ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 1 (Juni, 2. : 99-121 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua,1 Margaretha Martha Anace Apituley2* 1, 2. Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Maluku * Corresponding Author Email: margarethapituley@gmail. Submitted: 20-02-2024 Accepted: 25-06-2024 Published: 27-06-2024 Abstract Giving a negative perspective to other groups today is an action that can often be found. This is also the case for the people of Papua, especially Aitinyo. Southwest Papua. The text Exodus 1:1-22 is one of the texts that illustrates a similar problem. Starting from these two problems, this paper is made to examine the ideology of Exodus 1:1-22 and dialogue it with the present context. The process of interpretation is done by using the method of ideological criticism from the perspective of indigenous people. In the analysis conducted, it is known that the one-sided depiction of the group is also displayed by the author of Exodus 1:1-22. Where the author of the text describes Egypt as the perpetrator of violence in his narrative for the sake of each group of writers. All the historical data that can be collected then provides an important understanding to fight for justice and improve the perspective of Egypt and Aitinyo. Keywords: Egypt. Aitinyo. Justice. Indigenous People. Ideological Criticism. Abstrak Memberikan sudut pandang negatif terhadap kelompok lain pada masa kini merupakan tindakan yang sering sekali dapat dijumpai. Kasus serupa juga terjadi bagi masyarakat Papua secara khusus Aitinyo. Papua Barat Daya. Teks Keluaran 1:1-22 merupakan salah satu teks yang menggambarkan masalah yang serupa. Bertolak dari kedua masalah ini maka tulisan ini dibuat untuk mengkaji ideologi Keluaran 1:1-22 dan mendialogkannya dengan konteks masa kini. Proses penafsiran yang dilakukan ialah dengan menggunakan metode kritik ideologi dengan perspektif masyarakat pribumi. Dalam analisis yang dilakukan, diketahui bahwa penggambaran kelompok secara sepihak juga ditampilkan oleh penulis teks Keluaran 1:1-22. Dimana penulis teks menggambarkan Mesir sebagai pelaku kekerasan dalam narasinya demi kepentingan masing-masing kelompok penulis. Dari seluruh data historis yang dapat dikumpulkan kemudian memberikan suatu pemahaman penting untuk memperjuangkan keadilan dan memperbaiki sudut pandang bagi Mesir dan Aitinyo. Kata-kata Kunci: Mesir. Aitinyo. Keadilan. Masyarakat Pribumi. Kritik Ideologi. @ Copyright: Authors 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Keadilan adalah sesuatu yang didambakan oleh semua manusia di muka bumi ini. Keadilan seringkali dipertentangkan dengan ketidakadilan. Adam Smith, yang dikutip oleh Sonny Keraf menegaskan bahwa Autindakan adil terhadap sesama adalah jika seseorang dapat menahan diri untuk tidak merugikan orang lain dan tidak melukainya secara tidak langsung baik menyangkut kepribadiannya, kepemilikannya dan juga reputasinya. Ay1 Gagasan ini mengandung makna keadilan sebagai suatu tindakan yang tidak merugikan sesama dalam berbagai sisi. Keadilan dalam perspetik biblis tidak dapat dipisahkan dari perosalan sosial manusia pada satu sisi, tetapi pada sisi lain juga bergantung dari relasi kekuasaan yang dimiliki manusia, yang sesungguhnya berasal dari Allah. Teks Keluaran 1:1-22 dijabarkan dengan peristiwa yang cukup menyedihkan bagi para pembacanya, karena kekejaman Firaun sebagai penguasa Mesir. Secara tidak langsung penulis mengantarkan para pembaca untuk membentuk opini negatif terhadap bangsa Mesir tanpa ada bukti historis yang akurat, sehingga sebagai pembaca harfiah tentu akan mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh Mesir dalam teks ini. Memang hubungan Mesir dengan Israel di masa lampau tidak terlalu harmonis dan hal itu digambarkan dalam beberapa pasal dan ayat dalam Alkitab seperti pada teks Kejadian 12:10-20. 2Tawarikh 12:1-16. 2Tawarikh 35:20-27, dan seterusnya. Tetapi di tengah sejarah kelam itu. Mesir juga punya andil yang besar bagi kehidupan orang Israel di masa lampau. Sangat disadari bahwa Alkitab bukan buku sejarah yang memuat sejarah bangsa-bangsa secara lengkap sebagaimana yang ditemukan dalam buku-buku dan pengetahuan sejarah yang ada pada masa kini. Meskipun demikian, adanya sejarah yang dibentangkan di dalam Alkitab telah merekonstruksi sebuah sejarah yang tidak adil bagi Mesir dan diwarisi hingga kini. Teks Keluaran 1:1-22 dituliskan oleh tiga sumber berbeda yakni sumber Y, sumber E dan sumber P yang tentunya dengan latar belakang kebutuhan berbeda. 3 Ketidakadilan yang digambarkan penulis teks ini sudah menyangkut reputasi bangsa Mesir, dimana penulis hanya menuliskan teks Keluaran 1:1-20 berdasarkan kepentingan penulis dan Sonny Keraf. Pasar Bebas Keadilan dan Peran Pemerintah: Telaah atas Etika Politik Adam Smith, (Yogyakarta: Kanisius, 1. , hlm, 111. Juliana A Tuasela. AuThe Dynamic of Power Relationship in Judges 16:1- 22 and Its Relevance in the Indonesian Context,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama Vol 4, no. : 81Ae97, https://ojs. id/index. php/arumbae/article/view/797. Norman K. Gottwald. The Hebrew Bible a Socio-Literary Introduction, (United States of America: Fortress Press, 1. , hlm 183-187. Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley mengesampingkan kebenaran dan fakta-fakta historis tentang Mesir dan berbagai kisah Dalam dunia modern ketidakadilan sering sekali terjadi dan terbungkus rapi dengan hukum-hukum yang hanya dibuat namun tidak direalisasikan dengan baik, hal ini yang juga sering digunakan menjadi kacamata orang awam yang justru mempersalahkan orang-orang yang bersuara untuk menuntut keadilan. Sudut pandang seperti ini yang harus dikritisi dan direkonstruksi agar tidak menyudutkan pihak yang akhirnya dirugikan karena harus Contoh konkrit masalah ketidakadilan adalah pemberontakan OPM (Organisasi Papua Merdek. yang terjadi di Papua, dimana berdasarkan hasil wawancara penulis dengan salah satu tokoh masyarakat Papua yang berpihak kepada OPM beliau mengatakan Aukami sebagai masyarakat Papua sering menjadi budak di tanah kami sendiri. Banyak pendatang yang justru lebih berperan dalam berbagai aspek penting di sini, bukan hanya itu ada juga yang dengan kejamnya mengeksploitasi tanah kami membakar habis hutan yang menjadi tempat tinggal leluhur kami menggali tanah kami demi kepentingan mereka. Saya sendiri berpihak untuk memperjuangkan kemerdekaan di Papua karena percuma kami merdeka dengan Indonesia namun Indonesia tidak memerdekakan kami di tanah kami sendiri. Padahal kami juga memiliki SDM yang memadai, kami juga menyekolahkan anak-anak kami di tanah orang namun ternyata mereka juga sering mengalami diskriminasi. Ini tidak adil bagi kami. Kalaupun bisa dilihat wali kota, gubernur, bupati di daerah kami adalah orang Papua asli tapi orang-orang di belakangnya bukanlah orang asli, mereka berpihak kepada pendatang demi jabatan dan membiarkan kami menjadi budak di tanah kami. Tidak heran kalau kelompok kami memberontak untuk mendapatkan keadilan bagi anak dan cucu kami kedepannya. Ay Aitinyo adalah suatu distrik di Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat Daya. Penduduk di daerah ini sebagian besar adalah orang asli Papua dan sebagian kecil adalah para pendatang dari wilayah lain dari Indonesia. Jika dibandingkan dengan para pendatang perekonomian para pendatang yang ada di Aitinyo dapat dikatakan lebih berkecukupan dibandingkan dengan masyarakat asli. Hal ini disebabkan karena para pendatang mengambil pekerjaan yang tetap dan memperoleh gaji setiap bulannya dan juga berbagai tunjangan, hal lainnya ialah para pendatang juga berwirausaha di wilayah ini sehingga dari segi perekonomian para pendatang lebih unggul dari penduduk asli yang sebagian besar Aitinyo. Maybrat - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, diaskes tanggal 18 Maret 2023. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. pekerjaannya sebagai petani, peternak, buru kasar, pedagang kaki lima dan lain 5 Ketidakadilan yang terjadi ini menjadi alasan mengapa banyak orang Papua yang tergabung dalam kelompok yang dikatakan pemberontak dimana mereka ingin memperjuangkan hak mereka di atas tanah mereka sendiri dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Papua melalui hasil alam mereka. Namun hal ini sering dinilai terlalu negatif karena aksi yang mereka lakukan cenderung anarkis dan memakan korban jiwa, menurut mereka tindakan anarkis yang mereka buat ini bukan tanpa alasan, melainkan mereka secara berulang kali memperjuangkan keadilan dengan cara mediasi namun selalu tidak digubris dan ditindaklanjuti oleh pemerintah contohnya seperti kasus perusahan sawit yang membabat ratusan hektar hutan di Papua, menggali tanah Papua untuk mendapatkan emas dan meninggalkan orang Papua tetap menjadi budak di tanah mereka sendiri sampai sekarang masalah-masalah belum terselesaikan dengan baik dan merugikan sebagian besar masyarakat Papua. Ini adalah bukti kasus besar yang menjadi alasan hadirnya kaum pemberontak di Papua yang kita kenal sebagai OPM (Organisasi Papua Merdek. selain itu banyak bukti kecil lainnya yang juga menjadi bukti ketidakadilan yang dilakukan para pendatang sehingga menimbulkan sikap primordial orang Papua yang berujung anarkis dan merugikan orang lain. Primordialisme yang terjadi oleh bangsa Mesir dan dikaitkan dengan realitas orang Papua cukup sama fenomenanya, hanya saja Alkitab tidak menggambarkan secara jelas latar belakang mengapa bangsa Mesir menetapkan kebijakan-kebijakan yang cukup kejam bagi orang Israel sebagai para pendatang. Dengan demikian yang orang awam ketahui bahwa Allah hanya akan berpihak kepada para pendatang yang dalam hal ini adalah Israel karena mereka adalah korban dari kebijakan-kebijakan negatif yang dilakukan oleh pribumi dan sebaliknya Allah menentang Mesir karena telah merugikan orang Israel, lalu bagaimana dengan sifat Allah yang universal. Primordialisme terjadi karena adanya pemahaman mengenai pribumi dan non pribumi yang telah berkembang di Indonesia sejak zaman Kolonialisme dimana kata pribumi berasal dari sejarah pengklasifikasian yang dilakukan oleh pihak Belanda pada masa kolonialisasi dimana Belanda membagi manusia yang menetap di wilayah Nusantara kedalam tiga bagian yakni pribumi . , orang Eropa (Europeanen Timur . ther Maria Melani Way. AyStratifikasi Sosial Pada Suku Ayamaru Di Distrik Aitinyo TengahAy. Papua Journal of Sociology. Vol. No. , hlm, 14 Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley foreign easterner. 6 Seiring waktu istilah ini tidak diperbolehkan untuk digunakan karena konotasinya yang bertolak belakang dengan nilai Pancasila, dalam hal ini istilah pribumi secara sadar telah memberikan perbedaan dalam masyarakat sehingga ini dianggap negatif. Namun hingga saat ini istilah ini masih juga digunakan untuk menggambarkan identitas masyarakat asli di suatu wilayah tertentu, hal ini tentu dengan tujuan yang sama yakni membedakan penduduk asli di suatu wilayah dan para pendatang. Penulis dengan sadar menyandingkan Mesir dan Papua dalam tulisan ini, terlepas dari kekuatan Mesir sebagai suatu negara yang besar pada masanya dan Papua yang adalah salah satu wilayah kecil di Indonesia. Penulis melihat sudut pandang orang awam kepada Mesir dan Papua, yang dimana dua kelompok ini dipandang negatif oleh sebagian besar orang. Sudut pandang seperti inilah yang kemudian menjadi kegelisahan penulis untuk menelusuri fakta-fakta dari kedua kelompok ini. Dengan adanya fakta-fakta secara historis kemudian dapat menjadi terobosan baru bagi penulis dan pembaca untuk melihat kebenaran yang ditutupi selama ini, dan melihat kelompok-kelompok yang selama ini dinilai negatif dengan suatu kebenaran yang dapat memberikan keadilan bagi mereka. Dengan ditutupi kebenarankebenaran tertentu kemudian menjadi peluang bagi oknum-oknum tertentu untuk memberikan sudut pandang negatif dan diksriminatif bagi dua kelompok ini secara khusus. Artikel ini juga tidak bermaksud untuk membenarkan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Mesir dan Papua pada konteks masing-masing. Melainkan kemudian menunjukan kebenaran secara historis agar mematahkan stereotipe kedua kelompok ini pada konteks masing-masing yang hanya menyalahkan tanpa melihat kelompok lain yang sebenarnya juga adalah pelaku-pelaku kejahatan, serta hal ini bertujuan menjadi bahan refleksi bahwa tidak selamanya kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. METODE PENELITIAN Metode yang akan dipakai penulis ialah penelitian Pustaka dengan menggali beragam literatur dari berbagai sumber yang terkait penafsiran kitab Keluaran dan konteks ketidakadilan di Aitinyo. Dalam menganalisis masalah penelitian, penulis menggunakan metode kritik Ideologi terhadap teks Alkitab, maka akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap produksi teks oleh penulis yang bekerja dalam suatu konteks sejarah. Thomas B. Pepinsky. AuColonial Migration and the Origin of Governance. Theory and Evidence from JapanAy. Journal of Comparative Political Studies. SAGE Publication. California. Vol. No. 9a, . , hlm, 1210. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. reproduksi ideologi dalam teks tersebut dan konsumsi teks oleh para pembaca yang ada pada situasi sosial yang berbeda. 7 Penulis juga menggunakan tahapan Kritik Ideologi yang ditawarkan oleh Gale A. Yee yakni dengan memperhatikan unsur ekstirinsik dan intrinsik dari teks agar penguraiannya terstruktur dan mudah dimengerti. 8 Dalam analisis yang saya lakukan saya mencoba untuk menggabungkan seluruh metode dari Yee menjadi narasi yang HASIL DAN PEMBAHASAN Mesir Dalam Tulisan Keluaran 1:1-22 dan Konteks Historisnya Secara umum kitab Keluaran terdiri atas bagian dimana bagian pertama terdiri dari pasal 1-15 yang mengisahkan tentang kelepasan bangsa Israel dari Mesir dan bagian kedua yang terdiri dari pasal 16-40 yang mengisahkan tentang Wahyu (Penyataa. Allah selama perjalanan bangsa Israel menuju ke tanah yang dituju. 9 Kitab Keluaran secara keseluruhan membahas mengenai bagaimana orang Israel diperbudak di Mesir hingga pembebasan yang dilakukan oleh Musa sebagai kaum keturunan asli Israel yang diadopsi oleh Putri Firaun. Teks Keluaran 1:1-22 dituliskan oleh tiga sumber yang berbeda yakni sumber Y (Kel 1:812, . , sumber E (Kel 1:15-. dan sumber P . :1-7, 13-. tentunya dengan latar belakang konteks dan kepentingan yang berbeda. Sumber Yahwist berasal dari masa raja Daud yang diperkirakan sekitar 11-10 SM, dapat dikatakan bahwa ini merupakan masa kejayaan Israel raya yang juga disebutkan sebagai Aumasa keemasan. 