DAWUH DaAowah & Education Journal Modernisasi Melunturkan Kepercayaan Masyarakat Suku Jawa Yang Mengarah Pada Kehidupan Sekuler Fadhillatu Jahra Sinaga1. Fadhlin Ade Chandra2 Program Pascasarjana Pendidikan Dasar Universitas Negeri Medan. Sumatera Utara. Indonesia12 fadhillasinaga8@gmail. com1, fadhlincandra@gmail. Abstract The rapid development of modernization towards the flow of technological advances makes the Javanese tribal society gradually eliminate mystical beliefs so that religious rituals are rarely carried out except for the royal family who still carry out these religious rituals. A life that puts the world first is secular. At first, many Javanese people believed in ancestral customs, although basically the Javanese people had religion, such as witchcraft, wangsit and other mystical things. Javanese society prioritizes harmony and respect as an effort to maintain the harmony of life "the principle of conflict The self-identity that is formed is expressed through thoughts and actions that are total, grounded and However, in connection with the development of the times, the customs regarding these beliefs began to fade due to the development of the times and the world of education so that currently the number of public presentations who have a perception of the truth of these customs has been much reduced. Keywords: Modernization. Belief. Javanese. Secular. Abstrak Pesatnya perkembangan modernisasi terhadap arus kemajuan teknologi membuat masyarakat suku Jawa sedikit demi sedikit menghilangkan kepercayaan mistis sehingga yang terjadi upacara ritual keagamaan jarang kali dilakukan kecuali keluarga keraton yang masih melaksanakan upara ritual keagamaan tersebut. Kehidupan yang mengutamakan dunia adalah sekuler. Masyarakan suku Jawa pada awalnya banyak yang mempercayai kebiasaan kebiasaan leluhur walaupun pada dasarnya masyarakat suku Jawa tersebut memiliki agama, seperti halnya santet, wangsit dan hal mistis lainnya. Masyarakat Jawa mengutamakan rukun dan hormat sebagai upaya menjaga keselarasan hidup Auprinsip pencegahan konflikAy. Identitas diri yang terbentuk diungkapkan melalui pikiran dan perbuatan yang total, berlandasan dan beralasan. Namun sehubungan dengan berkembangnya zaman kebiasaan-kebiasaan tentang kepercayaan tersebut mulai memudar sebab berkembangnya zaman dan dunia pendidikan sehingga saat ini jumlah presentasi masyarakat yang memiliki presepsi tentang kebenaran kebiasaan tersebut sudah jauh berkurang. Kata Kunci: Modernisasi. Kepercayaan. Suku Jawa. Sekuler. 70 | Dawuh : Vol. No. Juli 2021 PENDAHULUAN Naquib . istilah sekuler berasal dari kata latin saeculum yang mempunyai dua konotasi waktu dan lokasi. Waktu menunjukkan kepada pengertian sekarang atau kini dan lokasi menunjukkan kepada pengertian dunia atau duniawi. Jadi saeculum berarti zaman sekarang atau masa kini. Hal ini menunjukkan kepada peristiwa-peristiwa di dunia ini pada masa kini atau zaman sekarang. Tekanan makna diletakkan dalam suatu waktu atau periode tertentu di dunia yang dipandang sebagai proses sejarah. Dalam buku Maksun disebutkan bahwa konotasi ruang dan waktu dalam konsep sekuler itu secara historis terlahir di dalam sejarah Kristen Barat. Pertengahan abad di Barat secara politik telah terjadi langkah-langkah pemisahan antara hal-hal yang menyangkut masalah agama dan non agama . idang sekule. Sebagaimana langkah awal di Barat sedikit demi sedikit urusan keduniawian memperoleh kemerdekaan dari pengaruh gereja. Dalam perkembangannya pengertian sekuler pada abad ke-19 diartikan sebagai kekuasaan, bahwa gereja tidak berhak untuk ikut campur dalam bidang politik, ekonomi dan ilmu pengetahuan. Dalam kamus kontemporer sekuler diartikan berkenaan