5th Conference on Research and Community Services STKIP PGRI Jombang AuPeningkatan Kinerja Dosen Melalui Penelitian dan Pengabdian MasyarakatAy 4 Oktober 2023 NILAI-NILAI SOSIAL KESENIAN KUDA LUMPING MASYARAKAT DESA TURIPINGGIR Tsamania Ayu Putri Rizqiani1. Muslimin2 1,2, STKIP PGRI Jombang rizkiani@gmail. com, 2muslimin. msi63@gmail. Abstract Art is one of the results of community activities which in its development cannot stand alone. Each region has a different historical background and social The problems that arise are people who do not understand the values contained in the lumping horse art. This study aims to describe . Conditions of lumping horse art . Social values in lumping horse art . Barriers to lumping horse art. This research uses a type of qualitative research and a descriptive Data collection was carried out directly through observation, interviews, and in-depth documentation of informants. Data analysis was carried out qualitatively which consisted of data collection, data reduction, data presentation, and conclusions or data verification. The results of the study showed . The condition of the lumping horse art of the Turipinggir Village community was carried out by 2 groups, namely belonging to the village and privately played by the younger generation, this art was maintained as a preservation and livelihood for the Turipinggir Village community . Social values in the lumping horse art the people of Turipinggir Village, namely as a driving force, direction, and as a fortress of protection by upholding solidarity and cooperation in preserving the lumping horse art. Obstacles to the lumping horse art of the Turipinggir Village community, namely the existence regarding the budgetary funds such as inadequate equipment or traditional clothing. The benefit of this research is to find out social values and obstacles that occur in the community related to the art of Kuda Luming in Turipinggir Village. Keywords: Social Values. Art. Kuda Lumping Abstrak Kesenian merupakan salah satu hasil aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri. Setiap daerah memiliki latar belakang sejarah dan kondisi sosial yang berbeda. Permasalahan yang muncul masyarakat yang belum memahami nilai-nilai yang terdapat pada kesenian kuda Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan . Kondisi kesenian kuda lumping . Nilai-nilai sosial pada kesenian kuda lumping . Hambatan pada kesenian kuda lumping. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara langsung melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang mendalam pada informan. Analisa data dilakukan secara kualitatif yang terdiri dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan atau verifikasi data . Hasil penelitian menunjukkan . Kondisi kesenian kuda lumping masyarakat Desa turipinggir dilakukan oleh 2 kelompok yaitu milik Desa dan pribadi yang diperankan oleh generasi muda, kesenian ini dipertahankan sebagai pelestarian dan mata pencaharian masyarakat Desa Turipinggir . Nilai-nilai sosial dalam kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir yaitu sebagai pendorong, petunjuk arah, dan sebagai benteng perlindungan dengan menjunjung tinggi solidaritas serta kerjasama dalam melestarikan kesenian kuda lumping. Hambatan pada kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir yaitu mengenai anggaran dana seperti peralatan atau pakaian adat yang kurang memadai. Manfaat penelitian ini yaitu untuk mengetahui Nilai-nilai sosial serta hambatan yang terjadi di Masyarakat terkait dengan kesenian kuda luming Desa Turipinggir. Kata kunci : Nilai-Nilai Sosial. Kesenian. Kuda Lumping PENDAHULUAN Kebudayaan merupakan segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia sebagai hasil yang diperoleh dari gagasan, ide. Tindakan yang dapat memengaruhi pengetahuan dan mencangkup aspek kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Kebudayaan digunakan untuk memahami gejala-gejala yang ada di lingkungan mengandung nilai-nilai tertentu yang digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Pengembangan