Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Comparison Of Characters And Characterization In Siti Nurbaya's Novel With Beach Girl Evi Ifanka Universitas Jambi eviifanka2000@gmail. INFORMASI ARTIKEL Riwayat Diterima: 1 Mei Direvisi: 20 Mei Disetujui: 31 Mei Kata Kunci Perbandingan Tokoh Penokohan Novel Key words Comparison Character ABSTRAK Berdasarkan temuan terkait persamaan tokoh dan penokohan pada novel Gadis Pantai dan Siti Nurbaya di atas, kesamaan paling nyata adalah dalam hal penderitaan perempuan akibat sistem sosial dan adat yang menindas. Baik Gadis Pantai maupun Siti Nurbaya menggambarkan sosok perempuan muda yang menjadi korban pernikahan paksa karena tekanan sosial dan ekonomi. Penderitaan mereka berawal dari keterpaksaan menikah dengan pria yang berstatus sosial lebih tinggi, yang dalam hal ini adalah Bendoro dan Datuk Maringgih. Abstract Based on the findings related to the similarities of characters and characterizations in the novels Gadis Pantai and Siti Nurbaya above, the most obvious similarity is in terms of women's suffering due to oppressive social systems and customs. Both Gadis Pantai and Siti Nurbaya depict young women who are victims of forced marriages due to social and economic pressures. Their suffering begins with being forced to marry men of higher social status, who in this case are Bendoro and Datuk Maringgih. Copyright A 2024 Evi Ifanka Pendahuluan Novel merupakan sebuah karya sastra tulis yang dibentuk menjadi dunia imajinatif, di dalamnya berisi model kehidupan yang disesukan dengan kenyataan , diidealkan, berbagai unsur intrinsik seperti tema, tokoh, plot, latar, sudut pandang, dan lainnya menjadi unsur pembangunnya yang juga bersifat Ranah . mengatakan bahwa novel menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang, luar biasa karena dari kejadian ini terlahir suatu konflik, suatu pertikaian yang mengalih jurusan nasib mereka. Dari kejadian itu menimbulkan pergolakan batin yang mengubah nasib tokohnya. Dalam hal ini, novel merupakan media yang dipilih untuk mengungkapkan ide apa yang diperoleh dan ingin diceritakan Dalam penelitian karya sastra dengan objek kajian novel, penelitian mengenai unsur intrinsic novel perlu dilakukan. Unsur instristik . adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. ( Nurgiyantoro: 2010 ) dalam penelitian ini unsur instrikti yang diteliti adalah tema. Tema merupakan inti dasar cerita. Sebuah tema dapat mengembangkan cerita menjadi sebuah Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 oleh karena itu, penelitian unsur intrinsic tema diperlukan sebelum melanjutkan pada penelitian isi novel yang lainnya. khusus dalam penelitian ini yang akan diteliti adalah pola cerita kawin paksa dalam novel gadis pantai. Penelitian ini mengenai tema dan cerita saling berkaitan karena pola cerita penggambaran yang dimiliki oleh tokoh, tema dan sebuah cerita terbangun. Bagi bangsa, sastra adalah alat penting sebagai penanda zaman, entah di zaman kerajaan , feodalisme, hindia belanda , revolusi, orde baru atau juga Sastrawan melahirkan karya yang dapat menjadi penjaga moralitas dan pembela masyarakat tertindas dan diskriminasi. Pembaca dapat melihat kondis suatu bangsa dan pemimpinnya hanya lewat membaca karya sastra. Bangsa Indonesia pernah melewati masa kelam yang berdarah, kolonialisme, imprealisme yang membelenggu selama beratus tahun juga setelah kemerdekaan penguasa memperlakukan rakyat kecil rakyat kecil secara tidak Sehingga lewat karya sastra generasi penerus bangsa dapat mengintip Kembali sejarah kelam tersebut. Tokoh adalah pelaku cerita , tokoh tidak selalu berwujud manusia tetapi tergantung pada siapa atau apa yang diceritakannya dalam cerita. Tokoh ada dua takni tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama selalu hadir di setiap kejadian yang terjadi di dalam cerita bisa ditemui setiap halaman (Apriyanti: tokoh utama dapat mendominasi segala hal yang ada pada cerita sehingga secara otomatis tokoh utama akan selalu berhubungan dengan tokoh tokoh yang lain. sehingga dalam hal ini para pembaca bisa menentukan sendiri mana tokoh utama dan mana tokoh tambahan. Unsur intrinsik menjadi salah satu unsur yang menarik dalam sebuah karya sastra novel dan menjadi salah satu landasan utama pengarang Ketika akan membuat cerita. Deskripsi yang tepat melukiskan unsur intrinsik yakni unsur tema dan tokoh . deskripsi fisik menggambarkan objek yang memakan ruang dan waktu , memiliki dimensi fisik seperti ukuran besar kecilnya , bentuk , gerak, kecepatan, dan tertangkap panca indra. Jadi semua unsur tentu sangat berpengaruh dalam semua novel. Umamy . menyebutkan bahwa karya sastra adalah sebuah pemikiran penulis terkait fenomena dan isu sosial yang ada di lingkungannya. Karya sastra adalah arsip sosial yang menggambarkan zaman dan Membaca karya sastra seperti menelusuri jejak masa lalu. Salah satu karya sastra adalah novel yang merupakan salah satu alat komunikasi dalam bentuk tulisan. Hal ini merujuk pada pemikiran Laswell : Who. Say That. In Which Channel. To Whom. With What Effect. Who adalah komunikasi dua arah, say what adalah isi pesan. In which channel melalui media apa seperti TV. Majalah . Radio, papan reklame atau sosial media . To Whom adalah sasaran komunikasi with what effect yaitu efek apa yang dihasilkan dari komunikasi. Umamy . Sudah sejak zaman kolonialisme novel berkembang di Indonesia, karya sastra ditampung oleh penerbit balai Pustaka dibawah kekuasaan kolonial belanda. Diantaranya penulis adalah T. Rooda dengan judul Raja Pirangun yang diterbitkan pada tahun 1844. Daeng Kandaruhan Baharuang Ka Ku