Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Pengaruh Pemberian Asi Eksklusif. Pola Komsumsi, dan Pendapatan Keluarga Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat Tahun 2024 Puspa IndahA*. AinurafikA. Mayurni Firdayana MalikA 1,2,3,Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat. Institut Teknologi adan KesehatanaAvicenna. Kendaria Email korespondensi: ipuspa798@gmail. Info Artikel: Diterima: 27 Juli 2024 Disetujui: 13 Agustus 2024 Dipublikasi: September 2024 Kata Kunci: ASI Eksklusif. Pendapatan. Pola makan. Stunting Keywords: Exclusive Income. Diet. Stunting Abstrak Latar Belakang: Di Indonesia pada tahun 2023, terdapat 24,4% anak yang mengalami pertumbuhan tidak baik. Sulawesi Tenggara merupakan salah satu daerah dengan angka stunting tertinggi, dengan 30,02% dari 48. 020 balita tidak tumbuh dengan baik. Pada Januari hingga Juni 2024. Puskesmas Tondasi menemukan 23 kasus stunting. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pemberian ASI Esklusif. Pola Komsumsi, dan Pendapatan Keluarga dengan Kejadian Stunting pada anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Kota Muna Barat Tahun 2024. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional case control dengan teknik proposional sampling yaitu teknik pengambilan proporsi untuk memperoleh sampel yang representatif, pengambilan subjek dari setiap strata atau wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dalam masing-masing wilayah yang di matching. Besaran sampel yang digunakan adalah 46 responden, yaitu 23 kasus dan 23 kontrol. Variable independen dalam penelitian ini adalah ASI eksklusif. Pola Komsumsi dan pendapatan keluarga, sedangkan variabel dependenya stunting. Data dianalisis dengan menggunakan aplikasi SPSS dengan uji Odds Ratio. Hasil: Uji odds ratio variabel ASI Eksklusif dengan stunting sebesar (OR= 6,. Pola Komsumsi dengan kejadian stunting dengan nilai (OR= 3,. , dan pendapatan keluarga (OR=15,. Kesimpulan: Ada Pengaruh Pemberian ASI Esklusif. Pola Komsumsi. Dan Pendapatan Keluarga Dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Pusksmas Tondasi Tahun2024. Abstract Background: Stunting in Indonesia in 2023 amounted to 24. Southeast Sulawesi is included in Indonesia's top 5 highest stunting rates, namely 30. 02% of 48,020 toddlers. Data from the Tondasi Health Center from January to June 2024 recorded 23 cases of stunting. Objective: This study aims to determine the effect of exclusive breastfeeding, consumption patterns, and family income on the incidence of stunting in toddlers in the Tondasi Health Center Working Area. West Muna City, in 2024. Methods: The design of this study is observational case-control with a proportional sampling technique, namely the technique of taking proportions to obtain a representative sample, taking subjects from each stratum or region that is determined to be balanced or comparable in each matching area. The sample size used was 46 respondents, 23 cases and 23 The independent variables in this study were exclusive breastfeeding, consumption patterns and family income, while the dependent variable was stunting. Data were analyzed using the SPSS application with the Odds Ratio test. Results: Odds ratio test between exclusive breastfeeding variables with stunting of (OR = . , consumption patterns with stunting incidence with a value of (OR = 3. , and family income (OR = Conclusion: There is an Influence of Exclusive Breastfeeding. Consumption Patterns, and Family Income on the Incidence of Stunting in the Tondasi Pusksmas Working Area in 202024. PENDAHULUAN Stunting merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan pada anak sehingga terjadi ketidaksesuaian antara tinggi badan dan usia akibat kekurangan gizi Prevalensi global stunting telah meningkat selama dekade terakhir, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas maksimum sebesar 20% di setiap negara. Namun. Indonesia diproyeksikan akan melampaui ambang batas tersebut pada tahun 2020, dengan tingkat prevalensi sebesar 27,7%. Mayoritas anak-anak yang mengalami stunting di seluruh dunia ditemukan di Asia . %), diikuti oleh Afrika . %). Di Asia, proporsi terbesar anak-anak yang mengalami stunting terdapat di Asia Tenggara, dan Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam hal prevalensi anak balita di wilayah tersebut. (WHO, 2. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Menurut statistik yang diberikan UNICEF pada tahun 2021, terdapat 149 juta balita di seluruh dunia yang tergolong stunting. Proporsi terbesar dari balita yang mengalami stunting, yaitu sebesar 55%, berada di Asia, dan Afrika merupakan rumah bagi 39% dari total balita tersebut. Asia Tenggara muncul sebagai wilayah kedua yang paling terkena dampak dalam hal angka stunting, setelah Asia Selatan, dengan total 14,4 juta anak di bawah usia lima tahun yang terkena dampaknya. (Herbawani K, et al, 2. Temuan kajian SSGI Indonesia tahun 2021 tentang status gizi di Sultra menunjukkan bahwa wilayah tersebut masuk dalam 5 besar wilayah di Indonesia dengan prevalensi stunting tertinggi, yakni sebesar 30,02%. Angka ini melampaui rata-rata nasional sebesar 24,4%. Jika dicermati data tingkat kabupaten, terlihat bahwa Buton Selatan . ,2%). Buton Tengah . ,7%). Buton . ,9%). Konawe Kepulauan . ,8%). Muna . ,8%). Konawe Utara . ,5%). %). Kolaka Utara . ,1%). Muna Barat . ,0%). Konawe Selatan . ,3%). Kota BauBau . ,6%). Bombana . ,8%). Buton Utara . ,8%). Kolaka . ,5%). Konawe . ,2%). Wakatobi . ,0%). Kota Kendari . ,0%), dan Kolaka Timur . ,0%) menunjukkan tingkat prevalensi stunting yang bervariasi. (Dinkes Provinsi Sultra 2. Data Stunting Dinas Kesehatan Muna Barat tahun 2024 terdapat ada 63 kasus yang tersebar di 18 Puskesmas dan Puskemas Tondasi berada di urutan pertama tertinggi dalam kasus stunting. Dan brdasarkan data yang di peroleh oleh penulis bahwa data stunting puskesmas tondasi dari jaunuari sampai juni 2024 tecatat ada 23 kasus stunting. Berdasarkan data tersebut, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Pemberian ASI Eksklusif. Pola Komsumsi Dan Pendapatan Keluarga Terhadap Kejadaian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Pusksemas Tondasi Kabupaten Muna Barat Tahun 2024Ay. Kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama. Stunting juga termasuk masalah gizi kronis yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi atau pendapatan keluarga, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Standar Antropometri anak didasarkan pada parameter berat badan dan panjang/tinggi badan yang terdiri atas 4 . Untuk mengetahui status balita stunting atau tidak, indeks yang digunakan adalah indeks panjang badan menurut umur/tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U). Tinggi badan merupakan parameter antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan tulang (Permenkes RI, 2. METODE Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan observasional dengan desain penelitian case control. Pada studi kasus kontrol observasi atau pengukuran variabel bebas dan variabel terikat tidak dilakukan pada saat yang sama. Penelitian dimulai dengan melakukan pengukuran variabel terikat, yakni efek, sedangkan variabel bebasnya dicari secara karena itu studi case control disebut dengan studi longitudinal. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari populasi kasus dan dan populasi control. Untuk populasi kasus adalah seluruh balita umur 12-59 bulan yang terdiangnosa stunting di Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat. Sedangkan populasi control adalah balita umur 12-59 bulan yang tidak terdiangnosa stunting di wilayah kerja Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 46 orang yang terdiri dari 23 kasus dan 23 kontrol . erbandingan 1:. Untuk sampel kasus sebanyak 23 orang diambil berdasarkan total sampling, sedangkan untuk sampel ontrol diambil dengan Teknik simple random Pada penelitian ini tidal dilakukan matching dikarenakan jumlah sampel kasus Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 yang terlalu sedikit. Data stunting diambil dari data Puskesmas, sehingga penelitj tidak lagi mengukur pada saat penelitian, hanya mengukur variabel bebasnya saja. Prosedur pengolahan data penelitian ini pembersihan, dan tabulasi. Selain itu, analisis data menggunakan dua teknik analisis utama, yaitu analisis univariat dan bivariat, dengan menggunakan odds rasio 1, dengan interpretasi hasil pengujian dilakukan pada tingkat kepercayaan 95%. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh ASI Eksklusif terhadap Kejadian Stunting Tabel 3 Pengaruh Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Tahun 2024 Pemberian ASI Esklusif Tidak ASI Esklusif ASI Esklusif Jumlah Kejadian Stunting Kasus Kontrol ASI eksklusif adalah pemberian ASI yang diberikan sejak bayi dilahirkan hingga usia bayi 6 bulan tanpa memberikan makanan atau minuman lainnya seperti susu formula, air putih, air jeruk kecuali vitamin dan obat danASI seacara optimal selama 2 tahun. (Kemenkes RI. Air Susu Ibu (ASI) merupakan air susu yang dihasilkan oleh seorang ibu yang memberikan nutrisi penting bagi tumbuh kembang bayi. Bayi sebaiknya mengonsumsi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, tanpa tambahan cairan atau makanan padat apa pun, kecuali vitamin dan obat-obatan yang ASI mengandung enzim yang membantu pencernaan, sehingga mudah dicerna oleh sistem pencernaan bayi yang sedang berkembang, yang mungkin belum memiliki kapasitas untuk memproses jenis makanan lain (Mufdlilah, 2. Dalam wawancara yang dilakukan dengan ibu responden, diketahui bahwa praktik pemberian madu pada bayi baru lahir sudah mengakar dalam adat istiadat dan diyakini dapat mencegah kekeringan pada bibir bayi. Selain itu, beberapa ibu terpaksa memberi bayinya susu formula sebelum waktunya ketika ASI mereka tidak tersedia. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kurangnya nutrisi selama kehamilan sehingga Jumlah 6,75 95% CI 1,82 25,03 menyebabkan produksi ASI tidak mencukupi. Beberapa ibu juga beralih ke alternatif seperti air bubur yang dicampur gula ketika tidak mampu membeli susu formula. Selain itu, tantangan menyusui seperti puting yang sakit dan terluka juga mempengaruhi keputusan untuk tidak memberikan ASI kepada bayinya. Oleh karena itu meskipun ibunya seorang ibu rumah tangga namun ada banyak faktor yang menyebabkan balita tersebut tidak ASI Esklusif. Akan tetapi ada beberapa balita yang ASI esklusif namun Stunting dikarenakan pola komsumsinya yang tida tepat sehingga tidak ada peningkatan pada berat badan dan tinggi badannya. Hasil analisis besar peluang pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian stunting, diperoleh nilai OR sebesar 6,75. Artinya balita yang tidak mendapatkan asi esklusif di masa lampau beresiko mengalami stunting sebesar 6,75 kali dibandingkan balita yang mendapatkan asi esklusif di masa lampau. Karena rentang CI tidak mencakup nilai 1 . %CI=LL 1,82 Ae UL 25,. , maka risiko tersebut bermakna. Dengan demikian, pemberian ASI Esklusif berpengaruh terhadap kejadian Stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat Tahun 2024. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Temuan penelitian ini menunjukkan prevalensi stunting pada balita yang tidak mendapat ASI eksklusif lebih tinggi dibandingkan balita yang mendapat ASI Hasil tersebut sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sari F dan Veby F. tentang hubungan ASI menggunakan analisis regresi logistik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 2-5 tahun di wilayah hukum Puskesmas Barombong. Sumber nutrisi utama bagi bayi biasanya adalah ASI, yang dikenal luas karena berbagai manfaat dan manfaatnya. ASI kaya akan zat gizi makro dan mikro, antara lain karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ia juga memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi karena kandungan antibodinya, dan telah terbukti mendukung perkembangan otak dan kesehatan bayi secara keseluruhan. Komposisi ASI dapat berbeda-beda pada setiap ibu berdasarkan pola makan dan kebutuhan spesifik (Aisyaroh N, et al. , 2. ASI berfungsi sebagai sumber nutrisi penting yang memenuhi kebutuhan gizi yang perkembangan optimal pada bayi. Asupan ASI yang tidak mencukupi dapat menyebabkan mengakibatkan malnutrisi dan selanjutnya menjadi stunting. Pemberian ASI eksklusif pertumbuhan linier pada bayi, karena ASI kaya akan kalsium, nutrisi yang lebih mudah diserap tubuh dibandingkan susu formula. Menekankan pentingnya memaksimalkan pertumbuhan tinggi badan melalui pemberian ASI eksklusif dapat membantu memitigasi risiko stunting pada bayi. Temuan bahwa meskipun mendapat ASI eksklusif, anak di bawah usia lima tahun masih menghadapi tantangan stunting. Berdasarkan wawancara dengan para ibu, banyak anak yang mengalami penyakit seperti flu, demam, batuk, dan diare menjelang jadwal pemeriksaan kesehatan. Masalah kesehatan ini dapat berdampak pada berat dan tinggi badan balita, kemungkinan disebabkan oleh makanan yang tidak disiapkan dengan baik atau tidak memadai, serta kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Selain itu, beberapa ibu terus memberikan ASI eksklusif kepada anaknya melebihi jangka waktu yang disarankan