KURVATEK Vol. No. November 2025, pp. e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 OPTIMALISASI SISTEM PENGOPERASIAN GENERATOR SET MENGGUNAKAN METODE LAGRANGE OPTIMIZATION OF GENERATOR SET OPERATING SYSTEMS USING THE LAGRANGE METHOD Dulhadi1,*. Suyanta2. Eufrasia Andranetta Gracelynne Eka Pramudita3. Shodiq Afifudin4. Dewi Indriati Hadi Putri5. Hafiyyan Putra Pratama6 1,2, Department of Electrical Engineering. Institut Teknologi Nasional Yogyakarta Jalan Babarsari. Caturtunggal. Depok. Sleman. Yogyakarta 55281. Indonesia email corresponding: dulhadi@itny. email: suyanta@itny. Department Teknik Mesin dan Industri. Universitas Gadjah Mada email: eufrasia2424@gmail. Bandara Yogyakarta International Airport Kepek. Palihan. Temon. Kulon Progo. Yogyakarta 55654 email: cahsonos@gmail. Department of Mechatronics and Artificial Intelligence. Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Veteran No. Nagri Kaler. Purwakarta. Jawa Barat email: dewiindri@upi. Department of Telecommunication System. Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Veteran No. Nagri Kaler. Purwakarta. Jawa Barat email: hafiyyan@upi. Cara sitasi: Dulhadi. Suyanta. Pramudita. Afifudin. Putri, and H. Pratama, "Optimalisasi Sistem Pengoperasian Generator Set menggunakan Metode Lagrange," Kurvatek, vol. 2, pp. 145-154, 2025. doi: 10. 33579/krvtk. 5791 [Onlin. Abstrak Ai Bandara Yogyakarta International Airport memiliki kebutuhan daya tinggi, disuplai dari GI Wates dengan kapasitas 2y8,66 MVA dan lima genset masing-masing 2,5 MVA. Karena fluktuasi jadwal penerbangan, semua genset beroperasi bersamaan, menyebabkan konsumsi bahan bakar tidak efisien. Penelitian ini bertujuan mengoptimalkan pola operasi genset menggunakan metode Lagrange berdasarkan tren historis konsumsi energi dan bahan bakar. Hasilnya menunjukkan hanya genset 1 yang optimal . ,26%) saat kondisi normal. Saat terjadi gangguan pada salah satu genset, beban dialihkan ke genset lain dengan output lebih rendah untuk menjaga efisiensi dan keandalan. Pola ini meningkatkan efisiensi, mengurangi konsumsi bahan bakar, serta memperpanjang usia pakai mesin. Optimalisasi ini mendukung pengoperasian bandara yang lebih hemat energi dan andal. Kata kunci: Optimalisasi, metode Lagrange, pengoperasian Abstract Ai Yogyakarta International Airport has high power demands, supplied by GI Wates with a subscribed capacity of 2 y 8. 66 MVA and five generator sets . each with a capacity of 2. 5 MVA. Due to fluctuating flight schedules, all gensets operate simultaneously, leading to inefficient fuel consumption. This study aims to optimize the genset operation pattern using the Lagrange method based on historical energy and fuel consumption trends. The results show that only genset 1 operates optimally . 26%) under normal conditions. In the event of a genset failure, the load is redistributed to other gensets with lower output to maintain efficiency and reliability. This approach increases efficiency, reduces fuel consumption, and extends engine lifespan. The optimization supports more energy-efficient and reliable airport operations. Keywords: Optimization. Lagrange method, operation PENDAHULUAN Sumber daya listrik Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) berasal dari Gardu Induk