kebudayaan sesuai dengan kreatifitas masyarakat sebagai penciptanya dengan diimbangi adanya Pendidikan untuk bisa diwariskan pada generasi selanjutnya (Afrianti. , & Brata. Kebudayaan merupakan hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia. Suatu bangsa memiliki kebudayaan masing-masing, sebuah kelompok dan wilayah yang berbeda menghasilkan ragam kebudayaan yang diciptakan Kebudayaan terdapat ide pokok yang meliputi tujuh unsur yaitu sistem religi, sistem pengetahuan. Bahasa, organisasi sosial, peralatan dan teknologi, kesenian serta mata pencaharian. Kesenian merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan tersebut. Kesenian adalah bagian dari budaya berdasarkan cara hidup dan menampilkan rasa keindahan dari jiwa manusia. Bentuk kesenian yang terdapat di seluruh lapisan masyarakat di Indonesia mempunyai karakter dan beraneka ragam kebudayaan. Karakter dan ragam kebudayaan tersebut berdiri karna dipengaruhi karakter budaya lokal dari masyarakat setempat. Kesenian dalam pertunjukan seni tradisional memiliki fungsi yang disampaikan kepada masyarakat. Fungsi tersebut bersifat religius, sosial, moral dan sebagainya. Kesenian yang terdapat di Indonesia adalah seni tradisional yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Kesenian tradisional yang terdapat di daerah merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia yang dilestarikan dan dikembangkan. Perkembangan kesenian tradisional dari setiap daerah berbeda-beda, salah satu bentuk kesenian daerah dalam seni tradisional adalah seni kuda lumping. Kesenian kuda lumping merupakan perpaduan seni tari dan magis yang diperankan dengan menggunakan alat yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk Kesenian kuda lumping dikembangkan dari segi penampilan baik diperankan oleh pemain tambahan, pakaian, aksesoris dan musik pengiring (Anggraini, 2018:. Kesenian kuda lumping merupakan perwujudan dari kebudayaan dan memiliki arti atau makna dan nilai yang disampaikan. Makna mempunyai pandangan hidup bagi pendorong kebudayaan. Nilai yaitu sesuatu yang diartikan berharga seperti peralatan musik dan instrumen yang berfungsi sebagai sarana yang nilainya seperti tujuan. Kesenian kuda lumping mengandung nilai-nilai filosofi dalam kegiatan seperti nilai sosial, nilai religius, dan nilai budaya lainnya. Salah satu nilai filosofis kesenian kuda lumping yaitu nilai sosial. Pengertian dari nilai sosial yang terdapat dalam pertunjukan kesenian kuda lumping mengandung arti aktivitas manusia yang tidak lepas dari lingkungan masyarakat, seperti sikap tolong menolong dan kerjasama dalam pertunjukan kesenian kuda lumping sehingga menimbulkan keharmonisan dan kerukunan (Sumanto, 2022 :45-. Kesenian kuda lumping terdapat tiga fungsi nilai sosial yaitu: . sebagai pendorong. sebagai petunjuk arah. sebagai benteng Nilai sosial berfungsi sebagai pemersatu dengan mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau kelompok tertentu. Nilai sosial dapat menciptakan dan meningkatkan solidaritas antar masyarakat. Nilai sosial sebagai tempat perlindungan bagi masyarakat yang Nilai sosial sebagai alat pendorong . dan menuntun manusia untuk berbuat baik serta menjunjung tinggi untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut (Mardianti, 2020:. Penelitian yang dilakukan (Rahmawati, 2021:1-. permasalahan yang muncul banyak masyarakat yaitu: . tidak memahami nilai-nilai yang terdapat pada kesenian kuda lumping. banyak generasi muda yang lebih memilih bekerja di luar kota ini merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi dalam pelestarian kesenian kuda lumping dan ada di . sebagian masyarakat tidak mempunyai minat untuk melestarikan kesenian kuda lumping dengan anggapan kesenian tersebut merupakan kesenian tradisional yang tidak terkenal khususnya di kalangan generasi muda. kesenian kuda lumping yang mempertunjukkan unsurunsur magis dengan berbagai sesaji yang bertujuan untuk memanggil roh leluhur yang dianggap sebagai kegiatan tidak sesuai dengan nilai-nilai-nilai agama islam. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan menunjukkan bahwa kesenian kuda lumping dalam menanamkan nilai-nilai sosial kepada masyarakat Desa turipinggir dilakukan oleh 2 kelompok yaitu milik desa dan pribadi yang diperankan generasi muda Desa Turipinggir sebagai pendorong, petunjuk arah, dan sebagai benteng perlindungan dengan menjunjung tinggi solidaritas serta kerjasama dalam melestarikan kesenian kuda lumping pada masyarakat. Hambatan pada kesenian kuda lumping Desa Turipinggir yaitu mengenai anggaran dana seperti peralatan atau pakaian adat yang kurang memadai sehingga kurang maksimal dalam penerapannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan . Kondisi kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir . Nilai-nilai sosial pada kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir. Hambatan pada kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir. Adapun manfaat penelitian ini bagi masyarakat khususnya terhadap generasi muda Desa Turipinggir dapat memberikan informasi terkait dengan nilai-nilai sosial pada kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir. Manfaat penelitian ini yaitu untuk mengetahui Nilai-nilai sosial serta hambatan yang terjadi di Masyarakat terkait dengan kesenian kuda luming Desa Turipinggir. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif Menurut (Sugiyono, 2019:. metode penelitian kualitatif adalah metode yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, peneliti sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi, analisis data bersifat kualitatif dan penelitian kualitatif lebih menekankan makna. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui Nilainilai sosial pada kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Turipinggir Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang bahwa lokasi tersebut memiliki kesenian kuda lumping yang dilakukan oleh masyarakat Desa Turipinggir. Subyek dalam penelitian ini adalah masyarakat dan tokoh kesenian tradisional yang tinggal di Desa Turipinggir. Teknik pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan pengumpulan data secara langsung untuk memperoleh data yang akurat. Penelitian ini terdiri dari observasi lapangan. Wawancara. Dokumentasi yang berkaitan dengan kesenian kuda lumping masyarakat Desa Turipinggir melalui literatur, laporan, buku, dan pengambilan dokumentasi data berupa gambar. Teknik analisa data yang digunakan yaitu dengan Teknik kualitatif diskriptif dengan mengumpulkan data-data di lapangan sehingga dapat dianalisa dengan memaparkan secara sistematis dan akurat secara mendalam. Metode yang digunakan dalam Analisa data kualitatif yaitu tahap reduksi data, penyajian data dan kesimpulan atau verifikasi (Kurniawan. Tinus, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Kondisi Kesenian Kuda Lumping Masyarakat Desa Turipinggir Kesenian Kuda Lumping Kondisi kesenian kuda lumping masyarakat desa Turipinggir yaitu dalam kesenian kuda lumping terdapat dua kelompok yaitu kelompok masyarakat Sandi Laras milik Desa dan kelompok yang dimiliki oleh orang pribadi. Pemeran Kesenian Kuda Lumping Kesenian kuda lumping di Desa Turipinggir diperankan oleh generasi muda. Kesenian kuda lumping yang diperankan oleh masyarkat Desa Turipinggir untuk acara hajatan. Keterbatasan lokasi sanggar kesenian kuda lumping yaitu minimnya tempat untuk latihan. Alat Mata Pencaharian Kesenian kuda lumping dipertahankan oleh masyarakat sebagai alat untuk mata pencaharian dan dilestarikan agar generasi muda bisa meneruskan kesenian kuda lumping tersebut. Nilai-Nilai Sosial Kesenian Kuda Lumping Masyarakat Desa Turipinggir Nilai-nilai sosial kesenian kuda lumping masyarakat desa Turipinggir terbagi menjadi tiga yaitu : Sebagai Pendorong Kesenian kuda lumping Desa Turipinggir sebagai pendorong . dalam melestarikan kesenian masyarakat tersebut. Nilai sosial dijunjung tinggi yang dicerminkan dengan solidaritas dan antusias antar kelompok dan masyarakat dalam melancarkan kesenian tersebut. Nilai sosial yang terkandung dalam kesenian kuda