Bima Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat p-ISSN: 2797-9407, e-ISSN: 2797-9423 Volume 5, nomor 4, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/bajpm. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi Beragama melalui Dialog Antaragama di Desa Simpang Siguragura Suhairi*. Fitri Nadilla Marpaung. Muhammad Hazil Ali Kahar. Mh Farhan. Putri Zahra. Sinar Hafif Yulistia. Fahriza Alyanisa. Nur Hafiza. Fikri Ahmadi. Choirul Maulana Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Medan. Indonesia *Coresponding Author: suhairi@uinsu. Dikirim: 17-09-2025. Direvisi: 28-09-2025. Diterima: 29-09-2025 Abstrak: Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Simpang Siguragura dilaksanakan selama satu bulan dengan tujuan memperkuat moderasi beragama melalui pendekatan Program ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam setiap tahapan. Tiga kegiatan utama yang dijalankan meliputi dialog religius melalui Focus Group Discussion (FGD), gotong royong lintas agama dengan metode participatory action, serta audiensi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melalui wawancara dan observasi partisipatif. Evaluasi program dilakukan melalui observasi, wawancara. FGD, dan kuesioner kepada warga untuk menilai pemahaman, penerimaan, serta dampak kegiatan, sekaligus menjadi dasar perbaikan dan keberlanjutan Hasil kegiatan menunjukkan bahwa dialog religius membuka ruang komunikasi yang inklusif antarumat beragama, gotong royong memperkuat solidaritas sosial dan mengikis sekat identitas, sedangkan audiensi ke FKUB memberikan legitimasi kelembagaan serta strategi praktis yang dapat diadaptasi di tingkat lokal. Keseluruhan kegiatan membuktikan bahwa sinergi komunikasi terbuka, aksi sosial bersama, dan dukungan kelembagaan merupakan kunci keberhasilan dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama di masyarakat desa. Kata Kunci: Moderasi Beragama. Partisipatif. Kerukunan Sosial Abstract: The Community Service Program (KKN) in Simpang Siguragura Village was conducted for one month with the aim of strengthening religious moderation through a participatory approach. This program used a descriptive qualitative method with direct community involvement in every stage. The three main activities carried out included religious dialogue through Focus Group Discussions (FGD. , interfaith mutual cooperation using participatory action methods, and audiences with the Interfaith Harmony Forum (FKUB) through interviews and participatory observation. Program evaluation was conducted through observation, interviews. FGDs, and questionnaires with residents to assess understanding, acceptance, and impact of the activities, as well as to provide a basis for program improvements and desires. The results of the activities showed that religious dialogue opened a space for inclusive communication between diverse communities, mutual cooperation strengthened social solidarity and eroded identity barriers, while the audiences with the FKUB provided institutional legitimacy and practical strategies that can be adapted at the local level. All activities demonstrated that the synergy of open communication, joint social action, and institutional support are key to success in realizing interfaith harmony in village communities. Keywords: Religious Moderation. Participatory. Social Harmony PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara multikultural yang dihuni lebih dari 1. 340 suku bangsa dengan beragam bahasa, adat istiadat, serta agama yang diakui secara resmi. Keberagaman tersebut menjadi kekayaan sekaligus tantangan dalam menjaga harmoni @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA sosial (Sufratman, 2. Pada tengah pluralitas masyarakat, moderasi beragama hadir sebagai agenda strategis bangsa untuk merawat persatuan dan kerukunan. Namun, berbagai persoalan masih kerap muncul, seperti intoleransi, radikalisme, hingga diskriminasi berbasis keyakinan. Fenomena ini tampak dalam bentuk ujaran kebencian, penolakan pembangunan rumah ibadah, maupun konflik horizontal Situasi tersebut menegaskan pentingnya penguatan moderasi beragama melalui pendekatan yang tidak hanya bersifat preventif, tetapi juga persuasif dan partisipatif agar kehidupan berbangsa tetap rukun dan harmonis (Subandi & Amirunnaufal, 2. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama telah menjadikan moderasi beragama sebagai salah satu program prioritas. Konsep moderasi beragama menekankan pada sikap adil, seimbang, serta menghindari sikap ekstrem dalam memahami ajaran agama. Moderasi beragama bukan berarti mengurangi esensi keyakinan masing-masing pemeluk agama, tetapi justru menegaskan pentingnya toleransi, penghargaan, dan kerja sama antarumat beragama (Huda, 2. Dalam konteks masyarakat desa, penerapan moderasi beragama menjadi penting karena kehidupan masyarakat pedesaan umumnya berlangsung secara kolektif dan berinteraksi secara intens sehari-hari. Apabila ada gesekan kecil yang tidak dikelola dengan baik, potensi konflik dapat membesar (Nasution et al. , 2. Desa Simpang Siguragura yang berada di Kabupaten Toba. Sumatera Utara, merupakan salah satu daerah dengan penduduk yang heterogen secara agama. Masyarakat di desa ini hidup berdampingan antara pemeluk Islam. Kristen, dan Katolik, yang masing-masing memiliki tradisi dan praktik keagamaan berbeda. Meskipun secara umum hubungan antarumat beragama berjalan harmonis, terdapat potensi gesekan yang bisa muncul, misalnya dalam perayaan hari besar agama atau penggunaan fasilitas umum. Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Toba tahun 2023 mencatat bahwa komposisi penduduk berdasarkan agama di wilayah ini terdiri dari 61% Kristen, 28% Katolik, dan 11% Islam. Fakta ini menegaskan pentingnya strategi untuk menjaga keharmonisan agar potensi konflik dapat diminimalisasi melalui dialog antaragama yang konstruktif. Kehadiran program Kuliah Kerja Nyata (KKN) berbasis moderasi beragama menjadi salah satu pendekatan partisipatif yang relevan diterapkan dalam konteks ini. KKN tidak hanya berfungsi sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, tetapi juga sarana membangun kesadaran sosial lintas agama (Sufratman. Pendekatan partisipatif dalam KKN memungkinkan mahasiswa untuk bekerja sama dengan masyarakat dalam merancang dan melaksanakan kegiatan, sehingga solusi yang dihasilkan lebih sesuai dengan kebutuhan lokal. Menurut (Wijayanti, 2. KKN partisipatif mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi sekaligus memperkuat nilai kebersamaan di tengah keragaman. Meskipun penelitian mengenai moderasi beragama telah banyak dilakukan, terdapat gap penelitian dalam konteks implementasi nyata melalui program pengabdian masyarakat berbasis partisipatif. Sebagian besar studi sebelumnya lebih menekankan aspek konseptual atau kebijakan pemerintah, bukan pada praktik di tingkat komunitas desa. Misalnya, penelitian (Arifin & Huda, 2. banyak menyoroti indikator moderasi beragama seperti komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodasi budaya lokal, tetapi belum banyak studi yang membahas strategi implementatif melalui program KKN di desa-desa multicultural. Oleh karena itu, @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA kajian mengenai efektivitas pendekatan partisipatif KKN dalam memperkuat dialog antaragama masih terbuka luas untuk diteliti. Masalah aktual yang muncul adalah masih adanya stereotip antarumat beragama di tingkat masyarakat desa. Beberapa warga mengaku belum pernah berinteraksi secara mendalam dengan pemeluk agama lain selain sekadar kegiatan sosial umum. Kurangnya ruang dialog yang intensif menyebabkan potensi kesalahpahaman antaragama tetap ada. Berdasarkan survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2021, sekitar 24% responden nasional menyatakan keberatan jika ada rumah ibadah agama lain dibangun di lingkungan mereka. Angka ini menunjukkan bahwa intoleransi masih menjadi tantangan serius, dan kondisi ini dapat pula terefleksi dalam masyarakat desa yang plural (Azahra, 2. Urgensi kegiatan ini semakin kuat karena moderasi beragama kini menjadi salah satu prioritas nasional yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020Ae2024. Pemerintah menegaskan pentingnya memperkokoh kerukunan umat beragama sebagai fondasi pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Oleh karena itu, pelaksanaan KKN dengan pendekatan partisipatif yang berfokus pada penguatan moderasi beragama melalui dialog antaragama memiliki kontribusi strategis, baik bagi masyarakat maupun bagi perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma, khususnya pengabdian kepada Masyarakat (Aullia et , 2. Kegiatan KKN ini penting sebagai upaya penerapan ilmu pengetahuan dan pengembangan kapasitas mahasiswa dalam berinteraksi langsung dengan masyarakat yang majemuk. Pendekatan partisipatif memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar memahami dinamika sosial, sekaligus melibatkan masyarakat dalam setiap proses kegiatan. Melalui dialog antaragama, kerja sama lintas kelompok, dan kegiatan sosial yang inklusif, mahasiswa dan masyarakat dapat bersama-sama menumbuhkan nilai toleransi, saling menghargai, dan semangat kebersamaan. Dengan demikian. KKN ini tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa secara nyata (Johari, 2. Kegiatan ini relevan dengan kebutuhan masyarakat Desa Simpang Siguragura yang menginginkan adanya ruang dialog antaragama yang lebih terarah dan Melalui KKN partisipatif, mahasiswa bersama masyarakat dapat merancang forum diskusi, pelatihan komunikasi lintas agama, hingga kegiatan sosial bersama lintas keyakinan. Kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi sarana interaksi, tetapi juga media membangun kepercayaan, memperkuat solidaritas, serta menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga kerukunan di tingkat desa. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN Metode pengabdian dalam program KKN mengenai moderasi beragama di Desa Simpang Siguragura selama 1 bulan, yakni dari tanggal 01 Agustus Ae 30 Agustus 2025, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode Pendekatan ini dipilih karena tujuan utama kegiatan adalah memahami dinamika sosial keagamaan masyarakat sekaligus melibatkan mereka secara langsung dalam setiap tahapan kegiatan. Program ini diikuti oleh 29 orang mahasiswa dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, seperti pendidikan, ekonomi, hukum, agama, kesehatan, dan pertanian, sehingga mampu memberikan kontribusi yang beragam sesuai bidang keilmuan masing-masing. Keberagaman latar belakang peserta @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA diharapkan dapat memperkaya sudut pandang dalam merancang kegiatan, mendorong kolaborasi lintas disiplin, serta menciptakan solusi yang lebih komprehensif bagi masyarakat dalam konteks penguatan moderasi beragama. Pengabdian dilakukan melalui tiga program utama, yaitu dialog religius, gotong royong lintas agama, dan audiensi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Pada program dialog religious metode yang digunakan adalah focus group discussion (FGD), di mana tokoh agama, pemuda, dan masyarakat lintas iman diajak berdiskusi untuk saling berbagi pandangan, pengalaman, serta merumuskan solusi bersama terkait penguatan kerukunan. Selanjutnya, dalam program gotong royong lintas agama, metode participatory action diterapkan dengan mengajak masyarakat dari berbagai agama bekerja sama dalam aksi nyata membersihkan fasilitas umum atau melakukan kegiatan sosial lain. Interaksi langsung dalam kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat solidaritas dan rasa kebersamaan antarwarga desa. Pada program audiensi ke FKUB digunakan metode wawancara dan observasi partisipatif untuk menggali pengetahuan, kebijakan, serta praktik moderasi beragama yang telah dijalankan FKUB, sekaligus menjalin jejaring kerja sama berkelanjutan. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan . nalisis kebutuhan, koordinasi dengan tokoh agama, dan penyusunan progra. , pelaksanaan . mplementasi kegiatan sesuai jadwal bersama masyaraka. , serta evaluasi . efleksi bersama masyarakat dan mitra untuk mengukur keberhasilan program serta menyusun tindak lanju. Dengan metode kualitatif deskriptif berbasis partisipatif ini, kegiatan KKN diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mahasiswa dalam mengelola keragaman agama secara konstruktif. Evaluasi pelaksanaan program dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat dan peserta kegiatan, diskusi kelompok terarah (FGD) kepada warga untuk mengetahui tingkat pemahaman, penerimaan, dan dampak kegiatan. Evaluasi ini bertujuan memastikan keberlanjutan program serta memberikan umpan balik bagi perbaikan kegiatan pengabdian di masa IMPLEMENTASI KEGIATAN DAN PEMBAHASAN Implementasi Kegiatan Dialog Religius dengan FGD Tahap Persiapan Sebelum pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD), tim KKN terlebih dahulu melakukan koordinasi intensif dengan perangkat desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat setempat. Koordinasi ini bertujuan untuk menggali kebutuhan aktual masyarakat terkait isu moderasi beragama sekaligus menentukan tema diskusi yang Misalnya, di Desa Simpang Siguragura terdapat kebutuhan untuk menguatkan komunikasi antarumat beragama, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan yang sering menimbulkan gesekan kecil. Setelah tema ditetapkan, mahasiswa bersama perangkat desa menyusun daftar peserta yang melibatkan perwakilan pemuka agama (Islam. Kristen. Katoli. , tokoh pemuda lintas iman, serta masyarakat berpengaruh yang memiliki kapasitas sebagai opinion leader di lingkungannya. Undangan kemudian disebarkan secara resmi dan informal agar partisipasi masyarakat lebih luas. Tempat kegiatan dipilih secara netral, seperti balai desa atau rumah ibadah yang disepakati bersama, dengan pertimbangan kenyamanan dan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA keterjangkauan semua pihak. Selain aspek teknis, tim KKN juga menyiapkan sarana pendukung berupa panduan diskusi, lembar kerja peserta untuk mencatat gagasan, serta menetapkan seorang moderator yang memiliki keterampilan komunikasi dan pemahaman isu keagamaan. Moderator berperan penting agar jalannya diskusi tetap terarah, kondusif, serta tidak menyinggung sensitivitas antaragama. Tahap Pelaksanaan FGD FGD dilaksanakan secara sistematis melalui beberapa sesi. Pada sesi pembukaan, moderator menyampaikan tujuan utama kegiatan, yaitu membangun pemahaman bersama tentang pentingnya