Al-Asalmiya Nursing Jurnal Ilmu Keperawatan (Journal of Nursing Science. Volume 13. Nomor 1. Juni 2024 Halaman 120-130 p-ISSN: 2338-2112, e-ISSN: 2580-0485 https://jurnal. id/index. php/keperawatan PERBEDAAN JUMLAH LEUKOSIT PADA DARAH EDTA SEGAR DAN DARAH EDTA YANG DITUNDA SELAMA 2 JAM Rudina Azimata Rosyidah Aulia Tata Ningrum. Widia Rahmatullah. Teknologi Bank Darah. Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia. Daerah Istimewa Yogyakarta. Indonesia RSUD Tengku RafiaAoan. Kabupaten Siak. Riau. Indonesia ARTICLE INFO Artikel History Submitted: 2024-03-31 Accepted: 2024-06-03 Publish: 2024-06-30 Kata Kunci: Jumlah leukosit. Darah EDTA. Improved Neubauer ABSTRAK Darah merupakan cairan yang mengandung plasma dan sel darah. Sel darah meliputi sel eritrosit, sel leukosit, dan trombosit. Sel leukosit merupakan sistem pertahanan tubuh yang berperan untuk melindungi tubuh dari infeksi dan penyakit. Menghitung sel leukosit secara manual dapat menggunakan alat hemocytometer dan bilik hitung Improved Neubauer, terutama pada laboratorium yang belum mempunyai alat Automatic Hematology Analyzer. Pemeriksaan jumlah leukosit menggunakan antikoagulan EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan jumlah leukosit pada sampel darah EDTA segar dan sampel darah EDTA yang ditunda selama 2 jam dengan metode manual Improved Neubauer. Jenis penelitian ini menggunakan metode Pre Eksperimental dengan rancangan penelitian One Group Pre and Post Test Design. Sampel penelitian sejumlah 16 sampel darah EDTA segar dan 16 sampel darah EDTA yang ditunda selama 2 jam dengan pengambilan sampel menggunakan teknik Random Sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Paired T- Test dengan uji normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji statistik dengan uji Paired T-Test didapatkan nilai T hitung . 015 dengan T tabel 2. 744, menunjukkan bahwa T hitung < 0. dimana Ha diterima yaitu ada perbedaan antara jumlah leukosit sampel darah EDTA segar dan sampel darah EDTA yang ditunda selama 2 jam menggunakan metode manual Improved Neubauer. Rata-rata pemeriksaan jumlah leukosit pada sampel darah EDTA segar adalah 731 sel/mm3 (SD 978,. Rata-rata pemeriksaan jumlah leukosit pada sampel darah EDTA yang ditunda selama 2 jam sejumlah 5. sel/mm3 (SD 768,. ABSTRACT Keywords: Leukocyte Count. EDTA Blood. Improved Neubauer Page | 120 Blood is a fluid that contains plasma and blood cells. Blood cells include erythrocytes, leukocytes and platelets. Leukocyte cells are the body's defense system whose role is to protect the body from infection and disease. Manually counting leukocyte cells can use a hemocytometer and an Improved Neubauer counting chamber, especially in laboratories that do not yet have an Automatic Hematology Analyzer. Checking the number of leukocytes using the anticoagulant EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetat. The aim of this study was to determine the difference in the number of leukocytes Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 in fresh EDTA blood samples and EDTA blood samples that were delayed for 2 hours using the Improved Neubauer manual method. This type of research uses the Pre-Experimental method with a One Group Pre and Post Test Design research design. The research samples were 16 fresh EDTA blood samples and 16 EDTA blood samples which were delayed for 2 hours by taking samples using the Random Sampling technique. Data analysis in this study used the Paired T-Test with data normality testing using the KolmogorovSmirnov test. The results of statistical tests using the Paired T-Test showed a T value . 015 with a T table of 2. 744, indicating that T count < 0. 05 where Ha is accepted, namely there is a difference between the number of leukocytes in fresh EDTA blood samples and EDTA blood samples that were postponed for 2 hours using the Improved Neubauer manual method. The average leukocyte count in fresh EDTA blood samples was 6. 