Jurnal Kesehatan Amanah Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 E-ISSN : 2962-6366. P-ISSN : 2580-4189. Hal. DOI: https://doi. org/10. 57214/jka. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/jka Faktor Gaya Hidup yang Berhubungan dengan Hipertensi di Puskesmas Sudiang Adimas Buyar Alif1*. Irmawati2. Apdiyani Toalu3 . Rahmawati Azis4 Program Studi Kesehatan Masyarakat. Universitas Tamalatea Makassar. Indonesia Email: adimasbuyar213@gmail. Alamat: Jl. Perintis Kemerdekaan KM No. Tamalanrea. Makassar. Kota Makassar. Sulawesi Selatan 90242 *Penulis Korespondensi Abstract. Hypertension is a major public health problem worldwide that can lead to severe and life-threatening complications such as stroke, heart disease, kidney failure, and other cardiovascular disorders if not properly This study aimed to analyze in greater depth the relationship between obesity, physical activity, and sleep patterns with the incidence of hypertension in the working area of the Sudiang Health Center in Makassar City. A quantitative approach with a cross-sectional design was employed to ensure a comprehensive overview of the risk factors. A total of 100 respondents were selected from a population of 22,572 people using the Slovin formula with a ten percent margin of error and purposive sampling based on predetermined inclusion criteria. Data collection was conducted using structured questionnaires combined with medical records to increase the accuracy of the information obtained. The collected data were analyzed using the Chi-Square test with a significance level set at 0. The results showed a significant relationship between obesity . = 0. , physical activity . = 0. , and sleep patterns . = 0. with the incidence of hypertension. Respondents who were obese, performed low levels of physical activity, and had poor sleep patterns were more likely to develop This study highlights the importance of maintaining an ideal body weight, increasing regular physical activity, and improving sleep patterns. Health professionals are expected to strengthen education, counseling, and regular monitoring to control modifiable lifestyle risk factors within the community effectively. Keywords: Community Health Center. Hypertension. Obesity. Physical Activity. Sleep Patterns. Abstrak. Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius karena dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung koroner yang meningkatkan angka kesakitan serta kematian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara obesitas, aktivitas fisik, dan pola tidur dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang . ross-sectiona. untuk memperoleh gambaran hubungan antarvariabel secara menyeluruh. Jumlah sampel sebanyak 100 orang diperoleh dari populasi 22. orang dengan menggunakan rumus Slovin pada tingkat kesalahan sepuluh persen dan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu agar hasil penelitian lebih tepat sasaran. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dan penelusuran rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara obesitas . = 0,. , aktivitas fisik . = 0,. , dan pola tidur . = 0,. dengan kejadian hipertensi. Responden yang mengalami obesitas, memiliki aktivitas fisik rendah, serta pola tidur buruk memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan responden yang memiliki gaya hidup sehat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa menjaga berat badan ideal, meningkatkan aktivitas fisik, dan memperbaiki pola tidur merupakan langkah penting dalam mencegah hipertensi. Tenaga kesehatan diharapkan lebih aktif dalam memberikan edukasi, pemantauan, dan intervensi untuk mengurangi faktor risiko hipertensi pada masyarakat. Kata kunci: Aktivitas Fisik. Hipertensi. Obesitas. Pola Tidur. Puskesmas. Naskah Masuk: 20 Agustus 2025. Revisi: 01 September 2025. Diterima: 20 September 2025. Tersedia: 23 September 2025 Faktor Gaya Hidup yang Berhubungan dengan Hipertensi di Puskesmas Sudiang LATAR BELAKANG Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama penyakit kardiovaskular dan kematian global, dengan angka kejadian yang terus meningkat, terutama di negara berkembang. World Health Organization mencatat bahwa lebih dari 1,2 miliar orang di dunia mengidap hipertensi, dan sekitar 46% di antaranya tidak menyadari kondisi tersebut (WHO, 2. Di Indonesia, prevalensi hipertensi mencapai 30,8% (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2. , sementara di Provinsi Sulawesi Selatan mencapai 45,27% (Dinkes Sulsel, 2. Di Kota Makassar. Puskesmas Sudiang hipertensi secara konsisten menempati posisi tiga besar selama satu tahun dari sepuluh penyakit tertinggi di Puskesmas Sudiang selama tahun 2024. Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang kian meningkat akibat pola hidup tidak sehat yang umum dijumpai di masyarakat modern. Konsumsi makanan tinggi kalori, makanan olahan, pola tidur yang tidak teratur, serta rendahnya aktivitas fisik telah berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan obesitas, yang pada gilirannya meningkatkan risiko terjadinya Akumulasi faktor-faktor tersebut menyebabkan tekanan darah meningkat secara konsisten, memberikan beban tambahan pada sistem peredaran darah dan organ vital. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan di puskesmas seringkali mengakibatkan hipertensi tidak terdeteksi sejak dini, sehingga berpotensi menimbulkan komplikasi serius seperti penyakit jantung dan stroke (Muliana, 2. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama hipertensi. Individu obes memiliki kemungkinan lima kali lebih besar mengalami hipertensi dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal (Jayadi, 2. Kelebihan lemak tubuh meningkatkan kebutuhan oksigen dan nutrisi, sehingga memperbesar volume darah dan meningkatkan tekanan pada dinding arteri. Peningkatan indeks massa tubuh (IMT) secara langsung berhubungan dengan tekanan darah sistolik. Sekitar 20Ae33% penderita hipertensi memiliki berat badan berlebih, dan obesitas menjadi pintu masuk bagi gangguan metabolik lainnya yang memperburuk tekanan darah (Imamah et al. , 2. Aktivitas fisik yang rendah juga berperan besar dalam meningkatkan risiko hipertensi. Gaya hidup sedentari menyebabkan peningkatan denyut jantung dan memperberat kerja jantung dalam memompa darah, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan darah arteri (Sasombo et al. , 2. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah perkotaan, termasuk Kota Makassar, memiliki frekuensi dan durasi aktivitas fisik yang rendah, bahkan tidak memenuhi standar minimal WHO yakni 150 menit per minggu (Jayadilaga. Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 E-ISSN : 2962-6366. P-ISSN : 2580-4189. Hal. Pola tidur yang buruk juga telah dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. Kurangnya durasi tidur, gangguan tidur malam hari, serta kualitas tidur yang rendah dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatik, meningkatkan sekresi hormon stres seperti kortisol, dan menurunkan efisiensi sistem kardiovaskular. Di Indonesia, prevalensi gangguan tidur pada orang dewasa mencapai 49% (Kamelia, 2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara obesitas, aktivitas fisik, dan pola tidur dengan kejadian hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang. Kota Makassar. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain cross-sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sudiang. Kecamatan Biringkanaya. Kota Makassar selama bulan JuniAeJuli 2025. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang berkunjung ke Puskesmas Sudiang tahun 2024 sebanyak 22. 572 orang. Sampel diambil sebanyak 100 orang menggunakan rumus Slovin dengan margin of error 10% dan metode purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi: berusia Ou40 tahun, berobat di poli umum, dan bersedia menjadi Pengolahan data menggunakan MS. Excel dan SPSS, analisi data dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi karakteristik responden, dan bivariat menggunakan uji ChiSquare dengan tingkat kemaknaan = 0,05. Status obesitas diperoleh melalui pengukuran berat dan tinggi badan untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan batas Ou25 kg/mA digunakan untuk menentukan kategori Tingkat aktivitas fisik dinilai menggunakan International Physical Activity Questionnaire Ae Short Form (IPAQ-SF), dan dikategorikan rendah apabila skor total aktivitas fisik kurang dari 1500 MET-minutes per minggu. Pola tidur dievaluasi melalui Sleep Habits Questionnaire, dengan skor Ou25 menunjukkan kualitas tidur yang kurang baik. Analisis data dilakukandengan cara univariat dan bivariat mengunakan Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari penelitian ini terdiri dari hasil analisis secara univariat, yang terdiri dari distribusi karakteristik responden dan distribusi responden pada setiap variabel. Hasil analisis bivariat, yaitu hubungan anatara variabel dependent dan independent. Hasil Analisis Univariat Hasil analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden yaitu: jenis kelamin, umur, pekerjaan, dan riwayat hipertensi, kejadian hipertensi, obesitas, aktifitas fisik, pola tidur, bisa dilihat pada tabel berikut: Faktor Gaya Hidup yang Berhubungan dengan Hipertensi di Puskesmas Sudiang Tabel 1. Karakteristik Responden di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar. Karakteristik Jenis Laki-laki Kelamin Perempuan 40-50 tahun 51-60 tahun Umur 61-70 tahun 71-80 tahun IRT Wirausaha Buruh Pekerjaan Pensiunan PNS Lainnya Riwayat Ya Hipertensi Tidak Hipertensi Tidak Obesitas Tidak Aktifitas Tinggi Rendah Baik Pola Tidur Buruk Sumber:Data Primer . Tabel menggambarkan bahwa sebagian besar jenis kelamin Perempuan