NUSANTARA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 5 Nomor 3. Agustus 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 274-283 DOI: https://doi. org/10. 55606/nusantara. Available online at: https://prin. id/index. php/nusantara Penerapan Teknik Sinematografi oleh Director of Photography pada Video Feature AuIbu untuk BumiAy Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan Application of Cinematographic Techniques by the Director of Photography in the Video Feature "Mother for the Earth" with the Theme of Sustainable Lifestyle Ikhwan Amar Mahesa1*. Toto Sugito2. Andri Yanto3 Universitas Padjadjaran. Indonesia Alamat : Unpad Jatinangor Jl. Raya Bandung - Sumedang No. Km. Cikeruh. Jatinangor. Kabupaten Sumedang. Jawa Barat 45363. Indonesia Korespondensi penulis : ikhwan21001@mail. Article History: Received: Juni 29, 2025. Revised: Juli 13, 2025. Accepted: Juli 27, 2025. Online Available: Juli 29, 2025 Keywords: Angle. Cinematography. Close-up. Composition. Lighting This final project aims to examine how cinematographic techniques are applied by the Director of Photography (DoP) to enhance the delivery of visual messages in the feature video "Ibu untuk Bumi", which highlights the role of mothers in shaping sustainable lifestyle habits within the family. This research employs a qualitative approach using a production study method. The author was directly involved as the DoP, designing the visual concept from preproduction to post-production. The analyzed elements include composition arrangement, camera angle selection, shot type, camera movement, and lighting. Shots such as medium shots and close-ups were used to build emotional closeness between the subject and the audience. The lighting system combined key light, fill light, and back light to create a natural atmosphere that supports the narrative. The results show that consciously designed cinematographic techniques can reinforce the message of a feature video, especially when the visual narrative focuses on everyday life relatable to the audience. This work demonstrates that the DoP plays a vital role in delivering social messages and shaping a reflective and empathetic viewing experience. Abstrak. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana teknik sinematografi diterapkan oleh Director of Photography (DoP) dalam memperkuat penyampaian pesan visual pada video feature AuIbu untuk BumiAy, yang menyoroti peran ibu dalam membentuk kebiasaan hidup berkelanjutan dalam keluarga. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi produksi karya cipta. Penulis terlibat langsung sebagai DoP, merancang konsep visual sejak tahap pra produksi hingga pasca produksi. Elemen yang dianalisis meliputi penataan komposisi, penentuan angle kamera, pemilihan jenis shot, pergerakan kamera, hingga pencahayaan. Penggunaan shot seperti medium shot dan close up digunakan untuk membangun kedekatan emosional antara tokoh dan Sistem pencahayaan yang digunakan berupa kombinasi key light, fill light, dan back light untuk membentuk suasana yang natural dan mendukung narasi. Hasil menunjukkan bahwa teknik sinematografi yang dirancang secara sadar dapat memperkuat nilai pesan video feature, terutama ketika narasi visual diarahkan pada kehidupan sehari-hari yang dekat dengan audiens. Karya ini membuktikan bahwa DoP memegang peran penting dalam menyampaikan pesan sosial dan membentuk pengalaman menonton yang reflektif dan empatik. Kata kunci: Sudut. Sinematografi. Close-up. Komposisi. Pencahayaan LATAR BELAKANG Sampah plastik telah menjadi isu lingkungan global yang mendesak karena dampaknya yang jangka panjang terhadap ekosistem. Di Indonesia, menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK, 2. , pengelolaan sampah nasional menunjukkan Penerapan Teknik Sinematografi oleh Director of Photography pada Video Feature AuIbu untuk BumiAy Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan bahwa plastik merupakan salah satu jenis sampah terbanyak dengan tingkat daur ulang yang masih rendah. Realitas ini mendorong perlunya perubahan gaya hidup masyarakat menuju perilaku yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Salah satu pendekatan yang