11 Para penulis yang berasal dari Istana Daud disebut sebagai Y . umber Y). Penulis Y bisa jadi adalah kelompok imam di bawah pemerintahan Daud, salah satunya adalah Abyatar seorang Silo yang secara teoritis adalah keturunan Musa. Meskipun demikian, ada juga perdebatan lainnya yang mengatakan bahwa penulis sumber Y adalah seorang diri yakni Seraya atau Seya yang disebutkan dalam daftar nama pada 2 Margeretha Martha Anace Apituley. AuHermeneutik Kontekstual:Sebuah Konstruksi Berdasarkan Filsafat Hermeneutik Modern,Ay ARUMBAE: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama 2, no. Gale A Yee. AuKritik IdeologiAy, dalam J. Hayes. Dictionary Of Biblical Interpretation, (USA: Abingdon Press, 1. , hlm, 535. Blommendaal. Pengantar Kepada Perjanjian Lama, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , hlm. Norman K. Gottwald. The Hebrew Bible a Socio-Literary Introduction. , hlm 183-187. Lamberty Yahya Mandagi. AuKeesaan Yahweh (Tuha. dalam Kitab KejadianAy. CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika. Vol. No. , hlm 220. Robert Coote & David Robert Ord. Pada Mulanya: Penciptaan dan Sejarah Keimanan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia 2. , hlm 38 Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley Samuel 8:17, 20:28. 13 Gottwald berpendapat bahwa penulis dari sumber Y tidak dapat diketahui tetapi pastinya ia adalah salah satu orang penting pada masa pemerintahan Daud. 14 Sejak kehadiran penulis sumber Y di masa pemerintahan Daud penulisan Y ini kemungkinan dikembangkan pada pemerintahan selanjutnya yakni Salomo atau juga mungkin sesudahnya. Mengenai pengenalan dan penjabaran akan sejarah Israel sumber Y memang tidak bisa diragukan lagi dalam hal demikian ada dua hal yang menjadi alasan utama: Pertama sumber Y merupakan sekelompok penulis yang kerja di bawah pemerintahan Raja Daud yang bertugas membuat dokumen tertulis tentang bagaimana para penguasa menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka, serta bagaimana peranan mereka dalam masyarakat. Kepentingan tersebut dilanjutkan dengan pengaruh yang cukup kuat untuk mempengaruhi para pembaca dengan bentuk kata yang cukup canggih mengenai diri penguasa dan bagaimana mereka berkuasa pada masanya. 16 Kedua penulis sumber Y sudah mengenal beberapa tulisan sejarah bahkan beberapa sejarah yang ada sebelum Israel bersatu seperti cerita Yusuf sampai keluarnya Israel dari Mesir, juga kisah-kisah tentang bapa-bapa leluhur yang juga memiliki persamaan dengan kisah Mesopotamia kuno dari pertengahan milenium kedua, yang juga dikenal dalam tradisi kuno. 17 Sumber Y memfokuskan tulisannya pada pemanggilan bangsa Israel menjadi umat pilihan Allah dan bagaimana Allah berjanji dan juga menggenapinya. Sumber Y memiliki latar belakang kisah yang cukup tegang dengan bangsa Mesir. Hal ini dikarenakan bangsa Mesir yang berusaha untuk menguasai wilayah Palestina yang semasa itu sudah diduduki oleh Israel. Coote menjelaskan bahwa pada tahun 1150 SM terjadi gerakan reformasi yang dilakukan oleh para elit Mesir. Mesir melakukan penggulingan terhadap penguasa lain seperti halnya mereka menggulingkan Hyksos dari wilayah mereka. Hal yang sama mereka lakukan terhadap Palestina, setelah berhasil merebut wilayah Palestina bangsa Mesir kemudian melakukan perluasan dalam bidang perdagangan dan kekuasaan yang kemudian menjadi ancaman bagi bangsa Israel pada masa Robert Coote & David Robert Ord. Sejarah Pertama Alkitab dari Eden Hingga Kerajaan Daud Berdasarkan Sumber Y (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , hlm 19 Norman K Gottwald. The Hebrew Bible A Socio-Literary Introduction. , hlm 137 Robert H. Pfeiffer. The Book of The Old Testament, (New York: Evanston Harper and Row Publisher, 1. , hlm 36 Robert Coote & David Robert Ord. Sejarah Pertama Alkitab dari Eden Hingga Kerajaan Daud Berdasarkan Sumber Y. , hlm 44 Selman. The Social Environment Of The Patriarchs, (Tyndale Bulletin 27, 1. , hlm 128-129 Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. 18 Hal ini yang kemudian menjadi alasan lahirnya teks yang terkesan diskriminatif bagi orang Mesir. Lain halnya dengan sumber Y yang diperkirakan muncul pada masa kejayaan Daud sebagai raja Israel, sumber E muncul setelah pecahnya kerajaan Israel Raya yang telah dibangun oleh Daud sepanjang dinastinya. Latar belakang dari munculnya kerajaan Israel Utara dimulai dengan revolusi Israel Utara pada tahun 930-931 SM. 19 Waktu penulisan sumber E ini diperkirakan sekitar abad ke 9 SM dimana penulis sumber E muncul sesudah masa pemerintahan Yerobeam dan sebelum masa kejayaan Asyur di sekitar kerajaan Israel Utara,20 teks sumber E ini disesuaikan dengan kejadian yang terjadi akibat kebijakan mengenai nilai keagamaan di masa Yerobeam karena pada masa itu Yerobeam melakukan sinkretisme dengan alasan bahwa ia ingin kerajaannya terlepas dan terpisah secara permanen dengan bangsa Israel Selatan. 21 Perbedaan antara sumber E dan Y sebagai sumber tertua adalah sumber E tidak memiliki cerita sejarah purbakala seperti sumber Y atau 22 Kesimpulan pertama yang dapat diambil dari penjelasan ini adalah Sumber E menggunakan naskah Sumber Y yang merupakan sumber tertua dan merekonstruksi sedemikian rupa untuk kepentingan pada konteks penulisan Sumber E. Tirani yang dibuat oleh pemimpin pada masa dinasti Daud dan memberikan dampak yang negatif bagi orang-orang Israel Utara sehingga mereka bersepakat untuk bersuara mengenai keadilan mereka kepada pemerintah yang pada masa itu dipimpin oleh Rehabeam anak Salomo. Orang-orang Israel Utara sepakat untuk menunjuk Yerobeam sebagai tokoh penting yang akan berjuang untuk hak-hak mereka. Yerobeam merupakan seorang mantan pengawas kerja paksa Salomo pada wilayah asalnya yakni suku Efraim salah satu daerah yang berbatasan langsung dengan Mesir dan Israel Raya. Ia merupakan anak yatim piatu yang tumbuh di wilayahnya sebagai salah seorang yang cakap, dengan kecakapannya itu ia menyusun strategi politik dengan tujuan utama yakni melawan pemerintahan Rehabeam pada masa itu. Ia melakukan perlawanan bersama-sama dengan 10 suku di wilayah Israel Utara dimulai di desa-desa yang kemudian mengundang banyak orang yang turut Robert B Coote dan Mary P. Coote. Kuasa Politik dan Proses Pembuatan Alkitab: Suatu Pengantar, terj Minda Perangin-angin, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , hlm 24-26. Norman K. Gottwald. The Politics of Ancient Israel, (Louisville-Kentucky: Westminster John Press, 2. , hlm 252 Wismoady Wahono. Disini Kutemukan, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , hlm, 67. S Lasor. A Hubbard. W Bush. Pengantar Perjanjian Lama I: Taurat dan Sejarah, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , hlm, 367-368. Wismoady Wahono. Disini Kutemukan. , hlm 65 Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley mendukung usahanya seperti para penduduk, orang-orang suci, para pemilik tanah, kelompok imam, dan bahkan juga dari Mesir. Sejarah bangsa Israel yang pernah mendiami kawasan Palestina bersama dengan bangsa Kanaan pada masa Daud24 menjadi peluang untuk Yerobeam mengadopsi kultus peribadahan orang Kanan. Orang Kanaan sendiri menganut kepercayaan Politeisme atau menyembah terhadap banyak dewa sehingga mereka percaya bahwa kekuasaan dewa tidaklah mutlak pada suatu tempat dan sebaliknya dewa yang mereka sembah berkuasa di segala tempat. 25 Memang benar bahwa maksud semula dari apa yang Yerobeam lakukan sama dengan adanya tabut perjanjian Allah di wilayah Yerusalem. Namun seiring berjalannya waktu semuanya berubah karena dengan patung-patung tersebut justru semakin subur penyembahan terhadap dewa/dewi Kanaan. Dengan kata lain bahwa maksud keberadaan patung itu telah berubah. Bangsa Israel tidak lagi menyembah Allah Israel melainkan mereka justru menyembah dewa Kanaan. Sumber P adalah sumber yang dipelopori oleh para imam-imam yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 500 SM. Sumber ini diduga lahir dari situasi pembuangan di Babilonia untuk melestarikan dan juga mengumpulkan tradisi keimanan. Hal ini bertujuan agar bangsa Israel mengingat kembali status mereka sebagai bangsa yang kudus di hadapan Allah nenek moyang mereka. 27 sama seperti sumber cerita Yahwist dan Elohist, sumber P juga menuturkan sejarah keselamatan bagi bangsa Israel. tetapi tentu saja penuturan tersebut dinarasikan menurut tradisi sumber P sendiri. 28 Disebut P karena tulisan ini dibuat oleh para imam yang menguasai kehidupan keagamaan bangsa Yahudi pada masa itu. Hal ini terjadi akibat kehancuran wilayah Yehuda dalam penghancuran yang dilakukan oleh Babilonia pada tahun 586 SM. Sumber P bukan hanya menulis tradisinya dari konteks masa itu tapi juga mengumpulkan tradisi-tradisi terdahulu untuk direkonstruksi sedemikian rupa demi 30 Pembuangan di Babel berlangsung sekitar tahun 586-538 SM yang Robert B. Coote. Demi Membela Revolusi, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , hlm 85-91 Maxwell Miller dan John H. Hayes. A History Of Ancient Israel And Judah, (Philadelphia: The Westminster Press, 1. , hlm 171 Robi Prianto. AuTradisi Pemberian Kanaan dan Pemilihan Dalam Kepercayaan IsraelAy. TE DEUM: Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan, vol. No. 2, . , hlm 249 . Wismoady Wahono. Disini Kutemukan. , hlm 143 Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. , hlm 18-20 Wismoady Wahono. Disini Kutemukan. , hlm 71 Robert Coote & David Robert Ord. Pada Mulanya: Penciptaan dan Sejarah Keimanan, hlm 12 Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. , hlm 20 Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. mengakibatkan kosongnya wilayah Yerusalem. Hampir tidak ditemukan kenyataan politik dari Israel Yehuda karena kerajaan yang telah hancur, yang ada hanya kenyataan keagamaan yang terbatas karena hanya tersisa Aubatu karang sakralAy yang dianggap sebagai tempat suci dari sisi bait Allah. Pada tempat itulah bangsa Yahudi beribadah kepada Allah sampai para orang terpandang dari kalangan mereka dibebaskan oleh Koresh raja Persia dari tawanan di Babel. Koresh menganggap Yehuda sebagai suatu provinsi dari wilayah kekuasaan Persia, sehingga ia memberikan otonomi terbatas kepada bangsa Yahudi untuk mengatur diri mereka sendiri. Hal ini dilakukan oleh Koresh dengan mengutus gubernur dan imam dari kalangan bangsa Yahudi sendiri. Ini dilakukan Koresh agar gubernur dapat berperan mengaut kondisi politik dibawah pantauan Koresh dan imam dapat mengatur kondisi keagamaan di bawah kepemimpinan Koresh. Maxwell Miller dan John Hayes dalam buku mereka AuA History Of Ancient Israel And JudahAy mengungkapkan bahwa awal mula kejatuhan bangsa Israel pada pembuangan di Babel karena peran Yoyakim yang tunduk dan taat terhadap Mesir. Dengan tunduk terhadap Mesir tentu orang Israel kemudian dijadikan sebagai anggota Militer Mesir yang harus berjuang juga untuk Mesir. Pada saat pertempuran antara Mesir dan Babel di Karkemis pasukan militer Mesir dikalahkan dan berujung pada kematian tenaga militer Israel yang bergabung dengan Mesir. 32 Kecurigaan saya bisa jadi hal ini yang dikhawatirkan oleh Yeremia sehingga ia terus menyerukan agar bangsa Israel membatasi diri dengan Mesir. Tidak heran bahwa dalam narasi sumber P penulis juga menaruh fokus pada populasi bangsa Israel. Pertumbuhan penduduk menjadi sesuatu yang sangat penting bagi Israel terlebih di situasi mencekam seperti ini. Data historis dari Buttrick mengungkapkan bahwa setelah kejatuhan Babilonia dari Persia, ternyata Mesir dan beberapa bangsa lain juga ikut ditaklukan oleh Persia. 33 Dari realitas ini maka adanya sinkretisme menjadi kenyataan yang tidak dapat dihindari. Terlebih sebelum terjadinya masalah pembuangan. Yosia telah berupaya untuk melakukan sentralisasi kerajaan dan kultus di Yerusalem. Yang mana penerapan ini merupakan pemusatan/ sentralisasi dari kerajaan. Pemusatan secara politik terjadi dengan penegasan bahwa Yosia adalah pewaris sah dari dinasti Daud, yang kekuasaanya meliputi Israel Robert Coote & David Robert Ord. Pada Mulanya: Penciptaan dan Sejarah Keimanan. , hlm 13 Maxwell Miller dan John H. Hayes. A History Of Ancient Israel And Judah. , hlm 403 George Arthur Buttrick. The InterpreterAos Dictionary of the Bible, (New York: Abingdon Press. , hlm 55 Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. , hlm 20 Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley bersatu dulu. Karenanya, tempat ibadah di Betel menandai semua dosa yang dibuat oleh Yerobeam di Utara. Pemusatan secara kultus ditempuh dengan cara menetapkan perayaan Paskah secara nasional dan berpusat di Yerusalem. 35 Jadi, pengaruh sinkritisme bukan merupakan hal yang baru bagi bangsa Israel. Hal ini kemudian menjadikan Koresh selaku raja Perisa untuk menunjuk para imam dari bangsa Israel agar bertanggung jawab mengotrol seluruh aktivitas bangsa Israel di bawah perintah Persia. Dengan adanya ketegangan ini kemudian menjadi jawaban tentang relasi antara bangsa Israel dan bangsa Mesir. Kisah bangsa Mesir yang menaklukan bangsa Yehuda dari pemerintahan Yosia dan menjadikan Yehuda sebagai Auboneka MesirAy kemudian menjadi alasan besar para penulis sumber P untuk turut menggambarkan bangsa Mesir sebagai pelaku kejahatan dalam tradisi-tradisi tulisannya. Penulis sumber P kemudian mengambil dan merekonstruksi tradisi terdahulu yakni sumber Y dan sumber E untuk menjawab persoalan bangsa Israel tentang keberpihakan Allah bagi mereka dari zaman nenek moyang mereka di Mesir. Mesir dalam Retorika Keluaran 1:1-22 Dari semua penggambaran yang dimuat dalam teks apakah benar bangsa Mesir sebenci itu kepada bangsa Israel hingga menggagas sistem kerja paksa dan menyengsarakan hidup orang Israel? Penulisan teks Keluaran 1:1-22 direkonstruksi oleh sumber P dari tradisi terdahulu yakni sumber E dan sumber Y untuk kepentingan kelompok Israel berada dalam situasi maraknya sinkretisme. Penulis melihat situasi yang terjadi dan memanfaatkan ketegangan antara Mesir dan Israel pada masa itu untuk kemudian merekonstruksi tulisantulisan terdahulu dalam tradisi tulisannya. Namun ada satu kegelisahan yang akan coba saya uraikan dalam penjelasan ini tentang alasan mengapa sampai bangsa