Pengaruh Penggunaan Antikoagulan Terhadap Penurunan Nilai D-Dimer pada Pasien COVID-19 Effect of Anticoagulant Use on Reducing D-Dimer in COVID-19 Patients Feri Setiadi*1. Dealya Adira Panjaitan1. Memy Aviatin2 Jurusan Farmasi STIKES Prima Indonesia RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso *Korespondensi Penulis : Feri Setiadi Email : ferysetiadi28@gmail. Abstrak Latar Belakang : COVID-19 diidentifikasi sebagai penyakit sistem pernapasan namun diketahui juga berperan dalam gangguan koagulasi darah. Peningkatan nilai D-dimer secara signifikan merupakan parameter koagulasi yang menandakan adanya hiperinflamasi dan menyebabkan terjadinya hiperkoagulasi. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh penggunaan antikoagulan berdasarkan jenis antikoagulan, rute, dan lama pemberian terhadap penurunan nilai D-dimer. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif secara retrospektif dengan desain cross sectional dan menggunakan metode total sampling. Subjek penelitian sebanyak 246 pasien rawat inap COVID-19 di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso periode JanuariDesember 2021. Hasil: Pemeriksaan D-dimer sebelum dan sesudah pemberian menunjukkan perbedaan signifikan . <0,. dimana rata-rata sebelum 1,477 mg/L dan sesudah 0,6806 mg/L dengan penurunan sebesar 0,778 mg/L. Hasil pengujian menunjukkan terdapat pengaruh dari variabel independen . enggunaan antikoagula. terhadap variabel dependen . enurunan nilai D-dime. <0,. dimana variabel yang berpengaruh signifikan adalah jenis antikoagulan dan rute pemberian . <0,. serta diketahui bahwa jenis antikoagulan enoxaparin dan rute subkutan adalah yang paling baik dalam menurunkan nilai D-dimer. Kesimpulan: Dalam upaya mengatasi hiperkoagulasi pada pasien COVID-19, penggunaan antikoagulan dengan mempertimbangkan jenis dan rute pemberian akan memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan nilai D-dimer. Kata kunci : Antikoagulan. COVID-19. D-dimer Abstract Background: COVID-19 is identified as a respiratory system disease but also effect blood coagulation. Significant rising of D-dimer score is a coagulation parameter indicating the presence of hyperinflammation that causes hypercoagulation. Aim: To determine the effect of anticoagulant according to anticoagulant category, route, and duration of administration on decreasing D-dimer value. Method: This study was a retrospective quantitative study with cross-sectional design and total sampling method. Subjects were 246 COVID-19 inpatients at Sulianti Saroso Infectious Disease Hospital in January-December 2021. Results: D-dimer examination before and after administering anticoagulant showed a significant difference . <0. Mean score before administering the drug was 1,477 mg/L while after was 0,6806 mg/L with a decrease of 0,778 mg/L. The variables that had a significant effect were type and route of anticoagulant . <0. Enoxaparin and subcutaneous route were the best option in reducing D-dimer score. Conclusion: It was concluded that the administering anticoagulant by considering type and route of administration had significant effect on decreasing D-dimer score. Keywords: Anticoagulant. COVID-19. D-dimer The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. Pendahuluan Tahun 2020 dunia menghadapi Trombosis penyebabnya merupakan jenis Novel Coronavirus yang diberi nama Severe mortalitas pada kasus COVID-19 yang Acute Syndrome Diketahui bahwa trombosis yang Coronavirus-2 (SARS-CoV-. , wabah ini mengakibatkan Deep Vein Thrombosis diketahui bersumber dari