JPFT - volume 11, nomor 3, pp. Desember 2023 Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Open Access http://jurnal. id/index. php/jpft PEMBERIAN REMEDIAL TEACHING BERDASARKAN TES DIAGNOSTIK PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 BAMBALAMOTU THE PROCUREMENT OF REMEDIAL TEACHING BASED ON DIAGNOSTIC TESTS TOWARDSGRADE XI STUDENTS OF SMA NEGERI 1 BAMBALAMOTU Radiatul Adwiah. Sahrul Saehana. Wahyuni N. Laratu Pendidikan Fisika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Tadulako. Palu. Indonesia radiatuladwiah391@gmail. Kata Kunci Kesalahan konsep. Remedial teaching. Tes Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah Remedial Teaching dapat mengurangi kesalahan konsep fisika siswa pada materi suhu dan kalor di kelas XI MIPA 2 SMA Negeri 1 Bambalamotu. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatf dengan pendekatan deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MIPA 2 di SMA Negeri 1 Bambalamotu yang berjumlah 20 orang. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode tes yang berupa tes diagnostik berbentuk pilihan ganda berasalan ( Two Tier Multiple Choice Tes. yang berkaitan dengan materi suhu dan kalor. Analisis data dilakukan dengan mencari persentase pemahaman konsep siswa, tidak paham konsep dan miskonsepsi dari masing-masing indikator. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa SMA Negeri 1 Bambalamotu dikelas XI MIPA 2 pada materi suhu dan kalor masih tergolong rendah Pada penelitian ini diperoleh rata-rata nilai siswa yang diberikan tes diagnostik sebelum dilakukan remedial teaching itu tidak mencapai KKM dimana miskonsepsi siswa masih sangat tinggi namu setelah diberikan remedial teaching nilai rata-rata siswa sangat meningkat dan mencapai KKM dan miskonsepsi siswa menurun. Dapat disimpulkan bahwa remedial teaching dapat mengurangi miskonsepsi pada siswa. Keywords Misconception. Remedial teaching. Diagnostic test Abstract A2023The Author p-ISSN 2338-3240 e-ISSN 2580-5924 This research aims to identify whether Remedial Teaching can reduce students' physics conceptual errors in temperature and heat material in class XI MIPA 2 SMA Negeri 1 Bambalamotu. This type of research is qualitative research with a descriptive approach. The subjects in this research were all 20 students in class XI MIPA 2 at SMA Negeri 1 Bambalamotu. The data collection technique in this research is a test method in the form of a diagnostic test in the form of a two-tier multiple choice test related to temperature and heat material. Data analysis was carried out by looking for the percentage of students understanding concepts, not understanding concepts and misconceptions from each indicator. The results of this research indicate that students' conceptual understanding of SMA Negeri 1 Bambalamotu in class XI MIPA 2 on temperature and heat is still relatively low. high but after being given remedial teaching the students' average scores increased greatly and reached the KKM and students' misconceptions It can be concluded that remedial teaching can reduce student misconceptions. Received 24/09/2023. Revised 20/10/2023. Accepted 8/11/2023. Available Online 31/12/2023 *Corresponding Author: fisika@yahoo. PENDAHULUAN Pendidikan pembelajaran pengetahuan keterampilan, dan kebiasaan sekumpulan manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui pengajaran, pelatihan, dan penelitian. Pendidikan meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia dan seringkali dijadikan tolak ukur peningkatan kualitas sumber daya manusia (Eneng, 2. Fisika merupakan salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan disekolah menengah atas atau SMA. Fisika merupakan sains atau ilmu Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online