Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. PERAN GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENGATASI KENAKALAN SISWA KELAS V SDN 2 PEJAGOAN KEBUMEN Nila Lela Hanum. Nginayatul Khasanah Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen E-mail: nilalaelahanum12@gmail. Abstract The aim of this research is to determine the role of Islamic Religious Education Teachers in dealing with delinquency in class V students at SDN 2 Kebulusan. Pejagoan District. Kebumen Regency. This research uses a qualitative approach by collecting data in the form of interviews, observation and documentation. The data analysis technique is in the form of data reduction, data presentation and drawing conclusions. Based on the research results, the role of Islamic Religious Education. Teachers in dealing with student delinquency in class V is the teacher as educator, teacher as guide, teacher as role model, teacher as advisor and teacher as evaluator. There are 3 types of student delinquency, namely mild delinquency, moderate delinquency and serious The factors that influence student delinquency are family factors, social factors, religious factors, school factors and student mental factors. Keywords: Role. Islamic Religious Education Teachers. Student Delinquency. Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas V SDN 2 Kebulusan. Kecamatan Pejagoan. Kabupaten Kebumen. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis datanya berupa redukasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa pada kelas V yaitu Guru sebagai pendidik. Guru sebagai pembimbing. Guru sebagai suri tauladan. Guru sebagai penasehat dan Guru sebagai Bentuk-bentuk dari kenakalan siswa ada 3 golongan yaitu kenakalan ringan, kenakalan sedang dan kenakalan berat. Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan siswa yaitu faktor keluarga, faktor sosial masyarakat, faktor keagamaan, faktor sekolah dan faktor mental Kata kunci: Peran. Guru Pendidikan Agama Islam. Kenakalan Siswa. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan adalah suatu proses perubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. 1 Pendidikan juga dapat berarti bimbingan yang diberikan pada anak, berarti humanisasi yang berarti upaya memanusiakan manusia atau upaya membantu manusia agar mampu mewujudkan diri sesuai dengan martabat kemanusiannya. Dalam arti sederhana, pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat dan kebudayaan. Dengan adanya pendidikan, maka manusia yang semula belum tahu, yang semula belum paham akan menjadi paham, kemudian akan membentuk perilaku atau sikap baru. Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah salah satu mata pelajaran yang bersinggungan dengan penanaman akhlak Hal ini merupakan tugas penting dari seorang guru PAI yaitu menanamkan akhlak pada Terlebih bagi guru Pendidikan Agama Islam di sekolah dasar yang mana para siswanya merupakan anak-anak usia 6-12 tahun yang tentunya merupakan usia yang sangat strategis untuk memperkokoh bangunan akhlak bagi para siswa. Ilmu akhlak memberikan jalan dan membuka pintu hati orang untuk berbudi pekerti yang baik dan hidup berjasa dalam masyarakat. Berbuat dan beramal untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Fungsi pendidikan agama yaitu menjadi modal dalam memaksimalkan pendidikan agama kepada peserta didiknya dalam membina moral siswa. Moral siswa dapat bekerja dengan baik apabila siswa melakukan apa yang didapatkan dari pendidikan agama. Di era yang sekarang banyak seorang yang pintar namun moralnya tidak seimbang. Keseimbangan moral ini dapat di dapatkan dalam