E-ISSN: 2809-8544 IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI IMPLEMENTATION OF TRI KAYA PARISUDHA IN PROCUREMENT OF GOODS TO PREVENT FRAUD AT ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta1. IGN Agung Wiryanata2*. I Wayan Tuwi3 Politeknik Pariwisata Bali. Indonesia *Email Correspondence: agungwiryanata@ppb. Abstract This study addresses procurement challenges at ABC Resort. Bali, where price and quantity discrepancies remain prevalent alongside a limited understanding of the application of Tri Kaya Parisudha values in fraud prevention. The research aims to analyze the implementation of manacika . ight though. , wacika . ight speec. , and kayika . ight actio. within the procurement stages involving the user. Purchasing, and Receiving departments. A descriptive qualitative approach was employed, using interviews, observations, and supporting document analysis such as purchase requests, purchase orders, and receiving reports. The findings reveal that Tri Kaya Parisudha plays a significant role in minimizing potential fraud by enhancing accuracy, fostering honest communication, and ensuring compliance with established procedures. Nevertheless, obstacles such as inconsistent verification and interdepartmental distrust remain. The study concludes that strengthening a work culture rooted in Tri Kaya Parisudha and conducting regular training are essential to reinforce integrity and improve the procurement system. Keywords: Tri Kaya Parisudha, procurement, fraud, integrity, work culture. Abstrak Penelitian ini berangkat dari permasalahan dalam proses pengadaan barang di ABC Resort. Bali yang masih ditemukan ketidaksesuaian harga dan kuantitas serta minimnya pemahaman terkait penerapan nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dalam mencegah kecurangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi nilai manacika . ikiran bai. , wacika . capan bai. , dan kayika . erbuatan bai. pada tahapan pengadaan barang yang melibatkan bagian user. Purchasing, dan Receiving. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen pendukung berupa purchase request, purchase order, serta receiving report. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Tri Kaya Parisudha berperan penting dalam meminimalisasi potensi fraud melalui peningkatan ketelitian, komunikasi yang jujur, serta kepatuhan pada prosedur. Namun demikian, ditemukan kendala berupa ketidak-konsistenan dalam pengecekan dan adanya prasangka antar bagian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan budaya kerja berbasis Tri Kaya Parisudha dan pelatihan rutin sangat diperlukan untuk meningkatkan integritas dalam sistem pengadaan barang. Kata kunci: Tri Kaya Parisudha. Pengadaan Barang. Fraud. Integritas. Budaya Kerja. PENDAHULUAN Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang berperan penting dalam mendukung perekonomian Indonesia, di mana Bali menjadi destinasi unggulan yang dikenal secara global dengan sebutan Pulau Dewata. Keindahan alam, kekayaan budaya, serta fasilitas pariwisata yang lengkap menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi utama wisatawan mancanegara maupun domestik (Suweta, 2. Dalam industri pariwisata, hotel memiliki peran penting sebagai penyedia akomodasi yang tidak hanya menawarkan kenyamanan, tetapi juga pengalaman berkesan bagi wisatawan (Nur et al. ,2. Salah satu SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. aspek fundamental dalam keberlangsungan operasional hotel adalah pengadaan barang atau procurement yang mendukung kebutuhan pelayanan, seperti bahan makanan, minuman, amenities, hingga peralatan operasional (Marciano et al. , 2. Proses pengadaan ini melibatkan beberapa bagian, yaitu user yang mengajukan kebutuhan. Purchasing yang melakukan pembelian, dan Receiving yang bertugas menerima barang (Damayanti et al. Dengan posisi strategisnya, pengadaan barang tidak hanya terkait kelancaran operasional, tetapi juga menyangkut aspek keuangan perusahaan, sehingga rawan terjadi kecurangan apabila tidak dikelola dengan baik. Fraud atau kecurangan dalam pengadaan barang merupakan permasalahan serius yang dapat merugikan perusahaan, baik dari segi finansial maupun reputasi (Sukma et al. , 2. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa lemahnya sistem pengendalian internal, rendahnya pengawasan, serta penyalahgunaan wewenang menjadi faktor dominan penyebab terjadinya kecurangan (Rizal & Kasmita, 2. Dalam konteks industri perhotelan, kecurangan dapat berupa ketidaksesuaian harga dan kuantitas, manipulasi purchase order, hingga kelalaian dalam proses verifikasi invoice. Hal ini dapat meningkatkan food cost dan menimbulkan inefisiensi operasional. Kasus-kasus tersebut juga ditemukan pada ABC Resort. Bali, sebagai salah satu hotel bintang lima yang memiliki standar pelayanan tinggi. Permasalahan muncul ketika terdapat perbedaan harga pada purchase order dengan invoice, kesalahan input data oleh staff, maupun kelalaian pengecekan fisik barang di bagian Receiving (Wicaksana, 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa aspek integritas dan ketelitian masih menjadi tantangan yang harus diperkuat melalui pendekatan yang tidak hanya berbasis sistem, tetapi juga nilai-nilai moral dan etika kerja (Hasan et al. , 2. Kearifan lokal dapat dijadikan pedoman dalam pengelolaan usaha yang baik (Susanti & Wiryanata, 2. Salah satu pendekatan yang relevan dalam konteks Bali adalah penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha sebagai landasan etika dalam bekerja. Tri Kaya Parisudha merupakan ajaran agama Hindu yang menekankan tiga prinsip utama, yaitu manacika . erpikir yang bai. , wacika . erucap yang bai. , dan kayika . erperilaku yang bai. Konsep ini mengajarkan pentingnya integritas yang menyeluruh, mulai dari niat dalam berpikir, kejujuran dalam bertutur kata, hingga kedisiplinan dalam tindakan nyata. Apabila nilai-nilai Tri Kaya Parisudha diterapkan secara konsisten dalam proses pengadaan barang, maka potensi kecurangan dapat diminimalisir karena setiap individu akan terdorong untuk bekerja dengan pikiran jernih, komunikasi yang transparan, dan perilaku yang sesuai prosedur. Dalam hal ini, religiusitas tidak hanya dipahami sebagai keyakinan pribadi, tetapi juga sebagai pedoman moral yang dapat memperkuat budaya kerja di lingkungan organisasi. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini difokuskan untuk menganalisis implementasi Tri Kaya Parisudha dalam pengadaan barang di ABC Resort. Bali, khususnya pada bagian user. Purchasing, dan Receiving. Rumusan masalah yang diajukan adalah bagaimana penerapan nilai manacika, wacika, dan kayika dapat berkontribusi dalam pencegahan fraud pada proses pengadaan barang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana konsep Tri Kaya Parisudha telah dipraktikkan oleh karyawan, serta menilai efektivitasnya dalam meminimalisir potensi kecurangan yang muncul dari ketidaksesuaian harga, kuantitas, maupun kelalaian prosedural. Dengan menggunakan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. metode deskriptif kualitatif melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai penerapan nilai-nilai etika dalam sistem pengadaan hotel berbintang. Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara akademis maupun praktis. Bagi mahasiswa, penelitian ini memperkaya wawasan mengenai hubungan antara konsep religiusitas dan praktik profesional di bidang manajemen akuntansi hospitaliti, serta melatih keterampilan analisis kritis terhadap kasus fraud. Bagi institusi pendidikan, penelitian ini dapat menjadi referensi dalam pengembangan literatur tentang integrasi nilai-nilai lokal ke dalam praktik manajemen modern. Sementara bagi pihak hotel, hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk memperkuat integritas, transparansi, dan budaya kerja berbasis Tri Kaya Parisudha sehingga mencegah terjadinya kecurangan yang berpotensi merugikan Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu, tetapi juga menawarkan solusi praktis untuk memperbaiki sistem pengadaan barang di lingkungan perhotelan. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu Berbagai penelitian sebelumnya telah membahas upaya pencegahan fraud dalam proses pengadaan barang dan jasa dengan beragam pendekatan. (Larasati, 2. menemukan bahwa pengendalian internal, whistleblowing system, dan good corporate governance secara bersama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap pencegahan fraud di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan, meskipun kontribusinya masih terbatas pada aspek Afriady & Alfiansyah, . menegaskan bahwa religiusitas memiliki pengaruh signifikan dalam mencegah fraud pada pengelolaan aset di Bandung, sementara penerapan e-procurement tidak menunjukkan pengaruh berarti karena hanya terbatas pada proses Yusni, . juga menekankan pentingnya e-procurement, komitmen organisasi, dan pengendalian internal pemerintah dalam memperkuat pencegahan fraud, dengan hasil bahwa faktor-faktor tersebut mampu memperkuat integritas dan transparansi dalam proses pengadaan. Penelitian lainnya menyoroti peran nilai budaya dan sistem organisasi dalam mencegah kecurangan. (Julianto & Pasek, 2. mengungkap bahwa konsep Tri Kaya Parisudha mampu menjadi dasar etika dalam pengendalian internal hotel, meski penerapannya belum maksimal. Hambani et al. , . menemukan faktor budaya organisasi, whistleblowing system, dan e-procurement berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud di Pemerintah Kota Bogor. Sedangkan Khairunnah & Nadirsyah, . menunjukkan bahwa penerapan e-procurement dan pengendalian internal terbukti efektif dalam mengurangi peluang kecurangan di Provinsi Aceh. Dari berbagai penelitian tersebut dapat dilihat bahwa kombinasi antara sistem yang kuat dan nilai moral atau religiusitas menjadi faktor penting dalam memperkuat integritas pengadaan barang. Namun, masih sedikit penelitian yang fokus pada integrasi konsep Tri Kaya Parisudha dalam konteks industri perhotelan, khususnya dalam pencegahan fraud pada pengadaan barang. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Kajian Teori Hotel sebagai bagian dari industri pariwisata memiliki peran penting dalam penyediaan layanan akomodasi, makanan, minuman, serta fasilitas penunjang lainnya. Menurut (Deswita Yella, 2. , hotel merupakan salah satu komponen utama pariwisata yang memberikan penginapan, makanan, hingga layanan tambahan yang bernilai jual. (Sebayang, 2. menambahkan bahwa hotel bukan sekadar tempat menginap, tetapi juga menawarkan pengalaman pelayanan yang terintegrasi dengan fasilitas modern, sehingga membutuhkan sistem pengadaan yang efektif. Dalam operasionalnya, pengadaan barang dilakukan oleh bagian Purchasing dengan alur yang mencakup permintaan dari user, persetujuan kepala departemen, pemilihan supplier, hingga penerimaan barang oleh Receiving. Proses ini menjadi sangat krusial karena menyangkut ketersediaan sumber daya untuk mendukung aktivitas hotel. Fraud atau kecurangan merupakan salah satu risiko yang dapat muncul dalam pengadaan barang. (Ayuningrum et al. , 2. menyebut fraud sebagai tindakan yang disengaja untuk memperoleh keuntungan dengan cara manipulasi data, laporan, maupun transaksi, yang berdampak negatif pada keuangan dan reputasi perusahaan. Dalam konteks pengadaan, fraud bisa muncul dalam bentuk mark-up harga, perbedaan kuantitas barang, ataupun kolusi dengan supplier. Oleh karena itu, penting adanya sistem pengendalian internal yang kuat sebagai mekanisme pencegahan. (Claudia et al. , 