Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung Imam Nururi 1* 1 2 3 4 , Asep Yudianto 2 , Andi Eka Putra 3, M. Guntur Sandi Pratama 4 Interdisciplinay Islamic Studies, Fakultas Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Indonesia Universitas Islam Negeri Raden Intan, Eselon III, Kementerian Agama, Lampung, Indonesia Magister Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia * Koresponsdensi: imamnururii@gmail.com ; Tel: +62-8127-211-3745 Diterima: 9 Oktober 2024; Disetujui: 22 Juli 2025; Diterbitkan: 31 Agustus 2025 Abstrak: Penelitian ini memiliki relevansi penting dalam mengungkap dinamika sosial komunitas manusia gerobak di pusat Bandar Lampung, serta memberikan kontribusi akademis terhadap pemahaman kehidupan kelompok marginal di perkotaan, sekaligus menawarkan manfaat praktis bagi instansi terkait. Tujuan artikel ini adalah untuk mengeksplorasi kehidupan manusia gerobak di Bandar Lampung dan menganalisis bagaimana manusia gerobak memanfaatkan kondisi sulit sebagai strategi untuk memperoleh bantuan, serta memberikan wawasan mengenai dinamika sosial dan ekonomi yang memengaruhi kehidupan manusia gerobak. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara untuk mengumpulkan data, serta mengaplikasikan teori dramaturgi Erving Goffman dalam analisisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak manusia gerobak di Bandar Lampung memainkan peran dramatis, terutama manusia gerobak yang membawa anak-anak atau lansia malam hari. Strategi ini tidak hanya terbatas pada kegiatan memulung, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan penghasilan dengan menampilkan diri sebagai individu yang membutuhkan bantuan, didukung oleh aspek visual seperti pakaian, ekspresi wajah, dan keterlibatan anggota keluarga. Meskipun stigma sosial seringkali melekat pada manusia gerobak, sebagian manusia gerobak mengabaikannya demi mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi, sementara kebijakan sosial yang ada belum cukup menarik untuk mendorong manusia gerobak beralih ke profesi lain. Temuan utama menunjukkan bahwa banyak manusia gerobak mengandalkan belas kasihan sebagai sumber pendapatan utama yang dianggap lebih menguntungkan dibandingkan memulung. Kata kunci: : dibalik layar, dramaturgi, manusia gerobak Abstract: This research has important relevance in uncovering the social dynamics of the human cart community in the centre of Bandar Lampung, as well as making an academic contribution to the understanding of the lives of marginalised groups in urban areas, while offering practical benefits to relevant agencies. The purpose of this article is to explore the lives of manusia gerobak in Bandar Lampung and analyse how manusia gerobak use difficult conditions as a strategy to obtain assistance, as well as provide insights into the social and economic dynamics that affect the lives of manusia gerobak. This research was conducted using a qualitative approach through observation and interviews to collect data, and applied Erving Goffman's dramaturgy theory in the analysis. The results show that many human carts in Bandar Lampung play a dramatic role, especially those carrying children or the elderly at night. This strategy is not only limited to scavenging activities, but also aims to increase income by presenting themselves as individuals who need help, supported by visual aspects such as clothing, facial expressions, and the involvement of family members. Although social stigma is often attached to manusia gerobak, some manusia gerobak ignore it in favour of higher incomes, while existing social policies have not been attractive enough to encourage manusia gerobak to shift to other professions. The main findings show that many manusia gerobak rely on charity as their main source of income, which is considered more lucrative than scavenging. Keywords: behind the scenes, dramaturgy, human cart https://ejournal.kemensos.go.id/index.php/jsk/article/view/3504 DOI : 10.33007/ska.v14i3.3504 287 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 1 Pendahuluan "Manusia gerobak" adalah istilah yang merujuk pada individu atau keluarga yang menggunakan gerobak untuk mengumpulkan dan mengangkut barang-barang bekas seperti botol plastik, kertas, logam, dan material lain yang bisa didaur ulang atau dijual kembali (Loberta, 2014; Nurintan, 2017). Kehidupan manusia gerobak mencerminkan kerasnya realitas sosial dan ekonomi, di mana manusia gerobak harus berjuang mencari nafkah di tengah persaingan yang ketat, seringkali tanpa jaminan perlindungan sosial (Gowan, 1997). Kehidupan manusia gerobak ini memiliki dua sisi; siang hari dihabiskan untuk berkeliling kota mencari barang yang bisa dijual, sementara malam hari biasanya kembali ke tempat tinggal untuk beristirahat (Ravichandran, 2011). Di Indonesia, manusia gerobak menjadi pemandangan umum di beberapa kota besar. Di Jakarta, banyak dari manusia gerobak bekerja sebagai pemulung, mengumpulkan barang-barang bekas dari tempat sampah, pasar, dan permukiman, serta memainkan peran penting dalam pengelolaan sampah meskipun hidup dalam kondisi yang sulit (Amarani et al., 2023; Ghofur, 2019; Loberta, 2014). Di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, manusia gerobak banyak ditemui di perumahan, pasar, dan pusat komersial (Ratna, 2017). Di Bandung, yang dikenal sebagai kota kreatif dan wisata, manusia gerobak mengumpulkan sampah di permukiman dan tempat-tempat wisata, memanfaatkan tingginya volume sampah di kota tersebut (Pekasih, 2022). Di Medan, kota besar di Sumatera, manusia gerobak bekerja di lingkungan padat, pasar tradisional, dan pusat perdagangan. Di Makassar, kota terbesar di Indonesia Timur, manusia gerobak turut membantu mengurangi volume sampah, meskipun hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit (Hafiz, 2013). Sementara itu, di Bandar Lampung, pemulung yang menggunakan gerobak ini dikenal oleh masyarakat sebagai manusia gerobak, yang mengumpulkan barang bekas di pinggir jalan dan sudut kota. Berdasarkan data dari Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), pada