dinilai efektif dalam menyuarakan isu lingkungan adalah melalui narasi visual berbasis human interest. Sebagaimana disampaikan oleh Nuramalina . , feature yang mengangkat kisah manusia memiliki kekuatan emosional yang mampu menyampaikan pesan dengan lebih menyentuh dan persuasif. Pesan keberlanjutan tidak cukup hanya disampaikan secara informatif, melainkan juga membutuhkan pendekatan yang membumi agar mampu menciptakan suasana emosional bagi penonton. Dalam konteks kehidupan domestik, peran ibu memegang posisi strategis dalam membentuk perilaku dan kesadaran anak. Anggaraini . menegaskan bahwa keterlibatan orang tua, khususnya ibu, sangat memengaruhi kemandirian dan karakter anak sejak usia dini. Hal ini diperkuat oleh temuan Abduh et al. yang mengungkapkan bahwa masyarakat tradisional seperti Suku Baduy menerapkan gaya hidup berkelanjutan melalui pembiasaan dan keteladanan orang tua. Dengan demikian, ibu bukan hanya sebagai pengelola rumah tangga, tetapi juga sebagai agen perubahan lingkungan dalam lingkup keluarga. Sebagai media visual, video feature memiliki kemampuan menyampaikan pesan keberlanjutan secara lebih imersif melalui teknik sinematografi. Dewi dan Hadian . menyatakan bahwa teknik pengambilan gambar seperti komposisi, angle, dan pencahayaan mampu menambah makna emosional dan simbolik pada narasi visual. Pendapat ini diperkuat oleh Baihaqi dan Ibrahim . yang menyebut bahwa sinematografi bukan hanya mendukung estetika, tetapi juga menjadi sarana menyampaikan pesan-pesan sosial secara tersirat namun kuat. Meskipun sejumlah penelitian telah membahas tentang sinematografi dalam film pendek atau dokumenter, masih sedikit kajian yang secara khusus menyoroti bagaimana teknik sinematografi dapat digunakan untuk menyampaikan pesan keberlanjutan melalui narasi domestik yang berfokus pada peran ibu. Inilah yang menjadi kebaruan dari penelitian ini, yaitu menyatukan pendekatan human interest, isu lingkungan, dan strategi visual dalam satu karya feature yang mengangkat peran ibu sebagai penggerak gaya hidup berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses kreatif dan penerapan teknik sinematografi dalam video feature berjudul AuIbu untuk BumiAy. Penulis, yang berperan sebagai Director of Photography, memfokuskan perhatian pada bagaimana sinematografi digunakan tidak hanya sebagai alat visual, tetapi juga sebagai instrumen naratif untuk membangun emosi, konteks, dan pesan keberlanjutan secara intim dan bermakna. Melalui perencanaan visual yang NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 274-283 matang, pemilihan shot, pengaturan pencahayaan, serta strategi kamera yang adaptif terhadap kendala teknis di lapangan, karya ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap praktik produksi feature yang empatik sekaligus komunikatif. KAJIAN TEORITIS Video feature sebagai salah satu bentuk jurnalisme visual memiliki kekuatan untuk menyampaikan informasi tidak hanya melalui narasi verbal, tetapi juga melalui elemen visual yang mampu membangkitkan emosi dan pemahaman mendalam terhadap isu yang diangkat. Menurut Sujana . , video feature merupakan produk jurnalistik yang mengedepankan unsur human interest, dengan penyajian yang mendalam dan berfokus pada tokoh serta aspek emosional di balik sebuah peristiwa atau isu. Salah satu aspek penting dalam penciptaan video feature adalah sinematografi. Teknik sinematografi meliputi pengambilan gambar . , pergerakan kamera, pencahayaan, hingga komposisi visual yang berfungsi untuk memperkuat narasi dan membentuk atmosfer emosional dalam cerita (Baihaqi & Ibrahim, 2. Pemilihan shot seperti close up, medium shot, hingga extreme close up tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga fungsional dalam membangun relasi antara penonton dan subjek (Dewi & Hadian, 2. Penempatan subjek dalam komposisi, arah cahaya, dan jenis gerakan kamera turut menentukan bagaimana pesan visual diterima oleh audiens. Penelitian oleh Susanti . menunjukkan bahwa penerapan sinematografi dalam film pendek dapat memengaruhi persepsi penonton terhadap pesan moral yang ingin disampaikan. Demikian pula, studi oleh Herwina. Daniar, dan Wardani . menyatakan bahwa teknik kamera dan