2. menegaskan bahwa pengendalian internal mampu menjadi alat untuk mengarahkan, mengawasi, dan menjaga integritas dalam operasional organisasi. Dengan demikian, teori mengenai hotel, pengadaan barang, fraud, dan pengendalian internal saling berkaitan erat dalam membentuk dasar kajian pencegahan kecurangan pada proses pengadaan barang di lingkungan hotel. Tri Kaya Parisudha Tri Kaya Parisudha merupakan ajaran etika dalam agama Hindu yang menekankan tiga dimensi perilaku suci, yakni manacika . ikiran bai. , wacika . capan bai. , dan kayika . erbuatan bai. (Aryawati et al. , 2. (Pustikarina, 2. menjelaskan bahwa konsep ini menjadi landasan moral dalam kehidupan sehari-hari, di mana manusia dituntut untuk berpikir positif, berbicara dengan jujur, serta berperilaku sesuai ajaran dharma. Dalam konteks organisasi, nilai-nilai Tri Kaya Parisudha dapat menjadi pedoman etika kerja yang mendorong terciptanya budaya integritas. Karyawan yang mempraktikkan manacika akan bekerja dengan penuh ketelitian dan niat baik, wacika mendorong komunikasi yang jujur dan sopan antarbagian, sedangkan kayika menuntun individu untuk berperilaku disiplin, taat prosedur, dan menghindari tindakan merugikan organisasi. Penerapan Tri Kaya Parisudha dalam proses pengadaan barang di hotel berperan sebagai filter moral untuk mencegah terjadinya fraud. Pada tahap perencanaan hingga penerimaan barang, manacika dapat mencegah pikiran curang dalam menentukan wacika menekan potensi manipulasi informasi dalam dokumen. kayika memastikan tindakan karyawan sesuai prosedur standar operasional. Dengan demikian. Tri Kaya Parisudha bukan hanya ajaran spiritual, tetapi juga dapat diterapkan sebagai instrumen praktis dalam menciptakan tata kelola pengadaan yang bersih dan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Implementasi nilai-nilai ini diharapkan mampu mengatasi kelemahan pengendalian internal serta mengurangi risiko kecurangan yang sering kali muncul akibat kelalaian, kolusi, maupun rendahnya integritas. Kerangka Pemikiran Gambar 1. Kerangka Pemikiran Berdasarkan penelitian terdahulu, kajian teori, dan konsep Tri Kaya Parisudha, kerangka pemikiran penelitian ini menekankan pada integrasi nilai-nilai manacika, wacika. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. dan kayika dalam proses pengadaan barang di ABC Resort. Bali. Fenomena yang menjadi dasar penelitian adalah masih adanya ketidaksesuaian harga dan kuantitas, serta lemahnya pengecekan dokumen dan barang yang berpotensi menimbulkan fraud. Dengan demikian, penelitian ini berangkat dari pemahaman bahwa penerapan Tri Kaya Parisudha dapat menjadi pendekatan etis untuk memperkuat sistem pengadaan barang, meningkatkan integritas karyawan, dan meminimalisir potensi kecurangan. METODE Penelitian ini berfokus pada implementasi konsep Tri Kaya Parisudha dalam pencegahan fraud pada proses pengadaan barang di ABC Resort Bali. Objek penelitian mencakup aktivitas pengadaan yang melibatkan bagian user. Purchasing, dan Receiving, dengan tujuan menilai sejauh mana penerapan nilai manacika, wacika, dan kayika dapat meminimalisasi risiko kecurangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif karena bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam terkait fenomena yang terjadi. Sumber data terdiri dari data primer berupa hasil wawancara mendalam dengan pihak terkait . hef sebagai head kitchen. Purchasing, dan Receivin. , observasi langsung terhadap proses pengadaan, serta dokumentasi berupa Purchase Request. Purchase Order, dan Receiving Report. Data sekunder diperoleh dari dokumen pendukung dan literatur ilmiah yang relevan untuk memperkuat temuan di lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara bertujuan menggali pemahaman karyawan terkait konsep Tri Kaya Parisudha dan kepatuhan mereka terhadap SOP, sedangkan observasi digunakan untuk melihat secara langsung alur proses pengadaan barang, mulai dari pembuatan PR dan PO hingga penerimaan barang oleh Receiving. Dokumentasi dipakai sebagai bukti konkret untuk memperkuat hasil wawancara dan observasi. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan langkah-langkah menurut Miles dan Huberman, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Proses ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola penerapan Tri Kaya Parisudha, mengungkap kelemahan dalam sistem pengadaan, serta menyimpulkan sejauh mana nilai-nilai etis tersebut dapat berperan dalam mencegah terjadinya fraud. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Tri Kaya Parisudha dalam Pencegahan Fraud Pengadaan Barang Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pengadaan barang di ABC Resort Bali melibatkan tiga bagian utama, yaitu user. Purchasing, dan Receiving. User bertanggung jawab membuat permintaan barang . urchase requisitio. yang telah disetujui oleh kepala departemen, kemudian Purchasing melanjutkan dengan melakukan perbandingan harga dari beberapa supplier, hingga mengeluarkan purchase order. Receiving menerima barang dari supplier sekaligus melakukan pengecekan kuantitas, kualitas, serta kesesuaian harga dengan purchase order dan invoice. Meskipun alur ini telah disusun sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), ditemukan adanya ketidaksesuaian harga dan kuantitas yang SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. menunjukkan masih adanya celah terjadinya fraud. Misalnya, perbedaan unit price antara purchase order dan invoice, serta barang yang diterima tidak sesuai jumlah pesanan, yang jika tidak ditangani dengan baik dapat memicu meningkatnya food cost. Implementasi konsep Tri Kaya Parisudha pada bagian user. Purchasing, dan Receiving terbukti berperan penting dalam mengurangi potensi fraud. Nilai manacika, atau berpikir baik, mendorong staf untuk lebih teliti dalam membuat dan memproses dokumen pengadaan, sehingga mengurangi kemungkinan kesalahan input harga maupun jumlah barang. Nilai wacika, atau berbicara baik, menuntut adanya komunikasi yang jujur antara bagian Purchasing dengan supplier, maupun antara Receiving dengan Purchasing, sehingga transparansi informasi tetap terjaga. Sementara itu, nilai kayika, atau berbuat baik, tercermin dalam perilaku staf yang berusaha mengikuti prosedur yang berlaku dengan disiplin, misalnya dengan membuat laporan penerimaan harian . aily receiving repor. sebagai bentuk pertanggungjawaban. Hal ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa fraud umumnya muncul akibat lemahnya integritas personal dan ketidakpatuhan terhadap prosedur, sehingga penerapan nilai etika dapat memperkuat sistem pengendalian internal. Namun, penelitian ini juga menemukan kendala dalam penerapan Tri Kaya Parisudha di lapangan. Masih ada staf yang kurang konsisten dalam melakukan pengecekan, terutama di bagian Receiving, sehingga terjadi kesalahan dalam mencatat harga maupun jumlah Selain itu, ditemukan adanya prasangka antarbagian yang menyebabkan komunikasi tidak berjalan optimal. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun nilai-nilai etika telah diperkenalkan, penerapannya masih belum maksimal karena tidak semua staf benar-benar memahami dan menginternalisasi prinsip Tri Kaya Parisudha dalam bekerja. Kondisi ini sejalan dengan penelitian (Julianto & Pasek, 2. yang menyebutkan bahwa penerapan Tri Kaya Parisudha di industri hotel sudah dilakukan, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem pengendalian internal karena adanya faktor sosial budaya dan kebiasaan kerja yang sulit diubah. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan budaya kerja berbasis Tri Kaya Parisudha di ABC Resort Bali. Penerapan nilai manacika, wacika, dan kayika dapat membantu menutup celah fraud, meningkatkan ketelitian dalam input data, serta mendorong komunikasi yang lebih terbuka antarbagian. Namun, penerapan ini perlu diperkuat melalui pelatihan rutin, sosialisasi berkelanjutan, serta evaluasi terhadap kepatuhan staf pada SOP yang berlaku. Dengan kombinasi antara pengendalian internal yang ketat dan penerapan nilai-nilai etika Hindu, diharapkan sistem pengadaan barang di hotel dapat berjalan lebih transparan, akuntabel, dan terhindar dari kecurangan. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa integrasi antara sistem manajerial modern dan kearifan lokal dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan tata kelola organisasi di sektor perhotelan. Dokumentasi dan Peran Pengadaan Barang dalam Pencegahan Fraud Dokumen merupakan elemen penting dalam proses pengadaan barang karena berfungsi sebagai bukti administratif yang memastikan setiap tahap berjalan tertib, terkontrol, dan dapat diaudit. Di ABC Resort Bali, dokumen utama yang digunakan antara lain market list, purchase requisition (PR), quotation, purchase order (PO), invoice, faktur SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. pajak, receiving report (RR), dan daily receiving report (DRR). Market list disusun oleh user untuk mencatat kebutuhan harian, lalu ditindaklanjuti menjadi PR yang harus disetujui kepala departemen. Purchasing kemudian menggunakan quotation untuk memperoleh harga kompetitif dari supplier, sebelum mengeluarkan PO resmi. Supplier mengirimkan barang beserta invoice dan faktur pajak sebagai dasar penagihan, yang selanjutnya diverifikasi oleh Receiving menggunakan RR dan DRR. Kehadiran dokumen-dokumen ini berfungsi tidak hanya sebagai instrumen administratif, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengendalian internal untuk mencegah kecurangan dalam bentuk manipulasi data maupun transaksi. Hasil wawancara dengan narasumber menunjukkan bahwa fungsi setiap dokumen sangat erat kaitannya dengan peran user. Purchasing, dan Receiving dalam menjaga transparansi serta akuntabilitas. User bertugas memastikan kebutuhan barang sesuai standar dan jumlah yang realistis, sehingga tidak terjadi pembelian berlebih yang meningkatkan food Purchasing memegang peran strategis dalam memastikan barang yang dibeli sesuai dengan kebutuhan hotel dengan harga terbaik melalui negosiasi dengan supplier. Dokumendokumen seperti PO dan faktur pajak menjadi dasar penting untuk menilai akurasi transaksi. Receiving, di sisi lain, memastikan barang yang diterima sesuai dengan PO dan invoice, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas, serta mencatatnya dalam RR dan DRR sebagai bentuk pertanggungjawaban formal. Dengan demikian, dokumen tidak hanya berfungsi sebagai alat administrasi, tetapi juga sebagai instrumen etis untuk mendorong perilaku transparan Dalam praktiknya, masih terdapat potensi kesalahan seperti ketidaksesuaian harga dan jumlah barang yang tercatat dalam PO maupun invoice. Namun, peran aktif Purchasing dan Receiving dalam melakukan verifikasi berlapis mampu meminimalisasi peluang terjadinya Misalnya, ketika terjadi perbedaan harga atau kuantitas. Purchasing segera membuat PO baru dengan revisi yang sesuai, sementara Receiving melaporkan ketidaksesuaian tersebut agar dapat ditindaklanjuti dengan supplier. Langkah-langkah korektif ini tidak hanya memperlihatkan fungsi pengendalian internal, tetapi juga menekankan pentingnya komunikasi jujur antarbagian. Jika setiap tahapan dilaksanakan secara disiplin, dokumendokumen yang ada dapat berfungsi sebagai filter yang kuat untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya kecurangan dalam pengadaan barang. Berdasarkan temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pengadaan barang dalam mencegah fraud tidak hanya bergantung pada sistem hotel yang terstruktur, melainkan juga pada