virus yang (DVT). Pulmonary Embolism (PE), infark berasal dari kelelawar di pasar hewan serebral, dan infark miokardial terjadi Kota Respiratory Wuhan. Sejak COVID-19 ditetapkan World Health Organization pada pasien COVID-19 dengan kasus (WHO) sebagai pandemi global pada Meningkatnya nilai D-dimer secara tanggal 11 Maret 2020 jumlah kasus signifikan pada kasus COVID-19 berat infeksi COVID-19 semakin meningkat menunjukkan adanya hiperinflamasi dan dan penyebarannya semakin meluas. aktivasi koagulasi,5 hal ini dapat menjadi COVID-19 parameter dalam menentukan tingkat penyakit sistem pernapasan, namun kini keparahan dan perkembangan penyakit diketahui juga berdampak terhadap gangguan sistem tubuh, peradangan Respiratory Distress Syndrome (ARDS) sistemik, kerusakan fungsi organ, dan dan resiko kematian. 6 Beberapa studi kondisi serius lainnya. Secara umum mengenai faktor resiko keparahan dan infeksi COVID-19 menunjukkan gejala Penelitian Acute COVID-19 demam, batuk, dan sesak napas. SARS- menunjukkan bahwa nilai D-dimer > 1 CoV-2 dapat menyebabkan sindrom mg/L secara signfikan lebih berkaitan pernapasan akut yang berhubungan terhadap tingkat keparahan infeksi (OR dengan inflamasi berat, pneumonia, dan = 2,2. 95% Cl. 1,4-3,3 dengan nilai p < 0,. Penelitian Zhou koagulasi darah . Pada menunjukkan peningkatan nilai D-dimer kasus DIC, manifestasi klinis yang > 1 mg/L pada pasien COVID-19 COVID-19 meningkatnya resiko mortalitas (OR = meski ditemukan abnormalitas pada 18,42. 95% Cl. 2,64-128,55. nilai p = 0,0. 8 Zhang et al menyimpulkan bahwa pasien COVID-19 dengan nilai The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. D-dimer > 2,0 mg/L . eningkat empat mengalami penurunan dari 1,839 mg/L kali lipat dari norma. memiliki tingkat mortalitas lebih tinggi daripada pasien menunjukkan bahwa terapi antikoagulan dengan D-dimer < 2mg/L . /67 vs berpengaruh dalam penurunan nilai D- 1/. Zhang juga menyimpulkan nilai D-dimer > 2 mg/L dapat menjadi COVID-19 di rumah sakit (HR 51,5. 0,001. Cl 95%. 12,9-206,. 0,799 mg/L. Penggunaan antikoagulan sudah tercantum dalam lampiran Keputusan Menteri Kesehatan Nomor Antikoagulan adalah obat yang HK. 07/MENKES/5671/2021 tentang bekerja secara langsung atau tidak Manajemen Klinis Tata Laksana Corona Virus Disease-2019 (COVID-. Kesehatan,12 koagulasi dan menghambat proses Fasilitas koagulasi dan pembentukan fibrin. Pemberian antikoagulan pada pasien mengenai penggunaannya pada kasus COVID-19 COVID-19 belum banyak dilakukan di Pelayanan terhadap penurunan nilai D-dimer. Hal Indonesia. ini berdasarkan penelitian Tassiopoulos Penelitian kadar D-dimer dan dikaitkan dengan COVID-19. menunjukkan angka mortalitas secara signifikan lebih rendah pada pasien yang diberikan antikoagulan dibanding . ortalitas keseluruhan 27,47 vs 58,6 %. P < 0,. dan rata-rata maksimum nilai D-dimer lebih rendah terdapat pada . ,553mg/L vs 12,343 mg/L). 4 Hasil penelitian Pratiwi & Adhityasmara yang menunjukkan rata-rata nilai D-dimer terhadap nilai D-dimer sebelum dan terapi dapat secara kuat mengontrol peningkatan kelangsungan hidup. Hasil Metode Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif secara restrospektif . otong Teknik menggunakan non probability sampling dengan jenis total sampling. Total sampling/sampling jenuh yakni cara penentuan sampel dengan menetapkan Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis pasien rawat inap. The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. Populasi seluruh pasien COVID-19 di RSPI Prof. Penggunaan Dr. Sulianti Saroso Jakarta