CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" https://doi. org/10. 25008/caraka. SALMA SALSABILA TRIE DAMAYANTI TOTO SUGITO Universitas Padjadjaran - Indonesia ABSTRACT The documentary film AuPedal Waktu Jalanan BandungAy focused on the story of Paguyuban Sapedah Baheula Bandung (PSBB), a vintage bicycle community committed to preserving cultural heritage amidst modernization. The film conveyed historical values, community spirit, and a healthy lifestyle through interviews with the founder, chairman, members of PSBB, and representatives from the Indonesian Vintage Bicycle Community (KOSTI). The creation of this film was inseparable from the directing process, which involved the application of essential concepts in documentary filmmaking. Directing was the process of guiding a creative vision and translating it into communicative visual The aim of this report was to explain how the documentaryAos style, approach, and structure were applied in the directing process. The directing style implemented was the expository style, presented through voice-over narration to clarify the storyline and strengthen message delivery. The narrative approach was used to organize source statements into a story structure, consisting of three acts: the formation of the community, challenges and inspiring member stories, and the future hopes of the community. The creation stages included pre-production, production, and post-production. Keywords: Ontel Biciclye. Directing. Documentary. Expository Style. Narrative ABSTRAK Film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy merupakan film dokumenter tentang kisah Paguyuban Sapedah Baheula Bandung (PSBB), sebuah komunitas pecinta sepeda ontel dalam melestarikan budaya di tengah arus modernisasi. Film ini menyampaikan nilai-nilai sejarah, semangat komunitas, serta gaya hidup sehat melalui wawancara bersama pendiri, ketua, dan anggota PSBB, serta narasumber dari komunitas sepeda tua Indonesia (KOSTI). Pembuatan karya ini tidak terlepas dari proses penyutradaraan yang menerapkan konsep-konsep penting dalam produksi film Penyutradaraan merupakan proses mengarahkan visi kreatif dan menerjemahkannya ke dalam bentuk visual yang komunikatif. Tujuan studi ini untuk menjelaskan bagaimana gaya, pendekatan, dan struktur dokumenter digunakan dalam proses penyutradaraan. Gaya penyutradaraan yang diterapkan adalah gaya ekspository melalui narasi voice over untuk memperjelas alur cerita dan memperkuat penyampaian pesan. Pendekatan studi ini adalah pendekatan naratif yang menyusun pernyataan narasumber menjadi alur cerita dengan struktur tiga babak: awal mula terbentuknya komunitas, tantangan serta kisah inspiratif anggota, hingga harapan masa depan komunitas. Tahapan penciptaan meliputi proses pra-produksi, produksi, hingga pasca Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 Penerapan konsep penyutradaraan tersebut memungkinkan film dikemas sesuai dengan visi sutradara dan menjangkau target audiens secara efektif melalui media sosial YouTube. Kata kunci: Sepeda Ontel. Penyutradaraan. Dokumenter. Pendekatan Ekspository. Naratif AuthorAos email correspondent: salma21032@mail. The author declares that she/he has no conflict of interest in the research and publication of this manuscript Copyright A 2025: Salma Salsabila Licensed under the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. 0 (CC BY-SA 4. Available at http://caraka. Submitted: May 31, 2025. Revised: July 31, 2025. Accepted: December 1, 2025 PENDAHULUAN Di tengah pesatnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi di perkotaan, masyarakat kerap kali dihadapkan pada perubahan gaya hidup yang semakin cepat dan serba digital. Namun, di balik dinamika tersebut, muncul berbagai komunitas yang justru mengambil peran sebagai pengingat akan pentingnya nilai-nilai sejarah, tradisi, dan Saat ini, di seluruh wilayah Indonesia sudah banyak ditemui macam-macam komunitas yang dibentuk oleh masyarakat (Arkanudin, 2. Berbagai komunitas tersebut terbentuk atas dasar minat, hobi, profesi, atau tujuan tertentu yang ingin dicapai bersama (Adinda et al. , 2. Komunitas terbentuk karena adanya tujuan tertentu yang ingin dicapai oleh para anggotanya (Hayat, 2. Komunitas dapat terbentuk atas dasar kesamaan