https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 DOI: https://doi. org/10. 38035/jpsn. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Relevansi Pola Asuh Demokratis Perspektif Zakiah Daradjat terhadap Pembentukan Akhlaqul Karimah Anak di Era Digital Musta'in MustaAoin1 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Indonesia, mustainperwira@gmail. Corresponding Author: mustainperwira@gmail. Abstract: This study is motivated by the increasingly complex challenges of childrenAos moral education in the digital era due to technological advancements, the use of gadgets, social media, and the declining quality of family communication, all of which affect childrenAos moral In this context, democratic parenting is considered a relevant approach to developing childrenAos akhlaqul karimah through a balance of freedom, supervision, communication, and religious education. This study aims to analyze the concept of democratic parenting according to Zakiyah Daradjat, examine its relevance to the formation of childrenAos akhlaqul karimah in the digital era, and explain its implications in addressing childrenAos moral The study employs a qualitative approach using library research by reviewing various literature related to the thoughts of Zakiyah Daradjat, democratic parenting, moral education, and the challenges of the digital era. Data analysis techniques were conducted using content analysis and descriptive-critical analysis. The results of the study indicate that democratic parenting from Zakiyah DaradjatAos perspective emphasizes a balance between affection, freedom, supervision, role modeling, communication, and religious education within the family. This parenting style is relevant to be applied in the digital era because it can help children develop discipline, responsibility, self-control, and moral awareness in using digital media wisely. Furthermore, the implementation of democratic parenting based on Islamic values also has positive implications for mental health, emotional closeness within the family, and childrenAos moral resilience in facing the negative influences of modern technological Keywords: Democratic Parenting. Akhlaqul Karimah. Digital Era. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin kompleksnya tantangan pendidikan akhlak anak di era digital akibat perkembangan teknologi, penggunaan gadget, media sosial, serta menurunnya kualitas komunikasi keluarga yang berdampak pada perilaku moral anak. Dalam kondisi tersebut, pola asuh demokratis dipandang sebagai pendekatan yang relevan untuk membentuk akhlaqul karimah anak melalui keseimbangan antara kebebasan, pengawasan, komunikasi, dan pendidikan agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pola asuh demokratis menurut Zakiyah Daradjat, mengkaji relevansinya terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di era digital, serta menjelaskan implikasinya dalam 178 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 menghadapi tantangan moral anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan melalui pengkajian berbagai literatur yang berkaitan dengan pemikiran Zakiah Daradjat, pola asuh demokratis, pendidikan akhlak, dan tantangan era digital. Teknik analisis data dilakukan menggunakan analisis isi dan deskriptif-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis perspektif Zakiyah Daradjat menekankan keseimbangan antara kasih sayang, kebebasan, pengawasan, keteladanan, komunikasi, dan pendidikan agama dalam keluarga. Pola asuh ini relevan diterapkan di era digital karena mampu membantu anak membangun disiplin, tanggung jawab, pengendalian diri, serta kesadaran moral dalam menggunakan media digital secara bijak. Selain itu, penerapan pola asuh demokratis berbasis nilai-nilai Islam juga berimplikasi positif terhadap kesehatan mental, kedekatan emosional keluarga, dan ketahanan moral anak dalam menghadapi pengaruh negatif perkembangan teknologi modern. Kata Kunci: Pola Asuh Demokratis. Akhlaqul Karimah. Era Digital. PENDAHULUAN Keluarga berperan sebagai institusi utama dalam masa awal anak-anak. Keluarga adalah lingkungan dimana anak-anak dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan secara Kualitas kepribadian dan kesejahteraan mental anak sangat dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi di keluarga, termasuk dengan kedua orang tua. Oleh karena itu, peran keluarga dalam membentuk karakter anak memiliki dampak yang amat penting. Peranan lingkungan keluarga dalam membentuk karakter dan perilaku anak-anak memiliki pengaruh yang sangat sentral. Keberhasilan pendidikan akhlak dalam keluarga tidak hanya dipengaruhi oleh materi pendidikan yang diberikan, tetapi juga sangat ditentukan oleh pola asuh yang diterapkan orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Pola asuh yang tepat akan membantu anak berkembang secara seimbang, baik dari aspek intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual (Rahmalia, 2. Salah satu pola asuh yang dinilai efektif dalam perkembangan anak adalah pola asuh Pola asuh demokratis merupakan pola pengasuhan yang menempatkan anak sebagai individu yang dihargai, namun tetap berada dalam pengawasan dan bimbingan orang Pendekatan pengasuhan yang mengutamakan kepentingan anak yang logis atau berpikir logis untuk membentuk kepribadian mereka. Perilaku anak dapat dipengaruhi oleh gaya pengasuhan ini dalam hal-hal seperti: percaya diri, ramah, pengendalian diri, sopan santun, kerja sama, rasa ingin tahu yang tinggi, mempunyai tujuan serta arah hidup yang jelas, serta berorientasi pada pencapaian. (Tridhonanto, 2. Namun demikian, perkembangan era digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan keluarga dan pola perkembangan anak. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memberikan kemudahan akses terhadap berbagai media digital, tetapi juga menghadirkan tantangan serius dalam pendidikan moral anak. Kehadiran teknologi digital saat ini menjadi tantangan utama bagi orang tua. Teknologi dapat memberikan dampak positif dan negatif bagi anak-anak. Peran orang tua sangat penting dalam pendidikan anak pada saat ini. Pengawasan penggunaan teknologi digital, terutama konten yang bersifat negatif sangat penting dilakukan sepanjang waktu (Wahdini, 2. Tidak terbantahkan bahwa teknologi juga membawa dampak negatif terhadap pengembangan nilai-nilai agama dan moral, terutama bagi generasi muda seperti anak-anak dan remaja. Salah satu bentuk teknologi yang memiliki dampak negatif terhadap anak-anak dan remaja adalah perangkat gadget. Dampak teknologi tidak hanya mempengaruhi nilai moral dan agama, tetapi juga aspek-aspek lainnya seperti kognitif, fisik, sosial, emosional, dan perkembangan bahasa. Pentingnya perhatian khusus terhadap perkembangan nilai-nilai agama 179 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 dan moral dari teknologi perlu diakui. Beberapa dampak negatifnya adalah ketidak-sopanan, penggunaan bahasa kasar, kesulitan dalam pengaturan diri, kurang mendengarkan nasihat orang tua, pelanggaran terhadap prinsip agama, kurang minat dalam pendalaman agama, interaksi sosial yang minim dengan lingkungan sekitar, dan kecenderungan menjadi (Arivianto, 2. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pendidikan akhlak anak diera digital membutuhkan pendekatan pengasuhan yang tidak hanya menekankan aspek kontrol, tetapi juga pembinaan kesadaran moral dan spiritual secara humanis. Dalam konteks ini, pemikiran Zakiah Daradjat menjadi relevan untuk dikaji. Zakiah Daradjat menekankan pentingnya pendidikan keluarga dalam membentuk kepribadian anak melalui kasih sayang, keteladanan, komunikasi yang baik, pembiasaan nilai agama, serta keseimbangan antara kebebasan dan Menurutnya, pendidikan dalam keluarga harus mampu menciptakan kondisi psikologis yang sehat agar anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkepribadian baik, dan memiliki akhlaqul karimah. Meskipun penelitian mengenai pola asuh demokratis telah banyak dilakukan, sebagian besar penelitian masih menggunakan perspektif psikologi Barat, seperti teori pola asuh Diana Baumrind, dan lebih berfokus pada perkembangan akademik, sosial, maupun kemandirian Sementara itu, penelitian yang secara khusus mengkaji pola asuh demokratis berdasarkan perspektif Zakiah Daradjat masih relatif terbatas. Selain itu, kajian tentang pola asuh demokratis juga lebih banyak menyoroti aspek perilaku umum anak dan belum secara mendalam mengaitkannya dengan pembentukan akhlaqul karimah dalam perspektif pendidikan Islam. Di sisi lain, penelitian mengenai pemikiran Zakiah Daradjat umumnya masih bersifat teoritis dan belum banyak dikontekstualisasikan dengan tantangan era digital yang dihadapi keluarga muslim saat ini. Padahal, era digital menghadirkan perubahan pola interaksi keluarga dan tantangan moral yang semakin kompleks sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan keluarga yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, masih terdapat kesenjangan penelitian . esearch ga. mengenai relevansi pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di era digital. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini penting dilakukan untuk mengkaji relevansi pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat dalam membentuk akhlaqul karimah anak pada era digital. Penelitian ini memiliki kebaruan . karena mengintegrasikan konsep pola asuh demokratis dengan perspektif psikologi pendidikan Islam Zakiah Daradjat, memfokuskan kajian pada pembentukan akhlaqul karimah anak, serta mengaitkannya dengan tantangan pendidikan moral di era digital. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian parenting Islami sekaligus menjadi referensi praktis bagi orang tua dalam menghadapi problem pendidikan akhlak anak di tengah perkembangan teknologi modern. KAJIAN TEORI Pola Asuh Demokratis Teori ini bersumber dari Diana Burmind . yang disempurnakan oleh Maccoby dan Martin . yang membagi empat jenis gaya pengasuhan yaitu: pola asuh otoritarian . , pola asuh otoritative . , pola asuh permissif . , dan pola asuh uninvolved (Mengabaika. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa pola asuh otoritatif . adalah pola asuh paling efektif. Ada beberapa alasan yang mendasarinya, diantaranya orang tua yang demokratis menerapkan keseimbangan yang tepat antara kendali dan otonomi sehingga memberi anak kesempatan untuk membentuk kemandirian sembari memberikan batas, standar, dan panduan yang dibutuhkan anak. Orang tua yang demokratis 180 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 cenderung melibatkan anak dalam kegiatan memberi dan menerima verbal dan memberi kesempatan anak untuk mengutarakan pandangan mereka (Santrock, 2. Pola asuh demokratis adalah gaya pengasuhan dimana orang tua bisa diandalkan dalam menyeimbangkan kasih sayang terhadap anaknya, dengan cara memberikan arahan serta bimbingan kepada tidakan yang dilakukan anak. Untuk melakukan pengasuhan demokratis, orang tua memberikan rasa cinta dan kehangatan, memberikan kebebasan kepada anak namun tetap ada pengawasan dari orang tua, sehingga antara anak dan orang tua terjalin komunikasi kerjasama dalam pengarahan, bimbingan yang dilakukan pada anak. serta anak memiliki kepribadian yang berinisiatif, tidak penakut, lebih giat, dan lebih bertujuan (Hadi, 2. Pengasuhan yang demokratis juga memberikan kondisi yang baik untuk perkembangan anak sehingga anak dapat berperilaku positif, juga memiliki dampak positif pada perkembangan sosial anak- anak. Lingkungan keluarga yang harmonis, retensi panas yang tinggi, dan kontrol pengasuhan anak menciptakan hubungan keluarga yang baik dengan melibatkan anak-anak dalam menyelesaikan masalah yang muncul (Aisyah Nur Atika, 2. Pola asuh Demokrasi mempunyai ciri-ciri. Pertama: anak-anak diberi kesempatan untuk belajar mandiri dan mengendalikan diri. Kedua: Orang tua mengakui anak-anak sebagai pribadi yang berpartisipasi pada pengambilan keputusan. Ketiga: Menetapkan peraturan serta mengawasi kehidupan anak-anak mereka. Hukuman fisik oleh orang tua lebih edukatif karena hanya diterapkan ketika dapat dibuktikan bahwa anak tersebut sengaja melanggar aturan. Keempat: Mengutamakan kepentingan anak-anak sambil tetap mempertahankan otoritas. Kelima: Mengenali kemampuan anak-anak dan tidak memberikan harapan yang tidak melampaui kemampuan mereka. Keenam: Membiarkan anak-anak membuat keputusan sendiri serta mengambil Tindakan. Ketujuh: Bersikap hangat saat berinteraksi dengan anak-anak (Tridhonanto, 2. Pemikiran Zakiah Daradjat Tentang Pendidikan Anak Zakiah Daradjat merupakan salah satu tokoh pendidikan Islam di Indonesia yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan pendidikan Islam. Perhatian tersebut tampak dari berbagai karya tulis yang dihasilkannya serta keterlibatannya secara langsung dalam dunia Gagasan-gagasannya memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan pendidikan Islam, khususnya di Indonesia. Zakiyah Daradjat mengatakan pola asuh yang baik yang membentuk akhlak dapat dikenali melalui beberapa tanda yang tercermin dalam interaksi orang tua dan anak, diantaranya akanak diberi kesempatan untuk belajar mengendalikan control internal dan mandiri. Dalam hal ini beliau menekankan bahwa dalam umur tertentu, anak mulai meninggalkan ketergantungannya dengan ibu bapaknya meskipun belum mandiri dalam banyak hal. Disini peran orang tua dibutuhkan dengan memberikan pemahaman tentang makna dan hikmah bagi kesehatan mental, dengan demikian anak mampu mengendalikan diri dan tidak jatuh kedalam jurang kesesatan (Daradjat, 1. Orang tua menetapkan peraturan dan mengatur kehidupan anak untuk membentuk pribadi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, karena menurut Zakiyah Daradjat akhlak merupakan implementasi dari iman sehingga kehidupan keluarga harus memiliki batas aturan yang jelas dan berlandaskan ajaran agama, sebagaimana teladan Luqman dalam Al-QurAoan yang menunjukkan kewajiban orang tua menanamkan nilai moral dan spiritual melalui bimbingan yang jelas. Selain itu sikap orang tua yang memprioritaskan kebutuhan dan kepentingan anak, baik jasmani maupun rohani seperti rasa aman, kasih sayang, penghargaan, kebebasan, dan kebutuhan agama, namun semuanya tetap dikendalikan dengan nilai agama agar anak terlindungi dari pengaruh buruk yang dapat merusak akhlaknya (Daradjat, 1. Anak sebaiknya berpartisipasi pada pengambilan keputusan serta diakui sebagai pribadi. Dalam batasan yang wajar, orang tua memberi kesempatan kepada anak-anak mereka membuat keputusan sendiri untuk mengekspresikan emosi mereka selama mereka bermaksud baik dan 181 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 anak-anak tidak dipaksa untuk melakukan apa pun demi menyenangkan orang tua mereka. Pernyataan ini menunjukkan bahwa anak diperlakukan sebagai individu yang berharga dan diakui keberadaannya (Latifah, 2. Menurut Zakiah Daradjat, keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak, karena dari lingkungan keluargalah anak pertama kali mengenal nilai agama, akhlak, dan kepribadian. Konsep pendidikan keluarga yang dikemukakan oleh Zakiah Daradjat menekankan keseimbangan antara pendidikan akal, emosional, dan spiritual anak. Pendidikan ini, bagi Zakiah, pada intinya adalah sebagai wahana pembentukan manusia yang berakhlak Akhlak adalah pantulan iman yang berupa perilaku, ucapan, dan sikap atau dengan kata lain akhlak adalah amal saleh. Iman adalah maknawi . sedangkan akhlak adalah bukti keimanan dalam bentuk perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran dan karena Allah semata. Secara garis besar pemikiran pendidikan Islam Zakiah Daradjat terlihat ketika ia merumuskan dan memetakan tentang hakikat dan tujuan pendidikan Islam, dasar pendidikan Islam dan lingkungan dan tanggung jawab pendidikan Islam (Olfah, 2. Dalam perspektif Zakiah Daradjat, pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari pendekatan psikologi Islam. Menurutnya, perkembangan jiwa anak harus dipahami secara mendalam agar proses