Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 Vol. 7 | No. Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention Di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific Beatrice Adabella Widjaja. Debora Naftaliana Kristanto. Christiana Tercia Yosevina. Antonius W. Sumarlin Program Studi Branding. School of Business and Economic. Universitas Prasetiya Mulya. BSD City Kavling Edutown I. Jl. BSD Raya Utama No. BSD City. Kec. Pagedangan. Kabupaten Tangerang. Banten 15339. Indonesia Corresponding author: Beatrice Adabella 13122010007@student. prasetiy amulya. ABSTRACT This study aims to investigate the influence of Electronic Word of Mouth on consumer Purchase Intention, focusing on the case of Skintific, a skincare brand active on online platforms such as Instagram and TikTok. Data collection will be conducted through an online questionnaire disseminated via social media platforms. The study will be conducted based on an online survey and will utilize the Ordinal scale with statistical evaluations using SPSS and AMOS software, focusing on respondents residing in the Jabodetabek area. These findings suggest that recommendations, reviews, and discussions exchanged by social media users can influence consumer purchasing decisions regarding Skintific products. The practical implications of these findings underscore the importance of maintaining brand reputation, strengthening consumer interactions, and designing marketing campaigns that promote positive messages on social media to enhance purchase intention and overall business success. Keywords: Electronic Word of Mouth. Purchase Intention. Social Media. Skincare Products SARI PATI Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa bagaimana persepsi lingkungan toko dapat mendorong perilaku pembelian impulsif pelanggan, faktor apa saja yang mempengaruhi pembelian impulsif, serta untuk menganalisa bagaimana karakteristik individu dapat mempengaruhi pembelian tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner secara online, menggunakan skala likert 1-5. Penelitian ini menemukan bahwa impulsive buying tendency dan layout berpengaruh paling kuat pada urge to buy Sehingga, disarankan untuk Sociolla dapat menambahkan promosi dan berfokus pada layout toko untuk meningkatkan urge to buy impulsively. Kata Kunci: Electronic Word of Mouth. Niat Pembelian. Media Sosial. Produk Perawatan Kulit Copyright A 2025 by Authors. Published by KBI. This is an open access article under the CC BY-SA License Kajian Branding Indonesia | Vol. 7 No. PENDAHULUAN Dalam era yang serba digital saat ini, pengaruh electronic-word of mouth . -WoM) dalam memengaruhi purchase intention konsumen telah menjadi salah satu faktor utama studi Salah satu kategori bisnis yang banyak dipengaruhi oleh e-WoM adalah industri E-WoM terjadi di media sosial dan menjadi salah satu teknik marketing yang Penggunaan e-WoM diutamakan oleh beberapa pelaku usaha juga dikarenakan adanya peningkatan pada penggunaan sosial media terlebih di Indonesia. Dengan adanya media sosial, ulasan produk oleh influencer maupun masyarakat sangat mudah ditemukan. Ulasan tersebut membantu masyarakat lainnya untuk memutuskan keputusan pembelian dan mengarah kepada purchase intention dan, karena itu, muncul yang dinamakan electronic word of mouth. Pengaruh e-WoM terhadap purchase intention juga didasarkan pada beberapa faktor, seperti perceived informativeness yang diukur berdasarkan persepsi konsumen terhadap suatu produk yang dibagikan melalui e-WoM. Selain itu, perceived persuasiveness atau bagaimana pandangan konsumen terhadap review yang diberikan juga menjadi faktor penting. Selain kedua faktor tersebut, terdapat source expertise dan source trustworthiness yang mengukur seberapa paham dan terpercayanya content creator terhadap produk yang diulas berdasarkan pandangan audience. Pada kasus Skintific, e-WoM banyak dilakukan pada aplikasi TikTok yang akhirnya menjadi strategi marketing berhasil bagi Skintific. Keberhasilan ini didapatkan melalui ulasan . beberapa orang, mulai dari orang awam sampai beauty influencer, seperti Tasya Farasya dan Abel Cantika, yang membagikan pengalaman pribadi penggunaan produk yang diterima baik oleh para penonton hingga akhirnya melakukan pembelian produk. Penggunaan influencer dan content creator dinilai sangat efektif dalam pemasaran sampai penjualan produk (Lestiyani. Banyak penelitian yang menyatakan influencer atau online review memberikan pengaruh signifikan terhadap purchase intention dalam kasus skincare, seperti penelitian dari Agustin dan Amron . Pratiwi dan Sidi . Amalia dan Nurlinda . Nasir dkk. , dan masih banyak lagi. Hasil dari e-WoM melalui sosial media ini dapat meningkatkan brand awareness dan membantu konsumen memahami produk Skintific dengan baik. Menurut data dari Compas. Skintific mengalami penurunan penjualan mulai 2022 Berdasarkan penjualan pada Agustus 2022. Skintific sempat menduduki posisi ketiga di kategori top brand serum. Mereka sukses mendapatkan penjualan lebih dari 22 ribu produk terjual. Sayangnya, periode 1Ae15 September 2022. Skintific mengalami penurunan yang dikalahkan oleh Somethinc. Scarlett. Garnier, dan Whitelab. Skintific berada di posisi kelima dengan penjualan sebesar 18 ribu lebih produk dan market share sebesar Berdasarkan pembahasan di atas, penelitian ini berkontribusi terhadap literatur dengan menyajikan pemeriksaan terhadap mekanisme yang digunakan konten e-WoM . erceived informativeness dan perceived persuasivenes. dan sumber informan . ource expertise dan source trustworthines. memengaruhi persepsi konsumen tentang kegunaan, kredibilitas, dan adopsi e-WoM. Tabel 1 menunjukkan definisi setiap variabel yang ada, yang kemudian dari variabel-variabel tersebut disusun dalam model konseptual yang dapat dilihat pada gambar 1. Pada Gambar 1, variabel independen/eksogen terdiri dari perceived informativeness, perceived persuasiveness, source expertise, dan source Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 Tabel 1. Definisi Variabel yang Digunakan Variabel Definisi Sumber Perceived Informativeness Perceived Informativeness adalah hal yang dirasakan oleh konsumen terhadap beberapa faktor seperti hubungan, informasi, dan ketepatan waktu untuk menilai kualitas dari produk atau jasa yang Zhou dkk. Perceived Persuasiveness Perceived Persuasiveness merupakan kemampuan seseorang memberikan informasi dan saran kepada seseorang dan dapat memengaruhi perilaku Zhou dkk. Source Expertise Informan yang memiliki pengetahuan dan pengalaman Tien dkk. terhadap produk atau jasa yang diulas Source Trustworthiness Tingkat penerima pesan percaya dan menerima informasi, karena sumber dianggap dapat dipercaya bila sumber tersebut dapat diandalkan, jujur, dan e-WoM Usefulness Tingkat kegunaan e-WoM terhadap citra merek dan Tien dkk. pembelian suatu produk serta persepsi individu bahwa e-WoM meningkatkan kinerjanya. e-WoM Credibility Pandangan seseorang mengenai informasi e-WoM sebagai informasi yang dapat dipercaya, benar, atau. Tien dkk. e-WoM Adoption Sejauh mana penerima e-WoM menerima dan mempertimbangkan saran dari sosial media ke keputusan pembelian mereka. Cheung dkk. Fan dkk. Fang . Filieri dan McLeay . Purchase Intention Kemungkinan seseorang akan membeli produk yang direkomendasikan di sosial media Bian dan Forsythe . Ohanian . Gambar 1. Model Konseptual Penelitian e-WoM Kajian Branding Indonesia | Vol. 7 No. Variabel mengenai pengaruhnya terhadap variabel endogen, yaitu e-WoM usefulness, e-WoM credibility, e-WoM adoption, dan purchase Penelitian ini akan meneliti 10 hipotesis untuk mengetahui pengaruh electronic-word of mouth terhadap purchase intention. Keinformatifan yang lebih baik dalam suatu bisnis memungkinkan konsumen untuk kualitas berbelanja, dan memungkinkan mereka melakukan keputusan pembelian lebih baik dan dengan demikian berhubungan langsung dengan persepsi konsumen tentang kegunaan produk (Ahn. Ryu, dan Han, 2. Studi sebelumnya mengenai e-WOM telah mencatat bahwa relevansi, ketepatan waktu, dan kelengkapan adalah fitur utama pesan e-WOM yang secara positif memengaruhi persepsi konsumen tentang kegunaan produk (Cheung. Cheung dkk. , 2. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis 1 (H. Perceived informativeness dari e-WoM di media sosial berpengaruh positif terhadap perceived usefulness Jika e-WoM dianggap memiliki nilai persuasif yang tinggi, maka konsumen akan menganggap itu efektif dan menganggap informasi yang mereka baca dapat dipercaya (Cheung dkk. Makin tinggi perceived persuasiveness, makin besar kepercayaan konsumen terhadap informasi produk e-WoM dan mengarah pada pemahaman produk. Selain itu. Gunawan dan Huarng . menemukan bahwa kekuatan perceived persuasiveness di media sosial penting untuk membentuk perilaku konsumen terhadap informasi dan kegunaannya. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis 2 (H. Perceived persuasiveness dari e-WoM di media sosial berpengaruh positif terhadap perceived usefulness Keahlian sumber e-WOM telah terbukti sangat memengaruhi apakah konsumen menganggap suatu ulasan di media sosial berguna atau tidak (Cheng dan Ho, 2. Secara keseluruhan, menurut Cheung dkk. , penelitian ini mengemukakan bahwa, jika konsumen mendapatkan pesan yang diunggah oleh sumber yang kompeten, maka dia akan mengembangkan persepsi yang baik tentang kegunaan informasi. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis (H. Source berpengaruh positif terhadap e-WoM Biasanya, ketika vlogger mengulas suatu produk, pesannya dapat dianggap lebih jujur dan relevan dibandingkan e-WoM tekstual anonim karena vlogger tersebut sudah sering menyampaikan tambahan informasi pribadi yang membantu konsumen menilai kepribadian dan gaya hidup mereka. Isyarat informasi ini akan lebih mudah diterima dan diandalkan sehingga akan berpengaruh langsung kepada niat konsumen. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis 4 (H. Source trustworthiness berpengaruh positif terhadap e-WoM Dalam komunikasi e-WoM, sejumlah penelitian telah mengakui pentingnya kekuatan argumen sehubungan dengan prediksi kredibilitas yang dirasakan (Cheung. Luo. Sia, dan Chen, 2009. Fang, 2. Fang . juga menemukan bahwa perceived persuasiveness adalah faktor terpenting yang memengaruhi kredibilitas antara sumber dan konsumen. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis 5 (H. Perceived persuasiveness dari e-WoM di media sosial berpengaruh positif terhadap e-WoM credibility Penelitian telah menunjukkan bahwa source expertise memiliki tingkat pengaruh yang tinggi terhadap sikap positif konsumen. Individu yang terlatih dan mempunyai pengetahuan Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 mendalam tentang produk meninggalkan dampak yang lebih besar pada sikap dan niat pendengar (Braunsberger dan Munch, 1. Ketika seseorang berada dalam situasi terlalu banyak informasi yang didapat, ia lebih memilih untuk mempercayai sumber yang memiliki keahlian dan pengetahuan teknis yang baik, serta memiliki pelatihan di bidang tertentu (Baber dkk. , 2. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis (H. Source berpengaruh positif terhadap e-WoM Karakteristik profil sumber dapat membantu penerima untuk mengevaluasi kredibilitas pesan dan memilih produk atau layanan yang disukai (Xu, 2. Menurut Kautsar dkk. , konten yang didapatkan dari sumbersumber yang dianggap tepercaya memiliki pengaruh yang lebih besar dan diterima oleh masyarakat lebih cepat. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis 7 (H. Source trustworthiness berpengaruh positif terhadap e-WoM Perilaku adopsi informasi adalah aktivitas utama yang ingin dilakukan user dalam komunitas virtual. Orang-orang akan membawa persepsi individu mengenai apakah opini tersebut bermanfaat dan mempermudah mereka melakukan keputusan pembelian yang lebih baik. Ketika seseorang menganggap opini yang lain dalam media sosial bermanfaat, ia akan mempunyai keinginan yang lebih besar untuk mengadopsi opini tersebut. Oleh karena itu, peneliti mengajukan hipotesis: Hipotesis 8 (H. e-WoM usefulness berpengaruh positif terhadap e-WoM adoption Menurut eksperimen yang dilakukan oleh Petty. Priester, dan Brinol . , di mana sumber digambarkan sebagai sumber yang kredibel, mereka yang menerima informasi sebagian besar menerima informasi tersebut Literatur tentang e-WOM menyimpulkan bahwa kredibilitas informasi merupakan faktor penting dalam penerapan suatu pesan. (Fan dkk. , 2013. Fang, 2014. Hajli, 2018. Lis, 2. Oleh karena itu peneliti berhipotesis: Hipotesis 9 (H. e-WoM credibility berpengaruh positif terhadap e-WoM adoption Berdasarkan dari H8 dan H9, e-WOM usefulness dan credibility berhubungan dengan e-WOM adoption, dan e-WOM adoption berperan besar dalam menentukan niat konsumen. Oleh karena itu, penelitian ini mengajukan bahwa e-WOM adoption memainkan peran mediasi dalam pengaruh e-WOM usefulness dan credibility Gunawan dan Huarng . menegaskan bahwa niat membeli yang kuat terhadap produk yang dipasarkan secara viral di social networking sites (SNS) dapat dihasilkan dari pesan viral dengan tingkat kegunaan yang dirasakan tinggi. e-WOM adoption juga mendapat manfaat dari tingkat e-WOM credibility yang lebih tinggi, hal ini berdampak pada keputusan pembelian mereka. Dabholkar dan Sheng . juga meneguhkan bahwa kepercayaan yang lebih tinggi terhadap seseorang yang merekomendasikan akan meningkatkan niat pembelian konsumen. Oleh karena itu, peneliti berhipotesis: Hipotesis 10 (H. e-WoM adoption memediasi pengaruh e-WoM usefulness dan e-WoM credibility terhadap purchase intention METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif untuk menunjukan adanya fenomena dan dianalisis dengan software SPSS dan AMOS. Metode pengumpulan data yang digunakan melalui metode survei. Peneliti membuat pertanyaan-pertanyaan berdasarkan dari kerangka konseptual dan literatur terkait topik yang diteliti. Peneliti juga akan membatasi responden dengan Kajian Branding Indonesia | Vol. 7 No. Tabel 2. Ketentuan Nilai Ambang Batas Hasil Uji memilih konsumen yang pernah menonton review produk Skintific, tetapi belum pernah Seluruh item pada penelitian akan diukur dengan skala Likert, skala 1 menunjukan Ausangat tidak setujuAy dan skala 5 sebagai Ausangat setuju. Ay Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah judgment sampel dari responden kebanyakan adalah perempuan yang berdomisili di Jakarta. Para responden, rata-rata, memiliki pendidikan akhir S1 dan saat ini memiliki status sebagai Analisis Uji Reliabilitas Tabel 3. Nilai Hasil Uji Reliabilitas Variabel Untuk prosedur uji statistik dalam penelitian ini, terdapat uji validitas, uji reliabilitas, uji goodness of fit, dan uji hipotesis. Untuk uji validitas terdiri dari KMO, dengan nilai yang dapat diterima adalah 0. 