Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman Budaya Menggunakan Media Baamboozle pada Siswa Kelas IV di Sekolah Dasar Wahyuni Agustin*. Iksam. Rosita Putri Rahmi Haerani. Mustamiroh Universitas Mulawarman. Samarinda. Indonesia *Coresponding Author: wahyuniagustin64@gmail. Dikirim: 23-05-2025. Direvisi: 13-06-2025. Diterima: 14-06-2025 Abstrak: Rendahnya nilai yang diperoleh siswa kelas IV SDN 008 Sungai Kunjang dalam pelajaran Pendidikan Pancasila dikarenakan minimnya pemanfaatan media pembelajaran yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai seberapa efektif penggunaan media Baamboozle dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Pancasila khususnya materi keragaman budaya. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Pengumpulan data melalui observasi, tes dan dokumentasi. Indikator keberhasilan ditunjukkan dari peningkatan hasil tes formatif pada setiap akhir pertemuan. Teknik analisis data menggunakan rata-rata, persentase dan grafik. Penelitian dilakukan dalam dua siklus, dimana setiap siklus terdiri dari empat tahap: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari 66,80 pada kondisi awal menjadi 74,46 di siklus pertama, dengan peningkatan hasil belajar sebesar 11,47% dan tingkat ketuntasan sebesar 71,43%. Pada siklus kedua, ratarata nilai meningkat menjadi 82,14, dengan peningkatan hasil belajar sebesar 22,96% dan tingkat ketuntasan mencapai 85,71%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan media Baamboozle secara signifikan efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Pancasila khususnya materi keragaman budaya. Kata Kunci: Hasil Belajar. Pendidikan Pancasila. Media Pembelajaran Baamboozle Abstract: The low scores obtained by fourth-grade students of SDN 008 Sungai Kunjang in Pancasila Education lessons are due to the minimal use of effective learning media. This study aims to assess the effectiveness of Baamboozle media in improving student learning outcomes in Pancasila Education lessons, particularly in cultural diversity materials. The method used is classroom action research (CAR). Data collection through observation, tests and documentation. Indicators of success are shown from the increase in formative test results at the end of each meeting. Data analysis techniques use averages, percentages and The study was conducted in two cycles, where each cycle consists of four stages: planning, implementation, observation and reflection. The results showed an increase in the average student score from 66. 80 in the initial conditions to 74. 46 in the first cycle, with an increase in learning outcomes of 11. 47% and a completion rate of 71. In the second cycle, the average score increased to 82. 14, with an increase in learning outcomes of 22. and a completion rate of 85. Thus, it can be concluded that the use of Baamboozle media is significantly effective in improving student learning outcomes in Pancasila Education lessons, especially in the material on cultural diversity. Keywords: Learning Outcomes. Pancasila Education. Baamboozle Learning Media PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Agustin dkk. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman BudayaA Pendidikan didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan untuk mewujudkan suasana belajar yang dinamis serta mendukung siswa dalam mengembangkan potensi diri, baik dari aspek kepribadian, intelegensi, kontrol diri maupun spiritual keagamaan. Berdasarkan keputusan kepala BSKAP Nomor 008/H/KR/2022 tentang capaian pembelajaran pada kurikulum merdeka, mata pelajaran Pendidikan Pancasila berperan untuk membentuk kepribadian yang diterapkan dalam interaksi sosial guna menyiapkan individu cerdas dan berakhlak mulia. Pendidikan Pancasila wajib diajarkan pada jenjang pendidikan, dari sekolah dasar hingga universitas (Nurgiansah, 2. Melalui pembelajaran ini, diharapkan