EDUMANDIRI: JURNAL ILMU PENDIDIKAN DASAR Vol 01. No. Januari-Juni 2025 ISSN 3089-9575 https://ojs. id/index. php/edumandiri Analisis Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar untuk Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila Tingkat Madrasah Ibtidaiyah di Era Milenial RifAoatul Ajizah1. Sutrisno2 12 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jl. Laksda Adisucipto No. Papringan. Caturtunggal. Kec. Depok. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, . nC E-mail: 21204081021@student. uin-suka. Abstract The problem that has not been widely recognized from the independent learning curriculum policy at the Madrasah Ibtidaiyah level is the irrelevance between the actual contents of Pancasila and the profile of Pancasila students as manifested in the independent learning curriculum. This research is a library research or what is known as literature, which is descriptive-analytical in nature. The data analysis used is by means of Content Analysis in order to obtain references that have validity and can also be researched again according to the This article aims to find things that are not relevant between the contents of Pancasila and the profile of Pancasila students that are echoed in the latest curriculum, namely the independent learning curriculum and its consequences. This study found that some of the items in the Pancasila student profile are not relevant to the values of Pancasila. This is feared to shift the values in the actual Pancasila. Keywords: Curriculum. Independent Learning. Pancasila Student Profile Abstrak Persoalan yang belum banyak disadari dari kebijakan kurikulum merdeka belajar di tingkat Madrasah Ibtidaiyah adalah tidak relevannya antara isi Pancasila yang sebenarnya dengan profil pelajar pancasila yang diwujudkan dalam kurikulum merdeka belajar. Riset ini merupakan penelitian library research atau yang dikenal dengan kepustakaan, yang bersifat deskriptif-analisis. Analisis data yang dipergunakan yaitu dengan cara Content Analysis guna memperoleh rujukan yang punya kevalidan juga bisa dilakukan penelitian lagi sesuai konteksnya. Artikel ini bertujuan untuk menemukan hal-hal yang tidak relevan antara isi Pancasila dan profil pelajar Pancasila yang digaunggaungkan dalam kurikulum terbaru yaitu kurikulum merdeka belajar dan akibatnya. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian butir profil pelajar Pancasila ada yang tidak relevan dengan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut ditakutkan akan menggeser nilai-nilai pada Pancasila yang sebenarnya. Kata Kunci: Kurikulum. Merdeka Belajar. Profil Pelajar Pancasila PENDAHULUAN Pendidikan yaitu segenap pengalaman belajar yang terjadi di berbagai keadaan juga di masa kehidupan. Pendidikan dalam arti sempit yaitu pembelajaran yang dilaksanakan di tempat belajar selaku pendidikan resmi (Machali & Hidayat, 2. Pendidikan tingkat Madrasah Ibtidaiyah adalah tingkat madrasah dasar yang keberadaannya di naungan Kemementrian Agama, yang mana di Madrasah Ibtidaiyah lebih banyak diajarkan pendidikan agama dibandingkan Sekolah Dasar. Histori pertumbuhan madrasah di Indonesia sejauh ini menampakkan jika RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 madrasah dari segi umur kehadirannya sudahlah tua. Selain itu, madrasah pun mempunyai andil yang besar untuk pembentukan sumber daya manusia di Indonesia. Dari madrasah banyak terlahir founding father negara Indonesia terbentuk dari institusi madrasah (Hamidi, 2. Meskipun ada beberapa problem juga dalam pendidikan di madrasah, diantaranya seperti yang dipaparkan di buku Andi Prastowo dkk bahwa pembelajaran di madrasah lebih pada mengulang-ulang materi pembelajaran sampai hafal dari pada dengan cara memahami materi pelajaran secara kritis, analitis, dan logis (Suyadi & Sutrisno, 2. Problem pendidikan di madrasah tersebut tidak sesuai dengan tujuan kurikulum merdeka belajar