tahun 2019 tercatat ada sekitar 3,7 juta orang di 25 provinsi yang menggantungkan hidup pada pengumpulan sampah plastik dan barangbarang daur ulang lainnya untuk mencari nafkah (Pris, 2019). Di tahun 2022, Badan Pusat Statistik Kota Bandar Lampung melaporkan terdapat 391 manusia gerobak yang tersebar di 20 kecamatan di kota tersebut, yang sebagian besar juga mengandalkan sampah daur ulang untuk mencukupi kebutuhan hidup (BPS Kota Bandar Lampung, 2022). Kehadiran pemulung sering kali dikaitkan dengan tingginya volume sampah yang ditemukan di berbagai area perkotaan (Widyaningsih & Ma’ruf, 2017). Manusia gerobak mengumpulkan barang-barang bekas yang dapat didaur ulang, menjadikan sampah sebagai sumber utama penghidupan. Meskipun pekerjaan ini menawarkan peluang ekonomi, pekerjaan tersebut sering dilakukan dalam kondisi yang tidak layak dan tanpa perlindungan sosial yang memadai (Achmad, 2019). Hal ini menunjukkan hubungan erat antara pengelolaan sampah perkotaan dan dinamika sosial-ekonomi masyarakat marginal. Fenomena manusia gerobak sebagai pengumpul sampah daur ulang bukan hanya masalah sosial yang dihadapi negara berkembang, tetapi juga di negara maju (McTEE et al., 2019; Nainggolan, 2023). Sebagian besar pemulung umumnya memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah menurut Shandy (2022), selain itu pekerjaan ini sering kali menjadi pilihan bagi manusia gerobak yang tidak memiliki banyak kesempatan. Di beberapa kota, seperti Pune di India, pekerjaan sebagai pemulung sering diambil oleh kelompok masyarakat dari Kasta Terjadwal atau migran yang memiliki sedikit pilihan pekerjaan (Shankar & Swaroop, 2021; Singh, 2009). India menjadi pusat bagi gerakan pemulung terbesar di Asia. Organisasi seperti Self-Employed Women's Association of India (SEWA) mulai mengorganisasi para pemulung sejak akhir tahun 1970-an, menciptakan hampir 90 koperasi yang memberi anggota akses ke kontrak kerja, kredit, pelatihan, dan pasar (Shankar & Swaroop, 2021). The 288 Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 Alliance of Indian Waste Pickers (AIW) juga menjadi salah satu jaringan pemulung terbesar di Asia, beroperasi di 22 kota dengan fokus pada advokasi, dukungan sebaya, dan pembelajaran lintas komunitas (Samson, 2008). Selain motivasi ekonomi, banyak pemulung juga melihat pekerjaan ini sebagai upaya untuk mendukung lingkungan. Kehidupan manusia gerobak mencerminkan ketimpangan sosial yang terjadi di perkotaan, di mana manusia gerobak harus mengandalkan pekerjaan informal dan sering kali terpinggirkan secara ekonomi (Mufidah, 2014). Manusia gerobak menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber daya dan peluang ekonomi, serta minimnya perlindungan sosial. Selain itu, manusia gerobak juga kerap menjadi korban stigma dan diskriminasi (Gowan, 1997). Keberadaan manusia gerobak menggarisbawahi berbagai masalah struktural, seperti kurangnya lapangan kerja formal, ketimpangan distribusi kekayaan, dan kebijakan sosial yang belum mampu secara efektif menangani kemiskinan. Beberapa penelitian terkait manusia gerobak telah dipublikasikan. Supiadi et al., (2022) mengkaji kondisi biopsikososial-ekonomi manusia gerobak di Bekasi, Jawa Barat, dengan fokus pada aspek biologis, psikologis, sosial, spiritual, dan ekonomi. Sementara itu, penelitian oleh Elhany & Ariyanto (2020) menyoroti budaya komunikasi di kalangan manusia gerobak, yang menunjukkan bahwa meskipun manusia gerobak berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, manusia gerobak mampu beradaptasi dalam lingkungan kerja yang sama, mengurangi potensi konflik antarbudaya. Penelitian Amarani et al. (2023) membahas strategi manajemen Dinas Sosial Kabupaten Karawang dalam menangani manusia gerobak, dengan berlandaskan Peraturan Daerah Kabupaten Karawang Nomor 6 Tahun 2011 tentang ketertiban, kebersihan, dan keindahan. Penelitian terkait kehidupan manusia gerobak di Kota Bandar Lampung yang fokus pada dramaturgi sosial manusia gerobak belum banyak dilakukan. Kajian ini penting untuk mengeksplorasi bagaimana manusia gerobak menjalani peran ganda, baik sebagai pemulung maupun anggota masyarakat yang tinggal di sudut-sudut kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap strategi manusia gerobak dalam menarik simpati masyarakat melalui tindakan yang tampak seperti "drama" di jalanan, guna memperoleh belas kasihan dan bantuan. Selain memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika sosial dan ekonomi manusia gerobak, penelitian ini juga diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan sosial yang lebih inklusif dan efektif. Melalui pendekatan dramaturgi, penelitian ini akan mengeksplorasi dimensi-dimensi tersembunyi dari kehidupan manusia gerobak yang sering kali diabaikan dalam kajian sosial konvensional. 2. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi kehidupan manusia gerobak di Kota Bandar Lampung, dengan menyoroti dinamika sosial, tantangan, dan pengalaman sehari-hari (Nartin et al., 2024). Pengumpulan data dilakukan antara April hingga Juli 2024 melalui observasi dan wawancara tak terstruktur. Berbagai pihak yang terlibat, termasuk Dinas Sosial, Satuan Polisi Pamong Praja, masyarakat sekitar, dan manusia gerobak, dipilih menggunakan teknik purposive sampling (Rukin, 2019). Dalam analisisnya, teori dramaturgi Erving Goffman digunakan untuk mengkaji bagaimana manusia gerobak mengelola identitas dan interaksi sosial, serta strategi bertahan hidup yang terungkap melalui hasil observasi dan wawancara tersebut (Goffman, 1959). 3. 