shot yang tepat mampu meningkatkan daya tarik dan efektivitas pesan dalam konten edukasi lingkungan. Temuan-temuan ini memperkuat posisi sinematografi bukan sekadar aspek teknis, melainkan sebagai instrumen naratif yang strategis. Penelitian ini berangkat dari pengamatan terhadap minimnya karya video feature bertema keberlanjutan yang memanfaatkan pendekatan visual berbasis ruang domestik dan hubungan ibu dengan anak. Sebagian besar konten bertema lingkungan cenderung menggunakan pendekatan faktual atau dokumenter berbasis data, yang meskipun informatif, kerap kali kurang membangun kedekatan emosional dengan penonton (Nuramalina, 2021. Rohima et al. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan pendekatan visual yang lebih empatik melalui perspektif human interest. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana penerapan teknik sinematografi dapat memperkuat penyampaian pesan dalam video feature bertema keberlanjutan melalui Penerapan Teknik Sinematografi oleh Director of Photography pada Video Feature AuIbu untuk BumiAy Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan narasi visual yang intim, personal, dan membumi. Penelitian ini juga menjadi kontribusi terhadap penerapan sinematografi dalam video jurnalistik dengan memberikan alternatif pendekatan produksi yang tidak hanya mengutamakan estetika, tetapi juga mendalam secara kontekstual dan emosional. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi produksi. Menurut Sugiyono . , pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami fenomena secara mendalam dalam konteks alami dan melalui perspektif partisipan, sehingga sangat relevan digunakan dalam penelitian yang menekankan proses dan makna. Dalam konteks ini, desain penelitian menempatkan proses produksi karya video feature sebagai pusat kajian, dengan fokus pada penerapan teknik sinematografi oleh penulis selaku Director of Photography. Penelitian dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yaitu pra-produksi, produksi, dan pasca produksi, yang masing-masing dianalisis berdasarkan bagaimana elemen sinematografi digunakan untuk menyampaikan pesan tematik secara visual. Subjek dalam penelitian ini adalah proses produksi video feature berjudul AuIbu untuk BumiAy, yang mengangkat dua tokoh ibu rumah tangga dengan latar gaya hidup yang berbeda dalam konteks keberlanjutan, serta komunitas kreatif Wayang Plastik yang aktif dalam kegiatan edukasi daur ulang sampah plastik. Lokasi pengambilan gambar mencakup ruangruang domestik seperti rumah dan dapur, studio komunitas, hingga area publik, yang dipilih karena relevan dengan tema dan pesan cerita. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung selama proses produksi, pencatatan teknis yang dilakukan oleh penulis sebagai pelaku produksi, dokumentasi visual seperti behind the scene, serta refleksi kreatif terhadap pengambilan keputusan sinematografi. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka mengenai teknik sinematografi dan referensi penelitian terdahulu yang relevan. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan menelaah hubungan antara penerapan teknik sinematografi termasuk komposisi gambar, gerak kamera, dan pencahayaan dengan muatan makna naratif dan emosional yang dibangun dalam karya. Penafsiran dilakukan dengan mempertimbangkan konteks produksi, arahan visual, serta respon emosional yang dituju dalam setiap adegan. Model studi produksi yang diterapkan dalam penelitian ini memungkinkan peneliti untuk menggali pengalaman kreatif secara reflektif, sehingga hasil penelitian bersifat aplikatif dan NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 274-283 memberikan kontribusi langsung terhadap pengembangan praktik produksi video feature dengan pendekatan sinematik yang tematik dan kontekstual. HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Produksi dan Peran Director of Photography Proses produksi video feature AuIbu untuk BumiAy merupakan kerja kreatif yang mengintegrasikan tahapan pra-produksi, produksi, hingga pasca produksi dengan pendekatan sinematik yang terencana. Penulis sebagai Director of Photography (DoP) memegang peran sentral dalam menjembatani visi sutradara dengan