yang merupakan suatu langkah yang tepat untuk mencapai pendidikan yang ideal yang sesuai dengan kondisi saat ini yang untuk mempersiapkan generasi yang tangguh, cerdas, kreatif, dan memiliki karakter sesuai dengan nilai-nilai bangsa Indonesia. Hadirnya Kurikulum Merdeka menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Dalam Kurikulum Merdeka, siswa tidak hanya dibentuk menjadi cerdas. Namun, juga berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila atau yang disebut sebagai wujud Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama: . beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, . berkebinekaan global, . bergotong royong, . mandiri, . bernalar kritis, dan . kreatif (Kusumawati, 2. Namun, perwujudan profil pelajar Pancasila yang diagung-agungkan di kurikulum terbaru yaitu kurikulum merdeka belajar sebenarnya tidak relevan dengan butir-butir Pancasila yang selama ini kita ketahui bersama. Pancasila yang berbunyi : . Ketuhanan yang Maha Esa, . kemanusiaan yang adil dan beradab, . persatuan indonesia, . kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, . keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia (Nurgiansah, 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang tidak relevan antara isi Pancasila dan profil pelajar Pancasila yang digaung-gaungkan dalam kurikulum terbaru yaitu kurikulum merdeka belajar dan akibatnya. Kurikulum adalah suatu istilah yang dipergunakan dari zaman Yunani Kuno di disiplin ilmu keolahragaan. Asal dari sebutan ini yaitu dari kata curere dan curir, yang saat itu dimaksudkan sebagai langkah atau jarak yang mesti dilewati dari atlet pelari, jalur pacu bermula start sampai finish. Jadi kurikulum pertamanya diartikan bagai suatu jalur yang mesti dilewati atlet pelari ataupun kuda pacu bermula dari start sampai finish yang sesuai tujuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dari sebab itu, curriculum erat kaitannya dengan goal dan cara dalam menggapai goal itu . ow to get the goa. (Suhendra, 2. Kurikulum menurut UU No. 20/2003 yaitu RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 selengkap aturan tentang bahan pelajaran, isi, tujuan dan metode yang dipakai selaku panduan terlaksananya proses belajar mengajar guna mewujudkan cita-cita pendidikan (Harosid, 2. Kurikulum yang diterapkan sekarang di madsarah ibtidaiyah adalah kurikulum merdeka belajar, meskipun masih ada sebagian madrasah yang masih menerapkan kurikulum 2013. Mendikbud ristek Nadiem Anwar Makarim resmi meluncurkan nama baru dari kurikulum prototipe yang diberi nama kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih luwes serta berpusat pada materi mendasar serta mengembangkan keunikan dan kemampuan siswa. Kurikulum yang berdiri sendiri dirancang untuk mendukung pemulihan pembelajaran dari pandemi COVID-19. Keleluasaan belajar bagi guru ataupun siswalah yang ditekankan dalam merdeka belajar. AuKementrian Pendidikan dan Kebudayaan mendefinisikan merdeka belajar sebagai sebuah proses pembelajaran yang memberikan keleluasaan dan wewenang kepada setiap institusi pendidikan agar terbebas dari administrasi yang berbelitAy (Rahayu dkk. , 2. Kurikulum merdeka belajar adalah kurikulum yang mendorong terbentuknya karakter jiwa merdeka di mana guru dan siswa dapat secara leluasa dan menyenangkan mengeksplorasi pengetahuan, sikap dan keterampilan dari Merdeka belajar dapat mendorong siswa belajar dan mengembangkan dirinya, membentuk sikap peduli terhadap lingkungan di mana siswa belajar, mendorong kepercayaan diri dan keterampilan siswa serta mudah beradaptasi dengan lingkungan masyarakat (Daga, 2. Manusia yang merdeka adalah manusia yang hidupnya secara lahir dan batin tidak terganggu kepada orang lain, akan tetapi ia mampu bersandar dan berdiri diatas kakinya sendiri, artinya sistem pendidikan mampu menjadikan setiap individu hidup mandiri dan berpikir sendiri (Rahayuningsih, 2. Kurikulum