lembaga pendidikan yang internal maupun eksternal. Dalam hal tersebut siswa harus mampu mengetahui dan memahami apa yang baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Oleh karena itu Fatimah. Siti. Suhartono, and Umi Mahmudah. "A Robust Approach to Analyzing the Factors Influencing Quality Education in Indonesia. " The New Educational Review 49 . : 77-90. Ary Antony Putra. Konsep Pendidikan Agama Islam Perspektif Imam Al-Ghazali. Al- Thoriqoh jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. No. 1, 45 Oemar Bakri. Akhlak Muslim, (Bandung: PT Angkasa, 1. , 30. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. pentingnya guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan moral terutama di lingkungan sekolah dasar supaya tidak melakukan perilaku yang melanggar. Berbicara mengenai kenakalan siswa yang merupakan masalah penting dan menarik untuk dibahas karena seorang yang namanya siswa yang merupakan bagian dari generasi muda adalah aset nasional dan merupakan tumpuan harapan bagi masa depan bangsa dan negara. Banyaknya bentuk kenakalan yang ada di sekolah dasar ini membuat guru Pendidikan Agama Islam tersadar akan bagaimana cara yang tepat untuk mengurangi bahkan memberantas bentuk kenakalan yang ada. Menurut beberapa siswa kenakalan terjadi akibat faktor-faktor yang ada dalam lingkungan dan kurangnya kontrol diri. Kurangnya kontrol diri dalam diri seorang siswa membuat perilaku yang kurang baik. Siswa yang mengalami kenakalan tidak mengenali akan perilaku yang dilakukan dapat diterima atau tidak diterima, atau mungkin sebenarnya mereka sudah mengetahui akan adanya perbedaan perilaku dalam dirinya namun gagal dalam pengendalian kontrol diri sendiri. Peran Guru Pendidikan Agama di sekolah dasar sangat penting dalam mengatasi setiap kenakalan yang ada. Guru Pendidikan Agama Islam adalah panutan dalam pendidikan, yang diteladani baik dari ilmu maupun dari segi akhlaknya. Selain itu guru Pendidikan Agama Islam juga mempunyai tanggung jawab dalam menanamkan ilmu keagamaan untuk mendidik anak didiknya yang berilmu dan berakhlak. 5 Guru yang profesional ialah guru yang memiliki tugas dan pokok yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik. Tugas utama menjadi guru Pendidikan Agama Islam adalah memberikan suatu bimbingan terhadap peserta didik yang bermasalah dimana persoalan-persoalan yang sekarang ini sering terjadi di lembaga pendidikan yaitu banyaknya siswa yang melakukan pelanggaran di sekolah. Dengan demikian SDN 2 Kebulusan terutama kelas V sangat membutuhkan peran guru Pendidikan Agama Islam disamping perkembangan zaman yang sudah mulai canggih yang mana siswa dapat mengikuti perilaku dari berbagai sumber. Pada penelitian ini penulis menentukan dua rumusan masalah yaitu bagaimana peran Guru Pendidikan Agama Islam menangani kenakalan Jalaludin. Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persad, 2. , 74. Suparlin. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: HIKIAYAT, 2006, 1. Mohamad Fakry Gaffar. Guru Sebagai Profesi. Jurnal Administrasi Pendidikan. Vol. No. 1, 2017, 201. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. siswa dan apa saja bentuk-bentuk kenakalan yang terjadi di pada siswa. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana peran guru dalam mengatasi kenakalan siswa serta apa saja bentuk-bentuk dari kenakalan siswa tersebut. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan kualitatif atau penelitian lapangan . ield Reseac. , yang menguraikan tentang peran guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas V SDN 2 Kebulusan dan memaparkan bagaimana bentuk-bentuk kenakalan siswa yang ada di sekolah dasar tersebut. Data yang diperoleh dari penelitian ini bukan berupa angka-angka tetapi data yang terbentuk dari kata-kata lisan yang mencakup laporan dan foto-foto. Desain studi yang digunakan oleh penulis adalah desain deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menguatkan karakter individu, kelompok, atau situasi tertentu. Penelitian ini memberikan wawasan tentang mengapa dan bagaimana penelitian ini. Dengan demikian, penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran dari penelitian tersebut. Adapun subjek penelitian yang digunakan sebagai responden atau orang yang merespon pertanyaan dari penulis baik secara lisan atau lisan. 9 Dalam hal ini yang menjadi responden dari penelitian ini adalah kepala sekolah, guru wali kelas V, guru pendidikan agama Islam, siswa dan wali murid. Untuk pengumpulan teknik dan alat pengumpulan data yang relevan dan objektif menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun untuk teknik analasis data dengan reduksi data, penyajian dan penarikan kesimpulan. Analisis data pada penelitian kualitatif lebih bersifat open ended dan harus disesuaikan dengan data/informan di lapangan sehingga analisisnya sukar untuk dispesifikkan sedari awal. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Peran adalah seperangkat tingkah yang diharapkan dimiliki orang yang berkedudukan. Apabila Margono. Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2. , 1. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R&D. Cet Ketujuh, (Bandung:Alfabeta, 2. , 213. Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , 1. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia akan menjalankan suatu peranan. Peran setiap orang itu berbeda-beda, namun harus menyesuaikan dengan hak dan Tugas dan kewajiban sebagai guru, guru dituntut untuk mempunyai kemampuan dan kompetensi dalam profesionalisme guru. Pendidikan Islam mampu menyiapkan untuk hidup dalam keadaan yang damai maupun dalam keadaan perang, dan mampu dalam keadaan perang, dan mampu menghadapi kehidupan di masyarakat dengan kebaikan dan kejahatannya, serta baik buruknya. Menurut Yusuf al-Qardhawi AuPendidikan Islam merupakan manusia yang seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Peran guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas. Kenakalan siswa dapat dikategorikan dengan perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang disini adalah terdapat penyimpangan dengan berbagai aturan-aturan sosial atau nilai norma sosial yang ada di lingkungan sekolah. Perilaku menyimpang di sini berasal dari berbagai sumber yang ada di lingkungan sekolah. Cara mengatasi kenakalan pada siswa merupakan tugas semua pihak baik orang tua di lingkungan keluarga, guru di lingkungan sekolah, dan di lingkungan masyarakat. Untuk mengetahui latar belakang perilaku menyimpang, guru harus dapat membedakan adanya perilaku menyimpang yang sengaja atau tidak disengaja, diantara perilaku yang mana siswa kurang memahami aturan yang ada atau memang sengaja melakukannya. Berdasarkan hasil wawancara mengenai kenakalan siswa wali kelas mengungkapkan bahwa: AuHal yang relevan untuk memahami bentuk kenakalan tersebut adalah kenapa seseorang melakukan penyimpangan, sedangkan ia tahu bahwa apa yang dilakukan melanggar aturan. Hal ini disebabkan bahwa siswa mempunyai dorongan untuk melakukan kenakalan tersebut. Ay Pendidikan agama yang dilaksanakan di sekolah merupakan elemen yang paling penting dalam pendidikan sekolah. Tingkah laku peserta didik kebanyakan dipengaruhi oleh tingkah laku moral. Kenakalan siswa yang terjadi di lingkungan sekolah biasanya diakibatkan karena kurangnya pengetahuan agama yang kurang, meskipun di sisi lain keluarga merupakan salah satu faktornya. Sebagai guru Pendidikan Agama Islam memiliki tugas dantanggungjawab lebih dalam mengatasi kenakalan siswa. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Akhmad Suyatno yang mengatakan Azyumardi Azra. Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Grou. , 6. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. AuSaya memiliki tugas dan tanggung jawab yang lebih dalam mengatasi kenakalan pada siswa SD N 2 Kebulusan. Guru Pendidikan Agama Islam terus berusaha untuk mencegah, mengantisipasi, mengatasi kenakalan siswa yang terjadi. Masalah kenakalan siswa memang menjadi masalah yang sulih dipecahkan. Saya bekerja sama dengan kepala sekolah, guru wali kelas V dan karyawan disini untuk mengatasi kenakalan yang ada di sekolah ini dengan cara membiasakan sholat dhuha setiap pagi dan membaca Asmaul Husna sebelum memulai pembelajaran. Ay11 Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kenakalan siswa kelas V sebagai berikut: Untuk Guru Pendidikan Agama Islam sebagai Pendidik Menegakkan kedisiplinan. Di SDN 2 Kebulusan sangat mementingkan kedisiplinan. Semua guru dan karyawan berupaya untuk menanamkan kedisiplinan kepada siswa didiknya. Peran Guru Pendidikan Agama Islam sangat diperlukan dalam menegakkan kedisiplinan bagi siswa terutama siswa kelas V. Menciptakan kondisi kelas yang kondusif. Di dalam pembelajaran di kelas guru harus menguasai cara yang ampuh untuk membuat siswa dapat fokus dalam pembelajarannya. Cara supaya siswa dalam pembelajaran bukan hanya tahu dengan apa yang diterangkan, namun juga harus paham. Oleh karena itu perlunya cara yang baik untuk menguasai teknik pembelajaran yang membuat siswa menjadi kondusif. Guru Pendidikan Agama Islam sebagai Pembimbing Menanamkan Iman dan Takwa. Di SDN 2 Kebulusan haruslah menanamkan iman dan takwa kepada peserta Sebelum memberikan menanamkan iman dan takwa kepada peserta didiknya. Guru Pendidikan Agama Islam harus menanamkannya kepada diri Wawancara dengan guru Wali Kelas 5 pada tanggal 31 Juli 2023 Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. sendiri, agar bisa memberikan contoh yang baik. Melalui pembelajaran di kelas maupun di luar kelas Guru Pendidikan Agama Islam harus menyampaikan pesan-pesan moral keimanan dan ketakwaan dalam segala bentuk pembelajaran. Contoh dari menanamkan keimanan dan ketakwaan di kelas V SDN 2 Kebulusan yaitu melakukannya pembiasaan sholat dhuha sebelum pembelajaran PAI dimulai. Selain itu juga dilakukannya pembiasaan jumat rohani yaitu tadarus. Guru Pendidikan Agama Islam sebagai Suri Tauladan Guru Pendidikan Agama Islam harus bisa memberikan contoh yang baik kepada siswanya. Oleh karena itu perlunya sikap disiplin seperti memberikan penampilan yang rapi, berangkat tepat waktu, dan memberikan sikap yang baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Guru Pendidikan Islam sebagai Penasehat Seorang siswa yang telah melakukan pelanggaran di sekolah atau kenakalan harus diberi nasehat dan bimbingan. Sebagai Guru PAI harus mampu bekerja sama dengan guru kelas dan kepada sekolahnya. Siswa kelas V yang sudah melakukan kenakalan baik yang melakukan kenakalan ringan atau berat harus tetap diberi nasehat dan bimbingan. Seorang siswa telah melakukan kenakalan yang ringan cukup diberi nasehat di dalam kelas, namun jika tingkat kenakalan nya sudah berat Guru PAI bekerja sama dengan wali kelas untuk membawa siswa ke ruang kantor. Dengan demikian siswa akan ditanya terlebih dahulu kenapa