alam yang mempelajari materi beserta gerak dan perilakunya dalam lingkup ruang dan waktu, bersamaan dengan konsep yang berkaitan dengan konsep seperti energi dalam gaya. Fisika juga mempelajari alam semesta, benda-benda yang ada dipermukaan bumi, didalam perut bumi dan luar angkasa, baik yang dapat diamati indera maupun yang tidak dapat diamati oleh (Isnah et aal. , 2. Siswa dengan pemahaman konsep yang baik mampu memecahkan permasalahan baik secara konseptual maupun matematis. Siswa mampu mengungkapkan materi kedalam bentuk yang mudah dipahami. Sedangkan, siswa dengan pemahaman konsep yang rendah maupun memahami materi-materi selanjutnya yang terkait dengan konsep sebelumnya sebagimana diungkapkan Khusairi . alam Makitulang, 2. konsep fisika bersifat hararki atau berjenjang, artinya untuk mempelajari suatu materi diperlukan penguasaan terhadap materi-materi sebelumnya. Pembelajaran pembelajaran yang menuntut siswa untuk berpikir sesuatu yang abstrak. Kendala masih sering terjadi didalam pembelajaran fisika, salah menyelesaikan masalah Fisika. Berdasarkan hasil observasi di SMA Negeri 1 Bambalamotu dengan mewawancarai salah satu guru Fisika, ditemukan data kesulitan belajar fisika yang ditandai dengan rendahnya nilai pada mata pelajaran Fisika. Hal tersebut dibenarkan oleh guru fisika yang mengajar dikelas X yang mengatakan bahwa kemampuan siswa pada Fisika dapat dikatakan rendah. Faktor penyebab kesulitan yang dialami peserta didik adalah disebabkan oleh kurangnya penguasaan konsep, kurangnya matematis, kurangnya kemampuan dalam mengkonversi satuan, dan kurangnya pemahaman dalam mebuat strategi pemecahan masalah, sehingga membuat hasil belajar fisika khususnya pada materi kalor sangat minim Kesulitan siswa dalam mempelajari Fisika terlihat dari kesalahan-kesalahan siswa dalam mengerjakam soal. Dalam menyelesaikan masalah Fisika, siswa harus menguasai cara konsep-konsep menggunakan keterampilan komputasi dalam Vol. No. 3, pp. Desember berbagai situasi baru yang berbed-beda. Dengan mengetahui kesalahan menyelesaikan suatu soal matematika akan dapat ditelusuri kesulitan dalam belajar fisika. Hasil belajar fisika adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari belajar dan penguasaan yang telah dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar. Hasil sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan. Berhubunga dengan adanya aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik yang penjabarannya begitu maka hasil belajar siswa dapat di uji dengan memberikan tes diagnostik. (Hernawati, 2. Salah satu cara untuk mengatasi berbagai kelemahan yang terjadi di SMA Negeri 1 Bambalamotu dalam hasil belajar siswa yang masih sangat minim dan untuk mengurangi terjadinya kesalahan konsep adalah dengan melakukan tes diagnostik yang dilanjutkan dengan remedial teaching. Tes diagnostik dirancang untuk mengetahui kesulitan belajar siswa, termasuk miskonsepsi yang dialami siswa. Hasil tes diagnostik dapat digunakan sebagai acuan penyelenggaraan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan Tes diagnostik yang baik dapat miskonsepsi yang dialami siswa berdasarkan informasi kesalahan yang dibuatnya. Pertanyaan diagnostik yang baik tidak hanya menunjukkan bahwa siswa tidak memahami bagian materi tertentu, akan tetapi juga pengembangan tes dapat menunjukkan bagaimana siswa berpikir dalam menjawa pertanyaan yang diberikan meskipun jawaban merekan tidak benar. Adapun tes diagnostik yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat yaitu tes yang memberikan pilihan jawaban dan alasan yang harus dipilih Melalui cara ini peneliti dapat mengetahui siswa yang menjawab benar dengan alasan yang benar dan siswa yang menjawab benar dengan