Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ Perdagangan Perempuan Nepal ke India dan Peran Jejaring Feminis Transnasional Fatma Yusuf Eko Suwarno Program Studi Hubungan Internasional. Universitas Indonesia. Jawa Barat Ae Indonesia Email: ftmaysf96@gmail. Submitted: 17 Agustus 2. Accepted: 28 Desember 2020 Abstract Nepal has faced high rates of woman trafficking to India for a long time. Various efforts were made but the rate did not decrease. This article intended to examine this phenomenon by examining the transnational feminist network (TFN), such as The Global Alliance Against Women Trafficking (GAAWT). GAAWT focuses on changes in the political, economic, social, legal system and structures related to the practice of trafficking in women by using a human rights approach to people who are regulated, non-discriminatory, uphold equality and uphold the principles of accountability, participation, and inclusiveness in the methodology, organizational structure and This study utilizes qualitative methods and transnational feminism theoretical The result shows that GAAWT TFN has played a role in overcoming the issue of trafficking of Nepalese women to India by voicing the human rights of women in Nepal with a human rights approach. Even so, the trafficking of Nepalese women to India is still high. Therefore, evaluating approaches that pay attention to cultural aspects as well as various political identities at play can increase the effectiveness of TFN. Keywords: GAAWT. Trafficking. Feminist. Transnational. Network. Abstrak Nepal sudah cukup lama menghadapi tingginya tingkat perdagangan perempuan ke India. Berbagai upaya dikerahkan namun tidak menunjukkan angka penurunan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji fenomena tersebut dengan menelaah peran jejaring feminis . ransnational feminist networ. Global Alliance Against Women Trafficking (GAATW). GAATW berfokus pada perubahan di ranah politik, ekonomi, sosial, sistem legal, dan struktur yang berkaitan dengan praktik perdagangan perempuan dengan mnggunakan pendekatan Hak Asasi Manusia orang-orang yang diperdagangkan, bersifat non-diskriminatoris, menjunjung kesetaraan, serta menjunjung prinsipprinsip akuntabilitas, partisipasi, dan inklusivitas di dalam metodologi, struktur organisasi, dan Kajian ini menggunakan metode kualitatif dan kerangka teori feminisme Hasilnya menunjukkan bahwa GGAATW sebagai TFN sudah berperan dalam menanggulangi isu perdagangan perempuan Nepal ke India dengan menyuarakan hak asasi perempuan di Nepal dengan pendekatan HAM. Walaupun begitu, perdagangan perempuan Nepal ke India masih menunjukkan angka yang tinggi. Oleh karena itu, evaluasi pendekatan yang memperhatikan aspek kultural serta beragam identitas politik yang bermain dapat meningkatkan efektivitas TFN. Kata kunci: GAATW. Perdagangan. Feminis. Jaringan. Transnasional. PENDAHULUAN Topik perdagangan manusia merupakan isu yang kontroversialAi hal tersebut merupakan suatu hal yang kompleks, multidimensional, dan perspektif dalam mengkajinya. Ia pun Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ bukan sesuatu yang mudah untuk diselesaikan dan masih banyak terjadi di kehidupan nyata. Kekerasan terhadap perempuan (Violence Against Wome. sendiri juga bukan lagi isu yang asing untuk didengar, ia merupakan isu yang menyebar ke berbagai lapisan masyarakat di duniaAisalah satunya adalah perdagangan perempuan. dalam perdagangan manusia sendiri, perempuan mendominasi 80% dari jumlah aktivitas perdagangan manusia dalam skala global (Trafficking Report. Nepal dalam hal ini merupakan salah satu negara di dunia dengan permasalahan perdagangan manusia yang serius. Horizons The Asia Foundation . menyebutkan bahwa masalah perdagangan manusia di Nepal sudah mencapai titik yang Mayoritas kasus pun dipenuhi oleh kekerasan seksual, di mana perempuan dijadikan komoditas seksual dalam bentuk prostitusi paksa, pornografi, pernikahan paksa, dll. (Sarkar, 2011. internal, perdagangan perempuan di Nepal merupakan isu yang masih rawan terjadi. Selain itu, perdagangan perempuan di Nepal juga mengalami Data dari NHRC (National Human Rights Commissio. Nepal . menuliskan bahwa kasus perdagangan perempuan yang tercatat meningkat dari 185 menjadi 305 dari Perdagangan ke luar negeri juga masih banyak terjadi. Contohnya adalah ke Saudi