merdeka belajar merupakan salah satu konsep kurikulum yang menuntut kemandirian bagi peserta didik. Kemandirian dalam artian bahwa setiap peserta didik diberikan kebebasan dalam mengakses ilmu yang diperoleh dari pendidikan formal maupun non formal. Dalam kurikulum ini tidak membatasi konsep pembelajaran yang berlangsung disekolah maupun di luar sekolah dan juga menuntut kekreatifan terhadap guru maupun peserta didik (Manalu dkk. , 2. Kurikulum merdeka belajar di era milenial sekarang ini adalah artinya kita sebagai generasi milenial atau seringkali disebut sebagai generasi Y adalah generasi yang harus open minded dengan hal-hal baru yang berkembang terutama dalam dunia pendidikan, khususnya di sini perkembangan kurikulum yang selalu berubah dari tahun ke tahun. RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 Era milenial dapat disebut periode keemasan generasi milenial, milenial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Menurut para peneliti sosial generasi Y ini lahir pada rentang tahun 1980an sampai 2000 (Wahyudi, 2. Di era milenial sekarang ini, guru menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dari era sebelumnya, karena pendidikan sekarang berbeda dengan zaman Jepang, guru zaman now adalah guru milenial bukan kolonial, teknologi telah mengubah segalanya, termasuk kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan, itulah yang terjadi di zaman revolusi industri sekarang ini (Mulyasa. Generasi Y atau generasi milenial harus jadi agen perubahan Indonesia maju. kaum milenial siap menjadi pewaris tonggak sejarah pemimpin negara (Prasetyo. Salah satu caranya dengan perwujudan profil pelajar Pancasila melalui kurikulum merdeka belajar. Profil pelajar Pancasila adalah profil yang diharapkan dari implementasi kurikulum merdeka belajar. Rujukan penting dari profil pelajar Pancasila yang merupakan kebijakan pemerintah adalah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 dan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal. PPK adalah Gerakan pendidikan yang dilaksanakan melalui penerapan nilai-nilai yang merupakan intisari dari nilai-nilai Pancasila. Ada 18 nilai utama, yaitu nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Kedelapan belas nilai tersebut kemudian dirangkum menjadi 5 nilai utama, yaitu nilai-nilai yang berkaitan dengan religius, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Nilai-nilai dalam PPK ini merupakan sebagian dari tematema awal proses sintesis dimensi-dimensi Profil Pelajar Pancasila (Irawati dkk. Pada kurikulum merdeka belajar ada program guru penggerak. Untuk menciptakan guru-guru yang memiliki indikator inovatif dan kreatif maka program guru penggerak menjadi kunci utama dalam membentuk guru-guru yang kompeten dan juga mampu keluar dari zona nyaman untuk dapat mengembangkan kemampuan pedagogiknya. Karena sejatinya pembelajaran tidak mengenal usia dan sepanjang hayat apalagi guru yang menjadi kunci berputarnya roda peradaban melalui pembelajaran dan pendidikan. Profil pelajar pancasila dalam program guru penggerak menjadi salah satu upaya untuk dapat mengantarkan individu atau siswa mencapai tingkat pemahaman, perilaku, karakter yang berlandaskan pada nilai-nilai pancasila agar pancasila tetap tegak dan menjadi ideologi yang dipahami dan diimplementasikan oleh para pelajar pada zaman ini untuk mencapai profil pelajar RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 pancasila diperlukan guru yang inovatif dan kreatif dalam merancang pembelajaran (Kurniawaty dkk. , 2. Pada penelitian sebelumnya tidak ada penelitian yang mengungkapkan bahwa indikator dari profil pelajar Pancasila tidak relevan dengan butir-butir Pancasila yang kita kenal selama ini. Bahkan penelitian-penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa profil pelajar Pancasila adalah realisasi dari Pancasila itu sendiri, seperti yang diungkapkan oleh Dewa Made Riyan Gunawan dan Ni Wayan Suniasih hasil penelitiannya dari hasil analisis data penelitian diketahui persentase skor pada masing-masing aspek profil pelajar Pancasila, terdapat aspek yang memiliki persentase skor baik dan cukup namun persentase skor yang diperoleh masih berada pada kategori baik. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi bagi guru untuk memperhatikan serta memberi pemahaman kepada siswa terkait profil pelajar Pancasila (Gunawan & Suniasih, 2. Penelitian lain dari Asarina Jehan Juliani dan Adolf Bastian bahwa Pelajar Pancasila merupakan cerminan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat yang mempunyai kemampuan global dan mempunyai sikap berdasarkan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif (Juliani & Bastian, 2. Penelitian lainnya menyatakan profil pelajar Pancasila dapat terwujud jika ada kerjasama dari berbagai pihak dalam implementasi kurikulum merdeka belajar yang dilakukan melalui pembelajaran intrakurikuler dan Pendidikan karakter melalui kokurikuler dan ekstrakurikuler (Nurasiah dkk. , 2. Perbedaan dari penelitian yang penulis lakukan adalah menyoroti ketidaksesuaian butir Pancasila yang lima dengan indikator profil pelajar Pancasila. Dengan demikian penulis membuat penelitian yang berjudul Analisis Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar untuk Mewujudukan Profil Pelajar Pancasila di Madrasah Ibtidaiyah. METODE PENELITIAN Riset ini memakai jenis Library Research, yaitu pada riset ini bahan-bahan atau kajiannya didapatkan dari bermacam-macam asal muasal misalnya buku dan artikel jurnal yang berhubungan dengan problem yang mau diatasi. Penelitian dilaksankan dengan keteraturan dalam menghimpun menggarap, serta memberi simpulan data dengan memakai teknik tertentu untuk menemukan jawaban atas problematika yang tengah dihadapi (Sari, 2. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah mengumpulkan berbagai artikel jurnal serta buku yang Analisis data yang dipergunakan yaitu analisis isi. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan yaitu dokumentasi dengan cara menemukan data-data RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 yang berhubungan atau variabel yang berbentuk tulisan, artikel, buku atau karangan, majalah, dan sebagainya. Pada langkah di atas tahap pertama yaitu mempelajari artikel atau referensi yang relevan, pada tahap ini peneliti mencari artikel jurnal, tesis, dan buku yang berkaitan dengan kurikulum merdeka belajar dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila di tingkat madrasah ibtidaiyah. Pada tahap kedua yaitu menganalisis data, setelah peneliti menemukan referensi yang relevan kemudian data yang ditemukan di analisis. Tahap akhir yaitu membuat kesimpulan, dalam tahapan ini penulis menyusun literatur dan menyampaikan analisis data dan menambahkan hasil temuan sendiri. Teknik analisis data yang dipergunakan yaitu metode analisis konten. Teknik analisis konten ini dipakai guna memperoleh rujukan yang valid dan bisa dilakukan penelitian ulang sesuai konteksnya. Pada analisis ini akan dilaksankan proses pemilihan, pembandingan, penggabungan dan referensi yang relevan (Mirzaqon & Purwoko, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Kurikulum terbaru yaitu kurikulum merdeka belajar mempunyai salah satu hal yang ingin diwujudkan yaitu terbentuknya profil pelajar Pancasila yang merupakan realisasi dari butir-butir Pancasila yang ada lima. Berikut kita lihat tabel butir-butir Pancasila dan butir-butir profil pelajar Pancasila yang ada di kurikulum merdeka Tabel 1. Butir-butir Pancasila dan Profil Pelajar Pancasila di Kurikulum Merdeka Belajar No. Pancasila Ketuhanan yang Maha Esa Profil Pelajar Pancasila Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia Kemanusiaan yang adil dan beradab Berkebinakaan global Persatuan Indonesia Bergotong royong Kerakyatan yang dipimpin oleh Mandiri RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 