Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 at-Tarbiyah al-Mustamirrah: Jurnal Pendidikan Islam Pengelola: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Penerbit: Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Website: https://ejournal. id/ojs/index. php/at-tarbiyah Email: at-tarbiyah@uinmybatusangkar. P-ISSN: 2775-7099 E-ISSN: 2775-7498 Integrasi Tasawuf Akhlaki dan Model Pembentukan Karakter Berbasis Wisdom Art dalam Tembang Dolanan Ilir-ilir Arif AAoabadia*) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya. Jawa Timur. Indonesia arifilham016@gmail. Amirotun Hamidah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya. Jawa Timur. Indonesia amirotunhamidah11@gmail. Channa Chamdiyah Atsaniyah 22027@mhs. Universitas Negeri Surabaya. Jawa Timur *)Corresponding Author Received: 19-12-2025 Revised: 22-12-2025 Approved: 29-12-2025 Abstrak Berbagai hal menyimpang yang marak dan muncul dalam dunia pendidikan di media masa kini cukup membuat kita bergidik dan merasa miris. Pembunuhan dan pelecehan di lingkungan sekolah tidak hanya dilakukan oleh siswa tetapi juga oleh guru. Di sisi lain, terjadi semacam keterputusan dunia pendidikan saat ini dari akar kebudayaannya, yang nilai-nilai historisnya telah membentuk bangsa ini selama berabad-abad. Berangkat dari kegelisahan tersebut, penulis menganalisis bentuk integrasi antara tasawuf akhlaki dan model pembentukan karakter berbasis wisdom art dalam tembang dolanan Ilir-Ilir sebagai hasil kreasi kearifan lokal dari strategi dakwah Sunan Kalijaga. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kajian pustaka dan pendekatan kualitatif. Data dianalisis dengan menggunakan teknik ilmiah analisis deskriptif dan interpretasi Temuan dalam penelitian ini adalah terdapat lapisan-lapisan makna dalam tembang dolanan Ilir-Ilir yang mengandung nilai-nilai filosofis-religius, yang mampu menjadi model pembentukan karakter uaris dan berjiwa pemimpin dengan kelengkapan karakter tabligh, iddiq, faonah, dan amanah. Kesemuanya terintegrasi secara inheren dan koheren. Di sisi lain terdapat relevansi kreasi dakwah Sunan Kalijaga yang berbasis wisdom art pada masa lampau, yang memiliki unsur intrinsik pendidikan luhur yang Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 menebar benih tasawuf akhlaki pada peserta didik usia dini hingga remaja sebagai pembenahan krisis moral. Kata Kunci: Integrasi. Sufisme. Karakter. Wisdom Art. Tembang Dolanan Ilir-Ilir Abstract Various deviant phenomena that have recently emerged in the world of education, as widely reported in the media, are deeply alarming and distressing. Murders and acts of harassment within school environments are perpetrated not only by students but also by At the same time, there appears to be a disconnection between todayAos educational world and its cultural roots, whose historical values have shaped the nation for centuries. Arising from this concern, the author analyzes the form of integration between tasawuf akhlaki . thical Sufis. and a character-building model based on wisdom art in the traditional Javanese song Ilir-Ilir, which is a creative expression of local wisdom stemming from Sunan KalijagaAos daAowah (Islamic proselytizin. This research employs a literature review and a qualitative approach. Data were analyzed using descriptive analysis techniques and literary interpretation. The findings reveal that Ilir-Ilir contains multiple layers of meaning imbued with philosophical and religious values that can serve as an inherently and coherently integrated model of character formation. Moreover, there is a strong relevance between Sunan KalijagaAos wisdom art-based daAowah in the past and the intrinsic educational values it carries, which sow the seeds of tasawuf akhlaki as a means of addressing moral crises. Keywords: Integration. Sufism. Character. Wisdom Art. Tembang Dolanan Ilir-Ilir PENDAHULUAN Permasalahan pendidikan karakter dalam konteks pendidikan Islam dan budaya lokal terutama bersumber dari model dan pendekatan pembelajaran yang masih bersifat kognitif-normatif serta minim pengalaman estetis dan reflektif. Pendidikan karakter sering diajarkan melalui ceramah moral dan hafalan nilai, sementara media budaya lokal yang sarat makna justru kurang dimanfaatkan secara pedagogis. Akibatnya, pembelajaran karakter belum menyentuh dimensi afektif dan spiritual peserta didik secara mendalam, sehingga nilai-nilai akhlak mudah dipahami secara konseptual tetapi lemah dalam internalisasi. (Stone 2. Tembang dolanan . agu anak-ana. menjadi salah satu bahan ajar dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah dasar di Pulau Jawa. Sebagai pengenalan dasar, pelajaran ini belum sampai pada taraf pendalaman makna dan penghayatan nilai-nilai di dalam tembang tersebut (Nurqomariyyah dkk. Bahkan dalam pengajarannya tidak banyak guru menjelaskan lebih rinci makna tembang, yang biasanya hanya sampai pada taraf mengetahui permukaannya dan menyanyikannya bersama-sama. Padahal dalam tembang ada dua aspek penting yang Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 dapat menjadi bahan ajar sebagai pembentukan karakter nilai-nilai luhur. Sebagaimana dalam Islam ada dua aspek pengajaran yang setidaknya harus diterima dan dialami oleh peserta didik, yakni . aspek eksoteris . aspek esoteris . Dalam hal ini bisa dianalogikan pada pembelajaran ibadah sholat, hal-hal terkait dengan rukun, syarat, dan perkara yang membatalkan sholat adalah aspek eksoteris. Sedangkan aspek esoteris adalah hakikat atau makna sholat yang dihayati dan dialami secara kontingen dan kontinu sebagai olah jiwa/batin oleh seseorang. Aspek esoteris dalam Islam disebut tasawuf (Teba 2003, . Dan secara terminologis, tasawuf adalah akhlak Islam (Taftazani, t. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang tidak berbasis pengalaman bermakna cenderung bersifat deklaratif dan kurang berdampak pada perilaku nyata peserta didik. Studi tentang tasawuf akhlaki menegaskan pentingnya pembinaan batin, kesadaran diri, dan latihan moral berkelanjutan dalam pembentukan karakter. Di sisi lain, penelitian tentang pendidikan berbasis seni dan budaya lokal menunjukkan bahwa ekspresi estetisAiseperti musik tradisional dan tembang dolananAimemiliki potensi besar sebagai media pembelajaran Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih berjalan secara terpisah tanpa upaya integratif yang sistematis. Di sana ada nasihat-nasihat, makna spiritual, dan penghayatan nilai-nilai luhur budaya yang menuntun pada pembentukan karakter dan jiwa manusia. Hal demikian senada dengan pernyataan tokoh kemuka pendidikan. Ki Hajar Dewantara, bahwa pembelajaran tembang maupun gending Jawa memiliki daya pengaruh dan kekuatan luar biasa bagi peserta didik dalam membangun budi pekerti yang halus, mengukuhkan sikap kebangsaan, dan piawai belajar sastra (Ki Hajar Dewantara 1. Masalah spesifik yang dikaji dalam penelitian ini adalah belum terintegrasinya nilai-nilai tasawuf akhlaki dengan model pembentukan karakter yang memanfaatkan seni budaya lokal, khususnya tembang dolanan Ilir-ilir. Meskipun Ilir-ilir dikenal luas sebagai tembang yang sarat pesan spiritual dan moral, penggunaannya dalam pendidikan masih bersifat simbolik dan kultural, belum dikembangkan sebagai model pedagogis yang terstruktur untuk pembentukan karakter berbasis kebijaksanaan . Maka, tujuan sastra adalah menghubungkan realitas dengan medium katakata yang indah (Indianto 2012, . Tujuan ini memungkinkan pembaca karya sastra Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 masuk ke dalam penghayatan yang melampaui teks, dan terus menyerap dalam pengembaraan konteks dan olah jiwa. Penelitian ini berargumen bahwa integrasi tasawuf akhlaki dengan model pembentukan karakter berbasis Wisdom Art melalui tembang dolanan Ilir-ilir dapat menjadi solusi pedagogis yang relevan dan kontekstual. Pendekatan ini memungkinkan nilai akhlak ditanamkan melalui pengalaman estetis, refleksi spiritual, dan pemaknaan Target penelitian ini adalah merumuskan model konseptual integratif yang menjelaskan bagaimana nilai tasawuf akhlaki dapat diinternalisasikan secara efektif melalui seni tradisional sebagai media pendidikan karakter. Tembang adalah lirik/sajak yang mempunyai irama nada sehingga dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai Tembang dikenal sebagai lagu tradisional di Bali dan Jawa yang irama dan ritmenya menggunakan laras pelog dan slendro (Nurqomariyyah dkk. Salah satu tembang populer di Jawa ialah tembang dolanan Ilir-Ilir karya Sunan Kalijaga. Sebagai karya sastra dan sekaligus medium dakwah, tembang dolanan Ilir-Ilir dan tembangtembang karya para Sunan lainnya tentu membawa nilai-nilai spiritualitas, budaya, dan pendidikan bagi masyarakat. Tembang Ilir-Ilir biasanya dinyanyikan oleh anak-anak untuk bermain-main atau dinyanyikan ketika melakukan permainan tertentu atau bahkan dinyanyikan di acaraacara kebudayaan dan pengajian. Bahasanya yang sederhana-metaforis menjadikan tembang dolanan Ilir-Ilir sangat digandrungi oleh lintas generasiAiterutama anak-anak. Maka kemudian tidak heran tembang ini juga disebut tembang rakyat. Meski dengan bahasa yang sederhana dan digandrungi oleh segala kalangan, tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak yang belum dapat menyentuh dimensi kedalaman dari tembang tersebut. Dengan demikian, penulis akan mengerucutkan lokus penelitian pada aspek tasawuf . ebagai sisi spiritua. sebagai pembentukan karakter berbasis wisdom art dalam wujud integral pada tembang dolanan Ilir-Ilir karya Sunan Kalijaga. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis konseptual yang diperkaya dengan analisis teks dan simbol budaya. Data penelitian bersumber dari literatur tasawuf akhlaki, kajian pendidikan karakter dan Wisdom Art, teks dan interpretasi tembang dolanan Ilir-ilir, serta artikel jurnal dan buku Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 ilmiah yang relevan. Penelitian ini bersifat non-lapangan, sehingga lokasi penelitian berada pada ruang kajian literatur dan tradisi budaya Jawa-Islam. Pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan penelusuran literatur secara sistematis, dengan fokus pada identifikasi nilai, simbol, dan pesan moral dalam tembang Ilir-ilir. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk menemukan pola nilai tasawuf akhlaki, analisis hermeneutik untuk menafsirkan makna simbolik tembang, serta analisis konseptual-integratif untuk merumuskan model pembentukan karakter berbasis Wisdom Art (Katsoff 1992, . Oleh karenanya penganalisaan adalah proses penting dalam penggalian ilmiah yang menuntun pada pemahaman mendalam akan suatu hal. Sebagai tambahan, penelitian ini juga menggunakan teknik analisa semiotika untuk membongkar teks luar dan menggali makna sebagai pesan, baik secara implisit atau Dengan menempatkan Tembang Dolanan Ilir-Ilir sebagai sistem tanda dalam kerangka analisis semiotik diperlukan beberapa langkah. Menurut Sobur, terdapat langkah-langkah analisis yang perlu dicermati ketat untuk mencapai makna: . Pembacaan heuristik, yakni membaca dengan cermat tata bahasa normatif. Penggeladahan makna standar . Pembacaan retroaktif . (Sobur 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Medium dan Pendekatan Dakwah Wali Songo Para sejarawan maupun peneliti Islam, hampir semuanya sepakat bahwa penyebaran agama Islam di Asia Tenggara (Nusantar. diperankan oleh para tokoh sufi . (Shihab 2009, . Beragam fakta corak sufistik bisa dijumpai dalam peradaban kebudayaan Jawa sebagai bentuk kreasi integrasi dakwah yang menakjubkan dan canggih oleh para penyebarnya, yang beberapa tokoh sentralnya masuk dalam anggota Wali Songo (Wali Sembila. Pandangan tersebut diperkuat oleh fakta penyematan istilah dan gelar, di antaranya sebutan wali, syaikh . edua istilah ini dominan dalam penyebaran Islam di Jawa. Sumatera. Kalimantan, maupun Sulawes. , dan faqir . ang termaktub dalam beberapa Hikayat Melay. (Afifi 2. Penyebutanpenyebutan tersebut sebagaimana kita tahu adalah penekanan gelar yang khas dalam tradisi sufi. Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Corak lainnya ialah pendekatan dakwah para Wali Songo melalui pendekatan kultural (Warsini 2. , jalur damai atau kooperatif dan tanpa konfrontasi, seperti dalam wujud perdagangan, aliansi politik, maupun silang pernikahan (Qothrunnada dan Murtiasih 2. Pendekatan tersebut menurut dinilai berkesesuaian dengan karakter tasawuf, sebagai dimensi Islam yang menekankan aspek esoteris . , yang adaptif dan akomodatif terhadap masyarakat lokal jawa sebagai strategi resignifikansi simbol budaya yang terbukti berkontribusi aktif dalam pembentukan karakter Islam Nusantara (Muhajirin dkk. Medium dakwah lainnya ialah wayang. Dalam hal ini masyarakat Jawa praIslam telah meresapi dan mengalami pendalaman filosofis-religius yang tertuang dalam wayang-wayang purwa . tau wayang parw. Dan kemudian dalam proses akomodatifnya. Wali Songo juga menggunakan wayang sebagai moda artikulasi dalam menebarkan benih nilai-nilai Islam (Warsini 2. Dalam hal ini Sunan Kalijaga menjadi tokoh yang santer dan piawai menggunakan wayang dalam medium Di sisi lain. Sunan Kalijaga juga mengkreasikan medium budaya dan tradisi Jawa lainnya seperti tembang, macapat, gendhing, bedhug. Sunan Kalijaga dan Karya Tembang Dolanan Ilir-Ilir Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1430 atau 1450 (Khaelany 2014, . merupakan putra dari Arya Sidik . ang juga disebut Arya Ing Tuban, atau juga dikenal Tumenggung Wilatikta yang merupakan Adipati Tuba. dan Dewi Retna Dumilah. Nama kecilnya adalah Raden Sahid yang kemudian juga disebut AiRaden SaidAn. Selain itu, beliau juga dikenal dengan banyak nama, seperti Syaikh Malaya. Lokajaya. Raden Abdurrahman. Pangeran Tuban, dan Ki Dalang Brangti. Nama-nama tersebut punya kaitan erat dengan perjalanan kisah hidupnya (Sunyoto 2007, . Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para sejarawan terkait asal-usul Sunan Kalijaga. Ada yang menyatakan bahwa Ia dari jalur nasab ayahnya, yakni Arya Sidik . isebut juga Arya Ing Tuba. berasal dari keturunan Arab dan seorang Ulama (Budiman 1. Pendapat demikian berangkat dari Babad Cirebon naskah No. koleksi Brandes. Di sana. Brandes menemukan keterangan bahwa ayah dari Sunan Kalijaga adalah seorang berketurunan Arab dan seorang Ulama dengan nama Arya Sidik atau juga disebut Arya Ing Tuban. Hal tersebut diperkuat oleh C. Van Den Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Berg dalam De Hadramaut et ies Colonies Arabes Dans AoIarchipel Indien yang menyatakan bahwa seluruh anggota Wali di Jawa merupakan keturunan Arab. Berikut adalah silsilah dari pendapat ini (Hadianata 2015, . : Abdul Mutholib (Kakek Nabi Muhammad Saw. ) berputra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdullah, berputra Kharmia, berputra Mubarrak, berputra Abdullah, berputra Akhmad, berputra Abdullah, berputra Abbas, berputra Kouramas, berputra Abdurrakhim (Arya Teja. Bupati Tuba. , berputra Lembu Kusuma (Bupati Tuba. , berputra Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuba. , berputra Raden Mas Said (Sunan Kalijag. Pendapat lainnya menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Jawa asli. Pendapat ini menarik asal-usul dari nenek moyang Sunan Kalijaga yang bernama Ronggolawe. Ronggolawe pemerintahan Raden Wijaya . raja pertama kerajaan Majapahit. Ia pada kemudian hari diangkat menjadi Bupati Tuban. Berikut adalah silsilah dari pendapat ini: Ronggolawe . anglima perang sekaligus Bupati Tuba. berputra Arya Teja I (Bupati Tuba. , berputra Arya Teja II (Bupati Tuba. , berputra Arya Teja i (Bupati Tuba. , berputra Raden Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuba. , berputra Raden Mas Said (Sunan Kalijag. Menurut keterangan berdasarkan bukti yang ada pada makam. Arya Teja I dan Arya Teja II masih memeluk agama Syiwa, sedangkan Arya Teja i telah memeluk agama Islam (Hadianata 2015, . Dari dua perbedaan pendapat di atas muncul dialektika dari para pengamat sejarah. Dengan demikian, belum terdapat satu kesepakatan yang jelas akan asal-usul Sunan Kalijaga yang menyatakan akan salah satu etnis tertenu . pakah Arab. China. Jawa atau lainny. Sunan Kalijaga mempelajari banyak ilmu dari Sunan Bonang seperti kesenian, kebudayaan masyarakat lokal, ilmu falak, ilmu pranatamangsa . embacaan cuac. , dan bahkan ilmu-ilmu ruhaniah dalam Islam (Djunaedi 2019, 31Ae. Selain memiliki keluasan ilmu. Sunan Kalijaga adalah seorang ahli pertapa dan pengelana. Lelaku . tau rihlah dalam tradisi tarekat kesufia. tersebut ia lakukan sebagai proses peleburan ego dalam diri, sehingga Ia dapat menyerap esensi dan hakikat dari ilmu yang diperolehnya. Atas ilmu yang luas dan lelaku tersebut. Sunan Kalijaga mampu memahami realitas masyarakat lokal jawa dan mengintegrasikan nilai-nilai esensial dan filosofis-religius yang ada pada budaya Nusantara dan agama Islam dalam strategi dakwahnya dengan Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 cara soft approach . endekatan yang lembu. dan sophisticated . Dalam artian. Sunan Kalijaga berdakwah tanpa menghapus adat istiadat masyarakat lokal Jawa (Mulyono 2. , dan perpaduan ini dipakai guna akulturasi tersebut dapat mudah dipahami (Rumpaka dan Ayundasari 2. Beberapa strategi dakwahnya seperti wayang, seni ukir, gamelan, macapat, bedhug, serat, suluk, tembang, dan lainnya. Dan salah satu yang populer adalah tembang dolanan Ilir-Ilir. Tembang . Ilir-Ilir tersebut populer dalam lintas generasi, dengan menggunakan bahasa sederhana yang sekaligus menyimpan kedalaman makna filosofis-religius sebagai aspek tasawuf dan wulangan . sebagai aspek pendidikan karakter. Tembang ini memuat ragam aspek, seperti musikal penuh dan padat wulangan moral (Juliastuti dkk. Berikut adalah tembang dolanan Ilir-Ilir (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. AiLir-ilirA. Lir-ilir lir-ilir tandure wus sumilir Tak ijo royo royo Tak syngguh tymantyn anyar Cah angon cah angon peneknyu blimbing kuwi Lunyu lunyu peneknyu kanggo mbasuh dodot-iryu . odot siry. Dodot-iryu . odot siry. dodot-iryu . odot siry. kumitir bydhah ing pinggir Dondomyunyu jlumatyunyu kanggo sebyu myngko sore Mumpung padhang rymbulane Mumpung jymbar kalangane Yyu surakyu surak-iyyu Terjemah sastrawi (Afifi 2. Laksana aliran hidup Tetumbuhan telah . diterpa angin Tampak begitu hijau . ekar-mekarny. Kukira bak gairah pengantin Bocah pengembala . Panjatlah Belimbing itu . ukun Lim. Meski licin panjatlah Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Untuk membasuh pakaianmu . geman, agam. Kain pakaianmu . aku beragamam. Berkelebatan, sobek di pinggirannya Rekatkanlah. Jahitlah Untuk . menghadap Sang Raja petang nanti Mumpung masih terang cahaya rembulannya [Nur Cahy. Mumpung pendar cincin Cahaya yang mengelilinginya masih tebal Bersoraklah menyambutnya Integrasi antara Tasawuf dan Karakter Berbasis Wisdom Art Dimensi Tasawuf Akhlaki dalam Tembang Dolanan Ilir-Ilir Para ahli tasawuf pada umumnya membagi tasawuf menjadi tiga bagian. Pertama tasawuf falsafi, kedua tasawuf akhlaki, dan yang terakhir tasawuf Ketiga tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri dan AberlariAo menuju Allah dengan cara membersihkan diri . dari perbuatan yang tercela dan menghiasinya dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian, dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf seseorang harus terlebih dahulu menempa diri dengan akhlak mulia (Nata 2011, 17Ae. Ketiga tasawuf di atas berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan. Pada tasawuf falsafi pendekatan yang digunakan adalah pendekatan rasio dan akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia, dan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Selanjutnya pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang tahapannya terdiri dari takhalli . engosongkan diri dari akhlak tercel. , tahalli . enghiasi diri dengan akhlak terpuj. , dan tajalli . ersingkapnya hija. yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelas. Sedangkan tasawuf amali pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliah atau Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 wirid, yang selanjutnya mengembil bentuk tarikat/tarekat . dan melembaga (Nata 2011, . Tasawuf . tau esoteri. sebagai dimensi penting dalam ajaran Islam menuntun insan untuk menata dan menyucikan hati dari segala daya upaya hasrat yang membelenggunya. Menurut Zakaria al-Anari, tawasuf adalah