731 cells/mm3 (SD 978,. The average leukocyte count in EDTA blood samples that was delayed for 2 hours was 5. 850 cells/mm3 (SD 768,. A A ACorresponding Author: Rudina Azimata Rosyidah Teknologi Bank Darah. Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia. Email: rudina@poltekkes-bsi. PENDAHULUAN Darah mengandung 2 bagian yaitu plasma dan sel darah yang meliputi sel eritrosit, sel leukosit, dan trombosit (Siswanto, 2017. Holt, 2. Sel leukosit adalah sistem pertahanan tubuh manusia yang berfungsi untuk melawan mikroorganisme penyebab infeksi, sel tumor, dan zat-zat asing yang berbahaya (Bakhri, 2. Tujuan dilakukan pemeriksaan jumlah leukosit ini adalah untuk menentukan jumlah leukosit dalam darah dan dapat menentukan adanya infeksi (Nugraha & Badrawi, 2. Peningkatan sel leukosit disebut leukositosis sedangkan penurunan sel leukosit disebut leukopenia (Andika & Puspitasari, 2. Pemeriksaan jumlah leukosit mempunyai dua metode yaitu alat automatic dan Alat automatic hematology analyzer memberikan hasil yang sangat teliti dan Upaya untuk menjamin tepatnya alat automatic bekerja dalam satu progam harus memiliki jaminan mutu (Quality Contro. Menghitung sel leukosit secara manual yaitu dengan memakai alat hemocytometer dan bilik hitung (Gandasoebrata, 2. Pada pemeriksaan jumlah leukosit menggunakan antikoagulan yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pembekuan darah di luar tubuh pada waktu pemeriksaan. Salah satu antikoagulan yang sering digunakan adalah Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (EDTA) yang tidak mempengaruhi morfologi sel-sel darah, baik garam natrium (Na2EDTA) ataupun garam kalium (K2EDTA) (Syuhada et al. , 2. Bahan pemeriksaan yang direkomendasikan adalah darah EDTA (Kemenkes, 2. EDTA memiliki sifat chaelating . engikat ion dan loga. sekaligus menghambat semua aktivitas protein pada darah agar tidak terjadi pembekuan (Azizah & Saptaningtyas. Tiap 1 mg EDTA dapat menghambat pembekuan 1 ml darah (Gandasoebrata. Pemberian darah EDTA yang berlebihan akan dapat menyebabkan sel eritrosit mengkerut (Dewi & Kusuma, 2. Pemeriksaan darah EDTA sebaiknya segera dilakukan, jika terpaksa ditunda maka sebaiknya harus diperhatikan batas waktu Page | 121 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 Penyimpanan darah EDTA pada suhu kamar yang terlalu lama akan dapat menyebabkan terjadinya hemolisis. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Darmadi & Sari . , jumlah leukosit dengan penundaan selama 2 jam didapatkan hasil normal menurun tidak bermakna dan meningkat tidak bermakna. Rata-rata jumlah leukosit darah EDTA yang langsung segera diperiksa adalah sejumlah 6. 790 sel/mm3 darah sedangkan rata-rata yang ditunda selama 2 jam adalah sejumlah 6. 780 sel/mm3 darah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jais Ahmad et al. yaitu darah donor sebelum dan disimpan selama 1 minggu dengan suhu 2-8oC mengalami penurunan namun masih dalam batas normal. Hasil jumlah leukosit sebelum disimpan rata-rata 6. 420 sel/mm3 darah sedangkan hasil jumlah leukosit sesudah disimpan rata-rata 5. 090 sel/mm3 darah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Saputra & Aristoteles . yaitu terdapat perbedaan antara pemeriksaan darah yang segera dan ada penundaan selama 6 jam pada suhu 4-8oC terhadap kadar Hemoglobin. Darah dengan perlakuan segera diperiksa, kadar Hb terendah didapatkan 10,3 g/dl dan tertinggi sejumlah 14,4 g/dl sedangkan kadar Hb dengan penundaan selama 6 jam terendah sejumlah 9,9 g/dl dan tertinggi sejumlah 14,1 g/dl. Hasil uji coba laboratorium dilakukan menggunakan 2 sampel dengan hasil pada sampel pertama pada darah EDTA segar jumlah leukosit 5. 