Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 483-493 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Model Kolaborasi Guru Dan Orangtua Dalam Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini: Sebuah Tinjauan Literatur Dalam Perspektif Pendidikan Islam Nurhayati1. Nayla Rizka Irwani2. Evi Sukma Pratiwi3 Info Artikel Abstract Keywords: Early detection of developmental disorders in early childhood is crucial for optimal child development, particularly within Islamic Early Childhood Education (PIAUD) institutions where teachers and parents share the amanah . of nurturing children holistically. Despite its importance, collaboration between teachers and parents in conducting early detection remains underexplored in the Indonesian PIAUD context. This study aims to explore the collaborative model between teachers and parents in early detection of developmental disorders in PIAUD settings, integrating Islamic education perspectives. This research employed a systematic literature review approach, analyzing 35 selected articles from 2020-2025 focusing on early detection, teacher-parent partnerships, and Islamic early childhood education. Findings reveal that effective collaboration is built upon Islamic principles of ta'awun . utual assistanc. , transparent communication, and shared responsibility. Teachers serve as professional observers in school settings, while parents act as primary observers at home. Key success factors include: . teacher competency in developmental screening, . parental awareness and involvement, . integrated communication systems, and . alignment with Islamic values of tarbiyah and ri'ayah. Teacher-parent collaboration in early detection represents a manifestation of shared educational amanah in Islam, facilitating timely intervention and optimal child development. This study provides a framework for PIAUD institutions to strengthen collaborative programs through Islamic-based training, parental education emphasizing religious responsibilities, and establishing communication systems rooted in musyawarah principles. Early Detection. Teacher-Parent Cooperation. Child Development. Early Childhood Education. Developmental Disorders. Kata kunci: Abstrak Deteksi Dini. Kolaborasi Orang Tua. Perkembangan Anak. Pendidikan Anak Usia Dini. Gangguan Perkembangan. Deteksi dini gangguan perkembangan anak usia dini merupakan aspek krusial dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak, khususnya dalam konteks Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) di mana guru dan orang tua berbagi amanah dalam mendidik anak secara holistik. Meskipun penting, kolaborasi antara guru dan orang tua dalam pelaksanaan deteksi dini masih kurang tergali dalam konteks PIAUD di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi model kolaborasi antara guru dan orang tua dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak di lembaga PIAUD dengan mengintegrasikan perspektif pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis dengan menganalisis 35 artikel terpilih periode 2020-2025 yang berfokus pada deteksi dini, kemitraan guru-orang tua, dan pendidikan Islam anak usia dini. Temuan menunjukkan bahwa kolaborasi efektif dibangun atas prinsip Islam berupa ta'awun . olong-menolon. , komunikasi transparan, dan tanggung jawab bersama. Guru berperan sebagai pengamat profesional di sekolah, sementara orang tua sebagai pengamat utama di rumah. Faktor kunci Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Sumatra Utara. Medan. Indonesia Email: nurhayatijm24@gmail. 2 Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Sumatra Utara. Medan. Indonesia Email: naylarizkairwani0110@gmail. 3 Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Islam Negeri Sumatra Utara. Medan. Indonesia Email: evisukmap@gmail. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 keberhasilan meliputi: . kompetensi guru dalam skrining perkembangan, . kesadaran dan keterlibatan orang tua, . sistem komunikasi terintegrasi, dan . keselarasan dengan nilai Islam dalam tarbiyah dan ri'ayah. Kolaborasi guruorang tua dalam deteksi dini merupakan perwujudan amanah pendidikan bersama dalam Islam yang memfasilitasi intervensi tepat waktu dan perkembangan optimal anak. Penelitian ini memberikan kerangka bagi lembaga PIAUD untuk memperkuat program kolaboratif melalui pelatihan berbasis nilai Islam, pendidikan orang tua yang menekankan tanggung jawab religius, serta membangun sistem komunikasi berakar pada prinsip musyawarah. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 25 November 2025 05 Desember 2025 16 Desember 2025 16 Desember 2025 Cara Mensitasi Artikel: Nurhayati. Irwani. , & Pratiwi. Model Kolaborasi Guru Dan Orangtua Dalam Deteksi Dini Gangguan Tumbuh Kembang Anak Usia Dini: Sebuah Tinjauan Literatur Dalam Perspektif Pendidikan Islam. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 483-493, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Nurhayati, nurhayatijm24@gmail. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Masa anak usia dini . -6 tahu. merupakan periode emas . olden ag. yang menentukan kualitas perkembangan manusia di masa depan. Pada fase ini, otak berkembang hingga 80% dari kapasitas dewasa, menjadikan stimulasi tepat sangat krusial bagi perkembangan kognitif, motorik, bahasa, sosial, dan emosional anak (Puspitasari et al. , 2. Dalam perspektif Islam, masa ini juga dipandang sebagai fase pembentukan fitrah dan karakter dasar anak yang menjadi amanah . anggung jawa. bagi orang tua dan pendidik. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6: "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. " yang menegaskan kewajiban orang tua dalam mendidik dan melindungi anak, termasuk memastikan tumbuh kembangnya optimal. Namun, tidak semua anak mengalami perkembangan optimal. Data Kementerian Kesehatan RI . menunjukkan bahwa prevalensi gangguan perkembangan pada anak usia dini di Indonesia mencapai 13-18%, dengan mayoritas kasus terdeteksi terlambat ketika anak memasuki usia sekolah dasar (Widodo & Pramesti, 2. Keterlambatan deteksi ini berdampak pada hilangnya momentum intervensi optimal, sehingga gangguan perkembangan dapat menjadi permanen dan menghambat prestasi akademik serta kemampuan sosial anak di masa depan. Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi. Nasrani, atau Majusi" (HR. Bukhar. , yang menunjukkan pentingnya peran lingkungan, khususnya orang tua dan pendidik, dalam membentuk perkembangan anak. Dalam konteks Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), deteksi dini gangguan perkembangan bukan hanya tanggung jawab profesional kesehatan, tetapi juga merupakan bagian integral dari tugas pendidikan yang diamanahkan kepada guru dan orang tua (Rahmawati & Fauziah, 2. Guru PIAUD memiliki kesempatan mengamati perkembangan anak melalui interaksi pembelajaran harian di sekolah, sementara orang tua memiliki pemahaman mendalam tentang perilaku anak di lingkungan rumah. Kolaborasi kedua pihak ini sejalan dengan prinsip ta'awun . olong-menolon. dalam Islam sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Maidah ayat 2: ". tolong-menolonglah kamu dalam . kebajikan dan takwa. Meskipun pentingnya deteksi dini telah banyak dikaji dalam literatur kesehatan anak, namun penelitian yang secara spesifik mengeksplorasi model kolaborasi guru-orang tua dalam konteks PIAUD masih sangat terbatas (Ahmad & Solicha, 2. Penelitian sebelumnya lebih banyak fokus pada aspek klinis deteksi dini di fasilitas kesehatan (Fitriani et al. , 2. atau peran tunggal guru Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 tanpa melibatkan dimensi kemitraan orang tua secara mendalam (Nurjanah et al. , 2. Lebih jauh lagi, integrasi perspektif pendidikan Islam dalam kerangka kolaborasi deteksi dini masih menjadi area yang belum tergarap secara sistematis dalam literatur akademik Indonesia (Hasanah & Munawaroh, 2. Kesenjangan ini penting untuk dijembatani mengingat lembaga PIAUD di Indonesia memiliki karakteristik unik yang berbeda dengan lembaga PAUD konvensional, yaitu adanya nilai-nilai Islam yang melandasi seluruh praktik pendidikan, termasuk dalam hal tanggung jawab bersama . , komunikasi berbasis musyawarah, dan orientasi holistik terhadap perkembangan anak . arbiyah dan ri'aya. Selain itu, tingkat keterlibatan orang tua dalam lembaga PIAUD cenderung lebih tinggi karena motivasi religius, namun belum dimanfaatkan secara optimal dalam sistem deteksi dini yang terstruktur (Azizah et al. , 2. Penelitian ini menghadirkan kebaruan dengan mengintegrasikan perspektif pendidikan Islam ke dalam kerangka kolaborasi guru-orang tua untuk deteksi dini gangguan perkembangan anak. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang bersifat teknis-klinis, penelitian ini mengeksplorasi dimensi nilai, komunikasi, dan tanggung jawab bersama berbasis ajaran Islam sebagai fondasi kolaborasi efektif. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menjawab "bagaimana" kolaborasi dilakukan, tetapi juga "mengapa" kolaborasi dalam perspektif Islam menjadi penting dan "apa" nilai-nilai yang harus mendasarinya. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis berupa kerangka konseptual kolaborasi berbasis nilai Islam dalam deteksi dini, serta kontribusi praktis berupa rekomendasi program pelatihan guru, pendidikan orang tua, dan sistem komunikasi terintegrasi yang dapat diterapkan di lembaga PIAUD untuk meningkatkan efektivitas deteksi dini gangguan perkembangan METODE Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis . ystematic literature revie. dengan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi dan mensintesis temuan dari berbagai sumber literatur ilmiah terkait kolaborasi guru dan orang tua dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak di lembaga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Metode ini dipilih karena sesuai untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengintegrasikan hasil penelitian sebelumnya guna membangun pemahaman komprehensif tentang fenomena yang dikaji (Snyder, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur sistematis untuk mengkaji kolaborasi guru dan orang tua dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak di konteks Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Tahap awal penelitian diawali dengan identifikasi literatur yang dilakukan secara sistematis melalui berbagai basis data akademik bereputasi, yaitu