pencapaian visual yang konkret di layar. Pada tahapan pra-produksi, penulis berkontribusi dalam merancang desain visual yang mencakup shot list, storyboard, referensi, hingga analisis lokasi untuk menentukan pendekatan pencahayaan dan komposisi yang sesuai. Keputusan teknis dan artistik ini dibuat berdasarkan pertimbangan naratif yakni bagaimana gaya hidup berkelanjutan dapat divisualisasikan melalui keseharian dua sosok ibu dengan latar belakang dan pola asuh yang berbeda. Saat produksi berlangsung, peran DoP dituntut untuk menerjemahkan ide-ide naratif ke dalam bahasa visual yang kuat dan bermakna. Penulis secara aktif memimpin pengambilan gambar, menentukan lensa yang digunakan, pengaturan frame, serta pemilihan angle dan shot yang selaras dengan emosi adegan. Komposisi gambar menjadi aspek penting dalam menyampaikan pesan secara subtil namun mendalam. Gambar 1. Wawancara Psikolog Sumber: Tangkapan layar penulis Penerapan rule of third pada wawancara narasumber (Gambar . dilakukan untuk menciptakan keseimbangan visual sekaligus membangun ruang pandang yang mengarahkan fokus audiens ke ekspresi subjek. Komposisi lain seperti leading lines, diagonal, dan headroom dimanfaatkan untuk menegaskan dinamika ruang, relasi antar subjek, serta memberikan kedalaman pada setiap frame. Penerapan Teknik Sinematografi oleh Director of Photography pada Video Feature AuIbu untuk BumiAy Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan DoP juga bertanggung jawab atas penyampaian makna emosional melalui pemilihan jenis shot yang mendukung cerita. Shot close up dan extreme close up digunakan untuk menyoroti ekspresi emosional anak-anak saat workshop daur ulang, memperkuat aspek human interest dalam narasi. Sebaliknya, shot wide dimanfaatkan untuk menunjukkan skala partisipasi komunitas dan nuansa kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan kolektif. Beragam sudut kamera seperti high angle, eye level, dan low angle juga dipilih secara selektif untuk membentuk sudut pandang psikologis dan memperkuat impresi emosional penonton terhadap karakter yang ditampilkan. Selain itu, pergerakan kamera yang dirancang seperti tilt, panning, tracking shot, hingga handheld tidak hanya menjadi gaya visual, tetapi juga alat naratif yang menghidupkan pengalaman menonton. Gambar 2. Founder Wayang Plastik yang sedang mendongeng kepada anak-anak Sumber: Tangkapan layar penulis Penggunaan tracking shot pada adegan pewayang mengikuti pergerakan fasilitator menuju anak-anak (Gambar . , sehingga audiens merasakan kedekatan dan keterlibatan ruang secara langsung. Pergerakan kamera tidak hanya merekam aksi, tetapi menegaskan relasi fasilitator audiens dan dinamika sesi edukasi. Tracking shot di atas memperlihatkan kontinuitas ruang dan intensitas interaksi. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 274-283 Gambar 3. Seorang anak yang sedang fokus melukis karyanya Sumber: Tangkapan layar penulis Gerakan tilt up pada adegan anak melukis (Gambar . dibuka dari aktivitas tangan dengan karyanya di bagian bawah lalu naik ke wajah, menyusun alur informasi berurutan aksi lalu ekspresi. Gerak vertikal yang perlahan menautkan detail proses kreatif dengan konsentrasi subjek, sekaligus mengungkapkan fokus emosional tanpa memutus kontinuitas ruang. Dibanding cut in atau still close up, tilt up memberi eskalasi yang lebih natural dan persuasif terhadap pesan ketekunan anak dalam berkarya. Dalam aspek pencahayaan, penulis menerapkan prinsip three-point lighting untuk menciptakan dimensi visual yang seimbang, menonjolkan karakter wajah, dan membangun atmosfer yang mendukung narasi. Pada beberapa adegan, penggunaan key light, fill light, dan back light (Gambar . menjadi instrumen utama dalam mengarahkan perhatian penonton dan menonjolkan emosi karakter. Gambar 4. Wawancara Ibu 2 yang belum menerapkan gaya hidup berkelanjutan Sumber: Tangkapan layar penulis Penerapan prinsip three-point lighting pada wawancara ini menggunakan kombinasi key light, fill light, dan back light yang ditempatkan secara strategis untuk menciptakan komposisi pencahayaan seimbang. Teknik ini tidak hanya menonjolkan karakter wajah narasumber dengan jelas, tetapi juga