kejujuran, ketelitian, dan komitmen etis dari pihak user. Purchasing, dan Receiving. Dokumen yang digunakan memang menjadi alat bantu administratif, tetapi efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh bagaimana staf menerapkan nilai-nilai integritas dalam bekerja. Ketelitian dalam memeriksa dokumen, komunikasi yang jujur dengan supplier, serta kepatuhan pada prosedur merupakan wujud konkret dari penerapan Tri Kaya Parisudha dalam konteks pengadaan barang. Dengan integrasi antara dokumen formal dan perilaku etis karyawan, sistem pengadaan di ABC Resort Bali dapat berjalan lebih transparan, akuntabel, dan tahan terhadap potensi fraud. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Implementasi Tri Kaya Parisudha dalam Pencegahan Fraud pada Proses Pengadaan Barang Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai Tri Kaya Parisudha yang terdiri atas manacika . erpikir bai. , wacika . erbicara bai. , dan kayika . erbuat bai. berkaitan erat dengan peran user. Purchasing, dan Receiving dalam proses pengadaan barang di ABC Resort. Bali. Ketiga nilai tersebut menjadi tolok ukur etika yang mengarahkan staf untuk menjalankan tugasnya dengan integritas, disiplin, dan akuntabilitas. Penerapan Tri Kaya Parisudha tidak hanya berfungsi sebagai pedoman moral, tetapi juga sebagai penguat sistem pengendalian internal yang berorientasi pada pencegahan fraud. Dengan begitu, pengadaan barang tidak sekadar dilaksanakan berdasarkan prosedur formal atau standar operasional prosedur (SOP), melainkan juga didasari kesadaran etis dari individu yang terlibat di Dalam aspek manacika, berpikir positif, logis, dan jernih menjadi modal utama bagi setiap bagian dalam pengadaan barang. User, misalnya, dituntut berpikir baik dalam menyusun purchase requisition (PR) agar tidak mengajukan permintaan barang berlebihan yang bisa meningkatkan food cost. Purchasing dituntut berpikir logis dalam menyeleksi supplier, menghindari prasangka negatif, serta tetap berpegang pada data dan standar hotel dalam mengambil keputusan pembelian. Sedangkan Receiving dituntut berpikir objektif dan jujur saat menerima barang, menilai apakah kualitas dan kuantitas sesuai dengan purchase order dan invoice. Meskipun pada praktiknya masih ditemukan prasangka antarbagian, penerapan berpikir baik dan suci tetap menjadi pondasi yang dapat menekan potensi fraud sejak tahap perencanaan hingga penerimaan barang. Aspek wacika menekankan pentingnya komunikasi faktual, jelas, dan sopan dalam setiap interaksi antarbagian maupun dengan supplier. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa user cenderung menyampaikan kebutuhannya secara faktual dan terstruktur, namun terkadang kurang formal sehingga berisiko menimbulkan miskomunikasi. Purchasing relatif konsisten menyampaikan informasi kepada supplier dengan dukungan dokumen, yang menunjukkan penerapan wacika sudah berjalan dengan baik. Sebaliknya. Receiving masih kerap menghadapi kendala dalam menyampaikan informasi secara faktual dan sopan, misalnya terburu-buru dalam melaporkan permasalahan atau menggunakan nada bicara yang kurang tepat. Kondisi ini menunjukkan bahwa komunikasi etis tidak hanya berfungsi menjaga hubungan baik antarbagian, tetapi juga merupakan sarana penting untuk memastikan transparansi dan akurasi dalam seluruh proses pengadaan barang. Adapun kayika mencerminkan perilaku nyata berupa tindakan jujur, disiplin, dan patuh terhadap aturan. Dalam konteks pengadaan barang, user seharusnya hanya mengajukan PR sesuai kebutuhan hotel tanpa melakukan manipulasi permintaan. Purchasing dituntut untuk bertindak transparan dalam menyeleksi supplier, memproses PO sesuai aturan, serta melakukan verifikasi yang cermat atas harga dan kuantitas barang. Receiving di sisi lain wajib menolak barang yang tidak sesuai dan melaporkan ketidaksesuaian secara objektif. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa meskipun user dan Purchasing cenderung patuh terhadap aturan yang berlaku. Receiving kadang masih kurang disiplin dalam memeriksa kondisi barang. Hal ini menegaskan bahwa nilai kayika, jika diterapkan secara konsisten. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. dapat menjadi filter terakhir untuk mencegah kecurangan yang mungkin lolos dari tahap Dengan demikian, implementasi Tri Kaya Parisudha dalam pengadaan barang di ABC Resort. Bali terbukti memiliki kontribusi signifikan dalam pencegahan fraud. Ketiga nilai tersebut membentuk sistem etika yang menyatu dengan SOP, sehingga menutup celah terjadinya penyimpangan, baik berupa manipulasi dokumen, kecurangan harga, maupun kelalaian dalam penerimaan barang. Walaupun penerapan di lapangan masih menghadapi kendala, terutama pada aspek komunikasi dan ketelitian Receiving, langkah penguatan budaya kerja berbasis Tri Kaya Parisudha dapat dilakukan melalui sosialisasi berkelanjutan, pelatihan etika kerja, dan evaluasi rutin. Integrasi antara etika Hindu dengan sistem manajerial modern ini dapat menjadi strategi efektif untuk membangun tata kelola organisasi yang lebih transparan, akuntabel, dan berkelanjutan dalam sektor perhotelan. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa implementasi konsep Tri Kaya Parisudha pada pengadaan barang di ABC Resort Bali belum sepenuhnya terlaksana secara Nilai manacika . erpikir bai. menunjukkan masih adanya kelemahan, terutama pada user yang melakukan pemesanan berlebihan dan Receiving yang berprasangka buruk terhadap supplier, meskipun Purchasing relatif sudah menerapkan prinsip berpikir positif dengan tidak menunda pemesanan maupun mengubah spesifikasi tanpa persetujuan. Nilai wacika . erkata bai. sudah lebih konsisten dilakukan oleh user dan Purchasing melalui komunikasi yang jelas dan faktual, tetapi Receiving masih menghadapi kendala dalam menyampaikan informasi secara sopan dan terstruktur. Sementara itu, nilai kayika . erbuat bai. belum sepenuhnya terwujud karena ditemukan tindakan yang tidak sesuai dengan SOP, seperti pemesanan berlebihan, verifikasi harga dan kuantitas yang kurang teliti, serta penerimaan barang tanpa pengecekan menyeluruh. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kendala utama dalam penerapan Tri Kaya Parisudha bukan hanya terletak pada lemahnya pengendalian internal, tetapi juga pada kurangnya pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai etika Hindu. Ketiadaan seminar, penyuluhan, maupun pelatihan yang berfokus pada integrasi nilai spiritual dengan prosedur kerja membuat konsep Tri Kaya Parisudha belum benar-benar menjadi budaya dalam pengadaan barang. Dengan demikian, pencegahan fraud di hotel masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal konsistensi perilaku etis dan disiplin kepatuhan terhadap SOP. Saran Berdasarkan simpulan tersebut, disarankan agar manajemen hotel memperkuat penerapan Tri Kaya Parisudha melalui program pelatihan etika, seminar, dan briefing rutin yang menekankan pentingnya berpikir, berkata, dan berbuat baik dalam setiap tahapan pengadaan barang. Peningkatan keterampilan komunikasi antarbagian, pengawasan ketat terhadap kepatuhan SOP, serta audit internal berkala sangat diperlukan untuk memastikan integritas sistem pengadaan. Dengan langkah-langkah tersebut, pengadaan barang tidak SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK IMPLEMENTASI TRI KAYA PARISUDHA PADA PENGADAAN BARANG UNTUK PENCEGAHAN FRAUD DI ABC RESORT BALI Kadek Priadiarta et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. hanya bergantung pada mekanisme formal, tetapi juga diperkuat oleh nilai moral dan spiritual, sehingga lebih efektif dalam mencegah fraud dan membangun budaya kerja yang transparan, jujur, dan akuntabel. DAFTAR PUSTAKA