dengan keduniawian dan tidak diabadikan untuk kepentingan agama. Atas dasar inilah maka sekuler menjadi semacam pertentangan antara masalah agama dan non agama, atas dasar ini pula maka semua hal dapat dipertentangkan dengan agama, kehidupan yang suci dipertentangkan dengan yang tidak suci (Naquib, 1. Sehingga sekuler nampak menjadi semacam benteng pemisah antara kehidupan dunia dan agama. Masyarakat Jawa dalam kehidupan sekuler mengklaim bahwa mereka memperlakukan semua kebudayaan serta keberagamaan sederajat, meskipun banyak sekali kebudayaan pada masyarakat Jawa serta agama mereka berbeda-beda, dan juga menyatakan tidak melakukan diskriminasi terhadap penduduk beragama tertentu. Kesadaran akan kehidupan sekuler ini menjadi suatu budaya yang akan mengubah pola pikir masyarakat tentang adanya pemisahan antara masyarakat dengan adat istiadat setempat. Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang Namun dalam perilaku keseharian, mereka masih mempercayai hal-hal yang mistis seperti halnya santet dan jenis mistis yang mampu merusak kehidupan seseorang dengan mengirimkan berupa penyakit, kehancuran rumah tangga hingga kematian (Herniti, 2. Para masyarakat suku Jawa juga sebagian besar menyakini adanya wangsit. Wangsit sering pula di istilahkan dengan ilham, petunjuk, sabda, tuntunan, dhawuhAo perintahAo, atau wisikAo bisikanAo gaib dari Tuhan Yang Maha Esa (Herniti, 2. Sekularisme adalah pemusatan pikiran pada dunia materi lebih banyak dari pada dunia spiritual. Masyarakat sekular hanya memikirkan kehidupan dunia dan benda-benda materi (Ismail. Sekularisme secara etimologi berasal dari kata seaculum . ahasa lati. , dengan arti dua konotasi waktu dan ruang, waktu menunjukkan pada sekarang atau kini sedangkan ruang menunjuk kepada pengertian dunia atau duniawi. Sekularisme juga memiliki arti fashluddin Aoanil haya yaitu memisahkan peranan agama dari kehidupan, berarti bahwa agama hanya mengurusi hubungan antara individu dengan penciptanya saja (Kasmuri, 2. Maka dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa orang yang sekuler adalah orang yang mementingkan dunia saja dan menyampingkan akhirat. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat Jawa yang percaya akan wangsit dan jenis mistis lainnya dan menjadikan itu sebagai budaya dari nenek moyang masyarakat Jawa dapat berakibat fatal jika kesalahan dalam pandangan mengenai hal tersebut. Namun dengan mulai berkembangnya zaman sehubungan semakin modern dan majunya pendidikan yang di dapatkan menjadi tolok ukur bagi masyarakan Jawa dengan memilah mana kebiasaan-kebiasaan lama yang salah dengan dilihat dari sudut pandang agama dan firman Tuhan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sesuai dengan objek kajian maka penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kepustakaan . ibrary researc. (Moleong, 2. Berdasarkan studi literatur pada tinjauan pustaka, maka dibentuklah pertanyaan penelitian yaitu . apa yang dimaksud dengan sekuler, . bagaimana keberagaman masyarakat suku Jawa, . bagaimana perkembangan modernisasi masyarakat suku Jawa. Fadhillatu Jahra Sinaga, dkk : Modernisasi Melunturkan Kepercayaan Masyarakat A | 71 HASIL DAN PEMBAHASAN Sekuler Sekulerisme banyak dipahami sebagai ideologi yang memisahkan agama dari dunia. Dalam peradaban Barat, sekulerisme menjadi pandangan hidup dan ruh bagi dinamikanya, khususnya ketika gereja mulai menunjukkan problematika teologisnya. Hal itu karena manusia modern percaya bahwa dalam sekulerisme terdapat kesesuaian dengan watak zaman yang selalu berubah dan juga kebebasan yang menjamin kemajuan serta perkembangan kehidupan. Doktrin yang pada awalnya lahir dan berkembang di Barat ini, tanpa disadari kini telah