950 sel/mm 3 dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam dengan suhu ruang jumlah leukosit 5. 250 sel/mm 3. Pada sampel kedua pada darah EDTA segar jumlah leukosit 7. 350 sel/mm3 dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam dengan suhu ruang jumlah leukosit 4. 850 sel/mm 3. Rerata jumlah leukosit darah EDTA segar yaitu 6. 650 sel/mm 3 sedangkan jumlah leukosit pada darah yang ditunda selama 2 jam yaitu 5. 050 sel/mm 3, artinya darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam dengan suhu ruang mengalami penurunan. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis ingin melakukan penelitian untuk mengetahui jumlah leukosit pada darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam menggunakan metode manual yaitu Bilik Hitung Improved Neubauer. Hasil penelitian yang didapatkan nanti dapat sebagai acuan penelitian selanjutnya jika akan dibandingkan dengan metode automatic Hematology Analyzer. METODE Jenis penelitian menggunakan metode Pre eksperimental. Pre eksperimental adalah desain eksperimen yang belum sungguh-sungguh karena terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap variabel dependen (Sugiyono, 2. Rancangan penelitian menggunakan One Group Pre and Post Test Design yang merupakan rancangan pengukuran awal (Pretes. dan pengukuran akhir (Posttes. Hasilnya dilakukan analisis dalam rangka bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan atau perubahan yang terjadi (Sugiyono, 2. Pengambilan sampel dilakukan di Laboratorium Hematologi Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia Yogyakarta yang beralamatkan di Jalan Gedongkuning Selatan No. Kabupaten Bantul. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelaksanaan penelitian pada bulan Januari hingga Juni Subjek penelitian menggunakan darah vena yang diambil dari Mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Bank Darah Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia (Poltekkes BSI). Objek penelitian ini merupakan hitung jumlah leukosit pada darah Page | 122 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 EDTA segar dan darah EDTA tunda selama 2 jam di Laboratorium Hematologi Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia Yogyakarta. Populasi adalah sekelompok individu atau objek yang memiliki karakteristik dan dapat diselidiki atau diamati (Imron & Munif, 2. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Bank Darah Poltekkes BSI Yogyakarta Semester 4 sebanyak 107 mahasiswa. Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang menjadi objek penelitian (Imron & Munif, 2. Sampel penelitian yang digunakan adalah darah vena mahasiswa semester 4 Program Studi D3 Teknologi Bank Darah Poltekkes BSI Yogyakarta sebanyak 16 sampel menggunakan teknik Simple Random Sampling adalah pengambilan sampel dari populasi secara acak tanpa memperhatikan tingkatan dari populasi (Sugiyono, 2. Penentuan banyaknya sampel dilakukan menggunakan rumus Federer. Variabel Penelitian yang digunakan adalah variabel dependen dan independen. Variabel dependen disebut juga dengan variabel terikat yang merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independen . (Sugiyono. Variabel dependen pada penelitian ini adalah darah EDTA. Variabel independen disebut juga dengan variabel bebas yang merupakan variabel yang mempengaruhi atau sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen . (Sugiyono, 2. Variabel independen pada penelitian ini adalah leukosit segar dan leukosit ditunda selama 2 jam. Alat dan Bahan Penelitian. Alat-alat yang digunakan adalah Hemocytometer: untuk pemeriksaan jumlah leukosit. Mikroskop: untuk melihat sel leukosit. Bilik Hitung Improved Neubauer: untuk lanjutan pembacaan hasil jumlah leukosit. Tabung EDTA 3 ml tabung lavender untuk menampung darah yang sudah dilakukan phlebotomy. Spuit 3 cc untuk pengambilan darah vena pendonor. Tourniquet untuk