3.1 Hasil Drama kehidupan di balik layar Manusia Gerobak Manusia gerobak di Bandar Lampung umumnya ditemukan di kawasan seperti Way Halim, Lungsir, Tugu Adipura, dan Antasari (IA, personal communication, July 7, 2024). Aktivitas ini menjadi sumber penghasilan utama bagi manusia gerobak sekaligus membantu mengelola sampah secara informal, misalnya dengan memilah sampah di titik-titik tertentu seperti pasar. Manusia gerobak Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung 289 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 sering beroperasi hingga larut malam di jalan-jalan utama, meskipun pekerjaan ini memiliki dampak negatif terhadap kesehatan, yang sering kali terabaikan karena kurangnya pengetahuan tentang risiko kesehatan. Sebagaimana diungkapkan oleh Nurintan, rendahnya tingkat pendidikan manusia gerobak turut memengaruhi kepedulian terhadap kesehatan pribadi (Nurintan, 2017). Kondisi kerja yang berat mencerminkan perjuangan manusia gerobak dalam mencari nafkah, meski harus menghadapi tantangan yang signifikan (Koonan, 2021). Dalam wawancara, DYP, seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa manusia gerobak di Bandar Lampung bergantung pada barang daur ulang sebagai sumber penghasilan utama (DYP, personal communication, June 20, 2024). Meskipun sebagian besar dari manusia gerobak fokus mengumpulkan barang bekas yang bernilai jual, ada juga yang memanfaatkan belas kasihan orang lain dengan memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Hal ini dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan dan keadaan ekonomi manusia gerobak (DYP, personal communication, June 20, 2024). FN dan IT, dua narasumber lainnya, menceritakan pengalaman ketika membantu manusia gerobak yang terlihat kesakitan, namun kemudian melihat orang yang sama melakukan hal serupa di hari berikutnya, menimbulkan keraguan akan keaslian kesulitan yang manusia gerobak tampilkan (FN, personal communication, June 29, 2024; IT, personal communication, July 6, 2024). Meski merasa curiga, FN dan IT mengakui bahwa ini mungkin merupakan strategi bertahan hidup di tengah kesulitan. Fenomena penggunaan strategi untuk menarik simpati publik tidak mencerminkan seluruh manusia gerobak, karena sebagian besar dari manusia gerobak murni mencari nafkah melalui kegiatan memulung tanpa berpura-pura (Elhany & Ariyanto, 2020; Rachmaningsih, 2024). Strategi ini menjadi bagian dari perjuangan bertahan hidup di kota, terutama saat momentum seperti bulan Ramadhan dan hari Jumat, di mana jumlah manusia gerobak meningkat di jalan-jalan utama seperti Way Halim dan Lungsir, dengan harapan mendapatkan lebih banyak sedekah (Elhany & Ariyanto, 2020; Hariqo, 2022; Janah, 2019). Menurut AS dari Dinas Sosial Kota Bandar Lampung, manusia gerobak memanfaatkan program sedekah yang marak di daerah sentral selama periode tersebut (AS, personal communication, June 27, 2024). DYP, anggota kelompok sedekah Jumat, juga menekankan bahwa jumlah manusia gerobak sering kali melampaui bantuan yang disediakan, mencerminkan tingginya ketergantungan pada sedekah Jumat (DYP, personal communication, June 20, 2024). Fenomena ini menunjukkan bagaimana manusia gerobak menyesuaikan strategi dengan kesempatan sosial, memanfaatkan momentum religius untuk mendapatkan bantuan. Hal ini relevan dengan teori dramaturgi Goffman, khususnya konsep "Front Stage" di mana seseorang mengatur interaksi dan perilaku untuk menciptakan kesan tertentu yang sesuai dengan harapan sosial (Goffman, 1959). Kehidupan manusia gerobak di Bandar Lampung menunjukkan bagaimana manusia gerobak bekerja dalam kondisi sulit, dengan akses yang terbatas ke pendidikan dan layanan kesehatan, serta menghadapi risiko kesehatan akibat paparan bahan berbahaya. Tekanan sosial-ekonomi memperparah kerentanan manusia gerobak, sehingga terbentuk jaringan solidaritas antar pemulung untuk saling membantu, berbagi informasi, dan bertahan hidup. Beberapa dari manusia gerobak juga memanfaatkan simpati publik dengan membawa anak kecil atau menunjukkan kondisi fisik yang lemah untuk mendapatkan bantuan. Peran ganda manusia gerobak ini menjadi salah satu dari banyak strategi bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan perkotaan, sementara sebagian besar manusia gerobak tetap fokus bekerja dengan tekun dan menunjukkan ketahanan tanpa mengandalkan belas kasih orang lain. 290 Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 3.2 Strategi Manusia Gerobak dalam memanfaatkan kondisi hidup yang sulit Penghasilan manusia gerobak di beberapa wilayah Bandar Lampung, seperti Kedamaian dan TPAS Bakung, masih tergolong tinggi (Janah, 2019; Yohana, 2023). Meskipun pendapatan manusia gerobak sering kali berfluktuasi, banyak yang tetap memilih untuk memulung sebagai sumber utama penghasilan. Hal ini disebabkan keterbatasan akses dan peluang pekerjaan lain, yang dipengaruhi oleh pengalaman kerja dan rendahnya tingkat pendidikan (Anggriawan, 2015). Keberlangsungan hidup manusia gerobak sangat bergantung pada ketahanan dan dedikasi terhadap pekerjaan ini, meskipun menghadapi tantangan ekonomi yang berat dan kondisi kerja yang tidak stabil. Dalam wawancara dengan SY, seorang manusia gerobak, ia menjelaskan bahwa pekerjaan mengumpulkan barang bekas dianggap lebih mudah dan memiliki risiko minimal dibandingkan pekerjaan musiman lainnya (SY, personal communication, July 28, 2024). Meskipun penghasilan dari pekerjaan ini tidak menentu, SY merasa lebih nyaman karena tidak terpengaruh oleh musim atau fluktuasi permintaan, berbeda dengan pekerjaan musiman. SY juga menambahkan bahwa beberapa manusia gerobak memilih profesi ini karena ada peluang mendapatkan sedekah dari pengguna jalan (SY, personal communication, July 28, 2024). Meskipun begitu, sebagian besar tetap fokus mencari penghasilan dari menjual barang bekas tanpa berpura-pura. BN, manusia gerobak lainnya, menyatakan bahwa penghasilan bervariasi, mulai dari Rp25.000 hingga Rp75.000 per hari, tergantung pada jumlah barang yang dikumpulkan, kondisi pasar daur ulang, dan lokasi kerja (BN, personal communication, July 28, 2024). Faktor cuaca dan kondisi jalan juga mempengaruhi penghasilan harian manusia gerobak. Meskipun pendapatan tidak pasti, manusia gerobak tetap bergantung pada pekerjaan ini sebagai sumber utama penghasilan. Menurut beberapa manusia gerobak dan Dinas Sosial Kota Bandar Lampung, tidak semua manusia gerobak berasal dari masyarakat lokal, melainkan juga dari Lampung Selatan dan Pulau Jawa. Jumlah manusia gerobak meningkat secara signifikan akibat pandemi Covid-19, yang menyebabkan hilangnya pekerjaan bagi sebagian