Altruisme Relawan COVID-19: Peran Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual, . Farid Jamaludin Altruisme Relawan COVID-19: Peran Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual, dan Tanggung Jawab Sosial Farid Jamaludin. Ikhwan Lutfi Fakultas Psikologi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta email: faridjamald@gmail. Abstrak Artikel INFO Diterima : 26 Oktober 2022 Direvisi : 18 Mei 2023 Disetujui : 22 Mei 2023 DOI: http://dx. org/10. Pandemi COVID-19 memunculkan fenomena aksi sosial yang dilakukan oleh para relawan untuk membantu korban atau masyarakat yang terdampak pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan tanggung jawab sosial terhadap altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Partisipan dalam penelitian ini adalah para relawan yang terlibat dalam kegiatan sosial menangani pandemi COVID-19. Sampel sebanyak 257 orang yang tinggal di sekitar Jakarta diambil secara non-probability sampling. Pengumpulan data menggunakan metode online dalam bentuk g-form. Alat ukur yang digunakan adalah adaptasi dan modifikasi Generative Altruism Scale (GAlS). Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS). Spiritual Intelligence Self-Report Inventory (SISRI-. dan Chinese University Students Social Responsibility Scale (CUSSRS) untuk mengukur tanggung jawab sosial. Pengujian validitas konstruk menggunakan CFA (Confirmatory Factor Analysi. dan pengujian hipotesis menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan tanggung jawab sosial berpengaruh signifikan terhadap altruisme relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19, dengan proporsi varians sebesar 39,1%. Keterlibatan variabel eksternal dapat menjadi pertimbangan untuk penelitian selanjutnya. Kata kunci: Altruisme. Relawan. Pandemi Covid-19 Altruism of COVID-19 Volunteers: The Role of Emotional Intelligence. Spiritual Intelligence, and Social Responsibility Abstract The COVID-19 pandemic can make someone to be volunteer. Is volunteering a form of altruism? This study aims to determine the effect of emotional intelligence, spiritual intelligence and social responsibility on altruism in social volunteers in the COVID-19 pandemic case. Participants in this study are volunteers who are involved in social activities in dealing with the COVID-19 pandemic. A sample of 257 people living around Jakarta was taken by non-probability sampling. Data collection used online methods, with the form of g-form. The measuring instrument used is the adaptation and modification of the Generative Altruism Scale (GAlS), the Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS), the Spiritual Intelligence Self-Report Inventory (SISRI-. and the Chinese University Students Social Responsibility Scale (CUSSRS) to measure social Testing construct validity uses CFA (Confirmatory Factor Analysi. and hypothesis testing using multiple regression. The results showed that all independent variables had a significant effect on the altruism of social volunteers in the COVID-19 pandemic case, with the proportion of variants being 39. The involvement of external variables can be a consideration for further research. Keywords: Altruism. Volunteer. The Covid-19 Pandemic Pendahuluan Sebagai makhluk sosial tentu manusia tidak akan mampu untuk hidup sendiri. Setiap individu akan selalu memerlukan uluran tangan dari orang yang ada di sekitarnya. Sejak usia belia yang banyak diajarkan kepada kita oleh kebanyakan orang adalah kebiasaan untuk membantu orang lain (Baron & Byrne. Melakukan sesuatu untuk orang lain tanpa motif kepentingan diri sendiri atau keuntungan pribadi disebut dengan altruisme (Lakshmi, 2. Altruisme dapat dikatakan sebagai sebuah sikap tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh individu maupun kelompok untuk menolong orang lain tanpa didasari motif mengharapkan imbalan atau balasan Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 (Byssing. Kerksieck. Gynther, & Baumann. Eisenberg et al. , 1999. Enelamah & Tran, 2. Perilaku altruistik terbilang cukup beragam, biasanya berfokus pada aksi kesukarelaan demi kebermanfaatan bagi orang lain yang dilakukan dengan cara berbagi, menghibur, merawat orang sakit, berjualan, memberikan makanan, menghimpun dan menyalurkan donasi, dengan tujuan untuk didistribusikan kepada orang lain yang membutuhkan (Santrock, 2008. Batson. Salah satu sikap altruisme yang dapat dilihat adalah ketika mewabahnya coronavirus disease (COVID-. adalah adanya aksiaksi sosial yang dilakukan untuk membantu para korban terdampak COVID-19. Dari data Kementerian Ketenagakerjaan dan BPJS Ketenagakerjaan terdapat 2,8 juta pekerja yang terdampak pandemi COVID-19. juta pekerja formal yang dirumahkan, 749,4 ribu di-PHK dan 282 pekerja informal yang terganggu usahanya (Jayani, 2. Selain itu, laporan dari The SMERU Research Institute yang membuat lima proyeksi peningkatan kemiskinan, pada skenario yang paling parah angka kemiskinan mengalami peningkatan 12,4%, yang berarti 8,5 juta lebih orang akan menjadi miskin (Suryahadi. Izzati, & Suryadarma, 2. Dampak lain dari pandemi COVID-19 seperti langkanya stok alat pelindung diri (APD) (Madrim, 2. , 237 dokter di Indonesia meninggal (Prawira, 2. , serta tingginya angka penyebaran virus yang 548 orang terjangkit positif COVID-19 per tanggal 5 Januari 2021 (WHO. Namun, di lain sisi justru ada sebagian orang yang secara sukarela turut memberikan Di antaranya yaitu adanya aksi sosial dari MPC Pemuda Pancasila Banyumas yang 500 masker dan sembako kepada para warga (Wahyudi, 2. , aksi sosial bertajuk AuBalkoter PeduliAy dari wartawan koordinatoriat Balaikota dan DPRD DKI Jakarta yang mendistribusikan sejumlah bantuan berupa hand sanitizer, masker, sabun, serta pangan bagi warga terdampak pandemi COVID-19 (Iskandar, 2. Tidak ketinggalan, sejumlah kantor vertikal Direktorat Jenderal Kekayaan Negara di beberapa daerah juga melakukan aksi sosial dengan membagikan paket bahan pangan dan uang tunai kepada warga yang terdampak COVID-19 (DJKN Kementerian Keuangan, 2. Bahkan, geliat untuk membantu sesama juga terlihat dari tingginya angka pendaftaran yang tembus 942 orang yang ingin menjadi relawan penanganan COVID-19 yang diinisiasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Harsono, 2. Fenomena tersebut terbilang menarik, mengingat di situasi yang serba kekurangan dan keterbatasan seperti sekarang masih ada sebagian individu yang mau berkorban mencurahkan waktu, tenaga, harta, bahkan kesehatan dirinya hanya untuk membantu orang lain meski tanpa ada imbalan yang didapatkan. Hal itu mengindikasikan adanya altruisme dari para pelaku aksi sosial di momentum pandemi COVID-19. Munculnya altruisme di dalam diri individu ini kerap kali disebabkan oleh keadaan individu yang termotivasi meningkatkan kesejahteraan orang lain agar hidupnya lebih sejahtera (Batson, 2008, 2011. Batson & Ahmad, 2009. Batson. Lishner, & Stocks, 2. Hal tersebut dicontohkan seperti para penyokong dana yang merasakan kebahagiaan dari sikap altruisme kendatipun tidak ada imbalan dari hal-hal yang telah dilakukan (Barasch. Berman. Levin, & Small, 2. Byssing. Kerksieck. Ghynther, dan Baumann . mendefinisikan altruisme sebagai sikap dan komitmen untuk membantu dan merawat orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau manfaat langsung. Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa altruisme memberikan dampak positif bagi kehidupan seseorang, di antaranya telah mampu meningkatkan self-esteem individu dan menjadi koping untuk menghindari berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari (Feng dan Guo, 2. , mengganti emosi negatif dengan emosi positif pada individu Altruisme Relawan COVID-19: Peran Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual, . Farid Jamaludin (Sternberg, 2. , dan membuat individu lebih cenderung untuk membangun hubungan yang dekat dan hangat dengan orang lain (Leary & Baumeister, 2. , dan menjadi cara yang efektif untuk menurunkan tingkat stres harian serta meningkatkan kesejahteraan psikologis, pengaruh positif, dan kesejahteraan eksistensial seperti penilaian kehidupan dan kepuasan hidup pada individu (Kahana et , 2014. Lawton et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi altruisme pada relawan aksi sosial pandemi COVID-19 penting dilakukan sebagai upaya untuk mendorong individu bersikap altruisme dan meminimalisir potensi munculnya sikap egoisme di situasi pandemi COVID-19 ini. Sears . menyebutkan beberapa faktor internal dan eksternal yang memengaruhi altruisme pada diri individu, di antaranya seperti faktor sifat, perasaan, bystender, menolong orang lain yang pernah menolong, memiliki kemampuan, dan adanya desakan waktu. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap karyawan Central Goverment Korean, menunjukkan bahwa kecerdasan emosi berpengaruh secara signifikan terhadap altruisme karyawan (Lee, 2. Hal ini juga didukung dengan temuan penelitian dari Salarzehi et al. yang menjelaskan adanya hubungan yang kuat antara kecerdasan emosi dengan altruisme yang merupakan salah aspek dari organizational citizenship behavior. Kecerdasan emosi disebut sebagai kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi perasaan diri sendiri, perasaan orang lain, meregulasi perasaan, dan memanfaatkan informasi yang diberikan untuk memotivasi perilaku adaptif dari diri sendiri (Salovey. Woolery, & Epel, 2. Individu yang cerdas secara emosional cenderung memiliki perasaan kasih sayang yang tinggi terhadap kondisi orang lain. Adanya kasih sayang inilah yang menjadi motivasi dari munculnya altruisme (FeldmanHall et al. , 2. Lebih jauh lagi, dalam penelitian lainnya ditemukan bahwa altruisme dijelaskan oleh variabel kecerdasan spiritual. Dalam sebuah studi yang dilakukan terhadap mahasiswa di Midwestern University menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual yang tinggi akan mengarahkan individu untuk lebih altruisme, sehingga sangat cenderung untuk membantu orang lain (Clark. Lin, & Maher, 2. Hal itu juga diperkuat oleh Huber dan MacDonald . yang melakukan penelitian terhadap 45 pria dan 141 wanita dari 186 mahasiswa psikologi yang berlokasi di Midwestern. Amerika Serikat dan menunjukkan hasil bahwa tindakan altruisme berhubungan kuat dengan kesadaran spiritual. Kecerdasan spiritual digunakan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai (Zohar & Marshall, 2. Kemudian dalam penelitian lainnya mengenai altruisme ditemukan bahwa tanggung jawab sosial menjadi prediktor dari munculnya altruisme. Studi penelitian yang dilakukan di negara Hongkong menyebutkan tanggung jawab sosial memiliki hubungan yang erat dengan altruisme, dan dari hasil analisis regresi berganda yang dihasilkan menunjukkan tanggung jawab sosial sebagai faktor terpenting yang berkontribusi pada penjelasan altruisme (Tam & Yeung, 1. Hal ini juga diperkuat oleh Bierhoff . dalam penelitiannya yang menemukan adanya korelasi antara altruisme dan tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial juga mencerminkan perspektif individual yang memiliki tendensitas untuk berkontribusi dalam meningkatkan arena sosial yang lebih besar (Segal, 2. Teori yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah altruisme dari Byssing. Kerksieck. Ghynther, dan Baumann. Menurutnya, altruisme merupakan sikap dan komitmen untuk membantu dan merawat orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau manfaat langsung, terdiri dari elemen afeksi dan perilaku (Byssing et al. , 2. Kecerdasan emosi diartikan sebagai kemampuan untuk memahami emosi, mengakses dan menghasilkan emosi sehingga dapat membantu pikiran agar dapat memahami emosi dan pengetahuan emosional, dan Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 