Google Scholar. DOAJ (Directory of Open Access Journal. Portal Garuda. ERIC (Education Resources Information Cente. , dan Scopus. Proses pencarian menggunakan kata kunci berbahasa Inggris dan Indonesia, seperti early detection, developmental disorders, teacher-parent collaboration, early childhood education. Islamic education. PIAUD, serta padanan istilah dalam bahasa Indonesia seperti deteksi dini, gangguan perkembangan anak, kolaborasi guru-orang tua, pendidikan anak usia dini, dan pendidikan Islam. Strategi ini bertujuan untuk menjaring literatur yang komprehensif dan relevan dengan fokus kajian. Selanjutnya, seleksi literatur dilakukan melalui tiga tahap bertahap dan sistematis. Pada tahap pertama, dilakukan skrining judul dan abstrak terhadap 127 artikel awal untuk menilai kesesuaian topik dengan fokus penelitian. Tahap ini menghasilkan 68 artikel yang dinilai relevan secara umum. Tahap kedua berupa penilaian kelayakan melalui pembacaan teks lengkap ( full-text guna memastikan keterkaitan substansi artikel dengan aspek kolaborasi guru dan orang Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 tua, deteksi dini gangguan perkembangan anak, serta perspektif pendidikan Islam. Dari proses ini diperoleh 42 artikel yang memenuhi kriteria. Tahap ketiga adalah penilaian kualitas artikel berdasarkan kejelasan metodologi, kredibilitas sumber, kebaruan temuan, dan relevansi dengan konteks PIAUD. Hasil akhir dari proses seleksi ini adalah 35 artikel yang dinilai layak untuk dianalisis secara mendalam. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan analisis tematik ( thematic analysi. dengan mengacu pada kerangka kerja Braun dan Clarke . Tahapan analisis dimulai dengan familiarisasi data melalui pembacaan berulang seluruh artikel terpilih untuk memperoleh pemahaman menyeluruh terhadap isi literatur. Tahap berikutnya adalah pengkodean awal dengan mengidentifikasi konsep-konsep kunci seperti peran guru, peran orang tua, model kolaborasi, nilainilai Islam, deteksi dini, dan intervensi. Kode-kode yang memiliki keterkaitan selanjutnya dikelompokkan untuk membentuk tema-tema potensial. Tema-tema tersebut kemudian ditinjau kembali untuk memastikan konsistensi dan relevansinya dengan data yang dianalisis. Setelah itu, dilakukan pendefinisian dan penamaan tema secara final sebelum hasil analisis dilaporkan dalam bentuk narasi deskriptif yang didukung oleh kutipan literatur (Braun & Clarke, 2. Hasil analisis tematik mengungkapkan lima tema utama, yaitu: . konsep deteksi dini gangguan perkembangan anak dalam perspektif Islam, . peran guru sebagai pengamat profesional dan fasilitator, . peran orang tua sebagai pengamat utama dan pemberi stimulasi perkembangan anak, . model kolaborasi guru-orang tua yang berlandaskan nilai taAoawun dan musyawarah, serta . faktor pendukung dan penghambat terwujudnya kolaborasi yang efektif. Tema-tema ini mencerminkan integrasi antara pendekatan pedagogis modern dan nilai-nilai pendidikan Islam dalam praktik PIAUD. Tahap akhir penelitian adalah sintesis temuan, yang dilakukan dengan mengintegrasikan hasil analisis tematik untuk membangun kerangka konseptual kolaborasi guru dan orang tua dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak di PIAUD. Sintesis ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola-pola temuan yang konsisten, menyoroti kontribusi perspektif pendidikan Islam sebagai landasan nilai kolaborasi, serta mengungkap kesenjangan penelitian ( research ga. yang masih Selain itu, hasil sintesis digunakan untuk merumuskan rekomendasi bagi penelitian lanjutan dan pengembangan praktik kolaboratif di lembaga PIAUD (Creswell, 2. Seluruh proses penelitian dirancang dengan memperhatikan relevansi terhadap konteks PIAUD di Indonesia. Oleh karena itu, artikel yang dipilih harus membahas deteksi dini dalam setting pendidikan anak usia dini, mengeksplorasi kemitraan guru dan orang tua, atau mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pendidikan anak. Pembatasan pada literatur terbitan tahun 2020Ae2025 dilakukan untuk memastikan bahwa temuan penelitian mencerminkan perkembangan mutakhir dalam bidang pendidikan anak usia dini dan pendidikan Islam. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pertumbuhan dan perkembangan adalah konsep dasar dalam kesehatan anak yang menggambarkan proses perubahan dinamis dan berkelanjutan yang dialami manusia dari konsepsi hingga dewasa. Pemahaman yang mendalam tentang pertumbuhan dan perkembangan sangat penting bagi tenaga medis, pendidik, dan orang tua untuk memaksimalkan potensi penuh seorang Secara etimologis, istilah Aupertumbuhan dan perkembanganAy terdiri dari dua istilah yang memiliki makna berbeda namun saling terkait. Pertumbuhan merujuk pada perubahan fisik kuantitatif, termasuk peningkatan ukuran dan jumlah sel serta jaringan tubuh yang dapat diukur secara objektif melalui indikator antropometrik seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas. Di sisi lain, perkembangan merujuk pada aspek kualitatif yang melibatkan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 peningkatan kemampuan dan kompleksitas fungsi tubuh, termasuk kemajuan kognitif, motorik, bahasa, emosional, dan sosial. (Melynda et al. , 