Banque SyarAoi: Jurnal Ilmiah Perbankan Syariah 10 Nomor 2 Juli Ae Desember Siti Nurul Hikmah,Volume : Analisis Perbandingan Efisiensi. P-ISSN: 2460-9765. E-ISSN: 2654-5993 Page: 131 - 144 ANALISIS PERBANDINGAN EFISIENSI PADA BANK SYARIAH DI INDONESIA DAN MALAYSIA DENGAN PENDEKATAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) Siti Nurul Hikmah1. Mukhlishotul Jannah2. Elsa3 1 2 3 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia Corresponding E-mail: elsa. febi@uinbanten. Abstract This study analyzes the efficiency of Islamic banks in Indonesia and Malaysia from 2019 to 2022 using the Data Envelopment Analysis (DEA) method. The input variables include total assets, equity, and operational costs, while the output variables are financing and net profit. By analyzing data from five Islamic banks in each country, this study compares efficiency levels, highlights changes during the COVID-19 pandemic, and identifies factors contributing to inefficiency. The analysis shows that some banks maintained full efficiency, while others experienced a decline due to increased operational costs and lower profitability, especially during the pandemic. This study aims to analyze the efficiency of Islamic banks in Indonesia and Malaysia using the Data Envelopment Analysis (DEA) method. The study uses financial data from Islamic banks in Indonesia and Malaysia from 2019 to 2022. The results show that Islamic banks in Indonesia have lower efficiency levels than those in Malaysia. Keywords: Islamic Bank. Efficiency. Data Envelopment Analysis. DEA. Abstrak Penelitian ini menganalisis efisiensi bank syariah di Indonesia dan Malaysia dari tahun 2019 hingga 2022 menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Variabel input meliputi total aset, ekuitas, dan biaya operasional, sementara variabel output adalah pembiayaan dan laba bersih. Dengan menganalisis data dari lima bank syariah di masing-masing negara, penelitian ini membandingkan tingkat efisiensi, menyoroti perubahan selama pandemi COVID-19, dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap inefisiensi. Analisis menunjukkan bahwa beberapa bank mempertahankan efisiensi penuh, sementara yang lain mengalami penurunan efisiensi karena peningkatan biaya operasional dan profitabilitas yang lebih rendah, terutama selama pandemi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi Bank Syariah di Indonesia dan Malaysia menggunakan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Banque SyarAoi: Jurnal Ilmiah Perbankan Syariah Vol. 10 No. 2 Juli Ae Desember 2024 Penelitian ini menggunakan data keuangan Bank Syariah di Indonesia dan Malaysia tahun 2019-2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Syariah di Indonesia memiliki tingkat efisiensi yang lebih rendah dibandingkan dengan Bank Syariah di Malaysia. Kata Kunci: Bank Syariah. Efisiensi. Data Envelopment Analysis. DEA. PENDAHULUAN Perkembangan ekonomi Islam secara global telah menunjukan pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Negara-negara dengan populasi mayoritas muslim dan pusat keuangan islam, seperti Malaysia dan Uni Emirat Arab memainkan peran penting dalam mengembangkan ekonomi berbasis prinsip syariah. Penerapan produk keuangan syariah seperti sukuk dan takaful juga semakin meluas di berbagai pasar global. Para ekonom barat juga mulai menyadari keberadaan ekonomi Islam sebagai salah satu ilmu ekonomi yang menambah sejuk perekonomian dunia, dimana mereka meyakini bahwa ekonomi Islam dapat menjadi sistem perekonomian alternatif dan dapat lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sistem ekonomi sosialis jelas tidak mampu meningkatkan kesejahteraan. Salah satu bagian dari ekonomi Islam yang berkembang saat ini adalah perbankan syariah. Perbankan syariah mampu menghadirkan inovasi dalam solusi keuangan, terutama bagi masyarakat muslim yang ingin melakukan transaksi dalam era modern tanpa mengabaikan nilai-nilai etis dalam perbankan. Hal tersebut dikarenakan masyarakat dunia mulai sadar akan kehadiran Bank Syariah yang dapat bertahan dalam menghadapi krisis global. Islam memperkenalkan prinsip-prinsip muamalah Islam untuk menghindari penggunaan sistem bunga dalam pengoperasian bank. Ini berarti bank islam merupakan solusi alternatif terhadap masalah pertentangan antara bunga bank dan riba. Pandemi covid-19 yang datang ke Indonesia pada 2 maret 2020 telah diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar atau yang disebut dengan PBB pada Siti Nurul Hikmah, dkk. : Analisis Perbandingan Efisiensi. 