yaitu 6 bulan, yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk beralih ke makanan padat dan mengakibatkan kekurangan nutrisi yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan. Adanya stunting padahal pemberian ASI eksklusif dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti intensitas menyusui yang kurang sehingga menyebabkan asupan ASI kurang Hal ini terutama terlihat pada ibu bekerja yang mungkin memiliki interaksi terbatas dengan anaknya, sehingga berdampak pada frekuensi dan durasi sesi menyusui. Selain itu, status gizi ibu selama kehamilan memainkan peran penting dalam menentukan status gizi bayi dalam kandungan, yang secara signifikan dapat mempengaruhi hasil kelahiran. Gizi ibu yang tidak memadai sebelum hamil dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan janin dan berat badan lahir rendah, yang keduanya dapat menghambat pertumbuhan dan pencapaian tinggi badan anak secara Faktor tambahan yang berkontribusi terhadap stunting adalah pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa dukungan penyakit menular yang memadai, pengenalan makanan pendamping ASI yang kurang mengandung nutrisi penting, sumber daya ekonomi atau pendapatan keluarga yang tidak mencukupi, dan kurangnya kesadaran ibu mengenai pentingnya pemberian ASI yang nutrisi bagi anak tersebut. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Sebagian responden yang tidak mengalami stunting mempunyai latar belakang tidak mendapat ASI eksklusif. Berdasarkan temuan wawancara, pemberian ASI eksklusif mengacu pada praktik memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir hingga usia 6 bulan, dengan pengecualian obat-obatan, vitamin, dan suplemen mineral seperti yang ditentukan oleh profesional kesehatan. Ditegaskan, selama 6 bulan pertama pemberian ASI eksklusif, bayi tidak boleh diberikan makanan atau minuman Pengaruh Pola Makan terhadap Kejadian Stunting Tabel 4. Pengaruh Pola Komsumsi dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Tahun 2024. Kejadian Stunting 95%CI Jumlah Pola Komsumsi Kasus Kontrol Tidak Tepat 3,55 1,05 12,05 Tepat Jumlah Pola konsumsi memegang peranan penting dalam membentuk status gizi Pola tersebut mengacu pada kekhususan asupan makanan seseorang, seperti jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi serta waktu makan, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi. Kualitas makanan yang dikonsumsi merupakan salah satu penentu utama status gizi anak, penyediaan menu bergizi, seimbang, dan beragam sangat penting untuk kesehatan yang optimal. (Welasasih and Wirjatmadi 2. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan ibu responden menyatakan bahwa pemberian makanan kepada balitanya tidak sesuai dengan aturan pola komsumsi yang dimana ibu responden tersebut masih memberikan makanan bubur nasi tanpa adanya campuran yang lain. selain itu kondisi ekonomi juga mempengaruhi pemberian makanan yang dilakukan oleh ibu responden sehingga makanan yang di berikan untuk balitanya kadang hanya sekedar bubur nasi dan sayur tidak tambahan protein. Selain itu masih kurangnya pengetahuan ibu mengenai cara pemeberian MPASI yang benar dan tepat sehingga ibu balita hanya sekedar memebrikan makan saja. Akan tetapi ada beberapa balita yang pola komsumsinya tepat namun stunting dikarenakan ia tidan ASI Esklusif sehingga masuk dalam kategori Stunting karena tidak ASI Esklusif mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hasil analisis besar peluang pemberian Pola Komsumsi terhadap kejadian stunting, diperoleh nilai OR sebesar 3,55. Artinya balita yang pola komsumsinya tidak tepat di masa lampau beresiko mengalami stunting sebesar 3,55 kali dibandingkan balita yang pola komsumsinya tepat di masa lampau. Karena rentang CI tidak mencakup nilai 1 . % CI=LL 1,05 Ae UL 12,. , maka risiko tersebut Dengan demikian, pemberian Pola komsumsi berpengaruh terhadap kejadian Stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat Tahun 2024. Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Yati . yang dilakukan di Puskesmas Wonosari yang menunjukkan adanya hubungan antara pola konsumsi dengan prevalensi stunting pada anak usia dini. Senada dengan penelitian Fauziah . yang mengungkapkan bahwa balita yang memiliki riwayat pola konsumsi tidak memadai, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang memiliki riwayat pola konsumsi cukup. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Pola konsumsi optimal mengacu pada pola makan yang disesuaikan dengan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi, serta pola makan anak. Penentu utama kesejahteraan gizi anak adalah ibu, yang pengetahuan dan keterampilan kulinernya berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat. Balita yang mengalami stunting mungkin memerlukan bimbingan dan dukungan nutrisi khusus, karena preferensi pola makan dan kebiasaan mereka mungkin berbeda secara Beberapa menunjukkan preferensi makanan yang terbatas, seperti hanya mengonsumsi nasi dan sup sayuran atau bubur, yang mungkin disebabkan oleh kesulitan mengunyah atau kurangnya variasi dalam pola makannya. Selain itu, para ibu yang memilih makanan ringan mungkin secara tidak sengaja membatasi keragaman pola makan balitanya. (Purwarni. Status gizi seorang anak sangat dipengaruhi oleh jenis makanan yang Balita, khususnya, memiliki risiko lebih tinggi mengalami kekurangan nutrisi, sehingga penting untuk memberi mereka makanan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan kemampuan pencernaannya. Memberikan beragam makanan yang kaya nutrisi sangat penting untuk mencegah kekurangan pada anak. Penting untuk membangun kebiasaan makan yang sehat sejak dini dengan menawarkan variasi makanan dan mendidik anak tentang waktu makan yang tepat. Pada akhirnya, masalah gizi dan terhambatnya pertumbuhan pada anak seringkali disebabkan oleh kurangnya asupan makanan seimbang dan bergizi, serta praktik pemberian makan yang tidak tepat. (Puspasari, 2. Penting bagi para ibu untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyediakan makanan bergizi di rumah, yang dapat memenuhi beragam kebutuhan pangan setiap anggota rumah tangga. Orang tua, khususnya ibu, harus waspada dalam memantau dan mengatur kebiasaan konsumsi balita, misalnya ngemil Pola makan yang optimal harus terdiri dari tiga kali makan utama dan dua kali camilan bergizi untuk memastikan asupan nutrisi yang lengkap sepanjang hari. Para peneliti menemukan bahwa pola konsumsi, khususnya terkait kualitas bahan makanan dan cara pengolahannya yang baik, berperan besar terhadap kejadian stunting pada Kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingnya nutrisi penting seperti protein, zat besi, kalsium, energi, dan seng dalam makanan anak dapat berkontribusi terhadap terjadinya Sangat penting bagi para ibu untuk memproses dan mengatur waktu memasak makanan dengan benar untuk mempertahankan nutrisi penting ini. Selain itu, balita yang memiliki riwayat kebiasaan makan yang buruk lebih besar kemungkinannya mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang pola makannya lebih baik. Praktik pemberian makan yang salah juga dapat menyebabkan stunting pada balita. Pengaruh Pendapatan terhadap Kejadian Stunting Tabel 5 Pengaruh Pendapatan Keluarga dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Tahun 2024. Kejadian Stunting Jumlah 95%CI Pendapatan Kasus Kontrol Rendah 50,0 15,24 3,39 68,55 Tinggi Jumlah Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Pendapatan adalah penghasilan yang diterima oleh para anggota masyarakat untuk jangka waktu tertentu sebagai balas jasa atas faktor-faktor sumbangkan dalam turutp serta membentuk produk nasional. Menurut Reksoprayitno, pendapatan adalah uang yang diterima oleh seseorang dan perusahaan dalam bentuk gaji, upah, sewa bunga, dan laba termasuk juga beragam tunjangan, seperti kesehatan dan pensiun (Suparyanto, 2. Pengaruh pendapatan keluarga dengan kejadian stunting pada balita di Wilyah Kerja Puskesmas Tondasi Tahun 2023, jadi. Ha diterima maka dapat diintrepretasikan bahwa ada pengaruh pendapatan keluarga dengan kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat Tahun 2023. Temuan dari wawancara dengan para ibu menunjukkan bahwa pendapatan keluarga berperan penting dalam membentuk tingkat pendidikan orang tua. Tingkat pendidikan orang tua yang lebih rendah dikaitkan dengan tingkat pendapatan yang lebih rendah. Sekalipun seorang ibu memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, ia harus memiliki pendapatan yang lebih tinggi agar dapat mencukupi kebutuhan gizi anaknya dan mencegah stunting. Meningkatnya harga makanan penting selama kehamilan dapat menyebabkan para ibu memilih makanan yang lebih murah dan kurang bergizi seperti mie instan, sehingga mengakibatkan gizi ibu dan anak tidak mencukupi. Selain itu, beberapa balita