2. Berdasarkan berbagai sumber literatur pediatrik, pertumbuhan dan perkembangan didefinisikan sebagai proses yang berkelanjutan dan teratur dari konsepsi hingga dewasa, di mana individu mengalami transformasi fisik, fisiologis, dan psikososial. Proses ini dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor genetik . dan faktor lingkungan . , yang menghasilkan pola perkembangan unik bagi setiap individu sambil tetap mengikuti prinsip-prinsip universal tertentu. Ciri-ciri utama pertumbuhan dan perkembangan meliputi beberapa prinsip fundamental. Pertama, proses ini bersifat berkelanjutan dan bertahap, berkembang dari yang sederhana ke yang Kedua, pertumbuhan dan perkembangan mengikuti pola yang dapat diprediksi dan urutan spesifik, meskipun laju pencapaiannya dapat bervariasi antar individu. Ketiga, terdapat periode kritis atau Aujendela kesempatanAy di mana stimulasi optimal sangat penting untuk perkembangan maksimal suatu kemampuan tertentu. Keempat, proses pertumbuhan dan perkembangan terjadi dengan kecepatan yang bervariasi di setiap tahap kehidupan, dengan percepatan yang cepat selama periode prenatal, bayi, dan remaja. (Febriani et al. , 2. Pemantauan rutin terhadap pertumbuhan dan perkembangan memungkinkan identifikasi dini terhadap gangguan atau kelainan yang mungkin timbul, sehingga intervensi dapat dilakukan secepat mungkin. Hal ini sejalan dengan gagasan bahwa 1000 hari pertama kehidupan merupakan periode emas yang menentukan kualitas hidup seseorang di masa depan. Gangguan selama periode kritis ini dapat memiliki dampak jangka panjang atau bahkan permanen pada kemampuan fisik dan intelektual anak. Dalam praktiknya, pemahaman tentang definisi pertumbuhan dan perkembangan menjadi dasar untuk merancang program kesehatan anak yang komprehensif, mulai dari vaksinasi, gizi, stimulasi dini, hingga pendidikan kesehatan bagi keluarga. Pendekatan holistik yang mempertimbangkan aspek biologis, psikologis, dan sosial anak merupakan kunci keberhasilan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan generasi mendatang (Nasitoh & Handayani, 2. Pengertian dan tujuan deteksi dini Deteksi dini tumbuh kembang anak merupakan upaya sistematis untuk mengetahui sedini mungkin adanya gangguan atau penyimpangan pada aspek perkembangan anak, baik fisik, kognitif, sosial-emosional, maupun bahasa. Kegiatan ini melibatkan pengamatan terarah, wawancara dengan orang tua, serta penggunaan alat skrining sederhana yang disesuaikan dengan usia anak. Deteksi dini merupakan proses pemantauan perkembangan anak usia 0Ae6 tahun untuk menemukan penyimpangan secara cepat dan tepat sehingga dapat dilakukan penanganan sedini mungkin (Auliani et al. , 2. Dalam konteks pendidikan anak usia dini (PAUD), deteksi dini tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga merupakan bagian penting dari peran pendidik dan orang tua yang berinteraksi langsung dengan anak setiap hari. Melalui deteksi dini, guru dan orang tua dapat mengidentifikasi kebutuhan individual anak dan merancang strategi pembelajaran serta stimulasi yang sesuai agar perkembangan anak dapat berlangsung optimal. Selain itu, deteksi dini memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang Anak-anak dengan kebutuhan khusus atau yang mengalami keterlambatan perkembangan dapat segera terdeteksi dan mendapat dukungan yang tepat. Guru dapat menyesuaikan metode belajar, sementara orang tua dapat memperkuat stimulasi di rumah melalui aktivitas bermain edukatif yang sesuai dengan rekomendasi tenaga ahli. Dengan cara ini, deteksi dini tidak hanya berfungsi sebagai langkah pencegahan terhadap gangguan tumbuh kembang, tetapi juga sebagai strategi peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini yang berorientasi pada potensi dan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 kebutuhan setiap anak. Tujuan utama deteksi dini tumbuh kembang anak adalah agar setiap penyimpangan perkembangan dapat dikenali sejak awal dan diberikan intervensi yang sesuai. Kegiatan deteksi dini bertujuan untuk menemukan hambatan tumbuh kembang anak lebih awal, mencegah dampak jangka panjang, serta mendukung anak agar mencapai potensi maksimalnya melalui intervensi tepat waktu. Selain itu, deteksi dini juga membantu guru dan orang tua memahami kebutuhan masing-masing anak secara individual sehingga pembelajaran dan stimulasi di PAUD dapat disesuaikan dengan kondisi anak. Dengan demikian, kegiatan ini bukan sekadar pemeriksaan fisik, tetapi juga bentuk kolaborasi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan tenaga profesional dalam mendukung perkembangan anak secara holistik (Soedjatmiko, 2. Berbagai literatur memberikan penekanan yang berbeda mengenai definisi deteksi dini. melihat deteksi dini dari perspektif kesehatan sebagai proses menemukan penyimpangan perkembangan yang membutuhkan intervensi medis. Sementara itu. Soedjatmiko . menekankan pemantauan berkelanjutan untuk menyesuaikan stimulasi perkembangan anak. Dalam konteks PAUD, definisi ini diperluas menjadi proses edukatif yang membantu guru merancang pembelajaran sesuai kebutuhan individual anak. Perbedaan sudut pandang ini menunjukkan bahwa deteksi dini tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga merupakan bagian integral dari praktik pedagogis dan pengasuhan anak usia dini. Sintesis dari berbagai definisi tersebut menunjukkan bahwa deteksi dini memiliki dua fungsi utama: . menemukan penyimpangan perkembangan sedini mungkin, dan . menyediakan dasar informasi bagi guru dan orang tua untuk merancang stimulasi yang tepat. Dengan demikian, deteksi dini bukan sekadar alat skrining, tetapi menjadi fondasi perencanaan pembelajaran, layanan inklusi, dan intervensi multidisipliner. Dalam perspektif pendidikan Islam, deteksi dini merupakan bagian dari riAoayah . emeliharaan dan perlindungan fitrah ana. serta amanah yang harus dipikul oleh guru dan orang Prinsip taAoawun . olong-menolon. sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Maidah ayat 2 menegaskan pentingnya kerjasama antara pendidik dan keluarga dalam menjaga perkembangan Observasi perkembangan juga termasuk dalam praktik tarbiyah, yaitu pendidikan holistik yang membimbing anak secara fisik, emosional, dan spiritual. Dengan demikian, deteksi dini bukan hanya kewajiban profesional, tetapi juga kewajiban moral dan spiritual dalam Islam. Tujuan deteksi dini, jika dilihat melalui perspektif Islam dan pendidikan, tidak hanya mengidentifikasi hambatan perkembangan, tetapi juga menjamin bahwa setiap anak mendapat kesempatan berkembang sesuai fitrahnya. Artinya, deteksi dini bertujuan memaksimalkan potensi anak sebagai makhluk Allah yang unik, sekaligus mencegah potensi ketidakadilan pendidikan ketika keterlambatan tidak dikenali sejak awal. Peran Guru dalam Deteksi Dini Guru memiliki peran strategis dalam pelaksanaan deteksi dini karena mereka berinteraksi langsung dengan anak dalam kegiatan belajar setiap hari. Peran utama guru adalah melakukan observasi awal terhadap perilaku dan perkembangan anak di lingkungan sekolah. Melalui aktivitas bermain, kegiatan motorik, maupun interaksi sosial, guru dapat menilai sejauh mana perkembangan anak sesuai dengan usianya. Guru PAUD yang mendapat pelatihan berbasis digital terbukti mampu mengenali tanda-tanda gangguan perkembangan anak lebih cepat dan akurat dibanding sebelumnya (Ramadhani et al. , 2. Hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan kompetensi guru dalam bidang deteksi dini agar mereka mampu menjadi pengamat yang profesional, peka terhadap perubahan perilaku anak, serta mampu memberikan intervensi edukatif sesuai hasil pengamatan. Selain sebagai pengamat, guru juga berperan sebagai fasilitator yang menjembatani Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 komunikasi antara sekolah dan orang tua. Nalle dan Margiani . menyebutkan bahwa efektivitas deteksi dini di PAUD sangat bergantung pada kolaborasi antara guru dan orang tua dalam berbagi informasi mengenai kondisi anak di rumah dan di sekolah (Nalle & Margiani, 2. Peran guru dalam deteksi dini juga meliputi memberikan stimulasi lanjutan dan tindak lanjut hasil Jika ditemukan adanya keterlambatan atau penyimpangan, guru dapat memberikan kegiatan stimulatif, seperti permainan edukatif untuk melatih motorik halus, kegiatan bercerita untuk melatih bahasa, atau kegiatan kelompok untuk mengembangkan kemampuan sosialemosional. Guru juga dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan atau psikolog anak apabila dibutuhkan intervensi lanjutan. Dengan demikian, guru berfungsi sebagai jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kesehatan anak usia dini. Guru bertugas menyampaikan hasil observasi kepada orang tua, memberikan rekomendasi stimulasi yang dapat dilakukan di rumah, serta mengarahkan keluarga untuk melakukan pemeriksaan lanjutan jika ditemukan tanda-tanda penyimpangan. Dengan demikian, guru tidak hanya berfungsi sebagai pendidik, tetapi juga sebagai mitra profesional dalam menjaga tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Peran aktif guru ini menjadi bagian integral dari sistem pendidikan anak usia dini yang berorientasi pada perkembangan anak . evelopmentally appropriate practic. dan memperkuat kerja sama dengan keluarga dalam membentuk generasi yang sehat dan berkualitas (Azhima et al. , 2. Literatur menunjukkan perbedaan fokus terkait kompetensi guru dalam deteksi dini. Nurjanah menekankan kompetensi pedagogis guru untuk memahami tahapan perkembangan anak, sementara Ramadhani menyoroti pentingnya literasi digital guru untuk menggunakan instrumen skrining berbasis teknologi. Perbandingan ini menunjukkan bahwa peran guru tidak hanya terbatas pada kemampuan observasi dasar, tetapi juga membutuhkan keterampilan analitis, dokumentatif, dan adaptif sesuai perkembangan alat deteksi modern. Kondisi ini mengimplikasikan bahwa guru PAUD harus secara berkelanjutan mengembangkan kompetensi profesional agar dapat meminimalkan kesalahan identifikasi perkembangan anak. Dalam model kolaborasi PIAUD, guru memegang peran strategis yang terklasifikasi ke dalam lima fungsi utama yang saling terintegrasi. Pertama, guru berperan sebagai pengamat profesional yang secara sistematis mengamati perilaku anak melalui berbagai aktivitas di sekolah, seperti kegiatan bermain, interaksi sosial dengan teman sebaya, serta pencapaian tugas-tugas Kedua, guru bertindak sebagai pendokumentasi perkembangan, yaitu mencatat hasil pengamatan