ilmu yang dengannya diketahui tentang pembersihan jiwa, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. Dan menurut Imam Junaidi dengan nada yang tak jauh berbeda, tasawuf adalah berakhlak luhur dan meninggalkan semua akhlak tercela (Isa 2005, . Ungkapan sufi masyhur Yauya bin MuAoAdz al-RAz menjadi paradigma fondasional dalam dunia sufisme: a acaNA a AA Ia eA aNa Aa aC e a a AaI eI a AiBarang siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal TuhannyaAn Ungkapan yang menunjukkan penegasan akan kehendak bahwa setiap individu yang ingin dekat dan mengenal Tuhan, maka ia harus . memulai dengan mengenal dirinya secara rinci, teliti dan komprehensif. Oleh sebab itu, para Wali Songo melihat tasawuf sebagai esensi dakwah pembentukan karakter dan akhlak masyarakat Jawa. Dan esensi itu berada dalam setiap medium dakwah yang sangat beragam yang dipakai sebagai moda artikulasi nilai-nilai Islam dan transmisi peradaban. Sebagaimana terkandung juga dalam tembang dolanan Ilir-Ilir, yang juga diwarnai dengan corak tasawuf Di mana pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak sebagai basis pembentukan karakter umat. Berikut adalah analisis tasawuf akhlaki dalam lirik Tembang Dolanan Ilir-Ilir: Lir-ilir lir-ilir tandure wus sumilir. Lirik ini mengindikasikan seruan Sunan Kalijaga untuk bangkit, sadar, dan bangun, atau . alam terjemahan Irfan Afif. menghadapkan kepada kita akan lanskap kehidupan duniawi yang mengalir berliku. Seruan bangkit dan sadar menegaskan Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 agar segera merefleksi dan mengintrospeksi diri . sebagai upaya pembenahan kualitas kehambaan. Sebab tandure wus sumilir merupakan tanda ada kesegaran atau kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih identik dengan . Tanaman di sini mengarah pada tanaman padi, yang ketika bertunas akan tampak subur dan indah. Tanaman padi adalah sumber rezeki dan kehidupan bagi masyarakat (Afriyanti 2017, . Dalam masyarakat Jawa, tanaman padi dijadikan simbol yang memiliki nilai filosofis-religius akan keilmuan dan kemuliaan akhlak. Padi yang menguning dan merunduk dimaknai sebagai: Seseorang yang semakin tinggi ilmu dan akhlaknya, maka Ia semakin rendah hati . , tidak sombong, tidak angkuh, bijaksana. Sunan Kalijaga sebagai pribadi yang telah lama mengembara dalam proses lelaku memmungkinkan ia piawai menggunakan metafora padi dalam Tembang Dolanan Ilir-Ilir untuk menegaskan hal-hal tersirat dan dengan bahasa sederhana. Nilai-nilai dalam filosofi padi tersebut merupakan hal yang akan menyeimbangkan hidup manusia antara dunia dan akhirat, dan sekaligus menyadari hakikatnya sebagai hamba yang tak punya daya upaya di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Kaya. Sehingga seseorang akan melatih dirinya agar terhindar dari berbagai penyakit hati dan memantapkan diri hanya pada berbuat baik kepada sesama makhluk dan menghamba hanya pada Sang Khalik. Tak ijo royo royo tak syngguh tymantyn anyar. Hijau daun atau hijau subur adalah warna yang menyejukkan mata sekaligus dapat menenangkan pikiran. Hijaunya tanaman juga menunjukkan makna hidup yang membawa suasana kebahagiaan bagi orang-orang yang mau memandangnya dengan rasa syukur. Diksi ini membantu anak Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 memungkinkan meningkatkan kreativitas anak (Haya Yumna Hayati Kholiq 2. Sebagaimana laksana hijau dan mekarnya tanaman, hal serupa tampak dalam sepasang tymantyn anyar . engantin bar. yang bergairah elan vitalitasnya. Pengantin baru juga adalah makna dari fase dua insan yang memasuki awal kehidupan yang Dua pribadi memasuki budaya keluarga baru, dengan akar kebudayaannya masing-masing, dan dengan upaya tepa slira . enggang ras. sebagai proses peleburan sisi egosentrisme agar mencapai taraf manunggal . engutuh sat. atau dalam makna lain yaitu satunya visi-misi hidup dalam meraih rida Sang Pencipta. Atau dalam pemahaman lainnya, sebuah upaya penyatuan hamba pada Tuhannya. Penyatuan akan kehendak diri yang hanya pada kehendak-Nya melalui ikhtiar atau laku tertentu dan tawakal. Dan selanjutnya akan semakin menebalkan kemantapan dan keimanan seseorang hamba. Cah angon cah angon peneknyu blimbing kuwi. Lunyu lunyu peneknyu kanggo mbasuh dodot-iryu . odot siry. Dalam lirik ini yang diseru ialah Aibocah pengembalaAn memanjat AiBelimbing itu . ukun Lim. An. Pengembala adalah seseorang yang memelihara hewan ternak baik dalam jumlah sedikit maupun banyak. Pemeliharaan oleh seorang pengembala hewan tersebut juga bermakna posisi diri sebagai pengayom . atau pemimpin yang mengendalikan segenap hal yang dipimpin olehnya. Di posisi ini, pengembala sebagai pemimpin atau pengayom haruslah mampu ngemong, menguasai dan mengendalikan hawa nafsu angkara dalam dirinya sebelum mengatur yang lain. Daya upaya untuk menguasai diri tersebut ialah dengan jalan atau ikhtiar memanjat pohon blimbing untuk mendapatkan buahnya . ang berbentuk lonjong dan memiliki sisi ruas berjumlah lim. Blimbing yang memiliki lima sisi sebagai Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 wujud konkrit digunakan Sunan Kalijaga