siswa mampu menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pada pelaksanaan pendidikan, guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing siswa di kelas. Keberhasilan siswa diukur melalui hasil belajar yang Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran, biasanya berkaitan dengan perubahan dari segi pengetahuan, sikap dan keterampilan (Artama et al. , 2. Dari observasi yang dilaksanakan pada bulan Agustus-Oktober 2024 selama kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan Asistensi Mengajar ditemukan permasalahan terkait aktivitas belajar siswa. Saat berlangsungnya pembelajaran di kelas, terlihat bahwa guru dalam menyampaikan materi kurang efektif dan cenderung monoton, metode pembelajaran yang diterapkan terbatas pada ceramah dan penugasan sehingga pembelajaran lebih berfokus pada guru sementara siswa hanya mendengarkan penjelasan yang diberikan, menyalin di buku catatan masing-masing dan terkadang asyik mengobrol sendiri. Selain itu, kurangnya pemanfaatan media pembelajaran yang menarik menjadikan siswa merasa jenuh selama proses belajar. Akibatnya, siswa kurang paham terhadap pelajaran yang diberikan. Hal ini terlihat dari nilai ulangan harian terutama dalam pelajaran Pendidikan Pancasila yang belum memenuhi standar KKTP. Dari total keseluruhan siswa sebanyak 28 orang di kelas IV B, hanya 13 siswa yang mencapai ketuntasan dengan persentase 46,43%. Sementara itu, tercatat 15 siswa yang belum tuntas dengan persentase 53,57%. Solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut, dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam pengajaran di kelas, seperti penggunaan media interaktif. Media pembelajaran merupakan perangkat yang dirancang guna menyampaikan pengetahuan serta membangun interaksi (Yaumi, 2. Sebagai perantara guru untuk memastikan siswa paham terhadap pelajaran yang diberikan (Hamka & Effendi, 2. Adapun media interaktif yang penulis pilih adalah Baamboozle. Baamboozle merupakan sebuah aplikasi dengan konsep gamifikasi untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan (Siti & Nurul, 2. Baamboozle dirancang dengan materi yang disajikan berbentuk permainan kuis yang Baamboozle merupakan platform edukasi yang mampu memotivasi siswa (Andriyani, 2. Serta dapat digunakan pada berbagai mata pelajaran (SaAodiyah et , 2. Kelebihan dan kekurangan media pembelajaran Baamboozle (Iin Andriyani. Meilani Feradona, 2. Kelebihannya, yaitu website Baamboozle mempunyai tampilan menarik, memudahkan guru untuk menciptakan game atau permainan, penggunaannya praktis dan mudah diakses, dapat dimanfaatkan oleh seluruh orang tanpa terkecuali dan salah satu platform edukasi yang menumbuhkan rasa kolaborasi @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Agustin dkk. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman BudayaA dalam kelompok. Kekurangannya, yaitu jika pengguna tidak memiliki akun Baamboozle , permainan yang dibuat akan terbuka untuk diakses oleh orang lain, berbagai fitur menarik hanya tersedia bagi pemilik akun Baamboozle dan dibutuhkan tambahan aplikasi saat pembelajaran daring. Adapun pentingnya penelitian ini yakni untuk menilai seberapa efektif penggunaan Baamboozle terhadap peningkatan nilai siswa. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini yakni penelitian tindakan kelas (PTK). PTK merupakan penelitian dengan mengkaji permasalahan yang terjadi selama pembelajaran di kelas berdasarkan perencanaan dan refleksi serta diselesaikan dengan melaksanakan tindakan yang telah dirancang sebelumnya (Sanjaya, 2. Rancangan pelaksanaan dimulai dengan menentukan permasalahan yang terjadi kemudian dirancang solusi penyelesaiannya. Penyelesaian dilakukan dalam siklus penelitian berdasarkan langkah-langkah yang dikemukakan Kemmis dan Mc Taggart (Arikunto, 2. mencakup perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan Tahapan tersebut