Mesir memperbudak orang Israel pada teks Keluaran 1:1-22. Dalam pembukaan teks tepatnya pada ayat pertama penulis sumber P menuturkan bahwa Yakub beserta seluruh keluarganya pergi ke Mesir mengikuti anaknya Yusuf. Ayat 2-4 penulis menyebutkan nama-nama keturunan Yakub yang turut serta dengan Yakub dalam perjalanannya menuju ke Mesir. Selanjutnya pada ayat 5 penulis sumber P menuturkan bahwa jumlah keturunan Yakub yang masuk bersama-sama dengannya Robert B. Coote. Sejarah Deuteronomistik: Kedaulatan Dinasti Daud atas Wilayah Kesukuan Israel. Kata Pengantar oleh Jhon Titaley (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Robert Coote & David Robert Ord. Pada Mulanya: Penciptaan dan Sejarah Keimanan. , hlm 13 Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. berjumlah 70 jiwa. Sesuai dengan budaya orang Israel Kuno yang masih sangat kental dengan patriarki sehingga yang terhitung hanyalah keturunan laki-laki. Untuk itu pada sebagian besar kata keturunan dalam bahasa Ibrani dapat diterjemahkan menjadi anak lakilaki atau cucu laki-laki. Seluruh nama keturunan Yakub yang masuk ke Mesir nampaknya ditulis dalam Kejadian 46:8-27, dimana penulis mencoba menguraikan nama-nama keturunan Yakub. Angka tujuh memiliki makna kesempurnaan bagi masyarakat di Timur Tengah Kuno. Hal ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa angka tujuh sering kali dipakai dengan arti AugenapAy atau AukeseluruhanAy tanpa memandang jumlah yang sebenarnya. Misalnya dalam sebuah prasasti Sumber ada tertulis Au7 rajaAy yang melayani seorang raja lain, padahal kenyataannya jumlah raja itu lebih dari 13 orang. Sama halnya dalam surat-surat Amarna sering sekali tertulis Autujuh puluh dan tujuh kaliAy yang menggambarkan seseorang sujud di hadapan raja sebagai pernyataan penyerahan dan kesetiaan yang sempurna kepada raja itu. Dalam Alkitab angka tujuh dan tujuh kali sering dipakai dengan arti Ausesuatu yang lengkapAy atau AukeseluruhanAy (Ams. 6:31. 26:16. 26:25. Ul. 7:1. 37 Angka tujuh menjadi salah satu angka yang sangat penting dalam karya sastra Alkitab ini terbukti dalam beberapa teks Alkitab menggunakan angka ini untuk menunjukkan beberapa hal. Di hari ketujuh Allah berhenti dari pekerjaannya menciptakan bumi dan menguduskan hari itu (Kej 2:2-3. Allah meminta Musa untuk menunjuk 70 tua-tua Israel bagi-Nya (Bil. , 70 kali 7 kali Daniel beserta bangsanya dijanjikan pengampunan dari Allah (Bil. dan masih banyak lagi. Penulis sumber P juga menentukan jumlah keturunan Yakub yang memasuki Mesir sekitar 70 orang dan belum termasuk kaum wanita. Ayat 6 menjelaskan bahwa lalu Yusuf dan juga seluruh angkatannya atau dalam terjemahan KJV menerjemahkan dengan seluruh generasi39 yang ada pada saat itu mati. Mati dalam bahasa Indonesia kata meninggal lebih layak untuk menggambarkan kematian seseorang, perlu diperhatikan secara baik teks ini jangan sampai kesan dari teks ini yang ditangkap oleh pembaca ialah kematian Yusuf bersama seluruh saudaranya dan semua orang yang hidup pada masa itu meninggal secara bersamaan. Yang dimaksudkan dalam teks ini adalah mereka satu persatu telah meninggal. Alkitab BIS menerjemahkan ayat ini dengan Beberapa waktu kemudian Yusuf dan saudara-saudaranya meninggal, begitu juga Lynne Newell. AuEksposisi Daniel 9Ay. Jurnal Pelita Zaman, vol. No. 1, . , hlm 16 https://sinodegmit. id/makna-angka-70-dalam-perjanjian-lama-dan-implikasinya-bagi-perayaanhut-gmit-ke-70/, diakses pada Senin, 26 Juni 2023 Dikutip dari. Bible Works edisi 8, pada Rabu, 18 Juni 2023 pukul 08. 00 WIT Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley orang-orang yang seangkatan dengan dia. 40 Hal ini berarti bahwa semua orang yang hidup pada masa masuknya Yakub dan keluarganya ke Mesir telah mati. Secara tidak langsung teks ini memiliki makna tersirat tentang jarak waktu antara kehidupan orang Israel pada masa Yusuf dan pada masa pembuangan yang akan diceritakan ini. Pada ayat 7 yang juga menjadi fokus utama dalam teks ini. penulis menjelaskan bahwa keturunan Yakub itu yang disebut sebagai keturunan Israel41 telah menghasilkan sangat banyak keturunan dan jumlah mereka sangat banyak dan perkasa. Makna sangat banyak sendiri menunjukkan pemahaman secara tersirat bahwa ada kemungkinan jumlah orang Israel bisa saja tidak dapat terhitung karena banyaknya. Makna frasa perkasa bukanlah menunjukkan mereka perkasa secara fisik tetapi mereka perkasa atau kuat karena berkumpul menjadi satu kelompok yang besar. King James Version menerjemahkan frasa ini menjadi Auand waxed exceeding mightyAy . enjadi sangat besa. menunjukkan bahwa keturunan Israel sudah menjadi orang-orang yang memiliki populasi besar di wilayah Mesir. Ayat 8 penulis menjelaskan bahwa kemudian diangkatlah Raja Mesir yang dikatakan tidak mengenal Yusuf ada dugaan bahwa Raja Mesir itu ialah Firaun Ramses II yang terkenal sangat serakah tapi juga adalah pembangun yang hebat untuk infrastruktur wilayah Mesir. 42 Penulis mengatakan bahwa Firaun ini tidak mengenal Yusuf atau dalam makna tersirat Firaun ini tidak mengenal dan juga memperhitungkan apa yang telah Yusuf seorang keturunan Yakub yang juga disebut sebagai Israel yang telah melakukan tindakan cepat untuk menyelamatkan wilayah mereka dahulu dari bencana yang terjadi (Kej 41:37-. Selanjutnya ayat 9 membuktikan kekhawatiran Firaun pada masa itu. Ia mengatakan pada rakyatnya AuLihatlah! Orang-orang Israel banyak dan perkasa lebih dari kami. Ay Ini menunjukkan kekhawatiran Firaun karena jumlah orang Israel jauh lebih banyak dari pada orang Mesir yang merupakan kaum pribumi di tanah Mesir. Bukan hanya jumlah mereka yang banyak. Firaun menilai dengan jumlah mereka yang banyak itu dan dengan kesatuan mereka mereka adalah dapat disebutkan sebagai kesatuan yang perkasa bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa bisa saja mereka lebih hebat daripada orang Mesir yang adalah orang pribumi. Dikutip dari. Bible Works edisi 8, pada Rabu, 18 Juni 2023 pukul 08. 00 WIT Israel adalah nama lain dari Yakub. Ini dibuktikan dalam teks Kej 32:28 George Arthur Buttrick. The InterpreterAos Dictionary of the Bible. , hlm 51 Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Dengan kekhawatiran itulah mendorong Firaun untuk berencana menindaklanjuti kondisi ini yang dituliskan pada ayat ke 10. Kata marilah yang ada pada pembukaan ayat ini menyiratkan desakan bagi orang-orang yang mendengarkan perkataan Firaun pada masa Firaun mengajak seluruh rakyatnya untuk bertindak bijaksana terhadap orang-orang Israel itu. Dalam TB LAI-2 bagian ini diterjemahkan menjadi marilah kita bertindak cerdik terhadap mereka. 