Wates dengan kategori premium, berkapasitas 2y8,66 MVA, dan didukung oleh 5 unit genset berkapasitas masingmasing 2,5 MVA. Penyaluran energi listrik ke beban dilakukan melalui jaringan distribusi internal tegangan Received Oct 14, 2025. Revised Nov 25, 2025. Accepted Nov 25, 2025 DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. menengah 20 kV dan tegangan rendah 380 Volt, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Dalam memenuhi kebutuhan energi listrik, kelima genset ini beroperasi secara bersamaan untuk mencukupi seluruh beban listrik bandara. Namun, karena jadwal penerbangan yang fluktuatif, konsumsi energi listrik pun ikut berubah-ubah. Hal ini menyebabkan penggunaan bahan bakar menjadi boros, karena energi listrik dari genset tidak dapat disimpan untuk digunakan nanti. Oleh karena itu, diperlukan pola operasi yang tepat agar konsumsi bahan bakar sebanding dengan kebutuhan energi listrik. Pola ini bertujuan agar genset dapat beroperasi mengikuti fluktuasi beban secara optimal. Untuk menganalisis optimalisasi ini, dapat digunakan beberapa metode seperti optimasi analitis. Duplex. Simplex, dan metode Lagrange. Penelitian ini menggunakan metode Lagrange, karena cocok untuk mengatasi permasalahan optimasi dengan kendala, termasuk kebutuhan maintenance genset yang menyebabkan sebagian genset tidak beroperasi . , . Gambar 1. Gambar sistem kelistrikan Bandara Yogyakarta International Airport Industri atau instansi umumnya lebih memilih berlangganan listrik PLN karena biaya operasionalnya lebih rendah, bahkan bisa setengah dari biaya penggunaan genset. Namun, karena keterbatasan daya dari PLN, seringnya pemadaman, serta kebutuhan listrik yang besar dan terus-menerus, genset tetap menjadi sumber utama dalam memenuhi kebutuhan energi listrik. Salah satu penyebab borosnya bahan bakar pada pengoperasian genset adalah beban yang terlalu berat. Secara teori, genset bekerja paling efisien pada beban sekitar 70%. Dengan menggunakan beberapa genset secara paralel, selain mampu memenuhi kebutuhan listrik yang besar, beban kerja tiap mesin menjadi lebih ringan, sehingga genset lebih awet dan aman Strategi untuk menekan biaya operasional pembangkit adalah melalui penjadwalan operasi yang Metode Dynamic Programming bekerja secara bertahap dan cocok untuk fungsi linier. Sementara itu, metode Lagrange lebih tepat digunakan untuk menyelesaikan fungsi nonlinier dengan mengubahnya menjadi linier agar diperoleh hasil operasi yang optimal . Penentuan daya yang harus disuplai oleh tiap unit pembangkit untuk memenuhi beban dengan biaya operasional serendah mungkin disebut Economic Dispatch. Metode Lambda Iterasi dan Lagrange samasama menggunakan faktor pengali, namun Lambda membutuhkan asumsi biaya tambahan, sedangkan Lagrange tidak. Penyelesaian dengan Algoritma Genetika lebih detail dibanding Lagrange, tetapi lebih rumit dan memerlukan waktu lebih lama. Sementara itu, metode Lagrange lebih cepat dan sederhana dalam menyelesaikan masalah Economic Dispatch. Metode yang umum digunakan adalah Lagrange Multiplier dengan pendekatan Least Square Parabolic. Metode ini dapat menghitung kondisi nonlinier dan memberikan solusi yang cepat, tepat, dan konvergen. Selain itu. Lagrange juga mampu mengoptimalkan economic dispatch sehingga