pembendungan pembuluh darah. Rak tabung untuk penyimpanan sampel. Hansaplast untuk menutupi bekas luka phlebotomy. Kapas untuk desinfektan lengan pendonor. Bahan yang digunakan adalah darah vena untuk sampel penelitian. antikoagulan EDTA untuk mencegah terjadinya pembekuan darah. reagensia Turk untuk melisiskan sel kecuali sel alkohol 70% untuk desinfektan lengan pendonor. Tahap persiapan penelitian dimulai dengan Studi Pendahuluan dan mencari referensi penelitian terdahulu yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Tahap pelaksanaan dengan melakukan rekrutmen pendonor darah vena sebanyak 16 orang pada mahasiswa semester 4 D3 Teknologi Bank Darah yang secara sukarela diambil Dilakukan pengisian informed consent sebagai bukti bahwa responden bersedia menjadi pendonor. Menurut Nugraha . , langkah-langkah pengambilan sampel meliputi: Diidentifikasi responden dengan meminta responden menyebutkan nama lengkap, alamat, dan tanggal lahir. Disiapkan alat dan bahan untuk pengambilan darah. Pertama disiapkan 1 tabung penampung darah yaitu tabung tutup ungu yang berisi antikoagulan EDTA. Lalu disiapkan spuit 3 cc, kapas alkohol, tourniquet, hansaplast, dan kapas kering . Dipasang tourniquet 3-4 inci dari lipatan siku dan lokasi vena ditentukan dengan meraba vena. Probandus diminta untuk mengepalkan tangan untuk mempermudah menemukan lokasi vena. Desinfektan lokasi vena menggunakan alkohol 70% secara melingkar dari bagian dalam ke arah luar. Ditegangkan kulit lengan lalu diposisikan jarum spuit sekitar 15-30 derajat terhadap permukaan kulit. Ditusuk jarum ke kulit mengunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Setelah jarum mengenai Page | 123 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 vena, tangan kanan menarik plunger dan tangan kiri menjaga spuit agar tidak bergeser. Dilepaskan tourniquet jika darah sudah masuk kedalam spuit. Dilanjutkan mengisap darah sehingga terisi penuh yaitu 3 cc. Secara bersamaan, minta probandus untuk membuka kepalan tangan secara perlahan. Setelah spuit terisi penuh, letakkan kapas kering di lokasi penusukan tanpa menekannya. Dilepaskan jarum secara perlahan dan segera tekan kain kasa tersebut selama lebih kurang 1 menit. Diminta kepada probandus untuk menekan kapas kering pada lokasi penusukan lalu dipindahkan darah kedalam tabung EDTA sebanyak 2 ml. Jika darah di lengan probandus sudah berhenti mengalir, dilepaskan kapas kering dan ditutup luka penusukan menggunakan hansaplast. Tahapan langkah-langkah pemeriksaan hitung jumlah leukosit menurut Nugraha & Badrawi . adalah sebagai berikut: Disiapkan deck glass dan Bilik Hitung Improved Neubauer dalam kondisi bersih dan kering. Dipasang deck glass di atas bilik Diencerkan darah menggunakan pipet thoma. Dihisap darah EDTA sampai batas 0,5 untuk pengenceran 20 kali. Dibersihkan bagian luar ujung pipet dari sisa darah yang masih menempel. Dihisap reagen Turk sampai tanda batas 11, dihindari adanya gelembung udara. Dikocok pipet thoma 2-3 menit agar darah homogen. Dibuang 3-4 tetes pertama, tetesan selanjutnya dimasukkan kedalam bilik hitung dengan cara dialirkan dari pinggir deck glass. Menghitung sel leukosit: Dihitung sel leukosit di bawah mikroskop dengan pembesaran lensa 10x dan 40x. Dihitung leukosit pada 16 kotak sedang yang ada pada sudut bilik hitung. Dihitung sel leukosit secara zigzag dari kiri-atas. Gambar 1. Alat Bilik Hitung Sumber: Syarifa . Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisis Univariat: bertujuan untuk menjelaskan karakteristik setiap variabel penelitian. Analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo. Dalam penelitian ini analisa univariat terdiri dari rata-rata nilai darah EDTA segar yang diperiksa segera dan rata-rata nilai darah EDTA yang ditunda selama 2 jam. Analisis Bivariat: dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2. Dalam menganalisis data secara bivariat, pengujian dilakukan menggunakan uji Paired-Sample T-Test yaitu uji statistik yang bertujuan untuk membandingkan rata-rata dua sampel yang saling berkaitan atau berpasangan. Uji Paired-Sample T-Test untuk mengetahui perbedaan hasil nilai darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam. Uji statistik Paired-Sample T-Test dilakukan jika data berdistribusi normal menggunakan Kolmogorof-Smirnov, dan jika data tidak berdistribusi normal menggunakan Wilcoxon. Pada penelitian ini menggunakan program SPSS yang nantinya akan diperoleh nilai p Value. Nilai p value akan dibandingkan dengan nilai . Dengan ketentuan sebagai berikut: Jika nilai p > . > 0,. , maka Hipotesis Nol (H. diterima, artinya tidak ada perbedaan jumlah leukosit pada Page | 124 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam pada Mahasiswa D3 Teknologi Bank Darah Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia Yogyakarta. Sedangkan jika nilai p < . < 0,. , maka Hipotesis Alternatif (H. diterima, artinya ada perbedaan jumlah leukosit pada darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam pada Mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Bank Darah Poltekkes BSI Yogyakarta. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Karakteristik Responden Karakteristik responden pada penelitian ini adalah Mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Bank Darah semester 4 Poltekkes BSI Yogyakarta yang bersedia menjadi responden penelitian. Usia Jumlah responden pada penelitian ini adalah 16 orang dengan kriteria usia dari rentang 18-22 tahun. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 1. Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Persentase (%) 6,25% 31,25% 31,25% 6,25% Total Berdasarkan tabel 1 menunjukkan rentang usia yang paling banyak adalah 19 dan 20 tahun dengan persentase 31,25% yang berjumlah 5 orang. Menurut Dewi. Rohmah, . , dimana sebagian besar mahasiswa yang berada pada rentang usia 1722 tahun disebut dengan fase remaja akhir. Jenis Kelamin Jenis kelamin yang dimaksud penelitian dalam penelitian ini adalah responden yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Berdasarkan penelitian didapatkan hasil sebagai berikut. Tabel 2. Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Frekuensi Persentase (%) Kelamin Laki-laki 31,25% Perempuan 68,75% Total Dari tabel 2, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang bersedia diambil darahnya yaitu responden yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 11 orang . ,75%), sedangkan responden yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 5 orang . ,25%). Dari hasil di atas menunjukkan bahwa sebagian besar sampel penelitian didominasi oleh perempuan dengan persentase 68,75% yang berjumlah 11 orang yang diambil dari mahasiswa semester 4 Program Studi D3 Teknologi Bank Darah Poltekkes BSI Yogyakarta. Menurut hasil survey data dari statistik pendidikan tinggi tahun 2020 di Indonesia, jumlah lulusan mahasiswa berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh Page | 125 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 perempuan yaitu sebesar 56,10% dibandingkan laki-laki yang sebesar 43,90% (Dikti. Hasil Analisis Univariat Berikut data hasil pemeriksaan hitung jumlah leukosit darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam. Gambar 2. Hasil Pemeriksaan Jumlah Leukosit Berdasarkan gambar 2 diperoleh 13 responden dengan penurunan jumlah leukosit yaitu pada nomor sampel 1,2,3,4,5,6,7,8,9,11,12,14,15 dan 3 responden dengan peningkatan jumlah leukosit yaitu pada nomor sampel 10,13, dan 16 tetapi masih dalam batas normal dengan nilai normal 4. 