hobi, serta berkembang menjadi komunitas yang semakin luas, yang lahir dari tingginya kesadaran sosial di masyarakat. Salah satu komuitas yang terbentuk berdasarkan hobi di Bandung adalah Paguyuban Sapeda Baheula Bandung (PSB). Awalnya didirikan oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan hobi yang kerap bertemu di pasar loak (Astana Anyar. Malbar. Seputaran Pusdai Jabar. Cihapit dan Jatay. yang bernisiatif membentuk sebuah wadah bagi penggemar onthel khususnya bagi warga Bandung dan Jawa Barat. Paguyuban Sapeda Baheula resmi didirikan pada 31 Januari 2005. Ricky H. Wijaya dipilih dengan cara aklamasi sebagai ketua dan Yahya Johari (Abo. sebagai wakil ketua untuk memimpin Paguyuban Sapedah Baheula Bandung periode 2005-2009 (Johari. Wawancara, 2. Selain sebagai wadah bagi para pecinta sepeda ontel, komunitas ini juga bertujuan untuk melestarikan budaya agar tidak hilang seiring perkembangan zaman. Budaya menggunakan sepeda ontel merupakan salah satu wujud pengaruh masyarakat Eropa dalam sektor transportasi (Rahayu, 2. Modernisasi dan kemajuan teknologi telah menggeser peran sepeda ontel sebagai alat transportasi utama, kini keberadaanya semakin terpinggirkan karena masyarakat lebih memilih kendaraan bermotor yang lebih cepat dan Meskipun demikian, sepeda ontel tetap menjadi nilai historis dan kini banyak dijadikan sebagai barang koleksi yang langka dan bernilai tinggi. Lebih dari sekadar kendaraan, sepeda ontel telah menjadi simbol identitas bagi komunitas pecinta dan penggemarnya. Melalui Paguyuban Sapeda Baheula, upaya pelestarian sepeda onthel terus dilakukan agar warisan ini tetap terjaga di tengah arus modernisasi. Dalam rangka berpartisipasi meningkatkan pemahaman akan mempertahankan dan melestarikan budaya masa lampau di era modernisasi, penulis dan tim produksi membuat karya berupa film . udio-visua. dokumenter yang berdurasi 15 menit dan nantinya akan di Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 kupas dari sudut pandang pendiri PSB. Pendekatan yang digunakan untuk menyebarluaskan informasi yang ada dalam karya film dokumenter ini adalah dengan mempublikasikan karya melalui media sosial YouTube. Karya Film dokumenter berjudul AuPedal Waktu Jalanan BandungAy bertujuan untuk mempertahankan dan melestarikan budaya, mengajak masyarakat untuk gaya hidup sehat serta menyebarluaskan informasi kepada masyarakat mengenai keberadaan Paguyuban Sepeda Baheula Bandung, sebuah komunitas pecinta sepeda onthel yang yang belum banyak diketahui oleh khalayak masyarakat. Film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy menceritakan biografi atau sejarah komunitas dari awal terbentuknya PSB hingga bertahan hingga saat ini. Dalam proses produksi film dokumenter ini, penulis berperan sebagai sutradara. Hal ini menekankan betapa pentingnya peran sutradara dalam pembuatan film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy, karena sutdarara berfungsi sebagai pengarah visi kreatif sekaligus pendeketan teknis dan naratif yang digunakan dalam penyampaian cerita. Sutradara memiliki peran krusial dalam menentukan bagaimana realitas ditampilkan kepada audiens melalui pilihan visual, gaya bertutur dan struktur penceritaan (Nichols, 2. Dengan tujuan penulis yakni ingin menyampaikan informasi secara langsung kepada penonton, maka telah diterapkan gaya penyutradaraan eskpository dan pendekatan naratif dalam unsur cerita. Kedua pendekatan ini terbukti efektif dalam menyampaikan pesan dokumenter secara jelas, informatif, dan emosional. Film ini dikemas dengan konsep bercerita, naratif dan diiringi dengan narasi yang sesuai yang bertujuan agar pesan dapat disampaikan dengan jelas. Selain itu, dari segi penyampaian cerita, sutradara juga mengadirkan footage-footage/beauty shot yang mendukung dengan apa yang diceritakan, menghadirkan argumen, dan menyajikan ceritacerita yang menarik, dan tanpa rekayasa. Film dokumenter ini juga dihadirkan dengan adanya voice over sebagai ciri khas dari gaya ekspository yang mana digunakan untuk mendukung visual dan membantu penonton memahami alur cerita. Gaya dan pendekatan yang telah ditentukan penting untuk dikuasai oleh sutradara dalam proses pembuatan film dokumenter. Dengan demikian, sebagai sutradara, penulis berharap pesan yang