Jurnal TEKNIK SIPIL TERAPAN http://Jurnal. JTST, 2 . , 2020, 46-56 Analisa kapasitas dan tingkat pelayanan Jalan Ahmad Yani Kota Manado Trio P. Lonan1. Estrelita V. Y Waney2, dan Deyke J. F Mandang3 Program Studi Konstruksi Bangunan Gedung. Jurusan Teknik Sipil. Politeknik Negeri Manado. Manado, 95252 1,2,3 E-mail: 1riolonan@gmail. Abstrak Kemacetan merupakan akibat dari berkembangnya kebutuhan transportasi. Jika tidak ada keseimbangan antara kapasitas jalan dengan jumlah kendaraan yang lewat akan mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor apa saja yang mengakibatkan terjadinya kemacetan di ruas jalan Ahmad Yani di Kota Manado. Data yang diperoleh dari Studi Literatur dan Survei Lalu Lintas berjenis Arus dan Kapasitas Ruas setelah diolah dengan menggunakan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 diperoleh hasil Kapasitas Ruas Jalan Ahmad Yani adalah sebesar 1227,15 smp/jam. Volume kendaraan diperoleh sebesar 4781,25 smp/jam. Derajat kejenuhan sebesar 3,896 dan Tingkat Pelayanan Jalan adalah Tingkat Pelayanan F. Diperoleh beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadi kemacetan adalah banyaknya kendaraan berat yang lewat, parkir kendaraan di pinggir jalan, kendaraan berhenti karena antrian isi BBM, kendaraan keluar masuk jalan penghubung, kendaraan keluar masuk restaurant, kendaraan keluar masuk kantor, kendaraan keluar masuk apotik dan praktek dokter. Kata kunciAi transportasi, kemacetan, kapasitas jalan, tingkat pelayanan jalan PENDAHULUAN Transportasi adalah suatu pergerakan orang dan barang yang jika tidak diatur dengan baikm dapat menyebabkan terjadinya kemacetan. Dalam mendukung aktifitas dalam transportasi, jalan digunakan sebagai fasilitas distribusi arus barang, jasa dan orang dimana tingkat pertumbuhan jalan yang tidak seimbang dengan bertambahnya kendaraan akan menyebabkan oeningkatan beban kendaraan yang akhirnya menyebabkan kemacetan. Kota Manado sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara tidak lepas dari permasalahan kemacetan ini dimana beberapa ruas jalan di Kota Manado sering mengalami kemacetan akibat padatnya aktifitas transportasi yang terjadi khususnya di daerah-daerah pusat pertokoaan, area perkantoran maupun di daerah terdapatnya fasilitas pendidikan. Padatnya ruas-ruas jalan di daerah ini menyebakan terjadinya kemacetan lalu lintas terlebih pada jam-jam tertentu. Kota Manado dengan jumlah penduduk sampai bulan November 2019 berjumlah 007 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebesar 266. 265 jiwa dan perempuan 260. ata dari Dindukcapil Kota Manado, dapat di akses pada web site Pemkot Manad. , mempunyai tingkat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang cukup besar adalah sebesar Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 10 persen setiap tahun, dimana populasi jumlah kendaraan bermotor adalah sebesar 562. kendaraan yang terdiri dari roda empat sebesar 123. 447 kedaraan dan roda dua sebesar 439. Dilihat dari populasi kendaraan bermotor yang demikian besar dibanding dengan jumlah penduduk maka pemerintah kota Manado mempunyai peran penting untuk mengatasi permasalahan kemacetan agar dapat memberikan kenyamanan bagi pengunjung yang datang di Kota Manado maupun masyarakat Kota Manadonya sendiri. Bagi pengendara kendaraan bermotor, kemacetan merupakan persoalan utama karena pengendara merasakan langsung akibat dari adanya kemacetan. Dalam Peraturan Daerah Kota Manado Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado . pada Pasal 11 point 1 menyebutkan bahwa Jalan Ahmad Yani