Ngorara yang merupakan novel berbahasa sunda yang diterbitkan tahun 1920. Novel berbahasa Jawa Serat Riyanto yang ditulis oleh Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Raden Mas Suardi. Novel adalah sebuah pemikiran penulis yang menggunakan media tulisan yang memuat kebenaran menurut penulis. Kisah kisah yang ada dalam novel tidak nyata karena bersifat fiksi. Tapi ada karya novel yang ditulis berdasarkan karya nyata yakni Novel Historis. Novel Biografi dan Novel Sains. Salah satu novel sejarah yang menarik bagi peneliti adalah gadis pantai yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer , novel tersebut terisnpirasi dari kisah Karena kejamnya rezim orde baru, vandalisme, dan cara berfikir yang Kelanjutunya dari dua buku gadis pantai yang dilenyapkan dari berbagai alasan. Cerita ini mengkisahkan seorang gadis belia yang berasal dari pesisir pantai utara jawa yang dikawinkan dengan seorang pembesar rembang. Sehingga gadis pantai harus meninggalkan masa kanak-kanaknya dan beradaptasi dengan lingkungan baru dirumah besar bangsawan yang penuh aturan dan etika priyayi namun tugas yang paling utama adalah memenuhi kebetuhan seks bendoro . Dengan perkawinan itu dapat menaikkan prestise gadis pantai di kampungnya karena diperistri oleh seorang pembesar yang bekerja di administrasi belanda. Gadis pantai menjadi teman tidur bendoro sampai ia menemukan Wanita dari kalangan yang sederajat kemudian gadis pantai diceraikan setelah melahirkan anak perempuan. Novel ini masuk ke dalam kategori sosial-kritis . tentang nasib seorang perempuan belia yang terjebak dalam budaya patriarki dan feudal jawa yang digambarkan menjadi pengabdi laki-laki dan tidak punya wewenang atas jalan kehidupan sendiri. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif komparatif. Penelitian komparatif adalah penelitian yang membandingkan keberadaan suatu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda pada waktu yang berbeda (Sugiyono, 2014: . Pendekatan ini sesuai dengan objek yang akan diteliti, karena akan membandingkan dua objek novel yakni Gadis Pantai dan Siti Nurbaya dengan melihat persamaan dan perbedaan yang terjadi pada struktur Penelitian komparatif bersifat deskriptif, sehingga dalam penelitian ini data yang dikumpulkan berupa peristiwa atau keadaan yang ada pada objek penelitian (Moleong, 2011:. Metode mendeskripsikan tentang perbandingan setiap peristiwa atau keadaan novel Gadis Pantai dan Siti Nurbaya yang dilihat melalui teori sastra perbandingan antara dua objek tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini perlu pendekatan strukturalisme untuk mengidentifikasi tokoh dan penokohan, plot atau alur, serta Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang dilakukan pada kondisi alamiah yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi, dan kehadiran peneliti tidak mempengaruhi perubahan objek tersebut (Sugiyono, 2014: . Berdasarkan pengertian tersebut, seorang peneliti sastra dituntut untuk mengungkap fakta-fakta yang tampak atau teramati dengan memberi Hasil dan Pembahasan 1 Tokoh dan Penokohan Novel Gadis Pantai Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Novel Gadis Pantai memiliki tokoh utama dan beberapa tokoh pendukung. Tokoh-tokoh tersebut diantaranya Gadis Pantai (Mas Ngante. Bendoro. Bapak . yah Mas Ngante. Bujang dan Mardinah . elayan Bendor. Ibunda Bendoro, serta kepala kampung. Gambaran tokoh dan penokohan pada novel Gadis Pantai, dijelaskan sebagai berikut: Gadis Pantai (Mas Ngante. Gadis Pantai (Mas Ngante. adalah tokoh utama dalam novel Gadis Pantai. Ia adalah seorang perempuan muda yang berasal dari keluarga nelayan miskin di pesisir Jawa. Lahir dan dibesarkan di lingkungan sederhana, ia tumbuh menjadi gadis yang polos, lugu, dan belum mengenal dunia luar selain desanya sendiri. Penokohan dan karakter Gadis Pantai (Mas Ngante. yang digambarkan dalam novel tersebut adalah sebagai Lugu Gadis Pantai (Mas Ngante. berasal dari lingkungan nelayan yang Ia tidak mengerti adat istiadat kaum bangsawan dan sering kali bingung dengan situasi yang ia alami. Adapun kutipan yang menunjukkan sisi lugunya sebagai berikut: AuIa tak tahu bagaimana harus bertingkah, bagaimana harus duduk, bagaimana harus berbicara. Semua tampak asing dan menakutkan. Ay "Ia baru berumur empat belas tahun dan belum mengenal dunia selain laut dan kampungnya sendiri. AuDengan amarah tanpa daya bapak mendesak, "Ngerti tidak kau? Tahu apa itu haid?"Gadis Pantai hanya bisa memandangi emak dalam "Ah, nak, barangkali salahku," emak mengacarai. "Jadi tidak ngerti haid. Itu nak, ah, itu - darah, ah kau ngerti?" Tidak memiliki kendali atas hidupnya Gadis Pantai tidak punya pilihan dalam hidupnya. Ia dipaksa menikah dengan Bendoro tanpa memahami makna pernikahan itu AuIa tak tahu apa yang di hadapannya. Ia hanya tahu: ia kehilangan seluruh dunianya. Kadang dalam ketakutan ia bertanya: mengapa tak boleh tinggal di mana ia suka, di antara orangorang tersayang dan tercinta, di bumi dengan pantai dan ombaknya yang amis. Ay "Ia tidak tahu kenapa harus menikah dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui sebelumnya. "Ia hanyalah anak nelayan miskin yang tiba-tiba menjadi istri seorang priyayi, tanpa diminta pendapatnya. Tunduk dan patuh Sejak awal. Gadis Pantai selalu menurut pada semua perintah yang diberikan kepadanya, baik oleh Bendoro maupun para pelayan di "Apa pun yang dikatakan Bendoro, ia hanya mengangguk. Ia takut Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 menolak, takut berbuat salah. "Setiap kali ia melakukan kesalahan, hatinya bergetar. Ia hanya ingin menyenangkan tuannya. Kesepian