secara reflektif mengatur emosi sehingga dapat menunjukkan pertumbuhan emosi dan intelektual, terdiri dari empat dimensi di antaranya self emotion appraisal, others emotion appraisal, use of emotion, dan regulation of emotion (Salovey & Mayer, 1997. Wong & Law, 2. Kemudian kecerdasan spiritual merupakan seperangkat kemampuan mental yang berkontribusi pada kesadaran, integrasi, dan penerapan adaptif dari aspek nonmateri dan transendensi, dari eksistensi seseorang yang mengarah pada hasil seperti refleksi eksistensial yang mendalam, peningkatan makna, pengakuan diri yang yang transenden, dan penguasaan kondisi spiritual serta memiliki empat dimensi, yaitu critical existential thinking, personal meaning production, transcendental awareness, dan conscious state expansion (King & DeCicco, 2. Sedangkan tanggung jawab sosial didefinisikan sebagai sikap dan perilaku yang mengacu pada sifat psikologis yang ditunjukkan dengan individu menjalankan tanggung jawab perannya secara sadar, terdiri dari dimensi others responsibility dan organizational responsibility (Liu. Liu, & Chen. Ketiga variabel tersebut pada penelitian terdahulu memiliki pengaruh dalam menjelaskan variabel altruisme. Semua variabel yang dijadikan prediktor pada penelitian ini yaitu kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, dan tanggung sosial merupakan variabel yang sifatnya internal dari diri manusia. Kemudian, sejauh kajian yang penulis lakukan, belum ada penelitian yang menggunakan ketiga variabel tersebut untuk menjelaskan altruisme secara bersamaan. Kajian terhadap variabel-variabel di atas sebagian besar diujikan terhadap sampel di luar negeri, sehingga penting untuk dikaji dalam konteks budaya Indonesia. Berdasarkan fenomena dan penjelasan di atas, peneliti memiliki ketertarikan untuk memperoleh pemahaman yang jelas dan tepat apakah ada pengaruh dari kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, dan tanggung jawab sosial terhadap altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Metode Populasi pada penelitian ini adalah relawan aksi sosial di era pandemi COVID-19 yang pernah membantu korban atau masyarakat terdampak pandemi COVID-19, baik dengan menghimpun atau memberi donasi, memberi makanan pokok, membagikan alat penunjang kesehatan, membuka layanan jasa kesehatan/konseling secara gratis, atau bentuk pemberian bantuan sosial lainnya yang tersebar di wilayah Jabodetabek (Jakarta. Bogor. Depok. Tangerang dan Bekas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling karena didasarkan pada kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian ini. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 257 partisipan, terdiri dari 113 laki-laki dan 144 perempuan. Alat ukur pada penelitian ini menggunakan skala Likert dengan 4 skala, yaitu dari Sangat Tidak Setuju (Sangat Tidak SetujuSTS). Tidak Setuju (Tidak Setuju-TS). Setuju (Setuju-S),dan Sangat Setuju (Sangat SetujuSS). Analisis yang digunakan untuk menguji validitas dari setiap alat ukur menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA). Setelah dilakukan pengujian validitas alat ukur, langkah selanjutnya adalah dilakukan analisis menggunakan regresi berganda untuk menguji pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat menggunakan estimasi skor sebenarnya . rue scor. dengan bantuan software IBM SPSS 17. Skala Altruisme Alat ukur yang digunakan untuk mengukur altruisme diadaptasi dari Generative Altruism Scale (GAlS) yang dirancang oleh Byssing. Kerksieck. Ghynther, dan Baumann . dengan jumlah a item sebanyak 11 pernyataan dan terdiri dari dimensi afeksi dan Altruisme Relawan COVID-19: Peran Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual, . Farid Jamaludin Alat ukur ini diujikan pada responden penelitian ini dan menghasilkan model yang fit dengan P-value= 0. 09342, dan RMSEA= Skala Kecerdasan Emosi Alat ukur yang digunakan untuk mengukur kecerdasan emosi adalah Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) dari Wong dan Law . yang merupakan hasil pengembangan dari teori Salovey dan Mayer. Jumlah aitem terdiri dari 16 pernyataan yang telah diadaptasi untuk mengukur kecerdasan emosi dengan empat dimensinya yaitu, self emotion appraisal, others emotion appraisal, use of emotion, dan regulation of emotion. Pengujian alat ukur pada responden penelitian ini menghasilkan koefisien fit indeks berupa Chi-Square= 102. 06, df= 81. P-value= 05690, dan RMSEA= 0. Maka model kecerdasan emosi dapat dikatakan fit. Skala Kecerdasan Spiritual Alat ukur kecerdasan spiritual diukur menggunakan Spiritual Intelligence SelfReport Inventory (SISRI-. yang dirancang oleh King dan DeCicco . dan diadaptasi sesuai konteks Indonesia dengan jumlah aitem sebanyak 24. Terdiri dari empat dimensi, critical existential thinking, personal meaning production, transcendental awareness, dan conscious state expansion. Semua dimensi memiliki hasil uji validitas yang baik. Dimensi critical existential thinking memiliki P-value= 23773, dan RMSEA= 0. Dimensi personal meaning production memiliki P-value= 44586, dan RMSEA= 0. Adapun dimensi transcendental awareness memiliki P-value= 12143, dan RMSEA= 0. 044 dan dimensi conscious state expansion memiliki P-value= 35583, dan RMSEA= 0. Skala Tangung Jawab Sosial Tanggung jawab sosial diukur menggunakan Chinese University Students Social Responsibility Scale (CUSSRS) yang dirancang oleh Liu. Liu, dan Chen . Jumlah item yang digunakan terdiri dari sembilan pernyataan yang telah dimodifikasi untuk mengukur dua dimensi dari variabel tanggung jawab sosial, yaitu others responsibility dan organizational responsibility. Alat ukur ini menghasilkan uji validitas yang cukup baik dengan P-value= 0. 09771, dan RMSEA= 0039, sehingga dapat dikatakan sebagai model fit. Hasil Berdasarkan pada tabel 1 di bawah ini, dapat diketahui bahwa nilai R-Square (R. sebesar 0,391. Hal ini menunjukkan bahwa altruisme dijelaskan oleh seluruh variabel bebas dalam penelitian ini dengan proporsi varians sebesar 39,1%, adapun sisanya, yaitu sebesar 60,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam penelitian ini. Kemudian langkah berikutnya menganalisis pengaruh dari keseluruhan variabel bebas terhadap variabel altruisme dengan melihat nilai signifikansi dari hasil uji F. Berdasarkan tabel 1 dijelaskan bahwa nilai Sig. 0,000 yang berarti signifikan dengan ketentuan nilai p<0,05. Hal ini menunjukkan ada pengaruh yang signifikan dari kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan tanggung jawab sosial terhadap altruisme. Tabel 1. ANOVA Model Regression Residual Total Sum of Squares Mean Square Sig. Predictors: (Constan. Tanggung Jawab Sosial. Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual Dependent Variable: Altruism Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 Setelah dilakukan uji F, peneliti ingin mengetahui seberapa besar sumbangan proporsi varians dari tiap-tiap variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu altruisme. Hal tersebut diketahui dengan cara melihat nilai R-square Change. Berdasarkan tabel 2, diketahui bahwa kecerdasan emosi memberikan sumbangan proporsi varians terhadap altruisme sebesar 0,235 atau 23,5%. Sementara kecerdasan spiritual memberikan sumbangan proporsi varians 0,040 atau 4% dan tangung jawab sosial memberikan sumbangan proporsi varians 0,116 atau 11,6% terhadap variabel altruisme. Berikut merupakan tabel proporsi varians dari variabel altruisme pada setiap variabel bebas . ndependent variabl. Tabel 2. Proporsi Varians Masing-Masing Independent Variable Model R Square R Square Change Change Statistics F Change Sig. Change Predictors: (Constan. Kecerdasan Emosi Predictors: (Constan. Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual Predictors: (Constan. Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual. Tanggung Jawab Sosial Kemudian langkah selanjutnya adalah melihat koefisien regresi dari masing-masing variabel bebas yang menjelaskan tentang altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Kriteria yang digunakan adalah jika nilai Sig. <0,05 maka koefisien regresi dinyatakan signifikan. Dari hasil pada tabel 3 di bawah ini yang mengacu pada kriteria Sig. <0. 05 ada dua variabel signifikan pengaruhnya terhadap altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Yaitu, kecerdasan emosi dan tanggung jawab sosial. Berikut besaran koefisien regresi masingmasing Independent variable dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3. Koefisien Regresi Masing-masing Independent Variable Model Unstandardized Coefficients Std. Error Sig. (Constan. Kecerdasan Emosi Kecerdasan Spiritual Tanggung Jawab Sosial Setelah dilakukan uji F untuk mengetahui koefisien regresi masing-masing variabel bebas terhadap variabel altruisme. Selanjutnya dilakukan uji F kembali untuk melihat koefisien regresi dari masing-masing dimensi yang Standardized Coefficients Beta ada pada variabel bebas terhadap variabel terikat, yaitu altruisme relawan aksi sosial kasus pandemic COVID-19. Berikut besaran koefisien regresi masing-masing dimensi dapat dilihat pada tabel 4. Altruisme Relawan COVID-19: Peran Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual, . Farid Jamaludin Tabel 4. Koefisien Regresi Masing-masing Dimensi Model Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. (Constan. Self Emotion Appraisal Others Emotion Appraisal Use of Emotion Regulation of Emotion Critical Existential Thinking Personal Meaning Production Transcendental Awareness Conscious State Expansion Others Responsibility Organizational Responsibility Berdasarkan hasil pada tabel 4 yang mengacu pada kriteria Sig. <0. 05 terdapat empat dimensi yang berpengaruh signifikan terhadap altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Self emotion appraisal, personal meaning production, others responsibility dan organizational responsibility adalah dimensi yang berpengaruh pada Pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk menjawab permasalahan yang sebelumnya telah dirumuskan, yaitu untuk melihat faktor apa saja yang memengaruhi adanya altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Hal tersebut ditengarai dengan maraknya aksi sosial membantu korban dan masyarakat terdampak COVID-19 pada saat semua orang memiliki potensi yang sama untuk menjadi korban. Oleh karena itu, menarik untuk dicari variabel apa saja yang memberikan pengaruh dari munculnya perilaku altruisme. Adapun dalam penelitian ini, variabel yang diteliti adalah kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, dan tanggung jawab sosial. Berdasarkan hasil analisis regresi secara keseluruhan, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual, dan tanggung jawab sosial terhadap altruisme sebesar 39,1%. Kemudian apabila dilihat dari hasil uji koefisien regresi dari tiap-tiap variabel bebas. Terdapat dua variabel bebas yang terbukti berpengaruh signifikan terhadap altruisme, yaitu kecerdasan emosi dan tanggung jawab sosial, sementara kecerdasan spiritual tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Mengacu pada hasil temuan penelitian, variabel kecerdasan emosi menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam menjelaskan Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Lee . terhadap responden yang terdiri dari 74,1% sampel laki-laki dan 25,9% perempuan yang menunjukkan hasil bahwa kecerdasan emosi berpengaruh secara signifikan terhadap Hal ini juga didukung dengan temuan penelitian dari Salarzehi et al. yang menjelaskan adanya hubungan yang kuat antara kecerdasan emosi dengan altruisme. Individu dengan kecerdasan emosi yang tinggi cenderung memiliki kasih sayang yang tinggi Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 terhadap kondisi orang lain. Semakin besar kasih sayang yang dimiliki individu semakin besar kecenderungannya untuk menolong orang lain (Lim & DeSteno, 2. Hal ini sejalan dengan pendapat FeldmanHall et . yang menjelaskan bahwa adanya perasaan kasih sayang inilah yang menjadi motivasi dari munculnya altruisme pada Indonesia merupakan negara yang berada pada urutan ke-9 sebagai negara yang menunjukkan jarak kekuasaan yang masih tinggi dari 53 negara yang ada (Amalialaisa. Berdasarkan hasil studi dari Winterich dan Zhang . menjelaskan bahwa jarak kekuasaan yang tinggi menghalangi individu untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan orang lain dan masyarakat. Variabel bebas lainnya yang diuji dalam penelitian ini adalah kecerdasan spiritual. Berdasarkan hasil penilitian menunjukkan variabel kecerdasan spiritual memiliki arah hubungan yang positif namun tidak berpengaruh signifikan dalam menjelaskan Hal tersebut tidak sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual merupakan salah satu faktor dari munculnya altruisme (Clark. Lin, & Maher, 2. Adanya kesenjangan tersebut bisa disebabkan oleh populasi penelitian dan karakteristik responden yang berbeda. Dalam penelitian ini sasaran penelitiannya adalah masyarakat umum sedangkan Clark. Lin dan Maher . melakukan penelitian terhadap mahasiswa. Selain itu, hal tersebut juga dapat disebabkan beberapa faktor eksternal yang kemudian memengaruhi kondisi individu, seperti tingkat penyebaran COVID-19, informasi di media massa, kebijakan physical distancing yang mengharuskan individu untuk menjaga jarak yang berpotensi menimbulkan rasa cemas, depresi, dan merasa takut untuk berjumpa dengan orang lain, apalagi untuk bersentuhan dan turut serta membantu masyarakat yang terdampak COVID-19. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 dikaitkan secara signifikan dengan tingkat tekanan psikologis yang dalam banyak kasus akan memenuhi ambang batas relevansi klinis (Xiong et al. , 2. Variabel bebas selanjutnya yang diuji pada penelitian ini adalah tanggung jawab Variabel ini terdiri dari dimensi others responsibility dan organizational responsibility. Mengacu pada hasil penelitian ditemukan adanya pengaruh yang signifikan dan menunjukkan arah yang positif dari variabel tanggung jawab sosial terhadap altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Artinya semakin tinggi rasa tanggung jawab seorang relawan maka akan semakin tinggi tingkat altruisme yang dimilikinya. Hal ini mendukung penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa tanggung jawab sosial berhubungan positif dengan altruisme (Tam & Yeung, 1. Dalam literatur lainnya dijelaskan bahwa persepsi tanggung jawab merupakan dasar dari altruisme dan pengaktifan normanorma sosial (Brebels. De Cremer, & Sedikides, 2. Dengan kata lain, individu yang menunjukkan sikap altruisme merupakan individu yang merasa bahwa dirinya memiliki tanggung jawab sosial terhadap orang lain. Kemudian didukung juga dengan penelitian sebelumnya yang menjelaskan bahwa tingkat altruisme ditemukan lebih tinggi pada kelompok yang memiliki tanggung jawab komunitas atau organisasi (Chao Yang et al. , 2. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang menjelaskan bahwa partisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan berhubungan erat dengan rasa memiliki yang lebih kuat terhadap komunitas atau organisasi yang diikuti (Ohmer. Taly. Mannarini, & Rochira, 2. Kemudian adanya jarak kekuasaan yang tinggi di Indonesia telah membuat masyarakatnya mempersepsikan hal yang berbeda terhadap dampak COVID-19. Dikutip dari situs dicto. id menyebutkan bahwa Kemudian dari hasil penelitian ini juga ditemukan bahwa kecerdasan emosi menjadi variabel yang sumbangan proporsi variansnya paling besar dalam menjelaskan altruisme. Altruisme Relawan COVID-19: Peran Kecerdasan Emosi. Kecerdasan Spiritual, . Farid Jamaludin yaitu sebesar 24,8%. Adapun sumbangan proporsi varians