orang, sehingga beralih menjadi pemulung gerobak (AS, personal communication, June 27, 2024; BN, personal communication, July 28, 2024; IA, personal communication, July 7, 2024). Manusia gerobak di Bandar Lampung bekerja sepanjang hari dan sering ditemukan di jalan-jalan utama kota, seperti Way Halim, Lungsir, Tugu Adipura, dan Antasari, hingga larut malam (Rachmaningsih, 2024). Beberapa observasi menunjukkan bahwa sebagian manusia gerobak di Bandar Lampung hanya duduk di tempat tertentu tanpa banyak aktivitas. Menurut BN, beberapa di antara manusia gerobak menerapkan strategi khusus dengan membawa anggota keluarga, seperti anak-anak atau lansia, serta perlengkapan seperti bantal dan guling di dalam gerobaknya. Taktik ini biasanya dilakukan setelah pukul 22.00 WIB dengan tujuan meningkatkan empati masyarakat yang melintas, sehingga lebih mungkin memberikan bantuan atau sedekah. Meskipun jumlah sedekah yang diterima setiap hari tidak menentu, manusia gerobak sering mendapatkan makanan dan obat-obatan dari pengguna jalan. Tidak jarang pula manusia gerobak menerima uang dalam jumlah puluhan ribu rupiah, yang membuat drama ini semakin marak karena pendapatan yang cukup menguntungkan (BN, personal communication, July 28, 2024). Goffman menjelaskan bahwa perilaku manusia gerobak ini berkaitan dengan kesan yang ingin diciptakan di hadapan orang lain. Dalam konteks ini, manusia gerobak menggunakan strategi komunikasi dan perilaku yang disesuaikan untuk memenuhi harapan sosial dan norma yang ada (Goffman, 1959). Komunikasi yang manusia gerobak gunakan sering kali menyentuh hati, disertai ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang memperkuat pesan kesulitan yang alami (Carlson, 2001; Shandy, 2022). Dengan cara ini, manusia gerobak berharap bisa mendapatkan respons positif dari masyarakat yang tergerak untuk memberi bantuan. BN, yang menjalankan peran dramaturgi dalam kehidupannya, mengaku sering merasa tertekan dan bersalah karena harus berpura-pura untuk Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung 291 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 mendapatkan sedekah (BN, personal communication, July 28, 2024). Ia menyadari bahwa strategi tersebut memanfaatkan emosi orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meskipun merasa tidak nyaman, BN tetap melakukannya karena penghasilan dari memulung tidak menjamin kelangsungan hidupnya. Analisis dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian manusia gerobak di Bandar Lampung sering menggunakan taktik berpura-pura sakit atau tidak berdaya sebagai strategi untuk menarik simpati masyarakat dan mendapatkan sedekah. Tampilan penderitaan ini tidak hanya bertujuan menarik perhatian, tetapi juga untuk meningkatkan jumlah bantuan yang diterima (AS, personal communication, June 27, 2024; IA, personal communication, July 7, 2024). Meskipun dianggap manipulatif, strategi ini merupakan bagian dari cara manusia gerobak bertahan hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Penggunaan citra penderitaan yang mendalam menunjukkan bagaimana manusia gerobak beradaptasi dengan ekspektasi sosial, khususnya dalam konteks simpati publik, untuk memperkuat peluang mendapatkan bantuan lebih besar. Taktik ini merefleksikan keterdesakan ekonomi yang memaksa manusia gerobak memanfaatkan dinamika interaksi sosial dengan cara yang lebih dramatis. Meskipun tidak terdapat perbandingan yang jelas antara peran tunggal dan ganda yang dimainkan oleh manusia gerobak, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian dari manusia gerobak yang tetap berada di lokasi yang sama hingga larut malam sering kali memerankan drama sebagai pengemis (DYP, personal communication, June 20, 2024; FN, personal communication, June 29, 2024; LL, personal communication, July 29, 2024). Manusia gerobak menggunakan strategi ini untuk menarik simpati masyarakat dan meningkatkan kemungkinan mendapatkan sedekah. Data observasi serta wawancara ini menyoroti bagaimana beberapa manusia gerobak tidak hanya bergantung pada kegiatan memulung, tetapi juga memainkan peran tertentu untuk mendapatkan perhatian dan bantuan dari publik (AS, personal communication, June 27, 2024; DYP, personal communication, June 20, 2024; FN, personal communication, June 29, 2024; IA, personal communication, July 7, 2024). Ketidakpastian ekonomi, dampak pandemi Covid-19, serta rendahnya tingkat pendidikan menjadi beberapa faktor utama yang menyebabkan manusia gerobak berkembang pesat di perkotaan. Manusia gerobak menggunakan strategi yang memanfaatkan kesan visual dan emosional, terutama di malam hari, untuk menarik perhatian publik. Strategi ini terbukti efektif dalam memperoleh bantuan, baik berupa uang maupun makanan (BN, personal communication, July 28, 2024). 3.3 Dinamika sosial dan ekonomi di sekitar kehidupan Manusia Gerobak Kehidupan sosial manusia gerobak sering dipandang sebelah mata, menempatkan manusia gerobak pada kelas sosial tersendiri (Yigit, 2015). Stigma sebagai pekerja kasar yang bergantung pada barang bekas membuat manusia gerobak terpinggirkan dan kurang dihargai, meskipun peran manusia gerobak penting dalam proses daur ulang (Widyaningsih & Ma’ruf, 2017). Pandangan negatif dari masyarakat menciptakan jarak sosial yang jelas (Elhany & Ariyanto, 2020). Stigma ini diperkuat oleh persepsi bahwa manusia gerobak adalah pengemis dengan modus tertentu (DYP, personal communication, June 20, 2024; FN, personal communication, June 29, 2024; LL, personal communication, July 29, 2024). Pandangan ini semakin kuat terutama ketika manusia gerobak terlihat membawa rombongan seperti anak-anak atau lansia di malam hari. Narasumber dari kalangan masyarakat banyak yang menilai bahwa manusia gerobak menggunakan belas kasihan untuk mendapatkan sedekah, sehingga semakin tersisih dan sulit mengakses peluang yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia gerobak. Stigma manusia gerobak sebagai pengemis dengan modus lain juga ditegaskan oleh narasumber seperti LL, DYP, FN, dan AN. LL mengungkapkan bahwa beberapa manusia gerobak yang