berjumlah 59 . ,0%). Umur sebagian besar pada 40 sampai 50 tahun berjumlah 52 . ,0%). Pekerjaan sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga berjumlah 41 . ,0%), riwayat hipertensi sebagian besar tidak memiliki riwayat hipertensi berjumlah 57 . ,0%). Responden yang paling banyak mengalami hipertensi sebanyak 59 . ,0%). Responden yang paling banyak tidak mengalami obesitas sebanyak 75 . ,0%). Responden yang memiliki aktifitas fisik rendah berjumlah 55 . ,0%), responden yang memiliki pola tidur baik berjumlah 62 . ,0%) Hasil Analisis Bivariat Analisis bivariat pada peenlitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependent dan variabel independent, yaitu: Kejadian hipertensi. Obesitas, aktivitas fisik dan pola tidur. Analisis dalam penelitian ini menggunakan uji chi-squar. Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 E-ISSN : 2962-6366. P-ISSN : 2580-4189. Hal. Hubungan obesitas dengan Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar Tabel 2. Hasil Analisis. Obesitas Tidak Total Kejadian Hipertensi Tidak Ae yyI Oe yeyeCyesyenyeI 0,000 Sumber:Data Primer . 5 ) Berdasarkan tabel hasil analisis menunjukan bahwa dari 100 responden yang diteliti, diketahui bahwa dari 45 responden yang memiliki aktivitas fisik tinggi, sebanyak 21 orang . ,1%) dengan kategori mengalami hipertensi, dan 24 orang . ,3%) dengann kategori tidak mengalami hipertensi. Sementara itu, dari 55 responden yang memiliki aktivitas fisik rendah, sebanyak 17 orang . ,0%) dengan kategori tidak mengalami hipertensi, dan 38 orang . ,0%) dengan kategori mengalami hipertensi. Hasil uji statistik menggunakan Pearson Chi-Square diperoleh nilai A-Value = 0,023 < alpha = ( =0,. sehingga Ho di tolak dan Ha di terima, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara aktifitas fisik dengann kejadian hipertensi di wilayah kerja puskesmas Sudiang Kota Makassar. Hubungan Pola Tidur dengan Kejadian Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar Tabel 3. Hasil Analisis. Pola Tidur Baik Buruk Total Kejadian Hipertensi Tidak Ae yyI Oe yeyeCyesyenyeI 0,019 Sumber:Data Primer . Berdasarkan tabel hasil analisis menunjukan bahwa dari 100 responden yang diteliti, diketahui bahwa dari 62 responden yang memiliki pola tidur baik, sebanyak 31 orang . ,0%) dengan kategori mengalami hipertensi, dan 31 orang . ,0%) dengan kategori tidak mengalami Sementara itu, dari 38 responden yang memiliki pola tidur yang buruk sebanyak 28 orang . ,7%) dengan kategori mengalami hipertensi, dan 10 orang . ,3%) dengan kategori mengalami hipertensi. Faktor Gaya Hidup yang Berhubungan dengan Hipertensi di Puskesmas Sudiang Hasil uji statistik menggunakan Pearson Chi-Square diperoleh nilai A-Value = 0,019 < alpha = ( =0,. sehingga Ho di tolak dan Ha di terima, yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pola tidur dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar. Pembahasan Tabel responden dengan Obesitas dalam penelitian ini didefinisikan sebagai gangguan kesehatan yang ditandai oleh penumpukan lemak tubuh secara berlebihan (Fitriyani et al. hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar , yaitu diperoleh nilai A-Value = 0,000 < alpha = ( =0,. sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Temuan ini sejalan dengan kajian (Muliana, 2. yang menyatakan bahwa Makin besar massa tubuh, makin banyak darah yang dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Kondisi obesitas berhubungan dengan peningkatan volume intravaskuler dan curah jantung. Daya pompa jantung dan sirkulasi volume darah penderita hipertensi lebih tinggi dibandingkan dengan penderita hipertensi dengan berat badan normal. Namun, temuan ini bertolak belakang dengan (Yulanda & H. , 2. yang menemukan bahwa faktor lain seperti genetik, jenis kelamin, aktivitas fisik juga berkontribusi terhadap kejadian hipertensi. Keunikan penelitian ini terletak pada tingginya proporsi kejadian hipertensi pada responden obesitas, yakni mencapai 96,0%, yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok tidak obesitas. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun definisi obesitas yang digunakan hanya berdasarkan IMT Ou25 kg/mA, risiko hipertensi tetap meningkat secara tajam, bahkan pada kategori obesitas ringan. Berdasarkan temuan ini, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan pengukuran obesitas yang lebih komprehensif, seperti lingkar pinggang, rasio lingkar pinggang-pinggul, atau pengukuran lemak tubuh . ody fat percentag. , guna mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang hubungan obesitas dengan hipertensi. Selain itu, perlu diteliti faktor penyebab obesitas secara lebih rinci, seperti pola makan, konsumsi makanan tinggi garam dan lemak, serta kebiasaan sedentari. Penelitian di populasi berbeda dengan mempertimbangkan faktor genetik dan etnisitas juga penting untuk melihat apakah respons terhadap obesitas terhadap tekanan darah bersifat spesifik pada kelompok tertentu. Jurnal Kesehatan Amanah Ae Volume 9. Nomor 2. Oktober 2025 E-ISSN : 2962-6366. P-ISSN : 2580-4189. Hal. Tabel aktifitas fisik didefinisikan sebagai segala bentuk gerakan tubuh yang melibatkan otot rangka dan membutuhkan energi (Salud, 2. Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan bermakna antara aktifitas fisik dengan kejadian hipertensi (A = 0,023 < = 0,. , sehingga hipotesis bahwa Auterdapat hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian hipertensiAy Temuan ini sejalan dengan dengan penelitian (Hasmah et al. , 2. dimana Olahraga yang teratur yaitu rata-rata selama 30 menit per hari. Dan akan lebih baik apabila dilakukan rutin setiap hari. Diperkirakan sebanyak 17% kelompok usia produktif memiliki aktifitas fisik yang kurang. Dari angka prevalensi tersebut, antara 31% sampai dengan 51% hanya melakukan aktifitas fisik < 2 jam/minggu. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan (Sasombo et al. yang menemukan bahwa tidak semua individu yang melakukan aktivitas fisik ringan mengalami hipertensi, dan sebaliknya, tidak semua penderita hipertensi memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara aktifitas fisik dengan dengan kejadian hipertensi (A = 0,. Keunikan dari penelitian ini terletak pada tingkat risiko hipertensi yang tetap tinggi meskipun sebagian responden memiliki aktivitas fisik di atas ambang batas minimal (Ou1500 MET). Hal ini menunjukkan bahwa jenis aktivitas fisik yang dilakukan masyarakat belum tentu bersifat protektif, seperti aktivitas rumah tangga ringan atau pekerjaan yang tidak melibatkan gerakan dinamis. Berdasarkan temuan ini, penelitian selanjutnya disarankan untuk menggali lebih dalam faktor-faktor yang menghambat aktivitas fisik, seperti beban pekerjaan, kurangnya waktu luang, dan minimnya fasilitas olahraga di lingkungan tempat tinggal. Penggunaan metode observasi atau pendekatan kualitatif dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai perilaku dan kebiasaan aktivitas fisik masyarakat. Selain itu, penelitian dengan desain intervensi juga perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana peningkatan aktivitas fisik dapat berdampak pada penurunan tekanan darah secara langsung. Tabel pola tidur dalam penelitian ini mencakup kebiasaan atau rutinitas tidur seseorang yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Pola ini mencakup waktu seseorang mulai tidur dan bangun, keteraturan tidur, seberapa sering tidur dalam sehari, serta kemampuan untuk mempertahankan tidur yang berkualitas dan merasa cukup istirahat (Mahmudah et al. , 2. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pola tidur dengan kejadian hipertensi, dengan nilai p = 0,019 < = 0,05, sehingga hipotesis alternatif diterima. Faktor Gaya Hidup yang Berhubungan dengan Hipertensi di Puskesmas Sudiang Hasil penelitian ini sejalan dengan (Nasution et al. , 2. yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola tidur dengan kejadian hipertensi dengan nilai p = 0,003. Penelitian ini juga menunjukkan pola tidur yang buruk akan memudahkan penderita hipertensi mengalami kekambuhan penyakit hipertensi, karena pola tidur yang buruk dapat mengubah hormon stres kortisol dan sistem saraf simpatik, sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan (Pitoy et al. , 2. yang menemukan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pola tidur dengan dengan kejadian hipertensi (A = 1,. Keunikan dari penelitian ini terletak pada tingginya proporsi hipertensi pada responden dengan pola tidur buruk, yakni mencapai 73,7%, yang menunjukkan hubungan kuat antara kualitas tidur dan tekanan darah, bahkan di tingkat pelayanan primer seperti Puskesmas. Selain itu, penelitian ini menggunakan kuesioner Sleep Habits Questionnaire yang jarang digunakan dalam studi-studi sebelumnya di Indonesia, khususnya di tingkat puskesmas, sehingga memberikan sudut pandang baru terhadap pengukuran gangguan tidur dalam konteks lokal. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk menggunakan alat ukur pola tidur yang lebih objektif, seperti sleep tracker atau actigraphy, agar hasil yang diperoleh lebih akurat dan tidak hanya bergantung pada persepsi subyektif responden. Selain itu, perlu diteliti lebih dalam faktor-faktor yang memengaruhi pola tidur, seperti stres, pekerjaan malam, penggunaan gadget sebelum tidur, dan gangguan tidur tertentu. Pendekatan kualitatif juga dapat digunakan untuk memahami kebiasaan tidur dalam konteks sosial budaya lokal yang mungkin turut memengaruhi risiko hipertensi. KESIMPULAN Setelah melakukan penelitian dan diolah secara statistik, maka dapat disimpulkan bahwa: Ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan kejadian hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Sudiang Kota Makassar dengan nilai A-Value=0,000