dari keluarga berpenghasilan tinggi mungkin masih mengalami stunting akibat kebiasaan konsumsi yang tidak tepat dan kurangnya pemberian ASI eksklusif, yang seringkali disebabkan oleh komitmen kerja ibu. Hasil analisis besar peluang Pendaptan Keluarga terhadap kejadian stunting, diperoleh nilai OR sebesar 15,24. Artinya balita yang keluarganya memeiliki pendapatan rendah beresiko mengalami stunting sebesar 12,24 kali keluarganya tinggi di. Karena rentang CI tidak mencakup nilai 1 . %CI=LL3,39 Ae UL 88,. , maka risiko tersebut bermakna. Dengan Pola berpengaruh terhadap kejadian Stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat Tahun 2023. Pendapatan keluarga teridentifikasi sebagai faktor risiko signifikan terjadinya stunting pada anak balita di wilayah tangkapan Puskesmas Puuwatu Kota Kendari pada tahun Temuan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Adu I. K dkk. yang juga menunjukkan adanya hubungan antara pendapatan keluarga dengan prevalensi stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah tangkapan Puskesmas BAA Kabupaten Rote Ndao. Berdasarkan temuan penelitian yang dilakukan oleh Sutarto S, dkk. , . , analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pendapatan keluarga dengan prevalensi stunting pada balita di wilayah Puskesmas Way Urang Kabupaten Lampung Selatan. Demikian pula penelitian Ariani M . menunjukkan bahwa balita yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah mempunyai risiko 3,385 kali lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan dengan balita yang berasal dari keluarga berpendapatan cukup atau tinggi. Disparitas tingkat pendapatan ini menyebabkan terbatasnya daya beli terhadap makanan bergizi, sehingga berdampak pada kurangnya gizi baik pada balita maupun ibu hamil, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting pada anak. Selain itu, pendapatan keluarga dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk jenis pekerjaan, jumlah tanggungan yang dinafkahi, dan status tempat tinggal. Faktor-faktor ini memainkan peran penting dalam menentukan pendapatan keluarga karena mempengaruhi pengeluaran dan kewajiban keuangan. Misalnya, pendapatan yang lebih tinggi belum tentu Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 menghasilkan standar hidup yang lebih tinggi jika terdapat banyak tanggungan yang harus dinafkahi, karena biaya yang terkait untuk menghidupi mereka juga akan meningkat. Status kependudukan memainkan peran penting dalam menentukan pengeluaran bulanan, selain jumlah tanggungan dan situasi Tinggal di tempat tinggal milik pribadi dan dibayar penuh dapat menurunkan biaya bulanan dibandingkan tinggal di properti dengan cicilan atau kredit, atau bersama orang Selain itu, biaya transportasi dan barangbarang penting lainnya dapat menambah beban keuangan bagi individu dengan status kependudukan tertentu. Demikian pula, meskipun tidak memenuhi persyaratan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah Provinsi atau Kota, jika tanggungan individu dan biaya perumahan ditanggung sepenuhnya, sehingga biaya yang dikeluarkan minimal, maka anak dan keluarganya dapat memenuhi kebutuhan gizinya secara memadai dan mencegah stunting. Keluarga yang mempunyai tingkat pendapatan cukup atau tinggi mampu memenuhi kebutuhan primer dan sekunder anak dan rumah tangganya. Stabilitas keuangan ini memungkinkan akses terhadap sumber daya penting dan peningkatan layanan kesehatan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terkait pengaruh pemberian ASI Eksklusif. Pola Komsumsi. Dan Pendapatan Keluaraga Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi Kabupaten Muna Barat Tahun 2024 maka dapat disimpulkan bahwa Ada Pengaruh signifikan antara Pemberian ASI Esklusif. Pola Komsumsi. Dan Pendapatan Keluarga Dengan Kejadian Stunting. Oleh karena itu, upaya promosi kesehatan diharapkan lebih terstandar dan ketat dalam melakukan sosialisasi mengenai penyebab, dampak, dan pencegahan stunting, serta pentingnya pola makan bergizi. Hal ini akan membantu meningkatkan pemahaman mengenai stunting dan menyediakan materi edukasi, seperti selebaran, untuk ibu pranikah, ibu hamil, nifas, serta ibu yang memiliki anak Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesadaran ibu mengenai stunting dan manfaat ASI eksklusif, dengan tujuan untuk menurunkan prevalensi stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Tondasi. DAFTAR PUSTAKA