasi menjadi ekosistem digital yang dinamis dan berkelanjutan (Anisykurlillah, 2. Secara nasional, kegiatan ini juga sejalan dengan Asta Cita, khususnya Asta Cita 3 mengenai pengembangan industri kreatif wisata pintar. Asta Cita 4 tentang penguatan sumber daya manusia dalam DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. pengelolaan wisata dan teknologi, serta Asta Cita 8 mengenai keselarasan dengan lingkungan dan budaya melalui pelestarian. Program ini selaras pula dengan prioritas Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) bidang rekayasa dan sosial humaniora, khususnya terkait integrasi teknologi digital untuk pelestarian dan pengelolaan Cagar Budaya. Peran komunitas lokal dalam pembangunan pariwisata budaya berkelanjutan semakin mendapat perhatian dalam kajian akademik. Pemahaman kontemporer menekankan bahwa keberhasilan pengembangan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh pendekatan top-down dari pemerintah maupun ahli, tetapi justru sangat bergantung pada keterlibatan aktif komunitas sebagai pemangku kepentingan utama yang menjaga dan melestarikan identitas budaya mereka (SingAoambi & Lwoga, 2018. Sukaris et al. Kajian terbaru juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi katalis penting dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di tingkat desa wisata, meskipun dihadapkan pada tantangan adaptasi teknologi digital (Goodwood, 2. Selain itu, keberadaan komunitas kreatif di kawasan perkotaan, seperti Kota Tua Jakarta, terbukti berperan penting dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis budaya dan arsitektur (IJSOC, 2. Lebih jauh lagi, tren global menyoroti fenomena cultural routes dan heritage trails yang membuka peluang untuk menghadirkan pengalaman wisata baru melalui digitalisasi narasi dan ruang (Timothy & Boyd, 2. Fokus permasalahan mitra terletak pada keterbatasan kapasitas kader koperasi dalam mengelola wisata berbasis teknologi. Permasalahan tersebut terbagi menjadi dua hal utama. Pertama, mitra belum memiliki produk wisata yang berkualitas dan terstruktur. Saat ini baru terdapat satu produk wisata, yaitu wisata kuliner bahari, yang belum didukung oleh narasi sejarah, peta wisata, maupun panduan interaktif. Hal ini disebabkan oleh minimnya kemampuan kader koperasi dalam mengolah aset budaya menjadi produk wisata yang memiliki nilai edukatif. Kedua, meskipun koperasi telah memulai promosi melalui media sosial Instagram, konten visual yang dihasilkan belum maksimal. Akibatnya, promosi masih banyak bergantung pada cara konvensional seperti promosi lisan yang terbatas jangkauannya. Permasalahan ini muncul karena keterbatasan kader dalam memproduksi konten kreatif dan melakukan pemasaran digital secara efektif. Dampak dari kedua masalah tersebut adalah potensi wisata Kampung Akuarium, yang dikelilingi oleh delapan situs Cagar Budaya . ntara lain Museum Bahari. Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Menara Syahbanda. , belum tergarap secara optimal. Padahal, integrasi aset budaya tersebut ke dalam paket wisata terpadu berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, menambah sumber pendapatan, serta memperkuat pelestarian budaya lokal. Oleh karena itu, fokus pengabdian diarahkan pada pendampingan untuk meningkatkan kapasitas kader koperasi dalam mengembangkan produk wisata alternatif sekaligus mengoptimalkan strategi pemasaran digital. Solusi terhadap permasalahan pertama adalah penyusunan dokumen narasi sejarah dan pengembangan produk wisata. Proses penyusunan narasi dilakukan melalui pelatihan partisipatif yang DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. melibatkan warga serta ahli sejarah lokal dalam merumuskan sejarah Kampung Akuarium sebagai bagian integral dari kawasan Cagar Budaya