10 April 2020. Selain Indonesia, pandemi yang sedang dihadapi oleh seluruh dunia ini juga mengurangi interaksi antar negara sehingga menyebabkan anjloknya beberapa indikator ekonomi. Di Indonesia, lembaga keuangan syariah telah mengalami perkembangan yang positif. Pemerintah Indonesia aktif dalam mendukung pertumbuhan sektor keuangan syariah melalui kebijakan yang mendukung, termasuk pengenalan berbagai produk dan instrumen keuangan syariah. Bank-bank syariah di Indonesia telah berkembang pesat dan pasar modal syariah juga semakin aktif dengan pertumbuhan sukuk syariah tetapi relatif lamban dibanding Malaysia karena belum didukung oleh keberadaan regulasi perbankan syariah yang memadai. Produk dan pertumbuhan modal Indonesia agak lambat jika dibandingkan Malaysia dalam industri perbankan Islam. Ini kontras dengan fakta bahwa perbandingan Indonesia sebagai negara raksasa dengan lebih dari 270 juta penduduk dan lebih dari 90% mereka adalah muslim sementara Malaysia memiliki populasi sekitar 30 juta orang dan 16 juta dari mereka adalah muslim. Dengan begitu. Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, sudah selayaknya menjadi kiblat pengembangan keuangan syariah di dunia. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, perbankan syariah tentunya harus memahami sejauh mana efisiensi kinerjanya. Efisiensi adalah proses dimana perusahaan menggunakan sumber dayanya . untuk menghasilkan produk atau jasa yang diinginkan . Pengukuran efisiensi Bank Syariah dinilai penting karena dapat mendorong perkembangan sektor perbankan syariah agar membuahkan hasil yang baik dan meningkatkan pangsa pasar. Faktor yang mempengaruhi efisiensi bank yaitu aset. Ukuran total aset adalah faktor yang memengaruhi seberapa efisien suatu Semakin besar total asetnya, maka semakin tinggi tingkat efisiensi bank Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai tingkat efisiensi perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia, mengingat pentingnya efisiensi dalam mendukung Banque SyarAoi: Jurnal Ilmiah Perbankan Syariah Vol. 10 No. 2 Juli Ae Desember 2024 keberlanjutan dan daya saing bank syariah di pasar yang semakin kompetitif. Efisiensi dalam perbankan mengacu pada bagaimana sebuah bank menggunakan sumber daya yang ada . untuk menghasilkan output yang maksimal, seperti pembiayaan dan laba bersih. Untuk mengukur tingkat efisiensi, pendekatan Data Envelopment Analysis (DEA) dapat digunakan karena mampu memberikan analisis yang komprehensif dalam mengevaluasi kinerja bank syariah. LITERATUR REVIEW Efisiensi Bank Syariah Efisiensi dalam konteks perbankan mengacu pada kemampuan bank dalam mengelola sumber daya secara optimal untuk menghasilkan output maksimal. Dalam sektor perbankan syariah, efisiensi tidak hanya mencakup aspek keuangan, tetapi juga mempertimbangkan prinsip-prinsip syariah yang harus diikuti dalam operasional bank. Efisiensi operasional bank syariah menjadi penting karena dapat mempengaruhi kestabilan dan pertumbuhan sektor perbankan syariah, khususnya dalam menghadapi tantangan ekonomi dan pasar yang kompetitif (Sufian & Habibullah, 2. Menurut Al-Muharrami Matthews . , mempertimbangkan dua elemen utama untuk mencapai efisiensi: pertama, pengelolaan biaya operasional yang efektif, dan kedua, pengelolaan portofolio pembiayaan yang sesuai dengan prinsip syariah. Penelitian yang dilakukan oleh Srairi . menemukan bahwa efisiensi bank syariah di berbagai negara dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal seperti regulasi pemerintah dan kondisi ekonomi makro. Data Envelopment Analysis (DEA) dalam Pengukuran Efisiensi Data Envelopment Analysis (DEA) adalah salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mengukur efisiensi relatif bank dan lembaga keuangan lainnya. DEA memungkinkan analisis efisiensi tanpa memerlukan asumsi fungsi produksi yang kaku, sehingga cocok digunakan untuk mengukur kinerja relatif bank syariah dengan Siti Nurul Hikmah, dkk. : Analisis Perbandingan Efisiensi. berbagai ukuran input dan output (Charnes. Cooper, & Rhodes, 1. Beberapa penelitian menggunakan DEA untuk membandingkan efisiensi antara bank-bank di negara berkembang, termasuk Indonesia dan Malaysia. Menurut Hossain dan Mollah . DEA digunakan untuk