moderasi beragama dan memperkuat kerukunan melalui dialog terbuka yang inklusif. Penyampaian tujuan ini penting untuk menciptakan suasana kondusif serta menumbuhkan kesadaran bahwa semua peserta hadir untuk saling belajar, bukan berdebat. Pada sesi pertama, peserta diminta untuk berbagi pengalaman nyata tentang interaksi antaragama di Desa Simpang Siguragura. Peserta mengisahkan praktik baik seperti kerja sama dalam kegiatan sosial atau saling menghormati saat perayaan keagamaan, sekaligus menyampaikan tantangan yang masih dihadapi. Hal ini memberi gambaran awal mengenai kondisi nyata di masyarakat. Pada sesi kedua, diskusi diarahkan kepada konsep moderasi beragama dengan mengacu pada indikator resmi dari Kementerian Agama, yakni: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Peserta bersama moderator mendalami bagaimana indikator tersebut bisa diterapkan dalam konteks desa, misalnya menjaga kebersamaan saat kegiatan adat atau menjaga toleransi ketika menggunakan fasilitas umum. Kemudian, sesi ketiga difokuskan pada identifikasi masalah aktual yang berpotensi mengganggu kerukunan, seperti adanya stereotip antarumat beragama, kurangnya komunikasi saat pelaksanaan acara besar keagamaan, atau perbedaan pandangan dalam penggunaan ruang publik. Pada tahap ini, peserta diajak berpikir kritis sekaligus solutif. Pada sesi penutup, seluruh peserta merumuskan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan di tingkat lokal. Beberapa solusi yang biasanya muncul antara lain pembentukan forum dialog rutin desa lintas agama, kegiatan gotong royong yang melibatkan semua umat beragama, serta komitmen komunikasi berkesinambungan antar tokoh agama. Materi Diskusi Materi yang disajikan dalam kegiatan FGD mencakup empat pokok bahasan utama yang disusun agar relevan dengan kebutuhan masyarakat desa. Pertama, pemahaman moderasi beragama, yang menjelaskan definisi, indikator, serta urgensi penerapannya di masyarakat multikultural seperti Simpang Siguragura. Kedua, praktik moderasi di tingkat lokal, di mana mahasiswa menghadirkan contoh-contoh keberhasilan kerukunan antaragama dari desa lain sebagai inspirasi. Ketiga, identifikasi potensi konflik, yang mengajak peserta untuk mengenali faktor penyebab gesekan antarumat beragama, baik yang sudah pernah terjadi maupun potensi yang mungkin muncul, seperti miskomunikasi saat perayaan hari besar atau perbedaan kepentingan dalam pemanfaatan fasilitas umum. Keempat, strategi membangun harmoni, yaitu memperkenalkan cara-cara praktis yang bisa dijalankan masyarakat, misalnya meningkatkan komunikasi terbuka antarumat, memperbanyak kegiatan @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA gotong royong lintas agama, serta mengoptimalkan peran tokoh agama dan tokoh masyarakat sebagai penengah ketika ada masalah. Dalam pelaksanaan materi, mahasiswa bertindak sebagai fasilitator yang membantu alur diskusi, sedangkan narasumber utama berasal dari tokoh agama lokal agar materi lebih membumi, kontekstual, dan diterima peserta. Gambar 1. Dokumentasi Dialog Religius Tahap Evaluasi dan Refleksi Tahap akhir dari kegiatan FGD adalah evaluasi dan refleksi. Setelah diskusi selesai, mahasiswa menyusun laporan singkat yang merangkum hasil kegiatan, mencakup masalah yang diidentifikasi, solusi yang diusulkan, serta komitmen bersama yang disepakati peserta. Hasil laporan ini kemudian dibagikan kembali kepada perangkat desa dan tokoh masyarakat sebagai bentuk transparansi serta dokumentasi resmi kegiatan. Evaluasi dilakukan secara partisipatif melalui sesi refleksi di mana peserta diberi kesempatan menyampaikan kesan, masukan, maupun kritik terkait jalannya diskusi. Refleksi ini tidak hanya mengukur keberhasilan kegiatan, tetapi juga mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya. Beberapa masukan yang sering muncul adalah perlunya memperpanjang waktu diskusi, melibatkan lebih banyak pemuda, atau menyusun agenda tindak lanjut yang lebih konkret. Implementasi dialog religius melalui FGD menghasilkan beberapa capaian penting bagi masyarakat Desa Simpang Siguragura. Kegiatan ini berhasil membangun ruang komunikasi yang aman dan inklusif antarumat beragama, sehingga setiap peserta merasa leluasa untuk menyampaikan pandangan dan pengalamannya. Dari diskusi tersebut, tumbuh kesadaran bersama bahwa keragaman agama bukanlah ancaman, melainkan sebuah kekayaan sosial yang patut dijaga demi terciptanya Kesepakatan juga dicapai untuk membentuk forum kecil lintas agama yang akan bertemu secara berkala sebagai wadah menjaga komunikasi serta merespon berbagai isu sosial di desa. Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam FGD ini memberikan peningkatan pemahaman yang signifikan mengenai dinamika kerukunan antaragama secara langsung dalam kehidupan masyarakat. Implementasi Kegiatan Gotong Royong Lintas Agama @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA Tahap Persiapan Sebelum pelaksanaan gotong royong lintas agama, tim KKN terlebih dahulu mengadakan rapat koordinasi dengan kepala desa, perangkat desa, tokoh agama, serta ketua pemuda. Rapat ini bertujuan menentukan lokasi dan bentuk kegiatan yang paling dibutuhkan masyarakat, seperti pembersihan jalan desa, lapangan, saluran irigasi, rumah ibadah, maupun penghijauan di sekitar pemukiman. Penentuan jadwal kegiatan dilakukan secara musyawarah agar tidak berbenturan dengan agenda keagamaan masing-masing, misalnya ibadah Minggu di gereja atau kegiatan Jumat di masjid. Hal ini penting untuk memastikan semua pihak dapat hadir tanpa hambatan. Mahasiswa mempersiapkan segala kebutuhan teknis seperti alat kebersihan . angkul, sapu, parang, cat dan kua. , perlengkapan kerja . arung tangan, kantong sampah, embe. , serta konsumsi sederhana berupa minuman dan makanan ringan untuk mendukung suasana kebersamaan. Tim KKN juga menyebarkan undangan kepada warga melalui ketua RT dan tokoh agama agar partisipasi masyarakat benarbenar merata. Dengan persiapan yang matang, kegiatan gotong royong diharapkan menjadi wadah kebersamaan yang inklusif dan efektif. Tahap Pelaksanaan Kegiatan diawali dengan apel singkat di lapangan desa. Pada apel ini, kepala desa menyampaikan sambutan singkat mengenai pentingnya gotong royong lintas agama sebagai wujud nyata dari persatuan dan toleransi. Mahasiswa KKN kemudian memberikan arahan teknis, seperti pembagian tugas, lokasi kerja, serta menekankan kembali nilai kebersamaan tanpa membedakan latar belakang agama. Peserta dibagi ke dalam kelompok campuran lintas agama, sehingga interaksi yang terjalin lebih intens dan tidak eksklusif. Setiap kelompok bertanggung jawab pada satu area kerja, misalnya kelompok pertama membersihkan jalan desa, kelompok kedua menata lapangan, kelompok ketiga mengecat pagar balai desa, sementara kelompok keempat melakukan penanaman pohon di sepanjang jalan. Mahasiswa KKN ikut terlibat langsung dalam setiap kelompok, tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai pekerja lapangan agar tercipta suasana setara. Selain membersihkan lingkungan, kegiatan ini juga menjadi momen interaksi sosial di mana masyarakat saling berkomunikasi, bercanda, dan berbagi cerita. Inilah nilai penting dari gotong royong lintas agama: kerja fisik menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas sosial, menumbuhkan rasa percaya, dan mengikis sekat-sekat yang sebelumnya ada. Gambar 2. Gotong Royong Lintas Agama @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA Tahap Evaluasi dan Refleksi Setelah seluruh rangkaian gotong royong selesai, masyarakat dan mahasiswa berkumpul di balai desa untuk melakukan evaluasi singkat. Pertemuan ini diisi dengan sesi refleksi, di mana perwakilan warga dari berbagai agama dipersilakan menyampaikan kesan, pengalaman, maupun harapan mereka terhadap kegiatan serupa di masa depan. Banyak peserta biasanya menekankan bahwa gotong royong seperti ini tidak hanya bermanfaat untuk kebersihan lingkungan, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga yang sebelumnya jarang berinteraksi. Hasil kegiatan gotong royong lintas agama menunjukkan adanya interaksi langsung antarumat beragama melalui kerja nyata bersama yang mempererat hubungan sosial masyarakat. Kegiatan ini mampu meningkatkan rasa solidaritas, memperluas kesempatan untuk saling mengenal, serta mengurangi stereotip antarwarga dengan latar belakang agama yang berbeda. Desa juga mendapatkan manfaat nyata berupa lingkungan yang lebih bersih serta fasilitas umum yang lebih baik dan tertata. Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman berharga dalam mempraktikkan nilai toleransi secara langsung melalui aktivitas sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Implementasi Kegiatan Audiensi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tahap Persiapan Tahap awal dimulai dengan koordinasi internal antara mahasiswa KKN, perangkat desa, dan tokoh masyarakat untuk merumuskan maksud dan tujuan kegiatan. Langkah-langkah persiapan meliputi: Koordinasi awal: Mahasiswa KKN bersama perangkat desa menghubungi sekretariat FKUB kabupaten untuk menyampaikan maksud audiensi dan mengatur waktu yang sesuai. Penyusunan agenda: Tim KKN menyusun daftar topik dan pertanyaan kunci, misalnya mengenai strategi menjaga toleransi, pengalaman FKUB dalam menyelesaikan konflik, serta cara memperkuat partisipasi pemuda. Pembekalan peserta: Mahasiswa memberikan penjelasan singkat kepada tokoh agama dan masyarakat desa yang akan ikut serta, agar mereka memiliki gambaran umum mengenai FKUB dan alur audiensi. Persiapan teknis: Meliputi transportasi menuju kantor FKUB, perlengkapan dokumentasi . amera, alat tuli. , serta menyiapkan surat pengantar resmi dari desa sebagai bentuk formalitas. Tahap Pelaksanaan Kegiatan audiensi berlangsung di kantor FKUB kabupaten dengan nuansa semiformal namun tetap penuh keakraban. Alur kegiatan dirancang dalam beberapa sesi: Sesi pembukaan: Diawali dengan sambutan dari pihak FKUB mengenai peran, tugas, dan visi mereka dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Mahasiswa KKN juga diberi kesempatan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan. Sesi berbagi pengalaman FKUB: Pihak FKUB memaparkan praktik moderasi beragama yang telah dilakukan, strategi pencegahan konflik, serta contoh nyata kasus keberhasilan mereka dalam meredam ketegangan di masyarakat. Sesi tanya jawab interaktif: Peserta dari mahasiswa dan tokoh agama desa mengajukan pertanyaan seputar manajemen konflik, cara membangun komunikasi lintas agama, dan program yang dapat melibatkan generasi muda. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA Sesi diskusi kelompok: Bersama-sama merumuskan gagasan kerja sama yang dapat diterapkan di Desa Simpang Siguragura, misalnya pelatihan dialog lintas agama, seminar toleransi, atau pembentukan forum desa untuk kerukunan. Sesi penutup: Ditutup dengan pernyataan komitmen untuk menjaga kerukunan dan rencana tindak lanjut agar hasil audiensi tidak berhenti pada pertemuan semata. Gambar 3. Audiensi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Isi/Materi Audiensi Materi yang dibahas dalam audiensi disusun agar menyentuh aspek konseptual dan praktis, meliputi: Peran dan fungsi FKUB dalam membangun serta menjaga harmoni antarumat beragama di tingkat lokal. Indikator moderasi beragama, seperti toleransi, anti kekerasan, komitmen kebangsaan, dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal. Strategi pencegahan potensi konflik keagamaan, baik melalui pendekatan dialog, musyawarah, maupun mediasi. Pentingnya keterlibatan masyarakat desa dalam membangun ruang dialog berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan lembaga formal. Contoh kasus nyata keberhasilan FKUB dalam menyelesaikan potensi konflik, sehingga menjadi inspirasi untuk desa lain. Tahap Evaluasi dan Refleksi Evaluasi dilakukan untuk memastikan hasil audiensi dapat ditindaklanjuti secara nyata di desa. Rinciannya sebagai berikut: Diskusi internal: Setelah audiensi selesai, mahasiswa bersama tokoh agama desa melakukan pertemuan di balai desa untuk membahas kembali poin-poin penting. Penyusunan laporan: Mahasiswa menyusun laporan tertulis yang berisi rangkuman hasil audiensi, rekomendasi praktis, serta potensi program lanjutan untuk Desa Simpang Siguragura. Refleksi bersama peserta: Peserta audiensi menyampaikan kesan, manfaat, serta ide-ide baru yang mereka dapatkan dari pertemuan dengan FKUB. @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA Rencana tindak lanjut: Menentukan langkah nyata, misalnya mengundang FKUB untuk memberikan penyuluhan di desa, atau membentuk kelompok diskusi lintas agama di tingkat desa yang difasilitasi mahasiswa KKN. Hasil dari kegiatan audiensi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menunjukkan beberapa capaian penting. Masyarakat desa memperoleh pengetahuan baru mengenai praktik moderasi beragama yang disampaikan langsung oleh FKUB, sehingga wawasan mereka terkait upaya menjaga kerukunan semakin luas. Kegiatan ini juga berhasil menjalin jejaring kerja sama antara pihak desa dengan FKUB untuk mendukung terselenggaranya dialog lintas agama secara berkelanjutan di masa depan. Bagi mahasiswa, audiensi ini memberikan pengalaman berharga dengan pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran institusi formal dalam menjaga keharmonisan antarumat beragama, sehingga menambah kekayaan pengetahuan baik secara akademik maupun praktis. Kegiatan ini juga menghasilkan rencana tindak lanjut berupa pendampingan dari FKUB dalam membentuk dan menguatkan forum kecil lintas agama di desa, yang diharapkan mampu menjadi wadah permanen dalam merawat nilai toleransi dan kebersamaan di tingkat lokal. Pembahasan Pelaksanaan Dialog Religius melalui metode Focus Group Discussion (FGD) di Desa Simpang Siguragura dimulai dengan tahap persiapan yang matang. Tim KKN berkoordinasi dengan perangkat desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat untuk menetapkan tema diskusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal, seperti Aukomunikasi antarumat beragama menjelang hari besar keagamaan. Ay Langkah ini sejalan dengan temuan (Noor et al. , 2. dalam penelitian mereka tentang masyarakat Tengger, yang menunjukkan bahwa koordinasi awal dan keterlibatan tokoh lokal menjadi kunci keberhasilan FKUB dalam mengimplementasikan pendidikan multikultural untuk memperkuat kerukunan. Pemilihan peserta yang representative pemuka agama Islam. Kristen. Katolik, pemuda lintas iman, serta tokoh Masyarakat serta pemilihan lokasi netral seperti balai desa membuat seluruh pihak merasa nyaman untuk terlibat (Cemara et al. , 2. Tahap pelaksanaan FGD kemudian dibagi menjadi beberapa sesi. Sesi awal digunakan moderator untuk menjelaskan tujuan kegiatan, yakni membangun pemahaman bersama tentang moderasi beragama serta memperkuat kerukunan melalui dialog terbuka. Sesi berbagi pengalaman nyata memperlihatkan adanya praktik baik toleransi, seperti saling membantu dalam perayaan hari besar agama, namun juga ditemukan tantangan berupa kurangnya komunikasi resmi antarumat. Hal ini konsisten dengan penelitian (Huda, 2. tentang FKUB Jawa Timur, yang menekankan bahwa dialog terbuka dan forum komunikasi antaragama efektif mencegah gesekan sosial yang biasanya muncul dari kesalahpahaman kecil. Pada sesi berikutnya, diskusi diarahkan pada indikator moderasi beragama dari Kementerian Agama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Peserta mendiskusikan bagaimana indikator tersebut bisa diterapkan secara praktis di tingkat desa. Sesi identifikasi masalah juga menyingkap isu-isu spesifik, seperti gesekan kecil pada penggunaan fasilitas umum atau potensi ketegangan menjelang hari raya besar. Hasil akhirnya, peserta menyepakati solusi praktis, antara lain membentuk forum dialog rutin, melaksanakan kegiatan sosial lintas @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA iman, dan menjaga komunikasi antar tokoh agama melalui media yang disepakati bersama (Hidana, 2. Materi diskusi disusun dengan membandingkan praktik baik dari desa lain yang berhasil menjaga kerukunan melalui forum lintas agama. FKUB Banyumas misalnya, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian (Huda et al. , 2. berhasil membangun harmoni dengan menyelenggarakan forum publik yang konsisten, melibatkan tokoh lokal, dan menekankan komunikasi terbuka. Pendekatan ini relevan dengan konteks Simpang Siguragura, karena pengalaman desa lain memberi inspirasi bagi peserta bahwa harmoni tidak hanya retorika, tetapi hasil dari praktik kecil yang konsisten. Tokoh agama lokal yang menjadi narasumber utama juga memperkuat legitimasi hasil diskusi karena menyampaikan pengalaman nyata masyarakat desa. Tahap evaluasi memperlihatkan dampak positif FGD. Warga merasa lebih memahami pentingnya moderasi beragama, dan muncul rasa memiliki terhadap solusi yang disepakati. Mahasiswa mendokumentasikan poin-poin penting diskusi, sehingga dapat digunakan perangkat desa sebagai pedoman tindak lanjut. Refleksi warga mengungkapkan bahwa kegiatan ini membuka ruang komunikasi yang sebelumnya jarang dilakukan secara formal (Erlina et al. Hasil ini sejalan dengan penelitian (Rofiq 2. tentang komunikasi FKUB di Banyuwangi, yang menegaskan pentingnya forum komunikasi reguler untuk membangun kepercayaan antaragama secara berkelanjutan. Implementasi Gotong Royong Lintas Agama menjadi tindak lanjut konkret dari Pada tahap persiapan, tim KKN bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat menentukan jenis kegiatan yang sesuai, seperti pembersihan balai desa, pengecatan rumah ibadah, atau penghijauan. Penjadwalan dilakukan dengan mempertimbangkan kalender keagamaan agar tidak berbenturan dengan ibadah umat tertentu. Penelitian (Siswanto et al. tentang AuKampung Moderasi Beragama di Desa TempurAy membuktikan bahwa kegiatan sosial berbasis modal sosial seperti kerja bakti lintas agama mampu menjadi perekat kebersamaan dan meminimalisir potensi konflik. Prinsip ini juga diterapkan di Simpang Siguragura, di mana mahasiswa memfasilitasi persiapan logistik seperti peralatan kebersihan, perlengkapan kerja, dan konsumsi Pelaksanaan gotong royong dilakukan secara partisipatif. Warga dari berbagai agama dibagi ke dalam kelompok campuran agar tercipta interaksi lintas iman yang lebih intens. Aktivitas kerja bakti, seperti membersihkan lingkungan desa dan memperbaiki fasilitas umum, tidak hanya berdampak pada kebersihan fisik, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Mahasiswa berperan sebagai fasilitator sekaligus ikut bekerja bersama warga, sehingga tercipta kesetaraan dan rasa kebersamaan. Fenomena ini sesuai dengan temuan (Prameswari, 2. yang menekankan pentingnya keterlibatan langsung masyarakat dalam kegiatan moderasi untuk membangun rasa Dengan bekerja bersama, sekat identitas agama mencair, digantikan oleh identitas kolektif sebagai warga desa. Evaluasi gotong royong menunjukkan adanya manfaat ganda: lingkungan lebih bersih dan tertata, hubungan antarwarga lintas agama semakin dekat, serta muncul gagasan untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin desa. Hal ini memperkuat hasil penelitian (Virdaus, 2. yang menyatakan bahwa gotong royong lintas agama bukan hanya kegiatan fisik, melainkan sarana efektif menumbuhkan rasa persaudaraan dan solidaritas. Dokumentasi kegiatan oleh mahasiswa juga memperlihatkan jumlah @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA partisipasi warga yang