Utara periode Januari-Desember 2021 yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi antikoagulan yang banyak terjadi yakni dan eksklusi. Kriteria inklusi dalam selama 4-6 hari. Pasien COVID-19 dengan hasil PCR positif dan Lama Tabel 1. Gambaran Karakteristik Pasien Karakteristik Responden menjalani rawat inap, pasien dengan tingkat keparahan derajat sedang, usia 17 - 65 tahun, pemeriksaan D-dimer dilakukan Ou 2 kali, diberi satu jenis obat antikoagulan. Kriteria eksklusi: terapi antikoagulan ditujukan untuk mengatasi penyakit penyerta, pasien ibu hamil, pasien dengan riwayat trauma/pasca operasi, pasien meninggal dalam waktu terapi, pasien dengan rekam medis tidak lengkap. Data IBM SPSS Statistics 20. Hasil Diketahui dari 246 pasien yang memenuhi kriteria inklusi penelitian lebih laki-laki. Kelompok usia pasien terbanyak yaitu 36-45 tahun. Penyakit penyerta yang hipertensi (Tabel . Gambaran Jenis Kelamin n Laki-laki n Perempuan Usia n 17-25 tahun n 26-35 tahun n 36-45 tahun n 46-55 tahun n 56-65 tahun Penyakit Penyerta n Tanpa Penyakit Penyerta n Hipertensi n DM n Asma n Penyakit Jantung n Obesitas n ARDS n TB n Penyakit Ginjal n Kanker n HIV/AIDS n Psikosis Hasil Frekuensi (%) D-dimer tercantum dalam tabel 3. Rata-rata nilai D-dimer antikoagulan dan setelah penggunaan antikoagulan menunjukkan penurunan sebesar 0,7783 mg/L dengan hasil uji statistik Wilcoxon p-value 0,000. tercantum pada Tabel 2. Diketahui The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. Tabel 2. Pola Penggunaan Antikoagulan Pola Penggunaan Antikoagulan Jenis n Enoxaparin n Fondaparinux n Rivaroxaban n Edoxaban n Heparin Natrium Rute n Subkutan n Oral Lama Pemberian n 1-3 hari n 4-6 hari n 7-9 hari n Ou10 hari Frekuensi . = . Tabel 4. Hasil Pendugaan Parameter Sig. Exp (B) 95% C. EXP( B) Low Uppe 0,011 0,22 1,82 0,84 Variabel Jenis Antikoagul Rute Pemberian Lama Pemberian Hasil 0,014 0,159 0,825 1,671 mengetahui jenis antikoagulan dan rute pemberian yang dapat memberikan rata-rata D-dimer terbesar ditunjukkan pada Tabel 5. Hasil uji regresi logistik biner antara penggunaan antikoagulan . enis obat sebagai variabel independen terhadap variabel dependen yaitu penurunan nilai Diketahui antikoagulan enoxaparin dan rute subkutan memiliki mean rank perbedaan mean rank antara satu dengan lain tidak bermakna signifikan (Sig > 0,. D-dimer pada analisis Omnibus Test of Model Coefficients didapatkan nilai pvalue yang signifikan . < 0,. Pada hasil Pendugaan Parameter (Variable in the Equatio. (Tabel . diketahui hanya variabel jenis antikoagulan dan rute pemberian yang menunjukkan pengaruh Tabel 3. Hasil Pemeriksaan D-dimer Nilai D-dimer Sebelum D-dimer Sesudah Selisih D-dimer Rata-rata . g/L) 1,477 0,6806 0,7783 p-value 0,000 Tabel 5. Rata-rata Penurunan D-dimer Berdasarkan Obat & Rute Antikoagulan pPenggunaan Mean Antikoagulan Rank value Stand Jenis Antikoagulan n Enoxaparin 128,63 n Fondaparinux 108,60 n Rivaroxaban 101,68 0,246 0,05 n Edoxaban 91,00 n Heparin Na 90,50 Rute n Subkutan 125,48 0,162 0,05 n Oral 103,34 Pembahasan Hal yang mempengaruhi laki-laki lebih rentan terinfeksi COVID-19 salah satunya yakni faktor mobilitas laki-laki yang relatif lebih tinggi serta tingkat The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. kedisiplinan kesehatan yang cenderung lebih rendah dibanding perempuan. 13 Studi Styawan pasien COVID-19 menggunakan LMWH menyebutkan kasus positif COVID-19 di Indonesia paling banyak terjadi pada penduduk berusia relatif muda yakni 31- (Unfractioned Hepari. 