masuk ke dalam hampir seluruh ranah kehidupan masyarakat umat Islam. Agama yang pada dasarnya digunakan untuk membimbing manusia kepada kebaikan, kini dimarginalkan hanya dalam ranah agama saja, sehingga kehidupan sosial tidak lagi bersandar dan bergantung pada nilai-nilai agama. Hal ini menyebabkan etika, ilmu, moral, nilai, dan bahkan kebenaran hanya berdasarkan pertimbangan manusia, atau berdasarkan kesepakatan bersama tanpa melibatkan peran wahyu. Sehingga, tidak lagi mementingkan keberadaan Tuhan, dalam artian tidak ada lagi campur tangan Tuhan di dalamnya. Maka secara praktis sudah anti Tuhan, atau disebut juga dengan practical atheism. Mengingat dampak yang timbul dari doktrin sekulerisme ini sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat dan demi terbentuknya suatu tatanan masyarakat yang Islami, maka dalam jurnal singkat ini akan dipaparkan problem-problem yang terkandung dalam doktrin sekulerisme beserta dampak-dampak yang timbul dari penerapan doktrin ini. Dalam hal ini, penulis berusaha untuk menganalisa pemikiran Harvey Cox, serta membandingkannya dengan konsep-konsep yang ada dalam Islam. Sekuler mulai mendunia ketika Harvey Cox menulis pada sebuah buku yang berjudul AuThe Secular cityAy pendapat Cox mengatakan sekularisasi adalah akibat logis dari dampak kepercayaan Bible terhadap sejarah (Munawar, 2. Kemudian Cox juga berpendapat bahwa sekularisasi adalah pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari dunia lain menuju dunia kini. Sekularisme adalah kata yang berasal dan berkembang di Eropa jika dilihat dari pandangan Barat untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan sekularisme yaitu sesungguhnya sekularisme diterjemahkan menjadi Al-Ilmaniyah adalah terjemahan yang menipu, mereka beralasan bahwa kalimat tersebut mempunyai hubungan dengan ilmu tetapi sebernarnya tidak ada hubungan dengan ilmu karena artinya menurut orang barat adalah membangun dunia dan agama secara keseluruhan (Ismail, 2. Jelas sudah dari beberapa sumber diatas seseorang yang dianggap sekuler adalah menjauhkan agama, atau memisahkan kehidupan dunia dengan agama. Masyarakat Suku Jawa Sampai masa terakhir ini, kebudayaan Jawa tak lepas dari para pemerhatinya (Melalatoa. Masyarakat suku Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini diatur oleh Yang Maha Kuasa sedemikian rupa, sehingga tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu (Herusatoto, 2. Orang Jawa dapat melakukan identifikasi 5 kekuatan karakter utama, yaitu berterima kasih, kebaikan, kependudukan, keadilan, dan integritas terhadap dirinya sendiri sehingga secara tidak langsung akan mendorong pembentukan citra diri yang positif dan dapat mengikis stereotip negatif pada orang. Masyarakat suku Jawa dikenal sebagai masyarakat yang religius namun dalam perilaku keseharian, mereka masih mempercayai hal-hal yang mistis contohnya adalah kepercayaan terhadap santet dan disamping itu juga mereka percaya adanya wangsit (Herniti, 2. Wangsit sering di istilahkan dengan ilham, petunjuk, sabda, tuntunan, perintah, atau wisik, bisikan gaib dari Tuhan Yang Maha Esa. Orang Jawa kebanyakan masih banyak melakukan ritual-ritual terhadap ruh, benda-benda magis dan juga tempat-tempat dianggap mempunyai kekuatan (Kinasih, 2. Kepercayaan terhadap roh sistem kepercayaan ini telah berkembang pada masa manusia prakarsa. 