Pasar Ikan. Kegiatan pelatihan juga mencakup pengumpulan cerita dan foto sejarah dari masyarakat. Produk wisata yang dihasilkan meliputi Booklet Wisata berisi narasi sejarah, daftar kuliner bahari, peta jelajah pusaka terintegrasi, akun Instagram dengan konten sejarah, serta media promosi fisik berupa kartu pos dan kipas. Dengan demikian, diharapkan jumlah produk wisata dapat meningkat dari hanya satu produk . menjadi lima produk . uliner alternatif, dokumen narasi, booklet, peta jelajah, serta souvenir kartu pos dan kipa. Solusi atas permasalahan kedua adalah pelatihan pemasaran digital yang difokuskan pada pengembangan platform daring dan pembuatan konten kreatif (Winandari et al. , 2. Materi pelatihan mencakup peningkatan keterampilan dalam penggunaan Instagram untuk promosi visual . oto, video, dan reel. , pengelolaan Google Business Profile untuk meningkatkan visibilitas, pembuatan website sederhana, produksi video dokumenter berdurasi lima menit tentang sejarah Kampung Akuarium untuk tayangan YouTube. Upaya ini diharapkan mampu memperluas saluran pemasaran digital dari satu menjadi tiga platform . Instagram, dan Google Busines. , sekaligus meningkatkan kapasitas kader koperasi dari satu menjadi lima kader yang mampu mengelola konten digital secara mandiri. Manfaat dari solusi yang ditawarkan meliputi peningkatan kualitas produk wisata, bertambahnya sumber pendapatan koperasi, serta pelestarian budaya lokal melalui penyusunan dokumen dan narasi Bagi wisatawan, keberadaan paket wisata terpadu menciptakan pengalaman yang lebih kaya melalui kombinasi kuliner, sejarah, dan interaksi budaya, sekaligus membuka peluang bagi koperasi untuk menetapkan harga yang lebih kompetitif. Mitra kegiatan ini adalah Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri yang produktif secara ekonomi maupun sosial, namun masih menghadapi dua permasalahan prioritas. Pertama, koperasi belum memiliki dokumen berupa buku pola perjalanan yang memuat produk wisata serta narasi sejarah Kampung Akuarium. Kedua, kader-kader koperasi belum memiliki keterampilan yang memadai dalam memasarkan produk wisata sejarah dan budaya, khususnya melalui strategi pemasaran digital. Metode pelaksanaan program dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan mitra secara aktif. Kegiatan dirancang dalam bentuk pelatihan, pendampingan, dan produksi bersama. Salah satu teknik utama dalam metode ini adalah pemetaan partisipatif, di mana masyarakat terlibat langsung dalam mengidentifikasi komponen 3A (Atraksi. Aksesibilitas, dan Amenita. di lingkungannya sendiri (Imran et al. , 2. Melalui pemetaan ini, kader koperasi tidak hanya menghasilkan rute perjalanan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif terhadap nilai penting pusaka yang mereka miliki. Pada aspek pengembangan produk wisata, tim pengabdian bersama masyarakat menyusun Booklet Pola Perjalanan yang berisi narasi sejarah, dokumentasi kuliner bahari, serta peta jelajah situs Cagar Budaya. Proses ini DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. dilakukan melalui pengumpulan data lapangan, wawancara dengan warga dan tokoh lokal, serta integrasi hasil riset dosen mengenai sejarah kawasan Pasar Ikan. Pada aspek pemasaran digital, dilaksanakan pelatihan intensif terkait pembuatan konten visual . oto, video, reel. , pengelolaan media sosial, dan strategi promosi berbasis platform daring. Dengan demikian, kader koperasi dapat mengemas produk wisata dalam bentuk paket terpadu sekaligus menyusun narasi promosi yang menarik . Tabel 1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan Pelaksanaan Koordinasi & Penyusunan Materi Gedung C lt 8. Universitas Trisakti. Jakarta Rapat Teknis & Finalisasi Modul Ruang Pertemuan Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri Sosialisasi Program PKM Kampung Susun Akuarium FGD Penyusunan Agenda Pelatihan Ruang Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri Pelatihan Penyusunan Narasi & Booklet Kampung Susun Akuarium Wisata Pelatihan Pemasaran Digital & Konten Kampung Susun Akuarium Promosi Pendampingan Produk Wisata Kampung Susun Akuarium Uji Coba Paket Wisata & Evaluasi Kampung Susun Akuarium Waktu Juni-Agustus 2025 10 Juli 2025 18 Juli 2025 07 Agustus 2025 10 Agustus 2025 14 September 2025 14 September 2025 14 September 2025 Keberhasilan pelaksanaan program sangat bergantung pada partisipasi mitra. Dalam hal ini, pengurus dan kader koperasi menunjukkan komitmen penuh untuk mendukung kegiatan. Ketua koperasi menyatakan kesediaan menyediakan salah satu ruang di Kampung Susun Akuarium sebagai tempat pelatihan, berpartisipasi aktif dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, serta mempraktikkan langsung hasil pendampingan melalui uji coba produk wisata dan pemasaran digital. Gambar 2. Tahap Pelaksanaan PKM DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Evaluasi kegiatan dilakukan untuk mengukur capaian dan efektivitas program. Instrumen yang digunakan berupa pre-test dan post-test kepada kader koperasi guna menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan sebelum dan sesudah pelatihan. Evaluasi difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu: . peningkatan kapasitas mitra dalam mengembangkan produk wisata di Kampung Susun Akuarium. efektivitas pelatihan pemasaran digital dalam mendukung terwujudnya wisata pintar. peningkatan kompetensi kader koperasi dalam mengolah narasi sejarah dan budaya menjadi produk wisata yang bernilai edukatif. Hasil evaluasi ini menjadi dasar penilaian keberhasilan program sekaligus memberikan masukan untuk tindak lanjut keberlanjutan kegiatan pengabdian. Pelaksanaan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Kampung Susun Akuarium berlangsung pada periode Juni hingga Agustus 2025 dengan serangkaian tahapan kegiatan. Tahap awal dimulai dengan koordinasi dan penyusunan materi yang dilaksanakan di Gedung C lantai 8. Universitas Trisakti, sebagai persiapan program. Kegiatan dilanjutkan dengan rapat teknis dan finalisasi modul bersama pengurus Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri di ruang pertemuan koperasi, yang berfungsi untuk menyepakati alur pelaksanaan dan materi pelatihan. Pada tahap implementasi, kegiatan dimulai dengan sosialisasi program PKM yang diselenggarakan di Kampung Susun Akuarium pada 18 Juli 2025. Sosialisasi ini bertujuan memperkenalkan tujuan, manfaat, serta luaran program kepada masyarakat. Selanjutnya, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) pada 7 Agustus 2025 di ruang koperasi untuk menyusun agenda detail pelatihan sesuai kebutuhan mitra. Kegiatan inti berupa pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi utama. Pertama, pelatihan penyusunan narasi sejarah dan pembuatan booklet wisata yang berlangsung pada 10 Agustus 2025 dan 14 September Pelatihan ini menghasilkan draf narasi sejarah dan rancangan peta jelajah pusaka. Kedua, pelatihan pemasaran digital dan pembuatan konten promosi yang diselenggarakan di Kampung Susun Akuarium, dengan fokus pada pemanfaatan Instagram. Google Business Profile, serta desain media digital. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Gambar 3. Penyusunan Narasi Produk Wisata Penyusunan peta jelajah dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan pengurus koperasi, kader masyarakat, dan tim pengabdian. Proses ini diawali dengan diskusi kelompok kecil, di mana peserta duduk melingkar sambil menelaah cetakan peta kawasan Kampung Susun Akuarium dan sekitarnya. Setiap peserta diberikan kesempatan untuk mengidentifikasi titik-titik penting yang memiliki potensi wisata, baik kuliner maupun edukasi. Dalam kegiatan ini, peserta secara aktif menandai lokasi strategis menggunakan alat bantu berupa spidol warna dan simbol sederhana pada peta. Titik-titik yang disepakati antara lain lokasi pusat kuliner bahari, jalur akses menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, area Masjid Luar Batang sebagai destinasi religi, serta Museum Bahari dan Menara Syahbandar sebagai ikon sejarah maritim. Diskusi juga mencakup penentuan rute jelajah yang menghubungkan titik-titik tersebut agar membentuk narasi perjalanan yang logis dan menarik bagi wisatawan. Melalui metode ini, peta jelajah tidak hanya menjadi dokumen visual, tetapi juga berfungsi sebagai media belajar bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi wisata yang dimiliki. Peta tersebut kemudian dikembangkan menjadi dasar produk wisata kuliner dengan jalur jelajah bahari serta wisata edukasi berbasis narasi sejarah dan budaya Kampung Akuarium. Hasil akhir peta jelajah menjadi fondasi utama dalam penyusunan booklet wisata, peta digital, serta konten promosi yang mendukung paket wisata terpadu. Gambar 4. Penyusunan Narasi Produk Wisata Peta jelajah yang disusun dalam program pengabdian ini memetakan keterkaitan lokasi-lokasi penting di kawasan Kampung Susun Akuarium dengan situs-situs Cagar Budaya di sekitarnya. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Gambar 5. Hasil Peta Jelajah Kampung Akuarium Titik awal perjalanan berada di Menara Syahbandar, yang berfungsi sebagai simbol sejarah perdagangan dan pengawasan maritim sejak masa kolonial. Dari titik ini, jalur wisata berlanjut menuju Rawa Lele Pasar Heksagon, area pasar tradisional yang masih merekam aktivitas ekonomi masyarakat Perjalanan kemudian mengarah ke Pelabuhan Sunda Kelapa, pelabuhan tua yang menjadi pintu gerbang utama Jakarta pada abad ke-16 hingga kini tetap aktif sebagai simpul perdagangan laut. Setelah itu, wisatawan diarahkan memasuki kawasan inti Kampung Akuarium, yang tidak hanya menjadi lokasi hunian partisipatif tetapi juga pusat kegiatan sosial dan ekonomi warga. Jalur jelajah berlanjut ke Masjid Luar Batang, salah satu destinasi religi paling bersejarah di Jakarta yang hingga kini menjadi pusat Titik terakhir adalah Museum Bahari, bangunan peninggalan kolonial yang menyimpan koleksi artefak bahari serta narasi panjang tentang sejarah maritim Indonesia. Peta jelajah ini memungkinkan wisatawan mengikuti alur perjalanan yang terintegrasi antara sejarah, budaya, religi, dan kehidupan masyarakat pesisir. Dengan pendekatan ini, wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih komprehensif, tidak sekadar berkunjung, tetapi juga memahami narasi sejarah kawasan sebagai pintu gerbang Jakarta. Evaluasi program dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur pemahaman dan keterampilan peserta terkait potensi wisata, kegiatan wisata, dan ketersediaan alat bantu panduan wisata di Kampung Susun Akuarium. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok (A. B, dan C) masing-masing terdiri dari empat orang. Hasil pre-test menunjukkan bahwa seluruh peserta telah mengetahui adanya potensi wisata di Kampung Susun Akuarium dan sekitarnya, terutama terkait sejarah kampung. Pelabuhan Sunda Kelapa. Museum Bahari. Menara Syahbandar. Masjid Luar Batang, hingga narasi kemaritiman. Namun, sebagian besar peserta belum mampu menyebutkan bentuk kegiatan wisata yang terstruktur di kampung, kecuali aktivitas terbatas seperti penggunaan perahu atau sampan secara personal. Selain itu, peserta juga DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. menyatakan belum ada alat bantu panduan wisata yang dapat digunakan oleh wisatawan, sehingga kegiatan wisata masih bersifat