siswa melakukan perbuatan yang melanggar, faktor apa yang membuat siswa melakukan seperti itu. Setelah guru mengetahui mengapa siswa melakukan pelanggaran guru bekerja sama dengan wali kelas untuk mencari solusi yang terbaik dari masalah yang dialami siswa dan guru agar tidak berhenti untuk selalu menasehati dan memberi bimbingan terhadap siswa yang melakukan pelanggaran atau kenakalan. Guru Pendidikan Agama Islam sebagai Evaluator Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. Memberi Hukuman Tata tertib di SDN 2 Kebulusan harus dilakukan apabila ada siswa yang melakukan pelanggaran akan diberikan hukuman. Selain memberi nasehat dan bimbingan sebagai Guru PAI juga berhak memberi kuasa untuk menghukum siswa yang melanggar aturan sekolah. Hukumannya harus bersifat mendidik dan tidak mengakibatkan cidera kepada anak didiknya. Tujuan dari pemberian hukuman supaya siswa tidak melakukan kenakalan berulang atau perbuatan yang melanggar aturan di sekolah. Guru PAI Bapak Akhmad Suyatno selalu memberikan hukuman terhadap siswa yang tidak mengerjakan tugas tugas dan terlambat masuk kelas dengan hukuman yang sangat mendidik Hukuman bagi siswa yang tidak mengerjakan tugas dan terlambat masuk kelas yaitu di denda dan disuruh hafalan surat pendek yang ditentukan oleh Guru PAI. Bagi siswa yang berhasil menghafalkan surat pendek diperbolehkan duduk dan mengikuti pelajaran dan bagi siswa yang tidak hafal suratan dihukum untuk terus berdiri di depan kelas sambil menghafalkan sampai jam pembelajaran PAI berakhir. Guru Pendidikan Agama Islam memberi hukuman yang sifatnya AudendaAy dikarenakan dengan adanya pemberian hukuman ini siswa akan jera dan tidak mengulangi kenakalan yang sama. Jika pemberian hukuman hanya hafalan surat pendek, banyak dari siswa yang menyepelekan dan mengulangi pelanggaran tersebut. Ketika ada siswa yang melakukan kenakalan seperti berkelahi, peran Guru PAI disini adalah yang pertama adalah melerainya. Kemudian membawa anak tersebut ke kantor untuk ditanyakan penyebabnya mengapa bisa melakukan kenakalan tersebut. Jika sudah tau penyebabnya. Guru PAI akan tetap memberi hukuman yang sifatnya membuat anak menjadi jera yaitu membersihkan WC dan menyapu ruang kelas. Melakukan Pengawasan Khusus Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. Guru pendidikan agama Islam bertugas memberikan materi tentang hal yang baik di dalam agama harus ditaati dan yang buruk harus ditinggalkan. Namun dengan apa yang terjadi di kelas V terdapat kenakalan siswa yang mana peran Guru PAI bukan hanya sebagai pengajar namun juga harus memberikan pengawasan yang khusus kepada siswa kelas V supaya tidak terjadi kenakalan. Bentuk dari pengawasan khusus disini yaitu memantau kegiatan siswa, terutama terhadap siswa yang dikhawatirkan melakukan kenakalan. Siswa yang mulai terlihat melakukan kenakalan harus lebih memerlukan perhatian yang khusus. Memanggil Orang Tua atau Wali Siswa Guru Pendidikan Agama Islam harus bekerja sama dengan wali siswa. Sebagai orang tua mempunyai peran penting dalam pembentukan sifat dan karakter putra-putrinya. Bekerja sama dengan orang tua dapat dilakukan melalui rapat wali siswa, pengambilan raport dan mendatangi orang tua siswa yang dikhawatirkan dapat melakukan kenakalan. Dalam kerja sama ini guru menyampaikan kepada wali siswa untuk lebih memantau anak didiknya dalam proses membimbing, mengawasi, menasehati, menegur ketika berbuat salah dan mengarahkan siswa. Karena peran utama siswa dapat melakukan kenakalan adalah kurangnya pantauan yang khusus terhadap siswanya. Langkah terakhir dari tugas guru PAI yaitu memanggil orang