17 Ikatan antara 45 tahun. Kelompok usia tersebut UFH dengan protein plasma dan endotel termasuk usia produktif yang tinggi membuat efek antikoagulannya tidak mobilitas dan aktivitas di luar rumah dapat diprediksi sehingga memerlukan yang mana banyak ditujukan untuk pemantauan aPTT . ctivated partial keperluan bekerja. Selain itu tingginya thromboplastin tim. , sedangkan efek frekuensi interaksi sosial dengan orang menyebabkan kelompok usia ini lebih Pemilihan LMWH rentan terpapar COVID-19. /fondaparinux tempat-tempat Styawan juga yang menyebutkan LMWH UFH meminimalisir kontak langsung antara pertugas medis dengan pasien COVID- penyerta yang paling banyak dialami 19 pada saat pengambilan sampel oleh pasien COVID-19 di Indonesia dengan persentase > 60%. Menurut Kario et al. , pada pasien COVID-19 yang aPTT menggunakan antikoagulan UFH. memiliki penyakit penyerta hipertensi Studi kohort yang dilakukan Flam et terjadi peningkatan ekspresi ACE-2 di Swedia menunjukkan bahwa tidak (Angiotensin-Converting Enzym-. yang ada hubungan yang signifikan antara merupakan reseptor target SARS-CoV- penggunaan antikoagulan oral langsung Kondisi ini menyebabkan tingginya dengan risiko keparahan COVID-19 kerentanan pasien hipertensi terhadap . HR, infeksi COVID-19. Antikoagulan Enoxaparin termasuk antikoagulan 0,76. 0,51-1,. LMWH (Low Molecular Weight Hepari. bioavailabilitas dan onset yang dimiliki yang paling banyak digunakan dalam tidak lebih cepat dari injeksi sedangkan pengobatan klinis. 16 Moores et al. guideline international CHEST (The perburukan klinis yang cepat. Pasien American College of Chest Physician. kemungkinan juga mendapat terapi COVID-19 The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. antivirus dan atau terapi lainnya yang RSUP H. Adam Malik Medan bahwa digunakan secara bersama-sama, yang terdapat perbedaan yang siginifikan mana hal ini dapat mempengaruhi farmakodinamik dan resiko perdarahan sesudah pemberian tromboprofilaksis pada kelompok antikoagulan LMWH antikoagulan oral direk (DOAC/Direct maupun non LMWH . =0,016. Oral Anticoagulan. 17,19 Studi Studi kohort Ionescu et al. D-dimer Tassiopoulos et al. terhadap 195 pasien Michigan Stony Brook University Hospital. New tenggara. Amerika Serikat menyebutkan York menunjukkan bahwa penggunaan antikoagulan pada pasien COVID-19 D-dimer konsensus ahli setempat yakni selama 5 mencegah terjadinya komplikasi berupa tromboemboli serta mempertahankan perfusi organ, serta dikaitkan dengan penanggung jawab pasien. 20 Srivastava peningkatan kelangsungan hidup. Diketahui antikoagulan dan rute pemberian yang antikoagulan dan durasi pemakaian yang optimal perlu ditentukan secara terhadap penurunan nilai D-dimer . < tepat berdasarkan pemantauan rutin 0,05. 0,011 & 0,. Jenis antikoagulan parameter koagulasi pasien. Kondisi sendiri memiliki mekanisme kerja yang pasien yang menunjukkan perbaikan, berbeda-beda baik yang bekerja secara aktif mobilisasi, dan hasil pemantauan mempengaruhi faktor koagulasi dan resiko trombosis yang tinggi maka menghambat proses koagulasi. 