menganalisis efisiensi bank syariah di Bangladesh dan menunjukkan bahwa bank yang lebih besar cenderung lebih efisien karena kemampuan mereka untuk mengurangi biaya operasional. Selain itu. DEA dapat membantu untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap inefisiensi dalam operasi bank syariah, seperti biaya operasional yang tinggi dan rendahnya profitabilitas. Di Indonesia dan Malaysia, beberapa penelitian sebelumnya telah menggunakan DEA untuk menganalisis efisiensi bank syariah. Misalnya, penelitian oleh Nurbayani . mengungkapkan bahwa bank syariah di Indonesia mengalami penurunan efisiensi selama periode krisis ekonomi global 2008, yang disebabkan oleh ketidakstabilan pasar dan penurunan nilai aset. Sebaliknya, penelitian oleh Hasan dan Ashaari . menunjukkan bahwa bank syariah di Malaysia lebih stabil dan efisien, terutama setelah penerapan regulasi yang lebih ketat dari Bank Negara Malaysia (BNM). Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Efisiensi Bank Syariah Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap sektor perbankan global, termasuk bank syariah. Penurunan permintaan pasar, gangguan mempengaruhi efisiensi operasional bank. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sektor perbankan menghadapi kesulitan untuk mempertahankan profitabilitas dan efisiensi operasional selama pandemi. Penelitian oleh Iqbal dan Mollah . menunjukkan bahwa bank-bank syariah di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia dan Malaysia, mengalami Banque SyarAoi: Jurnal Ilmiah Perbankan Syariah Vol. 10 No. 2 Juli Ae Desember 2024 penurunan efisiensi operasional karena meningkatnya biaya operasional dan penurunan laba akibat pembatasan sosial dan ketidakpastian pasar. Di sisi lain, beberapa bank syariah dapat mengadopsi teknologi digital untuk memperbaiki efisiensi dan tetap mempertahankan kualitas layanan kepada nasabah mereka. Di Indonesia, penelitian oleh Haryanto dan Yusuf . menunjukkan bahwa meskipun bank syariah menghadapi penurunan efisiensi selama pandemi, mereka berhasil menyesuaikan model bisnis dan operasi mereka dengan menggunakan layanan perbankan digital untuk mengurangi interaksi fisik dan biaya operasional yang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Inefisiensi Bank Syariah Inefisiensi dalam bank syariah dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk manajemen internal yang buruk, biaya operasional yang tinggi, dan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bank yang lebih besar cenderung memiliki efisiensi yang lebih tinggi karena skala ekonomi, namun mereka juga lebih rentan terhadap ketidakstabilan pasar. Faktor lain yang berkontribusi terhadap inefisiensi adalah keterbatasan dalam akses teknologi dan sistem informasi yang canggih. Bank-bank yang tidak mampu berinovasi dalam penggunaan teknologi sering kali tertinggal dalam hal efisiensi operasional (Hassan, 2. Selain itu, struktur pembiayaan yang lebih konservatif dan ketat dapat membatasi kemampuan bank untuk beradaptasi dengan permintaan pasar yang dinamis, seperti yang terlihat dalam beberapa bank syariah di Indonesia selama masa krisis. Perbandingan Efisiensi Bank Syariah di Indonesia dan Malaysia Penelitian mengenai efisiensi bank syariah di Indonesia dan Malaysia menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja bank syariah di kedua negara. Bank syariah di Malaysia cenderung lebih efisien karena dukungan regulasi yang lebih Siti Nurul Hikmah, dkk. : Analisis Perbandingan Efisiensi. kuat, infrastruktur keuangan yang lebih maju, dan adopsi teknologi yang lebih baik dibandingkan dengan Indonesia (Hasan & Ashaari, 2. Sebaliknya, bank syariah di Indonesia menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mengelola efisiensi karena ketergantungan pada biaya operasional yang tinggi dan ketidakpastian pasar. Namun, meskipun bank syariah di Indonesia memiliki tingkat efisiensi yang lebih rendah, mereka telah menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi pasar yang sulit, terutama melalui peningkatan layanan digital dan produk inovatif yang lebih sesuai dengan kebutuhan nasabah. Penelitian oleh Taufiq dan Sari . menunjukkan bahwa bank syariah di Indonesia mulai mengadopsi model bisnis yang lebih fleksibel untuk meningkatkan efisiensi operasionalnya. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA) dengan model Variable Return to Scale (VRS) untuk mengukur efisiensi relatif bank syariah. Variabel input meliputi total aset, ekuitas, dan biaya operasional. Variabel output terdiri dari pembiayaan dan laba bersih. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian dengan metode kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penyelidikan suatu masalah sosial berdasarkan pengujian suatu teori yang terdiri dari variabel-variabel, diukur dalam angka-angka dan dianalisis menggunakan prosedur statistik untuk menentukan apakah generalisasi prediktif teori tersebut benar atau tidak. Adapun dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Sumber Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari laporan keuangan dipublikasi oleh laporan keuangan pada Bank Syariah di Indonesia dan Malaysia tahun 2019-2022. HASIL DAN PEMBAHASAN Bank Syariah merupakan bank yang kegiatannya mengacu pada hukum islam dan dalam kegiatannya tidak membebankan bunga maupun tidak membayar bunga Banque SyarAoi: Jurnal Ilmiah Perbankan Syariah Vol. 10 No. 2 Juli Ae Desember 2024 kepada nasabah. Imbalan Bank Syariah yang diterima maupun yang dibayarkan pada nasabah tergantung dari akad dan perjanjian yang dilakukan oleh pihak nasabah dan pihak bank. Perjanjian atau akad yang terdapat di perbankan syariah harus tunduk pada syarat dan rukun akad sebagaimana diatur dalam syariat islam. Hasil rata-rata nilai efisiensi Bank Syariah di Malaysia selama 4 tahun lebih tinggi dibandingkan Bank Syariah di Indonesia. Pada tahun 2019 nilai efisiensi yang diperoleh Bank Syariah di Indonesia 100% sedangkan pada Bank Syariah di Malaysia sebesar 98%, perolehan nilai tersebut tidak terlalu jauh, hanya selisih 2%. Pada tahun 2020 nilai efisiensi yang diperoleh Bank Syariah di Indonesia dan di Malaysia cukup jauh berbeda karena selisih 9%. Masing-masing memperoleh data-rata sebesar 89% untuk Bank Syariah Indonesia dan 98% pada Bank Syariah Malaysia. Maka ketika Covid-19 menyebabkan krisis ekonomi di Indonesia berdampak pula pada perbankan syariah karena mengalami ketidakstabilan dalam pencapaian kinerjanya. Kemudian pada 2021 dari kelima Bank Syariah di Indonesia tidak mengalami perubahan dari sebelumnya yaitu tetap di angka sebesar 89%. Sementara pada Bank Syariah di Malaysia mengalami kenaikan nilai rata-rata sebesar 1%, dari sebelumnya 98% menjadi 99%. Kondisi Bank Syariah di Malaysia di tahun 2021 mulai menunjukkan kinerja yang baik dibandingkan dengan Bank Syariah di Indonesia yang masih tetap sama dari Artinya di tahun kedua Covid-19 bank masih belum mempunyai solusi untuk beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang sedang krisis. Selain itu ketetapan rata-rata juga disebabkan oleh dua Bank Syariah yaitu Bank Muamalat dan Bank BJB Syariah dikarenakan mengalami penurunan nilai secara signifikan. Pada tahun 2022, kondisi ekonomi di Indonesia mulai ada perbaikan. Terjadi peningkatan rata-rata nilai efisiensi pada Bank Syariah di Indonesia Tetapi dari besaran nilai memang lebih tinggi rata-rata efisiensi Bank Syariah di Malaysia sebesar 99%, dibandingkan Bank Syariah di Indonesia yaitu hanya 91%, yang artinya terdapat perbedaan sebesar 8%. Dikarenakan ditahun 2022 bank yang efisien yaitu Bank Syariah di Malaysia. Apabila diukur dari perbandingan rata-rata efisiensi. Bank Syariah di Siti Nurul Hikmah, dkk. : Analisis Perbandingan Efisiensi. Malaysia lebih tinggi dibanding Bank Syariah di Indonesia nilainya lebih rendah. Hal tersebut berarti Bank Syariah di Malaysia lebih mampu mempertahankan kinerjanya dari segi efisiensi karena dapat mengalokasikan penggunaan sumber daya input untuk tetap mencapai output yang diharapkan. Sedangkan bagi Bank Syariah di Indonesia mengalami ketidakstabilan kinerja selama 2019-2022. KESIMPULAN Perbandingan efisiensi pada Bank Syariah di Indonesia dan Malaysia pada tahun 2019-2022 tingkat efisiensinya cenderung fluktuaktif. Namun secara umum hasil yang didapat Bank Syariah di Malaysia masih lebih baik jika dibandingkan dengan Bank Syariah di Indonesia. Bank Sayriah di Malaysia memperoleh rata-rata efisiensi selama tahun 2019-2022 sebesar 98,5% dan Bank Syariah di Indonesia memperoleh sebesar 92,25%. Ini dikarenakan Bank Syariah di Malaysia meningkat dan stabil walau dibawah nilai 100%, berbeda dengan Bank Syariah di Indonesia yang menurun cukup signifikan sehingga tiga tahun terakhir nilainya berada dibawah Bank Syariah Malaysia. REFERENSI