lumping ini juga mempererat hubungan kerjasama dan kepentingan bersama. Sebagai Petunjuk Arah Kesenian kuda lumping Desa Turipinggir sebagai penunjuk arah dan pemersatu dalam mengumpulkan masyarakat dipertunjukan kesenian kuda lumping. Nilai sosial kesenian kuda lumping yang terkandung dapat meningkatkan solidaritas antar Sebagai Benteng Perlindungan Kesenian kuda lumping Desa Turipinggir sebagai benteng perlindungan masyarakat dengan mempertahankan kesenian kuda lumpimg. Masyarakat mempertahankan kesenian tersebut dengan cara melestarikan kesenian tersebut dan diwariskan turun-temurun pada generasi muda. Hambatan Pada Kesenian Kuda Lumping Masyarakat Desa Turipinggir Hambatan kesenian Kuda lumping masyarakat Turipinggir saat ini yaitu : Minimnya anggaran dana yang dikeluarkan desa terutama kelompok Sandi Laras milik Desa karna kesenian tersebut membutuhkan anggaran untuk peralatan seni kuda lumping dan pakaian adat yang digunakan dalam pertunjukan kesenian Kurangnya peralatan seni kuda lumping dan pakaian adat yang digunakan dalam pertunjukan untuk pelestarian kesenian kuda PEMBAHASAN Kondisi Kesenian Kuda Lumping Masyarakat Desa Turipinggir Kesenian Kuda Lumping. Kesenian sebagai salah satu hasil aktivitas masyarakat yang dalam perkembangannya tidak dapat berdiri sendiri. Sebagai pendukungnya setiap daerah memiliki latar belakang sejarah dan kondisi sosial yang berbeda-beda. Adanya latar belakang sejarah serta kondisi sosial yang berbeda tersebut mampu memberikan ciri khusus yang membedakan antara kesenian yang terdapat di satu daerah dengan daerah yang Kesenian kuda lumping merupakan salah satu kesenian tradisional berkembang secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya (Rahmawati. I, 2. Kuda lumping merupakan kesenian yang sudah dikenal secara luas bagi masyarakat Indonesia, kesenian kuda lumping sendiri memiliki keunikan yang terdapat pada properti serta pakaian yang digunakan saat dipentaskan. Kuda lumping merupakan kesenian tradisional jawa yang sudah banyak dipentaskan di hampir seluruh Indonesia, ciri khas dari kesenian kuda lumping yaitu menggunakan kuda yang terbuat dari anyaman bambu sebagai alat pertunjukan. Pemeran Kesenian Kuda Lumping. Dalam melestarikan kesenian kuda lumping kelompok seni perlu membuktikan kepada masyarakat dengan mengarahkan generasi muda untuk melakukan hal baik seperti melestarikan kegiatan kesenian kuda Mengatasi hambatan anggaran dana kelompok seni dapat tetap bekerjasama dengan pemerintah Desa untuk menjaga kerukunan serta keguyuban dalam masyarakat. Menanamkan kesenian pada generasi muda dilakukan guna membangun generasi muda agar bisa meneruskan kesenian kuda lumping dan kerukunan lingkungan Alat Mata Pencaharian Kegiatan kesenian kuda lumping kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat guna untuk pemenuhan kehidupan, danmenjadi sumber penghidupan (Kurniawan dkk, 2. Nilai-Nilai Sosial Kesenian Kuda Lumping Masyarakat Desa Turipinggir Nilai-nilai sosial kesenian kuda lumping terbagi menjadi tiga yaitu : Sebagai Pendorong Nilai sosial berfungsi Sebagai alat pendorong . dan menuntun manusia untuk berbuat baik. Adanya nilai sosial yang luhur, muncul harapan baik dalam diri manusia. Nilai-nilai sosial yang dijunjung tinggi dijadikan sebagai cita-cita manusia yang berbudi luhur dan bangsa yang beradab, sehingga menjadi manusia yang sungguh-sungguh dan beradab seperti nilai keadilan, nilai kedisiplinan, nilai kejujuran, dan sebagainya. Fungsi nilai-nilai sosial lainnya yaitu dapat menyumbangkan seperangkat alat untuk menetapkan harta sosial dari suatu kelompok, dapat mengarahkan masyarakat dalam berpikir dan bertingkah laku bagi manusia dalam memenuhi peranan sosial, alat solidaritas di kalangan anggota kelompok atau masyarakat, alat pengawas perilaku manusia. Nilainilai sosial yang tumbuh pada jiwa individu maka perhatian dan simpati pada sesamanya juga semakin tinggi (Dewi. , dkk, 2022:. Sebagai Petunjuk Arah Nilai sosial berfungsi sebagai pemersatu yang dapat mengumpulkan orang banyak dalam kesatuan atau