10 Rute pemberian berperan dalam kecepatan dapat dihentikan. obat mencapai target dan efek samping Hasil pemeriksaan nilai D-dimer D-dimer mengingat resiko perburukan klinis yang penggunaan antikoagulan dengan nilai cepat pada pasien COVID-19 dan D-dimer Hal ini sejalan dengan Frekuensi penelitian Sianipar yang dilakukan di tersebut dalam satu hari didasarkan The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. Pemilihan 17,23 pada bahwa rute pemberian obat berperan dibutuhkan, dimana pemberian dosis secara langsung mempengaruhi tingkat dan lama penggunaan yang optimal ditentukan berdasarkan kondisi klinis dari obat tersebut. dan parameter koagulasi pasien. Penggunaan Antikoagulan enoxaparin dan rute bioavailabilitasnya yang tinggi dan onset antikoagulan yang paling baik dalam kerja yang cepat dibanding penggunaan menurunkan nilai D-dimer dilihat dari besar penurunan yang terjadi. Namun, secara statistik perbedaan mean rank COVID-19 resiko perburukan klinis yang cepat signifikan (Sig Pertimbangan pada pasien COVID-19. > 0,. Chandra Penelitian ini dapat menambah antikoagulan pada pasien COVID-19 LMWH yang paling banyak digunakan sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam meningkatkan modalitas terapi. penggunaan pada pasien COVID-19 Keterbatasan hingga berat. Antikoagulan LMWH dengan data yang berdasarkan rekam bekerja menghambat pembekuan darah medis sehingga memiliki kemungkinan dengan menginhibisi jalur perubahan adanya pengaruh klinis terhadap nilai D- fibrinogen menjadi fibrin. LMWH akan dimer yang tidak tercatat pada rekam mengaktivasi antitrombin i sehingga faktor Xa dihambat dan tidak terjadi konversi fibrinogen menjadi fibrin yang Kesimpulan Pemberian antikoagulan dengan bekuan darah. Efek yang ditimbulkan dari pemberian LMWH lebih dapat diprediksi dibanding UFH serta waktu paruh LMWH yang lebih panjang dan bioavailabilitasnya yang lebih baik dapat mempengaruhi daya terapeutik yang 24 Alagga et al. pemberian dalam upaya mengatasi hiperkoagulasi pada pasien COVID-19 akan memberikan pengaruh terhadap nilai D-dimer yakni terjadi penurunan D-dimer The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. Daftar Pustaka Rodryguez A. Systematic review of World Health Organization. Covid- the prognostic utility of D-dimer, 19 Situation Report. World Heal Organ. :61-66. Concern Research 45. :42-55. COVID-19 inpatients in Wuhan. Allergy Perkembangan Akbar Terkini of adult inpatients with COVID-19 in Wuhan. Tassiopoulos AK. Mofakham S. Front Med. 8(Februar. :1-10. Lodigiani C. Iapichino G. Carenzo L. Venous thromboembolic complications in COVID-19 patients admitted to an academic hospital in Milan. Italy. Thromb Res. 191(Apri. :9-14. doi:10. 1016/j. Lancet. 1016/S0140-6736. Zhang L. Yan X. Fan Q, et al. Ddimer levels on admission to predict in-hospital mortality in patients with Covid-19. doi:10. 3389/fmed. :1054-1062. Anticoagulation Reduces Mortality Cohort Study With a Propensity- China: Rubano JA, et al. D-Dimer-Driven Analysis. Zhou F. Yu T. Du R, et al. Clinical course and risk factors for mortality Klin. :248. doi:10. in Intubated COVID-19 Patients: A Immunol. /j. 19 Bergejala Berat. J Sains Farm Matched Clin 146. :110-118. doi:10. Terapi Antikoagulan Pada Pasien Covid- Li X. Xu S. Yu M, et al. Risk factors for severity and mortality in adult Dis Prep. Published online 2020:1- Rusdiana doi:10. Roadmap. Glob Res Collab Infect Med Intensiva (English Ed. (PHEIC) Global Research and Innovation Towards therapy in COVID-19 critically ill 19 Public Health Emergency of International World Health Organization. COVID Forum: Moreno G. Carbonell R. Body M. Thromb Haemost. :1324-1329. doi:10. /jth. Vene N. Mavri A. An Overview of the Anticoagulant Drugs Used in Routine Clinical Anticoagulant Drugs. 2018:1-10. Practice. Published doi:10. The Indonesian Jounal Of Infectious Disease | Volume 8 No. Pratiwi ADE. Adhityasmara Gambaran COVID-19: Current concepts and Penggunaan Postgrad Med J. Antikoagulan Pada Pasien Covid- Published 19 Di Salah Satu Rumah Sakit doi:10. 1136/postgradmedj-2021- Rujukan