ingin disampaikan dalam film ini dapat diterima oleh penonton serta dinikmati dengan baik. KERANGKA TEORI Pendekatan ekspository dalam film dokumener masih menjadi salah salah satu pendekatan yang kerap digunakan hingga saat ini. Menurut Aldarubi . , pendekatan ekspository menyampaikan cerita melalui narasi yang kuat, memungkinkan alurnya dipahami lewat pendengaran, sementara visual yang disajikan berfungsi mendukung dan mempertegas aspek audio. Sedangkan menurut Sari & Wahyuni . , dokumenter ekspository merupakan jenis dokumenter yang menitikberatkan pada penyajian peristiwa secara actual. Dalam pendekakatan ini, narasi yang disampaikan berfungsi untuk memberikan informasi secara jelas dan mendukung visual yang ditampilkan, sehingga penonton dapat memahami konteks peristiwa lebih mendalam. Film AuPedal Waktu Jalanan BandungAy merupakan dokumenter yang menggunakan pendekatan ekspository. Dalam film ini, informasi disampaikan secara logis melalui teks atau suara, sementara visual berperan sebagai elemen pendukung. Gambar digunakan untuk memperjelas narasi, memperkuat kesan dramatis, atau bahkan memberikan sudut pandang Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 yang berlawanan dengan apa yang disampaikan secara verbal. Cerita disajikan secara langsung kepada penonton melalui teks maupun suara, dengan sudut pandang tertentu, didukung oleh argument serta fakta yang mendukung narasi tersebut. Informasi dalam film dokumenter dengan pendekatan ekspository disajikan melalui narasi, baik dalam bentuk teks maupun suara, guna memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada penonton mengenai suatu peristiwa. Narasi tersebut berperan sebagai panduan bagi penonton agar dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh sutradara (Lestari. Peneliti juga menggunakan pendekatan Naratif Seymour Chatman untuk memahami cara pembuat film untuk menyampaikan pesan dalam cerita kepada penonton. Chandra Tanzil . dalam buku AuPemula Film Dokumenter: Gampang-gampang SusahAy menjelaskan, film dokumenter dengan pendekatan naratif adalah film dokumenter yang menggunakan struktur bercerita, karena kata naratif dari bahasa Inggris, narrative berarti cerita atau bercerita. Pembuat film menggunakan pendekatan naratif dengan tujuan meyakinkan penonton melalui pernyataan langsung dari narasumber. Secara logis, film dokumenter juga memiliki alur cerita atau bersifat naratif, serta mengandung unsur dramatik. Namun, perbedaannya dengan film fisik adalah, isi ceritanya didasarkan pada fakta yang ada, bukan hasil rekayasa (Fajar Bahary & Ikhwan, 2. Dalam film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy, sutradara menerapkan pendekatan naratif dengan menyusun cerita . dan alur . sebagai elemen utama yang memperkuat konsep film. Narasi yang dibangun dirangkai secara sistematis dengan pernyataan dari narasumber, sehingga membentuk alur yang mampu memperjelas dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan dalam dokumenter ini. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian praktik penciptaan karya . ractice-based researc. yang berfokus pada proses artistik dalam penyutradaraan film dokumenter. Metode ini dipilih karena sesuai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan proses kreatif, pemilihan gaya penyutradaraan, dan implementasi pendekatan expository dalam produksi film dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung". Penelitian jenis ini memposisikan praktik seni sebagai inti dari proses penelitian, di mana pengalaman kreatif peneliti sebagai sutradara tidak hanya menjadi subjek kajian, tetapi juga menjadi instrumen utama dalam menghasilkan pengetahuan. Objek utama dalam penelitian ini adalah proses penyutradaraan yang mencakup tahapan pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Pada tahap pra-produksi, dilakukan riset mendalam mengenai tema film, penulisan naskah naratif, perencanaan visual, serta pemilihan subjek dan lokasi pengambilan gambar. Dalam tahap produksi, peneliti merekam peristiwa-peristiwa yang relevan di jalanan Kota Bandung dengan menekankan unsur dokumentatif dan estetika visual yang mendukung narasi voice-over. Sementara itu, pada tahap pasca-produksi, peneliti melakukan penyuntingan gambar, penyusunan narasi, pemilihan footage arsip, serta tata suara dan musik yang mendukung penyampaian pesan film sesuai dengan karakteristik pendekatan expository. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi partisipatif, dokumentasi proses produksi . alam bentuk catatan lapangan, storyboard, dan rekaman kegiata. , serta studi pustaka terhadap teori film dokumenter dan penyutradaraan. Peneliti Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 juga melakukan refleksi kritis terhadap keputusan-keputusan artistik yang diambil selama proses produksi. Studi pustaka dilakukan dengan mengacu pada teori dokumenter Bill Nichols, terutama tentang mode expository, serta literatur lain yang membahas penyutradaraan dan estetika film dokumenter. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif-kualitatif, dengan menggunakan teknik reflektif dan interpretatif. Peneliti merefleksikan setiap tahapan penyutradaraan dan mengaitkannya dengan konsep dan prinsip dasar pendekatan expository, untuk melihat sejauh mana gaya ini dapat mengomunikasikan pesan film secara efektif kepada audiens. Analisis ini tidak hanya menjelaskan bagaimana pendekatan expository diterapkan secara teknis, tetapi juga menilai dampaknya terhadap kekuatan naratif dan kualitas representasi dalam film. Dengan menggunakan metodologi ini, penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan praktik penyutradaraan film dokumenter, khususnya dalam konteks lokal yang mengangkat realitas sosial dan budaya masyarakat urban seperti yang tergambar dalam lanskap jalanan Kota Bandung. HASIL DAN PEMBAHASAN AuPedal Waktu Jalanan BandungAy adalah sebuah film dokumenter berdurasi 13 menit 43 detik yang disusun dalam bentuk audio visual dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mempertahankan dan melestarikan peninggalan budaya masa Melalui film ini, penulis selaku sutradara ingin memperkenalkan keberadaan Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, sebuah komunitas yang berfokus pada pelestarian sepeda antik dan nilai-nilai historis yang menyertainya. Lebih dari sekadar mengenalkan, film ini juga menjadi upaya untuk mendorong perhatin serta dukungan dari pemerintah agar komunitas semacam ini dapat terus eksis dan berkembang sebagai bagain dari arisan budaya lokal. Film ini memaparkan sejarah terbentuknya komunitas, kisah anggota serta berbagai pencapaian yang telah mereka raih, yang semuanya menunjukkan nilai edukatif dan manfaat sosial yang tinggi bagi masyarakat. Dengan menerapkan pendekatan naratif, film ini membangun alur cerita yang mengalir secara runtut. Cerita dimulai dengan pengenalan terhadap Paguyuban Sapedah Baheula Bandung sebagai fokus utama, kemudian berkembang melalui penggalian sejarah, aktivitas, dan nilai -nilai komunitas, hingga mencapai klimaks dengan penyampaian solusi dan harapan ke depan. Narasi disusun berdasarkan struktur cerita dan plot yang telah dirancang, serta diperkuat dengan pemanfaatan narasi langsung dari para narasumber. Film ini meggunakan gaya ekspository dala penyampaian infromasi yakni dengan menggunakan suara narasi . oice ove. bergaya Voice Of God yang bertugas menjelaskan setiap transisi antar babak, serta memberikan konteks atas visual yang ditampilkan. Selain itu, dokumenter ini juga dilengkapi dengan wawancara dari beberapa narasumber, yang memperkaya isi film melalui perspektif personal dan pengalaman langsung narsumber. Penulis sebagai sutradara ingin menyajikan sebuah narasi yang mengalir tentang Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, dengan tujuan memperkenalkan komunitas ini kepada masyarakat luas. Film ini tidak bertujuan untuk mengajak, melainkan murni sebagai bentuk pengenalan bahwa di Bandung terdapat sebuah komunitas yang konsisten menjaga nilai-nilai budaya masa lampau melalui sepeda antik. Cerita dimulai dari sejarah terbentuknya komunitas, perkembangan yang telah dilalui, hingga harapan mereka ke depan dalam mempertahankan warisan budaya tersebut. Judul Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 AuPedal Waktu Jalanan BandungAy dipilih untuk menggambarkan esensi dari film dokumenter Kata AuPedal WaktuAy mempresentasikan kilas balik ke masa lampau melalui simbol sepeda, sementara AuJalanan BandungAy merujuk pada latar tempat di mana komunitas ini