5 O KMO O 0. 9 (Ghozali. Uji reliabilitas terdiri dari CronbachAos Alpha, dengan hasil yang ideal atau dianggap layak jika berada di angka 0. 7 atau lebih (Hair , 2. Uji goodness of fit dapat dilihat tabel di bawah, dan uji hipotesis akan diterima apabila standardized coefficient > 0 dan p value O 0,05 (Haryono dan Wardoyo, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah menyebarkan kuesioner pertanyaan, peneliti melakukan data cleaning untuk mendapatkan responden sesuai batasan yang Dari hasil data cleaning disimpulkan. CronbachAos Alpha Perceived Informativeness Perceived Persuasiveness Source Expertise Source Trustworthiness 0. e-WoM Usefulness e-WoM Credibility e-WoM Adoption Purchase Intention Nilai cronbachAos alpha yang telah dihasilkan melalui uji reliabilitas menunjukan hasil yang baik dari hampir seluruh variabel, yaitu dengan 7 ke atas. Namun, terdapat satu variabel dengan nilai di bawah 0. 7, yaitu variabel source expertise dengan nilai 0. Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 Analisis Uji Validitas Tabel 4. Nilai Hasil Uji Validitas VARIABEL KMO Perceived Informativeness Perceived Persuasiveness Source Expertise Source Trustworthiness E-WoM Usefulness E-WoM Credible E-WoM Adoption Purchase Intention Nilai KMO yang didapatkan berdasarkan hasil uji tersebut baik, yaitu bernilai 0. Nilai KMO tertinggi ada di variabel e-WoM usefulness 814 sehingga variabel ini tergolong di nilai KMO yang sangat baik karena nilainya 0. O KMOO 0. Analisis Loading Factor Analisis loading factor berfungsi untuk mengukur korelasi antara indikator variabel dengan konstruknya. Menurut Malhotra . Tabel 5. Nilai Hasil Analisis Loading Factor Loading Factor Perceived Informativeness PI1: Secara keseluruhan informasi yang diberikan relevan dengan produk Skintific PI2: Secara keseluruhan informasi terkait produk Skintific lengkap PI3: Secara keseluruhan informasi yang diberikan terkait produk Skintific sesuai dengan yang saya butuhkan saat ini PI4: Secara keseluruhan informasi yang diberikan menjelaskan karakteristik dari produk Skintific Perceived Persuasiveness PP1: Secara keseluruhan pesan yang disampaikan reviewer meyakinkan PP2: Secara keseluruhan pesan yang disampaikan reviewer kuat PP3: Secara keseluruhan pesan yang disampaikan reviewer bagus PP4: Secara keseluruhan pesan yang disampaikan reviewer dapat mengajak/membujuk Source Expertise SE1: Orang yang melakukan review produk Skintific memiliki pengetahuan yang luas mengenai produk Skintific SE2: Orang yang melakukan review produk Skintific ahli dalam mengevaluasi kualitas produk Skintific SE3: Orang yang melakukan review produk Skintific sudah cukup berpengalaman dalam menggunakan produknya SE4: Orang yang melakukan review produk Skintific mampu memberikan informasi terkait produk dalam bentuk postingan atau komentar dibandingkan orang lain Source Trustworthiness ST1: Orang yang melakukan review produk Skintific dapat diandalkan ST2: Orang yang melakukan review produk Skintific adalah orang yang jujur ST3: Orang yang melakukan review produk Skintific adalah orang yang tulus ST4: Orang yang melakukan review produk Skintific dapat dipercaya Kajian Branding Indonesia | Vol. 7 No. e-WoM Usefulness US1: Secara keseluruhan informasi tentang produk Skintific berharga US2: Secara keseluruhan informasi tentang produk Skintific informatif US3: Secara keseluruhan informasi tentang produk Skintific bermanfaat US4: Informasi tentang produk Skintific membantu saya untuk mengevaluasi produk US5: Informasi tentang produk Skintific membantu saya untuk mengenal produk e-WoM Credibility CR1: Secara keseluruhan informasi tentang produk Skintific sesuai dengan fakta CR2: Secara keseluruhan informasi tentang produk Skintific diutarakan dengan akurat CR3: Secara keseluruhan informasi tentang produk Skintific dapat diandalkan CR4: Secara keseluruhan informasi tentang produk Skintific cukup meyakinkan e-WoM Adoption AD1: Postingan promosi lisan mengenai produk Skintific menambah pengetahuan saya tentang prouknya AD2: Postingan promosi lisan mengenai produk Skintific memudahkan saya untuk membuat keputusan pembelian AD3: Postingan promosi lisan mengenai produk Skintific mendorong saya dalam mempercepat keputusan pembelian AD4: Postingan promosi lisan mengenai produk Skintific memotivasi saya untuk melakukan pembelian Purchase Intention IN1: Saya berniat membeli produk Skintific IN2: Saya akan membeli produk Skintific kedepannya jika saya membutuhkan IN3: Saya akan mencoba produk Skintific IN4: Saya akan mempertimbangkan untuk membeli produk Skintific nilai loading factor yang dapat dikatakan valid adalah di atas angka 0. Berdasarkan Tabel 5, dapat ditemukan bahwa terdapat empat indikator variabel yang berada di bawah syarat ketentuan loading factor. Indikator tersebut adalah PP3 . ST2 . US4 . IN1 . Namun, setelah peneliti mencoba menghapus indikator-indikator tersebut, nilai cronbachAos alpha dan KMO MSA menurun dibandingkan yang sebelumnya. Oleh karena itu, dilihat dari hasil loading factor indikator yang mendekati angka 0. 