pembagian beban menghasilkan biaya operasional yang minimal. Metode iterasi lambda () juga digunakan dalam Economic Dispatch. Nilai lambda diasumsikan terlebih dahulu, lalu dihitung daya keluaran (P. dari setiap pembangkit menggunakan syarat optimum. Setelah itu, diperiksa apakah total daya yang dihasilkan sudah sama dengan beban sistem. Jika belum, proses diulang KURVATEK Vol. No. November 2025: 145 Ae 154 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 hingga tercapai keseimbangan. Penggunaan genset berbahan bakar minyak (BBM) mulai dibatasi karena ketersediaannya makin langka dan harganya terus naik. Salah satu solusi alternatif adalah menggunakan LPG. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa LPG lebih hemat dibanding BBM. Misalnya, pada sepeda motor dengan sistem bahan bakar ganda, konsumsi LPG mencapai 69,3 km/kg untuk jarak 208 km, sedangkan pertalite hanya 47,7 km/kg untuk 143 km. Studi ini menunjukkan bahwa LPG lebih ekonomis dibandingkan BBM, termasuk untuk penggunaan pada genset. Genset adalah solusi penting untuk memenuhi kebutuhan listrik, tetapi efisiensinya masih kurang optimal. Salah satu cara untuk meningkatkan kinerjanya adalah mengembangkan sistem transmisi agar koefisien kinerja genset bisa lebih baik . Economic Dispatch adalah metode untuk menentukan berapa besar daya yang harus disuplai oleh tiap unit pembangkit agar bisa memenuhi kebutuhan beban dengan biaya operasional serendah mungkin. Dalam teori Economic Dispatch, ada dua batasan utama yang harus dipenuhi: Equality constraint . atasan kesetimbangan day. adalah jumlah total daya yang dibangkitkan oleh semua unit pembangkit harus sama dengan total kebutuhan beban seperti ditunjukkan Ocycuycn=1 ycEycn = ycEyaAyceycaycaycu Dengan ycEycn adalah daya pembangkit ke I dan ycEyaAyceycayceycaycu adalah total kebutuhan daya Inequality constraint . atasan tidak sam. adalah tiap pembangkit punya batas minimum dan maksimum daya yang bisa dihasilkan seperti ditunjukkan persamaan 2. ycEycn,ycoycnycu O ycEycn O ycEycn,ycoycaycu . Hubungan antara konsumsi bahan bakar dan daya yang dihasilkan oleh pembangkit bisa digambarkan dalam grafik, seperti pada Gambar 2 yang menunjukkan karakteristik pembangkit. Karena tiap pembangkit punya karakteristik yang berbeda, maka untuk mengoptimalkan pengoperasiannya, maka perlu memperhatikan perbedaan tersebut. Masalah ini bisa diselesaikan dengan metode optimasi. Umumnya, hubungan antara bahan bakar yang digunakan dan daya output dari pembangkit dinyatakan dalam bentuk fungsi polinomial seperti ditunjukkan pada persamaan 3 dan gambar 2 sebagai berikut . cE) = yuycn yuycn ycEycn yuycn ycEycn2 Input Bahan Bakar. H, ( MBtu/jam ) Output P (MW) Pmin Pmax Gambar 2. Karakteristik masukan-luaran pembangkit listrik Sumber: D. Hermanto and F. Ardianto, 2020 Optimalisasi sistem pembangkit berarti menyesuaikan input bahan bakar dengan output energi listrik agar mendekati efisiensi maksimal . , . Jika pembangkit bekerja secara optimal, maka kerugian ekonomi bisa dikurangi atau bahkan dihindari. Untuk mencari titik kerja paling optimal, bisa digunakan berbagai metode. Dalam penelitian ini, digunakan gabungan metode Lagrange dan regresi: A Metode Lagrange digunakan untuk mencari titik optimal pengoperasian