tumbuh dan berkembang. Setelah pembagian tugas dilakukan, sutradara dan script writer memulai dengan melakukan riset mendalam terkait topik yang diangkat. Kami mendatangi salah satu pengurus Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, yang menjadi gerbang pertama penulis untuk mencari tahu lebih dalam mengenai komunitas ini. Lalu penulis dan script writer, memilih narasumber yang tepat, dan merencanakan alur cerita secara menyeluruh. Observasi lokasi atau recce juga dilakukan di dua tempat utama yakni Sekretariat Paguyuban Sapedah Baheula Bandung dan Taman Vanda, yang merupakan lokasi berkumpul rutin para anggota komuntas. Selain itu, penulis dan script writer mengikuti kegiatan komunitas secara langsung sebagai bentuk pendekatan untuk mendapatkan gambaran untuk proses shooting. Informasi yang dikumpulkan melalui survey lokasi dan pre-intervie dengan berbagai narasumber kemudian digunakan oleh sutradara untuk mematangkan konsep cerita. Hasilnya diwujudkan dalam bentuk storyboard, naskah dan treatment sebagai panduan utama dalam proses produksi film dokumenter ini. Selanjutnya setelah melakukan beberapa tahapan pra produksi, sutradara melakukan kurasi dan menetapkan narasumber yang kan diwawancarai dalam tahap produksi, sserta menentukan penempatan lokasi shooting yang akan digunakan. Dengan membuat timeline produksi yang disesuaikan dengan jadwal narasumber dan kru yang terlibat, moodboard, shot list, hingga menyusun daftar pertanyaan wawancara. Semua langkah ini dilakukan dengan matang dan terencana agar proses produksi berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang direncanakan dan memstikan bahwa semua anggota tim bekerja sesuai dengan jobdeks yang telah ditetapkan. Selama proses produksi, sutradara bekerja sama dengan tim produksi untuk mengatur pengambilan gambar dan mengarahkan narasumber. Sutradara memastikan bahwa semua adegan terjadi sesuai dengan konsep yang sudah dibuat sebelumnya dan semua narasumber memberikan wawasan yang relevan dan bermakna tentag topik yang dibahas. Dalam hal ini, sutradara sangat berperan penting dalam melaksanakan proses shooting. Selain itu, sutradara juga harus memiliki kemampuan untuk berfikit cepat dan mengambil keputusan yang tepat dilapangan bilamana terjadi sesuatu yang diluar presdiksi yang mungkin timbul. Setelah proses pengambilan gambar atau shooting selesai, sutradara mengambil peran penting pada tahap psca produksi, yakni mengawasi tahapan editing. Proses ini dimulai dengan melakukan kurasi atau seleksi gambar untuk menentukan visual mana yang layak Setelah itu, dibuat editing script yang bertujuan untuk mempermudah kerja editor dalam menyusun alur cerita secara visual. Pada tahap ini, script writer bertanggung jawab untuk membuat transkrip dari hasil wawancara, lalu menyusunnya menjadi narasi yang akan digunakan sebagai voice over dalam film dokumenter. Narasi tersebut kemudian ditinjau kembali oleh sutradara untuk memastikan kesesuaian isi dengan visi film. Setelah gambar terpilih dan narasi selesai, proses berlanjut ke tahapan rouh cut, fine cut dan online editing. Di sini, sutradara memberikan masukan terhadap hasil penyuntingan dan turut membuka ruang diskusi dengan editor agar tercipta hasil yang optimal. Proses ini dilakukan secara bertahap hingga film dokumenter selesai dengan kualitas yang sesuai dengan harapan sutradara dan tim produksi. Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 Analisis dan Sintesis Karya Pendekatan Ekspository. Dalam pembuatan film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy, digunakan pendekatan penyutradaraan bergaya ekspository sebagai metode utama dalam penyampaian informasi kepada penonton. Pendekatan ini digunakan untuk menjelaskan secara langsung mengenai keberadaan dan peran Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, komunitas sepeda onthel yang turut melestarikan nilai-nilai budaya masa lampau di tengah arus modernisasi Kota Bandung. Ciri khas utama dari pendekatan ekspository ini ditunjukan melalui penggunaan narassi voice over yang mengesankan gaya Voice of God, suara yang tidak tampak secara visual, namun hadir memberikan konteks transisi dari setiap pembahasan, latar belakang serta penjelasan terhadap gambar yang ditampilkan. Narasi ini