pendidikan dapat berjalan sesuai dengan tahap pertumbuhan dan kebutuhan anak. Zakiah Daradjat menilai bahwa pendidikan yang baik bukan hanya mengembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional dan spiritual anak. Oleh karena itu, orang tua dituntut memahami karakter, perasaan, serta kebutuhan psikologis anak agar pendidikan dalam keluarga dapat melahirkan pribadi yang tenang, percaya diri, dan memiliki keimanan yang kuat (Zanatul Faizah, 2. Selain itu. Zakiah Daradjat juga memberikan perhatian besar terhadap pembinaan moral anak dalam keluarga. Ia berpendapat bahwa moral atau akhlak tidak cukup diajarkan melalui teori dan nasihat semata, tetapi harus dibentuk melalui latihan dan pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan moral menurut Zakiah diarahkan agar anak mampu membedakan antara perilaku baik dan buruk serta memiliki kesadaran untuk menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, keluarga menjadi tempat utama dalam menanamkan sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan rasa hormat kepada sesama (Muttaqin, 2. Pemikiran Zakiah Daradjat tentang pendidikan keluarga juga berkaitan erat dengan kesehatan mental anak. Menurutnya, suasana keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan dilandasi nilai-nilai agama akan sangat memengaruhi perkembangan mental anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman dan religius cenderung memiliki ketenangan batin serta kemampuan menghadapi berbagai persoalan hidup dengan baik. Sebaliknya, konflik keluarga, kurangnya perhatian orang tua, dan lemahnya pendidikan agama dapat menimbulkan kegelisahan serta gangguan perkembangan mental anak. Oleh sebab itu. Zakiah Daradjat memandang pendidikan agama dalam keluarga sebagai salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental anak sejak usia dini (Zanatul Faizah, 2. Lebih lanjut. Zakiah Daradjat menegaskan bahwa keteladanan orang tua merupakan metode pendidikan yang paling efektif dalam membentuk kepribadian anak. Anak pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama ayah dan ibu sebagai figur utama dalam keluarga. Karena itu, orang tua harus mampu menjadi contoh dalam sikap, ucapan, ibadah, dan perilaku sehari-hari. Keteladanan yang baik akan memudahkan anak menerima nilai-nilai agama dan akhlak secara alami tanpa adanya paksaan. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan keluarga menurut Zakiah Daradjat sangat bergantung pada konsistensi orang tua dalam menampilkan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam (Muttaqin, 2. 182 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Akhlaqul Karimah Anak Akhlak ialah istilah yang mengungkapkan tentang kondisi jiwa yang stabil dan sumber keluarnya perbuatan dengan ringan dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan Jika yang keluar dari jiwa tersebut perbuatan baik kondisi seperti ini disebut akhlak terpuji. Sebaliknya, jika yang keluar darinya perbuatan buruk, kondisi yang menjadi sumbernya disebut akhlak tercela. Perlu disebutkan Aukondisi jiwa yang stabilAy contoh orang yang mendermakan hartanya karena bernadzar akibat keadaan yang baru terjadi tidak disebut dermawan, selama sifat kedermawanannya itu belum melekat kuat dalam dirinya (Al-Mishri. Definisi ini hampir sama dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Maskawaih. Sebagai tokoh filsafat yang mengangkat akhlak sebagai salah satu kajiannya. Ibnu Miskawaih memberikan pengertian akhlak sebagai suatu kondisi jiwa yang mendorong seseorang untuk bertindak tanpa pemikiran dan perhitungan . secara konsisten. Pengertian yang semacam ini menunjukkan bahwa Ibnu Miskawaih memandang jiwa sebagai suatu pendorong tindakan manusia yang disebut akhlak. Tetapi perlu diperhatikan, bahwa tidak semua tindakan manusia menunjukkan akhlak Bisa jadi tindakan seseorang tidak didasarkan kondisi kejiwaannya atau bertentangan dengan kondisi jiwanya. Misalnya, seseorang yang memberi bantuan kepada sesamanya, bisa jadi bukan karena jiwanya diliputi rasa suka cita untuk berderma, tetapi lebih karena dirinya ingin dipuji oleh orang lain. Atau sebaliknya, seseorang yang mencuri dalam situasi tertentu karena kondisi yang mendesak, tidak serta merta disebut sebagai orang yang memiliki akhlak buruk, jika tindakan itu lebih dipengaruhi oleh faktor keterpaksaan karena ditekan oleh kondisi yang sangat darurat. Tindakan yang demikian tidak disebut akhlak, karena bukan sesuatu yang muncul secara natural. Tetapi lebih dipengaruhi oleh kondisi berpikir yang mendalam untuk melakukan sesuatu (Majid, 2. Al-Ghazali juga memberikan suatu catatan bahwa akhlak adalah kondisi jiwa manusia yang mudah teraktualisasikan dalam perbuatannya. Akhlak merupakan sesuatu yang melekat pada jiwa seseorang sehingga memudahkannya untuk melakukan sesuatu. Sebagai suatu potensi jiwa, maka akhlak tersebut bersifat relatif. Artinya, akhlak dapat condong pada hal-hal yang positif, dapat juga condong pada hal-hal yang negatif. Tergantung kondisi kejiwaannya. Menurut Al-Ghazali, substansi jiwa disebut sebagai Al-Lathifah Ar-Ruhaniyyah atau AlLathifah Ar-Rabbaniyyah, yang merupakan kumpulan dari sesuatu yang halus . l-lathifa. r-Rabbaniyya. , dan kerohanian . r-ruhaniyya. Kesatuan unsur tersebut pada puncaknya akan menentukan manusia pada kondisi kebahagiaan atau kesengsaraan (Majid. Teori teori ini memberikan landasan filosofis bahwa akhlak merupakan kondisi jiwa yang stabil dan menjadi sumber lahirnya perilaku moral. Pendidikan akhlak harus menyentuh aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui teladan, bimbingan, dan pembiasaan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Tantangan Era Digital Terhadap Pendidikan Akhlak Anak Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan anak, terutama melalui penggunaan gadget yang semakin sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi telah membawa banyak perubahan. Saat ini hampir semua anak telah menggunakan berbagai bentuk inovasi, seperti ponsel, ipad, tab. PC, dll. Hal ini juga sangat mempengaruhi perkembangan anak karena inovasi juga disebut sebagai alat belajar yang sangat menarik atau sedang. Maka tidak heran jika sekarang ini sering kita jumpai banyak anak-anak yang menggunakan gadget seperti handphone (Dwi Tiya Listika Sari, 2. Disatu sisi, penggunaan gadget dapat memberikan manfaat edukatif apabila digunakan secara bijak. Namun di sisi lain, penggunaan yang berlebihan dapat memengaruhi perkembangan akhlak anak, seperti menurunnya disiplin, kurangnya kepedulian sosial, hingga 183 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 munculnya sikap individualis, mengakibatkan komunikasi yang kurang terbangun antara anak dan orang di sekitarnya, anak dapat berisiko secara material berupa gambar yang tidak cocok dengan usia anak. Anak yang terlalu sering berinteraksi dengan perangkat digital cenderung mengalami penurunan kualitas interaksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengawasan dan pendampingan orang tua menjadi sangat penting agar penggunaan gadget tetap berada dalam batas yang sehat dan bernilai edukatif (Rivo Nugroho, 2. Hal ini sangat penting untuk dipertimbangkan dalam penggunaan gadget pada anak dengan pengasuhan diera modern saat ini dan perilaku pada partisipasi penggunaan gadget. Penggunaan gadget yang berlebihan akan menimbulkan masalah ataupun bahaya antara lain mengakibatkan komunikasi yang kurang terbangun antara anak dan orang di sekitarnya, anak dapat berisiko secara material berupa gambar yang tidak cocok dengan usia anak, kemudian juga serta tindakan anak yang dianggap dapat merugikan orang lain, seperti pencemaran nama Penggunaan gadget yang berlebihan dapat menimbulkan kecanduan bahkan ketergantungan bahkan pada anak usia dini. Kondisi tersebut merupakan salah satu dampak negatif penggunaan gadget, khususnya ketika anak menggunakan gadget tanpa pendampingan orang tua. Pengawasan dan pola asuh orang tua memiliki hubungan yang erat dengan tingkat kecanduan gadget pada anak usia dini (AsriantiAsrianti, 2. Selain gadget, media sosial juga menjadi tantangan besar dalam pendidikan akhlak anak di era digital. Media sosial memberikan akses luas kepada anak terhadap berbagai informasi, budaya, gaya hidup, dan pola perilaku yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma sosial. Anak yang belum memiliki kematangan emosional sering kali mudah meniru perilaku yang dilihat di media sosial tanpa mampu memilah mana yang baik dan mana yang Fenomena seperti budaya pamer, penggunaan bahasa kasar, perundungan digital . , hingga kecanduan validasi sosial menjadi dampak yang semakin sering ditemukan pada anak dan remaja. Kondisi ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi pola komunikasi, tetapi juga membentuk karakter dan cara berpikir anak. Karena itu, pendidikan akhlak harus mampu membekali anak dengan kemampuan menyaring informasi dan membangun kesadaran moral dalam menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Kemajuan era digital juga berdampak pada munculnya fenomena degradasi moral pada anak dan remaja. Degradasi moral ditandai dengan menurunnya sikap sopan santun, rasa hormat kepada orang tua dan guru, rendahnya kejujuran, serta meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan generasi muda. Penggunaan media digital secara berlebihan dapat menghambat perkembangan sosial-emosional anak serta mengganggu komunikasi interpersonal mereka dengan orang tua. Lemahnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget ditandai oleh kurangnya kedekatan emosional dan pengaturan yang tidak konsisten dapat menjauhkan anak dari nilai-nilai keluarga. Rendahnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan media digital pada anak berdampak pada munculnya perilaku apatis, agresif, dan ketergantungan konten yang mengganggu perkembangan sosial mereka (Laila Dzikra, 2. Era digital juga memunculkan krisis komunikasi dalam keluarga. Kehadiran teknologi yang seharusnya memudahkan komunikasi justru sering kali membuat hubungan antaranggota keluarga menjadi renggang. Banyak orang tua dan anak yang berada dalam satu rumah, tetapi sibuk dengan perangkat masing-masing sehingga interaksi emosional menjadi berkurang. Kurangnya komunikasi yang hangat menyebabkan anak merasa kurang diperhatikan dan lebih memilih mencari kenyamanan melalui dunia maya. Akibatnya, hubungan emosional antara orang tua dan anak menjadi lemah, padahal komunikasi yang baik merupakan salah satu faktor penting dalam pendidikan akhlak. Anak membutuhkan perhatian, nasihat, dan dialog secara langsung agar nilai-nilai moral dapat tertanam dengan baik dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, keluarga