5 serta melihat nilai dari uji reliabilitas dan uji validitas sebelumnya yang hasilnya lebih baik, peneliti menetapkan untuk tidak menghapus indikator tersebut. Analisis Uji Goodness of Fit Nilai dari analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 6 yang menunjukan kategori good fit hanya nilai RMSEA dan CFI, yaitu dengan 057 dan 0. Indikator CMIN/DF. GFI. NFI. TLI berada di kategori marginal fit karena berada sedikit di atas cut-off value. Kedua indikator lainnya masuk kategori poor fit. Hal itu menunjukan bahwa terdapat kelemahan pada indikator probability dan Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI). Uji goodness of fit yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar ukuran kecocokan model menghasilkan nilai yang tergolong marginal fit. Oleh karena itu, berdasarkan hasil ini, model yang diusulkan masih dapat diterima dan dilanjutkan. Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 Tabel 6. Nilai Hasil Uji Goodness of Fit Uji Goodness of Fit Cut-off Value Nilai Hasil Keterangan Probability CMIN/DF (X2/d. Goodness of Fit Index (GFI) Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) Adjusted Goodness of Fit Index (AGFI) Normed Fit Index (NFI) Tucker Lewis Index (TLI) Comparative Fit Index (CFI) > 0. Ou 0. 05 < RMSEA O 0. Poor Fit Marginal Fit Marginal Fit Good Fit Ou 0. Ou 0. Ou 0. Ou 0. Poor Fit Marginal Fit Marginal Fit Good Fit Analisis Uji Hipotesis Nilai dari analisis tersebut dapat dilihat pada Tabel 6 yang menunjukan kategori good fit hanya nilai RMSEA dan CFI, yaitu dengan nilai 057 dan 0. Indika Gambar 2. Peta Model Konseptual. Hipotesis, dan Hasil Uji Tabel 7. Nilai Hasil Uji Hipotesis Hipotesis Hubungan Antar Variabel yuE Keterangan Perceived informativeness Ae Usefulness Ditolak Perceived persuasiveness Ae Usefulness Ditolak Source expertise Ae e-WoM usefulness Ditolak Source trustworthiness Ae e-WoM usefulness Ditolak Kajian Branding Indonesia | Vol. 7 No. Perceived persuasiveness Ae e-WoM credibility Ditolak Source expertise Ae e-WoM credibility Ditolak Source trustworthiness Ae e-WoM credibility Ditolak e-WoM usefulness Ae e-WoM adoption Ditolak e-WoM credibility Ae e-WoM adoption *** Diterima H10 e-WoM adoption Ae Purchase intention *** Diterima *H10 Mediasi e-WoM usefulness Ae Purchase intention Ditolak e-WoM credibility Ae Purchase intention *** Diterima (H10. e-WoM usefulness Ae e-WoM adoption Ae Purchase intention *** Ditolak (H10. e-WoM credibility - e-WoM adoption Ae Purchase intention Diterima Berdasarkan uji hipotesis, hipotesis 1 tidak Artinya, hubungan antara perceived informativeness terhadap perceived usefulness tidak signifikan, yang berarti perceived informativeness tidak memengaruhi perceived usefulness kepada para penonton review produk Skintific. Hasil ini bertolak belakang dengan Zhang dkk. , yang menyatakan bahwa perceived informativeness dapat membantu penerimanya memberikan dukungan untuk pernyataan mereka sehingga mendorong masyarakat untuk menerima pesan atau rekomendasi tersebut . -WoM usefulnes. Nyatanya, berdasarkan hasil uji hipotesis 1, perceived informativeness masih perlu ditinjau kembali apakah menjadi faktor penting dari kesuksesan bisnis online. Faktor lainnya yang memengaruhi ditolaknya hipotesis 1 karena relevansi, kelengkapan, dan ketepatan waktu dari konten pengulas (Cheung dkk. , 2. Chang. Yu, dan Lu . juga mengatakan bahwa unggahan rendah berisi konten yang salah, tautan rusak, tidak terkait atau tidak detail, maka informasi tersebut akan dilihat secara negatif oleh konsumen. Hasil uji hipotesis menunjukan bahwa hipotesis 2 ditolak. Hal tersebut menunjukan bahwa perceived persuasiveness tidak memberikan pengaruh secara positif terhadap perceived Hasil ini bertolak belakang dengan pernyataan Cheung dkk. bahwa kekuatan informasi yang persuasif dapat memengaruhi sikap konsumen. Penelitian sebelumnya juga sudah menyatakan bahwa informasi yang berisi data spesifik yang berisikan alasan untuk mendukung argumen dapat lebih diandalkan oleh konsumen (Liu dkk. , 2. , tetapi nyatanya calon konsumen Indonesia tidak mendapatkan manfaat dari ulasan yang persuasif. Hasil hipotesis 3 dinyatakan ditolak. Hasil ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Tien dkk. di Taiwan yang menyatakan bahwa indikator source expertise dapat memengaruhi e-WoM usefulness. Hasil hipotesis 3 yang ditolak didukung oleh penelitian sebelumnya (Cheung dkk. , 2008. Liu dan Park, 2. yang menyatakan bahwa source expertise tidak memperkuat persepsi konsumen tentang kegunaan di berbagai forum atau platform opini berbasis web lainnya. Bickart dan Schindler . juga menyatakan bahwa konsumen opini dan ulasan yang dibagikan pada forum online akan lebih relevan bagi konsumen bila dibagikan oleh sesama konsumen lainnya. Maka dari itu, keahlian seorang pengulas tidak terlalu diperhatikan karena yang terpenting adalah kevalidan data yang diberikan oleh sesama konsumen mengenai produk yang diulas. Hubungan antara source trustworthiness tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap e-WoM usefulness, dilihat dari hasil uji hipotesis Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 Hal ini bertolak belakang dengan penelitian (Gonzalez-RodryguezA dkk. , 2016. Wang , 2. yang menyatakan bahwa source trustworthiness memiliki pengaruh positif terhadap e-WoM usefulness. Hasil hipotesis 4 didukung oleh penelitian Tien dkk. yang menyatakan bahwa temuan ini mungkin mengindikasikan penerima pesan tidak mengasosiasikan kegunaan pesan dengan source trustworthiness. Ketika melihat review produk, kemungkinan konsumen mengukur kegunaan melebihi keterpercayaan dari Meskipun informasi mengenai sumber sudah tersedia di media sosial, masih relatif kompleks untuk menilai kepercayaan pengirim pesan berdasarkan hal itu saja. Selain itu, tidak ada hubungan yang didukung oleh source trustworthiness terhadap e-WoM usefulness pada penelitian yang dilakukan oleh Cheung dkk. Hipotesis 5 ditolak karena menunjukan perceived persuasiveness tidak berpengaruh secara positif terhadap e-WoM credibility. Hasil ini bertentangan dengan penelitian Fang . yang menemukan bahwa penerima e-WoM yang sangat termotivasi untuk menilai kredibilitas e-WoM kekuatan persuasif yang disertai dalam pesan untuk mengurangi ketidakpastian. Hasil hipotesis ini didukung penelitian sebelumnya oleh Susan dkk. yang menyatakan bahwa berbagai jenis e-WoM akan memberikan tingkat efek persuasif yang berbeda-beda kepada pengguna e-WoM tersebut. Maka dari itu, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi hasil hipotesis 5 sehingga tidak signifikan atau ditolak, seperti cara pemberi pesan dalam memengaruhi konsumen, cara pemberi pesan berkomunikasi dalam konten, dan sebagainya. Hipotesis 6 menyatakan source expertise tidak berpengaruh secara positif terhadap e-WoM Hasil tersebut bertolak belakang dengan penelitian Tien dkk. yang juga meneliti produk perawatan kulit. Selain itu. Baber dkk. juga menyatakan, ketika seseorang berada dalam situasi terlalu banyak informasi yang didapat, ia memilih untuk mempercayai sumber yang memiliki keahlian dan pengetahuan teknis yang baik, serta memiliki pengalaman di bidang tertentu. Penelitian lainnya oleh Lis . , dimana ia menekankan bahwa keahlian orang yang melakukan review memengaruhi persepsi tentang kredibilitas komunikasi di e-WoM dan, karena pengetahuan dan pengalaman mereka, para ahli lebih mampu meyakinkan konsumen dan tampil lebih kredibel (Wangenheim dan Bayon, 2. Pada uji hipotesis H7, source trustworthiness dinyatakan tidak berpengaruh secara positif terhadap e-WoM credibility. Hipotesis ini bertolak belakang dengan penelitian Lis . yang mengatakan bahwa kepercayaan memengaruhi persepsi tentang kredibilitas komunikasi di e-WoM. Jika penerima mengetahui bahwa informasi e-WOM diposting oleh pemilik profil yang dapat diandalkan, mereka cenderung menilai informasi tersebut memiliki tingkat kredibilitas yang lebih tinggi (Cheung dan Thadani, 2. Selain itu, penelitian Tien dkk. juga bertolak belakang dengan hipotesis ini, dimana source trustworthiness berpengaruh secara positif terhadap e-WoM credibility. Hasil dari uji hipotesis H8 menunjukkan bahwa e-WoM usefulness tidak berpengaruh terhadap e-WoM adoption. Hipotesis tersebut bertentangan dengan Cheung dkk. yang menyatakan adopsi informasi ditentukan oleh sejauh mana masyarakat menganggap informasi tersebut bermanfaat dan berguna. Selain itu, hipotesis ini juga tidak sejalan dengan artikel jurnal acuan Tien dkk. yang menemukan bahwa e-WoM usefulness berpengaruh secara positif terhadap e-WoM adoption. Faktor yang mungkin menjadi penyebab tidak diterimanya hipotesis H8 adalah calon konsumen tidak Kajian Branding Indonesia | Vol. 7 No. cukup hanya mempertimbangkan manfaat yang didapatkan dari sumber tertentu, mereka juga harus mempertimbangkan unsur lain. Seperti yang dikatakan oleh Oum dan Han . dalam penelitiannya, bahwa hanya mempertimbangkan manfaat yang dirasakan akan menyebabkan pemahaman yang tidak lengkap mengenai perilaku adopsi konsumen dalam kaitannya dengan e-WoM. Berdasarkan hasil uji hipotesis H9, e-WoM credibility terbukti berpengaruh positif terhadap e-WoM adoption. Pernyataan tersebut didukung oleh penelitian dari Park . dan Lee dan Shin . , dimana ketika pelanggan merasa informasi yang didapatkan dalam suatu ulasan adalah benar dan meyakinkan, hal ini memengaruhi motivasi mereka untuk melakukan keputusan pembelian. Chang dkk. menyatakan bahwa jika konsumen menganggap informasi dari suatu sumber di online dapat dipercaya, hal itu akan memengaruhi niat mereka untuk mengadopsi pesan tersebut. Terdapat penelitian dari Tien . juga yang mendukung hipotesis ini, dimana ia menemukan bahwa e-WoM credibility berpengaruh secara positif terhadap e-WoM adoption, serta penelitian dari Cheung dkk. yang menginvestigasi hubungan antara kredibilitas informasi dan adopsi informasi berpengaruh secara positif. Berdasarkan hasil uji hipotesis H10, e-WoM adoption memiliki pengaruh yang positif terhadap purchase intention dengan nilai = 000 dan p value O 0. Sementara itu, e-WoM usefulness memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap purchase intention karena memiliki p value = 0. Ketika e-WoM adoption masuk menjadi mediasi di antara variabelvariabel tersebut, hasilnya pun menjadi tidak signifikan dengan p value = 0. Hasil uji e-WoM usefulness yang memiliki hubungan tidak signifikan terhadap purchase intention bertolak belakang dengan penelitian Davis . dan Venkatesh dkk. , yang menyatakan informasi relevan dan berguna dianggap signifikan dalam memenuhi niat pencarian konsumen dan memengaruhi pengambilan keputusan dalam pembelian (Davis, 1989. Sussman & Siegal, 2003. Cheung dkk. , 2008. Liu , 2. Namun, hasil tersebut didukung oleh Tien dkk. yang, dalam penelitiannya, juga mendapatkan hubungan antara e-WoM usefulness terhadap purchase intention hasilnya menjadi tidak signifikan saat e-WoM adoption berada di tengah-tengahnya. E-WoM credibility memiliki pengaruh positif terhadap purchase intention dengan nilai = 628 dan p value O 0. Ketika e-WoM adoption masuk menjadi mediasi di antara variabelvariabel tersebut, hasilnya pun menjadi signifikan dengan = 0. 969 dan p value = Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa e-WoM adoption signifikan memediasi pengaruh e-wom credibility terhadap purchase Hasil hipotesis ini didukung oleh Tien . yang juga menyatakan bahwa e-WoM adoption signifikan dalam memediasi pengaruh e-WoM credibility terhadap purchase intention. Selain itu, e-WoM adoption juga memiliki pengaruh positif terhadap purchase intention. Hal ini didukung oleh penelitian dari jurnal acuan dan penelitian-penelitian sebelumnya yang mengatakan terdapat hubungan kuat antara adopsi dan niat membeli (Fan & Miao. Erkan & Evans, 2. Menurut Burton dkk. dan Prendergast dkk. , hubungan antara keandalan dan adopsi informasi telah dianggap sebagai elemen dasar dalam proses SIMPULAN Dalam era digitalisasi, electronic word of mouth . -WoM) berpengaruh penting bagi kesuksesan suatu bisnis. Terdapat banyak faktor yang memengaruhi kinerja e-WoM sehingga dapat memengaruhi purchase intention konsumen, seperti perceived informativeness, perceived Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 persuasiveness, source expertise, dan source Berdasarkan analisis uji reliabilitas, uji validitas, uji goodness of fit, dan uji hipotesis terhadap e-WoM Skintific, perceived persuasiveness, source expertise, dan source trustworthiness menjadi faktor penting bagi penerima e-WoM untuk menilai kegunaan pesan e-WoM yang diperoleh melalui media sosial. Menurut Liu dkk. informasi yang berisi dukungan argumen akan lebih diandalkan oleh konsumen. Oleh karena itu, penelitian ini harus mendorong para reviewer untuk lebih jelas dan memberikan argumen yang lengkap agar dapat digunakan oleh para konsumen dalam melakukan pembelian produk. Dari hasil analisis, keempat variabel independen memiliki pengaruh positif terhadap e-WoM Hubungan yang berpengaruh secara positif juga didapatkan oleh e-WoM credibility terhadap e-WoM adoption, hal itu menunjukan bahwa e-WoM credibility menjadi prediktor terkuat dari e-WoM adoption, berbeda dengan e-WoM usefulness yang tidak berperan dan tidak signifikan terhadap e-WoM adoption dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil uji hipotesis AMOS, e-WoM adoption memiliki pengaruh yang positif terhadap purchase intention, sedangkan e-WoM usefulness memiliki hubungan yang tidak signifikan terhadap purchase intention. Ketika e-WoM adoption masuk menjadi mediasi di antara variabel-variabel tersebut, hasilnya pun juga menjadi tidak signifikan. Dari hasil uji, e-WoM credibility memiliki pengaruh yang positif terhadap purchase intention, dapat disimpulkan bahwa e-WoM adoption signifikan memediasi pengaruh e-WoM credibility terhadap purchase intention. Penelitian ini membuktikan adanya perbedaan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tien . Pada jurnal acuan, ditemukan bahwa hanya hipotesis 4 yang dinyatakan Namun, pada penelitian ini ditemukan hampir seluruh hipotesis tidak memiliki pengaruh positif antara satu sama lain. Hal tersebut menunjukan bahwa calon konsumen di Indonesia tidak mengasosiasikan argumen dan informasi pada pesan yang diberikan oleh sumber ahli terhadap kegunaan suatu pesan e-WoM. Hipotesis 9 dan 10 yang diterima memiliki kesamaan dengan jurnal acuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa e-WoM credibility memengaruhi e-WoM adoption. Artinya, pesan yang terpercaya dan jelas kredibilitasnya dapat memengaruhi kepercayaan konsumen di Indonesia. Hipotesis 10 juga menyatakan bahwa e-WoM adoption berpengaruh secara positif terhadap purchase intention. Pesan e-WoM tersebut artinya diadopsi sebagai kepercayaan calon konsumen sehingga memutuskan untuk melakukan pembelian. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini memberikan kontribusi baru pada brand skincare, khususnya Skintific dalam menentukan strategi promosi secara online. Perbedaan hasil penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Tien dkk. di Taiwan dikarenakan perbedaan merek produk yang diteliti dan perbedaan negara dari responden yang memengaruhi pola pikir juga kebiasaan dari konsumen di Indonesia. REKOMENDASI Saran Teoretis Penelitian ini menambah pemahaman baru mengenai pengaruh beberapa faktor terhadap e-WoM ke purchase intention untuk target market Skintific di Jabodetabek. Penelitian ini membuktikan bahwa perceived persuasiveness, source expertise, dan source trustworthiness tidak berpengaruh secara positif terhadap e-WoM untuk konsumen Skintific. Namun, peneliti menyadari bahwa terdapat beberapa hal yang masih dapat dilakukan untuk mengembangkan Kajian Branding Indonesia | Vol. 7 No. penelitian ini kedepannya. Penelitian ini hanya dilakukan untuk orang-orang yang belum pernah menggunakan Skintific, berumur 18Ae45 tahun, dan hanya di wilayah Jabodetabek. Saran untuk penelitian berikutnya dapat memperluas cakupan target responden agar mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Peneliti juga dapat melakukan perbandingan antargenerasi karena masing-masing generasi memiliki sifat dan sikap yang berbeda dalam menangkap informasi di media sosial. Penelitian ke depannya dapat menggunakan konsep ini untuk brand yang berbeda karena kemungkinan besar hasil hipotesis yang didapatkan juga akan Selain itu, dapat juga menggunakan atau menambahkan konsep lain yang memiliki pengaruh terhadap niat pembelian konsumen atau e-WoM. Peneliti dapat mencoba penelitian kualitatif, seperti wawancara atau focus group discussion untuk mendapatkan wawasan yang lebih mendalam mengenai e-WoM dan purchase Saran Praktis Ada beberapa saran dari peneliti yang mungkin dapat digunakan oleh para pelaku usaha yang menggunakan platform online, khususnya brand Skintific untuk mempromosikan produknya. Pertama, meningkatkan kredibilitas dalam e-WoM. Berdasarkan hasil hipotesis, e-WoM credibility berpengaruh terhadap e-WoM Brand perlu menyadari bahwa kredibilitas suatu pesan merupakan hal penting dalam memasarkan produknya. Informasi yang disebarkan melalui suatu platform harus berasal dari sumber yang dapat dipercaya, seperti melibatkan seseorang yang bereputasi baik dalam komunitas terkait, seorang pakar/ ahli di bidang kecantikan, atau menggunakan influencer yang dipercaya dapat meningkatkan Hal tersebut akan mengarah ke kepercayaan dan niat pembelian konsumen pada akhirnya. Dari hasil uji e-WoM adoption yang berpengaruh secara signifikan terhadap purchase intention, brand dapat mendorong adopsi e-WoM konsumen dengan cara mempermudah akses mereka ke ulasan atau testimoni yang sesuai, bisa juga menggunakan fitur rating/review di media Selain itu, dilihat dari hasil source trustworthiness ke e-WoM credibility, brand perlu mengevaluasi strategi mereka dalam memilih content creator. Pembuat konten yang tidak kredibel atau sebaliknya malah terlalu dikenal luas mungkin akan menyebabkan konsumen tidak mengadopsi pesan tersebut. Di balik itu, brand juga harus menjaga pesan yang disampaikan bersifat asli dan jujur sehingga dapat meningkatkan e-WoM adoption. Secara keseluruhan berdasarkan hasil hipotesis, brand lebih baik memfokuskan dari segi kredibilitas dibandingkan segi usefulness karena dari kredibilitas tersebutlah yang akan mengarah ke e-WoM adoption dan purchase intention. Beatrice Adabella Widjaja et al. / Pengaruh E-Wom terhadap Purchase Intention di Media Sosial: Studi Kasus Pada Skintific / 153 - 169 REFERENSI