dari tangung jawab sosial sebesar 11% dan variabel kecerdasan spiritual sebesar 5,6%. Hasil persentase tersebut bisa disebabkan karena negara Indonesia telah dikenal sebagai bangsa yang beragam dari suku, ras maupun agamanya. Akibat keberagaman itu lahirlah budaya gotong royong yang telah menjadi fungsi budaya utama di Indonesia (Mardiasmo & Barnes. Perilaku gotong royong erat kaitannya dengan individu yang peka secara emosional dan hidup dalam lingkungan dengan norma sosial yang kuat. Gotong royong muncul dari dorongan, kesadaran, dan semangat untuk bekerja sama dan menanggung konsekuensi bersama tanpa memandang agama, ras, suku, dan tidak memikirkan serta mengutamakan keuntungan pribadi (Effendi, 2013. Sudrajat. Jadi terbilang cukup logis apabila variabel kecerdasan emosi dan tanggung jawab sosial menjadi dua variabel yang pengaruhnya paling tinggi dalam menjelaskan altruisme pada penelitian ini. Dari uraian yang telah peneliti jelaskan, pengambilan sampel yang beragam dengan latar belakang organisasi/kelompok yang berbeda memberikan nilai tambah dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini terlihat lebih luas cakupannya dalam menggambarkan data demografi relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Selain itu, pengujian validitas konstruk pada sebagian variabel dengan menggunakan model CFA second order juga menjadi nilai tambah karena dengan hal tersebut bisa meminimalisir munculnya nilai error. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah peneliti menggunakan form online . -for. dalam pengambilan data yang membuat orang-orang yang dijangkau belum tentu merepresentasikan sampel. Kendati demikian peneliti mencoba meminimalisir hal tersebut dengan berinteraksi secara langsung melalui nomor kontak atau media sosial yang telah mereka isi di google forms. Selain itu, kondisi pandemi COVID-19 yang mewabah hampir di setiap wilayah pada saat itu membuat penyebaran kuesioner secara online dinilai sebagai salah satu cara yang efektif untuk memperoleh responden. Secara umum temuan pada penelitian ini perlu untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Dari hasil temuan variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap altruisme relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19 dapat dikembangkan supaya lebih komprehensif lagi dalam menjelaskan altruisme. Adapun hasil dari variabel yang tidak berpengaruh secara signifikan bisa jadi disebabkan karena variabel tersebut tidak memengaruhi variabel altruisme secara langsung melainkan ada variabel lain yang menjadi mediator dalam memberikan pengaruh tersebut, maka perlu kiranya untuk diteliti lebih jauh. Kesimpulan Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual dan tanggung jawab sosial terhadap altruisme pada relawan aksi sosial kasus pandemi COVID-19. Kemudian apabila dilihat dari hasil uji koefisien regresi dari tiap-tiap variabel bebas. Terdapat dua variabel yang terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap altruisme, yaitu kecerdasan emosi dan tanggung jawab sosial. Meskipun variabel kecerdasan spiritual tidak berpengaruh secara signifikan namun memiliki arah hubungan yang positif terhadap altruisme. Apabila dilihat berdasarkan kontribusi dari masing-masing dimensi yang ada pada variabel bebas terdapat empat dimensi yang memiliki pengaruh signifikan dalam menjelaskan altruisme, di antaranya self emotion appraisal, personal meaning production, others responsibility dan organizational responsibility. Hasil penelitian ini menjelaskan mengenai pentingnya melatih dan meningkatkan kecerdasan emosi, khususnya dalam kemampuan menilai dan mengenali emosi diri, kemudian menciptakan makna pada Jurnal Psikologi. Volume 19 Nomor 1. Juni 2023 diri serta belajar untuk memiliki rasa tanggung jawab baik terhadap orang lain maupun organisasi/komunitas yang diikuti, sebagai upaya dalam meningkatkan altruisme. Daftar Pustaka