merupakan jalan kolektor primer 1 dengan ciri-ciri kecepatan rencana paling rendah rata-rata 40 km/jam, lebar badan jalan tidak kurang dari 7 meter, mempunyai kapasitas yang sama atau lebih besar dari volume lalu lintas rata-rata, lokasi parkir pada badan jalan dibatasi. Untuk dapat menyeselaikan permasalahan yang terjadi pada ruas Jalan Ahmad Yani diperlukan studi evaluasi kemacetan sebagai dasar untuk mengetahui penyebab dan tingkat kemacetan sebagai dasar dalam memecahkan permasalahan yang ada. Hal ini berkaitan dengan kapasitas dasar arus lalu lintas, besar volume kendaraan, derajat kejenuhan, tingkat pelayanan dan faktor penyebab kemacetan. DASAR TEORI 1 Analisa ruas jalan perkotaan Kemacetan merupakan akibat dari berkembangnya kebutuhan transportasi sedangkan perkembangan penyediaan fasilitas transportasi masih rendah. Kemacetan juga dapat disebabkan oleh adanya bangkitan lalu lintas akibat permasalahan lahan maupun ketidakdisiplinan pelaku lalu lintas yang sembarang memarkirkan kendaraannya sehingga mengganggu arus lalu lintas kota . 2 Variabel perhitungan ruas jalan perkotaan 1 Arus lalu lintas Arus lalu lintas yaitu gerak kendaraan sepanjang jalan. Arus lalu-lintas pada suatu jalan raya diukur berdasarkan jumlah kendaraan yang melewati titik tertentu selama waktu tertentu . Dalam beberapa hal lalu-lintas dinyatakan dengan Lalu-lintas Harian Rata-rata (LHR) bila periode pengamatannya kurang dari satu tahun. MKJI . mendefiniskan arus lalu lintas sebagai jumlah kendaraan bermotor yang melewati suatu titik jalan per satuan waktu, dinyatakan dalam knd/jam (Q ken. , smp/jam (Q sm. , atau lalu-lintas harian rata-rata tahunan (Q LHRT). 2 Unsur-unsur lalu lintas Kendaraan merupakan unsur lalu lintas yang paling berpengaruh dalam analisa yang kemudian dikategorikan menjadi empat jenis yakni kendaraan ringan, berat, sepeda motor dan kendaraan tidak bermotor . epeda, becak, kereta kuda, kereta doron. Nilai ekivalen kendaraan untuk jalan perkotaan sesuai standar geometri jalan ditunjukkan pada Tabel 1. Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 No Tabel 1. Nilai smp Tipe Kendaraan Nilai smp Tipe Kendaraan Jenis Simpang Sepeda Motor (MC) Sepeda Motor 0,40 (MC) Kendaraan Ringan (LV) Sedan/Jeep, 1,00 Station. Mikrobus. Pick Kendaraan Berat (HV) Bus. Truk 1,30 Kendaraan Tak Bermotor (UM) Bus. Truk 1,00 Nilai smp Ruas 0,25 1,00 1,20 0,80 3 Kecepatan arus bebas Kecepatan arus bebas diamati melalui pengumpulan data lapangan, dimana hubungan antara kecepatan arus bebas dengan kondisi geometrik dan lingkungan ditentukan oleh metoda regresi . Persamaan untuk penentuan kecepatan arus bebas mempunyai bentuk umum sebagai berikut . FV = (FV0 FVW) x FFVsf x FFVcS Dimana : = Kecepatan arus bebas kendaraan ringan pada kondisi lapangan . m/ja. FV0 = Kecepatan arus bebas dasar kendaraan ringan pada jalan yang diamati FVW = Penyesuaian kecepatan untuk lebar jalan . m/ja. FFVsf = Faktor penyesuaian untuk hambatan samping dan lebar atau jarak kerb penghalang FFVCS = Faktor penyesuaian kecepatan untuk ukuran kota Adapun untuk menentukan nilai faktor yang berpengaruh pada besarnya kecepatan arus bebas digunakan Tabel 2. Tabel 2. Kecepatan Arus Bebas Dasar (FV. Tipe Jalan Enam Lajur terbagi . /2 D) atau Tiga Lajur Satu Arah . Empat Lajur terbagi . /2 D) atau Dua Lajur Satu Arah . Empat Lajur tak Terbagi . /2 UD) Dua Lajur tak Terbagi . /2 UD) Kendaraan Ringan Kecepatan Arus Kendaraan Sepeda Motor Berat Semua Kendaraan . ata-rat. 4 Kapasitas Kapasitas merupakan kondisi maksimum arus lalu lintas pada suatu titik jalan dan dinyatakan salam satuan mobil penumpang . Persamaan dasar untuk menentukan kapasitas adalah sebagai berikut . Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 C = C0 x FCW x FCSP x FCSF x FCCS Dimana : = Kapasitas . mp/ja. = Kapasitas dasar . mp/ja. FCW = Faktor penyesuaian lebar jalan FCSP = Faktor penyesuaianpemisahan arah FCSF = Faktor penyesuaian utuk hambatan samping dan lebar atau jarak kerb penghalang FCCS = Faktor penyesuaian kecepatan untuk ukuran kota Tabel 3. Digunakan untuk menentukan nilai faktor yang berpengaruh pada besarnya Tabel 3. Kapasitas Dasar (C. Tipe Jalan Kapasitas Dasar Empat Lajur tak Terbagi atau jalan satu arah Empat Lajur tak Terbagi Dua Lajur tak Terbagi Catatan Per Lajur Per Lajur Total Dua Arah 5 Derajat kejenuhan Derajat Kejenuhan (DS) menentukan tingkat kinerja simpang dan segmen jalan karene merupakan rasio arus terhadap kapasitas . Nilai DS menununjukan apakah segmen jalan tersebut mempunyai masalah kapasitas atau tidak. Persamaan dasar untuk menentukan nilai derajat kejenuhan adalah sebagai berikut : DS = Q/C Dimana : Q = Arus lalu lintas pada segmen jalan yang ditinjau C = Kapasitas lalu lintas pada segmen jalan yang ditinjau 6 Tingkat Pelayanan Jalan Derajat kejenuhan merupakan parameter pengukuran tingkat kemampuan fungsi jalan yang dihitung berdasarkan batas lingkup Q/C ruas jalan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4. Tabel 4. Tingkat Pelayanan Jalan Tingkat Pelayanan Factor Ukuran Kota (Fc. Batas Lingkup Q/C Kondisi arus lalu lintas bebas dengan kecepatan tinggi dan volume lalu lintas rendah Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas 0,00 Ae 0,19 Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak kendaraan dikendalikan 0,45 Ae 0,74 Arus mendekati stabil, kecepatan masih dapat dikendalikan. V/C masih dapat ditolerir Arus tidak stabil kecepatan terkadang terhenti, permintaan sudah mendekati kapasitas Arus dipaksakan, kecepatan rendah, volume diatas kapasitas, antrian panjang . 0,75 Ae 0,84 0,20 - 0,44 0,85 Ae 1,00 >1,00 Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 7 Hambatan samping Hambatan samping adalah interaksi antara lalu lintas dan kegiatan di samping jalan yang menyebabkan pengurangan terhadap arus jenuh dan berpengaruh terhadap kapasitas dan kinerja lalu lintas . Kelas hambatan samping dapat dilihat padaTabel 5 berikut ini : Tabel 5. Kelas Hambatan Samping Kelas Hambatan samping (SCF) Sangat Rendah Jumlah Bobot Kejadian < 100 Rendah 100 Ae 299 Sedang 300 Ae 499 Tinggi 500 Ae 899 Sangat Tinggi > 900 Kode Kondisi Khusus Daerah pemukiman,jalan dengan jalan samping. Daerah pemukiman, beberapa kendaraan umum Daereh industri, beberapa toko disisi jalan Daerah komersil, aktivitas sisi jalan Daerah komersil, dengan aktivitas pasar samping jalan 8 Ukuran Kota Empat kelas ]ukuran kota dipengaruhi juaga oleh perilaku pengendara dan pertambahan kendaraan . dimana klasifikasinya dapat dilihat pada Tabel 6 berikut ini: Tabel 6. Kelas Ukuran Kota Ukuran Kota (Juta Pendudu. Faktor Penyesuaian untuk ukuran kota <0,1 0,86 0,1-0,5 0,90 0,5-1,0 0,94 1,0-3,0 1,00 >3,0 1,04 METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang akan dilakukan dibagi ke dalam 2 . kegiatan, adalah sebagai berikut: Survey Primer Survey primer yaitu pemerolehan data yang didapat langsung dari hasil survey lapangan dengan cara mengamati objek yang menjadi sasaran penelitian. Pengambilan data primer . dilakukan dengan Observasi lapangan. Adapun survey yang dilakukan adalah sebagai berikut: Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Survey volume atau arus lalu lintas kendaraan dilakukan pada 2 titik lokasi, yaitu di Ruas Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Ahmad Yani 17 (T. dan di Ruas Jalan Ahmad Yani dengan Jalan Bethesda (T. dengan pengamatan dilakukan pada hari Kamis. Jumat. Sabtu dan Minggu sesuai tingkat kepadatannya. Survey dilaksanakan dimulai 00 sampai 21. 