secara berkelanjutan, membandingkannya dengan indikator perkembangan yang berlaku, serta mengidentifikasi sejak dini adanya sinyal risiko atau hambatan perkembangan anak. Ketiga, guru menjalankan fungsi sebagai komunikator dengan orang tua dengan menjadikan musyawarah sebagai landasan utama dalam komunikasi, sehingga temuan perkembangan anak dapat disampaikan secara empatik, terbuka, dan membangun kerja sama yang positif. Keempat, guru berperan sebagai koordinator rujukan, yakni menghubungkan keluarga dengan tenaga kesehatan, psikolog, atau pihak profesional lain apabila hasil observasi menunjukkan kebutuhan intervensi lanjutan. Kelima, guru berfungsi sebagai fasilitator stimulasi dengan merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran yang bersifat stimulatif berdasarkan hasil observasi, guna mendukung perkembangan anak secara individual dan holistik Model ini memperjelas bahwa guru tidak bekerja sendirian, tetapi harus menjadi penghubung antara sekolah, orang tua, dan layanan profesional lainnya. Peran guru dalam deteksi dini merupakan bagian dari tanggung jawab amanah yang disebutkan dalam banyak literatur pendidikan Islam. Ketika guru menyampaikan hasil observasi kepada orang tua dengan cara yang bijak, hal tersebut mencerminkan implementasi prinsip musyawarah, yaitu membuat keputusan berdasarkan dialog dan kesepakatan bersama. Selain itu, kerja sama guru dengan orang tua dalam Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mendampingi perkembangan anak merupakan bentuk nyata taAoawun, bekerja sama dalam kebaikan demi terwujudnya tumbuh kembang anak yang optimal. Guru juga menjadi pelaksana tarbiyah, memastikan bahwa stimulasi yang diberikan tidak hanya mencakup aspek kognitif, tetapi juga aspek moral dan spiritual. Jika peran guru tidak didukung oleh kompetensi yang memadai atau komunikasi yang efektif, maka potensi keterlambatan perkembangan anak akan sulit dikenali. Hal ini menjadi risiko besar terutama di lembaga PIAUD yang memiliki tuntutan lebih tinggi pada integrasi nilai-nilai Islam dalam praktik pendidikan. Oleh karena itu, keberhasilan deteksi dini sangat ditentukan oleh kualitas kolaborasi guruAeorang tua yang berlandaskan amanah, musyawarah, dan saling percaya. Peran Orang Tua Dalam Deteksi Dini Deteksi dini terhadap keterlambatan perkembangan atau masalah perilaku anak sangat bergantung pada keterlibatan orang tua sebagai pengamat pertama Ai orang tua sering melihat pola perkembangan sehari-hari yang tak terjangkau kunjungan klinik singkat, terutama terkait bahasa, motorik halus, atau interaksi sosial. Alat skrining berbasis laporan orang tua seperti ParentsAo Evaluation of Developmental Status (PEDS) atau alat serupa bisa meningkatkan kemungkinan mendeteksi sedini mungkin, meskipun hasil literatur menunjukkan bahwa sensitivitasnya relatif baik, namun spesifisitas sering rendah Ai artinya ada risiko over-deteksi atau false positives jika tak diikuti triase atau verifikasi lanjutan. Keefektifan deteksi dini melalui peran orang tua sangat ditentukan oleh pengetahuan mereka tentang milestone perkembangan, dukungan sistem . alur rujukan, layanan intervens. , dan komunikasi kolaboratif antara keluarga, guru PAUD/sekolah, dan tenaga kesehatan primer Ai suatu model kolaborasi pragmatis yang menggabungkan observasi informal sehari-hari, pelaporan struktural, dan intervensi terarah ketika Dari perspektif Islam, peran orang tua dalam memantau dan membimbing anak termasuk bagian dari konsep Tarbiyah . endidikan dan pengasuha. yang mencakup aspek memelihara, membimbing, dan mengembangkan potensi anak dengan kasih sayang, serta konsep Ri'ayah . emeliharaan / perawata. terhadap fitrah anak Ai memerhatikan perkembangan fisik, mental, dan spiritual mereka. Lebih lanjut, keterlibatan bersama . eluarga Ae guru/sekolah Ae layanan kesehatan Ae komunita. mencerminkan nilai Ta'Awun . olong-menolong / kolaborasi sosia. dalam Islam, di mana tanggung jawab terhadap tumbuh-kembang anak dipikul secara kolektif, bukan semata tanggung jawab individu orang tua. Secara kritis, sementara bukti mendukung pentingnya peran orang tua, literatur juga menunjukkan bahwa tanpa sistem rujukan dan layanan intervensi yang tersedia, deteksi dini bisa sia-sia: anak-anak yang teridentifikasi mungkin tidak mendapatkan tindak lanjut, atau orang tua merasa khawatir tanpa penanganan. Oleh karena itu, kerangka kolaboratif yang ideal menggabungkan edukasi orang tua, pelatihan guru/kader, jalur rujukan formal, dan dukungan komunitas Ai sekaligus mengakar pada nilai-nilai Islam agar pelaksanaan lebih diterima secara sosial dan etis. peran orang tua tidak bisa dipandang sendiri Ai deteksi dini efektif bila ditopang kolaborasi sistemik dan diwarnai nilai moral-spiritual Islami. Keterlibatan aktif orang tua dalam observasi, dibarengi dengan kemitraan bersama guru, tenaga kesehatan, dan komunitasAi merupakan wujud nyata dari tarbiyah, riAoayah, dan taAoAwun. Kolaborasi Guru dan Orang Tua Kolaborasi guru dan orang tua dipahami sebagai kerja sama yang saling melengkapi untuk mendukung perkembangan anak, di mana guru membawa keahlian pedagogis dan orang tua membawa pemahaman konteks rumah serta karakter anak. Literatur pendidikan