alasan yang salah. Miskonsepsi yang diperoleh pada tes diagnostik dijadikan sebagai acuan untuk melakukan remedial teaching. Adapun remedial teaching atau remediasi dapat menjadi solusi untuk mengurangi kesalahan konsep siswa atau Karena remediasi atau remedial teaching merupakan kegiatan perbaikan yang Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online diarahkan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa dengan cara mengubah, memperbaiki atau memperjelas kerangka berpikir siswa agar dapat menguasai bahan pelajaran yang diberikan secara tuntus (Sutrisno, 1. Adapun siswa yang mengalami miskonsepsi dan melakukan remedial teaching yaitu dapat dilihat dari perolehan nilai yang tidak mencapai kriteria ketuntasan miniman (KKM). Dimana jika nilai yang diperoleh oleh siswa dibawah kriteria (KKM) miskonsepsi dan begitu pula jika siswa mendapatkan nilai di atas rata-rata maka dapat dikatakan siswa tersebut paham konsep atau tidak mengalami miskonsepsi. Vol. No. 3, pp. Desember Tes akhir merupakan tes evaluasi yang dilakukan secara remedial teaching selesai Tes akhir bertujuan untuk mengukur kemajuan siswa setelah dilakukan proses Remedial Teaching. Peneliti dapat menentukan kesalahan-kesalahan konsep siswa yang dapat Tes akhir berisi soal yang sama dengan tes awal. Teknik analisa data pada penelitian ini ialah teknik analisa data kualitatif dan Meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan data. Mereduksi data . ata reductio. Dalam penelitian ini, data yang direduksi adalah data hasil tes diagnostik. Reduksi data ini memfokuskan dan membuang data yang tidak dibutuhkan dari data-data yang terkumpul agar data yang didapat lebih terfokuskan untuk mendapat kesimpulan akhir penelitian. Penyajian data . ata displa. Data yang disajikan dalam penelitian ini adalah data dari hasil tes diagnostik sebelum dan sesudah remedial teaching dilakukan. Data Sedangkan data tambahan berupa persentase siswa paham konsep dan tidak memahami Verification . onclusion drawin. Verifikasi adalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh sehingga mampu menjawab pertanyaan penelitian dan tujuan Penarikan kesimpulan harus sesuai dengan tujuan penelitian. METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian pendekatan deskriptif. penelitian ini berupa studi kasus dimana peneliti mengadakan studi mendalam terhadap kesalahan konsep siswa serta memberikan perlakuan khusus sebagai bentuk bantuan untuk penanggulangannya. Siswa terlebih dahulu telah diberikan tes dengan menggunakan tes diagnostik guna untuk mendiagnosis apa dan dimana letak kesalahan konsep siswa dalam menyelesaikan masalah pada materi. Kemudian diberikan solusi untuk mengurangi kesalahan konsep siswa yaitu dengan pemberian remedial teaching. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Bambalamotu, kabupaten Pasangkayu. Sulawesi Barat Subjek keseluruhan subjek penelitian, populasi pada penelitian ini yaitu kelas XI MIPA 2 SMA Negeri Bambalamotu 2022/2023. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Identifikasi miskonsepsi sebelum remedial Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengumpulan data dengan menggunakan tekni tes, yaitu tes awal dan tes akhir. Tes awal Tes awal bertujuan untuk mengidentifikasi kesalahan konsep siswa. Hasil dari tes awal menjadi acuan untuk melakukan remedial Oleh karena itu, tes awal dibuat berbentuk tes diagnostik tipe Two Tier Multiple Choice atau pilihan ganda beralasan. Tes akhir Soal tes awal yang telah diberikan kepada siswa merupakan tes diagnostik tipe Two Tier Multiple Choice atau pilihan ganda beralasan sebanyak 10 butir soal tentang materi Suhu dan Kalor. Berdasarkan hasil analisis tes diagnostik diperoleh rata-rata persentase siswa