59 Data yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan daftar isian dengan kategori kendaraan tidak bermotor dan kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor dikelompokkan roda dua dan kendaraan bermotor roda empat. Kendaraan roda empat juga dikelompokkan pada ringan dan berat. Survey kapasitas dan situasi lingkungan di Ruas Jalan Ahmad Yani, yaitu mengukur panjang Jalan Ahmad Yani, lebar Jalan Ahmad Yani, jumlah lajur, lebar trotoar, kegiatan di sisi Jalan Ahmad Yani, arah arus kendaraan. Gambar 1. Lokasi ruas jalan ahmad yani 17 . T1 dan . T2 Survey Sekunder Survey Sekunder adalah pemerolehan data yang didapat langsung dari instansi Ae instansi yang terkait serta studi Ae studi literatur yang berkaitan dengan aspek kajian dari penulisan laporan ini untuk mendapatkan keterangan mengenai keadaan wilayah studi. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait yang ada di Kota Manado, antara lain: o Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Manado, o Dinas Tata Kota Manado, o Badan Pusat Statistik Kota Manado, o Dinas Perhubungan Kota Manado, o Dinas Pekerjaan Umum Kota Manado o Dinas-dinas lainnya yang terkait dengan materi studi ini Metode Analisis Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka dipergunakan beberapa analisis studi kemacetan: 1 Sistem Aktivitas - Penggunaan lahan Pada metode ini hanya melihat aktivitas pengunaan lahan di lokasi untuk melihat pengaruh terhadap hambatan samping. Tidak melihat pada besarnya bangkitan atau tarikan yang di sebabkan oleh pengunaan lahan. Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 2 Sistem Jaringan - Analisis Kapasitas (Volum. Kapasitas Jalan, yaitu melakukan analisis terhadap kapasitas jalan berdasarkan data-data geometrik jalan, tata guna lahan dan aktivitas pergerakan. Rumus: C = Co . FCw . FCsp . FCcf . FCcs Keterangan : = Kapasitas . mp/ja. = Kapasitas dasar . mp/ja. FCw = Faktor koreksi lebar jalan FCsp =Faktor koreksi pemisah arah . anya untuk jalan tak terbag. FCsf = Faktor koreksi hambatan samping dan bahu jalan /kerb FCcs = Faktor koreksi ukuran kota E Analisis VCR (Derajat Kejenuha. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: VCR = Keterangan: VCR = Indeks tingkat pelayanan jalan = Volume lalu lintas jalan . mp per ja. = Kapasitas Jalan . mp per ja. E Analisis Tingkat Pelayanan Jalan Kriteria yang dipergunakan untuk menentukan LOS, pada umumnya sama dengan kriteria yang dipakai untuk menentukan LOS dari trotoar . HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Analisa Kapasitas Analisa kapasitas dihitung berdasarkan pada hasil survey yang ditabulasikan dalam bentuk tabel-tabel berikut dimana perhitungan analisa kapasitas diperoleh sebagimana perhitungan di bawah ini: Diketahui : = 1650 Jalan satu arah, tipe alinyemen datar FCw = 0,92 (Untuk lebar lajur jalan efektif 3 . FCsp = 1 (Untuk jalan dengan pemisahan arah SP 50% - 50%) FCsf = 0,86 (Untuk kelas hambatan samping sedang, dengan Wk < 0,5 . FCcs = 0,94 (Untuk ukuran kota 0,5 Ae 1,0 juta jiw. C =1650 x 0,92 x 1 x 0,86 x 0,94= 1227,1512 Dari analisa kapasitas diperoleh nilai kapasitas sebesar 1227,1512 smp/jam. Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Tabel 7. Kapasitas dasar Tipe jalan Kapasitas dasar . mp/ja. Catatan Per lajur Per lajur Total dua arah Empat-lajur terbagi atau Jalan satu-arah Empat-lajur tak-terbagi Dua-lajur tak-terbagi Tabel 8. Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Ukuran Kota (FCCS) Ukuran kota (Juta pendudu. < 0,1 0,1 -0,5 0,5-1,0 1,0-3,0 > 3,0 Faktor penyesuaian untuk ukuran kota 0,86 0,90 0,94 1,00 1,04 Tabel 9. Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Lebar Jalur Lalu-Lintas (FCW) Tipe jalan Lebar jalur lalu-lintas efektif (WC) . Empat-lajur terbagi atau Jalan satu-arah Per lajur Empat-lajur tak-terbagi Per lajur Dua-lajur tak-terbagi FCW 3,00 3,25 3,50 3,75 4,00 0,92 0,96 1,00 1,04 1,08 3,00 3,25 3,50 3,75 4,00 0,91 0,95 1,00 1,05 1,09 0,56 0,87 1,00 1,14 1,25 1,29 1,34 Total dua arah Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Tabel 10. Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Pemisahan Arah (FCWB) Pemisahan arah SP %-% Dua-lajur 2/2 1,00 0,97 0,94 0,91 0,88 Empat-lajur 4/2 1,00 0,985 0,97 0,955 0,94 FCSP Tabel 11. Faktor Penyesuaian Kapasitas Untuk Hambatan Samping (FCSF) Dengan Kereb 2 Analisa Derajat Kejenuhan Analisa derajat kejenuhan dihitung berdasarkan data lalu lintas Jalan Ahmad Yani sebagaimana pada Tabel 12 dan selanjutnya dilakukan perhitungan dengan rumus: = Q/C Diketahui : Q = 4781,25 smp/jam (Diambil total paling maksimum pukul 17. 00 Ae 17. lihat Tabel 12 C = 1227,1512 smp/jam DS = 4781,25/1227,1512 = 3,896 Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 Tabel 12. Data Lalu Lintas Ruas Jalan Ahmad Yani Jumlah Kendaraan . Jumlah Kendaraan . Kend. Ringan Kend. Berat Sepeda Motor Kend. Tak Bermotor . 00Ae06. Jumlah Seluruhnya Waktu Total Kend. Ringan Sepeda Motor Kend. Tak Bermotor Total *0. *0. = . Kend. Berat . = . = . * . 3 Tingkat Pelayanan Jalan Sesuai dengan MKJI . , tingkat pelayanan jalan dapat dihitung berdasarkan batas lingkup Q/C ruas jalan tersebut dan berdasarkan perhitungan pada penelitian ini, hasil yang diperoleh Q/C = 3,896 maka tingkat pelayanan ruas Jalan Ahmad Yani di Kota Manado dapat dikategorikan memiliki tingkat pelayanan arus yang dipaksakan, kecepatan kendaraan yang rendah, volume diatas kapasitas, dan memiliki antrian panjang sehingga menyebabkan KESIMPULAN Dari beberapa hasil penelitian di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Kapasitas Ruas Jalan Ahmad Yani adalah sebesar 1227,15 smp/jam. Volume kendaraan diperoleh sebesar 4781,25 smp/jam. Derajat kejenuhan sebesar 3,896. Tingkat Pelayanan Jalan Ahmad Yani termasuk Tingkat Pelayanan F yaitu arus dipaksakan, kecepatan rendah, volume diatas kapasitas, antrian panjang . Faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadi kemacetan adalah banyaknya kendaraan berat yang lewat, parkir kendaraan di pinggir jalan, kendaraan berhenti karena antrian isi BBM, kendaraan keluar masuk jalan penghubung, kendaraan keluar masuk restaurant, kendaraan keluar masuk kantor, kendaraan keluar masuk apotik dan praktek dokter serta trotoar dipakai untuk berjualan. Copyright A 2020. JTST, e-ISSN 2714-7843 SARAN Dalam rangka pengembangan penelitian lanjutan, maka perlu dilakukan analisa rekayasa lalu lintas dalam mencari solusi dalam mengatasi kemacetan pada ruas Jalan Ahmad Yani di Kota Manado sambil memperhitungkan faktor lain yang mempengaruhi arus lalu lintas. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pembantu peneliti dan tim surveyor serta Politeknik Negeri Manado yang memberikan hibah penelitian internal tahun 2019. DAFTAR PUSTAKA