permusyawaratan dan perwakilan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Bernalar kritis Kreatif Pancasila merupakan dasar negara dan juga suatu ideologi bagi bangsa dan negara untuk menyatukan kebhinekaan bangsa indonesia. Lahirnya instruksi presiden RI Nomor 12, tahun 1968, telah menguatkan keberadaan Pancasila yang isinya menyebutkan bahwa Pancasila yang resmi adalah Pancasila yang tata urutan ataupun rumusan sila-silanya ada pada Alinea IV pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (Setijo, 2. Ir. Soekarno memberikan nama AuPancasilaAy yang artinya lima dasar. Pancasila yang ada di alenia IV UUD 1945 diresmikan pada 18 Agustus 1945, meskipun tidak terdapat kata Pancasila di alenia IV tersebut, namun yang dimaksud dasar negara Republik Indonesia adalah AuPancasilaAy (Rahayu, 2. Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknolog. sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024, bahwa AuPelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila (Rusnaini , 2. Berikut kita perhatikan lebih detail nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila : Sila pertama, memiliki satu agama dan menjalankan peribadatan dari agama yang diikuti dengan ketakwaan pada tuhan serta tidak memaksa seseorang untuk masuk ke agama yang diyakini karena setiap orang memiliki hak untuk memilih agama sesuai yang dikehendaki. Sila kedua, menghargai perbedaan di tengah masyarakat yang terdiri dari banyaknya suku,agama, ras. Serta menjaga adab dan kesopanan, budi pekerti di dalam berbagai kondisi. Sila ketiga, cinta pada tanah air untuk menjaga persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat karena menyadari bahwa kita bertanah air satu. Indonesia serta meningkatkan kreativitas karya yang kita hasilkan. Sila keempat, mengawasi dan memberikan saran terhadap jalannya penyelenggaraan kedaulatan rakyat yang dilakukan pemerintah dan mengutamakan pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan suatu permasalahan, baik kepentingan dua orang atau lebih. Sila kelima, senantiasa berusaha membantu orang lain yang dilanda kesusahan, menghormati hasil musyawarah sekalipun bertentangan dengan RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 pendapat kita, serta berani memeperjuangkan keadilan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain (Anggraini dkk. , 2. Sedangkan nilai-nilai yang terkandung pada indikator profil pelajar Pancasila yaitu sebagai berikut : Beriman. Bertakwa kepada Tuhan YME, serta Berakhlak Mulia Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia mempunyai beberapa elemen kunci antara lain akhlak beragama, akhlak pribadi, akhlak kepada manusia, akhlak kepada alam, dan akhlak bernegara. Berkebhinekaan Global Indonesia adalah negara yang memiliki sifat majemuk dari segi identitas, kepercayaan, agama, bahasa, suku, dan etnis lainnya seperti perbedaan jenis status sosial, profesi, dan kelamin. Pelajar Pancasila sebagai bagian dari kemajemukan tersebut menyadari bahwa kebhinekaan adalah kenyataan hidup yang tak bisa dihindari. menanamkan nilai dan kesadaran akan kebhinekaan ini pada dirinya. Pelajar Pancasila tidak menganggap kebhinekaan sebagai ancaman, sebaliknya, ia menempatkan kebhinekaan sebagai kekayaan. Gotong royong. Pelajar Indonesia mempunyai kemampuan bekerjasama atau bergotong-royong, yakni kemampuan guna secara sukarela melaksanakan kegiatan bersama, dengan demikian kegiatan yang dilakukan bisa tercapai dengan ringan, lancar, dan mudah. Mandiri. Pelajar Indonesia adalah pelajar yang mandiri, yakni pelajar yang mempunyai tanggung jawab terhadap proses maupun hasil belajar. Bernalar Kritis. Pelajar Indonesia berpikir kritis atau bernalar kritis untuk mengembangkan diri dan menghadapi tantangan, terutama abad 21 saat Kreatif. Pelajar Indonesia adalah pelajar yang memiliki kreativitas. Mereka melakukan modifikasi dan menciptakan sesuatu yang berpengaruh, berguna, bermakna, dan