pembangkit. Optimalisasi Sistem Pengoperasian Generator Set Menggunakan Metode Lagrange (Dulhadi. Suyanta. Eufrasia Andranetta Gracelynne Eka Pramudita. Shodiq Afifudin. Dewi Indriati Hadi Putri. Hafiyyan Putra Pratam. DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Metode regresi digunakan untuk membuat fungsi hubungan antara konsumsi bahan bakar dan daya listrik yang dihasilkan. Suatu asumsi bahwa batas pembangkitan tidak terganggu maka kondisi penting dari optimalisasi dapat ditentukan dengan metode Langrangian . seperti persamaan 4. yus = Ocycuycn=1 yaycn . cEyaycn ) yuI. cEya Oe Ocycuycn=1 ycEyaycn ) . kemudian membuat persamaan derivatif persamaan terhadap PGi dan nya persamaan 5 atau 6 berikut : CFi CAn OeA CPGi CPGi = ycEya Oe Ocycuycn=1 ycEyaycn yuiyuIycn Fi adalah serapan bahan bakar dalam sistem selama selang waktu i. PG i beban unit pembangkit ke i ke n. PD kebutuhan daya terpakai pada beban dan A adalah faktor pengali ke kondisi optimal. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini berjudul AuStudi Optimalisasi Sistem Pengoperasian Generator Set Menggunakan Metode LagrangeAy. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis konsumsi bahan bakar diesel pada generator set . agar mampu menghasilkan daya listrik yang sesuai dengan perubahan beban secara lebih Genset dianggap bekerja optimal apabila tingkat pembebanannya berada di atas 80%, karena pada kondisi tersebut konsumsi bahan bakar mencapai titik serapan yang paling sebanding dengan daya listrik yang dihasilkan. Untuk mencapai efisiensi tersebut, penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, dilakukan pengumpulan data operasional genset, meliputi daya keluaran, konsumsi bahan bakar per jam, serta karakteristik performa mesin pada setiap tingkat beban. Setelah itu dilakukan pengujian dengan memberikan variasi pembebanan tertentu pada genset untuk melihat hubungan antara daya keluaran dan penggunaan bahan bakar. Peralatan utama yang digunakan dalam penelitian ini meliputi satu unit generator set diesel, alat ukur konsumsi bahan bakar . uel flow meter atau metode pengukuran volume manua. , alat ukur tegangan dan arus listrik . ultimeter atau power mete. , serta beban listrik yang dapat divariasikan, seperti load bank. Adapun variabel penelitian terdiri dari: A Variabel tetap . : jenis bahan bakar yang digunakan, kapasitas genset, tegangan operasi, dan kondisi lingkungan. A Variabel terikat: konsumsi bahan bakar dan output daya listrik. A Variabel bebas . : tingkat pembebanan genset, misalnya 40%, 60%, 80%, dan 100%. Seluruh data hasil pengujian kemudian dianalisis menggunakan metode Lagrange untuk menentukan pola operasi pembebanan yang paling efisien. Dengan metode ini, diharapkan diperoleh titik optimal yang menggambarkan kombinasi beban dan konsumsi bahan bakar paling ideal sehingga sistem pengoperasian genset dapat berjalan lebih hemat dan efektif. Dalam metodologinya membutuhkan data sebagai berikut : Tabel 1. Sumber daya PLN (Power Gri. ID GRID/ SUMBER DAYA PLN GI. Wates 20 MVA ( GRID 1 ) GI Ae WATES -1 PLN GI Wates 60 MVA ( GRID 2 ) GI Ae WATES - 2 SPESIFIKASI Tegangan Kapasitas Trafo Kapasitas Langganan Frekuensi Tegangan Kapasitas Trafo Kapasitas Langganan Frekuensi 150 kV 60 MVA 8,66 MVA 50 Hz 150 kV 60 MVA 8,66 