dan terasing Di rumah Bendoro. Gadis Pantai merasa terasing karena ia tidak memiliki teman sejati. Para pelayan hanya menghormatinya karena statusnya sebagai istri Bendoro, bukan karena hubungan yang tulus. AuIa duduk di ruangan besar itu sendirian. Semua orang bersikap hormat, tetapi tidak ada yang benar-benar peduli. Ay AuDi tempat ini, ia merasa seperti ikan yang ditangkap dan diletakkan dalam akuarium yang besar. Ay Hidup dengan ketakutan dan tertekan Gadis Pantai sering merasa takut, baik terhadap Bendoro maupun terhadap aturan-aturan di rumah itu. AuIa selalu berjalan perlahan, takut membuat suara yang bisa mengganggu Bendoro. Ay AuIa menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis ketika Bendoro berbicara dengan nada dingin kepadanya. Ay Penuh kasih sayang Meskipun hidupnya penuh tekanan. Gadis Pantai tetap memiliki hati yang lembut, terutama terhadap anaknya. AuSaat menggendong bayinya, ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ay AuIa ingin membesarkan anaknya sendiri, tetapi ia tahu bahwa itu bukan Ay Dipermainkan oleh sistem sosial Sebagai seorang perempuan dari rakyat jelata. Gadis Pantai hanyalah alat dalam sistem feodal yang berlaku saat itu. AuIa menyadari bahwa di rumah ini, seorang istri hanyalah penghias yang bisa dibuang sewaktu-waktu. Ay AuBahkan seorang istri pun bisa diusir begitu saja, tanpa perlawanan. Ay Mulai menyadari ketidakadilan Seiring waktu. Gadis Pantai mulai menyadari bahwa ia diperlakukan tidak adil oleh Bendoro dan sistem sosial yang berlaku. AuIa mulai mengerti bahwa ia tidak lebih dari barang yang bisa dipakai dan dibuang kapan saja. Ay AuIa tidak ingin lagi hanya menjadi boneka yang mengikuti perintah orang lain. Ay Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Dikhianati dan kehilangan anaknya Saat ia diceraikan oleh Bendoro, ia juga dipisahkan dari anaknya. Ini adalah momen paling tragis dalam hidupnya. "Ia merentangkan tangannya, berusaha meraih bayinya. Tapi anak itu sudah diambil dari pelukannya. Ay AuIa menangis tanpa suara. Jiwanya terasa kosong. Ay Bendoro Bendoro dalam novel Gadis Pantai adalah simbol dari sistem feodal yang menindas perempuan. Ia berwibawa dan berkuasa, tetapi juga otoriter, manipulatif, dan kejam. Ia tidak pernah mencintai Gadis Pantai, hanya menjadikannya sebagai bagian dari tradisi yang bisa dibuang kapan saja. Melalui karakter Bendoro. Pramoedya Ananta Toer menunjukkan betapa tidak adilnya kehidupan perempuan dalam sistem sosial feodal, di mana mereka hanya dianggap sebagai pelengkap dalam rumah tangga bangsawan dan tidak memiliki hak untuk menentukan nasib mereka sendiri. Berwibawa dan berkuasa Sebagai seorang bangsawan Jawa. Bendoro memiliki kekuasaan mutlak di rumahnya dan dalam lingkungan masyarakatnya. Ia dihormati oleh semua orang dan memiliki kewenangan penuh untuk menentukan nasib orang-orang di sekitarnya, termasuk Gadis Pantai. AuGadis Pantai menunduk. Ia tahu, di hadapan Bendoro, ia tak boleh berbicara sembarangan. Semua orang di rumah itu pun membungkuk dalam-dalam jika berbicara kepadanya. Ay AuBendoro berjalan dengan anggun, tanpa menoleh ke arah siapa pun. Orang-orang hanya bisa menatapnya diam-diam, tanpa berani mengangkat kepala. Ay Otoriter dan keras Bendoro tidak memberi ruang bagi Gadis Pantai untuk bersikap atau berbicara semaunya. Ia mengontrol setiap aspek kehidupan Gadis Pantai, mulai dari cara berbicara, berpakaian, hingga bersikap. AuJangan membantah! Kau di sini untuk melayaniku. Itu saja!Ay AuKalau kau tidak bisa berperilaku seperti yang aku mau, kau bisa kembali ke laut sana!Ay. Manipulatif dan bermuka dua Di awal pernikahan. Bendoro berpura-pura baik dan perhatian kepada Gadis Pantai, tetapi perlahan-lahan ia menunjukkan sifat aslinya yang dingin dan penuh perhitungan. AuBendoro tersenyum kepadanya, tetapi Gadis Pantai merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami di balik senyum itu. Ay AuKau pikir aku menikahimu karena cinta? Tidak, ini hanya adat. Ay Tidak berperasaan dan kejam Bendoro tidak menunjukkan rasa peduli atau kasih sayang Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 terhadap Gadis Pantai. Bahkan ketika Gadis Pantai sedang sedih, ia tetap dingin dan tidak peduli. AuTangisan itu tidak berarti apa-apa baginya. Ia tetap duduk tenang, seperti tidak melihat air mata yang jatuh ke lantai. Ay AuMulai besok, kau tidak lagi tinggal di sini. Ay Tidak menghargai perasaan orang lain Bendoro tidak hanya memperlakukan Gadis Pantai dengan semena-mena, tetapi juga merampas haknya sebagai seorang ibu. AuAnak itu milikku. Kau tak punya hak apa pun atasnya. Ay AuSeorang istri simpanan tidak punya tempat di rumah ini setelah ia Ay Bapak . yah Gadis Panta. Ayah Gadis Pantai adalah seorang nelayan biasa yang hidup di desa Karakternya menggambarkan sosok orang tua yang sederhana, tunduk pada adat, penuh kasih sayang tetapi juga tidak berdaya dalam menghadapi realitas sosial. Berikut adalah deskripsi penokohan dan karakter Bapak: Sederhana dan pekeja keras Sebagai seorang nelayan. Bapak adalah orang yang sederhana dan bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Ia mencari nafkah dengan melaut dan sangat dekat dengan alam AuLaut adalah kehidupannya. Sejak kecil, bapaknya sudah diajari mengarungi gelombang, mencari ikan di hamparan samudra. Ay Patuh pada adat adat dan kehendak orang yang lebih berkuasa Meskipun ia patuh pada adat. Bapak tetap memiliki kasih sayang yang besar terhadap anaknya. Namun, ia juga harus mengorbankan perasaannya demi mengikuti tuntutan masyarakat. AuBapak memandang putrinya lama, matanya berkaca-kaca. Tapi ia tetap Ay AuHati-hati di sana. Nak. Jangan lupa siapa dirimu. Ay. Sayang dan peduli pada anaknya Meskipun ia patuh pada adat. Bapak tetap memiliki kasih sayang yang besar terhadap anaknya. Namun, ia juga harus mengorbankan perasaannya demi mengikuti tuntutan masyarakat. AuBapak memandang putrinya lama, matanya berkaca-kaca. Tapi ia tetap Ay AuHati-hati di sana. Nak. Jangan lupa siapa dirimu. Ay Tidak berdaya dan pasrah terhadap nasib Bapak tidak bisa menentang keputusan yang telah dibuat oleh kaum bangsawan. Ia hanyalah rakyat biasa yang tidak punya kuasa untuk melawan sistem sosial yang menindas. AuKami orang kecil. Nak. Tak bisa melawan arus. Jika ini takdir, terimalah dengan ikhlas. Ay AuBapak hanya bisa menatap perahu yang menjauh, membawa anaknya Ay Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Bujang (Pelayan Bendor. Bujang adalah seorang pelayan setia di rumah Bendoro. Meskipun statusnya rendah, ia memiliki pengaruh tersendiri dalam rumah tangga itu karena kesetiaannya kepada Bendoro. Bujang sering menjadi penghubung antara Bendoro dan orang-orang di sekitarnya, termasuk Gadis Pantai. Setia kepada Bendoro Sebagai pelayan pribadi Bendoro. Bujang sangat loyal dan patuh terhadap majikannya. Ia selalu menjalankan perintah tanpa membantah dan menjaga kehormatan rumah Bendoro. AuBujang tak pernah membantah perintah Bendoro, baginya, kepatuhan adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan di rumah besar ini. Ay Pengecut dan tidak berani menentang sistem Meskipun ia melihat ketidakadilan yang terjadi, terutama terhadap Gadis Pantai. Bujang tidak memiliki keberanian untuk menentang sistem yang sudah ada. Ia lebih memilih diam dan menjalankan tugasnya. AuBujang tahu apa yang akan terjadi pada Gadis Pantai, tapi ia hanya menundukkan kepala. Ia tak ingin terlibat lebih jauh. Ay Berperan sebagai perantara antara Bendoro dan Gadis Pantai Sebagai pelayan. Bujang sering menjadi penghubung antara Bendoro dan Gadis Pantai, terutama dalam menyampaikan perintah atau keinginan Bendoro. AuBujang datang dengan wajah datar, membawa pesan dari Bendoro untuk Gadis Pantai. Ay Taat kepada aturan dan hierarki feodal Bujang sudah terbiasa hidup dalam sistem feodal yang menempatkan dirinya sebagai pelayan dan tidak memiliki hak untuk berbicara lebih banyak. AuBujang tidak pernah mempertanyakan nasibnya. Ia adalah pelayan dan pelayan tidak berhak bertanya. Ay Taat kepada aturan dan hierarki feodal Meskipun ia sering diam. Bujang memahami banyak hal yang terjadi di dalam rumah Bendoro, termasuk perlakuan tidak adil terhadap Gadis Pantai. AuBujang melihat kesedihan Gadis Pantai, tapi ia tahu tak ada yang bisa ia Ay Mardinah (Pelayan Bendor. Mardinah adalah salah satu pelayan di rumah Bendoro. Ia merupakan karakter yang memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman Gadis Pantai selama tinggal di rumah Bendoro. Kepribadiannya kompleks: ia bisa terlihat baik, namun juga memiliki sisi yang licik dan tunduk pada sistem Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Setia kepada Bendoro dan system feodal Sebagai pelayan. Mardinah sangat patuh pada Bendoro dan selalu mengutamakan kepentingannya. Ia tidak pernah berani menentang atau menunjukkan sikap yang tidak sopan terhadap majikannya. AuMardinah tak pernah membantah. Setiap perintah Bendoro diterima dengan kepala tunduk dan suara pelan. Ay AuDia selalu cepat dalam bekerja, selalu lebih dahulu tahu apa yang diinginkan tuannya. Ay Tidak menyukai gadis pantai Mardinah tidak menyukai Gadis Pantai, yang tiba-tiba datang ke rumah Bendoro sebagai istri sang bangsawan. Ada indikasi kecemburuan dan sikap licik dalam tindakannya. AuMatanya selalu memperhatikan Gadis Pantai, seakan mencari Ay AuJangan banyak bertanya, lakukan saja!Ao kata Mardinah dengan tajam, matanya menyipit penuh arti. Ay Menggunakan kekuasaan kecilnya untuk menekan gadis pantai Sebagai pelayan senior. Mardinah merasa memiliki posisi lebih tinggi daripada Gadis Pantai yang masih baru. Ia sering memperlakukan Gadis Pantai dengan kasar atau membuatnya merasa tidak nyaman. AuMardinah memandangi Gadis Pantai dengan tajam, seolah ingin menunjukkan siapa yang lebih berkuasa di rumah itu. Ay AuTangan Mardinah mencengkeram lengan Gadis Pantai, mencubitnya diam-diam. Ay Licik dan manipulaif Mardinah bukan hanya tunduk pada sistem feodal, tetapi juga pandai memanfaatkannya. Ia tahu bagaimana bertahan dalam rumah tangga Bendoro dengan bersikap baik kepada majikan, tetapi tetap berusaha menekan mereka yang dianggapnya lebih lemah. AuDi depan Bendoro, ia bersikap lembut dan penuh hormat. belakangnya, wajahnya berubah dingin dan matanya menyipit penuh Ay AuMardinah membisikkan sesuatu kepada istri Bendoro yang baru. Tapi bukan kata-kata manis, melainkan racun yang ditaburkan perlahan. Ay Tidak berdaya dan tunduk pada system yang menindas Meskipun tampak licik dan dominan terhadap Gadis Pantai. Mardinah sendiri juga merupakan korban sistem feodal. Ia tidak bisa melawan nasibnya sebagai pelayan dan harus bertahan dengan cara apa AuIa tahu, selamanya ia hanya akan menjadi pelayan. Tak ada jalan keluar bagi orang sepertinya. Ay Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 AuMardinah hanya tersenyum pahit. Ia tahu tak ada tempat baginya selain di rumah ini, mengabdi selamanya. Ay Ibunda Bendoro Ibunda Bendoro adalah seorang perempuan dari kalangan bangsawan yang sangat menjunjung tinggi tradisi feodal. Ia memiliki kepribadian yang tegas, berwibawa, serta sangat memperhatikan status sosial dan adat Ia juga memegang kendali atas rumah tangga Bendoro dan menentukan nasib orang-orang di sekitarnya, termasuk Gadis Pantai. Sangat