menunjukkan bahwa kolaborasi yang kuat meningkatkan hasil akademik, kemampuan sosial-emosional, dan kesejahteraan anak, namun kualitas hubungan jauh lebih menentukan daripada banyaknya pertemuan atau pesan yang dikirim. Studi Epstein menekankan pentingnya keterlibatan multi490 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dimensi, mulai dari komunikasi, dukungan belajar di rumah, hingga pengambilan keputusan, sedangkan penelitian Hoover-Dempsey menjelaskan bahwa motivasi orang tua untuk terlibat dipengaruhi keyakinan mereka tentang peran, kemampuannya, dan sejauh mana sekolah membuka ruang partisipasi. Pendekatan ekologi Bronfenbrenner memperluas pandangan bahwa hubungan keluargaAesekolah dipengaruhi lingkungan sosial, budaya, dan komunitas, sehingga bentuk kolaborasi tidak bisa seragam. Sintesis berbagai literatur memperlihatkan bahwa kolaborasi berhasil bila hubungan bersifat setara, ada saling percaya, dan komunikasi berlangsung dua arah. Hambatan muncul ketika guru memposisikan diri secara dominan, perbedaan budaya atau bahasa menghambat pemahaman, atau program sekolah tidak fleksibel terhadap kondisi orang tua, terutama keluarga dengan jam kerja panjang atau ekonomi terbatas. Dalam perspektif Islam, kolaborasi ini sejalan dengan nilai taAoawun atau tolong-menolong dalam kebaikan, yang menempatkan pendidikan anak sebagai amanah bersama, bukan hanya tugas sekolah atau keluarga semata. Interaksi antara guru dan orang tua mengandung nilai adab, musyawarah, dan ukhuwah sehingga keputusan mengenai pembelajaran anak sebaiknya dilakukan melalui dialog penuh hormat. Proses mengamati anak, baik oleh guru maupun orang tua, merupakan bentuk riAoayah, yakni perhatian dan penjagaan terhadap potensi anak, sekaligus bagian dari tarbiyah yang berfokus pada pembentukan akhlak, disiplin, dan karakter. Observasi bukan sekadar mencatat perilaku, tetapi memahami kebutuhan spiritual, emosional, dan sosial anak agar mereka tumbuh sesuai fitrah. Literatur juga menunjukkan bahwa observasi yang sistematis dan etis membantu mencegah kesalahan interpretasi dan label negatif yang bisa merugikan anak. karena itu guru dan orang tua perlu berbagi informasi dengan prinsip amanah, menjaga privasi, serta menggunakan data untuk kebaikan anak semata. Analisis kritis terhadap berbagai temuan memperlihatkan bahwa program kolaborasi yang efektif tidak cukup berbasis prosedur, tetapi memerlukan perubahan paradigma hubungan. Komunikasi yang rutin tetapi bersifat satu arah tidak banyak berdampak dibanding dialog reflektif yang memungkinkan orang tua merasa dihargai. Di sisi lain, penelitian dari berbagai negara menunjukkan bahwa konteks budaya mempengaruhi bentuk kerja sama. di masyarakat Muslim misalnya, integrasi nilai spiritual dan moral justru membuat kolaborasi lebih relevan dan diterima, selama tidak digunakan untuk menekan atau menyeragamkan keluarga. Sintesis literatur menyatakan perlunya keseimbangan antara pendekatan profesional dan kekuatan budaya-agama, sehingga sekolah dapat membangun kemitraan yang humanis, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai kebaikan bersama. Ketika guru dan orang tua menjalankan kolaborasi sebagai wujud taAoawun, mengamati anak sebagai bagian dari riAoayah, dan mendidik melalui tarbiyah yang lembut, maka pendidikan tidak hanya menjadi proses akademik, tetapi proses membentuk manusia yang beradab, seimbang, dan selaras dengan ajaran Islam. KESIMPULAN Berdasarkan tinjauan literatur sistematis yang telah dilakukan, penelitian ini menyimpulkan bahwa kolaborasi antara guru dan orang tua dalam deteksi dini gangguan perkembangan anak di lembaga Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) merupakan perwujudan amanah pendidikan yang diemban bersama dalam perspektif Islam. Deteksi dini berperan sebagai langkah preventif dan proaktif untuk mengidentifikasi penyimpangan perkembangan sejak usia dini sehingga memungkinkan intervensi yang tepat pada masa emas perkembangan anak. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis melalui pengembangan kerangka konseptual kolaborasi guru dan orang tua yang berlandaskan nilai-nilai Islam, seperti taAoawun . olong-menolong dalam kebaika. , amanah . anggung jawab pendidika. , dan musyawarah . omunikasi dialogi. Integrasi nilai-nilai tersebut memperkaya kajian pendidikan anak usia dini dengan memasukkan dimensi spiritual dan moral sebagai fondasi kemitraan yang efektif, yang selama ini masih terbatas dalam penelitian Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi perspektif pendidikan Islam ke dalam model kolaborasi guru-orang tua untuk deteksi dini, sehingga membedakannya dari pendekatan yang cenderung teknis, medis, atau sekuler. Model yang dihasilkan menunjukkan bahwa efektivitas deteksi dini tidak hanya ditentukan oleh prosedur teknis, tetapi juga oleh kualitas hubungan interpersonal yang dilandasi nilai keagamaan. Temuan ini sejalan dengan visi PIAUD Islam yang menekankan pendidikan holistik mencakup aspek spiritual, intelektual, emosional, sosial, dan fisik Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Kolaborasi yang kuat memastikan setiap anak memperoleh perhatian sesuai kebutuhan perkembangannya serta menumbuhkan kesadaran bahwa mendidik anak merupakan ibadah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan penguatan pelatihan guru berbasis nilai Islam, penyelenggaraan pendidikan parenting religius, pembangunan sistem komunikasi kolaboratif, serta integrasi deteksi dini dalam kurikulum harian PIAUD. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada sifat kajian yang masih berbasis literatur. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan melakukan studi empiris untuk menguji efektivitas model kolaborasi berbasis nilai Islam dalam konteks PIAUD yang beragam. DAFTAR KEPUSTAKAAN Ahmad. , & Solicha. Teacher-parent partnership in Islamic early childhood education: A conceptual framework. Journal of Islamic Education Studies, 8. , 45-62. https://doi. org/10. 21154/jiees. Auliani. Siregar. Zein. , & Siregar. Konsep deteksi dini tumbuh kembang Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 9. , https://doi. org/10. 31004/obsesi. Azizah. Kurniawan. , & Rahmatika. Parental involvement in Islamic early childhood institutions: Opportunities and challenges. Indonesian Journal of Early Childhood Education , 6. , 134-149. https://doi. org/10. 24235/ijece. Azhima. Siahaan. , & Harahap. Deteksi dini tumbuh kembang anak: Mengenali dan mengantisipasi gangguan perkembangan. Jurnal Anak Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini, 4. , 13746-13750. https://doi. org/10. 37985/jaudpaud. Braun. , & Clarke. Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3. , 77-101. https://doi. org/10. 1191/1478088706qp063oa Febriani. Diansyah. , & Marlina. Analisis pertumbuhan dan perkembangan anak usia 4-5 tahun di Kota Pekanbaru. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 9. , 100-108. https://doi. org/10. 33087/jkm. Fitriani. Susanti. , & Wulandari. Clinical approaches to developmental screening in Indonesia: Current practices and challenges. Asian Journal of Pediatric Research, 7. , 215228. https://doi. org/10. 9734/ajpr/2023/v7i3445 Hasanah. , & Munawaroh. Integrating Islamic values in early childhood development monitoring: A literature review. Al-Athfal: Jurnal Pendidikan Anak, 10. , 78-94. https://doi. org/10. 14421/al-athfal. Hornby. , & Blackwell. Barriers to parental involvement in education: An update. Educational Review, 70. , 109-119. https://doi. org/10. 1080/00131911. ementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pelaksanaan stimulasi, deteksi, dan intervensi dini tumbuh kembang anak (SDIDTK). Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat. Melynda. Hasibuan. , & Anggraini. Stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara fisik dan mental. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini , 5. , https://doi. org/10. 31004/obsesi. Murray. McFarland-Piazza. , & Harrison. Changing patterns of parentAeteacher communication and parent involvement from preschool to school. Early Child Development and Care, 185. , 1031-1052. https://doi. org/10. 1080/03004430. Nalle. , & Margiani. Pentingnya deteksi dini tumbuh kembang (DDTK) anak berdasarkan persepsi orang tua di Posyandu Desa Bijeli. Kecamatan Noemuti. Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Jurnal Ilmiah Kesehatan, 2. , https://doi. org/10. 36590/jika. Nasitoh. , & Handayani. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak usia 0-2 tahun: Tinjauan literatur. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan, 8. , 221-231. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 https://doi. org/10. 35890/jkk. Nurjanah. Fitriyani. , & Kurniasih. Kompetensi guru PAUD dalam melakukan skrining perkembangan anak. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia, 7. , 89-101. https://doi. org/10. 26740/jpaud. Puspitasari. Rahman. , & Safitri. The golden age: Optimizing brain development in early childhood through holistic education. International Journal of Early Childhood Special Education, 15. , 234-248. https://doi. org/10. 9756/INT-JECSE/V15I1. Rahmawati. , & Fauziah. Peran guru dan orang tua dalam pendidikan Islam anak usia dini: Perspektif nilai amanah dan tarbiyah. Jurnal Ar-Raihanah, 6. , 112-128. https://doi. org/10. 53398/alamin. Ramadhani. Pawestuti. , & Sumanto. Peningkatan keterampilan pendidik PAUD dalam deteksi dini tumbuh kembang melalui edukasi berbasis website. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7. , 7338-7349. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Sheridan. Rispoli. , & Holmes. Treatment integrity in conjoint behavioral consultation: Measurement and intervention. School Psychology Review, 43. , 155-172. https://doi. org/10. 17105/SPR43-2. Snyder. Literature review as a research methodology: An overview and guidelines. Journal of Business Research, 104, 333-339. https://doi. org/10. 1016/j. Soedjatmiko. Deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita. Sari Pediatri, 3. , 175-188. https://doi. org/10. 14238/sp3. Widodo. , & Pramesti. Prevalence and patterns of developmental delays in Indonesian preschoolers: A systematic review. Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics , 45. , 145-158. https://doi. org/10. 1097/DBP. Yuliani. , & Sari. Strategi kolaborasi guru dan orang tua dalam pendidikan anak usia dini berbasis nilai Islam. Alfabeta.