yang paham konsep secara keseluruhan rata-rata miskonsepsi sebesar 42% dan siswa yang tidak paham konsep sebesar 32 %. Identifikasi Miskonsepsi setelah Remedial Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online konsep pada materi suhu dan kalor sebesar 42,0 % dimana sebelumnya sebesar 26,0% menjadi 68,5%. Siswa yang mengalami miskonsepsi mengalami penurunan sebesar 25,5% dimana sebelum remedial teaching sebesar 42,0% menurun menjadi 16,5% setelah diberikan remedial teaching. Begitu pula dengan siswa yang tidak paham konsep, terjadi penurunan sebesar 17% dari 32% menjadi 15% setelah mengikuti remedial teaching. Setelah miskonsepsi dengan memberikan tes akhir yang merupakan tes diagnostic two tier multiple choice yang sama seperti tes sebelumnya. Dan diperoleh persentase siswa yang paham konsep 68,5%, miskonsepsi menurun sebesar 16,5% serta siswa yang tidak paham konsep sebesar 15,91 Persentase miskonsepsi dan tidak paham konsep setelah remedial reaching. Perbandingan Identifikasi Miskonsepsi Sebelum dan Sesudah Remedial Teaching Berikut merupakan tabel perbandingan hasil sebelum dilakukan remedial teaching dan sesudah remedial teaching. Pada table 4. 3 dapat dilihat perubahan pemahaman konsep siswa Vol. No. 3, pp. Desember Pembahasan Berdasarkan hasil tes diagnostik yang telah dilakukan memperlihatkan bahwa sekitar 42% mengalami masalah miskonsepsi. Oleh karena itu, dilakukan remedial teaching untuk mengatasi masalah tersebut. Rencana alternatif dalam mengurangi miskonsepsi melalui remedial teaching yang diberikan mengacu pada profil Kategori miskonsepsi yang ditemukan dan diperkuat No. Indikator PK(%) M(%) TP(%) Soal dengan hasil wawancara yang dilakukan pada Menjelaskan beberapa siswa yang mengalami miskonsepsi. Konsep Suhu Hasil remedial teaching yang telah dilakukan Menjelaskan Konsep Kalor miskonsepsi siswa menurun menjadi 16,5% dan pemahaman konsep siswa meningkat Mengidentifikasi Perubahan menjadi 68,5%. Wujud Zat Pemahaman Konsep Siswa Setelah Remedial Mengidentifikasi Teaching Perpindahan Kalor Secara Siswa telah mengalami peningkatan Konduksi. Konveksi dan Radiasi Rata-Rata 68,5 42,0 16,5 32,0 15,0 Hal ini menunjukkan bahwa setelah apakah terdapat peningkatan pemahaman remedial teaching siswa yang mengalami miskonsepsi mengalami perubahan ketidakpahaman konsep siswa miskonsepsi menjadi paham konsep walaupun terjadi pada seluruh siswa. Tabel 1 perbandingan sebelum dan sesudah remedial Seluruh siswa tidak lagi mengalami miskonsepsi pada indikator menjelaskan konsep Suhu adalah ukuran energi kinetik rataKeterangan : P = Paham Konsep rata partikel dalam suatu benda, dimana SB = Sebelum temperatur atau suhu mempunyai ukuran energi TP = Tidak Paham Konsep kinetik yang terkandung dari tumbukan antar ST = Setelah partikel dalam suatu benda. Secara keseluruhan M = Miskonsepsi perubahan pemahaman Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat dengan konsep yang awalnya 20% menjadi 100%. jelas peningkatan pemahaman konsep siswa dan menunjukkan bahwa pada indikator ini seluruh penurunan tingkat miskonsepsi siswa serta Berdasarkan Tabel setelah diberikan remedial remedial teaching. teaching terjadi peningkatan pemahaman Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Pada indikator menjelaskan konsep kalor siswa masih mengalami miskonsepsi sebesar Pada konsep ada dua benda A dan B yang massanya sama. Bila kedua benda dipanaskan dengan sumber yang sama dan dalam waktu yang sama, ternyata benda A lebih cepat panas dari benda B. Benda yang mempunyai kalor jenis lebih besarlah yang lebih cepat panas yaitu benda A dikarenakan kalor jenis mempengaruhi kenaikan suhu benda, semakin besar kalor jenisnya makan besar kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhunya. Siswa