saling berhubungan serta dilaksanakan secara Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2025. Subjek penelitian yaitu siswa kelas IV B SDN 008 Sungai Kunjang dengan jumlah 28 orang. Data dikumpulkan dengan observasi, tes dan dokumentasi. Observasi yakni melihat aktivitas yang terjadi, seperti kemampuan guru saat mengajar dan partisipasi siswa menggunakan media Baamboozle (Parnawi, 2. Sedangkan tes digunakan untuk menilai aspek pengetahuan siswa atau tingkat penguasaan materi yang telah diajarkan (Bhakti et al. , 2. Indikator keberhasilan ditunjukkan dari peningkatan hasil tes formatif pada setiap akhir pertemuan. Data yang dianalisis adalah nilai belajar setiap siklus dengan menggunakan rata-rata, persentase dan grafik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pra siklus Data awal yang dijadikan sebagai pedoman penulis dalam melaksanakan penelitian yaitu nilai pra siklus pada pelajaran Pendidikan Pancasila sebelum menerapkan media Baamboozle. Nilai ini digunakan untuk mengukur kemampuan awal siswa. Tabel 1. Nilai Pra Siklus Nilai Siswa Nilai O 70 Nilai Ou 70 Rata-rata Pra Siklus Frekuensi Persentase Keterangan 53,57% Belum Tuntas 46,43% Tuntas 66,80 Belum Tuntas Berdasarkan Tabel 1, menunjukkan bahwa nilai belajar siswa belum mencapai keberhasilan yang diinginkan. Terhitung total siswa yang ada sebanyak 28 orang, tercatat 13 siswa yang nilainya telah mencapai KKTP . yaitu 70 dengan persentase 46,43%. Sedangkan 15 siswa lainnya belum mencapai KKTP dengan persentase 53,57%. Rata-rata nilai kelas adalah 66,80. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Agustin dkk. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman BudayaA Siklus I Siklus pertama berlangsung dari tanggal 11 dan 13 Februari 2025 selama 2x35 menit disetiap pertemuan. Tahap perencanaan dimulai dengan membuat modul ajar, memilih topik yang relevan, merancang media pembelajaran Baamboozle, membuat LKPD, menyusun instrumen penelitian seperti membuat soal evaluasi dan membuat lembar observasi. Saat melaksanakan kegiatan, penulis bertindak menjadi pengajar dan wali kelas bertindak menjadi pengamat untuk melihat kemampuan guru dalam mengajar dan partisipasi siswa saat menggunakan media Baamboozle. Kegiatan belajar dimulai dengan guru membuka kelas, melakukan apersepsi, menginformasikan topik yang dipelajari dan tujuan pembelajaran, menyampaikan materi tentang bentuk keragaman budaya, menjelaskan aturan permainan dan mengarahkan siswa saat bermain game Baamboozle, setelah itu, guru mengevaluasi kemampuan siswa dengan memberikan Pada akhir kegiatan, guru dan siswa melaksanakan refleksi serta merangkum Berikut nilai Pendidikan Pancasila setelah menggunakan media pembelajaran Baamboozle di siklus pertama. Nilai ini menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas Baamboozle terhadap peningkatan nilai siswa. Tabel 2. Nilai Siklus I Nilai Siswa Nilai O 70 Nilai Ou 70 Rata-rata Frekuensi Siklus I Persentase 28,57% 71,43% 74,46 Keterangan Belum Tuntas Tuntas Berdasarkan hasil dari Tabel 2, menunjukkan nilai belajar yang diraih belum mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Terhitung total siswa yang ada sebanyak 28 orang, tercatat 20 siswa yang nilainya telah mencapai KKTP . yaitu 70 dengan persentase 71,43%. Sementara 8 siswa lainnya belum tuntas dengan persentase 28,57%. Rata-rata nilai kelas yakni 74,46 dengan peningkatan hasil belajar sebesar 11,47%. Dari observasi selama kegiatan belajar terdapat kekurangan yang terjadi, seperti guru belum optimal dalam manajemen kelas, guru kurang efektif saat melakukan apersepsi, guru kurang saat melakukan refleksi dan menyimpulkan pembelajaran serta beberapa siswa kurang berkontribusi saat diskusi kelompok dan kurang percaya diri dalam menjawab pertanyaan pada permainan. Berdasarkan beberapa kekurangan yang terjadi perlu penyelesaian tindakan untuk dilakukan pada tahap