tua siswa selain memberikan hukuman yang waktu dan tempatnya di sekolah. Langkah ini sangat diperlukan apabila bentuk kenakalan siswa sudah tidak bisa ditangani dari pihak sekolah. Dikarenakan ada salah satu siswa yang melakukan kenakalan yang sudah bisa ditoleransi dikarenakan sangat menganggu psikis siswa didiknya. Selain berantem ada siswa yang melakukan pelanggaran yang menyimpang video porno ini tidak ada hukuman yang bersifat fisik disekolah Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. namun Guru PAI akan bekerja sama dengan orang tua siswa. Hal itu agar orang tua dapat melakukan pengawasan khusus kepada anak agar membatasi bermain HP dan mengeceknya. Aturan di sekolah memang boleh siswa membawa handphone namun hanya untuk digunakan setelah pulang sekolah untuk menghubungi orang tuanya untuk menjemputnya. Bukan untuk bermain di kelas, dari situlah Guru PAI menemukan ada anak yang membawa handphone dengan berisi video porno. Dari situlah guru PAI harus lebih jeli dalam membimbing peserta didiknya dibantu dengan peran orang tua siswa. Peran orang tua sangat penting untuk pengawasan siswa di dalam rumah. Bentuk-Bentuk Kenakalan Siswa Siswa merupakan tunas, potensi, dan generasi penerus cita-cita bangsa. Seorang siswa mempunyai peran yang strategis dalam menjamin eksitensi bangsa dan negara di masa yang akan datang. Agar siswa dapat memikul tanggung jawab itu, mereka perlu memperoleh kesempatan yang seluas- luasnya untuk tumbung yang Mereka sangat membutuhkan hak- haknya untuk dilindungi dan Karena semua bentuk kekerasan pada siswa harus dicegah dan Kenakalan siswa adalah perilaku atau perbuatan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di sekolah baik secara langsung maupun tidak Perbuatan yang menyimpang ini adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri atau orang lain. Perilaku menyimpang ini banyak ditemukan di lingkungan sekolah SDN 2 Kebulusan, yang mana di sekolah ini banyak siswa yang melakukan penyimpangan dari kenakalan ringan maupun kenakalan besar. Contoh kenakalan ringan itu seperti. tidak mengerjakan tugas rumah, tidak disiplin berbicara saat guru sedang menerangkan di kelas, tidak konsentrasi saat pelajaran dimulai, tidak menggunakan atribut lengkap, dan lain sebagainya. Sedangkan kenakalan berat disini adalah anak melakukan bullying contoh dari Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. bulliying disini itu ada berbagai macam. Menurut guru kelas V kenakalan siswa adalah siswa yang sering melakukan perilaku yang menyimpang didalam kelas maupun diluar kelas. Kenakalan siswa terjadi apabila anak mengalami latar belakang yang kurang baik dalam pola Misalnya faktor keluarga, karena faktor ini sangat berperan penting dalam sikap utama anak. Sikap anak yang masih duduk di bangsu SD masih dipengaruhi oleh faktor dari keluarga. Dengan perkembangan setiap tahunnya kenakalan siswa dari tahun ke tahun selalu saja terjadi namun tidak semua bentuknya sama. Inilah bentuk-bentuk kenakalan siswa: Kenakalan Ringan Kenakalan ringan adalah kenakalan yang sifatnya masih bisa diatasi dengan cara yang paling mudah. Bentuk Ae bentuk dari kenakalan ringan yang sifatnya masih ingin mencari perhatian gurunya. Dimana siswa yang melakukan perilaku menyimpang hanya butuh dinasehati atau didekati oleh gurunya. Masa dimana siswa kelas V yang masih perlunya perhatian yang intens oleh guru wali kelas dan Guru PAI. Namun sekecil Ae kecilnya kenakalan harus diatasi dengan baik agar tidak terjadi berulang. Berikut adalah contoh kenakalan siswa yang ringan di SDN 2 Kebulusan: Ramai di dalam kelas Tugas guru adalah