https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial Struktur Kekuasaan p-ISSN I e-ISSN 2797-1619 Tradisi Ruwahan di Sendangduwur https://doi. org/10. 53429/j-kis. Submission: 21/10/2025. Review: 15/11/2025 Accepted: 27/12/2025. Publish: 29/12/2025 Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur IntihaAoul Khiyaroh, 2Shofia Elviana, 3Hanifah Rihadhatul Aisyah. Rafi Ramadhani 1,2,3,4 IAI Tarbiyatut Tholabah Lamongan intihaulkhiyaroh@iai-tabah. id 2shofiaelviana@gmail. Abstract The Ruwahan tradition in Sendangduwur Village. Paciran District. Lamongan Regency, is a form of local cultural preservation imbued with Islamic values introduced through the cultural daAowah of Sunan Sendangduwur. Islamic communication in this tradition plays a crucial role in shaping the social representation of the community through rituals of sedekah . and selametan . ommunal feas. , which include prayers for deceased relatives, while also reinforcing religious and social power structures within the community. Sunan SendangduwurAos daAowah approach internalizes Islamic values peacefully and tolerantly alongside Javanese culture, making the Ruwahan tradition an effective communication medium for maintaining social identity and religious authority in the coastal Lamongan area. The regularly held Ruwahan Festival not only strengthens social solidarity but also asserts the existence of power structures rooted in culturally adapted Islamic values. Thus. Islamic communication through the Ruwahan tradition in Sendangduwur functions as a strategic means to build and represent harmonious and sustainable social relations and power structures in the local society. Keywords: Sendangduwur. Ruwahan. Communication. Abstrak Tradisi Ruwahan di Desa Sendangduwur. Kecamatan Paciran. Kabupaten Lamongan, merupakan bentuk pelestarian budaya lokal dengan nilai-nilai Islam yang diperkenalkan melalui dakwah kultural Sunan Sendangduwur. Komunikasi Islam dalam tradisi ini berperan penting dalam membangun representasi sosial masyarakat melalui ritual sedekahan dan selametan yang mengandung doa untuk sanak saudara yang telah meninggal, sekaligus memperkuat struktur kekuasaan agama dan sosial di komunitas Pendekatan dakwah yang dilakukan Sunan Sendangduwur menginternalisasikan nilai-nilai Islam secara damai dan toleran dengan Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur budaya Jawa, sehingga tradisi Ruwahan menjadi media komunikasi yang efektif dalam mempertahankan identitas sosial dan kekuasaan keagamaan di wilayah pesisir Lamongan. Festival Ruwahan yang digelar secara rutin tidak hanya memperkuat solidaritas sosial, tetapi juga menegaskan keberadaan struktur kekuasaan yang berakar pada nilai-nilai Islam yang diadaptasi secara kultural. Dengan demikian, komunikasi Islam melalui tradisi Ruwahan di Sendangduwur berfungsi sebagai sarana strategis dalam membangun dan merepresentasikan hubungan sosial serta struktur kekuasaan yang harmonis dan berkelanjutan di masyarakat setempat. Kata Kunci: Sendangduwur. Ruwahan. Komunikasi. PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim memiliki keragaman tradisi keagamaan yang dipengaruhi oleh perpaduan antara ajaran Islam dan kearifan lokal. Tradisi-tradisi tersebut tumbuh dan berkembang sebagai wujud ekspresi religius sekaligus identitas sosial masyarakat. Salah satu tradisi yang hingga kini masih dilestarikan adalah Ruwahan, yaitu ritual doa bersama yang biasanya dilakukan menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, penguatan silaturahmi, dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Tradisi Ruwahan tidak hanya dimaknai sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai media komunikasi simbolik yang membangun solidaritas, nilai kebersamaan, dan legitimasi sosial dalam masyarakat. Dalam konteks komunikasi Islam. Ruwahan dapat dipahami sebagai medium dakwah kultural. Dakwah tidak sekadar berbentuk ceramah di masjid, melainkan juga hadir melalui ekspresi budaya yang diterima masyarakat setempat Hidayat, 2. Komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan terwujud melalui doa, pembacaan ayat AlQurAoan, tausiyah, hingga simbol-simbol religius yang sarat makna. Praktik komunikasi ini pada gilirannya membentuk kesadaran kolektif dan memperkuat ikatan sosial. Dengan kata lain, komunikasi