dikenalnya 292 Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 sebenarnya hidup cukup layak dengan rumah dan keluarga, tetapi memilih profesi ini karena potensi pendapatan yang lebih baik dari belas kasihan pengguna jalan (LL, personal communication, July 29, 2024). DYP menyoroti peningkatan jumlah manusia gerobak pada hari-hari tertentu seperti Jumat, sementara FN dan AN kecewa dengan penampilan dramatis manusia gerobak yang selalu muncul di tempat yang sama (AN, personal communication, June 15, 2024; DYP, personal communication, June 20, 2024; FN, personal communication, June 29, 2024). Meski mendapatkan stigma, pekerjaan ini dianggap menjanjikan (Rachmaningsih, 2024), mendorong individu untuk berperan ganda sebagai pemulung dan pengemis demi memaksimalkan pendapatan (Nazhifah, 2023). Manusia gerobak seringkali berpura-pura mengalami kesulitan ekstrem untuk menarik simpati dan sedekah, meskipun sadar dengan pandangan negatif masyarakat (Rizkiandi, 2021). Fokus utama manusia gerobak tetap pada keuntungan ekonomi, sehingga memilih bertahan dalam profesi ini meski menghadapi stigma (Anggriawan, 2015). Fenomena ini sejalan dengan teori "Back Stage" dari Erving Goffman, di mana manusia gerobak dapat bersantai dari ekspektasi sosial dan menunjukkan sisi lebih autentik tanpa penilaian orang lain (Goffman, 1959). Dalam teorinya, Goffman (1959) menjelaskan bahwa setiap individu menjalankan berbagai peran dalam kehidupan sehari-hari, tergantung pada konteks sosial dan audiens. Seperti aktor di panggung, manusia gerobak mengadaptasi perilaku dan sikap untuk memenuhi ekspektasi masyarakat. Meski beberapa dari manusia gerobak memiliki kehidupan yang layak, sebagian dari manusia gerobak tetap berperan sebagai pemulung dan pengemis demi menciptakan kesan tertentu. Adaptasi peran ini penting untuk menjaga hubungan sosial dan menciptakan kesan yang diinginkan. Dalam wawancara, BN sebagai manusia gerobak mengatakan bahwa pekerjaan ini lebih mudah dijalani dibandingkan pekerjaan lain yang menguras tenaga dan waktu (BN, personal communication, July 28, 2024). BN juga menambahkan bahwa meski pendapatan dari memulung tidak besar, hal itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, sering kali ada penghasilan tambahan berupa uang atau makanan dari masyarakat yang melintas, membuat profesi ini lebih menguntungkan (Hanson & Kysar, 1999). Fenomena ini menunjukkan bagaimana faktor ekonomi memengaruhi keputusan individu dan bagaimana manusia gerobak mengelola peran sosial untuk bertahan hidup. Pendapatan yang tidak tetap dari memulung seringkali mendorong manusia gerobak untuk mengajak anak-anak bekerja. Hal ini berpotensi berdampak negatif pada tumbuh kembang anak, termasuk kesehatan fisik dan mental serta mengurangi kesempatan pendidikan, yang memperparah siklus kemiskinan (Janah, 2019). Meski pada awalnya tujuan manusia gerobak bukan untuk menarik simpati, melibatkan anak-anak ternyata sering mendatangkan lebih banyak belas kasihan dari masyarakat (Elhany & Ariyanto, 2020; Yigit, 2015). Malam hari menjadi waktu efektif untuk mendapatkan simpati, meskipun dihadapkan pada stigma sosial yang kuat. Pemulung seperti SY dan BN mengungkapkan bahwa manusia gerobak merasa dirugikan oleh stigma negatif, terutama bagi manusia gerobak yang benar-benar bekerja murni sebagai pemulung. Namun, tekanan ekonomi membuat manusia gerobak terpaksa memainkan peran ganda demi kelangsungan hidup (BN, personal communication, July 28, 2024; SY, personal communication, July 28, 2024). Walaupun menghadapi stigma sosial, banyak manusia gerobak tetap memilih profesi ini karena dianggap lebih mudah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pekerjaan lain sering kali tidak memberikan penghasilan yang memadai atau terlalu menuntut. Beberapa dari manusia gerobak juga menarik simpati dan sedekah, mengesampingkan pandangan negatif masyarakat demi bertahan hidup. Fenomena ini menyoroti bagaimana kebutuhan ekonomi dapat mengalahkan stigma sosial, dengan manusia gerobak terus berjuang di tengah tantangan dan diskriminasi yang dihadapi. 3.4 Kebijakan sosial dan respons masyarakat Kebijakan sosial untuk menangani manusia gerobak di Bandar Lampung telah melibatkan berbagai pihak, termasuk tindakan penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), terutama selama bulan Ramadhan ketika jumlah manusia gerobak meningkat drastis (Hariqo, 2022; Ramlan, 2024). Pada bulan ini, manusia gerobak sering memanfaatkan momen untuk mendapatkan lebih Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung 293 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 banyak sedekah dari masyarakat. Dalam satu ruas jalan, tercatat rata-rata 31 manusia gerobak selama bulan Ramadhan (Lampung Geh, 2020). Penertiban bertujuan menjaga ketertiban kota, tetapi menimbulkan dilema. Bagi manusia gerobak yang memulung sebagai mata pencaharian utama, pengangkutan gerobak dianggap mengganggu pekerjaan yang sah (Hariqo, 2022). Hal ini memicu perdebatan tentang perlunya keseimbangan antara menjaga ketertiban kota dan memberikan dukungan ekonomi bagi yang memerlukan. Solusi berupa program pelatihan keterampilan dan bantuan ekonomi yang lebih efektif diusulkan untuk mengurangi jumlah manusia gerobak di kota ini (Sri, 2020). Dalam wawancara, BG, anggota Satpol PP Bandar Lampung, menekankan perlunya kebijakan yang lebih inklusif, memperhitungkan latar belakang manusia gerobak dan menawarkan dukungan sosial seperti pelatihan keterampilan (BG, personal communication, July 20, 2024). Di Yogyakarta, kolaborasi antara Satpol PP dan panti sosial menunjukkan pendekatan rehabilitasi yang bisa diterapkan di Bandar Lampung (Mardiyah, 2016). Namun, AS dari Dinas Sosial mengakui bahwa program wirausaha dan pembinaan bagi pemulung belum memberikan dampak signifikan karena kesulitan mengubah pola pikir dan kondisi sosial manusia gerobak (AS, personal communication, June 27, 2024). Pendekatan yang holistik, mengintegrasikan pelatihan keterampilan dan dukungan sosial, diperlukan untuk membantu manusia gerobak beralih ke pekerjaan yang lebih