Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Gambaran Cyberbullying Pada Remaja Di Banda Aceh An Overview Of Cyberbullying Among Adolescents In Banda Aceh Nasywa Dwi Ramadhiani1. Sri Agustina1*. Sufriani1. Imelda1. Nenty Septiana1 Program Studi Sarjana Keperawatan/Keperawatan. Universitas Syiah Kuala *Email: sriagustina@gmail. ABSTRAK Media sosial merupakan salah satu media bagi remaja untuk menyalurkan beragam ekspresi yang terkadang disalahgunakan seperti mengunggah postingan dalam bentuk hinaan atau ancaman yang termasuk dalam cyberbullying, sehingga berdampak buruk bagi remaja yang mendapatkan perlakuan tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran cyberbullying pada remaja di Banda Aceh. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa pada SMAN 13 Banda Aceh. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 92 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan Cyberbullying and Online Aggression Survey Instrument berbentuk angket dan dianalisis secara statistik deskriptif. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden pernah terlibat dalam cyberbullying berada pada kategori rendah dengan cyberbullying offending . sebanyak 98,9% responden dan cyberbullying victimization . pada kategori rendah sebanyak 89,1% responden. Mayoritas remaja di Banda Aceh memiliki keterlibatan dengan cyberbullying berada pada kategori rendah baik sebagai pelaku maupun korban. Diharapkan pihak sekolah dapat mempertahankan tingkat cyberbullying yang rendah namun tetap memantau penggunaan gadget dan media sosial pada remaja agar tidak terjadinya tindakan cyberbullying yang dapat berdampak buruk bagi korban. Kata Kunci: Cyberbullying. Media sosial. Remaja ABSTRACT Social media is one of the primary platforms used by adolescents to express themselves, which can sometimes be misused, for example, by posting insults or threats that constitute cyberbullying. Such actions can have harmful effects on the adolescents who are targeted. This study aimed to provide an overview of cyberbullying among adolescents in Banda Aceh. A quantitative research method with a cross-sectional study design was used. The study population included all students at State Senior High School 13 of Banda Aceh. The purposive sampling was utilized and resulting in a total of 92 respondents. Data were collected using the Cyberbullying and Online Aggression Survey Instrument in questionnaire form and analyzed using descriptive statistics. The results showed that most Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 respondents had low involvement in cyberbullying. Specifically, 98. 9% of respondents were categorized as low in cyberbullying offending . , 1% were categorized as low in cyberbullying victimization . Overall, the majority of adolescents in Banda Aceh demonstrated low involvement in cyberbullying, both as perpetrators and victims. It is recommended that schools maintain this low level of cyberbullying while continuing to monitor adolescents' use of gadgets and social media to prevent potential harmful impacts associated with cyberbullying. Keyword: Adolescents. Cyberbullying. Social Media PENDAHULUAN Masa Remaja merupakan fase transisi dari anak-anak menuju dewasa, yang berumur dari 10 hingga 19 tahun (WHO, 2. Pada masa globalisasi saat ini, remaja sangat tergantung dengan teknologi, perkembangan teknologi mendukung remaja dalam pertumbuhan pribadi, persepsi diri, dan perkembangan remaja untuk mudah bersosialisasi (Rose et al. , 2. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2024 mencapai 221. 56 juta jiwa yaitu 79,5%. Pengguna internet tersebut paling banyak berasal dari Gen Z yaitu kelahiran tahun 1997-2012 sebesar 34,40%. Data pengguna media sosial di Indonesia tahun 2024 paling banyak berasal dari kelompok usia remaja hingga dewasa . ,1%), sebanyak 81% menghabiskan 3 jam 14 menit setiap harinya untuk mengakses media sosial (Panggabean, 2. Penggunaan media sosial merupakan salah satu dampak dari perkembangan teknologi yang terlihat jelas pengaruhnya. Media sosial dapat berdampak positif dengan memberi kemudahan bagi remaja untuk mencari informasi dan terhubung dengan orang lain secara cepat namun media sosial juga berdampak negatif pada remaja, mereka dapat menggunakan