menjunjung tinggi adat dan feodalisme Sebagai bagian dari keluarga priyayi. Ibunda Bendoro sangat menjaga kehormatan dan martabat keluarganya. Ia menganggap bahwa perbedaan kasta antara bangsawan dan rakyat jelata adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. AuAnak seorang priyayi harus hidup dengan aturan. Tidak bisa sembarangan seperti rakyat jelata. Ay AuGadis itu bukan siapa-siapa. Hanya mainan. Setelah itu, ia akan Ay Otoriter dan berkuasa dalam rumah tangga Bendoro Meskipun Bendoro adalah kepala keluarga, keputusan-keputusan penting tetap berada di tangan Ibunda Bendoro. Ia memiliki kendali penuh atas nasib orang-orang di rumah tersebut. AuApa yang dikatakan Ibunda Bendoro adalah hukum. Tidak ada yang berani membantah, termasuk Bendoro sendiri. Ay AuJika aku bilang dia harus pergi, maka dia harus pergi!Ay Tidak memiliki empati terhadap gadis pantai Sebagai seorang perempuan, seharusnya Ibunda Bendoro bisa memahami penderitaan Gadis Pantai. Namun, ia justru menjadi salah satu tokoh yang paling tidak berperasaan terhadap Gadis Pantai. AuPerempuan itu menangis, tapi Ibunda Bendoro tak peduli. Baginya, anak petani tak pantas mendapat belas kasihan. Ay AuKalau bukan karena kau, dia tidak akan di sini. Dan kalau bukan karena aku, dia tidak akan pergi. Ay Manipulatif dan licik dalam mengendalikan keadaan Ibunda Bendoro bukan hanya berkuasa, tetapi juga pandai memanipulasi keadaan agar sesuai dengan kehendaknya. Ia tahu bagaimana menekan orang-orang di sekitarnya untuk tunduk pada aturan yang ia buat. AuKita harus menjaga kehormatan keluarga. Jika orang-orang tahu kita menerima perempuan dari kampung itu, kita akan dihina. Ay AuKau tidak punya pilihan. Ini adalah keputusan terbaik untuk semua. Ay Simbol kekekajaman feodalisme terhadap perempuan kelas bawah Ibunda Bendoro bukan hanya mewakili kekuatan feodal, tetapi juga simbol dari bagaimana sistem sosial saat itu menindas perempuan Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 kelas bawah. Meskipun ia sendiri seorang perempuan, ia tetap menjadi bagian dari struktur yang menindas perempuan lain yang statusnya lebih AuIa hanya mengangguk dingin. Baginya, perempuan kampung itu tak lebih dari selembar kain yang bisa dibuang kapan saja. Ay AuDia bukan istri. Dia hanya istri simpanan. Dan istri simpanan tidak berhak atas apa pun. Ay Kepala kampung Kepala Kampung adalah salah satu tokoh dalam novel yang berperan sebagai pemimpin masyarakat di kampung tempat Gadis Pantai Ia merupakan representasi dari sistem kekuasaan feodal yang tunduk pada golongan atas dan cenderung bersikap pragmatis demi mempertahankan kedudukannya. Patuh terhadap penguasa (Bendor. Sebagai pemimpin kampung. Kepala Kampung tunduk kepada Bendoro dan golongan priyayi yang memiliki kekuasaan lebih tinggi Ia tidak memiliki kebebasan penuh dalam mengambil keputusan karena selalu mempertimbangkan kepentingan atasannya. AuKepala Kampung mengangguk hormat, matanya menunduk ketika mendengar perintah dari utusan Bendoro. Ay Tidak peduli terhadap Gadis Pantai dan nasibnya Meskipun Kepala Kampung mengetahui bahwa Gadis Pantai akan dikirim ke rumah Bendoro sebagai istri sementara, ia tidak berusaha untuk melindunginya atau menolak perintah tersebut. Ia lebih mementingkan kepatuhan kepada sistem yang ada daripada memperjuangkan hak warganya. AuIni sudah biasa. Sudah banyak gadis dari kampung ini yang bernasib Tidak ada yang bisa melawan kehendak priyayi. Ay Representasi kekuasaan local yang lemah Sebagai pemimpin, ia seharusnya menjadi pelindung bagi Namun, dalam novel ini. Kepala Kampung digambarkan sebagai pemimpin yang lemah dan tidak bisa melawan sistem sosial yang lebih besar darinya. AuKepala Kampung hanya bisa tersenyum getir, tahu bahwa ia tak lebih dari sekadar perpanjangan tangan para penguasa. Ay Berperan sebagai penghubung antara rakyat dan penguasa Dalam sistem feodal, pemimpin lokal seperti Kepala Kampung bertugas memastikan bahwa rakyat tetap tunduk pada penguasa yang lebih tinggi. Ia tidak bisa membela rakyatnya secara langsung, tetapi hanya menjadi perantara antara mereka dan golongan priyayi. AuIa membawa pesan itu dengan hati berat, tetapi ia tahu, melawan perintah hanya akan membawa bencana bagi kampungnya. Ay Simbol dari sistem feodalisme yang menindas Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Dalam novel Gadis Pantai. Kepala Kampung bukan hanya individu, tetapi juga simbol dari sistem feodalisme yang menindas masyarakat AuSudah berpuluh-puluh tahun kampung ini tunduk pada para priyayi, dan Kepala Kampung hanya salah satu dari banyak pemimpin yang menjalankan tugasnya tanpa banyak bertanya. Ay 2 Tokoh dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Novel Siti Nurbaya memiliki beberapa tokoh yang berperan penting dalam jalannya cerita, yaitu Siti Nurbaya. Samsul Bahri. Datuk Maringgih dan Baginda Sulaiman. Siti Nurbaya Siti Nurbaya adalah tokoh utama yang mengalami penderitaan akibat sistem adat yang menindas perempuan. Cerdas dan berpendidikan Siti Nurbaya adalah gadis yang memiliki pendidikan lebih baik dibandingkan perempuan lain di lingkungannya. AuNurbaya sudah pandai menulis surat-surat kepada Samsu, dan dapat membalas suratnya tanpa meminta pertolongan orang lain. Ay AuDia sering membaca buku-buku dan mengerti isi dari buku yang dibacanya, berbeda dengan kebanyakan anak gadis lainnya. Ay Setia kepada Samsul Bahri Siti Nurbaya tidak pernah melupakan cintanya kepada Samsulbahri, meskipun ia menikah dengan Datuk Maringgih. "Hatiku tetap untukmu. Samsu. Walaupun tubuhku telah menjadi milik orang lain, tetapi jiwa dan pikiranku masih setia kepadamu. "Aku terpaksa menikah, bukan karena aku mencintainya, tetapi karena aku ingin menyelamatkan ayahku. Berani melawan adat yang menindas perempuan Siti Nurbaya mempertanyakan adat yang mengharuskan perempuan menjadi korban. "Mengapa kita, perempuan, selalu menjadi korban? Bukankah kita juga manusia yang berhak menentukan nasib sendiri?" "Aku tidak ingin hidup seperti ini. Aku ingin bebas memilih dengan siapa aku akan menikah!" Menderita dalam pernikahan dengan Datuk Maringgih Pernikahannya dengan Datuk Maringgih penuh dengan siksaan fisik dan mental. "Setiap hari aku harus melayani dia seperti seorang hamba, bukan sebagai seorang istri. "Aku merasa seperti burung dalam sangkar emas. Terpenjara oleh harta, tapi hatiku tetap merana. Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Datuk Maringgih Datuk Maringgih adalah tokoh antagonis yang kejam dan tamak yang memaksa Siti Nurbaya untuk menikah dengannya. Adapu gambaran penokohan Datuk maringgih sebagai berikut: Kaya namun kikir Datuk Maringgih adalah seorang pedagang kaya di Padang, tetapi kekayaannya tidak membuatnya dermawan. Sebaliknya, ia sangat kikir dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia menggunakan hartanya untuk menindas orang lain dan memanfaatkan kelemahan mereka, termasuk dalam kasus perjodohannya dengan Siti Nurbaya. AuOrang miskin itu malas! Mereka tidak pantas mendapatkan belas kasihanAy "Aku tidak akan mengeluarkan uangku untuk hal yang tidak Licik Datuk Maringgih menggunakan kekayaannya untuk menekan keluarga Siti Nurbaya agar mau menikahkan anaknya dengannya. memanfaatkan utang orang tua Siti Nurbaya sebagai cara untuk mendapatkan gadis yang jauh lebih muda darinya. AuOrang tua Siti Nurbaya tak berdaya di hadapan Datuk Maringgih. Utang yang menumpuk menjadikan mereka terpaksa menyerahkan anak gadisnya sebagai istri orang tua yang lebih pantas menjadi Ay Kejam dan tidak berperasaan Datuk Maringgih sering menyiksa Siti Nurbaya secara fisik dan Ia memperlakukan Siti Nurbaya dengan kasar setelah Ia tidak peduli dengan perasaan istrinya dan hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsu serta alat untuk menunjukkan "Kau harus menuruti semua keinginanku, atau kau akan merasakan "Aku tidak butuh cinta darimu. Aku hanya butuh kau tunduk Samsul Bahri Samsul Bahri adalah kekasih Siti Nurbaya yang mengalami perubahan karakter dari pemuda yang lemah menjadi seorang pejuang. Berpendidikan dan berpikiran modern Samsul Bahri mendapatkan pendidikan di Batavia dan memiliki pemikiran yang lebih maju. "Di Batavia, aku melihat bagaimana kehidupan yang lebih baik bisa dijalani tanpa harus tunduk pada adat yang mengekang. Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 "Aku ingin bangsaku maju, aku ingin masyarakatku terbebas dari adat yang menindas. Tidak berani mempertahankan cintanya Samsul Bahri terlalu pasrah ketika Siti Nurbaya dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih. "Aku tidak bisa menentang orang tuaku. Nurbaya. Aku tidak berdaya. "Aku harus menerima kenyataan ini, meskipun hatiku hancur. Berubah menjadi lebih tegas Setelah kehilangan Siti Nurbaya. Samsul Bahri berubah menjadi seorang tentara dan membunuh Datuk Maringgih. "Sekarang aku tidak akan membiarkan ketidakadilan terus berlanjut!" "Datuk Maringgih, inilah balasan untuk semua kejahatanmu!" Baginda Sulaiman Baginda Sulaiman adalah ayah dari Siti Nurbaya dan seorang saudagar kaya yang memiliki sifat penyayang, bertanggung jawab, dan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, ia juga menjadi korban sistem feodal yang menekan orang-orang dari kelas Adapun penokohan Baginda sulaiman digambarkan sebagai Saudagar yang terpandang Baginda Sulaiman adalah seorang pedagang sukses di Padang dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di masyarakat. Keberhasilannya dalam berdagang membuatnya disegani oleh AuBaginda Sulaiman terkenal sebagai saudagar yang kaya dan baik budi, banyak orang segan padanyaAy Penyayang Ia tidak ingin Siti Nurbaya menikah dengan Datuk Maringgih, tetapi keadaan memaksanya. "Ayah tidak punya pilihan lain. Nurbaya. Hutang ayah terlalu besar. "Ayah hanya ingin kau hidup tanpa kekurangan, meskipun itu berarti kau harus berkorban. Korban Ketidakadilan Baginda Sulaiman awalnya kaya pada akhirnya mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh Datuk Maringgih dan anak Baginda Sulaiman juga direnggut untuk dijadikan istri Datuk Maringgih karna cekikan hutang yang sengaja diciptakan oleh Datuk Mainggih. AuBaginda Sulaiman yang dulu berjaya, kini harus berlutut di hadapan Datuk Maringgih karena hutang yang mencekiknyaAy AuAku tak ingin menyerahkan anakku kepada orang tua itu, tapi apalah dayaku, hutang telah membuatku tak berdaya. Ay Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Meninggal dengan membawa penderitaannya Baginda Sulaiman diceritakan meninggal setelah jatuh sakit akibat permasalahan yang dialaminya terkait masalah ekonomi dan kehilangan anaknya. Kesedihan dan penderitaan yang ia alami membuatnya menemui ajalnya dengan membawa segala penderitaan AuDengan tubuh yang lemah dan hati yang remuk. Baginda Sulaiman akhirnya menutup mata untuk selamanya, membawa serta segala penderitaan yang ia tanggungAy Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dirangkum bahwa tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Gadis Pantai adalah Gadis Pantai (Mas Ngante. Bendoro. Bapak . yah Mas Ngante. Bujang dan Mardinah . elayan Bendor. Ibunda Bendoro, serta kepala kampung. Adapun penokohan yang digambarkan dalam cerita tersebut antara lain: Gadis Pantai (Mas Ngante. Gadis Pantai diceritakan sebagai orang yang