sebagai metafora dari rukun Islam yang lima. Rukun Islam dari aspek filosofis-religius. namun juga bisa dimaknai lima butir Pancasila dari aspek Rukun Islam dalam hal ini adalah garis besar dan fondasi umat Islam dalam menjalankan relasi kehidupan sebagai hamba, baik hubungan vertikal pada Tuhan maupun hubungan horizontal kepada sesama makhluk . anusia, alam, dan ji. Ikhtiar tersebut bukan perkara yang mudah ditengah hiruk pikuk cobaan dan kesulitan hidup dunia temporal. Maka Sunan Kalijaga menegaskan dalam lirik berikutnya sebagai perintah sekaligus pepiling. AiLunyu lunyu peneknyu kanggo mbasuh dodotiryu . odot siry. An (Meski licin panjatlah, untuk membasuh pakaianmu . geman, agam. Pembersihan pakaian . geman, agam. yang bermakna ganda ini . Ahir dan bAi. adalah sebagai bentuk keharusan menyucikan diri, sebab untuk menghadap yang Maha Suci seorang hamba diminta juga dalam keadaan suci . erwudu dan merendahkan diri di hadapan-Ny. Meski licin, sulit, dan pelik, panjatlah dan mendekatlah. Karena hanya dengannya seorang hamba dapat membasuh atau membersihkan laku dirinya dalam beragama yang sering diliputi bias, salah dan lalai. Oleh sebab itu, seorang pengembala . haruslah senantiasa bersabar dan tabah atas proses pembersihan diri dari segala akhlak tercela yang akan mengotori laku dalam beragamanya. Dodot-iryu . odot siry. dodot-iryu . odot siry. kumitir bydhah ing pinggir. Dondomyunyu jlumatyunyu kanggo sebyu myngko sore. Mumpung padhang rymbulane. Mumpung jymbar kalangane. Yyu surakyu surak-iyyu. Dalam lirik ini. Sunan Kalijaga menunjukkan realitas Aiberkelebat, . pingirannyaAn. Ada bagian dalam perilaku beragama dan berakhlak oleh umat Islam yang menyimpang dari nilai-nilai Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 akhlak Islami. Penyimpangan yang dilakukan segelintir orang dalam bentuk menyakiti atau menindas umat . , berfoyafoya, korupsi, pelecehan, dan lainnya. Maka dari itu. AiRekatkanlah, jahitlahAn. Seruan menumbuhkan kembali jiwa yang tandus dengan akhlak Islami yang dilatih dan diikhtiari dengan segenap keyakinan. Dan kemudian darinya akan tumbuh dan tercermin perilaku akhlAqul Segenap pembenahannya itu pada hakikatnya Aiuntuk . menghadap Sang Raja petang nantiAn. Menghadap AiSang RajaAn dalam hal ini ialah Tuhan tentu membawa diri dengan bekal iman dan takwa yang sebaik-baiknya. Kemudian menuju waktu AipetangAn atau sore bukanlah waktu yang lama. Perumpaan ini ingin menegaskan bahwa hidup adalah sementara. Dengan kesementaraan ini dan segala nikmat yang telah Tuhan berikan, seorang hamba mestilah iling lan waspada . ngat dan waspad. untuk segera kembali pada-Nya dengan melakukan amal kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Sunan Kalijaga menegaskan. AiMumpung masih terang cahaya rembulannya [Nur Cahy. Mumpung pendar cincin Cahaya yang mengelilinginya masih tebalAn. Lirik tersebut menunjukkan bahwa selagi masih ada waktu yang diberikan oleh Tuhan, pintu taubat . embenahan diri untuk kembali pada-Ny. masih terbuka lapang bagi umat Islam yang telah menyimpang atas diri dan agamanya untuk membangun hidup yang lebih baik yang berlandaskan pada nilai-nilai keislaman. Kemudian, hamba yang telah lolos dari jeratan hawa nafsu angkara yang sebelumnya telah menyederai perilaku agamanya, ia akan tumbuh dan tampil membawa cahaya sebagai konsekuensi pantulan akhlak di lingkungannya dan di hadapan-Nya. Dan demikian. AiBersoraklah menyambutnyaAn dengan segenap suka Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 cita sebagai hamba yang telah suci dari kemelekatan dosa, dan kembali bertakwa dan berakhlak dalam perjumpaannya pada level hidup yang lebih luhur dan kembali pada-Nya dalam keadaan yang terpanggil sebagai Aijiwa yang tenangAn. Dimensi Karakter Berbasis Wisdom Art Secara etimologis. Poerwadarminta mengungkapkan bahwa: AiKarakter berarti tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain (Poerwadarminta 2007, . Sedangkan secara terminologis, para ahli memberikan definisi yang berbedabeda mengenai karakter. Menurut Endang Sumantri. AiKarakter adalah suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang sehingga membuatnya menarik dan reputasi seseorang. seseorang yang unusual atau memiliki kepribadian yang eksentrik (Sumantri 2005, . Selanjutnya. Doni Koesoema, menjelaskan bahwa kita sering mengasosiasikan karakter dengan apa yang disebut temperamen yang memberinya definisi yang menentukan unsur psikososial yang dikaitkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan (A. 2007, . Sementara. Ahmad Tafsir menyatakan bahwa AiKarakter adalah lebih dekat atau sama dengan akhlak, yaitu spontanitas pantulan manusia bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia, sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi (Tafsir 2000, . Akhlak dalam hal ini menjadi pondasi dasar beragama dan bersosial sebagaimana teladan dan risalah Nabi Muhammad Saw kepada umatnya agar memiliki cerminan akhlak yang mulia (Supriani dkk. Karakter atau akhlak dalam Islam termaktub dalam al-QurAoan dan hadis (Rifai 2. Sebagai pedoman, al-QurAoan menjadi basis pondasi pembentukan