Arabia. China. Malaysia, dll. mana mayoritas korban adalah (NHRC. Walaupun begitu, jumlah perdagangan perempuan lintas batas yang terjadi dari Nepal ke India merupakan yang tertinggi diantara perdagangan internal dan perdagangan ke negara lain. Dalam hal ini, ia mengalami peningkatan yang Jika dibandingkan dengan jumlah kasus perdagangan perempuan di Nepal yang mencapai 305 kasus, jumlah perdagangan dari Nepal ke India meningkat dari 72 kasus menjadi 607 dari catatan periode 2012-2017, setara dengan 500% (NHRC, 2018. Aisejalan dengan hal tersebut, diperdagangkan dari Nepal ke India . ercatat dari jumlah kasus yang ditangani oleh kedutaa. terdiri dari 69% perempuan jika dibandingkan dengan 10% di Saudi Arabia. Perbatasan Nepal dan India juga Selanjutnya, dalam membahas perempuan di Nepal, perlu juga untuk meninjau dimensi dari perdagangan perempuan serta peningkatannya. Dimensi perdagangan manusia di Nepal terbagi menjadi tiga, pertama adalah perdagangan manusia internal atau domestik, perdagangan manusia antar negara, dan perdagangan manusia dari Nepal ke India. Secara Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ perempuan yang juga terdiri dari remaja perempuanAidi mana jalur perdagangan tersebut merupakan salah satu yang tersibuk di dunia. Diperkirakan bahwa setiap tahunnya, sekitar 5000 sampai 10. 000 perempuan Nepal diperdagangkan antara Nepal dan India (Banshkota, 2. Kemudian, pemerintah Nepal bersama dengan Kementrian Perdamaian Rekonstruksi. NGO internasional, dll. mencanangkan National Action Plan, masyarakat dan organisasi untuk mengentas permasalahan perdagangan perempuan Nepal dari tahun 20112016 (Peace Women, n. Namun, upaya pemerintah dalam hal ini dilihat belum menghasilkan hasil yang begitu Sebaliknya, perdagangan perempuan di Nepal . erdimensi internal maupun lintas batas dengan Indi. , seperti yang sudah dipaparkan diatas, mengalami peningkatan dari rentang waktu program National Action Plan ini dijalankan. Melihat perdagangan manusia dari Nepal ke India perempuan dari pemaparan diatas, tidak menunjukkan bahwa pemerintah Nepal tidak tinggal diam dalam menanggulangi isu tersebut. Subedi . memaparkan upaya-upaya pemerintah Nepal dalam melawan perempuan yang termanifestasi melalui kerangka hukum, kebijakan negara dan mekanisme institusi, dan program Tabel 1 Langkah anti-perdagangan orang di Nepal, 2012 - 2016 Sumber: The Global Report on Trafficking In Persons . Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ Permasalahan perempuan merupakan satu dari sekian yang banyak dibahas oleh Feminisme dalam hal ini merupakan suatu wujud perlawanan dari beragam jenis penindasan serta dengan pengalamannya yang beragam (Kempadoo, 2. Walaupun begitu, berbagai hambatan masih menyelimuti gerakan pembebasan perempuan. Seiring berjalannya waktu, peran jejaring dan solidaritas feminis kemudian banyak diupayakan untuk menciptakan suatu tatanan dalam menentang hegemoni patriarkiAiyaitu membangun wadah bagi perempuan lintas batas negara . alam konteks transnasiona. untuk berorganisasi atau berjejaring sebagai upaya untuk melebarkan peran serta partisipasi problematika ketidaksetaraan dan penindasan terhadap perempuan, salah satunya adalah praktik perdagangan berada pada tingkat global dan regional menganalisis program perjuangan yang mereka bangun, serta hambatan yang GAATW melihat bahwa termanifestasikan dalam globalisasi ekonomi neoliberal memiliki tanggung jawab terhadap tingkat keseriusan perdagangan perempuan. Ia juga melihat bahwa untuk membawa perubahan yang signifikan, dibutuhkan keterlibatan perempuan sebagai aktor feminis di berbagai tingkat dalam upaya advokasi yang dilakukan. TINJAUAN PUSTAKA Perdagangan Perempuan di Nepal Pembahasan perempuan di Nepal dalam hal ini penting untuk melihat sisi kekerasan yang muncul dari dalam negeri serta perempuan yang melibatkan lintas batas . aitu dari Nepal ke Indi. Hal ini juga penting untuk melihat sejauh perdagangan perempuan di Nepal sudah dibahas. Tulisan pertama berjudul AoCheliAaBetiAo Discourses of Trafficking and Constructions of Gender. Citizenship and Nation in Modern Nepal yang ditulis oleh Sushma Joshi di mana tulisan tersebut berfokus menjelaskan mengenai proses diskursus yang diperankan oleh media dalam menyebarkan nilai-nilai bias gender Berdasarkan latar belakang tersebut, pertanyaan penelitian