ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29953-29958 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Profil Tingkat Bullying Pada Siswa SMA Se-Kecamatan Pamona Selatan Gretza Eurika Mowemba1. Munifah Munifah2. Ikhlas Rasido3. Azam Arifyadi4 1,2,3,4 Bimbingan dan Konseling. Universitas Tadulako e-mail: gretzaeurika03@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil tingkat Bullying pada siswa SMA se-Kecamatan Pamona Selatan. Profil Bullying verbal dalam penelitian ini merujuk pada gambaran bentuk perilaku Bullying verbal yang dialami siswa di lingkungan sekolah. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode observasi dan wawancara. Informan terdiri dari lima siswa, yaitu tiga siswa dari SMA Negeri 1 Pamona Selatan dan dua siswa dari SMA Negeri 2 Pamona Selatan, yang pernah mengalami Bullying verbal. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa gambaran Bullying verbal yang dialami para korban seperti dipanggil dengan sebutan yang merendahkan . , diejek karena kondisi fisik seperti kulit gelap atau tubuh pendek . , dihina dengan kata-kata kasar atau kotor . , serta dipermalukan di depan umum . Beberapa korban juga menyatakan tidak mampu melawan atau hanya memilih diam saat mengalami perlakuan tersebut. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penanganan Bullying di sekolah secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh elemen sekolah serta keluarga. Kata kunci: Profil Bullying Verbal. Siswa SMA. Abstract This research aims to determine the profile of bullying levels among high school students in South Pamona District. The verbal bullying profile examined in this study refers to the descriptive analysis of various forms of verbal bullying behavior experienced by students within the school This study employs a descriptive qualitative approach utilizing observation and interview methods. The research participants were five students who had experienced verbal bullying: three from SMA Negeri 1 South Pamona and two from SMA Negeri 2 South Pamona. The research findings reveal that verbal bullying experienced by victims includes several forms: being called demeaning names . xperienced by all 5 informant. , being mocked for physical characteristics such as dark skin or short stature . , being insulted with harsh or profane language . , and being humiliated in public settings . Additionally, some victims reported feeling unable to retaliate or chose to remain silent when subjected to such treatment. This research recommends implementing comprehensive and continuous anti-bullying programs in schools that actively involve all school stakeholders and Keywords : Verbal Bullying Profile. High School Students. PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan perencanaan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Tujuannya adalah agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi diri mereka. Melalui pendidikan, diharapkan mereka mampu membangun kekuatan spiritual keagamaan, memiliki pengendalian diri, membentuk kepribadian yang baik, mencapai kecerdasan, menanamkan akhlak mulia, serta menguasai keterampilan yang diperlukan untuk diri mereka sendiri dan masyarakat (Pristiwanti. Dengan demikian, pendidikan diharapkan dapat membentuk individu yang berintegritas, berpengetahuan, dan berdaya saing tinggi, serta mampu berkontribusi positif dalam masyarakat ( Lestari M, 2. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (Mendikubu. menjelaskan hasil survei kepribadian yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29953-29958 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Survei ini melibatkan 260. 000 sekolah di Indonesia, mulai dari SD/Madras hingga SMA/SMK. juta siswa dan 3,1 juta guru berpartisipasi dalam survei ini. Penelitian menunjukkan bahwa intimidasi 24,4% lebih mungkin terjadi di lingkungan sekolah (Kumparan News, 2. Fenomena Bullying kembali mencoreng wajah pendidikan di Indonesia, seolah telah menjadi bagian dari budaya di sekolah-sekolah. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan falsafah negara kita yang tercantum dalam Pancasila sebagai dasar negara. Namun, saat ini, nilai-nilai Pancasila yang diharapkan semakin sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi fondasi untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik (Amnda, 2. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendeteksi sekitar 3. 