MVA 50 Hz Tabel 2. Lima sumber Daya Genset (Power Gri. masing Ae masing ID GRID/ SUMBER DAYA Genset 5 x 2500 KVA Genset 1 sampai Genset 5 SPESIFIKASI Tegangan Kapasitas Genset Frekuensi KURVATEK Vol. No. November 2025: 145 Ae 154 0,4/0,23 kV 2,5 MVA 50 Hz KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Tabel 3. Rekapitulasi beban genset BULAN Beban Genset 1-5 . W) 9,143 7,775 5,924 45,033 32,425 27,679 38,882 32,508 22,889 81,553 77,162 35,758 83,292 54,68 37,195 76,386 64,171 38,377 56,443 48,861 34,724 59,322 52,137 36,242 60,527 52,199 37,106 49,594 29,884 48,827 42,918 22,703 62,822 43,54 38,564 50,23 43,872 31,473 50,627 44,764 32,703 63,423 56,588 40,247 38,875 34,832 24,569 39,248 46,65 33,401 64,218 71,212 50,993 54,086 49,055 34,716 40,54 37,025 26,729 83,501 63,423 54,68 56,744 51,626 37,32 61,545 38,999 28,55 94,101 65,489 38,785 79,192 52,808 38,813 48,516 26,679 29,545 48,322 40,59 29,693 Total 10,82 53,97 23,15 96,99 76,58 52,43 40,22 54,54 69,01 55,81 55,99 70,48 56,89 72,17 43,85 43,96 73,89 45,17 92,68 62,97 67,32 103,06 69,24 34,74 52,42 April 2020 Mei 2020 Juni 2020 Juli 2020 Agustus 2020 September 2020 Oktober 2020 November 2020 Desember 2020 Januari 2021 Februari 2021 Maret 2021 April 2021 Mei 2021 Juni 2021 Juli 2021 Agustus 2021 September 2021 Oktober 2021 November 2021 Desember 2021 Januari 2022 Februari 2022 Maret 2022 April 2022 Mei 2022 Juni 2022 JUMLAH 33,662 159,107 117,429 293,972 256,175 241,291 188,562 211,857 231,514 188,643 181,358 229,888 194,422 197,852 245,397 152,028 176,874 281,985 212,199 161,323 320,222 227,164 219,313 344,201 265,427 158,789 197,216 5687,87 2,509 4,428 9,927 8,314 9,616 12,672 10,755 10,92 14,482 11,957 12,358 12,969 9,902 13,615 21,672 14,742 11,859 25,938 18,504 22,899 42,766 25,374 19,309 26,191 Sedangkan serapan bahan bakar per kWH ditunjukkan dalam bentuk grafik sebagai berikut : SERAPAN BBM GENSET 1 (Liter/KWH) 25,00 19,53 20,00 15,00 18,37 16,51 15,13 11,58 13,27 13,33 13,43 13,52 10,75 10,65 10,70 10,25 10,56 10,66 8,108,09 7,81 10,00 5,00 12,01 12,27 11,13 9,22 10,84 8,19 6,14 4,76 2,33 0,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627 BULAN KE Gambar 3. Serapan BBM Genset 1 SERAPAN BBM GENSET 2 (Liter/KWH) 18,00 16,00 14,00 12,00 10,00 8,00 6,00 4,00 2,00 0,00 16,1416,12 16,11 14,42 14,18 11,59 11,0611,22 10,60 9,31 9,168,95 11,22 10,52 9,55 9,40 9,089,109,29 13,46 8,16 7,85 6,896,90 7,01 1,89 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112131415161718192021222324252627 BULAN KE Gambar 4. Serapan BBMGenset 2 Optimalisasi Sistem Pengoperasian Generator Set Menggunakan Metode Lagrange (Dulhadi. Suyanta. Eufrasia Andranetta Gracelynne Eka Pramudita. Shodiq Afifudin. Dewi Indriati Hadi Putri. Hafiyyan Putra Pratam. DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. 