yang hendak diulas di dalam tulisan ini adalah bagaimana peran jaringan feminis transnasional dalam mengatasi peningkatan perdagangan perempuan dari Nepal ke India tahun 2012-2. Pertanyaan ini dijawab dengan mengambil Global Alliance Against Trafficking in Women (GAATW) sebagai salah satu contoh jejaring feminis yang Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ Perdagangan Perempuan dari Nepal ke India perdagangan perempuan. Media disini mengenai perempuan di NepalAiyang seharusnya digambarkan sebagai kelompok yang beragam dan Setelah mengenai kompleksitas perdagangan perempuan di Nepal . ang berguna berbagai faktor dan dimens. , hal yang tidak kalah penting adalah meninjau berbagai pendekatan dalam menelaah kasus perdagangan perempuan dari Nepal ke India. Dalam tulisannya yang berjudul Cross-Border Trafficking in Nepal and IndiaAiViolating WomenAos Rights. Tameshnie Deane menggunakan pendekatan HAM (Hak Asasi Manusi. dalam melihat problematika perdagangan perempuan dari Nepal ke India. Penelitian ini kemudian melihat bahwa lemahnya hukum domestik dan penyelenggaraannya menjadi faktor yang menjelaskan keberlangsungan dari perdagangan perempuan dari Nepal ke India. Selanjutnya, tulisan yang akan dibahas berjudul AoWe are looked down upon and rejected sociallyAo: a qualitative study on the experiences of trafficking survivors in Nepal yang ditulis oleh Pranab Dahal. Sunil Kumar Joshi & Katarina Swahnberg. Tulisan tersebut berfokus dalam narasi korban perdagangan perempuan Nepal yang tidak mendapatkan bantuan secara sosial, budaya, dan politik ketika mereka keluar dari lingkaran perdagangan manusia tersebut. Kebijakan yang hak-hak perdagangan perempuan juga dinilai sebagai tidak efisien dan komprehensif Tulisan Trafficking in Girls and Women in Nepal for Commercial Sexual Exploitation: Emerging Concerns and Gaps yang ditulis oleh Govind Subedi di mana penyebab perdagangan perempuan di Nepal . encakup perdagangan perempuan dari Nepal ke Indi. dianalisis dari struktur ekonomi sosial, norma-norma sosial dan perilakunya, serta lemahnya sistem hukum dan kurangnya pengetahuan mengenai perdagangan Dapat dilihat dari tulisan-tulisan diatas bahwa mereka sama-sama menempatkan korban perempuan sebagai fokus dari penelitian mereka di diperhatikan dilihat dari berbagai Hal ini dapat menjadi masukan bagi penulis dalam melihat kekerasan yang terjadi di Nepal. Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ manusia, dan kurangnya edukasi untuk perempuan di Nepal. Dalam tulisannya yang berjudul Feminist Movements from Global to Local: Has it helped Women Empowerment Process? Patriarchy and Status of Nepali Women yang ditulis oleh Prabin K. Prajapati, ia menjelaskan memberikan pengaruh terhadap isu ketidakadilan gender di NepalAiserta hubungannya dengan kebebasan mobilitas dan ekonomi. Tulisan pentingnya untuk Nepal untuk mengerahkan proses empowerment yang masif terutama dalam sosialisasi pengetahuan gender. Institusi feminis dan gerakan feminis dilihat sebagai pemegang peran dalam menanggulangi isu kekerasan perempuanAinamun ia membutuhkan koordinasi yang lebih komprehensif dan memusat terkait nilai dan tujuannya. Tulisan selanjutnya berjudul Trafficking of Women and Girls for Sex Trade from Nepal to India yang ditulis oleh Siddhartha Sarkar. Tulisan tersebut melihat bahwa tingginya tingkat perdagangan perempuan dan eksploitasi seks dilihat dari perspektif kebijakan dan hukum pemerintah India. Penulis melihat bahwa perlu penanggulangan yang serius dari pihak IndiaAiyaitu melalui pelatihan khusus untuk penyelenggara-penyelenggara hukum dalam perannya untuk menutup praktik prostitusi ilegal, melindungi korban perdagangan manusia, dan menginvestigasi pelakupelaku kejahatan. Gerakan Feminis dalam Mengatasi Isu Kekerasan Perempuan Tulisan selanjutnya berjudul Peran Jejaring Feminis Asia Pacific Forum on Women. Law, and Development (APWLD) dalam Merepresentasikan Hak Asasi Perempuan yang ditulis oleh Lathiefah Widuri Retyaningtyas. Dalam tulisannya, ia menekankan mengenai pentingnya jejaring feminis dalam menanggulangi permasalahan hegemoni patriarki yang merugikan perempuan seperti kekerasan seksual, pernikahan di bawah umur, serta hubungan eksploitatif lainnyaAidan terutama dalam merepresentasikan Hak Asasi Perempuan. Penulis melihat Setelah meninjau berbagai