800 kasus Bullying di Indonesia pada tahun 2023 terjadi kasus di lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Hal tersebut dapat dibuktikan juga dengan terjadinya Bullying di kota Palu dengan beberapa kejadian perundungan pada tahun 2024: SMPN 14 Palu 14 Palu: Pelaku pembully menyemprot baigon untuk iseng dan mengaku melakukannya. SMAN Palu 7: Sekolah ini mempunyai TPPK yang menangani kasus-kasus Bullying yang serius dan sulit ditangani oleh konselor. Hukuman bervariasi tergantung pada tingkat keparahan insiden. SDN 15 Kota Palu: Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Satuan Reserse Kriminal Polresta Palu berupaya aktif mencegah perundungan . Bullying masih menjadi fenomena yang marak di lingkungan sekolah. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ribuan kasus perundungan terjadi setiap tahunnya, dengan bullying verbal sebagai bentuk yang paling sering dialami siswa. Bullying verbal, berupa ejekan, hinaan, maupun sebutan yang merendahkan, sering kali dianggap sebagai candaan, padahal berdampak signifikan pada perkembangan psikologis remaja (Hertinjung, 2. Kasus Bulliying di sekolah menjadi hal yang tidak dapat dihindari lagi termasuk di beberapa sekolah di Sulawesi tengah, salah satunya terjadi di SMAN 1 Pamona Selatan. Bullying yang umum terjadi di sekolah berbentuk serangan verbal, terutama penghinaan dan pemanggilan nama dengan sebutan kasar yang ditujukan kepada korban hal ini sering terjadi karena bukan hal baru bagi siswa di sekolah, dan juga seperti kasus Bullying yang menyita perhatian yaitu pada tahun 2024 kasus Bullying di Binus School Serpong dimana pelaku secara bergantian melakukan kekerasan terhadap korban 17 tahun (Republika, 2. Sejumlah penelitian terdahulu juga menunjukkan bahwa bullying verbal merupakan bentuk perundungan yang paling dominan terjadi pada remaja. (Marchira, 2. menemukan bahwa 47% remaja SMA di Kota Yogyakarta mengalami bullying verbal, dan mereka yang menjadi korban berisiko 1,5 kali lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan siswa yang tidak mengalami bullying. Penelitian (Amelia, 2. mengungkapkan bahwa 86% remaja mengalami bullying verbal dengan dampak utama berupa stres dan trauma berkepanjangan. Sementara itu (Wahyuningsih, 2. melaporkan bahwa bullying verbal menempati persentase tertinggi . ,06%) di kalangan siswa SMP Negeri Kota Serang. Data ini menunjukkan bahwa bullying verbal merupakan masalah nyata yang harus mendapat perhatian serius dari sekolah, orang tua, dan masyarakat. Perilaku Bullying menjadi permasalahan yang sangat penting untuk dicegah karena Bullying memberikan dampak negatif bagi pelaku maupun korban. Dampak yang sering dialami meliputi menurunnya rasa percaya diri, kesulitan bersosialisasi, munculnya rasa takut berlebihan, gangguan konsentrasi belajar, hingga trauma psikologis yang dapat terbawa hingga dewasa. Dalam konteks pendidikan, kondisi ini dapat menghambat pencapaian prestasi akademik siswa sekaligus mengganggu perkembangan sosial-emosional mereka. Faktor penyebab munculnya bullying verbal di kalangan siswa cukup kompleks. Dari sisi individu, pelaku seringkali ingin menunjukkan kekuasaan atau memperoleh pengakuan dari teman sebaya. Dari sisi korban, perbedaan fisik seperti kulit gelap, tubuh pendek, atau gaya berbicara tertentu kerap menjadi pemicu ejekan. Selain itu, faktor lingkungan keluarga yang kurang harmonis, pengaruh kelompok sebaya, serta lemahnya pengawasan sekolah turut memperparah terjadinya bullying. Hal ini sesuai dengan pandangan (Zakiyah, 2. bahwa bullying tidak hanya disebabkan oleh perilaku individu, tetapi juga dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, kelompok sebaya, bahkan media massa yang cenderung permisif terhadap kekerasan verbal. Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29953-29958 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa bullying verbal merupakan masalah serius yang tidak dapat diabaikan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di daerah seperti Kecamatan Pamona Selatan. Kabupaten Poso. Sulawesi Tengah. Kondisi ini menegaskan bahwa bullying verbal merupakan isu lokal sekaligus nasional yang membutuhkan perhatian segera. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya mengetahui gambaran atau profil Bullying verbal pada siswa dan diharapkan lewat penelitian ini mampu berkontribusi dalam penemuan cara pendidikan bebas dari perilaku Bullying . Berawal dari penemuan dalam profil Bullying pada siswa diharapkan mampu menjadi langka awal menghentikan tindakan Bullying. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam fenomena Bullying verbal berdasarkan pengalaman langsung para informan. Instrumen penelitian utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket Wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan angket dan pedoman wawancara agar proses pengumpulan data atau informasi lebih terfokus dan terarah. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data, redaksi atau penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verfikasi data. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa bullying verbal pada siswa SMA di Kecamatan Pamona Selatan berada pada kategori sedang dengan persentase cukup tinggi, baik di SMA Negeri 1 maupun SMA Negeri 2. Temuan ini menandakan bahwa bullying verbal merupakan fenomena nyata dalam kehidupan sehari-hari siswa dan sudah menjadi bagian dari dinamika interaksi sosial di sekolah. Meskipun tidak semua kasus bullying verbal berujung pada konflik fisik, dampaknya terhadap perkembangan psikologis dan akademik siswa sangat signifikan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil bullying verbal pada siswa SMA se-Kecamatan Pamona Selatan. Berdasarkan hasil angket, tingkat bullying verbal berada pada kategori sedang. Di SMA Negeri 1 Pamona Selatan, 64% siswa melaporkan pengalaman bullying verbal pada kategori sedang, 31% pada kategori tinggi, dan 5% pada kategori rendah. Sementara itu, di SMA Negeri 2 Pamona Selatan, 72% berada pada kategori sedang, 26% pada kategori tinggi, dan 2% pada kategori rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa di kedua sekolah mengalami bullying verbal dengan intensitas cukup tinggi sehingga dapat dikategorikan sebagai persoalan serius di lingkungan pendidikan. Bullying adalah perilaku negatif yang dapat terjadi dalam interaksi sehari-hari, seperti mengolok- olok, mencemooh, memaki, menghina, dan menggunakan kata-kata kasar terhadap orang lain (Arifyadi et al. Pernyataan tersebut juga sejalan dengan teori bullying verbal merupakan bullying langsung, yang meliputi perilaku seperti, memanggil dengan panggilan/julukan yang buruk, mengejek, menggoda, maupun mengancam. Wawancara mendalam memperlihatkan bentuk-bentuk bullying verbal yang dialami siswa meliputi pemanggilan dengan sebutan merendahkan, ejekan terhadap kondisi fisik . isalnya warna kulit atau tinggi bada. , hinaan dengan kata-kata kasar, serta dipermalukan di depan umum. Beberapa kasus, bullying verbal disertai tindakan fisik sederhana, seperti pelemparan kertas ketika korban berbicara di depan kelas. Bentuk-bentuk ini sesuai dengan pendapat (Hertinjung, 2. bahwa ejekan dan hinaan sering dipandang sebagai candaan, tetapi sebenarnya merupakan bentuk bullying verbal yang merugikan. Candaan tersebut menimbulkan luka emosional yang mendalam bagi korban. Hal ini sesuai dengan fenomena yang ditemukan dalam wawancara, di mana korban mengaku merasa sakit hati, kehilangan kepercayaan diri, bahkan takut untuk berinteraksi di kelas. Dengan demikian, bullying verbal dapat dipahami sebagai bentuk perundungan psikologis yang berulang dan memiliki daya rusak jangka panjang. Berdasarkan hasil analisis dan wawancara dari 5 subjek penelitian menunjukkan bahwa korban Bullying mengalami dampak yang signifikan pada kehidupannya sehari-hari, termasuk merasa malu, sakit hati, dan marah akibat perlakuan tidak baik dari teman-temannya. Akibatnya, korban memilih untuk mengurung diri di kamar, tidak sekolah, dan menghindari interaksi dengan orang sekitar karena ketakutan dan trauma untuk bertemu dengan pelaku Bullying. Pengalaman ini Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29953-29958 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 membuat korban merasa tidak nyaman dan tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan orang lain, serta mengganggu fokus belajarnya. Korban juga mengalami kesulitan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan sosial karena takut diejek atau dihina lagi. Korban merasa bahwa kehadiran pelaku dapat memicu perasaan negatif dan membuat korban merasa tidak aman. Pengalaman ini menunjukkan bahwa Bullying dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental dan emosional korban, termasuk meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan Temuan ini sejalan dengan (Ani & Nurhayati, 2. yang menyebutkan bahwa bullying verbal dapat memberikan dampak buruk bagi korban. Dampak bagi korban seperti kepercayaan diri yang rendah, tidak dapat berinteraksi dan bersosialisasi dengan baik, mudah marah, dan cenderung menjadi pemurung. Berdasarkan hasil analisis dan wawancara dari 5 subjek penelitian menunjukkan bahwa penyebab terjadinya Bullying adalah keinginan pelaku untuk menunjukkan kekuasaan dan merendahkan korban, seringkali berdasarkan perbedaan penampilan fisik Dari sisi pelaku, bullying menjadi cara untuk menunjukkan dominasi di hadapan teman sebaya. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku Bullying seringkali memiliki kebutuhan untuk mengontrol dan mendominasi orang lain. Perilaku ini dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan sosial, keluarga, dan pengalaman pribadi. Dengan memahami penyebab ini, dapat dilakukan upaya pencegahan dan penanganan yang lebih efektif. Lingkungan sekolah dan kelompok sebaya yang permisif terhadap ejekan memperkuat perilaku ini, sementara pengawasan guru yang lemah membuat kasus sering tidak terdeteksi. Beberapa informan juga menyebutkan bahwa perlakuan serupa terjadi di lingkungan keluarga, misalnya kritik berlebihan atau ejekan dari saudara kandung. Penemuan lain juga menemukan faktor-faktor penyebab terjadinya Bullying menurut (Ariesto, 2009 . Zakiyah, 2. pertama Keluarga. Pelaku Bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah . rang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuha. , serta lingkungan sekolah, sekolah sering mengabaikan keberadaan Bullying ini. Akibatnya, anak-anak sebagai pelaku Bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Mereka melakukan Bullying untuk membuktikan kekuasaan mereka dan merasa lebih kuat serta dominan di antara teman-temannya. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan (Wahyuningsih, 2. yang mengidentifikasi bullying verbal sebagai bentuk perundungan dominan di SMP Negeri 8 Kota Serang dengan persentase 27,06%. Penelitian yang dilakukan oleh (Amelia, 2. melaporkan 86% remaja mengalami bullying verbal dengan dampak utama berupa stres dan trauma berkepanjangan. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat bukti bahwa bullying verbal merupakan bentuk bullying yang paling sering dialami remaja, baik di tingkat SMP maupun SMA, dengan konsekuensi psikologis yang serius. Secara keseluruhan, profil bullying verbal pada siswa SMA di Kecamatan Pamona Selatan dapat dipahami sebagai fenomena dengan intensitas cukup tinggi, berbentuk ejekan verbal yang berulang, berdampak signifikan pada psikologis korban, serta dipengaruhi oleh faktor individu, keluarga, lingkungan sebaya, dan sekolah. Kondisi ini menegaskan perlunya intervensi sistematis melalui peran aktif guru, konselor, orang tua, dan pihak sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman. Program pencegahan bullying, penguatan peran bimbingan konseling, serta keterlibatan orang tua sangat penting untuk meminimalisasi kejadian bullying verbal dan dampaknya terhadap perkembangan siswa. SIMPULAN Penelitian ini mendeskripsikan profil bullying verbal pada siswa SMA se-Kecamatan Pamona Selatan dan menemukan bahwa mayoritas siswa mengalami bullying verbal pada kategori sedang hingga tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 2 Pamona Selatan memiliki pengalaman bullying verbal yang tergolong sedang hingga cukup tinggi, masing-masing dengan persentase 64% dan 72%. Bullying umumnya dipicu oleh keinginan pelaku untuk menunjukkan kekuasaan dan merendahkan korban berdasarkan perbedaan fisik atau karakteristik pribadi. Bentuk-bentuk bullying verbal yang dialami mencakup ejekan fisik, pemanggilan dengan sebutan merendahkan, hinaan kasar, serta mempermalukan korban di depan umum. Dampak Jurnal Pendidikan Tambusai ISSN: 2614-6754 . ISSN: 2614-3097. Halaman 29953-29958 Volume 9 Nomor 3 Tahun 2025 yang ditimbulkan cukup serius, mulai dari menurunnya rasa percaya diri, rasa takut berlebihan, kesulitan berkonsentrasi, hingga trauma sosial. Faktor penyebab terjadinya bullying verbal meliputi dorongan pelaku untuk menunjukkan dominasi, perbedaan fisik korban, budaya sebaya yang permisif, lemahnya pengawasan sekolah, serta pengaruh lingkungan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa bullying verbal bukan sekadar candaan atau interaksi ringan, melainkan bentuk perundungan yang memiliki dampak psikologis jangka panjang. Dengan demikian, upaya pencegahan dan penanganan bullying verbal harus diprioritaskan dalam lingkungan pendidikan untuk menciptakan iklim sekolah yang aman dan mendukung perkembangan siswa secara optimal. UCAPAN TERIMA KASIH Penelitian ini dapat terlaksana dan diselesaikan dengan baik berkat dukungan berbagai Penulis menyampaikan terima kasih kepada para narasumber yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman dan informasi yang sangat berharga dalam proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran memberikan arahan, bimbingan, serta masukan konstruktif sepanjang proses penelitian. Selain itu, penulis menghargai dukungan dari dosen pengampu mata kuliah, ketua program studi, dan sekretaris program studi yang turut memfasilitasi serta memberikan dorongan dan saran yang membantu kelancaran penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA