Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Volume 13 Nomor 1 Februari 2015 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) SERTA KAITANNYA TERHADAP STATUS KESEHATAN PADA PETUGAS PENGUMPUL SAMPAH RUMAH TANGGA DI KOTA TASIKMALAYA TAHUN 2014 Yane Liswanti 1,2 Ardini S. Raksanagara 1,3 Sri Yunita 1,3 Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Universitas Padjadjaran. Bandung. 2 STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmalaya. 3 Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kedokteran. Universitas Padjadjaran. Bandung ABSTRAK Petugas pengumpul sampah rumah tangga merupakan golongan yang rentan terkena penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya Penyakit Akibat Kerja dan kecelakaan kerja adalah dengan Alat Pelindung Diri (APD). Namun demikian pada kenyataannya masih banyak tenaga kerja yang masih belum mengenakannya saat bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan penggunaan APD serta kaitannya terhadap status kesehatan. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian mixed method dengan strategi embedded Penelitian kuantitatif dilakukan dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 86 orang. Penelitian kualitatif dilakukan wawancara mendalam kepada Kepala seksi Pelayanan Kebersihan dan Kepala Bidang Kebersihan. Analisis data menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM) yang berbasis varians yaitu Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukan faktor-faktor yang berpengaruh pada faktor pemungkin adalah masih kurangnya sarana penunjang APD, belum tersedia SOP mengenai APD, sedangkan pada faktor penguat disebabkan belum adanya sosialisasi mengenai APD, pengawasan yang masih kurang, tidak ada sanksi maupun reward bagi yang patuh maupun tidak patuh menggunakan APD. Status kesehatan dipengaruhi faktor predisposisi, faktor pemungkin, faktor penguat dan kepatuhan penggunaan APD sebesar 45,7% sedangkan 54,3% dipengaruhi variabel lain. Status kesehatan dipengaruhi oleh faktor predisposisi . mur, lama kerja, tingkat pendidikan, pengetahuan,sika. , faktor pemungkin . etersediaan saran. , faktor penguat . ukungan atasan dan rekan kerj. dan kepatuhan penggunaan APD. Kata kunci : Faktor pemungkin, faktor penguat, faktor predisposisi, kepatuhan, status kesehatan ABSTRACT Household garbage collector is a category that is susceptible to illness or accident caused by The efforts to avoid the occurrence of Occupational Diseases and Accidents are the Personal Protective Equipment (PPE) or AuAlat Pelindung Diri (APD)Ay. However, in reality there are many workers who still do not wear it to work. The purpose of this study is to determine the factors associated with compliance with the use of PPE (APD) and its relation to health status. This study used a mixed method research design with embedded concurrent strategy. The quantitative research done by crosses sectional approach with the 86 people number of respondents. is also conducted in-depth interviews to the section Head of Health Services and Head of Health. analyzing the data, this research uses Structural Equation Modeling (SEM) based variance. Partial Least Square (PLS). The results showed the factors that affect the enabling factor is still a lack of support facilities for PPE, are not yet available SOP regarding PPE, while the factor of the amplifier due to the lack of socialization of PPE, supervision is still lacking, there is no sanction or reward for the obedient and not obedient using PPE. Health status influenced predisposing factors, enabling factors, reinforcing factors and adherence use of PPE by 45. 7%, while 54. 3% is influenced by other variables. Health status is influenced by predisposing factors . ge, length of employment, level of education, knowledge, attitude. , enabling factors . vailability of facilitie. , reinforcing factors . upport superiors and co-worker. and compliance with the use of PPE. Keywords: compliance, enabling factors, health status, predisposing factors, reinforcing factors Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Volume 13 Nomor 1 Februari 2015 PENDAHULUAN Petugas pengumpul sampah rumah tangga merupakan golongan yang rentan terkena penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja. Upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya Penyakit Akibat Kerja dan kecelakaan kerja adalah dengan Alat Pelindung Diri (APD). Alat Pelindung Diri adalah alat-alat yang mampu memberikan perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan. Atau bisa juga disebut alat kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. Namun demikian. APD tidak menghilangkan ataupun mengurangi bahaya yang ada. Peralatan ini hanya mengurangi jumlah kontak dengan bahaya dengan cara penempatan penghalang antara tenaga kerja dengan bahaya. Penggunaan APD sangat penting bagi para pekerja, terutama untuk mencegah penyakit akibat kerja ataupun kecelakaan Namun kenyataannya masih banyak tenaga kerja yang masih belum mengenakannya saat Rendahnya tingkat kepatuhan dalam mengenakan APD biasanya keselamatan yang gagal, terbatasnya faktor stimulan pimpinan, keterbatasan sarana, rendahnya kesadaran pekerja terhadap keselamatan kerja dan lain-lain. Hasil penelitian Hariza di wilayah Patangpuluhan Yogyakarta pada tahun 2009 didapat hasil bahwa pengetahuan pengumpul sampah tentang APD yang harus dikenakan selama bekerja sebagian besar masih kurang paham, hal ini dikarenakan oleh ketidaktahuan mereka dalam memahami tentang kesehatan diri (Higiene sanitas. Hal ini diperkuat dengan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian Yusrizal pada tahun 2005, bahwa kecelakaan kerja pada pengumpul sampah pasar Kota Payakumbuh Sumatera Barat dengan hasil 62,85 % pengumpul sampah mengalami kecelakaan kerja dan 37,2 % yang tidak mengalami kecelakaan Jenis kecelakaan kerja yang sering terjadi adalah terjatuh, tertimpa benda jatuh dan tertusuk benda tajam. Lawrence Green . mengemukakan bahwa perubahan perilaku dalam hal ini kepatuhan penggunaan APD, terbentuk dari tiga faktor utama yaitu faktor predisposisi merupakan faktor yang mempermudah atau mendasari untuk terjadinya perilaku tertentu, yang meliputi karakteristik individu seperti umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan. Faktor pemungkin merupakan faktor yang memungkinkan untuk terjadinya perilaku tertentu, yang meliputi ketersediaan sarana APD. Faktor penguat merupakan faktor yang memperkuat untuk terjadinya perilaku, yang meliputi dukungan atasan dan rekan kerja, adanya kebijakan dalam hal ini adanya pengawasan dan sosialisasi tentang APD dari Dinas Cipta Karya. Tata Ruang dan Kebersihan. Dari hasil observasi terhadap 15 orang petugas pengumpul sampah rumah tangga di TPA Ciangir Kota Tasikmalaya, 12 orang . %) diantaranya tidak menggunakan APD secara benar dan 3 orang lainnya . %) menggunakan APD mencakup masker, sarung tangan dan sepatu boot. Pelaksanaan penggunaan APD pada saat bekerja secara benar, konsisten dan sesuai peraturan (Pemd. merupakan bagian dari upaya pencegahan penyakit yang disebabkan oleh Penyakit Akibat Kerja dan mengurangi angka Gambaran menunjukkan bahwa praktek penggunaan APD saat bekerja belum konsisten pengumpul sampah rumah tangga. Penggunaan APD saat penanganan sampah pun kadang-kadang terabaikan. Berdasarkan hasil penelitian Susy tahun 2007 di Kota Tasikmalaya, salah satu kendala pelaksanaan kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah kendala ketenagakerjaan di Tasikmalaya yaitu belum adanya Peraturan Daerah yang memperkuat implementasi Peraturan Menteri Tenaga Kerja Per 05/MEN/1996 tentang sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja sehingga perlindungan ketenagakerjaan bidang K3 khususnya tentang penggunaan APD belum optimal. Gambaran lain mengenai status kesehatan dari petugas pengumpul sampah, berdasarkan hasil penelitian Eka Lestari di Medan pada tahun 2012, petugas pengumpul sampah di TPA Terjun Medan dari 82 orang yang Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Volume 13 Nomor 1 Februari 2015 mengalami gangguan kesehatan seperti sakit/nyeri pada tulang belakang sebanyak 45 orang, sakit sendi sebanyak 20 orang, influenza sebanyak 5 orang, diare sebanyak 17 orang, batuk sebanyak 61 orang, panas sebanyak 17 orang dan penyakit kulit sebanyak 46 orang. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memiliki keterkaitan dengan kepatuhan petugas pengumpul sampah di Kota Tasikmalaya dalam penggunaan APD serta kaitannya dengan status kesehatan. kuantitatif saja dan data kualitatif dapat digunakan untuk mendeskripsikan aspek penelitian kuantitatif yang tidak dapat Penelitian dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 86 orang. Penelitian kualitatif dilakukan wawancara mendalam kepada Kepala Seksi Pelayanan Kebersihan Kepala Bidang Kebersihan. Analisis data menggunakan analisis Structural Equation Modeling (SEM) Partial Least Square (PLS). METODE Penelitian rancangan penelitian mixed method dengan strategi embedded konkuran. Strategi embedded konkuran digunakan adalah untuk menambahkan deskripsi jawaban dari responden yang tidak muncul jika hanya dengan pendekatan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Model Struktural . nner Uji model struktural ditunjukkan melalui hasil koefisien jalur struktural beserta nilai signifikansi dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Variabel Faktor predisposisi (X. dengan Kepatuhan Penggunaan APD (Y. Faktor Pemungkin (X. dengan Kepatuhan Penggunaan APD (Y. Faktor penguat (X. dengan Kepatuhan Penggunaan APD (Y. Kepatuhan Penggunaan APD (Y. dengan status kesehatan (Y. Koefisien Original Statistik T T tabel Keterangan 0,155 1,96 Signifikan -0,171 1,96 Signifikan 0,360 1,96 Signifikan 0,588 1,96 Signifikan Setelah dilakukan pengujian inner weight, maka dilanjutkan dalam analisis dengan bentuk diagram tersaji sebagai berikut : Hasil pengujian model tersebut dapat dilihat dari nilai Rsquare yang menggambarkan goodness of fit dari sebuah model dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Volume 13 Nomor 1 Februari 2015 Variabel Faktor predisposisi (X. Faktor Pemungkin (X. Faktor penguat (X. dengan Kepatuhan Penggunaan APD (Y. Kepatuhan Penggunaan APD (Y. dengan status kesehatan (Y. Tabel tersebut menunjukkan bahwa faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor penguat dalam menjelaskan variabel kepatuhan sebesar 0,170 menjelaskan variabel status kesehatan sebesar 0,346. Hasil perhitungan nilai Qsquare, yaitu Q2 = 1-. -0,. -0,. = 0,457 Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa model mampu menjelaskan status kesehatan sebesar 45,7% sedangkan sisanya 54,3% dijelaskan oleh variabel lain selain dari faktor prediposisi, faktor pemungkin, faktor penguat, dan kepatuhan pengunaan APD. Kepatuhan penggunaan APD dapat terbentuk atau dibentuk tetapi harus didukung oleh berbagai faktor diantaranya faktor predisposisi, faktor pemungkin, faktor penguat sehingga perilaku yang baik bukan merupakan suatu kebetulan, perilaku yang baik dibangun pada suasana lingkungan dan daya dukung yang baik pula. Kepatuhan penggunaan APD yang baik akan meningkatkan status kesehatan pada petugas pengumpul SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : Faktor predisposisi . ama kerja, umur, tingkat pendidikan, sikap dan pengetahua. berhubungan dengan kepatuhan penggunaan APD dengan hasil signifikansi statistik T sebesar 5,410. Faktor pemungkin . etersediaan saran. berhubungan dengan kepatuhan penggunaan APD dengan hasil signifikansi statistik T sebesar 1,971. R-Square 0,170 0,346 . Faktor penguat . ukungan atasan dan dukungan rekan kerj. berhubungan dengan kepatuhan penggunaan APD dengan hasil signifikansi statistik T sebesar 10,769. Kepatuhan penggunaan APD berhubungan dengan signifikansi statistik T sebesar 11,626. Saran Bagi pihak Dinas Cipta Karya. Tata Ruang dan Kebersihan . Bidang Kebersihan Kota Tasikmalaya harus lebih proaktif khususnya kepatuhan penggunaan APD pada saat bekerja, . Dinas hendaknya menyediakan alokasi dana khusus untuk menjamin ketersediaan sarana yang cukup dan memadai, . Terkait dengan APD, hendaknya kuantitas APD sehingga dapat melindungi petugas dari risiko pekerjaan yang cukup tinggi, . Meningkatkan pemberian APD kepada petugas yang semula 1 kali dalam setahun menjadi minimal 2-3 kali setiap . Terkait dengan dukungan atasan terhadap kepatuhan penggunaan APD, maka pimpinan harus konsisten mengingatkan petugas untuk menggunakan APD, bila sanksi terhadap mereka yang tidak patuh terhadap penggunaan APD. Melakukan pencatatan terhadap penyakit dan kecelakaan akibat kerja pada petugas pengumpul sampah rumah tangga Kota Tasikmalaya demi kepentingan statistik kesehatan. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Volume 13 Nomor 1 Februari 2015 DAFTAR PUSTAKA