media sosial untuk mengekspresikan diri, menyukai, dan mengomentari postingan serta membagikannya tanpa batas. Tidak jarang melalui media sosial remaja menyampaikan komentar-komentar yang bersifat menghina dan mengejek temannya sehingga memicu terjadinya perilaku bullying namun tidak menyadari dampaknya bagi orang lain (Andari et al. , 2. Penindasan dengan menggunakan media elektronik dikenal dengan cyberbullying yaitu suatu bentuk perundungan yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang menggunakan komputer, telepon genggam, dan alat elektronik lainnya dengan maksud menyakiti orang lain (Patchin & Hinduja, 2. Sebuah tinjauan sistematis mengenai cyberbullying menunjukkan bahwa prevalensi viktimisasi cyberbullying pada kalangan anak-anak dan remaja berkisar antara 14% hingga 58% dan prevalensi pelaku berkisar antara 6,0% hingga 46,3% di seluruh dunia (Zhu et al. , 2. United Nations International Children Fund (UNICEF) tahun 2021 mengungkapkan sebanyak 45 persen remaja di Indonesia pernah mengalami Penelitian yang dilakukan pada siswa SMA di Bandung tahun 2019 mengemukakan bahwa 93,1% responden terlibat cyberbullying. Banyaknya responden yang terlibat cyberbullying terdapat 4,1% . sebagai pelaku dan sebanyak 17,0% . sebagai korban (Syena. Hernawati, & Setyawati. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Cyberbullying sudah semestinya mendapatkan perhatian lebih karena intensitas terjadinya lebih tinggi dibandingkan bullying tradisional, yaitu dapat terjadi dalam 24 jam selama 7 hari terus-menerus sedangkan bullying tradisional hanya terjadi selama jam sekolah (Sari. Nauli, & Utomo, 2. Tindakan cyberbullying menimbulkan dampak negatif bagi remaja seperti perasaan marah, kecewa, malu, cemas, dan tidak percaya diri. Perasaan tersebut dapat mempengaruhi remaja sehingga motivasi belajar menurun karena kurangnya fokus dan konsentrasi pada pelajaran. Perasaan ditertawakan oleh orang lain menyebabkan korban mengalami gangguan perilaku seperti gangguan makan, emosi yang tidak terkontrol, dan sering mengurung diri di kamar, bahkan dalam kasus yang ekstrim dapat meningkatkan keinginan untuk mengakhiri hidupnya sendiri (Putri & Savira, 2. Didukung dengan kurangnya penelitian mengenai cyberbullying pada remaja, terutama di Kota Banda Aceh. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat Gambaran Cyberbullying Pada Remaja di Banda Aceh METODE . ubbab huruf kapital di setiap awal kalima. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan total sampel 92 responden. Penelitian dilakukan pada siswa SMAN 13 Banda Aceh pada tanggal 8 Januari 2025 dengan populasi berjumlah 103. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner Cyberbullying and Online Aggression Survey Instrument. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat yang mendistribusukan frekuensi dan Penelitian ini telah lulus uji etik oleh Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala dengan kode penelitian111069241124, tanggal 05 Desember 2024. HASIL Berdasarkan tabel 1 didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden merupakan remaja usia pertengahan dengan rentang usia 13-16 tahun sebanyak 49 siswa . ,3%), mayoritas responden berjenis kelamin perempuan yaitu 54 siswa . ,7%), sebagian besar yaitu 45 orang . ,9%) berada pada kelas XI. Jumlah gadget yang paling banyak digunakan ialah satu gadget sebanyak 85 siswa . ,4%). Jumlah akun media sosial yang paling banyak dimiliki oleh siswa yaitu lebih dari 3 akun media sosial sebanyak 50 siswa . ,3%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Responden . Karakteristik Usia Pertengahan remaja 13-16 Tahun Akhir remaja 17-19 Tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Frekuensi Persentase (%) Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Karakteristik Frekuensi Kelas Kelas X Kelas XI Kelas XII Agama Islam Gadget 1 Gadget 2 Gadget 3 Gadget Jumlah Media Sosial 1 Akun 2 Akun 3 Akun >3 Akun Persentase (%) Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa cyberbullying offending . pada Remaja di Banda Aceh sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 91 siswa . ,9%). Tabel 2. Distribusi Data Cyberbullying Offending pada SMAN 13 Banda Aceh . Pelaku Cyberbullying Rendah Sedang Tinggi Total Persentase (%) Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa cyberbullying victimization . pada remaja di SMAN 13 Banda Aceh sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 82 siswa . 