Islam berfungsi sebagai mekanisme yang menjaga kesinambungan nilai Islam sekaligus kearifan lokal (Madjid, 1. Lebih jauh, tradisi keagamaan semacam Ruwahan dapat dibaca dalam perspektif representasi sosial. Menurut Moscovici . , representasi sosial adalah cara masyarakat memahami dan mengonstruksi realitas melalui interaksi, simbol, dan Ruwahan di Sendangduwur bukan hanya ritual tahunan, melainkan juga arena diskursif di mana nilai, identitas, dan otoritas sosial direproduksi. Tokoh agama, misalnya, mendapatkan legitimasi sosial melalui peran komunikatifnya sebagai pemimpin doa dan pengarah ritual. Hal ini menunjukkan adanya hubungan erat antara komunikasi, representasi sosial, dan struktur kekuasaan. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur Selain itu, struktur kekuasaan dalam masyarakat tradisional tidak semata ditentukan oleh faktor ekonomi atau politik, melainkan juga oleh otoritas religius. Melalui praktik komunikasi dalam Ruwahan, otoritas keagamaan memperoleh pengakuan, sementara masyarakat memperoleh kepastian nilai serta arah kehidupan Dengan demikian, tradisi ini memperlihatkan bahwa komunikasi Islam bukan hanya menyampaikan pesan keagamaan, melainkan juga mengatur relasi sosial dan memperkuat legitimasi kekuasaan dalam masyarakat (Habermas, 1984. Mulyana. Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, menganalisis peran komunikasi Islam dalam membangun representasi sosial pada tradisi Ruwahan di Sendangduwur. Kedua, mengungkap bagaimana praktik komunikasi Islam berkontribusi terhadap pembentukan dan penguatan struktur kekuasaan sosial melalui tradisi tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian komunikasi Islam, sekaligus memperkaya pemahaman tentang hubungan antara agama, budaya, dan struktur sosial dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia. Tradisi keagamaan dan budaya lokal di Indonesia merupakan bentuk representasi sosial yang tidak hanya menjaga kesinambungan nilai-nilai kearifan lokal, tetapi juga memperlihatkan bagaimana komunikasi berperan dalam membangun struktur kekuasaan dalam masyarakat. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Ruwahan di Desa Sendangduwur. Lamongan, sebuah ritual yang dilaksanakan menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk doa bersama untuk leluhur dan ungkapan syukur atas keberkahan hidup. Dalam perspektif komunikasi Islam, tradisi semacam Ruwahan dapat dipandang sebagai media dakwah kultural yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan tradisi lokal. Proses komunikasi yang berlangsung pada ritual ini mencerminkan adanya interaksi simbolik, pembentukan makna kolektif, serta reproduksi nilai yang menjadi identitas sosial masyarakat (Mulyana, 2018. Hidayat. Tradisi Ruwahan bukan hanya ritual religius, tetapi juga arena representasi sosial yang memperlihatkan relasi antara agama, budaya, dan struktur kekuasaan. Lebih lanjut, teori representasi sosial (Moscovici, 1. menjelaskan bahwa praktik budaya dan keagamaan menciptakan kerangka berpikir kolektif yang mengatur perilaku sosial. Pada konteks Ruwahan, komunikasi Islam hadir dalam bentuk penyampaian doa, ceramah, maupun simbol-simbol religius yang membangun legitimasi nilai, otoritas tokoh agama, serta kohesi sosial masyarakat. Dengan demikian, komunikasi Islam tidak hanya dipahami sebagai penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen pembentuk struktur sosial dan relasi kuasa (Habermas, 1984. Madjid, 1. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi Islam dalam membangun representasi sosial pada tradisi Ruwahan di Sendangduwur. Mengungkap bagaimana komunikasi Islam berkontribusi dalam pembentukan dan penguatan struktur kekuasaan sosial melalui praktik tradisi tersebut. Tradisi Ruwahan di Sendangduwur. Kecamatan Paciran. Kabupaten Lamongan, merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan dan menjadi agenda tahunan menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan dan menyucikan diri dan memohon ampunan, tetapi juga sebagai ajang mempererat tali silaturrahmi, hubungan sosial dan memperkuat identitas komunitas melalui berbagai kegiatan budaya seperti pawai, sedekah kuliner, dan drama kolosal yang memiliki banyak makna sejarah dan nilainilai Islam. Dalam konteks ini, komunikasi Islam memainkan peran penting dalam membangun representasi sosial serta struktur kekuasaan yang melekat pada tradisi Pendekatan analisis wacana kritis Teun A. Van Dijk sangat relevan untuk mengkaji bagaimana komunikasi Islam di dalam tradisi Ruwahan Sendangduwur tidak hanya merefleksikan, tetapi juga mereproduksi dan mengkonstruksi makna sosial dan relasi kekuasaan dalam masyarakat(Humaira, 2. Metode ini juga menelaah wacana dari tiga dimensi utama, yaitu teks, kognisi sosial, dan konteks sosial, sehingga dapat mengungkap bagaimana narasi keagamaan dan simbol-simbol budaya dalam tradisi Ruwahan membentuk identitas sosial sekaligus menegaskan hierarki kekuasaan lokal. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mendalami peran komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan Sendangduwur sebagai medium konstruksi sosial dan legitimasi kekuasaan yang berakar pada nilai-nilai agama dan budaya lokal(Pranata, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi, karena fokus penelitian terletak pada praktik komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan di Sendangduwur, serta bagaimana praktik tersebut membentuk representasi sosial dan struktur kekuasaan dalam masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk memahami makna simbolik, nilai-nilai religius, serta relasi kuasa yang terbangun melalui interaksi sosial dalam konteks budaya setempat. Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Sendangduwur. Kecamatan Paciran Lamongan. Jawa Timur, yang memiliki tradisi Ruwahan sebagai praktik sosial keagamaan dan budaya. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur . Subjek dan Informan Penelitian Informan penelitian ditentukan dengan teknik purposive sampling dan snowball sampling, melibatkan: Tokoh agama dan pemangku adat . yai, modin, sesepuh des. Aparat desa yang terlibat dalam pengorganisasian Ruwahan. Masyarakat umum yang berpartisipasi dalam tradisi tersebut. Teknik Pengumpulan Data Observasi partisipatif, yaitu peneliti hadir langsung mengikuti prosesi Ruwahan dan mencatat praktik komunikasi yang terjadi. Wawancara mendalam . n-depth intervie. , untuk menggali makna, nilai, dan pandangan masyarakat terkait komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan. Dokumentasi, berupa arsip, foto, catatan sejarah desa, serta teks-teks keagamaan yang berkaitan. Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman yang meliputi: Reduksi data . emilihan, pemusatan perhatian, dan penyederhanaan Penyajian data . alam bentuk narasi deskriptif, kutipan wawancara, dan deskripsi etnograf. Penarikan kesimpulan . erifikasi dan interpretasi makna komunikasi Islam dalam tradisi Ruwaha. Keabsahan Data Untuk menjaga keabsahan, penelitian menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode, yakni membandingkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi agar diperoleh gambaran yang valid dan dapat Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi komunikasi, karena fokus kajian terletak pada praktik komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan di Sendangduwur serta makna sosial yang terkandung di dalamnya. Metode ini dipilih untuk memahami secara mendalam simbol, nilai, dan relasi kuasa yang dibangun melalui interaksi komunikasi dalam konteks budaya masyarakat setempat. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan Informan penelitian ditentukan dengan teknik purposive dan snowball sampling, melibatkan tokoh agama, perangkat desa, serta masyarakat yang terlibat dalam tradisi Ruwahan. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles & Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dengan prosedur ini, penelitian diharapkan mampu menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur mengenai peran komunikasi Islam dalam membangun representasi sosial dan struktur kekuasaan pada tradisi Ruwahan di Sendangduwur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis (AWK) yang dikembangkan oleh Teun A. Van Dijk. Metode ini dipilih karena mampu mengkaji wacana secara mendalam dengan menggabungkan tiga dimensi utama, yaitu dimensi teks, kognisi sosial, dan konteks sosial, sehingga dapat mengungkap bagaimana komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan di Sendangduwur membangun representasi sosial dan struktur kekuasaan. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif yang mendeskripsikan dan menganalisis data kebahasaan secara mendalam, tanpa mengubah data asli, melainkan menguraikan dan menafsirkan maknanya(Yusar et al. , 2. Data dikumpulkan melalui teknik simak dan catat, yaitu mengamati dan mencatat teks-teks komunikasi Islam yang muncul dalam tradisi Ruwahan, seperti narasi, pidato, simbol, dan ritual yang mengandung pesan keagamaan dan sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Representasi Sosial dalam Tradisi Ruwahan Hasil observasi partisipatif menunjukkan bahwa tradisi Ruwahan di Sendangduwur tidak hanya dimaknai sebagai persiapan menyambut bulan Ramadan, tetapi juga sebagai media silaturahmi dan penguatan identitas sosial. Dalam prosesi doa bersama, tahlil, dan kenduri, praktik komunikasi Islam tampak dalam bentuk pembacaan doa, tausiyah, serta interaksi antarwarga. Komunikasi tersebut menciptakan representasi sosial berupa rasa kebersamaan, nilai gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur. Wawancara dengan tokoh agama mengungkap bahwa komunikasi Islam dalam Ruwahan dipahami sebagai sarana dakwah kultural. Pesan-pesan keagamaan disampaikan dalam bahasa lokal yang mudah dipahami masyarakat, sehingga menginternalisasi nilai Islam ke dalam budaya setempat. Dokumentasi berupa arsip dan catatan sejarah desa memperkuat temuan ini, bahwa Ruwahan telah menjadi bagian dari tradisi Islam-Jawa yang memadukan aspek ritual dan sosial (Geertz, 1960. Woodward, 2. Seorang tokoh agama (KH. M, 65 tahu. AuRuwahan itu bukan sekadar tradisi, tapi cara kita mengingat Allah dan mendoakan leluhur. Dengan berkumpul, masyarakat jadi rukun, dan pesan agama lebih mudah disampaikan. Ay Wawancara dengan warga juga mengungkap bahwa Ruwahan menjadi wadah mempererat hubungan sosial. Seorang ibu rumah tangga (Bu S, 47 tahu. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur AuKalau Ruwahan, semua orang kumpul. Tidak ada beda kaya atau miskin. Semua duduk sama, makan sama, doa sama. Ay Dokumentasi berupa arsip desa menunjukkan bahwa Ruwahan sudah dilakukan sejak abad ke-18, ketika dakwah Islam mulai berkembang di wilayah Lamongan. Hal ini memperlihatkan kesinambungan antara komunikasi Islam dengan tradisi lokal yang melekat dalam identitas masyarakat Sendangduwur. Struktur Kekuasaan dalam Tradisi Ruwahan Observasi juga memperlihatkan adanya struktur sosial yang jelas dalam pelaksanaan tradisi. Tokoh agama . yai dan modi. menempati posisi sentral sebagai pemimpin doa dan pemberi legitimasi keagamaan. Aparat desa bertindak sebagai pengatur teknis acara, sementara masyarakat berperan sebagai peserta sekaligus pendukung logistik. Pola komunikasi yang terbangun menegaskan adanya hirarki kekuasaan berbasis agama, budaya, dan administratif. Hasil wawancara mendalam menunjukkan bahwa masyarakat menerima struktur tersebut bukan sebagai bentuk dominasi, melainkan sebagai wujud kepatuhan pada otoritas religius dan sosial. Dengan demikian, komunikasi Islam berfungsi ganda: sebagai medium penyampaian pesan keagamaan sekaligus sebagai mekanisme reproduksi struktur kekuasaan dalam masyarakat. Dokumentasi sejarah desa juga menegaskan konsistensi pola kepemimpinan ini dari generasi ke generasi, sehingga memperkuat legitimasi sosial para tokoh. Pembahasan Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan berperan penting dalam membangun representasi sosial berupa nilai kebersamaan dan identitas religius-budaya, sekaligus mereproduksi struktur kekuasaan berbasis agama dan adat. Hal ini sejalan dengan konsep komunikasi kultural (Gudykunst & Kim, 2. yang menempatkan komunikasi sebagai sarana pembentukan makna bersama dalam suatu komunitas. Selain itu, penelitian ini menguatkan teori representasi sosial Moscovici . , bahwa tradisi keagamaan mampu membentuk kerangka berpikir kolektif Dalam konteks Ruwahan, komunikasi Islam menjadi instrumen hegemonik (Gramsci, 1. yang menjaga stabilitas sosial sekaligus memperkuat posisi tokoh agama dan budaya dalam struktur kekuasaan desa. Penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi Islam berperan penting dalam membentuk dan mempertahankan identitas sosial serta struktur kekuasaan lokal di tengah tradisi Ruwahan. Tradisi Ruwahan sendiri merupakan ritual yang menggabungkan unsur budaya lokal dan ajaran Islam, terutama dalam konteks penghormatan leluhur dan persiapan menyambut bulan Ramadhan. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur Komunikasi Islam dalam tradisi ini tidak hanya berlangsung secara verbal melalui dakwah, seperti ceramah, dan pembacaan doa, tetapi juga secara simbolik melalui pembagian sedekah kukiner khas sendang, dan gotong royong masyarakat. Melalui komunikasi ini, nilai-nilai Islam seperti tauhid, persamaan derajat, keikhlasan, dan solidaritas sosial sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat, sehingga membangun representasi sosial umat Islam yang inklusif dan egaliter(Syafii Budi Santoso, 2. Gambar 1 Acara Ruwahan Sendangduwur Ruwahan Sendangduwur merupakan tradisi yang sangat kental dengan nilainilai sosial dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ruwahan di Sendangduwur biasanya bertepatan dengan malam Nisfu Syaban, dua minggu sebelum Ramadan tiba. Pada malam penuh berkah ini, masyarakat berbondongbondong memohon ampunan, membersihkan hati, dan mempererat hubungan sosial dengan tetangga serta kerabat. Gambar 2 Acara Ruwahan Sendangduwur Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur Salah satu tradisi yang masih lestari adalah penyajian ketupat dan sego langgi, dua hidangan khas yang memiliki filosofi mendalam. Kegiatan seperti Pameran Sejarah Budaya. Pawai Budaya. Drama Kolosal, dan Sedekah Kuliner khas Sendangduwur seperti ketupat, sego langgi, bubur suro, dan bubur cenil. Tidak hanya mempererat solidaritas sosial, tetapi juga merefleksikan identitas kolektif masyarakat Desa Sendangduwur. Ketupat, misalnya, memiliki makna simbolis Aungaku lepatAy yang memiliki arti mengakui kesalahan, sedangkan Sego Langgi memiliki makna yang terletak pada jumlah dan jenis sayuran yang digunakan. Tujuh macam daun sayuran tersebut melambangkan doa bil isyarah "Pitulung," yakni permohonan pertolongan kepada Allah Yang Maha Kuasa. Hal ini menunjukkan bahwa makanan ini bukan sekadar konsumsi biasa, melainkan juga sarana spiritual untuk memohon keberkahan dan perlindungan(Siswayanti, 2. Gambar 3 Sego langgi Tradisi Ruwahan sendiri merupakan bentuk akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal, di mana nilai-nilai Islam diintegrasikan ke dalam praktik sosial masyarakat tanpa menghilangkan unsur budaya asli(Rulli Nasrullah, 2. Dalam pelaksanaannya, tokoh agama memainkan peran penting sebagai komunikator utama, menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang dikemas dalam bahasa dan simbol yang mudah dipahami oleh masyarakat(Mudjiyanto, 2. Hal ini memperkuat posisi mereka dalam struktur sosial, sekaligus membangun representasi sosial bahwa tradisi Ruwahan adalah bagian dari identitas keislaman masyarakat Sendangduwur. Pada struktur makro, komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan membentuk narasi besar tentang pentingnya kebersamaan, seperti gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur dalam bingkai nilai-nilai Islam. Wacana yang dibangun menekankan bahwa tradisi ini merupakan bentuk pengamalan ajaran Islam yang kontekstual dengan budaya lokal. Narasi ini menegaskan posisi Islam sebagai agama yang mencakup dan mampu beradaptasi dengan budaya setempat(Humaira, 2. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur Struktur superstruktur dalam wacana tradisi Ruwahan tampak pada pola penyampaian pesan oleh tokoh agama dan pemimpin adat. Mereka menggunakan struktur komunikasi yang sistematis: pembukaan dengan doa, penyampaian pesan moral dan keagamaan, serta penutup dengan ritual bersama. Pola ini memperlihatkan adanya pola komunikasi yang terstruktur, di mana pesan-pesan utama tentang tauhid, persatuan, dan penghormatan kepada leluhur selalu menjadi inti dari setiap sesi komunikasi(Dr. Ruliana & Puji, 2. Analisis Van Dijk menyoroti penggunaan bahasa, simbol, dan tindakan komunikatif dalam tradisi Ruwahan. Tokoh agama menggunakan istilah-istilah keislaman yang telah diadaptasi ke dalam bahasa lokal, sehingga mudah diterima oleh masyarakat(Agustya et al. , 2. Simbol-simbol seperti doa bersama, pembacaan tahlil, dan sedekah menjadi media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Selain itu, tindakan komunikatif seperti musyawarah dan gotong royong memperkuat hubungan sosial dan menegaskan struktur kekuasaan informal di masyarakat, di mana tokoh agama dan pemimpin adat memiliki otoritas tinggi dalam pengambilan keputusan(Agustya et al. , 2. Wacana yang dibangun melalui komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan secara efektif membentuk representasi sosial bahwa tradisi ini adalah bagian integral dari identitas keislaman masyarakat(Widiantari & Herdiyanto, 2. Tokoh agama dan pemimpin adat memperoleh legitimasi sosial dan kekuasaan simbolik melalui peran mereka sebagai penyampai dan penjaga tradisi. Hal ini memperlihatkan bagaimana komunikasi Islam tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran nilai, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan dan pelestarian struktur kekuasaan di tingkat lokal(Prihartono & Suharyo, 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi Ruwahan di Sendangduwur merupakan ruang sosial-keagamaan yang memadukan nilai Islam dengan budaya Melalui komunikasi Islam yang terwujud dalam doa bersama, tausiyah, serta interaksi antarwarga, terbentuk representasi sosial berupa kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan pada leluhur. Selain itu, hasil penelitian memperlihatkan adanya struktur kekuasaan yang terbangun secara hierarkis. Tokoh agama menempati posisi sentral sebagai pemimpin ritual sekaligus panutan moral, aparat desa berfungsi sebagai pengelola teknis, sedangkan masyarakat menjadi pendukung aktif tradisi. Struktur ini diterima masyarakat bukan sebagai dominasi, melainkan sebagai bentuk legitimasi religius dan sosial yang mengikat komunitas. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur SIMPULAN DAN SARAN Bagian ini memuat kesimpulan dan saran. Kesimpulan dan saran dapat dibuat dalam sub bagian yang terpisah. Kesimpulan menjawab tujuan, bukan mengulang teori, berarti menyatakan hasil penelitian secara ringkas . api bukan ringkasan Saran merupakan penelitian lanjutan yang dirasa masih diperlukan untuk penyempurnaan hasil penelitian supaya berdaya guna. Penelitian tentunya tidak selalu berdaya guna bagi masyarakat dalam satu kali penelitian, tapi merupakan rangkaian penelitian yang berkelanjutan. Berdasarkan analisis wacana Van Dijk terhadap peran komunikasi Islam dalam membangun representasi sosial dan struktur kekuasaan pada tradisi Ruwahan di Sendangduwur, dapat disimpulkan bahwa komunikasi Islam di lingkungan ini berjalan secara kultural dan adaptif (Umam, 2. Komunikasi tersebut tidak hanya menjadi media mempertahankan nilai-nilai keislaman melalui bahasa, simbol, dan ritual, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam membentuk identitas sosial masyarakat serta memperkuat posisi tokoh agama dan pemimpin adat dalam struktur kekuasaan lokal. Tradisi Ruwahan menjadi wadah akulturasi antara ajaran Islam dan budaya lokal, sehingga memperkuat kohesi sosial, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan menjaga kesinambungan tradisi keagamaan yang relevan dengan perkembangan zaman. Masyarakat dan pemerintah desa di Sendangduwur perlu terus melestarikan tradisi Ruwahan sebagai bagian dari warisan budaya dan identitas keislaman lokal, dengan tetap menjaga nilai-nilai Islam yang ada. Diperlukan upaya untuk meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaan tradisi, agar komunikasi Islam yang terbangun semakin kokoh dan memperkuat struktur sosial yang partisipatif. Dengan demikian, komunikasi Islam dalam tradisi Ruwahan berperan ganda: pertama, sebagai sarana dakwah kultural yang menanamkan nilainilai keagamaan dalam bingkai budaya lokal. kedua, sebagai mekanisme reproduksi struktur sosial dan kekuasaan yang menjaga harmoni masyarakat. Saran Bagi masyarakat Sendangduwur, tradisi Ruwahan perlu dilestarikan sebagai warisan budaya-religius, dengan tetap memperkuat nilai-nilai Islam yang terkandung di dalamnya. Bagi tokoh agama dan aparat desa, penting menjaga keseimbangan antara otoritas keagamaan dan partisipasi masyarakat, agar struktur kekuasaan yang terbentuk tetap inklusif dan diterima secara konsensual. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas kajian pada aspek ekonomi dan politik tradisi Ruwahan, misalnya bagaimana kegiatan ini berkontribusi pada ekonomi lokal atau memperkuat legitimasi politik desa. Jurnal Komunikasi Islam (J-KI. I Vol. No. Desember 2025 https://doi. org/10. 53429/j-kis. Peran Komunikasi Islam dalam Membangun Representasi Sosial dan Struktur Kekuasaan pada Tradisi Ruwahan di Sendangduwur DAFTAR PUSTAKA