lugu tidak memiliki kendali atas hidupnya, tunduk dan patuh, kesepian dan terasing, hidup dengan ketakutan dan tertekan, penuh kasih sayang, dipermainkan oleh sistem sosial, mulai menyadari ketidakadilan, serta dikhianati dan kehilangan Bendoro Bendoro digambarkan sebagai orang yang berwibawa dan berkuasa, otoriter dan keras, manipulatif, tidak berperasaan dan kejam, serta tidak menghargai perasaan orang lain. Bapak Gadis Pantai Bapak Gadis Pantai digambarkan sebagai orang yang sederhana dan pekeja keras, patuh pada adat adat dan kehendak orang yang lebih berkuasa, sayang dan peduli pada anaknya namun tidak berdaya dan pasrah pada Bujang (Pelayan Bendor. Bujang digambarkan sebaagai orang yang setia pada Bendoro, pengecut, taat kepada aturan dan hierarki feudal, dan taat kepada aturan dan hierarki Madinah (Pelayan Bendor. Madinah diceritakan sebagai orang yang setia kepada Bendoro dan system feudal, tidak menyukai gadis pantai, menggunakan kekuasaan kecilnya untuk menekan gadis pantai, licik dan manipulaif, dan tidak berdaya dan tunduk pada system yang menindas. Ibunda Bendoro Ibunda Bendoro sebagai orang yang Sangat menjunjung tinggi adat dan feodalisme, otoriter dan berkuasa dalam rumah tangga Bendoro, tidak memiliki empati terhadap gadis pantai, manipulatif dan licik dalam mengendalikan keadaan, dan manipulatif dan licik dalam mengendalikan Kepala kampung Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Kepala kampung digambarkan sebagai tokoh yang patuh terhadap penguasa (Bendor. , tidak peduli terhadap Gadis Pantai dan nasibnya, representasi kekuasaan lokal yang lemah, berperan sebagai penghubung antara rakyat dan penguasa, dan simbol dari sistem feodalisme yang menindas. Sedangkan tokoh dalam Novel Siti Nurbaya adalah Siti Nurbaya. Samsul Bahri. Datuk Maringgih dan Baginda Sulaiman. Adapun penokohan dari para tokoh tersebut sebagai berikut: Siti Nurbaya Siti Nurbaya diceritakan sebagai tokoh yang cerdas dan berpendidikan, setia kepada samsul bahri, berani melawan adat yang menindas perempuan, serta menderita dalam pernikahan dengan Datuk Maringgih. Samsul Bahri Samsul Bahri diceritakan sebagai tokoh yang berpendidikan dan berpikiran modern, tidak berani mempertahankan cintanya, serta ia juga berubah menjadi lebih tegas. Datuk Maringgih Datuk Maringgih diceritakan sebagai tokh yang kaya namun kikir, licik, serta kejam dan tidak berperasaan. Baginda Sulaiman Baginda Sulaiman diceritakan sebagai tokoh yang saudagar yang terpandang, penyayang, korban ketidakadilan, dan pada akhirnya meninggal dengan membawa penderitaannya. Persamaan Tokoh dan Penokohan Novel Gadis Pantai dan Siti Nurbaya Novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta dan Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli memiliki kesamaan dalam menggambarkan karakter para tokohnya. Secara umum, benang merah kedua cerita tersebut adalah terkait penderitaan perempuan akibat adat dan sistem sosial yang tidak adil. Untuk melihat persamaan kerakteristik tokoh dari kedua novel ersebut, berikut disajikan analisis persamaannya. Tokoh Utama: Gadis Pantai dan Siti Nurbaya Persaman umum kedua tokoh utama dalam cerita Gadis Pantai dan Siti Nurbaya adalah posisinya sebagai perempuan muda yang menjadi korban pernikahan paksa karna adanya tekanan sosial dan ekonomi. Kedua tokoh utama dalam novel ini memiliki banyak kesamaan, terutama dalam hal penderitaan mereka akibat sistem adat yang menindas perempuan. Persamaan tersebut diuraikan sebagai berikut: Korban pernikahan paksa Tokoh Gadis Pantai dan Situ Nurbaya diceritakan sebagai perempuan yang dinikahkan secara paksa oleh keluarganya dengan orang yang tidak diinginkannya, di mana keduanya dinikahkan dengan tokoh yang memiliki status lebih tinggi di masyarakat setempat. Gadis Pantai dinikahkan dengan Bendoro karna status sosialnya yang rendah. AuIa (Gadis Panta. tidak pernah memilih Bendoro, tetapi sekarang ia harus menjadi istri pria ituAy Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 AuGadis Pantai tidak pernah membayangkan dirinya menikah dengan seorang pria bangsawan. Tetapi orang tuanya begitu bangga, seakanakan ini adalah keberuntungan terbesar dalam hidupnya. Ay Kisah Siti Nurbaya tidak jauh berbeda dengan Gadis Pantai. Siti Nurbaya juga dipaksa menikah dengan Datuk Maringgih untuk menyelamatkan ayahnya dari hutang. Siti Nurbaya yang tidak memiliki pilihan terpaksa harus menuruti perintah tersebut. AuAyah, kalau ini memang takdirku, aku rela menikah dengan Datuk MaringgihAy Berparas cantik dengan kepribadian yang baik Tokoh utama gadis pantai diceritakan sebagai seorang gadis desa yang berparas cantik, polos, lugu, dan patuh terhadap orang Hal ini didukung dengan narasi dalam novel tersebut yang menggambarkan sosok Gadis Pantai. AuGadis Pantai begitu cantik hingga orang-orang kampung pun selalu membicarakannyaAy AuGadis Pantai memiliki wajah yang lembut, kulitnya bersih meski sering terkena matahari, dan senyumnya selalu menjadi kebanggaan Ay Tokoh Siti Nurbaya memiliki penggambaran serupa dengan Gadis Pantai. Diceritakan bahwa Siti Nurbaya merupakan seorang perempuan cantik, cerdas, dan berbakti kepada keluarganya. Pernyataan yang mendukung penggambaran Siti Nurbaya diceritakan dalam novel dengan gambling. AuSiti Nurbaya, dengan kecantikannya yang alami, selalu menjadi kebanggaan ayahnyaAy AuSiti Nurbaya tidak hanya cantik, tetapi juga berpendidikan. membaca banyak buku dan memiliki pemikiran yang maju dibanding gadis seusianya. Ay Mengalami penderitaan dalam pernikahan Pernikahan paksa yang dialami oleh Gaids Pantai dan Siti Nurbaya memberikan penderitaan kepada