1%). Tabel 3 Distribusi Data Cyberbullying Victimization pada SMAN 13 Banda Aceh . Korban Cyberbullying Rendah Sedang Tinggi Total Persentase (%) PEMBAHASAN Gambaran pelaku cyberbullying pada remaja di Banda Aceh Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada 92 responden, menunjukkan bahwa sebagian besar remaja terlibat sebagai pelaku cyberbullying Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 berada pada kategori rendah sebanyak 98,9%. Hal ini didukung jawaban responden dalam kuesioner cyberbullying and online aggression survey instrument bagian pelaku menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,5i,7%) menjawab tidak pernah dalam setiap item pertanyaan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Windarwati et al. , 2. tentang perilaku cyberbullying pada remaja sebagai pengguna media sosial didapatkan bahwa mayoritas pelaku cyberbullying berada pada kategori rendah sebanyak 57,1%. Selanjutnya penelitian ini menemukan sebanyak 1 . ,1%) responden berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa perilaku cyberbullying yang banyak dilakukan oleh responden adalah pada pertanyaan nomor 2 Ausaya memposting komentar yang menghina atau menyakitkan tentang seseorang secara onlineAy dengan jawaban satu kali 3 . ,3%) responden, jawaban beberapa kali sebanyak 7 . ,6%) dan sering 1 . ,1%) responden. Pertanyaan tersebut merujuk pada perilaku cyberbullying berbentuk flaming yaitu memberikan komentar negatif seperti ejekan atau umpatan yang kasar, menyinggung atau menghina korban baik secara publik maupun pesan teks pribadi. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Millenium & Flurentin . menyebutkan bahwa bentuk perilaku cyberbullying yang umum dilakukan remaja yaitu berupa ejekan, sindiran, dan kata kasar yang bersifat negatif seperti mengomentari fisik korban, kegiatan yang dilakukan oleh korban serta merendahkan keterampilan korban. Selanjutnya mayoritas perilaku cyberbullying yang dilakukan oleh responden adalah pada poin pertanyaan nomor 4 Ausaya memposting video online tentang orang lain yang dapat menyakiti orang tersebutAy dengan jawaban satu kali sebanyak 8 . ,7%) responden, jawaban beberapa kali sebanayk 3 . ,3%) Kemudian mayoritas perilaku cyberbullying yang banyak dilakukan responden yaitu pertanyaan nomor 5 Aumenyebarkan desas-desus atau rumor tentang seseorang secara onlineAy dengan jawaban satu kali sebanyak 7 . ,6%) responden dan beberapa kali 2 . ,2%) responden. Hasil data demografi jumlah media sosial pada cyberbullying offending . paling banyak yaitu lebih dari tiga akun media sosial dengan kategori rendah . ,3%) maupun sedang . ,1%). Media sosial yang paling banyak dimiliki oleh responden adalah whatsapp . ,7%). Didukung dengan tingginya angka pengguna whatsApp di indonesia menurut survei yang dikutip dari Riyanto . Hootsuite (We are Socia. Indonesian Digital Report tahun 2024, sebanyak 90,9% masyarakat aktif menggunakan media sosial whatsapp. Peniliti beranggapan semakin banyak media sosial yang dimiliki berpeluang lebih besar menjadi pelaku Menurut asumsi peneliti walaupun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian remaja pelaku cyberbullying berada pada kategori rendah . ,9%) namun, masih terdapat 1 siswa . ,1%) berada pada kategori sedang. Pada kategori rendah terdapat beberapa siswa yang pernah setidaknya sekali melakukan cyberbullying, hal ini sudah seharusnya menjadi perhatian bagi pihak sekolah. Keadaan ini apabila tidak dilakukan tindakan penanganan secepatnya akan menjadi masalah yang besar, karena walaupun hanya satu orang pada kategori sedang dan mayoritas pada kategori rendah yang melakukan cyberbullying, namun hal ini dapat menimbulkan kondisi psikologis sekolah siswa yang tidak Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Pelaku yang masih berada dalam usia remaja akan dapat mempengaruhi temannya untuk melakukan hal yang sama kepada teman yang lain sebagaimana yang dijelaskan dalam penelitian Ristiani et al. bahwa salah satu faktor terjadinya cyberbullying adalah konformitas teman sebaya yaitu seseorang cenderung mengikuti perilaku agresif di sekitarnya untuk memperoleh penerimaan Tekanan teman sebaya dapat membuat seseorang terdorong untuk melakukan cyberbullying walaupun mereka sebenarnya tidak ingin Gambaran Korban Cyberbullying pada Remaja di Banda Aceh Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 didapatkan bahwa sebagian besar remaja menjadi korban cyberbullying berada pada kategori rendah . ,1%), sebanyak 7,6% responden berada pada kategori sedang dan 3,3% responden pada kategori tinggi. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Orizani & Ganadhi . yang mendapatkan hasil bahwa sebagian besar responden yang mengalami cyberbullying berada pada tingkat rendah sebanyak 84 . %) Hasil ini juga didukung dengan jawaban responden pada pertanyaan Ausaya mengalami cyberbullyingAy merupakan item tertinggi dengan 17 responden . ,5%) menjawab satu kali, 12 responden . %) menjawab beberapa kali dan sebanyak 3 . ,3%) menjawab sering. Hasil data dari pertanyaan cyberbullying victimization menunjukkan bahwa 8 dari 92 responden mendapatkan perilaku cyberbullying dengan frekuensi sering . ebih dari 3 kali dalam 30 har. dengan 3 perilaku berbeda. Perilaku yang diterima oleh korban yaitu mendapatkan komentar yang menghina atau menyakitkan, mendapatkan rumor yang tidak benar dan diancam oleh pelaku secara online. Penelitian ini juga mendapatkan bahwa 2 dari 92 responden yang sebagian jawaban . atau 5 jawaba. dari pertanyaan cyberbullying victimization dijawab dalam frekuensi sering dengan perlakuan yang diterima yaitu mendapat komentar yang menghina, mendapatkan postingan gambar yang kejam, mendapatkan postingan video yang kejam, mendapatkan rumor yang tidak benar, diancam melalui online atau pesan teks dan mendapatkan orang lain berpura-pura menjadi Cyberbullying dapat terjadi dengan berbagai motif salah satunya ialah ketidaksukaan pelaku kepada korban sehingga apabila korban memposting sesuatu di media sosial yang tidak disukai oleh pelaku akan menyebabkan korban mendapatkan komentar yang kasar, menghina dan menyakitkan (Anggraeni. Lotulung, & Kalangi, 2. Berdasarkan hasil data demografi jumlah gadget cyberbullying victimization . didapatkan mayoritas responden mempunyai satu gadget baik pada kategori rendah . ,8%) maupun sedang . ,5%) dan pada kategori tinggi ada yang memiliki satu gadget . ,1%), dua gadget . ,1%) dan tiga gadget . ,1%). Peneliti beranggapan bahwa yang memiliki lebih banyak gadget berpeluang lebih banyak terlibat sebagai korban cyberbullying. Menurut asumsi peneliti siswa yang menjadi korban cyberbullying akan menerima dampak yang dapat mempengaruhi psikologis dan prestasi akademik siswa dikarenakan perkembangan zaman menuntut remaja untuk dapat menggunakan media sosial secara aktif agar tidak tertinggal oleh teknologi. Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol. No. Juli-Desember 2025 Situasi ini apabila ditemukan lebih awal akan dapat ditangani segera untuk tidak memberikan dampak lebih besar bagi korban cyberbullying. Penelitian yang dilakukan oleh Putri & Savira . menjelaskan bahwa remaja yang menjadi korban cyberbullying seringkali akan mengalami masalah emosi, rasa tertekan, tidak percaya diri, gangguan tidur serta gangguan makan sehingga mempengaruhi motivasi dan fokus dalam belajar dan yang lebih berbahaya dapat membuat seseorang mengakhiri hidupnya sendiri. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 92 responden didapatkan bahwa sebagian besar remaja di Banda Aceh memiliki keterlibatan dengan cyberbullying berada pada kategori rendah dengan Cyberbullying offending . pada kategori rendah sebanyak 91 . ,9%) responden. Cyberbullying victimization . pada kategori rendah berjumlah 82 . ,1%) SARAN Diharapkan Institusi Pendidikan . ihak Sekola. dapat mempertahankan tingkat cyberbullying yang rendah pada remaja, pihak sekolah diharapkan tetap melakukan pengawasan penggunaan gadget pada siswa dan melibatkan orangtua untuk memantau penggunan gadget pada remaja saat di rumah. Bagi pelayanan kesehatan diharapkan juga dapat menjalin kerjasama dengan pihak sekolah mengadakan penyuluhan penggunaan gadget yang benar agar tidak memberikan dampak buruk bagi kesehatan, terutama kesehatan psikologis remaja. DAFTAR PUSTAKA