dalam kelompok tertentu. Nilai sosial menciptakan dan meningkatkan solidaritas antar manusia, sehingga masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pola pikir, norma dan tingkah laku yang diinginkan serta menjauhi hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat. Cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat umumnya diarahkan oleh nilai-nilai sosial yang berlaku. Pendatang baru secara moral diwajibkan mempelajari aturan-aturan sosial budaya masyarakat yang didatangi sehingga dapat menyesuaikan diri dengan norma, pola pikir, dan tingkah laku yang diinginkan, serta menjauhi hal-hal yang tidak diinginkan masyarakat. Sebagai Benteng Perlindungan Nilai sosial berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi penganutnya. Daya perlindungannya begitu besar sehingga masyarakat bersedia berjuang untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut. Nilai sosial seperti menjunjung kerjasama, saling menghormati, solidaritas antar masyarakat merupakan benteng perlindungan dari pengaruh budaya asing yang merugikan. (Mardianti, 2020:26-. Hambatan Pada Kesenian Kuda Lumping Masyarakat Desa Turipinggir Kelompok seni kuda lumping mengalami beberapa hambatan yaitu: Hambatan dari dalam berupa peralatan yang kurang memadai. Hambatan dari luar yaitu dengan adanya beberapa orang yang tidak mendukung kelompok seni kuda lumping juga semakin semakin modern zaman juga mempengaruhi kebutuhan ekonomi sehingga dapat menyebabkan hilangnya kebudayaan akibat generasi produktif harus meninggalkan daerahnya. Kedala ekonomi juga akan berdampak pada kelompok kesenian akibat bergantinya anggota (Kurniawan. Tinus, 2. Pengelolaan anggaran dana untuk pengembangan kesenian kuda lumping yang belum maksimal dan masih kurang mengenai sarana dan prasarana yang mendukung seperti peralatan seni kuda lumping dan pakaian adat yang digunakan dalam pertunjukan kesenian, sehingga untuk sarana dan prasarana harus menunggu adanya anggaran dana dari desa (Winanta, dkk, 2. Dalam menyikapi hambatan-hambatan kelompok seni kuda lumping adalah tetap fokus dalam menanamkan nilai-nilai sosial dan membuktikan kepada masyarakat dengan mengarahkan generasi muda untuk melakukan hal baik seperti melakukan iuran untuk mengatasi kekurangan kendala dana serta untuk kekompakan lingkungan dapat tetap bekerjasama dengan pemerintah desa untuk menjaga kerukunan serta keguyuban dalam masyarakat (Kurniawan, 2. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Kondisi kesenian kuda lumping masyarakat di Desa Turipinggir diperankan oleh generasi muda. Keterbatasan lokasi sanggar kesenian kuda lumping yaitu minimnya tempat untuk latihan. Kesenian kuda lumping dipertahankan sebagai alat mata pencaharian dan agar generasi muda bisa meneruskan kesenian kuda lumping tersebut. Nilai sosial Kesenian kuda lumping Desa Turipinggir dijunjung tinggi dicerminkan dengan solidaritas dan antusias antar kelompok dan masyarakat dalam melancarkan kesenian tersebut. Sebagai penunjuk arah dan pemersatu dalam mengumpulkan masyarakat dipertunjukan kesenian kuda lumping dan sebagai benteng perlindungan masyarakat dengan mempertahankan kesenian tersebut dengan cara melestarikan kesenian tersebut dan diwariskan turun-temurun pada generasi muda. Hambatan kesenian Kuda lumping masyarakat desa Turipinggir yaitu minimnya anggaran dana yang dikeluarkan desa terutama kelompok Sandi Laras milik Desa karna kesenian membutuhkan anggaran untuk peralatan seni kuda lumping dan pakaian adat yang digunakan dalam pertunjukan kesenian tersebut. SARAN Bagi Masyarakat Masyarakat diharapkan dapat melestarikan dan menjunjung tinggi kesenian kuda lumping yang terdapat di Desa Turipinggir. Generasi muda turut berperan dan berpartisipasi dalam pelestarian kesenian kuda lumping terebut. Bagi Pemerintah Desa Pemerintah diharapkan dapat memperhatikan kesenian kuda lumping yang terdapat di Desa Turipinggir dengan memfasilitasi sarana dan Pemerintah diharapkan dapat ikut serta dalam melestarikan kegiatan pertunjukan kesenian kuda lumping. DAFTAR PUSTAKA