43 Ini menunjukkan orang-orang Mesir harus melakukan sesuatu atau merencanakan sesuatu yang dapat menjadi solusi dari situasi yang terjadi. Selanjutnya penulis memperlihatkan kekhawatiran lainnya dari kondisi populasi orang Israel yang meningkat pada saat itu. Dikatakan bahwa apabila mereka menyatakan peperangan, mereka akan bergabung dengan orang-orang yang membenci kita untuk melawan kitaAy tergambar dengan jelas kegelisahan Firaun dari teks ini. Mengapa sampai Firaun berpendapat demikian tidak terlepas dari kisah kelam mereka yang kemudian menjadi pengalaman penting bagi Firaun untuk mengambil keputusan sebagai orang pribumi. Sebelum adanya peristiwa ini sekitar tahun 1700 SM bangsa Hyksos berhasil menduduki wilayah pemerintahan Mesir. Bangsa Hyksos bukanlah adalah orang asing yang hidupnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dalam catatan historis tentang orang Mesir Kuno, bangsa Hyksos dengan kejam dan juga najis menindas bangsa Mesir diatas tanah mereka sendiri. Sebagai orang pribumi bangsa Mesir berusaha untuk menaklukan kembali wilayah mereka dari jajahan bangsa Hyksos, hal ini berhasil ketika bangsa Mesir sukses mempelajari teknik penyerangan khas dari bangsa Hyksos dan kemudian mencari titik kelemahan dari teknik Usaha menyingkirkan bangsa Hyksos dari wilayah Mesir yang dilakukan oleh orang pribumi membuahkan hasil seperti yang diharapkan, mereka berhasil kembali menduduki wilayah mereka. 45Pengalaman bersama bangsa Hyksos ini menjadi trauma yang cukup berat bagi orang Mesir, sehingga dengan melihat pertumbuhan orang Israel yang semakin besar membuat kekhawatiran itu muncul kembali. Orang Israel dan orang Hyksos memiliki satu garis keturunan yakni keturunan Semit . nak Nu. yang berasal dari Asia sedangkan orang Mesir adalah orang asal Afrika Barat Laut. 46 Melihat masih adanya hubungan antara orang Israel dan juga bangsa Hyksos inilah yang kemudian menjadi kecurigaan orang Mesir, bilamana suatu saat terjadi peperangan orang Israel bisa saja LAI. Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua, (Jakarta: LAI, 2. , hlm 53. Susan Wise Bauser. The Story of The World: History For The Classical Child. , hlm, 91-92. Susan Wise Bauser. The Story of The World: History For The Classical Child. , hlm, 91-92. George Arthur Buttrick. The InterpreterAos Dictionary of the Bible. , hlm 39. Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley bersekutu dengan bangsa Hyksos atau bangsa-bangsa lainnya mereka bisa saja menghancurkan orang Mesir di wilayah mereka sendiri. Alasan ini yang menjadi kekhawatiran kuat Firaun terhadap populasi orang Israel di wilayah kekuasaannya. Ayat 11 menggambarkan cara Firaun menindas orang Israel dengan kerja paksa, padahal realitanya orang Israel bukanlah budak dengan arti lainnya bukan milik raja Mesir. Namun sebagai masyarakat tentunya mereka mendengarkan apa kata raja atau pemerintah, tetapi karena mereka dianggap sebagai suatu bangsa yang berbeda dengan Mesir sehingga orang Israel harus ditindaklanjuti dengan ditegakkan kerja paksa. Dibawah perintah Firaun pengawas-pengawas kerja bagi Israel ditetapkan dengan tujuan untuk menindas orang Israel, dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sederhana bagian ini diterjemahkan menjadi Aumempersulit hidup merekaAy47 hal ini berarti bahwa bukan hanya mengawasi pekerjaan orang Israel tapi tugas para pengawas yang diangkat oleh Firaun juga untuk membuat orang Israel menderita dengan kerja paksa yang ditetapkan. Orang Israel dipaksa untuk membangun kota perbekalan oleh Firaun Ramses dan ini terbukti dari penggunaan namanya sebagai salah satu kota perbekalan yang dibangun oleh orang Israel. kedua kota perbekalan ini bertujuan untuk menyimpan kebutuhan mereka sehingga apabila terjadi kondisi alam yang tidak diinginkan terlebih karena di wilayah Mesir sering terjadi badai48 maka mereka sudah memiliki perbekalan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Firaun Ramses memanfaatkan situasi ini untuk membangun wilayah mereka karena Firaun Ramses terkenal sebagai penguasa Mesir dengan rencana pembangunan yang sangat hebat. Ayat ke 12 menunjukkan suatu fenomena setelah digagasnya penindasan bagi orang Israel yang ada di Mesir yang juga menambahkan kekhawatiran Firaun. Semakin ditindas orang Israel mereka berkembang semakin banyak. Hal ini berarti bahwa walaupun penderitaan telah mereka dapatkan dengan kerja paksa tidak juga dapat menghentikan pertumbuhan jumlah mereka di wilayah itu. Dalam Alkitab Terjemahan Baru ke-2 dari Lembaga Alkitab Indonesia dikatakan bahwa Aumereka semakin bertambah banyak dan berkembang pesatAy50 ini berarti bahwa pertumbuhan orang Israel dapat dibilang sangat cepat dan juga sangat banyak bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa jumlah mereka jauh lebih banyak daripada jumlah orang pribumi. Penulis juga menggambarkan bahwa Dikutip dari. Bible Works edisi 8, pada Rabu, 18 Juni 2023 pukul 08. 10 WIT George Arthur Buttrick. The InterpreterAos Dictionary of the Bible. , hlm 40 George Arthur Buttrick. The InterpreterAos Dictionary of the Bible. , hlm 50. LAI. Alkitab Terjemahan Baru Edisi Kedua. , hlm 53. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. karena pertumbuhan orang Israel yang sangat cepat dan juga berkembang pesat membuat bangsa Mesir membenci orang-orang Israel. Dalam Alkitab KJV menerjemahkan bagian ini menjadi And they were grieved because of the children of Israel . an mereka bersedih hati karena bani Israe. Ini menunjukkan perasaan yang bercampur antara membenci, sedih dan juga takut terhadap orang Israel sangat banyak jumlahnya dari pada bangsa Mesir sendiri di tanah mereka. Pada ayat 13 dan 14 penulis menunjukkan bagaimana orang Mesir kemudian kembali memaksa orang Israel bekerja dengan lebih keras, terjemahan KJV menerjemahkan bagian ini menjadi oil more unremitting than ever . ekerja lebih keras dari sebelumny. Hal ini berarti bahwa orang Mesir berusaha mempersulit kehidupan orang Israel dengan melakukan kerja paksa yang lebih menyulitkan dari sebelumnya. Penulis menggambarkan bagaimana bangsa Mesir kemudian memahitkan atau membuat sengsara lagi kehidupan orang Israel dengan pekerjaan mereka yakni membuat batu bata, tanah liat, dan berbagai pekerjaan kasar Pada ayat ke 15 dan 16 terlihat penulis menunjukkan bagaimana Firaun berusaha untuk menindaklanjuti keberadaan orang Israel di wilayahnya dengan cara lainnya. Firaun memanggil kedua bidan yang bertugas untuk melayani persalinan orang Israel yang bernama Sifra dan Pua. Firaun memberikan perintah pada keduanya untuk membunuh anak laki-laki pada saat melayani persalinan bagi perempuan-perempuan Israel dan membiarkan anak perempuan tetap hidup. Anak laki-laki menjadi fokus utama Firaun Mesir selain karena budaya patriarki yang lebih mengutamakan peranan laki-laki, ternyata ada alasan lain dibalik itu. Anak laki-laki sering sekali dianggap sebagai kekuatan sebuah kota51 dan juga simbol dari kembalinya maknanya kehidupan52 selain itu anak laki-laki memiliki peranan penting secara biologis dalam mempertahankan garis keturunan. Sehingga ini menjadi alasan mengapa sampai penulis menggambarkan Firaun yang berusaha memahitkan hidup orang Israel dengan membunuh anak-anak laki-laki Israel. Pada ayat ke 17 dan 18 penulis memperlihatkan bagaimana Allah menolong orangorang Israel melalui kedua bidan itu. Kedua bidan itu digambarkan takut kepada Allah sehingga mereka tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Firaun sebagai pemimpin mereka pada saat itu untuk menghabisi nyawa anak-anak laki-laki Israel. Kedua bidan itu membiarkan bayi-bayi Israel tetap hidup sehingga membuat Firaun Robert B. Coote dan David Robert Ord. Sejarah Pertama Alkitab. , hlm 129 Agus Santoso. Di Bawah Perlindungan Sayap-Nya. , hlm 142 Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley mempertanyakan apa yang selama ini mereka kerjakan, dan mengapa apa yang Firaun perintahkan melalui kedua bidan itu tidak berhasil dilakukan bagi orang Israel. Pada ayat ke 19 terlihat bagaimana kedua bidan yang melayani orang Ibrani itu berpendapat bahwa perempuan-perempuan Israel sangat kuat melebihi perempuan Mesir, sehingga sebelum kedatangan bidan mereka sudah terlebih dahulu melahirkan. Perihal kasus Sifra dan Pua, mereka memang telah menyampaikan informasi yang tidak benar kepada Firaun dengan cara yang disengaja. Apakah itu dosa? Jika hal itu dusta, pasti dosa. Namun, jika hal itu tidak dusta pasti bukan dosa. Dalam ayat 17. Alkitab mengatakan bahwa dasar tindakan Sifra dan Pua untuk tidak menuruti keinginan Firaun adalah takut akan Allah. Perhatikan bahwa ungkapan yang digunakan bukan Auketakutan yang dari AllahAy, melainkan Autakut akan AllahAy. Jadi. Sifra dan Pua menolak kemauan Firaun bukan karena ada kegentaran dalam hati mereka untuk takut dihukum mati oleh Firaun, melainkan mereka benar-benar takut akan Allah. Dalam hal itu, orang yang takut akan Allah didasarkan pada suatu kesadaran penuh untuk berpihak kepada Allah daripada kepada manusia walaupun dengan ancaman hukuman mati. Pada ayat ke 20 penulis menggambarkan karena kebaikan dan ketaatan kedua bidan itu kepada Allah maka orang Israel diselamatkan dari bencana pembunuhan yang direncanakan oleh Firaun Mesir. Hal ini menjadi fokus utama penulis sumber E, ialah dengan menitik beratkan karya keselamatan Allah bagi orang Israel melalui cara-cara yang luar biasa. Dan karena kedua bidan itu taat kepada Allah sehingga kedua bidan itu mendapatkan hal yang baik dari Allah. Pada ayat ke 21 penulis memperlihatkan kata sambung "dan" dan kata keterangan "karena". Artinya, kalimat itu merupakan akibat dari kalimat sebelumnya. Kesimpulannya, karena kedua bidan itu memiliki hati yang takut akan Allah. Allah berbuat baik kepada mereka dengan memberikan masing-masing seorang suami dan membuat mereka hidup berumah tangga. Namun setelah mengisahkan tentang karya penyelamatan Allah melalui kedua bidan yang melayani perempuan Israel ini, penulis kembali memperlihatkan usaha jahat bangsa Mesir untuk tetap mencoba menghabisi seluruh keturunan Israel dengan adanya ketetapan baru yang dikeluarkan oleh Firaun yakni semua anak-anak laki-laki yang lahir dari semua perempuan Israel harus dilemparkan ke sungai Nil. Sungai Nil adalah salah satu sungai yang mengairi dataran Mesir. Ngesthi, dkk. AuKontroversi Bohond Dalam Keluaran 1:8-22Ay. Jurnal Teologi Berita Hidup, 4. No. , hlm 229 . Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Menurut Buttrick adanya bukti ataupun peninggalan sejarah Mesir kuno tentang perbudakan Israel di Mesir dan eksodus besar-besaran tidak pernah ditemukan,54 oleh sebab itu kebenaran tentang kisah perbudakan ini menjadi kecurigaan saya tentang motif penulisan sumber Y. P dan E. Mengapa sumber Y. P dan E kemudian menjadikan Mesir sebagai pelaku antagonis yang secara tidak langsung memperburuk reputasi bangsa Mesir dalam karya tulisnya demi kepentingan kelompok Israel semata. Bukankah kedua belah pihak sama-sama memiliki kesalahan yang berdampak pada peristiwa tragis yang terjadi dan dicatat oleh Alkitab? Dibandingkan dengan kisah tentang Mesir yang menjadi tanda tanya tentang kebenarannya kisah perbudakan, alasan utama terjadinya revolusi di Israel tentu lebih sangat disayangkan, karena hal ini terjadi di wilayah mereka sendiri dan atas perintah orang pemimpin-pemimpin mereka. Secara tidak langsung penulis telah memberikan diskriminasi atau ketidakadilan bagi bangsa Mesir melalui karya tulisnya yang melahirkan stereotyping bagi posisi bangsa Mesir. Realitas Ketidakadilan Di Aitinyo Penduduk di daerah ini sebagian besar adalah orang asli Papua dan sebagian kecil adalah para pendatang dari wilayah lain dari Indonesia. Jika dibandingkan dengan para pendatang perekonomian para pendatang yang ada di Aitinyo dapat dikatakan lebih berkecukupan dibandingkan dengan masyarakat asli. Hal ini disebabkan karena para pendatang mengambil pekerjaan yang tetap dan memperoleh gaji setiap bulannya dan juga berbagai tunjangan, hal lainnya adalah para pendatang juga berwirausaha di wilayah ini sehingga dari segi perekonomian para pendatang lebih unggul dari penduduk asli yang sebagian besar pekerjaannya sebagai petani, peternak, buru kasar, pedagang kaki lima dan lain sebagainya. 55 Ketidakadilan yang terjadi ini menjadi alasan mengapa banyak orang Papua yang tergabung dalam kelompok yang dikatakan pemberontak dimana mereka ingin memperjuangkan hak mereka di atas tanah mereka sendiri dan memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Papua melalui hasil alam mereka. Usaha perjuangan mereka untuk menuntut keadilan sering dianggap terlalu negatif bagi banyak orang secara khusus orang pendatang yang berdomisili di wilayah itu. Kekayaan alam Papua bukanlah sesuatu yang baru diketahui oleh semua orang, aset berharga ini yang seharusnya dapat dijaga dan dipelihara telah rusak oleh tangan-tangan George Arthur Buttrick. The InterpreterAos Dictionary of the Bible. , hlm 50. Maria Melani Way. AyStratifikasi Sosial Pada Suku Ayamaru Di Distrik Aitinyo TengahAy. Papua Journal of Sociology. , hlm, 14 Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat Papua yang merupakan golongan orang-orang Melanesia memang dapat dikatakan termasuk golongan terlambat dalam perkembangannya sehingga seringkali kepolosan mereka disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pada wilayah Aitinyo walaupun jumlah pendatang dapat dikatakan cukup sedikit tapi mereka berada pada taraf ekonomi yang lebih baik dari pada orang asli pada wilayah itu. Salah satu bapak yang bersedia menjadi narasumber berpendapat bahwa Aumemang kami orang asli di sini hanya saja kasihan adik, kami ini rata-rata tidak berpendidikan dan mudah sekali ditipu oleh orang lain apalagi orang kulit putih. Biasanya kami menganggap orang kulit putih itu orang-orang yang pintar adik, makanya kalau mereka bicara kami percaya saja. Tapi kadang juga kami tidak sadar kalau dorang sebenarnya ada niat untuk tipu-tipu kami di sini adik e. Ay Dengan demikian ini cukup menjadi bukti bahwa mereka sering mengalami ketidakadilan karena sebagian besar tidak Dan mereka cenderung mempercayai orang yang berkulit putih karena mereka meyakini bahwa orang kulit putih pasti adalah orang yang berpendidikan. Ketidakadilan juga terjadi dimana mereka masih menjadi budak di tanah mereka sendiri yang bekerja bagi para orang pendatang. Tidak jarang sering terjadi kesalahpahaman yang berujung pada tindakan anarkis yang mereka lakukan untuk memperjuangkan hak Hal ini tentu bukan tanpa alasan, karena sering kali mereka diperdaya oleh orang lain demi kepentingan mereka yang merugikan masyarakat. Alasan-alasan ini menjadi motivasi yang cukup kuat bagi masyarakat ini untuk memberontak demi keadilan mereka di atas tanah mereka sendiri, bahkan tidak jarang didapati ada juga yang bergabung dengan OPM (Organisasi Papua Merdek. untuk menentang dan melawan Indonesia. Salah satu masyarakat yang berpihak pada perjuangan OPM berpendapat Aukami membela Perjuangan Papua Merdeka ini bukan tanpa alasan, kami punya tanah dieksploitasi oleh orang-orang kaya, kami punya alam digali untuk kepentingan orang dari luar negara ini, kami punya anak-anak yang berusaha meminta kami punya hak-hak tidak sedikit yang mati secara tidak Kami cape diperlakukan seperti ini kami ingin kesejahteraan di tanah kami sendiri, kami tahu kami bodoh tapi jangan bodoh-bodohi kami. Ay Hal ini juga didukung oleh pemahaman salah satu tokoh penting Indonesia yakni Anis Baswedan dalam debat capres pada 7 Januari 2024. Dalam acara itu, beliau diberikan kesempatan untuk membahas tentang problem ketidakadilan di Papua. Anis berpendapat bahwa masalahnya bukan kekerasan, melainkan masalah utamanya adalah tiadanya keadilan di tanah Papua. Damai bukan tentang tidak adanya kekerasan, damai itu ada keadilan. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Berdasarkan wawancara penulis bersama beberapa tokoh agama di GKI ada beberapa pendapat yang menarik untuk dibahas AuNona kenyataan yang ada ini proses pelayanan Gereja ini su tidak merata. Banyak pelayan yang tidak menaruh fokus untuk bersama berjuang dengan masyarakat Papua yang sedang susah. Bahkan bisa dikatakan kalau pelayan sekarang ini yang saya lihat di sini hanya fokus untuk memperkaya diri dari pada Kami pelayan dulu sangat aktif sekali untuk bersama-sama dengan masyarakat Papua untuk memperjuangkan keadilan apapun risikonya. Saya saksi hidup bagaimana kejamnya Indonesia pada masa saya muda. Tapi saya juga tidak bisa berkomentar lebih banyak karena ini sensitif sekali, tapi yang saya ketahui semua orang yang sadar tentang tugas pengutusan pasti melihat ketimpangan ini dalam pelayanan di GKI. Ay Hal yang sama disampaikan oleh salah seorang narasumber AuKalau mendengar pendapat dari ketua sinode atau para pemimpin pada aras sinode maupun klasis. GKI selalu menjadi Rumah besar bagi semua orang. Kalaupun kasus-kasus tertentu, dalam kepedulian sebagai institusi gereja kepada orang asli Papua sangat jarang terekspos pada umum atau dalam lingkup gereja juga tidak nampak. Ay Selain itu, adalah salah seorang narasumber yang merupakan orang non pribumi yang menyadari kejanggalan tersebut. Informan itu berpendapat bahwa sebagai orang pendatang, kita kadang merasa paling betul di sini. Padahal GKI inikan berdiri bukan cuma untuk orang Papua, melainkan bagi semua orang kristen yang ada di tanah Papua, tetapi realita yang terjadi cukup beda jauh dengan aturan. Kadang dalam pelayanan ada blok-blok yang kemudian memisahkan antara pelayan pribumi dengan nonpribumi hal seperti ini yang secara tidak langsung sudah diskriminasi ini. Pemberitaan Firman juga cuma sebatas di mimbar, tapi realisasinya untuk sama-sama berjuang dengan orang Papua secara khusus dan orang-orang lainnya yang menuntut keadilan tidak dilakukan. Mereka hanya berpatok pada aturan dan program, sampai lupa kalau sebenarnya ibadah sejati itu terjadi setiap hari bukan di hari-hari tertentu. Dari pernyataan-pernyataan di atas maka dapat ditemukan adanya ketimpangan yang cukup serius. Peran gereja bukan hanya sebagai institusi keagamaan semata-mata melainkan juga harus berperan penting dalam konteks kehidupan umat. Apabila dalam kasus-kasus tertentu gereja memilih untuk berdiam diri maka fungsi dan peran gereja yang sesungguhnya harus dipertanyakan. Apakah gereja hanya berperan dalam pemberitaan firman dan program-program yang sudah direncanakan? Lalu di luar itu bagaimana dengan berbagai problem dalam masyarakat yang pastinya tidak tentu. Posisi gereja seperti ini Dimanakah Keadilan bagi Mesir? Kritik Ideologi Keluaran 1:1-22 dan Relevansinya bagi Perjuangan Keadilan di Aitinyo. Papua Barat Daya Sharon Manuhua. Margaretha Martha Anace Apituley harus ditindak lanjuti dan disesuaikan dengan visi dan misi gereja yang telah digagas. Seluruh perangkat pelayan juga harus dievaluasi mengenai makna hidup bergereja yang Karena gereja bukan hanya berbicara tentang bangunan atau kegiatan keagamaan, tetapi setiap umat Allah merupakan gereja-gereja yang hidup dan yang harus diayomi demi mendapatkan kesejahteraan yang di harapkan. Namun, dari semua pendapat dan kesimpulan yang dibuat penulis, bukan berarti bahwa seluruh pelayan GKI melakukan tindakan yang sama. Hanya segelintir oknum yang memiliki peranan besar dalam aktivitas GKI yang melakukan kesalahan dan berdampak besar bagi banyak orang. Banyak kasus yang terjadi tentang bentrok di Papua menjadi perwakilan atas perjuangan mereka untuk mendapatkan keadilan di tanah mereka sendiri. Salah satunya adalah perjuangan masyarakat suku Awyu. Papua Selatan dan suku Moi. Papua Barat Daya merebut hak atas tanah mereka. Tanah mereka telah dieksploitasi oleh PT Indo Asiana Lestari sebesar 36 ribu hektar atau lebih dari separuh luas Jakarta. Hastag All Eyes On Papua menjadi tranding topik yang membahas tentang hal ini. Walaupun memang benar seringkali bentrok yang mereka lakukan merusak fasilitas dan tidak jarang memakan korban Latar belakang atas perjuangan mereka seringkali tidak dipandang dan hanya diperhitungkan mengenai kerusakan atau kerugian yang terjadi akibat bentrok yang orang asli Papua lakukan hal ini terbukti dari beberapa pernyataan para pendatang yang tinggal di Papua, ketika ditanyakan mengenai tanggapan bentroknya orang Papua yang sering terjadi spontan tanpa memikirkan alasan mengapa atau apa yang sebenarnya terjadi orang-orang pendatang hanya memberikan kesimpulan dan menghakimi perbuatan orang Papua yang Memang benar bahwa apa yang dilakukan oleh orang asli Papua merupakan tindakan yang salah. Namun sebagai orang-orang yang kritis dan hidup dalam kemajemukan perlu disadari bahwa penilaian secara sepihak juga merupakan tindakan yang KESIMPULAN Dari hasil kritik ideologi yang dilakukan dan berdasarkan peninggalan Mesir Kuno, tidak didapati bukti tentang perbudakan bangsa Israel dan Exodus besar-besaran. Kisah perbudakan yang dituliskan dalam Alkitab secara tidak langsung melahirkan stereotip bagi bangsa Mesir. Apabila kebenaran tentang perbudakan benar adanya hal ini tentu dilatar belakangi oleh pengalaman pahit bangsa Mesir dari penjajahan bangsa Hyksos yang adalah satu garis keturunan dengan bangsa Israel, sehingga perbudakan bangsa Israel merupakan Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 1 (Juni, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. bentuk perlindungan bangsa Mesir dari kemungkinan negatif yang bisa saja timbul dari orang-orang asing yang menempati wilayah mereka. Perjuangan masyarakat Aitinyo dalam memperjuangkan hak-hak mereka di atas tanah mereka merupakan penggambaran yang sama dengan perjuangan bangsa Mesir. Sebagai masyarakat pribumi yang memiliki pengalaman pahit dengan bangsa asing tentunya memaksa mereka untuk bersikap keras terhadap kemungkinan adanya ketidakadilan dan diskriminasi yang bisa saja terjadi. Bentuk perjuangan masyarakat Aitinyo dan bangsa Mesir harus dimaiknai sebagai bentuk perjuangan bagi sebuah keadilan yang memihak kepada masyarakat sebagai korban ketidakadilan. Dalam perspektif itulah, keadilan Allah yang membebaskan menjadi sebuah imperatif teologi bagi perjuangan keadilan masyarakat tertindas di masa kini. DAFTAR PUSTAKA