memberikan kedalaman ruang serta atmosfer formal yang mendukung penyampaian pesan. Dari sudut pandang penulis, penggunaan pencahayaan ini berhasil menegaskan posisi narasumber sebagai pusat perhatian, sekaligus menghadirkan kesan profesional yang sesuai dengan konteks wawancara. Jika hanya mengandalkan satu sumber cahaya, kesan yang muncul cenderung datar dan kurang menonjolkan ekspresi emosional Penerapan Teknik Sinematografi oleh Director of Photography pada Video Feature AuIbu untuk BumiAy Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan Gambar 5. Ibu 1 yang sedang mengelap meja dengan kain Sumber: Tangkapan layar penulis Penggunaan pencahayaan alami dalam adegan ibu yang sedang membersihkan meja (Gambar . memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber utama. Teknik ini mendukung penciptaan kesan realisme, sederhana, dan selaras dengan tema keberlanjutan yang diangkat. Pencahayaan alami menghadirkan nuansa hangat yang autentik, seakan memperkuat keintiman aktivitas sehari-hari subjek tanpa rekayasa teknis berlebihan. Dari sudut pandang penulis, pilihan natural lighting lebih tepat dibanding penggunaan lampu buatan karena memberi kontinuitas visual dengan setting ruang, sekaligus menegaskan pesan keberlanjutan melalui pendekatan yang natural dan apa adanya. Peran Director of Photography dalam produksi ini tidak terbatas pada aspek teknis semata, tetapi juga melibatkan sensitivitas artistik dan kesadaran sosial untuk menyampaikan pesan keberlanjutan melalui medium visual. Penulis harus mampu menjaga kontinuitas estetika visual, berkoordinasi erat dengan tim produksi, serta menyesuaikan pendekatan sinematografi dengan dinamika lapangan yang seringkali berubah. Setiap keputusan visual yang diambil dari frame terkecil hingga pergerakan kamera berfungsi tidak hanya sebagai pelengkap estetika, tetapi juga sebagai penyampai pesan moral dan sosial yang menjadi inti dari narasi AuIbu untuk BumiAy. Tantangan Teknis dan Strategi Penyelesaiannya Proses produksi AuIbu untuk BumiAy tidak lepas dari berbagai kendala teknis yang menuntut fleksibilitas dan kemampuan problem solving. Salah satu tantangan utama muncul dari penggunaan dua kamera dengan karakteristik visual berbeda, yaitu Fujifilm XS-20 dan Sony A6400. Perbedaan dalam color science menyebabkan perbedaan tone warna meskipun pengaturan teknis seperti white balance dan ISO telah disamakan. Hal ini berdampak pada kontinuitas visual, terutama saat menggabungkan footage dari kedua kamera. Solusi yang diterapkan adalah penyesuaian warna melalui proses color correction dan color grading pada tahap pasca produksi. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 274-283 Keterbatasan ruang juga menjadi tantangan, terutama pada lokasi syuting di area dapur dan kamar yang terbatas. Penempatan lampu utama (GVM SD80D dengan softbo. membutuhkan perencanaan cermat agar pencahayaan tetap natural tanpa menimbulkan bayangan keras. Penulis menyiasatinya dengan menembakkan lampu utama (GVM SD80D dengan softbo. dari luar jendela serta menggunakan reflektor ke wajah subjek yang berfungsi untuk memantulkan cahaya halus dan mengurangi bayangan digunakan lighting portable sebagai cahaya pengisi. Pemilihan lensa berbukaan lebar (Sigma 30mm f/1. juga dimanfaatkan untuk menghasilkan depth of field yang kuat tanpa memerlukan banyak pergerakan kamera. Kendala tak terduga lainnya terjadi saat sesi komunitas Wayang Plastik, di mana hujan deras mengganggu kualitas audio. Mikrofon wireless tidak mampu menangkap suara dengan jernih, sehingga tim produksi memutuskan untuk mengubah urutan kegiatan dalam rundown memulai dengan workshop anak-anak terlebih dahulu, lalu melanjutkan sesi dongeng setelah hujan reda. Strategi ini tidak hanya menjaga kontinuitas narasi tetapi juga menyelamatkan kualitas hasil rekaman. Beberapa footage juga harus dieliminasi akibat kegagalan fokus, terutama pada pengambilan gambar B-roll. Subjek yang kabur atau tidak fokus memerlukan reshoot selektif untuk menjaga kualitas teknis. Penulis dan tim mengatur ulang jadwal dan menyesuaikan ulang pencahayaan agar visual pengganti tetap konsisten dengan estetika keseluruhan. Berbagai kendala ini menunjukkan bahwa proses produksi di ruang domestik yang dinamis membutuhkan koordinasi kru, kesiapan teknis, dan improvisasi yang sigap. Sebagai DoP, penulis tidak hanya fokus pada hasil visual, tetapi juga harus mampu merespons kondisi lapangan dengan solusi yang tepat guna menjaga keberlanjutan narasi dan kualitas artistik dalam karya. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran Director of Photography dalam proses produksi video feature AuIbu untuk BumiAy memiliki kontribusi signifikan terhadap keberhasilan penyampaian pesan visual yang bermakna secara tematik maupun emosional. Perencanaan sinematografi yang terstruktur dan penerapan teknik visual secara konsisten telah berhasil membentuk pengalaman menonton yang intim dan komunikatif. Penggunaan komposisi, pencahayaan, sudut pandang kamera, dan pergerakan gambar tidak hanya menciptakan estetika yang menarik, tetapi juga memperkuat narasi tentang keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini membuktikan bahwa sinematografi mampu Penerapan Teknik Sinematografi oleh Director of Photography pada Video Feature AuIbu untuk BumiAy Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan menjadi media yang efektif untuk mengangkat isu lingkungan secara personal, melalui pendekatan visual yang terarah dan peka terhadap konteks cerita. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar sinematografer dan pembuat film yang mengangkat tema sosial maupun lingkungan memprioritaskan perencanaan visual yang matang sejak awal produksi, dengan mempertimbangkan keseimbangan antara aspek teknis dan kedalaman naratif. Kepekaan terhadap situasi lapangan serta kemampuan beradaptasi dengan kendala teknis juga menjadi kunci dalam menjaga kualitas hasil visual. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada skala produksi dan keterbatasan perangkat, sehingga pada penelitian atau produksi selanjutnya, eksplorasi lebih lanjut terhadap teknik sinematografi dengan perangkat yang lebih kompleks, lokasi yang lebih variatif, serta genre yang berbeda sangat disarankan untuk memperkaya pendekatan visual dalam menyampaikan isu keberlanjutan kepada audiens yang lebih luas. DAFTAR REFERENSI Abduh. Nurhikmah. , & Saputra. Kearifan lokal dalam pola asuh masyarakat adat: Studi kasus Suku Baduy. Jurnal Sosial dan Budaya, 12. , 55-68. Aditya. , & Manesah. Penerapan pencahayaan dalam produksi visual berbasis Jurnal Estetika Visual, 4. , 88-97. Anggaraini. Peran ibu dalam pengembangan karakter anak usia dini: Perspektif pendidikan keluarga. Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak, 9. , 102-111. Baihaqi. , & Ibrahim. Peran sinematografi dalam penyampaian pesan sosial pada film pendek. Jurnal Komunikasi Visual, 7. , 45-59. Dewandra. , & Islam. Human interest dan visualisasi keberlanjutan dalam produksi film dokumenter. Jurnal Komunikasi dan Multimedia, 8. , 71-82. Dewi. , & Hadian. Teknik sinematografi sebagai elemen naratif dalam video feature: Analisis shot dan pencahayaan. Jurnal Sinema Nusantara, 6. , 33-49. Herwina. Daniar. , & Wardani. Efektivitas teknik kamera dalam konten edukasi lingkungan untuk anak-anak. Jurnal Media dan Edukasi, 5. , 64-76. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). Jakarta: KLHK. Lestari. , & Subechi. Pemanfaatan cahaya alami dalam produksi video ramah Jurnal Pencahayaan dan Media, 2. , 15-24. Mesa. Pratama. , & Setiyawan. Representasi keberlanjutan melalui simbol visual dalam karya sinema. Jurnal Ekspresi Visual, 3. , 77-90. NUSANTARA - VOLUME 5 NOMOR 3. AGUSTUS 2025 e-ISSN: 2962-4800. p-ISSN: 2962-360X. Hal 274-283 Nuramalina. Human interest dalam tayangan feature televisi: Strategi komunikasi Jurnal Ilmu Komunikasi, 10. , 89-101. Rohima. Astuti. , & Mahendra. Pendekatan visual dalam penyuluhan lingkungan melalui media dokumenter. Jurnal Komunikasi Lingkungan, 6. , 55-67. Sugiyono. Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D (Edisi ke-. Bandung: Alfabeta. Sujana. Video feature sebagai bentuk jurnalisme visual: Kajian struktur dan estetika naratif. Jurnal Jurnalistik dan Media, 12. , 23-38. Susanti. Pengaruh sinematografi dalam film pendek terhadap pemahaman pesan moral penonton. Jurnal Estetika Film, 4. , 112-125.