selanjutnya. Penyelesaian untuk tindakan selanjutnya adalah guru dapat menerapkan kesepakatan atau aturan sebelum memulai pembelajaran agar meningkatkan kedisiplinan siswa sehingga suasana kelas tetap Guru dapat menarik perhatian siswa dengan memberikan pertanyaan pemantik untuk menghubungkan pemahaman awal dengan topik yang dibahas secara relevan, guru dapat memberikan umpan balik dengan melibatkan seluruh siswa saat refleksi dan menyimpulkan pembelajaran serta guru dapat memotivasi dan mendorong siswa untuk lebih berani dalam berinteraksi dan berkontribusi saat diskusi kelompok serta menjawab pertanyaan pada permainan. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Agustin dkk. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman BudayaA Siklus II Siklus kedua berlangsung dari tanggal 18 dan 19 Februari 2025, selama 2x35 menit disetiap pertemuan. Tahap perencanaan dimulai dengan membuat modul ajar berdasarkan refleksi siklus I, merancang media pembelajaran Baamboozle, membuat LKPD, menyusun instrumen penelitian seperti membuat soal evaluasi dan membuat lembar observasi. Saat melaksanakan kegiatan, penulis bertindak menjadi pengajar dan wali kelas bertindak menjadi pengamat untuk melihat kemampuan guru dalam mengajar dan partisipasi siswa saat menggunakan media Baamboozle. Kegiatan belajar dimulai dengan guru membuka kelas, melakukan apersepsi, menginformasikan topik yang dipelajari dan tujuan pembelajaran, menyampaikan materi tentang bentuk keragaman budaya, menjelaskan aturan permainan dan mengarahkan siswa saat bermain game Baamboozle, setelah itu, guru mengevaluasi kemampuan siswa dengan memberikan Pada akhir kegiatan, guru dan siswa melaksanakan refleksi serta merangkum Tabel 3. Nilai Siklus II Nilai Siswa Nilai O 70 Nilai Ou 70 Rata-rata Frekuensi Siklus II Persentase 14,30% 85,71% 82,14 Keterangan Belum Tuntas Tuntas Berdasarkan hasil dari Tabel 3, menunjukkan nilai belajar yang diraih telah mencapai kriteria keberhasilan yang ditetapkan. Terhitung total siswa yang ada sebanyak 28 orang, tercatat 24 siswa yang nilainya telah mencapai KKTP . yaitu 70 dengan persentase 85,71%. Sementara 4 siswa lainnya belum tuntas dengan persentase 14,30%. Rata-rata nilai kelas yakni 82,14 dengan peningkatan hasil belajar sebesar 22,96%. Dari observasi selama kegiatan belajar terlihat adanya peningkatan signifikan, seperti kemampuan guru dalam manajemen kelas, melakukan apersepsi dan melakukan refleksi serta menyimpulkan pembelajaran sangat efektif. Selain itu, kontribusi yang dilakukan siswa saat diskusi kelompok menunjukkan perkembangan positif, yakni mereka lebih percaya diri dalam menjawab pertanyaan pada Berdasarkan nilai belajar yang diperoleh siswa dan didukung oleh kemampuan pengajaran dari guru serta partisipasi siswa di siklus kedua, terlihat adanya kemajuan yang signifikan. Maka penulis dan wali kelas IV B setuju untuk tidak melaksanakan penelitian ke tahap selanjutnya sebab tindakan yang diberikan kepada siswa melalui penerapan media Baamboozle dalam pelajaran Pendidikan Pancasila materi keragaman budaya telah memenuhi kriteria keberhasilan yang ditetapkan yaitu siswa dianggap berhasil jika 75% total siswa dalam kelas mendapatkan nilai diatas KKTP Ou 70. Diperlukan analisis hasil tindakan, untuk menilai seberapa efektif penerapan media Baamboozle dalam proses pembelajaran, termasuk kemampuan guru dalam mengajar, partisipasi siswa dan peningkatan nilai yang diperoleh. Berikut analisis hasil tindakan yang dilakukan. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Agustin dkk. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman BudayaA Analisis Hasil Tindakan Dari hasil tindakan yang telah dilaksanakan, kemampuan guru dalam mengajar menggunakan media Baamboozle bisa dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Observasi Aktivitas Guru Siklus Skor rata-rata Persentase Predikat 87,50% Baik Sangat Baik Berdasarkan hasil dari Tabel 4, menunjukkan kemampuan pengajaran guru di siklus pertama memperoleh skor rata-rata 36 dengan persentase 75% dan predikat Sementara kemampuan pengajaran guru di siklus kedua memperoleh skor ratarata 42 dengan persentase 87,50% dan predikat sangat baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan guru dalam mengajar mengalami peningkatan selama dua siklus. Peningkatan aktivitas guru ditampilkan pada Gambar 1. 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% Rata-rata Siklus I 75,00% Siklus II 87,50% Gambar 1. Grafik Observasi Aktivitas Guru Dari hasil tindakan yang telah dilaksanakan, partisipasi siswa menggunakan media Baamboozle saat kegiatan belajar sebagai berikut. Tabel 5. Observasi Aktivitas Siswa Aspek yang diamati Memperhatikan penjelasan guru Berdiskusi dengan kelompok saat permainan Aktif dalam menjawab pertanyaan Tanggung jawab dan kedisiplinan siswa Rata-rata Persentase Siklus I Siklus II 72,32% 86,61% 70,09% 85,27% 70,09% 85,27% 74,12% 87,51% 71,66% 86,16% Berdasarkan hasil dari Tabel 5, menunjukkan partisipasi siswa di siklus pertama memperoleh persentase 71,66% dengan predikat baik. Sedangkan partisipasi siswa di siklus kedua memperoleh persentase 86,16% dengan predikat sangat baik. sehingga dapat disimpulkan bahwa partisipasi siswa selama mengikuti kegiatan pembelajaran mengalami peningkatan selama dua siklus. Peningkatan aktivitas siswa ditampilkan pada Gambar 2. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Agustin dkk. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman BudayaA Pra Siklus Rata-rata Siklus I 74,46 Siklus II 82,14 Gambar 2. Observasi Aktivitas Siswa Hasil dari pelaksanaan tindakan menunjukkan bahwa rata-rata nilai siswa dari data awal sebesar 66,80, dengan 13 siswa yang mencapai ketuntasan . ,43%) dan 15 siswa yang belum tuntas . ,57%). Pada siklus pertama, rata-rata nilai meningkat menjadi 74,46, dengan 20 siswa tuntas . ,43%) dan 8 siswa belum tuntas . ,57%). Pada siklus kedua, rata-rata nilai mencapai 82,14, dengan 24 siswa tuntas . ,71%) dan 4 siswa belum tuntas . ,30%). Peningkatan ketuntasan nilai ini ditampilkan pada Gambar 3. 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 20,00% 0,00% Rata-rata Siklus I 71,66% Siklus II 86,16% Gambar 3. Grafik Peningkatan Nilai Belajar Temuan dari studi ini sejalan dengan penelitian oleh Munisah. Iriawan, & Dwilestari . berjudul AuMeningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi KPK dan FPB Melalui Media Baamboozle Pada Siswa Kelas V SDN 196 SukarasaAy. Bahwa pembelajaran menggunakan media Baamboozle efektif untuk meningkatkan nilai yang diraih siswa. Hal tersebut sesuai dengan kenyataan di lapangan ketika penelitian ini dilakukan, dimana penggunaan media Baamboozle dalam proses pembelajaran mampu meningkatkan minat dan motivasi belajar. Selanjutnya, penelitian oleh Iffada & Efendi . berjudul AuPenerapan Media Pembelajaran Baamboozle untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Statistika Pada Siswa Kelas VII di SMP Dharma Karya UTAy. Bahwa pembelajaran menggunakan media Baamboozle dapat memotivasi dan melatih daya pikir siswa dalam memahami materi yang disampaikan. KESIMPULAN Penggunaan media Baamboozle dalam kegiatan belajar terbukti meningkatkan nilai yang diraih siswa, terlihat dari nilai pra siklus dengan rata-rata 66,80 dan persentase sebesar 46,43%. Di siklus pertama, nilai siswa mengalami peningkatan sebesar 11,47% dengan rata-rata 74,46 dan tingkat ketuntasan 71,43%. Siklus kedua, @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Agustin dkk. Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Materi Keragaman BudayaA peingkatan nilai siswa mencapai 22,96% dengan rata-rata 82,14 dan tingkat ketuntasan 85,71%. Maka dapat disimpulkan bahwa dari keseluruhan siswa sebanyak 28 orang, tercatat 24 siswa telah mencapai nilai Ou70 (KKTP). DAFTAR PUSTAKA