16,00 15,00 SERAPAN BBM GENSET 3 (Liter/KWH) 14,00 12,00 12,26 12,08 10,35 10,00 9,15 8,00 6,65 6,54 4,29 4,00 2,00 6,51 6,38 6,25 6,06 8,54 8,50 8,38 8,07 7,81 7,79 7,85 7,85 7,96 6,00 10,64 10,51 9,98 9,71 9,63 1,61 0,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 BULAN KE Gambar 5. Serapan BBMGenset 3 SERAPAN BBM GENSET 4 (Liter/KWH) 10,00 9,00 8,00 7,00 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 8,89 8,56 6,83 6,95 7,06 6,38 5,54 6,92 6,81 6,64 5,50 5,66 5,52 5,38 4,48 5,63 4,65 4,64 4,56 4,45 4,18 4,03 6,16 6,13 6,01 5,79 1,20 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 BULAN KE Gambar 6. Serapan BBMGenset 4 SERAPAN BBM GENSET (Liter/KWH) 8,00 7,00 6,72 6,00 5,00 4,00 3,00 1,00 1,76 1,98 2,05 2,05 3,57 2,66 2,62 2,50 2,23 2,00 3,93 3,98 3,81 3,48 2,22 2,12 2,14 2,21 1,65 2,96 2,32 1,81 1,06 0,63 0,00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 BULAN KE Gambar 7. Serapan BBM tahun 2020 Ae 2022 Genset 5 Dalam pelaksanaan penelitian data serapan bahan bakar minyak (BBM) per kWH data utama, selanjutnya dilakukan perhitungan analisis optimalisasi mengikuti diagam garis gambar 8 sebagai berikut. KURVATEK Vol. No. November 2025: 145 Ae 154 KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Keterangan Flowchart : Mulai Data beban genset dan serapan bahan bakar Proses jika 1 genset terganggu Buat grafik fungsi Bahan Bakar. Menghitung besaran/nilai A Menghitung Optimalisasi masing Ae masing Menghitung efisiensi Genset, e Penjawalan Operasi genset Apakah sudah optimal ? jika tidak hitung ulang dari proses, jika ya lanjut ke berikutnya Selesai Tidak Gambar 8. Flowchart Penelitian i. HASIL DAN DISKUSI Penentuan nilai komponen lambda () dilakukan dengan langkah-langkah berikut: Membuat persamaan fungsi serapan bahan bakar dan fungsi serapan daya genset menggunakan data yang tersedia. Kedua persamaan tersebut dimasukkan ke dalam fungsi Lagrange. Selanjutnya dilakukan proses turunan . terhadap fungsi Lagrange untuk mendapatkan nilai lambda (). Seluruh proses perhitungan dapat dibantu menggunakan Microsoft Excel, seperti membuat grafik, mencari trendline . , dan menghitung turunan secara numerik. Hasil proses persamaan masing Ae masig genset sebagai berikut : y = 8E-05x 2 - 0. Liter/kWH y = 0. 0001x 2 - 0. Bulan ke Bulan ke Gambar 9. Genset 1 Gambar 10. Genset 2 Liter/kWH y = 0. 0001x 2 - 0. y = 0. 0002x - 0. Bulan ke Gambar 11. Liter/kWH Liter/kWH Bulan ke Gambar 12. Genset 4 Optimalisasi Sistem Pengoperasian Generator Set Menggunakan Metode Lagrange (Dulhadi. Suyanta. Eufrasia Andranetta Gracelynne Eka Pramudita. Shodiq Afifudin. Dewi Indriati Hadi Putri. Hafiyyan Putra Pratam. DOI : https://doi. org/10. 33579/krvtk. Liter/kWH y = 0. 0002x - 0. Bulan ke Gambar 13. Genset 5 Berdasarkan program aplikasi microsoft excell maka fungsi masing Ae masing serapan bahan bakar genset 1 sampai 5 sebagai berikut : cu = ycEya1 ) = 0,00008ycu 2 Oe 0,0033ycu 0,2165 GENSET 1 cu = ycEya2 ) = 0,0001ycu 2 Oe 0,0049ycu 0,2162 GENSET 2 cu = ycEya3 ) = 0,0002ycu 2 Oe 0,005ycu 0,2141 GENSET 3 GENSET 4 cu = ycEya4 ) = 0,0001ycu 2 Oe 0,0037ycu 0,1986 GENSET 5 ya5 . cu = ycEya5 ) = 0,0002ycu 2 Oe 0,0073ycu 0,2382 Daya terpakai genset berdasarkan tabel 3 sebesar 5687,87 kW, maka penentuan fungsi daya terpakai adalah: aycu ) = ya. a1 ) ya. a2 ) ya. a3 ) ya. a4 ) ya. a5 )=5687,87 kW Selanjutnya memasukkan ke persamaan Fungsi optimalisasi metode Lagrange sebagai berikut yuA = Ocyco=1 F. aycu ) Oe yuI. cEycNyceycycyycaycoycaycn ycNycuycycayco Oe Oc5yco=1 yaycu yuA = Ocyco=1 F. aycu ) Oe yuI. 7,87 Oe Oc5yco=1 yaycu Dengan melakukan derivasi maka besaran lambda sebagai berikut : Tabel 4. Besaran lamda yuI Contoh perhitungan : yuyus = 0 = 5687,87 Oe . ,625 6250yuI 24,5 5000yuI 14,5 2500yuI 18,5 5000yuI 18,25 yuyuI 2500yuI = 5687,87 Oe 96,375 Oe 21250yuI 5687,87Oe96,375 5591,495 yuI= = 21250 = 0,26313 Kasus 1. Genset 1 off ycEycNyceycycyycaycoycaycn = ycEya2 ycEya3 ycEya4 ycEya5 = 5687,87 ycoycO ycEycNyceycycyycaycoycaycn = Oe24,5 Oe 5000yuI Oe 14,5 Oe 2500yuI Oe 18,5 Oe 5000yuI Oe 18,25 Oe 2500yuI = 5687,87 ycoycO = Oe75,75 Oe 15000yuI = 5687,87 ycoycO 5687,87Oe75,75 yuI= = 0,3742 Dengan cara yang sama menghasilkan seperti pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil analisis dan perhitungan pengoperasian optimal berbagai kondisi GENSET PG1 PG2 PG3 PG4 PG5 Jumlah TANPA KASUS . W) 1665,1875 1340,15 672,325 1334,15 676,075 5687,8875 GENSET 1 OFF . W) Tidak Aktif 953,75 5688,75 GENSET 2 OFF . W) 2180,625 Tidak Aktif 882,25 5687,875 KURVATEK Vol. No. November 2025: 145 Ae 154 KASUS GENSET 3 OFF . W) 1889,375 Tidak Aktif 765,75 5688,125 GENSET 4 OFF . W) 2178,3125 1750,65 877,575 Tidak Aktif 881,325 5687,8625 GENSET5 OFF . W) Tidak Aktif KURVATEK e-ISSN: 2477-7870 p-ISSN: 2528-2670 Rated power genset masing Ae masing 2000 kW, maka kinerja genset 1 sampai dengan 5 kondisi tanpa kasus ycEycCycycycyycyc dan bekasus menggunakan rumus yuCyayceycuycyceyc = ycE ycu100% dan hasilnya ditunjukkan pada Tabel 6. yaycuycyycyc Tabel 6. efisiensi kinerja generator Genset Tanpa kasus PG1 PG2 PG3 PG4 PG5 Kondisi kinerja genset (%) Kasus 1 Kasus 2 Kasus 3 Kasus 4 109,03125 94,49 108,92 94,775 75,975 87,5325 43,925 94,475 87,325 75,675 47,6875 44,1125 38,2875 44,066 Kasus 5 73,975 73,675 Sedangkan serapan bahan bakar dalam liter/kWH hasil perhitungan dijelaskan sebagai pada Tabel 7. Tabel 7. Rekapitulasi Serapan Bahan Bakar 5 genset GENSET TIPE PEMBANGKIT Energi (WH) PEMAKAIAN BAHAN BAKAR Serapan Rata Ae rata (Lite. (Liter/kWH) NO : 1 LYMD1364 218,54074 40975,185 0,1888277 NO : 2 NO : 3 NO : 4 NO : 5 LYMD1364 LYMD1364 LYMD1364 LYMD1364 211,67778 173,68519 153,32963 50,881481 808,11481 37996,185 30840,296 26350,889 8489,6667 144652,22 0,1806211 0,178501 0,1734658 0,1582849 0,8797005 PRODUKSI LOKASI BANDARA YOGYAKARTA INTERNATIONAL AIRPORT TOTAL IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa proses operasional perlu mempertimbangkan output daya dari masing-masing genset. Hal ini penting karena genset bekerja secara optimal pada kisaran 80% hingga 90% dari kapasitas maksimumnya, sehingga efisiensi kinerja dapat tetap tinggi, selain itu berdasarkan hasil perhitungan ada bebarapa mengjadi kesimpulan diantaranya : Kondisi tanpa ada gangguan tingkat optimal genset rendah kecuali pada genset 1 dengan demikian kondisi genset akan aman dan awet hanya pada penggunaan bahan bakar boros. Kondisi kasus genset 1 terganggu atau proses perawatan . ff operasiona. , maka kondisi genset 2 dan 4 perlu diperhatikan sehingga perlu melakukan penurunan 5% outputnya dan dibebankan pada genset 3 dan genset 5. Kondisi kasus genset 2 terganggu, output genset 1 perlu diturunkan 20% dan dibebankan pada genset 3 dan 5. Kondisi kasus genset 3 terganggu, output genset 1 diturunkan 5% dan dibebankan pada genset 5. Kondisi kasus genset 4 terganggu, output genset 1 diturunkan 5% dan dibebankan ke genset 3 dan 5. Kondisi kasus genset 5 terganggu, maka output genset 1 diturunkan 5% dan dibebankan ke genset 3. DAFTAR PUSTAKA