sporadis dan tidak terdokumentasi. Setelah dilakukan penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan, post-test memperlihatkan perubahan Peserta mampu menyebutkan secara lebih jelas kegiatan wisata yang dapat dikembangkan, termasuk wisata kuliner bahari, wisata edukasi sejarah, serta wisata religi di Masjid Luar Batang. Peserta juga menunjukkan pemahaman mengenai pentingnya penyusunan narasi sejarah dalam bentuk dokumen, booklet, dan peta jelajah sebagai panduan wisata. Selain itu, peserta dapat mengidentifikasi alat bantu baru yang dihasilkan dari program, seperti booklet wisata, peta jelajah pusaka, konten promosi digital, dan media fisik berupa kartu pos serta kipas. Gambar 6. Hasil Pre-Test dan Post-Test Perbandingan pre-test dan post-test menegaskan bahwa kegiatan ini berhasil meningkatkan pengetahuan peserta dari sekadar mengenali potensi wisata menjadi mampu merumuskan kegiatan wisata yang lebih terstruktur, sekaligus menguasai penggunaan media pendukung wisata. Temuan ini menunjukkan keberhasilan program dalam memperkuat kapasitas kader koperasi untuk mengelola wisata pintar berbasis cagar budaya di Kampung Susun Akuarium. Gambar 7. Produk wisata. peta jelajah wisata kuliner, peta jelajah wisata edukasi, booklet, kipas, dan kartu pos DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Program ini menghasilkan dua kelompok luaran utama, yaitu: . produk wisata berbasis dokumen dan media fisik, berupa booklet wisata yang memuat narasi sejarah, kuliner bahari, peta jelajah wisata edukasi, peta jelajah wisata kuliner bahari, serta peta eksplorasi rasa, yang dilengkapi dengan media promosi fisik berupa kartu pos dan kipas. aplikasi pemasaran digital, yang mencakup website. Google Business, dan Instagram sebagai sarana promosi wisata secara daring. Keberhasilan pemberdayaan Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri dalam mengembangkan wisata pintar didorong oleh berbagai faktor pendukung dan penghambat yang saling memengaruhi. Faktor pendukung utama meliputi lokasi geografis yang strategis di kawasan pesisir Jakarta Utara yang dikelilingi oleh delapan situs cagar budaya ikonik seperti Museum Bahari dan Pelabuhan Sunda Kelapa, serta adanya pengakuan internasional terhadap inovasi perumahan Kampung Akuarium yang menjadi modal sosial kuat. Selain itu, komitmen penuh dari pengurus koperasi dalam menyediakan fasilitas dan partisipasi aktif warga menjadi penggerak utama kelancaran program. Namun, pelaksanaan program ini menghadapi tantangan berupa rendahnya kapasitas literasi digital kader koperasi dalam memproduksi konten promosi multimedia yang efektif serta belum tersedianya dokumentasi narasi sejarah dan pola perjalanan yang terstruktur sebelum pendampingan dilakukan. Sinergi antara optimalisasi aset budaya dan penguatan keterampilan digital melalui pendekatan partisipatif terbukti mampu memitigasi hambatan tersebut untuk mewujudkan pengelolaan wisata berbasis komunitas yang berkelanjutan. Program Pengabdian kepada Masyarakat di Kampung Susun Akuarium telah memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan potensi wisata berbasis sejarah, budaya, dan kuliner bahari melalui pendekatan partisipatif. Seluruh kegiatan menghasilkan luaran yang terukur, yaitu: . produk booklet wisata berisi narasi sejarah, kuliner bahari, dan peta jelajah pusaka, dilengkapi media promosi fisik berupa kartu pos dan kipas. aplikasi pemasaran digital melalui website. Google Business, dan Instagram. dua kali penyuluhan dan pelatihan yang mencakup penyusunan narasi sejarah serta pemasaran digital. artikel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal terakreditasi Sinta 4. rekognisi dua mahasiswa pada mata kuliah sejumlah 6 sks. artikel populer yang dipublikasikan di media elektronik. video dokumenter yang ditayangkan melalui platform YouTube. poster kegiatan dan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain menghasilkan luaran tersebut, program ini juga berhasil meningkatkan kapasitas kader koperasi dalam dua aspek utama, yaitu kemampuan mengolah narasi sejarah dan budaya lokal menjadi produk wisata edukatif, serta keterampilan dalam memanfaatkan platform digital untuk promosi. Hasil evaluasi pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman sejarah lokal, kreativitas pengembangan produk, serta keterampilan digital peserta. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkuat posisi Kampung Akuarium dalam ekosistem pariwisata kawasan Kota Tua Jakarta, tetapi juga DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan wisata berbasis komunitas yang berkelanjutan. Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh Universitas Trisakti dengan judul AuPemberdayaan Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri melalui Wisata Pintar Cagar Budaya di Kampung Akuarium Jakarta UtaraAy berdasarkan Surat Kontrak Nomor 5, 508/A/LPPM-P/USAKTI/VI/2025 Tahun Anggaran 2025, terlaksana dengan baik berkat dukungan dari berbagai pihak. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Hibah BIMA Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi atas dukungan pendanaan yang diberikan, serta kepada Koperasi Akuarium Bangkit Mandiri yang telah berpartisipasi aktif dan memberikan kontribusi nyata dalam pelaksanaan kegiatan ini. Anisykurlillah. Kolaborasi hexahelix dalam pengembangan ekosistem digital. Jurnal Pengabdian Masyarakat. Buhalis. , & Amaranggana. Smart tourism destinations and digital marketing. Journal of Destination Marketing & Management. CNN Indonesia. November . Kampung Akuarium era Anies Baswedan raih penghargaan CNN Indonesia. https://w. com/nasional/20231106195747-201018189/kampung-akuarium-era-anies-baswedan-raih-penghargaan-internasional Fatimah. Manajemen pariwisata berkelanjutan pada koperasi wisata dalam mendukung sustainable tourism development [Thesis/Laporan. Repository UIN Saiz. Goodwood. Cultural preservation as a catalyst for sustainable tourism: Challenges and potentials in Cimande tourism village. Indonesia. Journal of Sustainable Tourism and Entrepreneurship, 4. , 145Ae IJSOC. The role of creative communities in supporting development of urban heritage tourism Kota Tua Jakarta. International Journal of Science and Society, 3. , 113Ae124. Imran. , et al. Pemetaan partisipatif desa wisata perintis berbasis social enterprise. Jurnal Pemberdayaan Pariwisata. Pantin. , & Francis. Community-based tourism: A tool for community development and environmental conservation. Environmental Management. SingAoambi. , & Lwoga. Heritage attachment and domestic touristsAo visits to historic sites. International Journal of Culture. Tourism and Hospitality Research, 12. , 274Ae289. Suansri. Community based tourism handbook. REST Project. Sukaris. Rachmawati. Hidayat. , & Purnomo. The role of authentic local resources and social capital in the development of sustainable village tourism. Bisnis: Teori dan Implementasi, 13. , 34Ae47. Supriyadi. , & Arifin. Kajian eksplorasi koperasi energi dan koperasi wisata: Pemikiran, peluang dan tantangan. Ikopin Repository. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech. Timothy. , & Boyd. Cultural routes and heritage trails. Journal of Heritage Tourism, 9. , 134Ae147. Winandari. Setiadi. Wijayanto. , et al. Pemberdayaan kelompok cagar budaya Kalipasir melalui optimalisasi potensi berbasis digital. Jurnal AKAL: Abdimas dan Kearifan Lokal, 6, 144Ae154. Yung. , & Khoo-Lattimore. Digital storytelling in sustainable tourism. Current Issues in Tourism. DOI : http://dx. org/10. 25105/urbanenvirotech.