keduanya. Perlakuan yang tidak baik diberikan oleh suaminya selama pernikahan. Gadis Pantai hanya dijadikan sebagai istri simpanan oleh Bendoro yang kemudian diceraikan begitu saja dengan mudahnya. AuIa tidak pernah merasa benar-benar menjadi istri. Bendoro memperlakukannya seperti barang yang bisa ia tinggalkan kapan saja. Ay Sementara Siti Nurbaya juga mengalami penderitaan dalam rumah tangganya dengan Datuk Maringgih karna tidak dianggap sebagai istri, melainkan sebagai barang. AuSiti Nurbaya merasa dirinya hanya seperti barang yang dibeli oleh Datuk MaringgihAy Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 AuSiti Nurbaya merasa hidupnya hampa. Ia hanya menjadi simbol kepemilikan seorang lelaki yang tak pernah ia cintai. Ay Dibuang oleh suaminya Tokoh Gadis Pantai dan Siti Nurbaya memiliki akhir yang tidak menyenangkan bahkan cenderung tragis. Kedua tokoh pada akhrinya dibuang oleh suaminya dengan cara yang berbeda. Gadis pantai diceraikan dan dikembalikan ke desanya setelah melahirkan anak Bendoro. Ia bahkan tidak diperbolehkan membawa anaknya. AuSetelah melahirkan anaknya. Gadis Pantai diusir dari rumah Bendoro tanpa membawa apa pun. Ia bahkan tidak diizinkan membawa bayinya sendiri. Ay Di sisi lan. Siti Nurbaya dibuang datuk Maringgih dengan cara yang tragis, yakni meninggal karena racun akibat perlakuan kejam Datuk Maringgih. AuTubuh Siti Nurbaya lemah. Ia merasakan racun itu bekerja di dalam dirinya, dan ia menyadari takdirnya telah ditentukanAy Berdasarkan temuan terkait persamaan tokoh dan penokohan pada novel Gadis Pantai dan Siti Nurbaya di atas, kesamaan paling nyata adalah dalam hal penderitaan perempuan akibat sistem sosial dan adat yang menindas. Baik Gadis Pantai maupun Siti Nurbaya menggambarkan sosok perempuan muda yang menjadi korban pernikahan paksa karena tekanan sosial dan ekonomi. Penderitaan mereka berawal dari keterpaksaan menikah dengan pria yang berstatus sosial lebih tinggi, yang dalam hal ini adalah Bendoro dan Datuk Maringgih. Daftar Pustaka Ahyar. Apa Itu Sastra: Jenis-Jenis Karya Sastra Dan Bagaimana Cara Menulis Dan Mengapresiasi Sastra. Sleman: Deepublish. Aminuddin. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: CV. Sinar Baru. Apriyanti. , & Munaris. Fungsi Tokoh Pada Terbentuknya Tema dalam Kumpulan Cerpen Tart di Bulan Hujan. Jurnal Kata: Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya, 4. Se. Arsyad. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Aryani. Budaya Patriarki Dalam Novel Gadis Pantai Karya Pramoedya Ananta Toer Teori Analisis Wacana Sara Mills (Doctoral dissertation. IAIN Ponorog. Aziez. , & Hasim. Menganalisis Fiksi Sebuah Pengantar. Bogor: Ghalia Indonesia. Budianta. , dkk. Membaca Sastra: Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi. Magelang: Indonesia Tera. Damono. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Departemen Pendidikan Nasional. Pusat Bahasa. Damono. Alih Wahana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Depdiknas. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT Evi Ifanka: Perbandingan Tokoh Dan Penokohan Novel Siti Nurbaya Dengan Gadis Pantai Kajian Linguistik dan Sastra Vol 3. No 2. Mei 2024 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Gramedia Pustaka. Diadara. & Baihaqi. Representasi Novel Siti Nurbaya sebagai Pengejawantahan Mimikri Budaya. Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 6. , 1-8. Effendi. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Tangga Mustika Alam. Endraswara. Sastra Bandingan: Metode. Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: FBS Universitas Negeri Yogyakarta. Endraswara. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan . disi ke-Cet. Jakarta: Bukupop. Endraswara. Sastra Bandingan: Pendekatan dan Teori Pengkajian. Yogyakarta: Lumbung Ilmu. Endrawarsa. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Center for Academic Publishing Servic. Faruk. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Goldmann. Lucien. Methodology. Problems. History. The Sociology of Literature: Status and Problems of Method. International Social Science Journal, 15. , 493-516. Hosillos. Lucia v. Sfera Konsentrik Dalam Kesusastraan Bandingan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Husnawan. Fuad. & Suyanto. Pandangan Dunia Tokoh Marginal Novel Gadis Pantai dan Implikasinya pada Pembelajaran Sastra . Jurnal Simbol (Bahasa. Sastra, dan Pembelajaranny. , 2. , 1-12. Hutomo. Merambah Matahari. Pengantar Sastra Bandingan. Universitas Negeri Surabaya. Luxemburg. Jan Van dkk. Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartok. Jakarta: Gramedia Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Muhardi. , & Hasanuddin. Proseldur Analisis Fiksi. IKIP Padang Prelss: Bintang Jaya Offset. Mun'im A. Membendung Militansi Agama: Iman Dan Politik Dalam Masyarakat Modern. Penerbit Erlangga. Nurgiyantoro. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press. Nurhayati, et. Kajian Strukturalisme Genetik pada Novel AuJakarta sebelum PagiAy Karya Ziggy ZezsyazeoviennazabrizkieAy. Jurnal Medika Akademik, 2. , 1-21. Rahmayori. , & Wilyanti. Analisis Semiotika dalam Cerpen Ibu Yang Anaknya Diculik Itu Karya Seno Gumira Ajidarma. Aksara: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6. , 192-198. Ranah. Peran Stilistika dalam Kritik dan Karya Sastra. Ruang-Ruang Kemungkinan dalam Kritik Sastra Akademik-Jejak Pustaka, 50. Remak. Sastera Bandingan: Takrif dan Fungsi. Dalam Sastera Perbandingan: Kaedah dan Perspektif. Newton P. Stallknecht dan Horst Frenz (E. Penerjemah Zalila Sharif. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.