tulisan perdagangan perempuan Nepal ke India, hal yang kemudian penting untuk dibahas adalah bagaimana gerakan feminis berperan dalam mengatasi isu kekerasan perempuan di Nepal. Gerakan feminis merupakan suatu hal yang berhubungan dengan patriarkiAidi mana ia berhubungan dengan proses globalisasi yang batasan-batasan Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ bahwa APWLD selaku aktor jejaring feminis memiliki pengaruh dan peran yang signifikan dalam mengatasi isuisu HAM yang terjadi di negara-negara Asia Pasifik. ini bersifat eksplanatif dimana penjelasan yang ditulis berusaha memaparkan fenomena yang terjadi dan mencari serta memahami sebab akibat dari munculnya permasalahan Dari semua tulisan-tulisan diatas, dapat dilihat bahwa kajian yang perempuan dari Nepal ke India dalam kerangka jejaring feminis masih sangat Beberapa tulisan mengenai problematika tersebut dan pengaruh permukaannya sajaAiseperti pengaruh norma sosial dan diskriminasi gender di Nepal. Oleh karena itu, penulis berharap dapat mengisi celah perempuan dari Nepal ke India dari tinjauan kerangka jejaring feminisme Kemudian, tahap-tahap yang akan dilakukan dalam penelitian kualitatif yang dijelaskan oleh Bryman . dimulai dengan menentukan pemilihan subjek penelitian yang pengumpulan data yang dilanjutkan dengan melakukan interpretasi data. Selanjutnya, proses yang dilakukan adalah menemukan teori yang sesuai untuk menjawab rumusan masalah dan juga disatukan dengan menggunakan interpretasi data yang telah dimiliki. Untuk masalah dalam tulisan ini, penulis akan mencari dan menggali data-data utama yang akan membantu, yaitu mengenai sejarah kekerasan perempuan di Nepal dan India, dan kedudukan perempuan di Nepal dan India. Data-data yang telah didapatkan tersebut akan dianalisa oleh penulis untuk menjawab rumusan masalah penelitian. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang akan digunakan dalam jurnal ini adalah metode penelitian kualitatif, dimana ia memiliki pendekatan induktif yang berasal dari data-data yang telah Neuman . melihat bahwa metode kualitatif dapat diambil melalui kalimat, kata, simbol, dan lain Bryman . juga menjelaskan bahwa pengumpulan data dapat melalui wawancara, partisipasi, literatur dan lain lain. Jenis penelitian KERANGKA PEMIKIRAN Dalam meninjau jejaring feminis GAATW, hal yang perlu diperhatikan juga adalah pemahaman mengenai feminisme transnasional dalam melihat praktik perdagangan perempuan. Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ Feminisme transnasional merupakan suatu respons dari gerakan solidaritas aktivis feminis kontemporer (Inderpal & Caren, 1. Ia melihat bagaimana mempengaruhi perempuan lintas negara, ras, gender, kelas, dan Paradigma transnasional tersebut dipengaruhi oleh teori feminisme poskolonialisme yang menekankan bagaima legitimasi kolonisasi membentuk opresi sosial, mempengaruhi perempuan secara global (Inderpal & Caren, 1. Praktik transnasional bersolidaritas secara lintas batas untuk memahami peran negara, ras, kelas, gender, dan seksualitas dalam mengkritik dan menggugat struktur kuasa patriarki dan Feminisme transnasional dalam hal ini memperhatikan bahwa bentuk-bentuk praktik perdagangan perempuan kurang dapat sepenuhnya ditinjau di dalam kurungan narasi bahwa perempuan adalah korban. juga memperhatikan konteks sosial, ekonomi global, dan sejarah serta ketimpangan relasi kuasa yang membentuk narasi dominan dan opresif dari pengalaman perempuan di dalam aktivitas perdagangan itu Teori feminisme transnasional menyarankan untuk memikirkan kembali strategi dan program praktis untuk mengatasi situasi khusus bagi perempuan kulit berwarna dalam perdagangan seks global . engan pengalamannya yang beraga. serta membangun aliansi global. Untuk meninjau permasalahan perdagangan perempuan lintas batas dari Nepal ke India, kerangka gerakan aliansi transnasional menjadi suatu hal yang tidak kalah penting untuk Moghadam transnasional yang menjunjung nilai feminisme berusaha menyelesaikan isu-isu kebijakan sosial, ekonomi, serta Berkaitan dengan hal tersebut, ia melihat adanya kesamaan pola dari gerakan perempuan terutama dalam pemberdayaan perempuan dan advokasi keadilan gender. ia mengikutsertakan negara dan institusi antar pemerintah. TFN (Transnational Feminist Networ. jaringan solidaritas sosial yang Strategi yang digunakan