meningkat, menandakan bahwa masyarakat merespons positif program ini. Kegiatan Audiensi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melengkapi dua kegiatan sebelumnya dengan memberikan perspektif kelembagaan. Pada tahap persiapan, mahasiswa dan perangkat desa menyusun daftar pertanyaan serta tujuan yang jelas, seperti belajar strategi FKUB dalam menangani konflik agama dan menjajaki kerja sama keberlanjutan program. Perwakilan desa terdiri dari mahasiswa, tokoh agama, dan warga yang dipilih secara representatif. Persiapan semacam ini penting, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian (M. Pratama and Faridah 2. bahwa pertemuan formal dengan FKUB lebih efektif bila masyarakat lokal dilibatkan sejak tahap awal, agar hasilnya bisa langsung diterapkan. Tahap pelaksanaan audiensi dilakukan secara semi-formal di kantor FKUB Pada sesi pertama, pihak FKUB menjelaskan peran, tugas, dan strategi mereka dalam menjaga kerukunan, termasuk keberhasilan menangani potensi konflik di wilayah lain. Sesi kedua diisi dengan tanya jawab, di mana mahasiswa dan warga bertanya tentang cara mengelola konflik kecil, membangun komunikasi lintas agama, dan melibatkan generasi muda. Sesi terakhir berupa diskusi bersama menghasilkan rekomendasi yang bisa diaplikasikan di Simpang Siguragura, seperti membentuk forum komunikasi desa berbasis FKUB dan pelatihan kader muda moderasi. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Arsyad 2. yang menemukan bahwa FKUB Medan berhasil mendorong pengarusutamaan moderasi beragama melalui pelatihan generasi muda dan forum komunikasi lintas agama. Materi yang disampaikan FKUB mencakup penjelasan indikator moderasi beragama, strategi pencegahan konflik, serta contoh kasus nyata keberhasilan mereka mendamaikan konflik di wilayah lain. Peserta desa mendapatkan inspirasi bahwa solusi kelembagaan bisa diadaptasi sesuai dengan skala lokal. Evaluasi audiensi memperlihatkan bahwa peserta desa merasa lebih percaya diri untuk membangun ruang dialog yang berkelanjutan, karena mereka memiliki rujukan langsung dari lembaga formal. Hal ini konsisten dengan penelitian (Pratama & Harahap, 2. yang menegaskan bahwa dukungan FKUB mampu memperkuat legitimasi gerakan moderasi di tingkat lokal. Dengan mengintegrasikan dialog, aksi sosial, dan audiensi kelembagaan, kegiatan KKN di Desa Simpang Siguragura mencerminkan pendekatan holistik dalam memperkuat moderasi beragama. Hasil penelitian terdahulu yang mendukung implementasi ini memperlihatkan bahwa keberhasilan moderasi beragama tidak hanya ditentukan oleh diskusi formal, tetapi juga aksi sosial nyata dan dukungan Oleh karena itu, kegiatan ini tidak hanya memberi dampak langsung bagi masyarakat desa, tetapi juga memperkaya wawasan mahasiswa dalam memahami bagaimana moderasi beragama bisa dijalankan secara praktis di tengah keberagaman. KESIMPULAN Kegiatan KKN di Desa Simpang Siguragura menunjukkan bahwa moderasi beragama dapat diperkuat melalui pendekatan yang integratif, yaitu dialog religius, aksi sosial bersama, dan dukungan kelembagaan. Focus Group Discussion (FGD) berhasil membuka ruang komunikasi yang inklusif antarumat beragama, menumbuhkan kesadaran bahwa keberagaman merupakan kekayaan sosial, serta menghasilkan kesepakatan konkret berupa forum lintas agama di tingkat desa. Gotong @2025 Bima Abdi . ttps://jurnal. com/index. php/ba-jp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Suhairi dkk. Pendekatan Partisipatif KKN dalam Memperkuat Moderasi BeragamaA royong lintas agama memperlihatkan bahwa kerja bersama dalam aktivitas sosial mampu mencairkan sekat identitas keagamaan, mempererat solidaritas, dan membangun rasa persaudaraan. Audiensi ke Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) melengkapi dua kegiatan tersebut dengan memberikan legitimasi kelembagaan serta strategi praktis yang dapat diadaptasi secara lokal. Keseluruhan kegiatan ini membuktikan bahwa keberhasilan moderasi beragama di tingkat desa membutuhkan sinergi antara komunikasi terbuka, praktik sosial bersama, dan dukungan formal dari lembaga keagamaan. Penulis menyarankan agar kegiatan serupa terus dilanjutkan dan diperluas Desa Simpang Siguragura dapat menjadikan forum lintas agama yang telah disepakati sebagai wadah komunikasi reguler yang terstruktur, sehingga mampu mengantisipasi potensi konflik sejak dini. Pemerintah desa diharapkan mendukung keberlanjutan program ini melalui kebijakan maupun alokasi anggaran, sementara FKUB diharapkan terus memberikan pendampingan secara berkala. Mahasiswa yang terlibat juga disarankan untuk menjadikan pengalaman ini sebagai model pengabdian yang bisa direplikasi di desa lain dengan menyesuaikan konteks lokal. Dengan demikian, moderasi beragama tidak hanya menjadi konsep normatif, tetapi benarbenar hadir sebagai praktik nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA