Murai : Jurnal Papua Teologi Kontekstual ISSN : 2746-4814 Vol 5. No 1. Januari 2024 IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DI SD YPK EBENHAEZER ARGAPURA TAHUN PELAJARAN 2022-2023 Benyamin Mofu. STFT GKI I. S Kijne Jayapura bennymofu02@gmail. Iis Avprillia Carban STFT GKI I. S Kijne Jayapura Iiscarban15@gmail. ABSTRAK Kurikulum 2013 di pakai sejak tahun ajaran 2013/2021 dalam Sistem Pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 adalah kelanjutan dan penyempurnaan AKurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)A Kurik1ulum 2013 ini sudah berjalan hingga tahun 2013-2021 namun menjadi sebuah problem semenjak adanya COVID-19 yang melanda seluruh dunia tanpa terkecuali di Indonesia. Mengakibatkan pembelajaran di sekolah diberhentikan dan langsung di ubah dengan pembelajaran secara online. Pembelajaran menggunakan kurikulum lama dengan metode lama tentu tidak akan efektif dan tidak efisien lagi. Selain menjadikan peserta didik tidak memahami secara keseluruhan tentang pembelajaran, guru pun mengalami kesulitan dalam menyajikan pelajaran secara maksimal bagi SD YPK Ebenhaezer Argapura merupakan salah satu Sekolah Dasar di Kota Jayapura. Sekolah ini termasuk sekolah yang dekat dan mudah di jangkau oleh masyarakat. Saat ini sekolah turut memberlakukan Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran. Namun, guru mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum ini. Permasalahan yang di hadapi oleh sekolah yakni kurangnya pemahaman guru mengenai kurikulum merdeka, serta kurangnya pemahaman guru dalam menggunakan teknologi. Kurangnya fasilitas seperti komputer, laptop, dan infocus. Penelitian ini akan menggambarkan kesiapan guru mata pelajaran Agama Kristen dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura dan menerangkan upaya yang di lakukan oleh guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan metode deskriptif. Peneliti dalam penelitian ini berusaha menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh guru dalam mendapatkan data primer dan sekunder di SD YPK Ebenhaezer Argapura secara jelas dan Pemahaman . adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat (Anas Sudijono, 2011:. Dengan kata lain, memahami ialah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan bahwa narasumber belum sepenuhnya memahami Kurikulum Merdeka Belajar dan tujuan dilaksanakannya Kurikulum Merdeka Belajar. Dapat disimpulkan bahwa guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura belum sepenuhnya memahami Kurikulum Merdeka Belajar dan belum mendapatkan sosialisasi secara merata dari pemerintah untuk dapat mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar di Kata Kunci : Kurikulum. Pendidikan. Merdeka Belajar. Teknologi. Sekolah ABSTRACT The 2013 curriculum has been used since the 2013/2021 school year in the Education System in Indonesia. The 2013 curriculum is a continuation and refinement of the 'Competency-Based Curriculum (KBK) and Education Unit Level Curriculum (KTSP)' The 2013 curriculum has been running until 2013-2021 but has become a problem since the COVID-19 that has hit the entire world without exception in Indonesia. As a result, learning in schools is dismissed and immediately changed with online learning. Learning using the old curriculum with the old method will certainly not be effective and inefficient anymore. In addition to making students not understand the whole of learning, teachers also have difficulty in presenting lessons optimally for students. SD YPK Ebenhaezer Argapura is one of the elementary schools in Jayapura City. This school is a school that is close and easily accessible to the community. Currently, the school also applies AuMerdeka BelajarAy Curriculum in the learning process. However, teachers have difficulty in implementing this The problems faced by schools are the lack of teacher understanding of the independent curriculum, as well as the lack of teacher understanding in using technology. Lack of facilities such as computers, laptops, and infocus. This study will describe the readiness of teachers of Christian subjects in implementing the Free Learning Curriculum at SD YPK Ebenhaezer Argapura and explain the efforts made by teachers in implementing the curriculum of Merdeka Belajar. The approach in this study uses a qualitative approach. By using a descriptive method, researchers in this study tried to describe the research activities carried out by teachers in obtaining primary and secondary data at SD YPK Ebenhaezer Argapura clearly and systematically. Comprehension is a person's ability to understand or understand something after something is known and remembered (Anas Sudijono, 2011: In other words, understanding is knowing about something and being able to see it from different points of view. In this study, researchers found that the resource persons did not fully understand the Merdeka Belajar Curriculum and the purpose of implementing the Merdeka Belajar Curriculum. It can be concluded that teachers at SD YPK Ebenhaezer Argapura have not fully understood the Merdeka Belajar Curriculum and have not received equal socialization from the government to be able to implement the Merdeka Belajar Curriculum in schools. Keywords : Curriculum. Education. Merdeka Belajar, technology, schools PENDAHULUAN Kurikulum 2013 di pakai sejak tahun ajaran 2013/2021 dalam Sistem Pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 adalah kelanjutan dan penyempurnaan AKurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)A Kurik1ulum 2013 ini sudah berjalan hingga tahun 20132021 namun menjadi sebuah problem semenjak adanya COVID-19 yang melanda seluruh dunia tanpa terkecuali di Indonesia. Mengakibatkan pembelajaran di sekolah diberhentikan dan langsung di ubah dengan pembelajaran secara online. Pembelajaran menggunakan kurikulum lama dengan metode lama tentu tidak akan efektif dan tidak efisien lagi. Selain menjadikan peserta didik tidak memahami secara keseluruhan tentang pembelajaran, guru pun mengalami kesulitan dalam menyajikan pelajaran secara maksimal bagi Untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi. Kementrian Pendidikan. Kebudayaan. Riset dan Tekologi (Kemendikbudriste. meluncurkan kebijakan Kurikulum terbaru, yakni AyKurikulum MerdekaAy. Kebijakkan kurikulum Merdeka memberikan kemerdekaan kepada setiap sekolah untuk melakukan inovasi. Pada hakekatnya, merdeka hadir untuk menggali potensi yang ada pada guru, sekolah dan peserta didik untuk berinovasi dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) secara mandiri. Merdeka merupakan filosofi yang menjadi proses, sekaligus tujuan jangka panjang pendidikan di Indonesia. Prinsip merdeka sejalan dengan gagasan bapak pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara . yakin kemerdekaan adalah tujuan dan sekaligus paradigma pendidikan Indonesia yang perlu dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan. Aupeserta didik tumbuh secara kodratnya sendiriAo sedangkan guru hanya menuntun dan merawat kodrat itu. Kemerdekaan harus dipahami memiliki makna yang lebih luas dari pada hanya diartikan sebagai kebebasan. Kemerdekaan juga dapat diartikan sebagai adanya kemampuan untuk hidup melalui kekuatan sendiri menuju arah yang lebih baik berdasarkan nilainilai kemanusiaan yang ada. Inovasi terbaru dari kebijakkan pemerintah dalam kurikulum ini lebih mengarah kepada pemanfaatan dan penggunaan IPTEK pada proses pembelajaran. pembelajaran yang AMerdekaA juga harus di lakukan secara inovatif. Dalam hal ini, setiap guru perlu memiliki ketrampilan untuk memberikan pengajaran yang Beberapa metode yang sedianya dilakukan oleh guru dalam memberikan pengajaran yang inovatif anatara lain (Kalyani & Rajasekaran,2. : menggunakan alat bantu audio dan video . eknologi digita. , melakukan brainstroming, belajar di luar kelas, membuat roleplay , mendorong penemuan ide-ide baru, menggunakan permainan . uzzel and gam. , melakukan story telling. Untuk menghadirkan perangkat ajar yang menarik bagi peserta didik. Sekolah dan guru dituntut untuk benar-benar siap dalam menyesuaikan Kurikulum Merdeka yang telah di tetapkan. Tidak sedikit dari sekolah-sekolah di berbagai kota di Indonesia mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum ini. Dikarenakan sarana sekolah yang kurang mendukung untuk menunjang pembelajaran serta kurangnya pemahaman guru mengenai Kurikulum Merdeka. SD YPK Ebenhaezer Argapura merupakan salah satu Sekolah Dasar di Kota Jayapura. Sekolah ini termasuk sekolah yang dekat dan mudah di jangkau oleh masyarakat. Saat ini sekolah turut