oleh TFN adalah memobilisasi tekanan-tekanan terhadap serangan dan institusi yang berusaha mengusik status perempuan. Mogadham . memaparkan pola serupa yang terdapat di dalam gerakan transnasional pada umumnya adalah pertama, bergabung dengan jaringan global serta mengaktifkan perjuangan mereka untuk keadilan Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ aitu memobilisasi tekanan melawan kekuatan lua. Kedua. TFN juga digambarkan melakukan tindakan seperti melancarkan agitasi di daerah perbatasan serta lintas negara-bangsa masyarakat dan partisipasinya. Dalam hal ini, mereka bekerja sama mengutas kemanusiaan, pembangunan, dan isu militerisasi dengan berbagai macam pihak seperti media, kelompok HAM, tenaga kerja, dsb. Ketiga, jaringan TFN saling terhubung satu sama lain dan ia mencakup wilayah lokal, nasional, regional, dan transnasional. Keempat, jaringan TFN juga berpartisipasi di tingkat multilateral dan antar pemerintah. yang diterapkan oleh para pelaku Karena perdagangan perempuan secara tidak perempuan dan anak perempuan. GAATW memberikan perhatian khusus pada kebutuhan para korban Sejauh ini, mereka telah menerbitkan informasi termasuk buku pegangan bagi perempuan untuk memberdayakan dan membantu mereka dari eksploitasi perdagangan Hal ini memperkuat salah satu prinsip GAATW bahwa orangorang yang diperdagangkan tidak harus melainkan harus dibantu menuju (GGATW, n. GAATW juga bekerja untuk meningkatkan kondisi kehidupan dan pekerjaan di negaranegara asal orang-orang yang menyediakan alternatif ekonomi yang Ia juga bergerak aktif dalam mendefinisikan kembali instrumeninstrumen anti-perdagangan internasional dengan menguraikan standar-standar hak asasi manusia untuk perawatan orang-orang yang diperdagangkan (GGATW, n. Global Alliance Against Trafficking of Women (GAATW) Global Alliance Against Trafficking of Women (GAATW) didirikan di Chiang Mai. Thailand pada tahun 1994 dan berkembang menjadi sebuah organisasi global. Hal ini bertujuan untuk mempromosikan penghormatan terhadap hak asasi manusia dari orang-orang yang telah menjadi korban perdagangan manusia, termasuk mereka yang terkena perbudakan paksa, kerja paksa, atau praktik-praktik yang mirip perbudakan (GGATW, n. Kebebasan mendasar para korban ini sering ditolak melalui paksaan, penipuan, atau ikatan hutang GAATW pendekatan hak asasi manusia untuk perdagangan manusia, yang terdiri dari: Memusatkan hak asasi manusia dari orang-orang yang diperdagangkan dan mereka yang berada dalam situasi Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ rentan, dalam semua kegiatan antiperdagangan. Mengakui kesetaraan semua orang untuk menggunakan, membela, dan mempromosikan hak asasi manusia yang melekat, universal, dan tak terpisahkan serta nondiskriminatif terhadap keturunan etnis, usia, orientasi atau preferensi seksual, agama, jenis kelamin, usia, kebangsaan dan pekerjaan . ermasuk pekerjaan di sektor informal seperti pekerjaan rumah tangga, pekerjaan seks, dll. Mengedepankan prinsip akuntabilitas, partisipasi dan inklusivitas atau nondiskriminatif dalam metodologi kerja, dan struktur dan prosedur organisasi. Dalam hal ini, perwakilan dari organisasi mereka yang terkena dampak langsung oleh perdagangan sangat didorong dan didukung (GGATW, n. Kemudian, kerangka kerja GAATW merujuk dari website GGATW disusun berdasarkan tiga arah tematik strategis utama yaitu: mempraktikkan hak asasi mereka dengan meningkatkan akses ke keadilan dan memerangi semua bentuk diskriminasi yang berdampak pada menggunakan hak asasi mereka ketika perdagangan manusia. Ketiga, kekuasaan dalam migrasi dan pekerjaan, yang memusatkan analisis kekuatan perempuan dalam pekerjaan dan migrasi mereka untuk menilai dengan lebih baik dampak migrasi dan kebijakan perburuhan terhadap perempuan, dan untuk bekerja menuju proses perburuhan dan migrasi yang mencerminkan kebutuhan, aspirasi dan kemampuan Keempat. GAATW melayani anggotanya melalui advokasi komunikasi strategis serta media. juga menghasilkan sejumlah publikasi meningkatkan pemahaman tentang perdagangan manusia. Pertama, yaitu akuntabilitas. kepentingan anti-perdagangan yang antiperdagangan, terhadap orang-orang yang hak asasinya ingin mereka Perdagangan Perempuan Nepal ke India dan Peran GAATW Perdagangan perempuan Nepal ke India merupakan fenomena yang cukup rumit dan