tersebut, menjawab dengan benar namun, memberikan alasan yang tidak tepat, siswa beranggapan bahwa kalor jenis tidak mempegaruhi kenaikan suhu suatu benda. Miskonsepsi yang masih dialami siswa dapat terjadi karena siswa tidak mengikuti dan memperhatikan dengan baik selama proses remedial teaching berlangsung. Namun, secara keseluruhan pemahaman siswa meningkat pada konsep ini yang awalnya 15% menjadi 70%. Hal ini menunjukkan sebagian besar siswa telah mengalami perubahan miskonsepsi menjadi paham konsep setelah mengikuti remedial teaching. Selain itu pada indikator mengindentifikasi perubahan wujud zat beberapa siswa masih mengalami miskonsepsi yaitu sebesar 15%. Siswa menganggap bahwa air yang dipanaskan yang suhunya telah mencapai 100AeC jika dipanaskan secara terus meneruskan suhunya akan turun, dikarenakan kalor yang diterima air untuk menaikkan suhu sehingga zat cair berubah menjadi uap sehingga air jumlah air air akan berkurang dan mereka menyimpulkan bahwa suhu air yang dipanaskan secara terus menerus Namun pada kenyataannya bahwa jika air yang dipanaskan telas mencapai suhu 100AeC dan dipanaskan secara terus menerus suhu yang dimiliki air akan tetap, dikarena kalor yang diterima air yang mendidih tidak untuk menaikkan suhu lagi tetapi digunakan untuk mengubah wujud zat cair menjadi uap. Maka dari yang terjadi setelah air dipanaskan secara terus menerus yaitu jumlah dipanaskan telah berubah menjadi uap. Miskonsepsi yang dialami siswa disebabkan karena siswa tidak mengikuti pelaksanaan remedial teaching dengan baik. Namun secara keseluruhan pemahaman konsep siswa pada Vol. No. 3, pp. Desember konsep ini meningkat dari 20 % menjadi 70%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagaian besar siswa telah mengalami perubahan miskonsepsi menjadi paham konsep setelah mengikuti remedial teaching. Pada indikator mengidentifikasi kalor Kesalahan konsep yang terjadi indikator ini tidak melebihi di atas 50%. Namun pada soal nomor 9 tentang penyolderan komponen elektronika menggunakan timah merupakah salah satu contoh perpindahan kalor secara konduksi, konveksi radiasi atau konduktor, masih terjadi miskonsepsi sebesar 15% dimana siswa menganggap bahwa perpindahan kalor melalui perantara yaitu perpindahan kalor secara perpindahan kalor yang melalui perantara yaitu perpindahan secara konduksi. Namun secara keseluruhan pemahaman konsep meningkat yang awalnya 30% menjadi 75%. Hal ini menunjukkan bahwa pada indikator ini sebelum remedial teaching tidak mengalami miskonsepsi datas 50% dan setelah remedial teaching menunjukkan sebagian besar siswa telah mengalami perubahan miskonsepsi menjadi paham konsep. Dan pada soal nomor 10 mengalami perubahan pemahaman konsep dari 30% menjadi 65 % dan pada soal ini juga tidak mengalami miskonsepsi tinggi diatas 50%. Berdasarkan hasil tes diagnostik setelah pemberian remedial teaching dapat mengurangi kesalahan konsep atau miskonsepsi yang ada pada siswa serta meningkatkan pemahaman Selain miskonsepsinya tinggi, pemahaman konsep siswa juga meningkat pada soal-soal yang lain. Secara keseluruhan pemahaman konsep siswa mengalami peningkatan dan miskonsepsi siswa berkurang setelah diberikan remedial teahing. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data penelitian bahwa pemahaman konsep siswa SMA Negeri 1 Bambalamotu dikelas XI MIPA 2 pada materi suhu dan kalor mengalami peningkatan. Pada penelitian ini diperoleh peningkatan persentase setelah dilakukan remedial teaching secara Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako Online Model Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Fisika, 4. , 249Ae264. http://journal. id/index. php/jpf/article/vie w/303 . Kurniasih. , & Haka. Penggunaan tes diagnostik two-tier multiple choice untuk menganalisis miskonsepsi siswa kelas X pada materi archaebacteria dan eubacteria. Biosfer: Jurnal Tadris Biologi, 8. , . Masbur. Remidial Teaching Sebagai Suatu Solusi. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA. XII No. 2, 20. Metal. Sitompul. , & Mursyid. Penggunaan Conceptual Change Text Berbantuan Alat Peraga Untuk Meremediasi Miskonsepsi Materi Fluida Dinamis di SMA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 7. Mubarak. Susilaningsih. , & Cahyono. Pengembangan tes diagnostik three tier multiple choice untuk mengidentifikasi miskonsepsi peserta didik kelas xi. Journal of Innovative Science Education, 5. , 101-110. Mustakim. Zulfiani. , & Herlanti. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Dengan Menggunakan Metode Certainty of Response Index (Cr. Pada Konsep Fotosintesis Dan Respirasi Tumbuhan. Edusains, 6. https://doi. org/10. 15408/es. Putri. Aminah. , & Surantoro. Fisika Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) pada Materi Suhu dan Kalor Siswa SMA Kelas X Di SMA Negeri 6 Surakarta : Seminar Nasional Fisika 189Ae194. https://jurnal. id/index. php/prosfis1/article /view/7766https://jurnal. id/index. p/prosfis1/article/viewFile/7766/5697 . Ridwan. , & Jauhari. Pengaruh Remedial Teaching Terhadap Hasil Belajar Fisika. JPF (Jurnal Pendidikan Fisik. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 7. , 109-113. Rusilowati. Septembe. Pengembangan tes diagnostik sebagai alat evaluasi kesulitan belajar In PROSIDING: Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika (Vol. No. ]SAMANI. Moh Israwan N. PETTALONGI. Adawiyah. NUR. Rizka Fadliah. Efektivitas Pembelajaran Remedial Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Ips Di Mts Negeri 1 Palu. Moderasi: Jurnal Studi Ilmu Pengetahuan Sosial, 2022, 3. 1: 2838. Sholihat. Samsudin. , & Nugraha. Identifikasi miskonsepsi dan penyebab miskonsepsi siswa menggunakan four-tier diagnostic sub-materi Jurnal Penelitian Pengembangan Pendidikan Fisika, 3. , 175-180. Sinaga. , & I Dewa Putu Nyeneng. Pengaruh Remedial Teaching Terhadap Hasil Belajar Fisika. Jurnal Pendidikan Fisika UIN Alauidin Makasar, 7. Wahidah S. Kusairi. , & Zulaikah. Diagnosis Miskonsepsi Siswa SMA di Kota Malang pada Konsep Suhu dan Kalor Menggunakan Three Tier Test. Jurnal Pendidikan Fisika Dan Teknologi, 2. , 95Ae105. https://doi. org/10. 29303/jpft. keseluruhan pemahaman konsep mengalami peningkatan menjadi 68,5%, untuk kriteria tidak paham konsep mengalami penururan yaitu menjadi sebesar 15%, serta siswa yang penurunan menjadi 16%. Kemudian dari keempat indikator ada 3 soal yang memperoleh paham konsep yang tertinggi yaitu terdapat pada soal nomor 1, 2 dan 5. Hal ini menunjukkan bahwa remedial teaching dapat mengurangi kesalahan konsep atau miskonsepsi yang terjadi pada siswa dan juga dapat meningkatkan pemahaman konsepsi siswa. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah : Bagi guru, untuk menghindari miskonsepsi terhadap pengetahuan siswa, sebaiknya menentukan metode pembelajaran yang tepat agar siswa paham akan materi yang dibahas. Pada saat pembelajaran konsep suhu dan kalor, sebaiknya siswa mempraktikkan langsung jika konsep tersebut berupa proses. Bagi siswa, siswa diharapkan lebih aktif dalam pembelajaran dan hendaknya siswa memiliki pengetahuan awal terkait materi yang henda akan dibahan dengan mencari tahu dengan mempelajari lebih dulu terkait materi yang akan dibahas. Bagi peneliti agar dapat dijadikan referensi sebagai bahan dan masukan untuk melakukan penelitian sejenis, terutama yang berkaitan dengan pemahaman konsep siswa pada materi suhu dan kalor yang menggunkan tes diagnostik two tier multiple choice test. DAFTAR PUSTAKA