memberlakukan Kurikulum Merdeka dalam proses pembelajaran. Namun, guru mengalami kesulitan dalam menerapkan kurikulum ini. Permasalahan yang di hadapi oleh sekolah yakni kurangnya pemahaman guru mengenai kurikulum merdeka, serta kurangnya pemahaman guru dalam menggunakan teknologi. Kurangnya fasilitas seperti komputer, laptop, dan infocus. Penelitian ini akan menggambarkan kesiapan guru mata pelajaran Agama Kristen dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura dan menerangkan upaya yang di lakukan oleh guru dalam mengimplementasikan kurikulum merdeka belajar. METODE PENELITIAN Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Dengan menggunakan metode deskriptif. Peneliti dalam penelitian ini berusaha menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh guru dalam mendapatkan data primer dan sekunder di SD YPK Ebenhaezer Argapura secara jelas dan Menurut Nanang Martono . , subjek penelitian adalah pihak-pihak yang dijadikan sebagai sampel dalam sebuah penelitian. Subjek penelitian juga membahas karakteristik subjek yang digunakan dalam penelitian, termasuk penjelasan mengenai populasi dan sampel yang digunakan. Subjek dalam penelitian ini adalah guru. Yang terdiri dari Kepala sekolah, wali kelas, dua guru mata pelajaran Agama Kristen, dan Tenaga administrasi sekolah. Penentuan subjek penelitian tersebut menggunakan teknik Snowball. Dalam menentukan sampel, peneliti meggunakan teknik Snowball Sampling. Menurut Sugiono . , teknik Snowball Sampling merupakan teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar. Hal ini terjadi karena sedikitnya infomasi yang belum cukup diterima oleh peneliti, kemudian mencari orang lain yang dapat dijadikan sumber informasi. Oleh karena itu, jumlah sumber data sampel akan menjadi lebih besar. Teknik Snowball sampling ini digunakan untuk memilih guru sebagai subjek penelitian. Alasan peneliti memilih teknik ini adalah agar data yang terkumpul dapat memberikan informasi yang memuaskan. Jadi, jika suatu sumber informasi masih kurang lengkap, peneliti dapat mengambil informasi dari informan lain. Teknik Pengumpulan Data Observasi Observasi (Observation. atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan pengamatan yang sedang berlangsung. Kegiatan tersebut bisa berkenaan dengan cara mengajar, siswa belajar, kepala sekolah yang sedang memberikan pengarahan, personil bidang kepegawaian yang sedang rapat dsb (Nana Syaodih Sukmadinata, 2010: . Guru di sekolah masih mengalami kesulitan dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar di kelas, kurang pemahaman guru dalam penggunaan teknologi serta tidak tersedianya fasilitas teknologi di sekolah dalam menunjang pembelajaran menggunakan Kurikulum Merdeka Belajar. Dalam mengumpulkan data penelitian, peneliti melakukan observasi kepada guru mata pelajaran Agama Kristen. Wawancara Wawancara adalah metode mencari data dengan cara melakukan percakapan antara peneliti dan objek penelitian. Wawancara dilaksanakan secara lisan dalam pertemuan tatap muka secara individual. Sebelum melaksanakan wawancara para peneliti menyiapkan instrumen wawancara yang disebut pedoman wawancara . nterview guid. Pedoman ini berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang meminta di jawab atau di respon oleh reponden. Isi dari pertanyaan atau pernyataan bisa mencakup fakta, data, pengetahuan, konsep, pendapat, presepsi atau evaluasi yang berkaitan dengan variabel-variabel yang di kaji dalam penelitian. (Nana Syaodih Sukmadinata, 2010: . Peneliti menggunakan wawancara terstruktur dalam penelitian Pewawancara akan menyiapkan urutan dari pertanyaan yang akan di tanyakan kepada responden untuk mencari data penelitian. Dokumentasi Menurut Sugiyono . Dokumentasi adalah suatu cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan serta keterangan yang dapat mendukung penelitian. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode dokumentasi guna memperlengkap data wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan RPP dan Raport untuk melihat proses penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. Teknik Analisa Data Analis data ialah kegiatan mengkategorikan data untuk mendapatkan pola hubungan, tema, menafsirkan apa yang bermakna, seta menyampaikan atau melaporkan kepada orang lainyang berminat (Husaini Usman, 2009: . Dalam penelitian kualitatif tidak di nantikan sampai semua data terkumpul, tetapi dilakukan secara beransur selesai mendapatkan data dari wawancara, observasi dan Adapun analisis data dalam penelitian ini sebagai berikut: Reduksi Data Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran secara lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mengecek kembali bila diperlukan. Karena data yang berkaitan dengan bagaimana Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar pada Guru Mata Pelajaran Agama Kristen di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Penyajian Data (Display Dat. Display data ialah menyajikan data dalam bentuk matriks, network, chart atau grafik, dan Dengan demikian, peneliti dapa menguasai data dan tidak terbenam dengan setumpuk data (Husaini Usman, 2009: . Penyajian secara deskriptif atau narasi atas data yang telah dikategorikan dalam bentuk laporan yang sistematis untuk selanjutnya dianalisis guna penyampaikan kesimpulan. Pengambilan Kesimpulan Pengambilan kesimpulan adalah penarikan kesimpulan dengan berangkat dari rumusan masalah atau tujuan penelitian kemudian senantiasa diperiksa kebenarannya untuk menjamin keabsahannya. Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan cara berpikir induktif yaitu hal-hal yang khusus diarahkan kepada hal-hal yang umum untuk mengetahui jawaban dari permasalahan dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curir yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi, istilah kurikulum berasal dari dunia olaraga pada zaman Romawi kuno di Yunani, yang berarti jarak yang harus di tempuh oleh pelari dari garis start sampai finish. Dapat dipahami jarak yang harus ditempuh di sini bermakna kurikulum dengan muatan isi dan materi pelajaran yang dijadikan jangka waktu yang harus ditempuh oleh peserta didik untuk memperoleh ijazah. Menurut Subandiyah . , kurikulum merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran yang dicetuskan dan ditetapkan oleh sekolah secara dinamis dan progresif. Artinya, kurikulum harus selalu dikembangkan dan disempurnakan agar sesuai dengan laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta masyarakat yang sedang membangun. Lebih rinci lagi. Muhaimin & Abdul Mujib . menyatakan bahwa terdapat tujuh pengertian kurikulum menurut fungsinya. Pertama, kurikulum sebagai program studi, sekumpulan mata pelajaran yang dapat dipelajari oleh seorang siswa di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Kedua, kurikulum sebagai isi, yaitu data atau informasi yang terdapat dalam buku pelajaran, tidak dilengkapi dengan data atau informasi lain yang memungkinkan timbulnya pembelajaran. Ketiga, kurikulum sebagai kegiatan terencana, yaitu kegiatan terencana tentang apa yang akan diajarkan dan bagaimana mengajarkannya dengan baik. Keempat, kurikulum sebagai hasil belajar, yaitu seperangkat tujuan yang lengkap, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan, untuk mencapai hasil tertentu tanpa menentukan cara yang dimaksudkan untuk mencapai hasil tersebut. Kelima kurikulum sebagai reproduksi kultural, yakni transfer dan refleksi butir- butir kebudayaan masyarakat agar memiliki dan dipahami anak- anak generasi muda masyarakat tersebut. Keenam, kurikulum sebagai pengalaman belajar, yakni keseluruhan pengalaman belajar yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah. Ketujuh, kurikulum sebagai produksi, yakni seperangkat tugas yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu. Dengan demikian, kurukilum adalah seperangkat program pembelajaran yang terdiri dari konten dan topik yang terstruktur, prosedural, dan terencana dengan baik. Kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan berkaitan dengan berbagai kegiatan dan interaksi sosial di lingkungannya. Pengembangan Kurikulum tidak hanya merupakan abstraksi, akan tetapi mempersiapkan berbagai contoh dan alternatif untuk tindakan yang merupakan inspirasi dari beberapa ide dan penyesuaianpenyesuaian lain yang dianaggap penting. Menurut Oemar Hamalik . menyatakan bahwa pengembangan kurikulum adalah perencanaan kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa siswa kearah perubahan yang dinginkan dan menilai sampai dimana perubahan dimaksud telah terjadi pada diri siswa. Pengembangan kurikulum di indonesia tidak dapat juga terlepas dari pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 (UU Sikdikna. yang menyebutkan bahwa AuPendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa, betujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis secara bertanggung jawab. Tujuan pengembangan kurikulum juga harus memperhatikan tujuan institiusional . ujuan lembaga/satuan pendidika. , tujuan kulikuler . ujuan bidang stud. , dan tujuan instaksional . ujuan Semuanya perlu di pertimbangkan dalam mengembangkan kurikulum. Di sisi lain dapat ditegaskan bahwa tujuan pengembangan kurikulum tidak dapat terlepas dari tujuan pendidikan itu sendiri, sebab kurikulum merupakan ujung tombak ideal dari visi, misi dan tujuan pendidikan sebuah bangsa. Kebijakkan Kurikulum Merdeka ialah memberikan kemerdekaan kepada setiap sekolah untuk melakukan inovasi. Pada hakekatnya, merdeka hadir untuk menggali potensi yang ada pada guru, sekolah dan peserta didik untuk berinovasi dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) secara Menurut Ki Hajar Dewantara . yakni kemerdekaan adalah tujuan dan sekaligus paradigma pendidikan Indonesia yang perlu di pahami oleh seluruh pemangku kepentingan. Aupeserta dididk tumbuh secara kodatnya sendiri. Ay Sedangkan guru hanya menuntun dan merawat kodrat itu. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui bagaimana kesiapan guru dan upaya yang dilakukan oleh sekolah dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari hasil yang telah diuraikan di atas dapat dilihat sebagai berikut: Pemahaman Kurikulum Merdeka Belajar Pemahaman . adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat (Anas Sudijono, 2011:. Dengan kata lain, memahami ialah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai sudut pandang. Dalam penelitian ini, peneliti telah melakukan penelitian terhadap enam narasumber mengenai pemahaman Kurikulum Merdeka Belajar dan tujuan dilaksanakannya Kurikulum Merdeka Belajar. Dari enam narasumber yang telah memberikan informasi didapatkan empat narasumber yang belum memahami dan dua narasumber yang sudah memahami tentang Kurikulum Merdeka Belajar. Peneliti menguraikan dua pernyataan berbeda. Yaitu yang diisampaikan oleh guru PAK kelas tinggi Ausudah memahamiAy dan penyataan dari guru mapel bahasa inggris Aukalau memahami full sih sebenarnya belumAy. Untuk itu peneliti mendapati bahwa guru-guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura belum memahami dengan baik Kurikulum Merdeka Belajar. Tujuan dilaksanakannya Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura antara lain: Mencapai suatu kelulusan yang lebih baik Sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar bukan hanya sekedar untuk mengikuti program yang telah dibuat oleh pemerintah. Tetapi, tujuan sekolah menerapakan Kurikulum Merdeka Belajar yakni untuk dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang lebih baik dalam mengembangkan potensi yang ada pada siswa secara mandiri dan aktiv dalam berpikir pada bidang akademik dan non akademik. Maka dari itu, upaya yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan tersebut ialah sekolah berusaha dalam menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Untuk meningkatkan semangat belajar siswa Dengan adanya penerapan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Diharapkan dapat bertujuan untuk meningkatkan semangat belajar pada siswa. Bila selama ini siswa masih kurang bersemangat dalam belajar atau mengikuti pembelajaran. Maka, sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar untuk memberikan motivasi dan semangat kepada siswanya lewat inovasi-inovasi guru dalam pembelajaran menggunakan Kurikulum Merdeka Belajar seperti media-media pembelajaran yang beragam bagi siswa. Supaya siswa lebih terampil serta belajar mandiri SD YPK Ebenhaezer Argapura menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan dari siswa dalam pembelajaran sesuai dengan inovasi dari Kurikulum Merdeka Belajar yang di buat dalam bentuk proyek oleh guru. Dari kegiatankegiatan proyek inilah siswa dapat lebih terampil dan belajar mandiri untuk mengerjakan karyanya sendiri sesuai dengan potesi yang ia miliki. Guru pun dapat menjadi terampil dan mandiri untuk memilih bahan ajar yang sesuai dengan potesi pada siswanya. Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Menurut Kelly . Informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimannya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang. Dalam penelitian, peneliti mencari informasi mengenai perkembagan Kurikulum Merdeka Belajar yang disampaikan oleh pemerintah kepada sekolah untuk dapat memberikan gambaran kepada sekolah dalam mengenai penerapan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Sosialisasi Mengenai penerapan Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah, peneliti telah menemukan informasi yang berbeda-beda terkait dengan sosialisasi yang telah diikuti oleh narasumber mengenai penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. Dari keterangan guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura didapatkan informasi mengenai sosialisasi yang sudah dibuat oleh pemerintah dan telah diikuti oleh guru. Dalam keterangan ibu Anna Utrina Warwe yaitu pernahmengikuti 1 kali sosialisasi yang di buat oleh sekolah penggerak. Sedangkan ibu Levina Oktavia Wacano telah mengikuti 4 kali sosialisasi yang di telah buat oleh pemerintah dan sekolah penggerak. Namun, ada juga guru yang belum pernah mengikuti sosialisasi mengenai Kurikulum Merdeka Belajar. Guru tersebut adalah ibu Agustina Woisiri,S. Pd. Tetapi, beliau sudah berusaha menerapkan kurikulum ini dalam pembelajaran dengan mengandalkan informasi Kurikulum Merdeka Belajar dari internet. Buku pegangan Dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar pemerintah juga tidak mengeluarkan kebijakkan dalam menyiapkan buku pegangan bagi guru. Kurikulum ini lebih mengandalkan konten dan teknologi pada penerapannya untuk mempermudah guru dalam pembelajaran. Peneliti mencari informasi kepada narasumber di SD YPK Ebenhaezer Argapura untuk menemukan respon dari guru terhadap pemerintah mengenai hal tersebut. Peneliti menemukan sebagian respon guru terhadap pemerintah yaitu Autidak setujuAy apabila pemerintah tidak menyiapkan buku pegangan bagi guru dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. Hal tersebut dikarenakan buku pegangan dianggap penting bagi guru dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar dan sudah menjadi tanggung jawab pemerintah dalam menyiapkan buku bagi guru. Namun, ada juga respon yang AumenyetujuiAy bila pemerintah tidak menyiapkan buku pegangan bagi guru. Disebabkan karena penerapan Kurikulum Merdeka Belajar dianggap telah membebaskan guru dalam memilih pembelajaran sesuai dengan kebutuhan. Guru pun merasa bahwa profesinya adalah tanggung jawabnya maka itu, guru wajib berusaha secara mandiri materi dan bahan pembelajaran dengan Kurikulum Merdeka dari berbagai sumber belajar di internet dan lingkungan sekitar untuk dapat menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar. Aplikasi Dengan adanya penerapan Kurikulum Merdeka Belajar saat ini pemerintah juga telah melakukan inovasi terbaru untuk memudahkan guru dalam proses penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. Pemerintah telah menyediakan suatu aplikasi yang di anggap dapat menjadi wadah bagi guru untuk melakukan inovasi dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar. Aplikasi ini adalah Platform Merdeka Mengajar (PMM). Untuk membuktikan hal tersebut peneliti telah mencari informasi mengenai hadirnya Platform Merdeka Mengajar bagi guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Dan peneliti menemukan respon yang positif dari guru terhadap pemerintah dengan menyetujui hadirnya Platform Merdeka Mengajar bagi guru dalam menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Inovasi ini dianggap sangat membantu guru untuk mencari bahan ajar dan media pembelajaran bagi siswa serta dapat guru mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dalam Platform Merdeka Mengajar. Pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar Dalam proses pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura, guru menemui hambatan pada proses pelaksanaan. Menurut Wiestra, dkk . 4: . pelaksanaan adalah usaha-usaha yang dilakukan untuk melaksanakan semua rencana dan kebijakan yang telah ditetapkan dengan melengkapi segala kebutuhan alat-alat yang diperlukan, siapa yang akan melaksanakan, dimana tempat pelaksanaannya dan kapan waktu dimulainya. Mengenai hambatan yang ditemui oleh guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Peneliti menemukan hambatan utama yang menyebabkan proses pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar menjadi terhambat antara lain : Dukungan orang tua siswa Untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka Belajar membutuhkan usaha yang dilakukan oleh sekolah dan masyarakat. Sekolah membutuhkan dukungan dari orang tua dalam hal pendanaan untuk melaksanakan Kurikulum Merdeka Belajar. Namun, ekomomi dari pada orang tua siswa di SD YPK Ebenhaezer Argapura tidak stabil untuk dapat mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar. Kebanyakan penghasilan dari orang tua ialah nelayan hal tersebut menyebabkan kurangnya kerjasama dalam pendanaan bagi sekolah. Sehingga guru mengalami hambatan pada proses pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di kelas seperti mengerjakan proyek dalam suatu pembelajaran. Ketersediaan bahan ajar Guru mengalami hambatan dalam pelaksanaan Kuirkulum Merdeka Belajar. Hal tersebut diakibatkan karena kurangnya ketersediaan bahan ajar seperti buku dan alat peraga yang di siapkan oleh sekolah. Karena hal tersebut guru harus berusaha sendiri dengan keterbatasan dana pribadi untuk membuat bahan ajar bagi siswa. Waktu Hambatan yang ditemui guru dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar ialah waktu. Waktu untuk guru menyesuaikan diri dengan kurikulum yang baru dan kurangnya waktu sosialisasi dari pemerintah mengenai Kurikulum Merdeka Belajar yang diterima oleh guru. Mengakibatkan guru menjadi terhambat dalam proses pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar. Sarana & Prasana Dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah, guru juga membutuhkan sarana dan prasarana yang mendukung untuk proses pembelajaran. Peneliti mencari informasi mengenai sarana dan prasarana yang ada di SD YPK Ebenhaezer Argapura dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar. Peneliti menemukan dua respon yang berbeda dari guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura mengenai ketersediaannya sarana dan prasarana. Menurut sekolah yang di sampaikan oleh kepala sekolah ibu Christina Wallymilena. bahwa sarana dan prasarana dari pemerintah kepada sekolah sudah sangat mencukupi sekali. Namun, guru dan karyawan di SD YPK Ebenhaezer Argapura menyampaikan bahwa sarana dan prasarana di sekolah belum mencukupi dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Strategi Pada pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar guru perlu membuat strategi dalam implementasi kurikulum ini. Untuk itu, peneliti mendapatkan informasi dari guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura mengenai strategi yang telah di buat oleh guru dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar. Beberapa strategi yang di buat oleh guru dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar antara lain. Memberikan Ayat hafalan dan lagu-lagu untuk menarik siswa dalam pembelajaran. Membentuk panguyuban kelas yang berisi orang tua siswa yang bertujuan untuk mendukung siswa dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka Belajar. Membentuk kelompok belajar siswa Melakukan praktek di luar kelas Menggunakan teknologi dalam pembelajaran KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura belum sepenuhnya memahami Kurikulum Merdeka Belajar dan belum mendapatkan sosialisasi secara merata dari pemerintah untuk dapat mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar di sekolah. Selain itu. Pihak Sekolah masih banyak menemui hambatan dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura. Mulai dari guru yang kurang memahami Kurikulum Merdeka Belajar dan kesulitan dalam membuat RPP menggunakan Kurikulum Merdeka Belajar di tambah dengan kurangnya sarana dan prasarana, hingga tidak mendapatkan dukungan penuh dari orang tua. Sekolah telah berupaya untuk mendorong guru di SD YPK Ebenhaezer Argapura dalam menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar dengan menggunakan teknologi. Teknologi yang paling sering di gunakan oleh guru dalam implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di SD YPK Ebenhaezer Argapura adalah hadphone . Penyababnya ialah kurangnya pemahaman guru mengenai teknologi dan kurangnya alat teknologi. DAFTAR PUSTAKA