dirancang untuk memberikan kejelasan dan ketepatan informai, sehingga penonton dapat memahami topik dengan lebih menyeluruh dan terarah. Narasi yang digunakan dalam film ini ditulis oleh script writer berdasarkan hasil riset, observasi lapangan, serta wawancara dengan para narasumber yang memiliki keterlibatan langsung dalam komunitas. Narasi ini tidak hanya menjelaskan konteks sejarah terbentuknya komunitas, tetapi juga menyoroti nilai-nilai budaya yang mereka bawa serta tantangan dan harapan mereka dalam menjaga kelestarian budaya sepeda onthel. Untuk memperkuat pendekatan ekspository, film ini menampilkan wawancara dengan tokoh-tokoh utama dari komunitas tersebut, seperti pendiri PSB. Ketua PSB. Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) dan Anggota PSB. Setiap pernyataan narasumber disusun dan disandingkan dengan visual seperti kegiatan komunitas, asrip dokumen lama, serta suasana kota Bandung yang menjadi pelengkap untuk memperkuat informasi yang disampaikan oleh Narasumber. Dalam pendekatan ini, visual berfungsi sebagai penunjang narasi. Gambar dan audio dimanfaatkan sebagai ilustrasi yang memperjelas isi narasi, serta membangun suasana nostalgia yang sesuai dengan semangat pelestarian budaya masa lalu. Gaya penyampaian seperti ini memberikan keleluasaan bagi sutradara dalam menambahkan konteks yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui visual, serta menyisipkan emosi dan makna lebih dalam melalui intonasi dan pemiliha kata dalam narasi. Dengan pendekatan ekspository ini. Film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy, tidak hanya menjadi dokumenter yang memperkenalkan sepeda antik, tetapi juga menjadi sarana edukatif yang menyampaikan nilai budaya dan sejarah lokal kepada masyarakat secara lugas dan mendalam. Pendekatan Naratif. Dalam proses pembuatan film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy, pendekatan naratif juga dipilih sebagai gaya penyutradaraan. Pendekatan ini digunakan untuk menyampaikan cerita secara runtut dan menyentuhh, dengan mengandalkan elemen-elemen seperti tokoh, alur cerita, konflik dan penyelesaian. Tujuannya adalah agar penonton tidak hanya memahami informasi yang disampaikan, tetapi juga dapat merasakan emosi, keterlibatan dan kedepatan terhadap isu yang diangkat. Cerita utama dalam film ini berfokus pada perjalanan komunitas sepeda onthel di Kota Bandung yang secara konsisten menjaga warisan budaya tempo dulu di tengah arus Alur cerita disusun dari sudut pandang Pendiri. Ketua. Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) dan anggota komunitas yang menjadi representasi perjuanga dan semangat pelestarian budaya. Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 Alur cerita disusun mengenai sejarah terbentuknya komunitas tersebut, bagaimana mereka mempertahankan eksistensi budaya sepeda klasik, menghadapi tantangan zaman, menjaga kekompakan dan nilai sepedah onthel, serta harapan kedepannya untuk Paguyuban Sapedah Baheula Bandung. Pendekatan naratif ini juga memperhatikan struktur dramatic dalam pembentukan alur cerita, merujuk pada tiga babak penceritaan sebagaimana dikemukakan oleh Field, . , yaitu Set-Up. Confrontation, dan Resolution. Pada Babak Pertama (Set-U. , penonton diperkenalkan dengan Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, sejarah dan minat pada sepeda onthel. Babak kedua (Confrontatio. mengenai makna terhadap sepeda onthel dan tantangan mempertahankan eksistensi paguyuban di era modern. Babak ketiga (Resolutio. menyajikan bagaimana komunitas ini menemukan solusi, baik melalui kolaborasi, kegiatan edukatif, maupun penguatan identitas budaya melalui media dan ruang publik serta harapan dari para tokoh untuk Paguyuban Sapedah Baheula Bandung. Narasi dalam film ini dikembangkan dari pertanyaan narasumber yang dirangkai menjadi sebuah alur dengan penceritaan yang mengalir. Visual tidak hanya sekadar berfungsi sebagai pelengkap informasi, tetapi juga sebagai elemen yang bercerita. Adegan demi adegan disusun agar mampu mengkomunikasikan pesan-pesan emosional dan memperkuat perjalanan karakter serta komunitas secara keseluruhan. Dengan pendekatan ini, film AuPedal Waktu Jalanan BandungAy diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi tentang komunitas sepeda