orisinal (Zuriah & Sunaryo, 2. Pancasila ada lima, profil pelajar Pancasila ada enam ciri utama atau indikator. Secara tersurat, nampak terlihat hanya satu butir yang hampir sama bunyinya, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa pada Pancasila dan beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia pada profil pelajar Pancasila. Itu berarti, hanya ekasila atau hanya 1 butir Pancasila yang terdapat pada profil pelajar Pancasila. Selebihnya berbeda bunyi antara Pancasila dan butir-butir profil pelajar Pancasila yang lain. Analisis dari penulis, meskipun hanya 1 bunyi Pancasila yang hampir sama bunyi serta maknanya dengan profil pelajar Pancasila. Butir-butir profil pelajar Pancasila yang lain secara tersirat ada yang merupakan pengamalan dari Pancasila RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 itu sendiri, yaitu pada butir kedua berbhineka tunggal, berbhineka tunggal bisa termasuk pada sila ketiga Pancasila yaitu persatuan indonesia, artinya indonesia punya suku, agama, adat istiadat, dan budaya yang beraneka ragam namun tetap Berkebinekaan Global berkaitan dengan perkembangan identitas dan kemampuan untuk merefleksikan dirinya sebagai bagian dari kelompok budaya dan bangsa Indonesia sekaligus bagian dari warga Perkembangan Berkebinekaan Global akan membuahkan sikap cinta tanah air yang proporsional, karena individu mampu melihat bahwa dirinya juga bagian dari masyarakat dunia (Irawati dkk. , 2. Lalu pada butir gotong royong, bisa dimasukkan pada pengamalan sila kedua Pancasila karena gotong royong termasuk pada sikap kemanusiaan. Selanjutnya, butir mandiri termasuk pada sila kelima Pancasila karena sikap mandiri menumbuhkan sikap adil terhadap sesama. Namun, pada butir profil pelajar Pancasila yang kelima dan keenam yaitu bernalar kritis dan kreatif, penulis tidak menemukan adanya kesesuaian termasuk pada sila Pancasila keberapa butir kelima dan enam tersebut. Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen yang terdapat pada ciri kelima antara lain. memperolehdan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, mengambil keputusan. Selanjutnya pelajar yang kreatif, pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat dan berdampak. Elemen yang terdapat pada ciri keenam antara lain. menghasilkan gagasan yang orisinal, menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal. Makna dari sikap kritis dan kreatif dalam analisis penulis tidak ada hubungannya dengan butir Pancasila yang lima. Ketidakadaan relevansi antara Pancasila dan profil pelajar Pancasila ditakutkan akan menggeser nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya. Karena profil pelajar Pancasila yang dikenalkan saat ini dari segi teks atau bunyinya saja berbeda. Walaupun ada sebagian yang jika dicermati lebih detail lagi merupakan pengamalan dari Pancasila itu sendiri. KESIMPULAN Pada Kurikulum Merdeka belajar siswa tidak hanya dibentuk menjadi cerdas. Namun, juga berkarakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila atau yang disebut sebagai wujud Profil Pelajar Pancasila. Profil Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Pancasila ada lima, profil pelajar Pancasila ada enam ciri utama atau indikator. Secara tersurat, nampak terlihat hanya satu butir yang hampir sama bunyinya, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa pada RifAoatul Ajizah. Sutrisno / Edumandiri: Jurnal Ilmu Pendidikan Dasar . : 14 - 24 Pancasila dan beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia pada profil pelajar Pancasila, meskipun hanya 1 bunyi Pancasila yang hampir sama bunyi serta maknanya dengan profil pelajar Pancasila. Butir-butir profil pelajar Pancasila yang lain secara tersirat ada yang merupakan pengamalan dari Pancasila itu sendiri. Ketidakadaan relevansi antara Pancasila dan profil pelajar Pancasila ditakutkan akan menggeser nilai-nilai Pancasila yang sebenarnya. REFERENSI