karakter yang tertuang dalam beragam bentuk, seperti cerita kisah . sejarah kenabian atau para ahli hikmah (Hasanah 2. Terdapat beberapa karakter yang terverifikasi dalam Al-QurAoan dengan penggunaan ragam kata yang transformatif dan bervariatif. Karakter iddiq . enar atau juju. terekam dalam Q. Maryam ayat 41. karakter amanah . dalam Q. An-Nisa karakter tabligh . enyampai wahyu dan ajara. dalam Q. Al-Maidah Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 karakter faanah . erdas, pandai,dan bijaksan. dalam Q. Al-AnAoam Di ayat yang lain, dalam Q. At-Taubah ayat 128 Allah menunjukkan empat karakter utama Nabi Muhammad SAW dalam menuntun umat, yakni: . AoAzz . uat akan mengemban beratnya amanat uma. , . einginan kua. , . Raf . antun, lembu. , . Raum . enyayang, welas asi. Karakter islami di atas termaktub pula dalam perumusan pendidikan karakter yang di atur dalam Permendiknas No. 23 tahun 2006 oleh pusat Kurikulum Kemdiknas. Dalam peraturan tersebut, pemerintah merumuskan 17 . ujuh bela. karakter, yakni: . nilai kejujuran, . Religius, . Ketangguhan, . Kemandirian, . Kedemokratisan, . Berpikir logis, inovatif, kritis, kreatif . Kerja Keras, . Disiplin, . Percaya diri, . Berjiwa Kepemimpinan, . Cinta Ilmu, . Gaya hidup sehat, . Sadar akan hak dan kewajiban diri, . Keingintahuan, . Berorientasi pada tindakan, . Berani dalam mengambil resiko . Kecerdasan (Muchtar dan Suryani 2019, . Kesesuaian antara karakter islami yang tertuang dalam Al-QurAoan dan Permendiknas No. 23 tahun 2006 menjadi inheren dan padu dalam membangun dan membentuk model pendidikan karakter yang sesuai dan berbasis wisdom art dengan kompleksitas tuntutan pendidikan zaman kini. Terdapat prinsip-prinsip pendidikan karakter yang harus menjadi perhatian penting oleh para guru di sekolah agar terlaksana dengan lancar. Kemendiknas memberikan 11 prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter yang efektif sebagai berikut: Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter. Mengindetifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan prilaku. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada peserta didik. Memfungsikan seluruh Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggungjawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik. Dari penjabaran di atas, maka dapat ditarik analisa beberapa karakter yang juga terintegrasi dalam tembang dolanan Ilir-ilir, baik secara eksplisit atau Secara eksplisit: Tembang dolanan Ilir-ilir karya Sunan Kalijaga menegaskan ajakan untuk membentuk dan membenahi karakter dan moral anak di lingkungan keluarga, lingkungan bermain ataupun peserta didik di lingkup sekolah dasar. Karakter seperti uar atau Ketangguhan. Amanah dan Demokratis. Kerja Keras. Berjiwa Kepemimpinan yang dilengkapi dengan empat karakter keimanan (Tabligh, iddiq. Faanah. Amana. adalah tujuan dari dakwah melalui tembang Ilir-ilir (Sonia dkk. Beberapa karakter tersebut terintegrasi dari upaya bagaimana seorang anak atau peserta didik . engembala, pengemon. berusaha memaksimalkan dirinya dalam proses belajar dan pengembangan diri . ohon belimbin. untuk menuntut dan menghimpun ilmu yang meski pahit, sulit, getir, dan penuh ujian. Sunan Kalijaga dalam tembang dolanan Ilir-Ilir, mengungkapkan secara simbolis lapis makna bahwa peserta didik haruslah memiliki jiwa pemimpin sebagaimana Nabi Muhammad SAW, yang kelak akan memimpin keluarganya, atau setidaknya menjadi pemimpin atas dirinya. Karena dengan begitu, peserta didik akan menempuh proses pembelajaran dengan fokus, dan tidak diombangambingkan oleh kemalasan yang hanya akan memimpinnya pada kerusakan dan jurang penyesalan. Sehingga, setelah merasakan pahit dan getirnya segala ujian dan berhasil melampauinya, peserta didik tumbuh menjadi insan yang cerdas, tangguh, bermental baja, dan berwawasan luas. Dengan demikian, peserta didik akan memiliki jiwa yang memantulkan karakter dan akhlak terpuji yang tercermin dalam lingkup keluarga, teman, sekolah (Mustofa dan Ghofur 2. Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Kepribadian yang demikian yang kemudian kontribusinya dalam pembentukan dan pembinaan masyarakat (Nainggolan Secara implisit: Religius (Khasanah dkk. Disiplin. Cinta Ilmu. Sadar akan hak dan kewajiban diri. Berorientasi pada tindakan. Berani dalam mengambil resiko. Meski implisit, fungsionalitas tembang mampu menjangkau karakter-karakter imbuhan lainnya. Sebab pengaruh narasi, nasihat dan wejangan dalam tembang menanamkan dampak pada masyarakat yang akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari yang kemudian membentuk budaya berbasis wisdom art (Badrun dan Mutmainnah 2. Budaya luhur ini menjadi penting untuk dilestarikan sebagai upaya nguri-nguri . interaksi dan komunikasi emosional komunitas dan untuk memfasilitasi masyarakat lokal dalam menyikapi peran kepemilikan budayanya secara utuh (Oikelome 2. KESIMPULAN Tembang dolanan Ilir-Ilir karya Sunan Kalijaga sebagai kreasi strategi dakwah dalam bentuk puisi dan dinyanyikan memiliki makna dan aspek berlapis-lapis. Aspek filosofi-religius sebagai unsur utama sangat kuat yang bisa termaknai