onthel, namun juga mengajak penonton ikut merasakan perjuangan, menghargai nilai budaya lampau, serta terinspirasi untuk lebih peduli terhadap pelestarian budaya lokal. Pendekatan naratif memungkinkan film ini menjadi jembatan antara dokumentasi dan emosi, antara fakta dan perasaan. Struktur Tiga Bagian dalam Pembuatan Film. Karya film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy menerapkan struktur tiga babak sebagaimana dikemukakan oleh Field, . , yaitu Set-up (Act I). Confrontation (Act II), dan Resolution (Act . Struktur ini membangun alur naratif yang terstruktur. Penulis sebagai sutradara merancang pembabakan cerita sehingga menjadi struktur cerita yang utuh dan rinci. Atau dengan kata lain, alam cerita terdapat permulaan, titik tengah, dan akhir cerita. Dalam Act I, merupakan bagian bagian awal permulaan cerita, bagian ini menyajikan mengenai perkenalan karakter, tentang apa cerita tersebut. Act II dimana dalam babak ini menceritakan mengenai konflik dan menghadapi masalah untuk menggapai keinginan atau Act i merupakan bagian penutup yang menghadirkan penyelesaian dari cerita, harapan dan alur cerita secara keseluruhan. Act I (Set-u. Babak pertama film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan Bandung memperkenalkan Kota Bandung sebagai latar dari Paguyuban Sepedah Baheula Bandung. Melalui cuplikan suasana pagi di hari di Bandung, beauty shot sepeda onthel dan para anggotanya, penonton diperkenalkan pada Paguyuban Sapedah Onthel, komunitas penggiat sepeda onthel yang memaknai aktivitas ini bukan sekadar hobi, melainkan sebagai bagian dari identitas budaya. Sebagai pengenalan bagi audiens mengenai pengenalan topik utama cerita, fokus utama film dokumenter ini ialah memperkenalkan Paguyuban Sapedah Baheula Bandung kepada masyarakat. Pada scene awal, film dibuka dengan adegan komunitas sepeda onthel yang berkumpul di Taman Vanda. Kota Bandung. Voice over digunakan sebagai narasi utama yang menjelaskan setiap bagian dari cerita. Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 Pada adegan pembuka, narasi tidak hanya memperkenalkan Kota Bandung dan Komunitas sepeda onthel, tetapi juga menceritakan sejarah terbentuknya paguyuban Audiens diajak memahami bagaimana sepeda onthel memiliki makna mendalam bagi para pendiri dan tokoh komunitas, bukan hanya sebagai alat transportasi klasik, tetapi juga sebagai simbol nilai-nilai kebersamaan, ketekunan, dan pelestarian budaya lokal. Gambar 1. Act 1 (Set-u. Act II (Confrontatio. Bagian perkembangan dalam film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy menceritakan kehidupan salah ssatu anggota Paguyuban Sapedah Baheula Bandung yang menggantungkan penghasilan dari sepeda onthel. Ia menjalani aktivitas ekonomi dengan menjual sparepart, onderdill, serta berbagai perlengkapan yang berkaitan dengan sepeda Melalui aktivitas ini, bukan hanya kebutuhan hidup yang terpenuhi, namun juga berkontribusi pada pelestarian budaya sepeda tua. Babak ini diawali dengan wawancara bersama salah satu anggota Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, yang menceritakan bagaimana ia menggantungkan penghasilan dari kegiatan yang berkaitan dengan komunitas sepeda onthel. Untuk memberikan sudut pandang yang lebih luas dan mendalam, babak ini juga menampilka wawancara bersama pendiri dan ketua Paguyuban Sapedah Baheula Bandung. Ia menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya peran anggota yang menjadikan sepeda onthel sebagai sumber Menurutnya, aktivitas jual beli sparepart maupun sepeda onthel sendiri merupakan upaya melestarikan budaya sepeda tua. Tanpa adanya transaksi, hobi dan kecintan terhadap sepeda onthel lambat laun akan menghilang. Selain itu, babak ini juga mengangkat sejumlah tantangan yang dihadapi oleh komunitas ini. Salah satunya adalah kurangnya peratian dari pemerintah Kota Bandung terhadap eksistensi Paguyuban Sapedah Baheula Bandung. Padahal, di masa lalu, paguyuban ini kerap terlibat dalam berbagai kergiatan dan event besar di kota Bandung. Konflik lain yang muncul adalah minimnya regenerasi dalam paguyuban. Mayoritas anggota yang aktif saat ini adalah kalangan lanjut usia. Sementara, ketertarikan generasi muda terhadap sepeda onthel terbilang rendah, sehingga keberlangsungan komunitas ini menjadi kekhawatiran tersendiri. Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 Gambar 2. Act II (Confrontatio. Act i (Resolutio. Babak terakhir dalam film dokumenter AuPedal Waktu Sapedah Baheula BandungAy menggambarkan upaya dan harapan komunitas dalam menjaga keberlangsungan budaya sepeda onthel di tengah berbagai tantangan yang mereka hadapi. Fokus utama pada babak ini adalah peran komunitas dalam menciptakan ruang alternatif dan solusi nyata agar Paguyuban Sapedah Baheula Bandung ini tetap hidup. Pada bagian ini, film menyoroti berbagai inisiatif yang dilakukan oleh Paguyuban Sapedah Baheula Bandung, seperti menggelar acara gowes rutin dan edukasi sepeda onthel kepada masyarakat umum, termasuk generasi muda. Upaya ini bertujuan untuk menarik minat kalangan muda agar teribat aktif dalam kegiatan komunitas dan menjadi bagian dari pelestarian budaya ini. Pada babak ini juga menampilkan harapan dari pendiri. Ketua PSB dan Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia yang berkontibusi, meski usia tidak lagi muda. Mereka menyampaikan pentingnya solidaritas antaranggota serta harapan agar ada regenerasi yang dapat melajutkan semangat menjaga warisan sepeda tua. Dukungan dari masyarakat serta peran aktif anggota dan lembaga budaya menjadi kunci untuk menyebarkan semangat Penutup, film ini menyampaikan pesan moral bahwa pelestarian budaya tidak selalu membutuhkan dukungan dari pemerintah, tetapi bisa dimulai dari langkah kecil dan konsistensi komunitas. Pedal Waktu Sapedah Baheula Bandung memberi harapan, di balik setiap roda sepeda tua, terdapat nilai sejarah, perjuangan dan identitas kota untuk dijaga. Penyutradaraan dengan Pendekatan Expository dalam Produksi Film Dokumenter "Pedal Waktu Jalanan Bandung" CARAKA: Indonesia Journal of Communication, vol. , 2025, 255-267 Gambar 3. Act i (Resolutio. KESIMPULAN Dalam proses pembuatan film dokumenter berjudul AuPedal Waktu Jalanan BandungAy, penulis telah melalui tiga tahapan utama dalam produksi film, yaitu pra-produksi, produksi dan pasca produksi. Ketiga tahapan tersebut dilalui dengan perencanaan yang matang dan pendekatan kreatif yang berorientasi pada pencapaian tujuan dokumenter: menyampaikan pesan sosial, historis, dan budaya tentang kehidupan komunitas pesepeda di Kota Bandung secara informatif dan menarik. Berdasarkan pengalaman dan hasil evaluasi dari keseluruhan proses tersebut, penulis menarik beberapa kesimpulan penting: Film dokumenter ini secara dominan menggunakan pendekatan ekspository, yaitu pendekatan yang bertujuan menyampaikan informasi atau argumen secara langsung kepada Hal ini tercermin melalui penggunaan voice over naratif yang bersifat informatif dan dekriptif. Voice over digunakan untuk menjelaskan konteks historis, sosial serta perkembangan komunitas pesepeda di Bandung yang tidak selalu dapat divisualisasikan melalui gambar. Selain itu, penggunaan arsip foto turut mendukung karakter ekspository film ini. Dengan adanya narator yang memandu penonton untuk memberitahu perpindahan babak pembahasan, dokumenter ini mampu menyampaikan pesan secara jelas, terstruktur, dan meyakinkan. Selain ekspository, dokumenter ini juga mengintegrasikan pendekatan naratif yang dibangun melalui wawancara dengan narasumber, seperti Pendiri. Ketua. Anggota dan Ketua Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI). Penulis merancang struktur cerita berdasarkan kesaksian mereka secara langsung, sehingga narasi tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga personal dan emosional. Cerita yang dibentuk dari testimoni tersebut membuat alur dokumenter menjadi lebih hidup dan terasa nyata. Teknik penyuntingan dilakukan unttuk memastikan transisi antar narasi berjalan mulus dan membentuk struktur dramtik yang logis dan menyentuh. Film dokumenter AuPedal Waktu Jalanan BandungAy telah menggunakan struktur tiga babak dalam proses pembuatannya. Struktur ini terlihat dari alur plot yang terbagi menjadi Act I (Pengenala. Act II (Konfli. , dan Act i (Penyelesaia. Pembagian ini juga dapat disebut sebagai sequence yang terdiri dari berbagai scene dalam film dokumenter tersebut. Dengan pembagian seperti ini, alur ceruta film dalam film dokumenter menjadi lebih jelas dan mudah dipahami oleh penonton. DAFTAR PUSTAKA