stabil (Gede & Rahayu, 2022). Meskipun kerja sama dengan yayasan telah dilakukan, tingkat partisipasi manusia gerobak dalam program ini masih rendah (AS, personal communication, June 27, 2024; IA, personal communication, July 7, 2024). Ini menunjukkan bahwa perubahan pola pikir dan motivasi perlu diperhatikan dalam kebijakan sosial (Oktaviani, 2020). Menangani manusia gerobak di Bandar Lampung menjadi tantangan kompleks bagi instansi terkait karena beragamnya motivasi manusia gerobak. Beberapa bergantung sepenuhnya pada memulung, sementara yang lain menggunakan peran tersebut untuk menarik simpati dan bantuan (DYP, personal communication, June 20, 2024; LL, personal communication, July 29, 2024). Keberagaman ini menyulitkan perancangan kebijakan yang tepat (Hariqo, 2022). AN dari Dinas Sosial menyatakan bahwa perbedaan tujuan dan strategi serta faktor sosial ekonomi yang melatarbelakangi kegiatan memulung menyulitkan penanganan kelompok ini (AN, personal communication, June 15, 2024). Survei terhadap 10 narasumber dan 15 masyarakat acak menunjukkan bahwa strategi ini menimbulkan kesan negatif, menyebabkan masyarakat merasa tertipu dan menurunkan kepercayaan manusia gerobak (Tahitu & Lawalata, 2017). Akibatnya, donasi berkurang karena masyarakat mulai meragukan niat baik penerima bantuan (DYP, personal communication, June 20, 2024; FN, personal communication, June 29, 2024; IA, personal communication, July 7, 2024; LL, personal communication, July 29, 2024). Stigma terhadap manusia gerobak yang dianggap tidak jujur juga menghalangi bantuan bagi yang benar-benar memerlukan, sehingga manusia gerobak kesulitan mendapatkan dukungan yang dibutuhkan (Shandy, 2022). Ketidakpastian ini memperburuk kondisi manusia gerobak dan membuat terperangkap dalam siklus kemiskinan yang lebih dalam. Meskipun ada penurunan simpati akibat peran ganda yang dimainkan oleh sebagian manusia gerobak, banyak pengguna jalan tetap memberikan bantuan berupa makanan dan sedekah. Walaupun kepercayaan masyarakat berkurang, empati dan rasa kemanusiaan tetap menjadi landasan bagi sebagian orang untuk memberi bantuan, dengan harapan dapat meringankan beban penerima, terlepas dari kemungkinan penipuan. Namun, penanganan manusia gerobak yang dilakukan hanya pada waktu-waktu tertentu belum memberikan dampak signifikan, sehingga fenomena ini tetap ada di lokasi-lokasi strategis Kota Bandar Lampung. Meskipun berbagai kebijakan telah diterapkan, ketidakkonsistenan dalam penanganan dan kurangnya pendekatan yang menyentuh akar permasalahan membuat masalah ini tetap berkembang. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang 294 Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 lebih menyeluruh dan berkelanjutan, dengan kerja sama antara Satpol PP, Dinas Sosial, dan panti sosial, serta pelatihan keterampilan, pembinaan kewirausahaan, dan dukungan sosial yang terintegrasi untuk manusia gerobak. Kebijakan yang efektif dalam menangani masalah manusia gerobak perlu mempertimbangkan perbedaan antara individu yang benar-benar membutuhkan dukungan dan manusia gerobak yang mungkin hanya memanfaatkan situasi untuk keuntungan pribadi. Ketidakpastian ini menjadi tantangan, karena dukungan masyarakat terhadap manusia gerobak di Bandar Lampung sering kali tidak memberikan dampak yang diharapkan. Salah satu alasan utama adalah keberadaan sebagian manusia gerobak yang berperan ganda, yaitu sebagai pemulung sekaligus pengemis. Peran ganda ini dapat mengaburkan niat dan kebutuhan sebenarnya dari individu-individu tersebut, sehingga masyarakat cenderung skeptis dan kurang memberi dukungan secara optimal. Penting untuk merumuskan kebijakan yang dapat membedakan antara kedua kelompok ini, agar bantuan yang diberikan dapat lebih tepat sasaran dan bermanfaat bagi manusia gerobak yang benar-benar membutuhkan. Permasalahan kompleks terkait manusia gerobak di Bandar Lampung belum sepenuhnya mendorong sinergi antara instansi pemerintah dan lembaga sosial untuk merancang kebijakan yang efektif dalam menciptakan kota yang lebih bersih dan tertata (Amarani et al., 2023; Hamdi, 2021; Nainggolan, 2023). Upaya yang telah dilakukan mencakup program penertiban, pembersihan area publik, serta pelatihan keterampilan untuk membantu transisi manusia gerobak ke pekerjaan yang lebih layak, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia gerobak serta menjaga estetika kota (Nazhifah, 2023). Sayangnya, program-program ini sering kali hanya dilakukan secara musiman, seperti saat bulan Ramadhan, sehingga dampaknya tidak berkelanjutan dalam jangka panjang (Hariqo, 2022). Pengaturan kota harus memperhitungkan dampak sosial dari kebijakan yang diterapkan, mengingat masalah manusia gerobak mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan psikologis (Arruda, 2024). Inisiatif untuk menciptakan kota yang bersih perlu disertai dengan solusi yang lebih sensitif terhadap kebutuhan manusia gerobak, seperti program dukungan sosial yang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan perempuan pemulung di Yogyakarta (Nasution, 2022). Beberapa manusia gerobak juga menjalankan peran ganda sebagai pemulung dan pengemis, yang sering kali memperburuk stigma sosial terhadap manusia gerobak, meskipun tidak semua terlibat dalam aktivitas mengemis (Bajpai & Tripathi, 2023; Saldanha et al., 2022). Banyak di antara manusia gerobak yang fokus mencari nafkah hanya melalui kegiatan memulung, seperti yang dapat dilihat di sekitar Pasar Pasir Gintung (Nurintan, 2017; Rachmaningsih, 2024). 