72 | Dawuh : Vol. No. Juli 2021 Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain diluar mereka maka dari itu mereka berusaha mendekatkan diri dengan kekuatan tersebut dengan cara mengadakan berbagai upacara, seperti pemujaan, pemberian sesaji atau upacara ritual lainnya. Kepercayaan-kepercayaan yang salah tersebut sudah mulai pudar sehubungan berkembangnya zaman dan pendidikan sehingga saat ini publikasi tentang suku Jawa yang seharusnya bagaimana sudah dapat lebih dipahami baik masyarakat jawa maupun masayarakat lain yang berpandangan tentang suku Jawa. Menjadi orang Jawa adalah menjadi berbudaya (Mulder, 2. Mengartikan bahwa mengetahui cara-cara beradab dan sepenuhnya sadar akan posisi sosial. Seorang Jawa yang diakui adalah sosok yang tahu tatanan. Bagi orang Jawa budaya bukanlah suatu pengertian antropologi yang kabur. Budaya mengandung makna menjadi beradab, dengan kata lain bijaksana, menyadari diri, tempat, dan tata cara menyadari diri dan orang lain. Modernisasi Suku Jawa Modernisasi pada akhirnya menjadi kebutuhan masyarakat dengan semangkin tingginya diferensiasi sosial dalam kuatnya pesona ekonomi mengatasi bidang kehidupan lainnya (Pitana. Masyarakat Jawa meyakini bahwa antara AuwadahAy dengan AuisiAy diperlukan adanya keseimbangan, kesejajaran, bahkan keterpaduan sehingga tercipta ketentraman batin, kesejahteraan dan kemakmuran dalam hidup dan kehidupan (Mangunjiaya, 1. Masyarakat Jawa mengutamakan rukun dan hormat sebagai upaya menjaga keselarasan hidup Auprinsip pencegahan konflikAy. Identitas diri yang terbentuk diungkapkan melalui pikiran dan perbuatan yang total, berlandasan dan Kebudayaan jawa termasuk kebudayaan yang telah banyak mendapat pengaruh dari berbagai kebudayaan, seperti kebudayan Hindu. Budha. Islam dan Eropa. Dulu masyarakat Jawa masih percaya pada hal yang gaib, percaya pada hari baik atau naas, percaya pada hari kelahiran atau weton, dan lain-lain. Adanya berbagai kepercayaan tersebut, maka dilaksanakan upacaraupacara selametan untuk tolak balak atau agar tidak tertimpa musibah. Suku jawa juga memiliki berbagai kesenian daerah misalnya bentuk rumah adat, seni tari, seni tembang, dan pakaian adat Suku jawa sangat terkenal dengan batik. Batik dianggap masyarakat sebagai warisan budaya yang mahal sehingga banyak instansi-instansi pemerintah dewasa ini mulai banyak yang menggunakan batik sebagai seragam resmi pada hari-hari tentu dan jumlahya semakin meningkat dari tahun ke tahun. Lajunya arus perkembangan teknologi dan modernisasi membuat manusia semakin mudah dalam melakukan segala akitivitas, namun dibalik kemajuan ini memberikan dampak-dampak yang sangat terasa. Dampak modernisasi terhadap sistem kepercayaan suku jawa cukup memberikan Masyarakat Jawa yang dahulu rajin mengadakan upacara-upacara adat, seiring perkembangan zaman hal itu jarang dilakukan. Hanya keluarga keraton dan sebagian kecil masyarakat Jawa yang masih melakukannya. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan pola pikir mereka yang sebagian sudah maju, bahwa jika tidak melaksanakan upacara atau ritual adat tidak akan terjadi apa-apa. KESIMPULAN Kehidupan yang mengutamakan dunia adalah sekuler. Masyarakan suku Jawa pada awalnya banyak yang mempercayai kebiasaan kebiasaan leluhur walaupun pada dasarnya masyarakat suku Jawa tersebut memiliki agama, seperti halnya santet, wangsit dan hal mistis lainnya. Namun sehubungan dengan berkembangnya zaman kebiasaan-kebiasaan tentang kepercayaan tersebut mulai memudar sebab berkembangnya zaman dan dunia pendidikan sehingga saat ini jumlah presentasi masyarakat yang memiliki presepsi tentang kebenaran kebiasaan tersebut sudah jauh berkurang. Pesatnya perkembangan modernisasi terhadap arus kemajuan teknologi membuat masyarakat suku Jawa sedikit demi sedikit menghilangkan kepercayaan mistis sehingga yang terjadi upacara ritual keagamaan jarang kali dilakukan kecuali keluarga keraton yang masih melaksanakan upara ritual keagamaan tersebut. Fadhillatu Jahra Sinaga, dkk : Modernisasi Melunturkan Kepercayaan Masyarakat A | 73 DAFTAR PUSTAKA