menjelaskan materi kepada siswanya. Oleh karena itu perlunya persiapan yang baik dan cukup untuk memberikan materi kepada Dengan maksud siswa dapat menangkap apa yang dijelaskan oleh Rambut panjang bagi siswa putra Rambut panjang menjadi tren bagi siswa putra zaman sekarang. Siswa putra yang berambut panjang ingin menunjukan eksitensi dirinya agar terlihat keren Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. dan jago. Tren rambut panjang ini terjadi karena pengaruh pergaulan dengan temannya atau dengan orang yang di idolakannya. Misalnya pemain sepak bola dengan gaya rambut yang panjang. Model rambut seperti itulah yang ditiru oleh siswa putra. Seragam tidak rapi Bagi sebagian masyarakat perilaku ini memang tidak terlalu menjadi masalah, tetapi lain halnya dengan anak yang melakukannya di lingkungan Siswa yang tidak rapi akan dikenakan point pelanggaran, namun masih dalam tahap pelanggaran yang ringan. Seperti contoh halnya ketika bajunya dikeluarkan, kemudian tidak menggunakan kaos kaki yang sama dengan jadwal harinya, tidak menggunakan atribut lengkap, tidak menggunakan ikat pinggang dan tidak menggunakan jilbab yang sesuai dengan aturan sekolah bagi siswi putri. Tidak disiplin Disiplin adalah kunci kesuksesan. Bagi semua orang yang ingin mencapai Kedisiplinan seorang siswa ditunjukan dengan tidak masuk sekolah tepat waktu, terlambat mengikuti pembiasaan sholat dhuha, terlambat ketika mengikuti pembelajaran olahraga. Kebiasaan terlambat ini membuat dampak yang kurang baik bagi siswa yang lain. Apabila jam menunjukan pukul 07. yang seharusnya pembelajaran sudah dimulai namun ada yang terlambat, maka pembelajaran juga mundur. Berikut contoh Ae contoh ketidak disiplinan yang ada di SD N 2 Kebulusan: Terlambat masuk kelas tepat waktu Peraturan sekolah yang satu ini memang sudah bisa diganggu gugat, karena peraturan jam masuk kelas itu sudah ditentukan dari rapat antar kepala sekolah dan guru, bahkan dengan pusat. Umumnya jam masuk siswa sekolah dasar menunjukan pukul 07. 30, namun ada beberapa anak yang terlambat ketika masuk kelas. Terlambat masuk pembiasaan sholat dhuha Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. Pembiasaan ini memang sudah dilakukan setahun lamanya. Kegiatan pembiasaan ini sangat berdampak baik bagi siswa SD N 2 Kebulusan, khususnya kelas 5. Dampak yang baik bagi anak kelas 5 yaitu memberikan rasa solidaritas yang tinggi dan mencerminkan kecintaan manusia kepada sang penciptanya. Pembiasaan ini dimulai pada saat jam masuk sebelum pembelajaran Pendidikan Agama Islam dimulai. Namun ada beberapa anak ketika pembiasaan dimulai ada yang terlambat. Kenakalan Sedang Vandalisme Vandalisme adalah perbuatan yang merusak hasil karya seni atau barang berharga lain. Yang dimaksud vandalisme untuk kalangan siswa sekolah dasar adalah merusak fasilitas yang ada di lingkungan sekolah. Dimana siswa yang melakukan perilaku menyimpang ini adalah anak yang mempunyai latar belakang yang sudah berani. Dimana anak yang di kelas ketika dinasehati oleh gurunya sudah pandai menjawab. Bulliying Perilaku ini memang tidak menggunakan sikap atau perilaku dengan Namun dampaknya sangat berakibat fatal bagi mental anak. Dimana perilaku ini sering terjadi berulang di sekolah. Terutama kelas 5 yang mana siswa dengan umur yang makin dewasa dan tingkat kelas yang sudah dibilang kelas senior, sikap ini akan dilakukan oleh siswa. Contoh perilaku yang mencerminkan bullying dari siswa kelas 5 yaitu. Ada siswa putra menggunakan celana olahraga lalu teman yang lainnya menurunkan celananya. Dimana siswa yang celananya diturunkan itu merasa malu, namun tidak berani membalasanya. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. Ada siswa yang mengejek teman lainnya, seperti contoh ketika ada siswa yang disuruh menjawab pertanyaan guru. Namun tidak bisa menjawabnya, teman yang lainnya lalu mengejeknya. Kenakalan Berat Berkelahi Tidak jarang di sekolah terjadi perkelahian antar siswa. Perkelahian memang hal yang wajar bagi antar siswa, mengingat emosi dan mental siswa yang belum stabil. Namun jika ditangani dengan baik oleh guru PAI akan mempunyai yang buruk dibelakang atau diluar sekolah terhadap antar siswa. Apabila siswa itu belum benar-benar selesai masalahnya. Tidak jarang juga siswa yang berkelahi disekolah akan membuat geng atau sekelompok teman yang nantinya akan terulang lagi. Menyimpan video porno Pornografi adalah hal yang merangsang dorongan yang berbau seks dengan tulisan, gambar atau video. Pengaruhnya sangat berdampak buruk bagi kalangan siswa SD N 2 Kebulusan yang berakibat dengan moral dan psikis siswa tersebut. Pada era sekarang yang dimana zaman sudah maju, siswa dapat mengakses video tersebut dengan cara yang tidak mudah. Penyebab Terjadinya Kenakalan Siswa Kelas V SDN 2 KebulusAN. Berikut faktor yang menyebabkan siswa dapat melakukan kenakalan yaitu: Faktor keluarga Keluarga merupakan peran yang sangat penting bagi pendidikan anak. Sebelum mengenal duniar luar anak lebih dahulu mendapat bimbingan dari keluarga. Sesuatu yang nantinya anak akan terbentuk karakter itu berasal dari keluarga. Ketika seorang anak mendapat kasih sayang yang cukup baik dari segi batin maupun lahiriyahnya. Tarbi: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Vol 5 . Tahun 2026: 233-248 ISSN: 2829-5072 Jalan Tentara Pelajar No 55B. Telp: ( 0. 385902 Kebumen 54312 Web jurnal : w. iainu-kebumen. id email: tarbichannel@gmail. Faktor sosial masyarakat Faktor keluarga memang yang utama, namun dalam bermasyarakat juga perlu. Jika dari kalangan masyarakat kurang mendukung anak untuk berbuat baik, maka bimbinglah anak jika berada di dalam keluarga. KESIMPULAN Peran Guru Pendidikan Agama Islam di SDN 2 Kebulusan yaitu. Guru PAI sebagai Pendidik, . Guru PAI sebagai Pembimbing, . Guru Sebagai Suri Tauladan, . Guru PAI sebagai Penasehat, . Guru sebagai Evaluator. Bentuk-bentuk kenakalan siswa di SDN 2 Kebulusan dibagi menjadi golongan, yaitu kenakalan ringan, kenakalan sedang dan kenakalan Kenakalan ringan meliputi. ramai di kelas, rambut panjang bagi siswa putra, seragam tidak rapi, tidak disiplin . asuk kelas tidak tepat waktu dan masuk pembiasaan sholat dhuha tidak tepat Kenakalan sedang di SDN 2 Kebulusan meliputi vandalisme ( mencoret-coret meja, kursi dan dindin. dan bulliying yang mana antar siswa yang suka mengolok-olok teman sebayanya. Kenakalan kategori berat yaitu berkelahi dan mengoleksi video atau gambar porno. Faktor-faktor yang membuat siswa SDN 2 Kebulusan melakukan kenakalan yaitu faktor keluarga yang mana faktor keluarga menjadi peran utama dalam proses perkembangan anak dan penentuan sikap anak di luar atau di dalam sekolah. Kedua yaitu faktor sosial masyarakat yaitu anak harus sepenuhnya diawasi dalam bergaul dengan teman sekitar rumah. Ketiga, faktor keagamaan dimana seorang anak sangat membutuhkan pendidikan agama yang baik. Keempat, faktor sekolah sangat mempengaruhi sikap dan perilaku anak, jika anak tersebut salah memliih teman maka anak tersebut dapat melakukan kenakalan. Terakhir adalah faktor mental, jika semuanya sudah didapatkan oleh siswa namun jika mental anak kurang maka bisa terjadilah kenakalan siswa atau perilaku yang melanggar aturan sekolah. DAFTAR PUSTAKA