perlu membangun kembali budaya komunikasi yang sehat, terbuka, dan penuh kasih sayang di tengah arus digitalisasi yang semakin kuat. 184 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Di tengah berbagai perubahan tersebut, orang tua menghadapi tantangan besar dalam menjalankan parenting modern. Orang tua tidak hanya dituntut memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga harus mampu memahami perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap perilaku anak. Banyak orang tua mengalami kesulitan dalam mengontrol penggunaan teknologi karena keterbatasan waktu, pengetahuan digital, maupun pengaruh lingkungan sosial yang semakin kompleks. Parenting modern menuntut adanya keseimbangan antara pemberian kebebasan kepada anak dengan pengawasan yang tetap terarah. Orang tua perlu menerapkan pola asuh yang adaptif, komunikatif, dan religius agar anak mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai akhlak dan spiritualitas. Dengan demikian, pendidikan keluarga di era digital harus diarahkan tidak hanya pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada penguatan karakter dan akhlaqul karimah anak. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah aktivitas yang berhubungan dengan tindakan pengamatan, berusaha mempelajari sesuatu secara alamiah, memahami secara mendalam, atau menafsirkan, memaknai fenomena dengan mendeskripsikan, memecahkan kode, menerjemahkan, dan memahami konteks secara alami (Waruwu, 2. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami, mendeskripsikan, dan menganalisis secara mendalam konsep pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat serta relevansinya terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di era digital Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan . ibrary researc. Dalam penelitian kepustakaan, tidak hanya berfungsi seperti penelitian lapangan yang telah disebutkan, tetapi benar-benar memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh data Penelitian kepustakaan membatasi kegiatan penelitian hanya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa memerlukan penelitian lapangan (Subagiya, 2. Penelitian kepustakaan digunakan karena sumber data utama penelitian berasal dari berbagai literatur yang berkaitan dengan pemikiran Zakiah Daradjat, teori pola asuh demokratis, pendidikan akhlak anak, dan tantangan era digital terhadap pendidikan keluarga. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber data primer dan sumber data Sumber data primer meliputi karya-karya Zakiah Daradjat yang berkaitan dengan pendidikan keluarga, pendidikan Islam, psikologi agama, dan pembinaan akhlak anak, seperti buku Ilmu Pendidikan Islam. Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, serta karya lain yang relevan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teori pola asuh demokratis dari Diana Baumrind dan beberapa tokoh pendidikan lainnya sebagai rujukan utama. Adapun sumber data sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah, artikel penelitian, buku, skripsi, tesis, disertasi, serta berbagai literatur yang berkaitan dengan pola asuh demokratis, pendidikan akhlak, parenting Islami, dan perkembangan anak di era digital. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan cara menelusuri, membaca, memahami, dan mengkaji berbagai sumber pustaka yang relevan dengan fokus Peneliti mengidentifikasi berbagai konsep, teori, dan hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pola asuh demokratis, pemikiran Zakiah Daradjat, pembentukan akhlaqul karimah, serta tantangan pendidikan anak di era digital. Selanjutnya, data-data tersebut diklasifikasikan berdasarkan tema penelitian agar memudahkan proses analisis. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis isi . ontent Artinya suatu teknik untuk mengambil kesimpulan dengan mengidentifikasi berbagai karakteristik khusus suatu pesan secara objektif, sistematis dan generalis (Sitasari. Analisis isi digunakan untuk mengkaji pemikiran Zakiah Daradjat mengenai pendidikan keluarga dan pola asuh anak melalui penelaahan terhadap teks-teks yang menjadi sumber Sementara itu, analisis deskriptif-kritis digunakan untuk mendeskripsikan konsep 185 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat, kemudian menganalisis relevansinya terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di era digital secara kritis dan kontekstual. Proses analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, interpretasi data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber, yaitu membandingkan berbagai sumber literatur yang memiliki keterkaitan dengan objek Peneliti juga melakukan pengecekan kesesuaian teori, konsep, dan hasil penelitian terdahulu agar diperoleh pemahaman yang objektif dan sistematis mengenai relevansi pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat dalam membentuk akhlaqul karimah anak di era Penelitian ini difokuskan pada kajian konseptual mengenai pola asuh demokratis dalam perspektif Zakiah Daradjat serta implementasinya dalam menghadapi tantangan moral anak di era digital. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan kajian pendidikan Islam dan parenting Islami, sekaligus menjadi referensi praktis bagi orang tua dalam membentuk karakter dan akhlaqul karimah anak di tengah perkembangan teknologi modern. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Pola Asuh Demokratis Menurut Zakiah Daradjat Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep pola asuh demokratis dalam perspektif Zakiah Daradjat memiliki kesesuaian dengan prinsip pola asuh demokratis modern, namun diperkaya dengan nilai-nilai pendidikan Islam dan pendekatan psikologi agama. Zakiah Daradjat memandang keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk kepribadian, mental, dan akhlak anak. Dalam pandangannya, pendidikan keluarga tidak hanya berorientasi pada pengembangan intelektual, tetapi juga pada pembentukan spiritual, emosional, dan moral anak secara seimbang. Pola asuh demokratis menurut Zakiah Daradjat tampak dalam hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak melalui komunikasi yang terbuka, kasih sayang, keteladanan, serta pengawasan yang bijaksana. Orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk berkembang dan berpendapat, tetapi tetap disertai bimbingan dan pengendalian sesuai nilai agama. Pendekatan ini menunjukkan adanya keseimbangan antara otoritas orang tua dan penghargaan terhadap hak serta perkembangan psikologis anak. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Zakiah Daradjat sangat menekankan pentingnya pendekatan psikologis dalam pendidikan anak. Menurutnya, anak memiliki kebutuhan emosional yang harus dipenuhi agar tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental dan spiritual. Oleh sebab itu, pola asuh yang keras, otoriter, atau penuh tekanan dinilai dapat mengganggu perkembangan jiwa anak. Sebaliknya, suasana keluarga yang penuh kasih sayang, perhatian, dan komunikasi yang baik akan membantu anak membangun rasa aman, percaya diri, dan kedekatan emosional dengan orang tua. Selain itu. Zakiah Daradjat menempatkan keteladanan sebagai metode pendidikan yang paling efektif dalam membentuk akhlak anak. Anak cenderung meniru perilaku orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, orang tua dituntut menjadi contoh dalam ibadah, sopan santun, kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab. Dalam konteks ini, pola asuh demokratis tidak hanya berupa pemberian kebebasan dan aturan, tetapi juga diwujudkan melalui praktik nyata nilai-nilai Islam dalam kehidupan keluarga. Berdasarkan hasil kajian tersebut dapat dipahami bahwa pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat merupakan pola pengasuhan yang mengedepankan keseimbangan antara kasih sayang, kebebasan, pengawasan, pendidikan agama, dan keteladanan moral. Konsep ini bertujuan membentuk anak yang mandiri, bertanggung jawab, berkepribadian baik, serta memiliki akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari. 186 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 Relevansi Pola Asuh Demokratis Perspektif Zakiah Daradjat terhadap Pembentukan Akhlaqul Karimah Anak di Era Digital Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat memiliki relevansi yang kuat terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di era digital. Era digital menghadirkan berbagai tantangan moral bagi anak melalui penggunaan gadget, media sosial, dan akses informasi yang tidak terbatas. Kondisi ini menyebabkan anak rentan terpengaruh perilaku negatif seperti menurunnya sopan santun, kurangnya disiplin, individualisme, kecanduan media sosial, hingga lemahnya kontrol diri. Dalam situasi tersebut, pola asuh demokratis menjadi pendekatan yang relevan karena mampu menggabungkan kebebasan anak dengan pengawasan yang terarah. Relevansi tersebut terlihat dari pentingnya komunikasi yang terbuka dalam keluarga. Zakiah Daradjat menekankan bahwa hubungan emosional yang baik antara orang tua dan anak menjadi fondasi utama pendidikan moral. Di era digital, komunikasi keluarga sering mengalami krisis karena anggota keluarga lebih banyak berinteraksi dengan perangkat digital dibandingkan dengan sesama anggota keluarga. Melalui pola asuh demokratis, orang tua dapat membangun dialog yang sehat sehingga anak merasa dihargai, didengar, dan lebih terbuka dalam menyampaikan permasalahan yang dihadapinya. Selain itu, konsep pengawasan yang bijaksana dalam pola asuh demokratis sangat relevan dalam mengontrol penggunaan teknologi digital pada anak. Orang tua tidak hanya melarang penggunaan gadget secara keras, tetapi memberikan pendampingan, arahan, dan batasan yang jelas mengenai penggunaan media digital. Pendekatan ini membantu anak memahami manfaat dan risiko teknologi sehingga anak mampu menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa pembentukan akhlaqul karimah di era digital memerlukan keteladanan yang konsisten dari orang tua. Anak tidak cukup hanya diberi nasihat tentang penggunaan teknologi yang baik, tetapi juga membutuhkan contoh nyata dari orang tua dalam menggunakan media digital secara bijak. Ketika orang tua mampu menunjukkan perilaku disiplin, santun dalam berkomunikasi, serta bijak dalam menggunakan media sosial, maka anak akan lebih mudah meneladani perilaku tersebut. Disamping itu, pendidikan agama yang menjadi inti pemikiran Zakiah Daradjat memiliki relevansi penting dalam membangun kesadaran moral anak di era digital. Pendidikan agama berfungsi sebagai benteng moral yang membantu anak membedakan antara perilaku baik dan buruk di tengah arus informasi yang sangat bebas. Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, dan pengendalian diri dapat menjadi dasar dalam membentuk karakter anak agar tidak mudah terpengaruh oleh budaya negatif di media digital. Dengan demikian, pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat relevan diterapkan dalam pendidikan keluarga masa kini karena mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan pembentukan moral dan spiritual anak. Pendekatan ini tidak hanya menekankan kontrol terhadap anak, tetapi juga pembinaan kesadaran, komunikasi, dan internalisasi nilai agama secara humanis. Implikasi Pola Asuh Demokratis Perspektif Zakiah Daradjat dalam Menghadapi Tantangan Moral Anak di Era Digital Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat memberikan implikasi positif terhadap pembentukan karakter dan ketahanan moral anak di era digital. Pola asuh ini membantu menciptakan hubungan keluarga yang harmonis sehingga anak memiliki kedekatan emosional dengan orang tua. Kedekatan tersebut menjadi faktor penting dalam mencegah anak mencari pelarian negatif melalui dunia digital. Implikasi lain terlihat pada meningkatnya kemampuan anak dalam mengontrol diri ketika menggunakan teknologi digital. Anak yang dibiasakan berdialog, diberi pemahaman, dan dilibatkan dalam pengambilan keputusan cenderung memiliki kesadaran yang lebih baik dalam 187 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 menggunakan gadget maupun media sosial. Mereka tidak hanya takut terhadap hukuman orang tua, tetapi memahami alasan moral dan agama di balik aturan yang diterapkan. Pola asuh demokratis juga berimplikasi pada terbentuknya sikap tanggung jawab dan disiplin pada anak. Dalam keluarga yang menerapkan pola asuh demokratis, anak dibiasakan untuk mematuhi aturan secara sadar, bukan karena tekanan. Hal ini sangat penting di era digital, karena pengawasan orang tua tidak selalu dapat dilakukan secara penuh. Kesadaran internal anak menjadi benteng utama dalam menghadapi pengaruh negatif teknologi. Selain itu, penerapan pola asuh demokratis berbasis pendidikan agama mampu memperkuat kesehatan mental dan spiritual anak. Zakiah Daradjat menekankan bahwa pendidikan agama yang diterapkan melalui kasih sayang dan keteladanan akan membentuk jiwa anak yang tenang, percaya diri, dan memiliki arah hidup yang jelas. Anak yang memiliki fondasi spiritual yang kuat cenderung lebih mampu menghadapi tekanan sosial, pengaruh budaya digital, serta berbagai bentuk penyimpangan moral yang berkembang di media sosial. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa penerapan pola asuh demokratis di era digital menghadapi beberapa hambatan. Kesibukan orang tua, rendahnya literasi digital keluarga, serta pengaruh lingkungan sosial menjadi faktor yang dapat mengurangi efektivitas Banyak orang tua mengalami kesulitan dalam mengawasi penggunaan teknologi karena keterbatasan waktu dan pemahaman terhadap perkembangan media digital. Oleh karena itu, orang tua perlu meningkatkan kemampuan parenting modern agar mampu mendampingi anak secara lebih adaptif sesuai perkembangan zaman. Berdasarkan hasil pembahasan tersebut dapat dipahami bahwa pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat memiliki implikasi yang signifikan dalam membentuk akhlaqul karimah anak di era digital. Pendekatan ini menempatkan pendidikan agama, komunikasi keluarga, keteladanan, dan pengawasan yang bijaksana sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan moral anak di tengah perkembangan teknologi modern. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat merupakan pola pengasuhan yang menekankan keseimbangan antara kasih sayang, kebebasan, pengawasan, komunikasi, pendidikan agama, dan keteladanan orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Konsep ini memiliki relevansi yang kuat terhadap pembentukan akhlaqul karimah anak di era digital karena mampu menjadi pendekatan pengasuhan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai moral dan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis dapat membantu anak mengembangkan sikap disiplin, tanggung jawab, sopan santun, pengendalian diri, serta kesadaran moral dalam menggunakan media digital. Selain itu, pemikiran Zakiah Daradjat memperkuat teori pola asuh demokratis modern dengan memasukkan dimensi psikologi Islam dan pendidikan akhlak sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberhasilan penerapan pola asuh demokratis di era digital sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi keluarga, keteladanan orang tua, dan pembiasaan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah tantangan penggunaan gadget, media sosial, degradasi moral, dan krisis komunikasi keluarga, pola asuh demokratis perspektif Zakiah Daradjat menjadi pendekatan yang relevan untuk membangun ketahanan moral anak. Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk menerapkan pola pengasuhan yang lebih komunikatif, religius, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi agar anak mampu memanfaatkan media digital secara bijak tanpa kehilangan nilai-nilai akhlaqul karimah. Selain itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan kajian ini melalui penelitian lapangan agar diperoleh gambaran empiris mengenai implementasi pola asuh demokratis dalam keluarga muslim di era digital. 188 | Page https://siberpublisher. org/JPSN. Vol. No. April-Juni 2026 REFERENSI