4. Pembahasan Permasalahan kompleks terkait manusia gerobak di Bandar Lampung belum sepenuhnya mendorong sinergi antara instansi pemerintah dan lembaga sosial untuk merancang kebijakan yang efektif dalam menciptakan kota yang lebih bersih dan tertata (Amarani et al., 2023; Hamdi, 2021; Nainggolan, 2023). Upaya yang telah dilakukan mencakup program penertiban, pembersihan area publik, serta pelatihan keterampilan untuk membantu transisi manusia gerobak ke pekerjaan yang lebih layak, dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia gerobak serta menjaga estetika kota (Nazhifah, 2023). Sayangnya, program-program ini sering kali hanya dilakukan secara musiman, seperti saat bulan Ramadhan, sehingga dampaknya tidak berkelanjutan dalam jangka panjang (Hariqo, 2022). Pengaturan kota harus memperhitungkan dampak sosial dari kebijakan yang diterapkan, mengingat masalah manusia gerobak mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan psikologis (Arruda, 2024). Inisiatif untuk menciptakan kota yang bersih perlu disertai dengan solusi yang lebih sensitif terhadap kebutuhan manusia gerobak, seperti program dukungan sosial yang telah berhasil meningkatkan kesejahteraan perempuan pemulung di Yogyakarta (Nasution, 2022). Beberapa manusia gerobak juga menjalankan peran ganda sebagai pemulung dan pengemis, yang sering kali Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung 295 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 memperburuk stigma sosial terhadap manusia gerobak, meskipun tidak semua terlibat dalam aktivitas mengemis (Bajpai & Tripathi, 2023; Saldanha et al., 2022). Banyak di antara manusia gerobak yang fokus mencari nafkah hanya melalui kegiatan memulung, seperti yang dapat dilihat di sekitar Pasar Pasir Gintung (Nurintan, 2017; Rachmaningsih, 2024). 5. Kesimpulan Penelitian mengenai manusia gerobak di Kota Bandar Lampung mengungkap beberapa temuan penting. Sebagian dari manusia gerobak tidak hanya memulung, tetapi juga memanfaatkan kondisi manusia gerobak untuk menarik simpati publik demi pendapatan tambahan, menampilkan citra penderitaan di jalanan. Hal ini menunjukkan bahwa manusia gerobak telah bertransformasi menjadi "aktor" yang menjual visual penderitaan demi sumbangan. Manusia gerobak bahkan menggunakan strategi yang terencana, seperti memulung hingga larut malam dan melibatkan anggota keluarga, termasuk anak-anak dan lansia, guna meningkatkan simpati masyarakat. Faktor-faktor seperti pengangguran, kemiskinan, dan rendahnya akses pendidikan turut mendorong berkembangnya strategi ini, yang terbukti efektif dalam meningkatkan pendapatan harian. Meskipun stigma sosial seringkali melekat, sebagian besar manusia gerobak tampaknya mengesampingkan hal tersebut demi keuntungan ekonomi. 6. Saran Penelitian tentang manusia gerobak di Kota Bandar Lampung menyoroti perlunya langkah konkret untuk memberdayakan manusia gerobak secara sosial-ekonomi. Pemerintah dapat menginisiasi program pelatihan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja, serta meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak manusia gerobak guna memutus siklus kemiskinan. Pendekatan holistik yang mencakup penyediaan akses kesehatan, hunian layak, dan perlindungan sosial juga perlu diprioritaskan. Selain itu, masyarakat perlu diedukasi agar mendukung program rehabilitasi yang lebih berkelanjutan daripada hanya memberikan sumbangan. Kebijakan yang lebih tegas terkait pengentasan kemiskinan dan perlindungan anak juga harus diperkuat untuk mengatasi eksploitasi di jalanan. Ucapan Terima Kasih: Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh kontributor atas partisipasinya dalam menyusun dan menyelesaikan penelitian ini. Dedikasi dalam menganalisis dan menyajikan temuan secara sistematis telah memperkaya pemahaman akademik tentang fenomena manusia gerobak di perkotaan. Apresiasi juga disampaikan kepada para narasumber, khususnya komunitas manusia gerobak, yang dengan keterbukaan mereka telah memberikan wawasan berharga mengenai realitas sosial dan ekonomi yang dihadapi. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Dinas Sosial terkait atas informasi, data, dan perspektif kebijakan yang mendukung validitas serta relevansi penelitian ini. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi akademis dan menjadi bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam merumuskan langkah-langkah strategis yang lebih efektif dalam menangani isu sosial ini. Daftar Pustaka Achmad, I. (2019). Kondisi Sosial Penyandang Tunawsima di Tengah Masyarakat Kota Makassar [Diploma]. Universitas Negeri Makassar. 296 Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 Amarani, S., Aminah, R. S., Karomah, D. N., Aridi, A. I. P., & Priyanti, E. (2023). Manajemen Strategi Dinas Sosial Dalam Menangani Manusia Gerobak Di Kabupaten Karawang. MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(2), Article 2. https://doi.org/10.62017/merdeka.v1i2.644 Anggriawan, P. A. (2015). Etika Komunikasi Kelompok Pemulung Di Jalan Bri Radio Dalam Gandaria Utara Jakarta Selatan. Arruda, R. T. (2024). Kosmovisi Dan Realitas: Filosofi Masing-Masing. Terra à Vista. Bajpai, A., & Tripathi, N. (2023). Perceptions of Economic Status and Social Stigma among Beggars: Implications for Health. Psychological Studies. https://doi.org/10.1007/s12646-023-00728-4 BPS Kota Bandar Lampung. (2022). Jumlah Pemulung Menurut Kecamatan. Badan Pusat Statistik Kota Bandar Lampung. Carlson, A. E. (2001). Recycling Norms. California Law Review, 89(5), 1231–1300. https://doi.org/10.2307/3481159 Elhany, H., & Ariyanto, B. (2020). Budaya Komunikasi Manusia Gerobak. Ath-Thariq: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 4(1), 100–111. Gede, P. D., & Rahayu, S. (2022). Model Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lokal dan Peran Pemerintah. Ahlimedia Book. Ghofur, A. (2019). Manusia Gerobak: Kajian mengenai Taktik-Taktik Pemulung Jatinegara di Tengah Kemiskinan Kota. Lembaga Penelitian SMERU. Goffman, E. (with Internet Archive). (1959). The presentation of self in everyday life. Garden City, N.Y., Doubleday. Gowan, T. (1997). American Untouchables: Homeless Scavengers In San Francisco’s Underground Economy. International Journal of Sociology and Social Policy, 17(3/4), 159–190. https://doi.org/10.1108/eb013304 Hafiz, M. (2013). Implementasi Kebijakan Pemerintah Kota Medan Dalam Mengelola Pedagang Kaki Lima (Studi di Kecamatan Medan Barat) [Thesis]. Universitas Medan Area. Hamdi, A. N. (2021, June 15). Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) Di Kelurahan Alalak Selatan Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin [Monograph]. Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin. Hanson, J. D., & Kysar, D. A. (1999). Taking Behavioralism Seriously: Some Evidence of Market Manipulation. Harvard Law Review, 112(7), 1420–1572. https://doi.org/10.2307/1342413 Hariqo, R. (2022, September 19). Warga Bisa Laporkan Fenomena Manusia Gerobak ke Dinas Sosial Kota Bandar Lampung. Lampungnewspapernews.Com. Janah, M. (2019). Deskripsi Kondisi Sosial Ekonomi Kepala Keluarga Pemulung Di Kelurahan Kali Balau Kencana Kecamatan Kedamaian Kota Bandar Lampung [Skripsi]. FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN. http://digilib.unila.ac.id/57488/ Koonan, S. (2021). Legal Discourses on Manual Scavenging in India: From ‘Right’ to a ‘Crime.’ Indian Anthropologist, 51(2), 41–56. Lampung Geh. (2020). Fenomena “Manusia Gerobak” Kembali Menjamur di Kota Bandar Lampung. kumparan. Loberta, N. (2014). Strategi Bertahan Hidup “Manusia Gerobak” Di Perkotaan (Studi Kasus Pada “Manusia Gerobak” di Daerah Manggarai, Jakarta Selatan) [Doctoral]. Universitas Negeri Jakarta. Mardiyah, U. (2016). Bimbingan Keterampilan Terhadap Gelandangan Dan Pengemis Di Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya Dan Laras Yogyakarta (Studi Analisa Design Pelatihan) [Skripsi]. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. McTEE, M., Hiller, B., & Ramsey, P. (2019). Free Lunch, May Contain Lead: Scavenging Shot Small Mammals. The Journal of Wildlife Management, 83(6), 1466–1473. Mufidah, N. (2014). Kritik Sosial dalam Puisi Esai “Manusia Gerobak” karya Elza Peldi Taher dan Implikasinya terhadap Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA. Nainggolan, R. (2023). Sistem Pengelolaan Sampah Di Lingkungan Vii Kelurahan Tegal Rejo. Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung 297 SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 Nartin, F., Deni, A., Heru, Y. S., Paharuddin, Gede Suacana, W., Indrayani, E., Yasa Utama, F., J. Tarigan, W., & Eliyah. (2024). Metode Penelitian Kualitatif. Cendikia Mulia Mandiri. Nasution, L. F. (2022). Dukungan Sosial Terhadap Perempuan Pemulung Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Sosial (Studi Kasus Di Kampung Karanganyar Yogyakarta) [Masters]. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Nazhifah, Q. A. (2023). Karakteristik Sosial Ekonomi Pemulung Di Tempat Akhir Pembuangan Sampah Metro Utara Kota Metro Tahun 2022. Universitas Lampung. Nurintan, A. R. (2017, July 10). Manusia Gerobak (Kajian Sosiologis Tentang Strategi Bertahan Hidup Manusia Gerobak di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung ) [Skripsi]. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK. Oktaviani, E. (2020). Pembinaan Pengemis Dalam Meningkatkan Life Skills Oleh Dinas Sosial Provinsi Lampung [Undergraduate]. UIN Raden Intan Lampung. Pekasih, C. I. S. (2022). Collaborative Governance dalam program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan) untuk mengatasi permasalahan sampah di Kota Bandung. Distingsi: Journal of Digital Society (DJODS), 1(16), Article 16. Pris. (2019). Data Pemulung di Indonesia. IPI (Ikatan Pemulung Indonesia). Rachmaningsih, M. (2024). Fenomena Manusia Gerobak: Antara Strategi Bertahan Hidup dan Eksploitasi Anak [bachelorThesis]. Jakarta : FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ramlan, D. A. (2024). Satpol PP Bandar Lampung Tertibkan Manusia Silver Hingga Manusia Gerobak Secara Humanis. lampungnewspapernews.com. Ratna, H. (2017). Timbulan Dan Pengumpulan Sampah Rumah Tangga Di Kecamatan Rungkut, Surabaya. Departemen Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Ravichandran, B. (2011). Scavenging Profession: Between Class and Caste? Economic and Political Weekly, 46(13), 21–25. Rizkiandi, R. (2021). Realitas Para Penunggu Sedekah (Fenomena Pengemis Kota Mataram). GUEPEDIA. Rukin. (2019). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia. Saldanha, S., Kirchhelle, C., Webster, E., Vanderslott, S., & Vaz, M. (2022). Between paternalism and illegality: A longitudinal analysis of the role and condition of manual scavengers in India. BMJ Global Health, 7(7), e008733. https://doi.org/10.1136/bmjgh-2022-008733 Samson, M. (2008). Refusing to be Cast Aside: Waste Pickers Organising Around the World. Cambridge, Massachusetts: WIEGO. Shandy, A. (2022). Kajian Sosiologi Tingkat Kesadaran Pendidikan pada Masyarakat Kampung Pemulung Kledokan Yogyakarta. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan), 2 (6). Shankar, S., & Swaroop, K. (2021). Manual Scavenging in India: The Banality of an Everyday Crime. CASTE: A Global Journal on Social Exclusion, 2(1), 67–76. Singh, R. K. (2009). Manual Scavenging as Social Exclusion: A Case Study. Economic and Political Weekly, 44(26/27), 521–523. Sri. (2020). Fenomena Manusia Gerobak, Ini Kata Kasatpol PP Bandar Lampung Suhardi. Kompas. Supiadi, E., Aulia, A., & Firmansyah, M. R. (2022). Kondisi Psikososial-Ekonomi Manusia Gerobak di Kota Bekasi Provinsi Jawa Barat. Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos), 4(1). Tahitu, A., & Lawalata, C. M. A. (2017). Kemiskinan Perkotaan: Strategi Pemulung di Kota Ambon. Sosio Informa, 3(1), Article 1. https://doi.org/10.33007/inf.v3i1.388 Widyaningsih, T., & Ma’ruf, A. (2017). Eksternalitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (Tpst) Piyungan Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ekonomi & Studi Pembangunan, 18 (1)(86–103). 298 Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Vol. 14, No. 3 (2025): hal 287-299 Yigit, I. (2015). Survival Tactics of Waste Paper Pickers in Istanbul. Journal of Ethnic and Cultural Studies, 2(1), 1–14. Yohana, W. (2023). Profil Pemulung Di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Bakung Kecamatan Telukbetung Barat Kota Bandar Lampung. Universitas Lampung. (Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY SA) license https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/). Imam Nururi , Asep Yudianto, Andi Eka Putra , & M. Guntur Sandi Pratama Dramaturgi Kehidupan Manusia Gerobak di Kota Bandar Lampung 299