dan teridentifikasi melalui pendalaman atau interpretasi karya sastra. Sebab permainan metafora seperti AiIlir-ilirAn. AiCah angonAn. AiBelimbingAn. AiDodotAn dan lainnya tidak bisa dipahami hanya secara tekstual melainkan secara interpretasi sastra dan kontekstual historis. Pemaknaan yang berlapis tersebut menggugah kita pada dua aspek: Tasawuf dan pendidikan karakter berbasis wisdom art. Terdapat lapisan-lapisan makna dalam tembang dolanan Ilir-Ilir yang mengandung nilai-nilai filosofis-religius, yang mampu menjadi model pembentukan karakter uaris dan berjiwa pemimpin dengan kelengkapan karakter tabligh, iddiq, faonah, dan amanah. Kesemuanya terintegrasi secara inheren dan koheren. Dan kedua aspek tersebut memiliki hubungan integral dalam seluruh lirik Ilir-Ilir. Penulis menemukan bahwa aspek tasawuf dalam tembang tersebut ditekankan pada ranah tasawuf akhlaki. Maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa mengamalkan tasawuf baik dengan pendekatan falsafi, akhlaki, atau amali, seseorang dengan sendirinya menempa dirinya untuk berakhlak baik/terpuji. Dan integrasi antar tasawuf dan pendidikan karakter berbasis wisdom art adalah upaya saling menguatkan bangunan Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 pendidikan, baik formal maupun nonformal, sebagai pembangunan kualitas diri seorang hamba . urid/peserta didi. DAFTAR PUSTAKA Doni Koesoema. Pendidikan Karakter Strategi Mendidik Anak di Zaman Global. Pelangi Publishing. Afifi. Irfan. Daulat Kebudayaan: Jawa dan Islam dalam Sebuah Pertemuan. Pojok Cerpen. Afriyanti. Nuny. Teks Tembang Lir-Ilir Pada Pernikahan Adat Jawa (Kajian Semioti. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Medan. Badrun dan Mutmainnah. AiNilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Tembang Rengganis Sasak. An JPI: Jurnal Pendidikan IPS 14 . : 388Ae98. Budiman. Amin. Walisongo Antara Legenda dan Fakta. Penerbit Tanjung Sari. Djunaedi. Aliran Sunan Kalijaga Tentang Hidup. Amanah Citra. Hadianata. Yudi. Sunan Kalijaga: Biografi. Sejarah. Kearifan. Peninggalan, dan Pengaruh-pengaruhnya. DIPTA. Hasanah. AiPendidikan Karakter dalam Perspektif Al-QurAoan Hadits. An Jurnal Holistika 4 . : 22Ae26. Haya Yumna Hayati Kholiq. AiPengaruh Lagu ALir-IlirAo terhadap Pengembangan Karakter dan Kreativitas Anak. An Proceedings of The 8th Annual Conference on Islamic Early Childhood Education 2024 8 (Novembe. : 101Ae5. https://conference. uin-suka. id/index. php/aciece/article/view/1528. Indianto. Dimas. AiPuisi. Komunikasi, dan Nilai Kehidupan. An Jurnal Komunika, 2, 6 (Desembe. : 272. Isa. Syaikh AAbdul Qadir. Hakekat Tasawuf. Qisthi Press. Juliastuti. Sholeh Hidayat. Ujang Jamaludin, dan Suroso Mukti Leksono. AiAnalisis Pendidikan Islam dan Nilai Pendidikan Karakter Pemimpin Melalui Tembang Tradisional Lagu Ilir-Ilir Karya Sunan Kalijaga. An SAP: Susunan Artikel Pendidikan 8 . : 462Ae72. Katsoff. Louis. Pengantar Filsafat. Tiara Wacana. Khaelany. Munawwar J. Sunan Kalijaga Guru Orang Jawa. Araska. Khasanah. Ichsan, dan Y. Anjar. AiNilai-Nilai Keislaman pada Tembang Lir-Ilir Karya Sunan Kalijaga. An TaAodib: Jurnal Pendidikan Islam 20 . : 13Ae24. Ki Hajar Dewantara. Serat Sari Swara. Vol. Pradnjaparamita. https://langka. id/viewer/index/2081. Muchtar. Dahlan, dan Aisyah Suryani. AiPendidikan Karakter Menurut Kemendikbud. An Edumaspul: Jurnal Pendidikan 3 . : 50Ae57. Muhajirin. Mahmuddin. Indo Santalia, dan Andi Ahmad Zahri Nafis. AiMistisisme Islam Wali Songo. An Farabi 22 . : 47Ae60. Mulyono. AiStrategi Pendidikan dalam Tembang Lir-Ilir Sunan Kalijaga sebagai Media Dakwah Kultural. An Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam 14 . : 51Ae64. Mustofa. , dan A. Ghofur. AiKonsepsi Pembiasaan Sholat Dhuha dan Membaca Al-QurAoan dalam Peningkatan Akhlak. An TasyriAo: Jurnal Tarbiyah-SyariahIslamiyah 29 . : 1Ae10. Nama Penulis DOI: https://dx. org/10. 31958/atjpi. Volume 6 Nomor 2 Tahun 2025 Nainggolan. AiLingkup Pembelajaran dalam Implementasi Pendidikan Karakter. An Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian, dan Inovasi 2 . Nata. Abudin. Akhlak Tasawuf. Rajawali Press. Nurqomariyyah. Afiva. Setya Yuwana Sudikan. Anas Ahmadi, dan Indayani. AiTembang Lokal Jawa di Jawa Timur: Pergulatan Antara Tradisi dan Modernitas. An Jurnal Budaya Nusantara 6 . : 297Ae308. Oikelome. Albert. AiMusik Tarian: Studi Musik dan Tarian dalam Budaya Indonesia. An Awka Journal of Research in Music and Arts 13 . : 185Ae202. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Qothrunnada. Channa, dan Eko Murtiasih. AiReaktualisasi Dakwah Wali Songo: Pemikiran. Gerak Dakwah KH Said Aqil Siroj dalam Menebar Islam Rahmatan Lil Alamin. An 78Ae90. Rifai. AiPendidikan Karakter dan Pendidikan Akhlak. An Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan 9 . Rumpaka. , dan L. Ayundasari. AiAkulturasi Budaya Tembang Lir-Ilir sebagai Media Dakwah Sunan Kalijaga. An Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovasi Ilmu-Ilmu Sosial 1 . : 470Ae76. Shihab. Alwi. Akar Tasawuf di Indonesia. Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Akhlaki. Pustaka Iman.