multidimensional. Secara perempuan Nepal sudah terjadi sejak tahun 1846 di periode rezim otokrat keluarga Rana, dan berlanjut hingga Kedua, akses ke keadilan, yang bertujuan untuk memperluas ruang bagi orang-orang yang diperdagangkan Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ periode monarki absolut, yaitu rezim panchayat . sampai sekarang (Subedi. Praktik-praktik kekerasan sosiokultural yang patriarkis juga banyak menimpa perempuan Nepal di dalam sejarah . an juga suku etnik yang masih memegang nilai-nilai Salah satunya adalah Badi. Badi pada awalnya adalah kasta hiburan yang terdiri dari penyanyi, penari dan musisi. Seiring berjalannya waktu, perubahan politik, budaya dan ekonomi kemudian berkontribusi dan menghasilkan pengembangan serta praktik prostitusi tersebut sebagai strategi bertahan hidup bagi banyak orang di komunitas Badi. Dikatakan "pekerjaan kasta tradisional" dari Badi dan sering didefinisikan sebagai bagian dari sistem kasta (CEDAW, n. Budaya patriarki di Nepal juga tercerminkan dalam komunitas yang perempuan untuk diperdagangan. Aktivis "penindas" perempuan terdapat di antara keluarga dekat atau pasangan, dan teror terhadap perempuan merupakan teror yang tersamar dan meluar, yang terjadi di rumah (Summer dalam Priatin. Hal ini membuat perempuan semakin rentan terhadap ancaman eksploitasi seksual, di mana orangorang menjerumuskan mereka ke dalam Contohnya adalah suku Tamang yang merupakan 70% dari populasi Nepal di mana ayah, saudara laki-laki, atau pacar adalah yang mengirim perempuan untuk diperdagangkan di India. Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa merupakan isu yang masih rentan dihadapi oleh perempuan Nepal Perempuan di Nepal dalam hal ini kerap kali diperdagangkan untuk eksploitasi seksual, eksploitasi buruh, dan kegiatan ilegal lainnya dengan mayoritas kasus dipenuhi oleh kekerasan seksual, yaitu perempuan dijadikan komoditas seksual dalam bentuk prostitusi paksa, pornografi, pernikahan paksa, dll. (Sarkar, 2011. Hal ini ditambah dengan praktik perdagangan melalui migrasi ilegal, di mana ia bekerja melalui jejaring sosial antara Nepal dan India. Dalam hal ini, melalui banyak rute, di mana sebagian besar terjadi dalam jaringan pedagang dari desa atau tempat kerja ke perbatasan, dan perbatasan ke tujuan, dan terjadi untuk eksploitasi seksual, eksploitasi tenaga kerja, dan kegiatan ilegal lainnya (Sarkar, 2011. Perpindahan orang-orang dari Nepal ke India cukup mudah mengingat perbatasan yang panjang dengan India. Terdapat empat belas titik masuk yang legal, tetapi gerakan lintas batas ilegal Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ tanpa dokumen sering dilakukan sejak India memiliki kebijakan perbatasan terbuka dengan Nepal. Dalam hal ini, pemerintah Nepal secara aktif mendukung migrasi tenaga kerja lintasperbatasan dengan mengakui aliran remitansi yang signifikan ke Nepal, tetapi pada saat yang bersamaan (Subedi, 2. , aliran tenaga murah ini dieksploitasi oleh para pedagang manusia yang menangkap perempuan dan anak-anak yang paling rentan untuk perdagangan seks. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi dalam migrasi desa-kota meningkatkan risiko Mereka dikirim dari daerah pedesaan untuk bekerja di kotakota seperti yang diatur oleh seorang perekrut, atau mereka dengan antusias bermigrasi untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, terpikat oleh janji cinta, hiburan, dan dengan harapan perbaikan kondisi ekonomi. GAATW kerangka TFNs untuk meninjau seberapa matang jejaring solidaritas feminis regional Asia Pasifik dalam menangani permasalahan perdagangan perempuan dari Nepal ke India. GAATW dilihat sebagai jejaring feminis dengan kerangka kerja yang komprehensifAibahasannya perdagangan perempuan menyentuh ranah ekonomi, politik, hukum, (GGATW, n. Ia menjalankan perjuangan perempuan dengan latar belakang permasalahan yang beragam ke dalam satu wadahAiia menghargai perbedaan dimensi serta konteks perdagangan perempuan itu sendiri dan bersolidaritas sebagai perlawanan kolektif untuk mengkontestasikan hegemoni patriarki. Strategi TFNs seperti yang digambarkan Mogadham tergambarkan di dalam programprogram yang dijalankan di dalam kerangka kerja GAATW. Ia turut melakukan mobilisasi perlawanan terhadap perdagangan perempuan gerakan-gerakan sosial lainnya seperti masyarakat, media, gerakan