000 sel/mm3. Penurunan jumlah leukosit dapat disebabkan karena sel mengkerut, hal ini terjadi akibat perbandingan antara antikoagulan dan darah tidak sesuai sehingga mengalami hipertonisitas (Yolanda, 2022 as cited in Novel, 2. Peningkatan jumlah leukosit pada penundaan menunjukkan terjadinya disintegrasi sel. Darah EDTA yang ditunda menyebabkan pembengkakan pada inti sel leukosit sehingga alat hematology analyzer tidak dapat membacanya (Asiyah, 2. Tabel 3. Rata-Rata Jumlah Leukosit Perlakuan Nilai Tertinggi sel/mm3 Nilai Terendah sel/mm3 Ratarata sel/mm3 Sampel Darah EDTA segar Sampel Darah EDTA Ditunda 2jam Berdasarkan tabel 3 diperoleh jumlah leukosit darah EDTA segar memiliki nilai 250 sel/mm3 dan nilai tertinggi 8. 700 sel/mm3 dengan rata- rata 6. sel/mm3. Sedangkan pada darah EDTA yang ditunda selama 2 jam memiliki nilai 550 sel/mm3 dan nilai tertinggi 7. 350 sel/mm3 dengan rata-rata 5. Page | 126 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 sel/mm3. Selisih antara jumlah leukosit darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam adalah 811 sel/mm 3. Menurut Muslim . , darah EDTA sebaiknya disimpan pada suhu 4oC dan segera dilakukan pemeriksaan, akan tetapi penyimpanan pada suhu 4oC selama 24 jam atau lebih dari 2 jam pada suhu ruang . 5oC) akan mengakibatkan nilai hematokrit, volume eritrosit rata-rata (VER) meningkat dan konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata (KHER) menurun. Lama maksimal penyimpanan darah EDTA untuk pemeriksaan hitung jumlah leukosit pada suhu ruang adalah 2 jam (Darmadi & Sari, 2018 as cited in Kiswari, 2. Menurut Depkes . , darah EDTA untuk hitung jumlah leukosit pada suhu ruang maksimal ditunda selama 2 jam. Waktu penundaan lebih dari 2 jam pada suhu ruang dapat mempengaruhi jumlah leukosit. Selama penundaan sel-sel darah mengalami perubahan biokimiawi, biomekanis dan terjadi suatu reaksi imunologis yang menyebabkan terjadinya kerusakan struktural atau morfologi, dan juga konsentrasi antikoagulan yang tidak tepat bisa juga menyebabkan gangguan tonisitas sehingga terjadi pembengkakan sel dan hemolisis (Darmadi & Sari, 2018 as cited in Ekanem et al, 2012. Rosyidah et al, 2. Hasil Analisis Bivariat Berikut disajikan pengolahan data hasil uji normalitas, uji homogenitas dan uji statistik jumlah leukosit darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 Tabel 4. Hasil Uji Normalitas dan Homogenitas Perlakuan Hasil Uji Hasil Uji Normalitas Homogenitas Sampel Darah EDTA segar 0,200 0,231 Sampel Darah EDTA ditunda 2 jam 0,058 Dari tabel 4 untuk data hasil penelitian dilakukan uji Normalitas dan Homogenitas terhadap jumlah leukosit menggunakan aplikasi SPSS untuk melihat apakah data nilai jumlah leukosit pada darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam berdistribusi normal atau tidak dan memiliki varian yang sama atau berbeda. Setelah dilakukan uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov, didapatkan hasil pada pemeriksaan jumlah leukosit pada darah EDTA segar yaitu nilai 200 dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam didapatkan nilai sig 0. 058 berarti nilai sig > 0. 05 artinya data hasil pemeriksaan jumlah leukosit berdistribusi normal. Data yang berdistribusi normal kemudian dilakukan uji homogenitas, hasil uji homogenitas pada pemeriksaan jumlah leukosit pada darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda pemeriksaannya selama 2 jam didapatkan nilai sig 0,231 yang berarti nilai sig > 0. 05 artinya ditetapkan data homogen dimana data penelitian berasal dari varian yang sama. Tabel 5. Hasil Uji Statistik Rata-rata Standar sel/mm3 Deviation (SD) Sampel Darah EDTA Segar 978,413 Sampel Darah EDTA Ditunda 2 jam 768,115 Perlakuan Ttabel 2,744 Thitung 0,015 Dilihat pada Tabel 5, berdasarkan perhitungan data yang dilakukan secara uji statistik dengan uji Paired T-test maka didapatkan hasil rata-rata jumlah leukosit darah EDTA segar sejumlah 6. 731 sel/mm3 dengan SD 978,413 dan rata-rata jumlah leukosit darah EDTA dengan penundaan selama 2 jam sejumlah 5. 850 sel/mm3 dengan SD Page | 127 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 Dimana nilai rata-rata jumlah leukosit darah EDTA segar dan darah EDTA dengan penundaan selama 2 jam lebih besar dari nilai SD. Standar deviasi atau simpang baku adalah suatu nilai yang digunakan untuk menentukan persebaran data suatu sampel dan melihat seberapa dekat data-data tersebut dengan nilai mean. Semakin besar nilai standar deviasi maka semakin tidak akurat dengan rata-rata, sebaliknya semakin kecil standar deviasi maka semakin akurat dengan rata-rata (Meiryani, 2. Hasil uji statistik didapatkan nilai T hitung . 015 dengan T tabel 2. nilai T hitung . ini lebih kecil dari . dimana p value < 0. 05 yaitu sig 015 yang menunjukkan bahwa hipotesis Ha diterima sehingga ada perbedaan jumlah leukosit darah EDTA segar dan darah EDTA yang ditunda selama 2 jam menggunakan metode manual Improved Neubauer. Maka dapat disimpulkan ada perbedaan antara jumlah leukosit darah EDTA segar dan ditunda 2 jam menggunakan metode manual Improved Neubauer. Menurut Gandasoebrata . , kesalahan- kesalahan pada hitung jumlah leukosit adalah jumlah darah yang dipipet tidak tepat, pengenceran larutan dan darah salah, tidak menghomogenkan pipet dengan segera setelah mengambil larutan Turk, tidak menghomogenkan pipet sebelum mengisi bilik hitung, tidak membuang beberapa tetes dari isi pipet sebelum mengisi bilik hitung, letak kaca penutup salah, bilik hitung atau kaca penutup kotor, salah menghitung sel, terjadi gelembung udara saat menghisap larutan turk, dan memakai pipet yang basah. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Darmadi & Sari . , yaitu rata-rata jumlah leukosit darah EDTA yang segera diperiksa sejumlah 6. sel/mm3 darah sedangkan rata- rata jumlah leukosit dengan penundaan selama 2 jam 780 sel/mm3 darah. Berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan hasil tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara jumlah leukosit yang diperiksa segera dan ditunda selama 2 jam menggunakan metode automatic Hematology Analyzer. Hasil penelitian Aristoteles & Puspitasari . juga menunjukkan hasil tidak ada perbedaan antara jumlah leukosit segera dan disimpan selama 6 jam. Penelitian ini didukung oleh Darmayani et al. , . yaitu rata-rata jumlah leukosit dengan metode manual Improved Neubauer sebesar 7. 575 sel/mm3, sedangkan rata-rata jumlah leukosit dengan metode Automatic Hematology Analyzer sebesar 8. sel/mm3. Setelah dilakukan analisis statistik yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara hitung jumlah leukosit dengan metode manual Improved Neubauer dan metode automatic Hematology Analyzer. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian pemeriksaan jumlah leukosit pada sampel darah EDTA segar dan sampel darah EDTA yang ditunda selama 2 jam diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Hasil uji Paired T-test didapatkan nilai T hitung . 0,015 (<0,. artinya adanya perbedaan yang signifikan antara hitung jumlah leukosit pada sampel darah EDTA segar dan sampel darah EDTA yang ditunda selama 2 jam. Hasil rata-rata pemeriksaan jumlah leukosit pada sampel darah EDTA segar adalah 6. 731 sel/mm 3 dengan standar deviasi 978,413. Hasil rata-rata pemeriksaan jumlah leukosit pada sampel darah EDTA dengan penundaan selama 2 jam adalah sejumlah 5. 850 sel/mm3 dengan standar deviasi 768,115. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidang pelayanan darah, khususnya tentang pemeriksaan jumlah leukosit pada sampel darah EDTA segar dan sampel darah EDTA dengan penundaan selama 2 jam. Selanjutnya dapat membandingkan hasil penelitian ini Page | 128 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 menggunakan alat automatic yaitu hematology analyzer untuk mendapatkan hasil yang DAFTAR PUSTAKA