HAM. Kemudian, ia juga mendorong perempuan untuk berpartisipasi dari akarnya hingga lintas batas negara. GAATW tidak lepas dalam hubungan Selain dimensi sejarah, sistem adat, dan ekonomi seperti yang dijelaskan diatasAiNGO dan donor tentang tren perdagangan perempuan di Asia Selatan seperti Nepal dan menyoroti bagaimana kemiskinan, migrasi, agama, pekerjaan, jenis kelamin, kekuasaan, uang dan kekerasan saling terkait erat (Poudel & Smyth, 2002 dalam Richardson et al. Argumen dalam tulisan ini Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ anggotanya di mana teknologi dan informasi adalah bagian yang tidak kalah penting untuk berjejaring dan Selain tahunnya, media massa juga menjadi bagian yang penting dari GAATW dalam mengedukasi persepsi publik merepresentasikan perempuan di luar konsepsi-konsepsi seperti korban, teraniaya, dll (GGATW Annual Report, 2. Media dilihat untuk memiliki kontribusi nyata dalam menyebarluaskan gagasan tersebut dan perempuan yang beragam. Contohnya adalah pemberitaan media online GGATW yang menggambarkan aktivitas organisasi Shakti Shamuha. Dapat digambarkan dengan representasi yang stereotipikal tentang korban pada pelatihan yang menguatkan kapasitas aktor tingkat lokal yang berhubungan dengan perempuan di level komunitas (GGATW Annual Report, 2. Projek tersebut juga menekankan perempuan untuk menganalisa dan memproses situasi yang berhubungan. Strategi Kemudian, dengan Alliance Against Trafficking in Women in Nepal (AATWIN), jaringan Nepal, mengoordinasikan administrasi alat penilaian GAATW dan konsultan independen yang terlatih dalam memfasilitasi workshop analisis data. Salah satu hasil perkembangan yang terlihat adalah di Sindhupalchok, di mana tim peneliti dan NGO yang berpartisipasi berkoordinasi dengan CDO Sekretaris Komite Pengembangan Desa dan berhasil membentuk kelompok kerja untuk mengkoordinasikan kegiatan antiperdagangan manusia di 15 desa di wilayah tersebut (GGATW Annual Report, 2. Walaupun begitu, hambatan atau tantangan dalam proses tersebut juga tidak luput di dalam laporan tahunannyaAisalah satunya Fokus utama dalam kerangka kerja GAATW adalah bagaimana perempuan menggunakan feminisme sebagai pisau analisis untuk membedah dimensi-dimensi aktivitas migrasi di mana komponen feminis diutamakan untuk dimasukkan dalam praktik migrasi yang aman, pengembangan kemampuan, hak pekerja perempuan, dan literasi finansial. Salah satunya adalah, di tahun 2013, ia memfokuskan Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ alam memproses dat. , dan dukungan finansial. berkontribusi dalam memberikan concept paper (GGATW Annual Report. Pertemuan tersebut juga inisiatif strategis untuk pemangku kepentingan dalam kaitannya dengan hak asasi manusia di perbatasan internasional, termasuk strategi litigasi strategis di tingkat nasional, regional dan internasional, strategi advokasi luas yang akan mempengaruhi wacana politik tentang migrasi dan mendorong respons terhadap migrasi tidak teratur berdasarkan tanggung jawab bersama dan norma-norma hak asasi manusia, strategi solidaritas dan kemitraan dengan para pemangku kepentingan termasuk negara asal dan transit, serta sektor swasta seperti media dan komunitas bisnis. Dalam menyajikan perspektif alternatif yang memihak perempuan. GAATW juga cukup aktif di berbagai forum-forum pemerintahAimengajukan proposal, aplikasi, serta dokumen lain untuk pertimbangan terhadap kondisi perdagangan manusia. Pada tahun 2014. GAATW mengambil bagian dalam peninjauan 20-tahun antarpemerintah Asia-Pasifik mengenai the Beijing Platform for Action (BPfA), yang menjadi kerangka kerja yang mereka anggap paling komprehensif tentang kesetaraan gender (GGATW Annual Report, 2. Kemudian, proyek-proyek lain di dalam GAATW . ersama dengan ILO) membahas mengenai sosialisasi mengenai safe migration di Nepal. India, dan Bangladesh di tahun 2015Aiuntuk memberikan pengetahuan mengenai kondisi negara yang dituju dan menyediakan program pengembangan skill di komunitas masing-masing di fase pre-migrasi (GGATW Annual Report, 2. Tidak kalah penting adalah asistensi terhadap perempuan yang mengalami tindakan kekerasan melalui workshop DMT (Dance Movement Therap. yang memasukkan teknik psycho-physical untuk kemudian dapat diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari (GGATW Annual Report. Hal Nepal menghadapi kondisi tersebut. GAATW juga tidak mengabaikan peran kebijakan serta hukum sebagai alat untuk menegakkan terjaminnya hak asasi perempuan. Salah satunya adalah di tahun 2012, bersama dengan OHCHR (Office of the High Commissioner for Human Right. GGATW mengadakan konsultasi ahli berjudul Human Rights at International Borders: Exploring Gaps in Policy and Practice di mana ia meninjau kebijakan perbatasan mengenai hak asasi Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ Permasalahan perempuan merupakan suatu hal yang mutifaset dan ia berhubungan dengan banyak dimensiAisalah satunya adalah Penyelesaiannya pun membutuhkan pendekatan yang beragam, tidak hanya dengan kerangka kebijakan saja. namun juga melihatnya dengan ketimpangan relasi kuasa posisi Walaupun tantangan dalam menyelesaikan hal tersebut tidak mudah, upaya yang dilakukan GAATW untuk memperjuangkan hak asasi perempuan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi isu perdagangan perempuan merupakan suatu hal yang patut untuk diapresiasi. Kendati ditunjukkan oleh NHRC Nepal perempuan yang meningkat, walaupun berbagai upaya banyak diusahakan oleh GAATW. Hal yang tidak kalah permasalahan akses antar perbatasan. Masyarakat Nepal sendiri memiliki akses bebas untuk memasuki India, perempuan menjadi sulit untuk (Sarkar Keakuratan data pun menjadi kendala dikarenakan hal tersebut. Hal ini juga ditambah dengan stigma sosial mengenai perdagangan perempuan dikarenakan mayoritas akan eksploitasi seksual yang memperunyam proses pengumpulan data statistik untuk upaya penanggulangan yang lebih efektif (Subedi, 2. Dapat dikatakan bahwa data-data mengenai jumlah korban perdagangan perempuan bisa lebih tinggi dari yang sudah dilaporkan. Hal kompleksitas yang tinggi dalam melihat peningkatan perdagangan perempuan Nepal ke India. Dalam meninjau teori kerangka TFN. Mogadham . memandang jaringan feminis transnasional sebagai jaringan yang tidak begitu hierarkis, penciptaan koalisi yang melintasi perbatasan, dan lebih sadar secara politis tentang batas-batas kontekstual pengetahuan mereka. Walaupun begitu, penulis berpendapat bahwa penting juga untuk mengulas dimensi berinteraksi seperti kelas, ras, dan Mohanty . menjelaskan pentingnya dimensi dekolonisasi keilmuan serta teori feminis yang menentang pandangan ilmiah yang perempuan yang tersubordinasi di dunia Selatan dan Utara, lalu sebagai gantinya, menyerukan perhatian pada kekhasan sejarah dan budaya dalam memahami agensi kompleks mereka sebagai subyek yang dipelajari. Oleh karena itu, aspek kultural yang lebih spesifik dari kerangka kerja GAATW Nation State: Journal of International Studies P ISSN 2620-391X Vol. 3 No. 2 | December 2020 E ISSN 2621-735X __________________________________________________________________________________ dapat lebih ditonjolkan untuk masing-masing negaraAidalam konteks ini adalah perdagangan perempuan dari Nepal ke India . engan keberagaman aspek patriarkis yang tertanam di san. ekonomi, geografis, budaya patriarki, dan lain sebagainya. dilihat memiliki pengaruh dalam menjelaskan tingginya tingkat perdagangan perempuan. Oleh karena itu, akan lebih baik jika penyelesaiannya pun juga meliputi dimensi-dimensi yang beragamAisalah satunya adalah meninjau kompleksitas Dalam hal ini, diperlukan masyarakat beserta individu-individu untuk turut serta menjadi bagian dari perubahan pola pikir, sikap, dan keyakinan sehingga dapat menciptakan lingkungan yang sehat bagi perempuan di mana pun mereka berada. KESIMPULAN Perdagangan merupakan permasalahan kompleks yang membutuhkan berbagai macam Walaupun begitu, jejaring feminis memiliki peran yang penting dalam memperjuangkan hak asasi kesejahteraan serta kesetaraan dalam konteks perdagangan perempuan. GAATW dalam hal ini cukup berperan dalam menyuarakan hak asasi Nepal pendekatan HAM yang menggunakan strategi akuntabilitas, akses kepada keadilan, kekuasaan dan migrasi, serta advokasi komunikasi. Hal ini dapat dilihat dari analisis kerangka kerja GGATW yang ditinjau dari laporan tahunan tahun 2012 sampai 2016 yang melibatkan advokasi HAM lewat media, upaya akuntabilitas kebijakan dan hukum, rehabilitasi korban, dan lain sebagainya. Namun, perannya dilihat kurang menunjang penurunan angka perdagangan perempuan dari Nepal ke India. Tidak dapat diabaikan juga bahwa faktor-faktor seperti REFERENSI