Health Research Journal of Indonesia (HRJI) Vol. No. 4, pp. April 2023 Hubungan Lama Kerja dengan Perilaku Cuci Tangan Perawat di Ruang IBS Rumah Sakit Swasta di Kota Semarang Stefanus Ariawan Prananta1*. Arimbi Karunia Estri2. Emmelia Ratnawati3 1,2,3 STIKES Panti Rapih Yogyakarta Open Access Freely Available Online Dikirim: 18 Maret 2023 Direvisi: 02 April 2023 Diterima: 28 April 2023 *Penulis Korespondensi: E-mail: mariazanetta249@gmail. ABSTRAK Pendahuluan Pembedahan merupakan salah satu pelayanan yang terpenting di rumah sakit. Instalasi Bedah Sentral merupakan unit layanan pembedahan yang berkontribusi dalam pelayanan dalam pemberian asuhan keperawatan perioperatif. Surgical safety menjadi indikator utama tindakan pembedahan, dimana keselamatan pasien menjadi bagian utama yang harus diperhatikan sehingga dibutuhkan kecermatan, ketepatan dan kepatuhan bagi tenaga kesehatan yang bertugas di ruang operasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama kerja dengan kepatuhan cuci tangan bedah sesuai SOP. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel ini adalah total sampling. Hasil: Hasil penelitian responden memiliki perilaku cuci tangan dengan kategori baik yaitu sebanyak 19 responden atau sebesar 70,4% dan kurang dari setengah responden memiliki perilaku cuci tangan dengan kategori tidak baik yaitu 8 responden atau sebesar 29,6%. Simpulan: Kesimpulan dari penelitian ini diperlukan upaya evaluasi monitoring agar perawat meningkatkan perilaku cuci tangan dengan baik. Kata kunci: Cuci Tangan. Instalasi Bedah Sentral. Perawat ABSTRACT Background: Surgery is one of the most important services in the hospital. The Central Surgery Installation is a surgical service unit that contributes to services in the provision of perioperative nursing care. Surgical safety is the main indicator of surgery, where patient safety is the main part that must be considered so that accuracy, accuracy and compliance are needed for health workers on duty in the operating room. Purposes This study aims to analyze the relationship between length of work and adherence to surgical hand washing according to SOP. Method: . This study used an analytic descriptive design with a cross-sectional This sampling technique is total sampling. Result The results of the study showed that 19 respondents or 70. 4% had hand washing behavior in the good category and less than half of the respondents had bad hand washing behavior, namely 8 respondents or 29. Conclusion: The conclusion from this study is that monitoring evaluation efforts are needed so that nurses improve hand washing behavior properly. Keywords: Hand Washing. Central Surgical Installation. Nurses PENDAHULUAN Pembedahan merupakan salah satu pelayanan yang terpenting di rumah sakit. Instalasi Bedah Sentral merupakan unit layanan pembedahan yang berkontribusi dalam pelayanan dalam pemberian asuhan keperawatan perioperatif. Surgical safety menjadi indikator utama tindakan pembedahan, dimana keselamatan pasien menjadi bagian utama yang harus diperhatikan sehingga dibutuhkan kecermatan, ketepatan dan kepatuhan bagi tenaga kesehatan yang bertugas di ruang operasi. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa patient safety merupakan prinsip dasar dalam pemberian perawatan kesehatan. Salah satu bagian penting manajemen risiko di rumah sakit adalah lingkungan yang aman, yang mana rumah sakit menyembuhkan diri dari penyakit atau terbebas dari Health Research Journal of Indonesia (HRJI) Vol. No. 4, pp. April 2023 penyakit bukannya mendapatkan penyakit baru (WHO, 2. Salah satu dari indikator mutu pelayanan terhadap pasien adalah keselamatan pasien adalah bahwa rumah sakit mempunyai kewajiban untuk menciptakan sistem yang mengurangi bahkan mencegah terjadinya insiden yang mengancam keselamatan pasien. Adapun bentuk kejadian yang mengancam keselamatan pasien adalah terdiri dari kejadian tidak diharapkan (KT), kejadian nyaris cedera (KNC) dan kejadian potensi cedera (KPC). Sistem ini mencegah terjadinya suatu kesalahan akibat dari suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya dilakukan tindakan (Tutiany et al. , 2. World Health Organization (WHO) tahun 2008 dalam pernyatannya The Second Global Patient Safety Challenge: Safe Surgery Saves Lives adalah tentang kesadaran terhadap keselamatan pasien dan komitmen memberikan perawatan kesehatan yang lebih aman, dikarenakan sekitar 90% didapatkan risiko kematian dan kecacatan (LaGrone et al. , 2. Healthcare Assosiated Infections (HAI. dianggap sebagai masalah serius yang terus terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. Infeksi nosokomial didapatkan selama perawatan di lingkungan rumah sakit, dimana beberapa kerugian yang dapat ditimbulkan yaitu bertambahnya lama waktu perawatan dan biaya perawatan serta meningkatkan angka mortalitas dan morbilitas (Voidazan et al. , 2. Data angka HAIs di Indonesia sendiri belum dirangkum di dalam satu tabel secara keseluruhan namun sebuah survei yang dilakukan oleh Perdalin Jaya dan Rumah sakit Prof. Dr. Sulianti Saroso pada 11 rumah sakit di DKI Jakarta tahun 2003 didapatkan data angka HAIs untuk infeksi luka operasi 18,9%, infeksi saluran kemih yaitu 15,1%, infeksi aliran darah primer yaitu 26,4%, pneumonia yaitu 24,55% infeksi saluran napas yaitu 15,1% dan infeksi lainnya 32,1% (Depkes RI, 2. Angka HAIs berbanding lurus dengan perilaku hand hygiene yang dilakukan petugas kesehatan. Hand hygiene merupakan salah satu standar terbukti efektif, paling mudah serta paling penting dilakukan dalam upaya meningkatkan patient safety di lingkungan rumah sakit (Hillier, 2020. Kamanga et , 2022. METODE Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan lama kerja dengan kepatuhan cuci tangan bedah sesuai SOP. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan crosectional. Penelitian analitik merupakan penelitian yang bertujuan untuk mencari hubungan, dimana variabel bebas dan variabel terikat dianalisa hubungan antara variabel satu dengan variabel Penelitian cross-sectional merupakan mengumpulkan data variabel independen dan variabel dependen hanya sekali pada satu waktu (Riyanto, 2. Teknik pengambilan sampel ini adalah total sampling, dimana total sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pengambilan sampel secara keseluruhan. Sampel dalam penelitian ini adalah semua perawat bedah di ruang IBS Rumah Sakit Swasta di kota Semarang sehingga jumlah populasi dan sampel adalah sama. Peneliti juga pertimbangan/kriteria tertentu meliputi kriteri inklusi yaitu perawat yang bekerja di ruang IBS Rumah Sakit Swasta di kota Semarang dengan perjanjian kerjasama sebagai karyawan uji coba, kontrak atau tetap dan kriteria eksklusif yaitu perawat yang sedang menjalani cuti, isolasi mandiri atau tidak bekerja dalam kurun waktu penelitian. Tahap pengumpulan data yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu dengan melakukan observasi untuk mendapatkan data variabel dependen dengan cara mengisi lembar observasi untuk menilai perilaku cuci tangan yang dilakukan oleh Observasi dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti yang dibantu dengan dua enumerator, dimana sebelum penelitian peneliti akan melakukan persamaan persepsi dengan enumerator tentang cara pengisian lembar Observasi terhadap perilaku cuci tangan dalam penelitian ini akan dilakukan sebanyak tiga kali pengukuran. Data variabel independen dan demografi yaitu umur, jenis kelamin, pendidikan Health Research Journal of Indonesia (HRJI) Vol. No. 4, pp. April 2023 dan lama kerja responden didapatkan dengan melihat buku catatan kepegawaian tentang responden di dapatkan dari bidang kepegawaian RS Swasta di kota Semarang. Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Cuci Tangan Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan Perilaku Cuci Tangan Perilaku Cuci Frekuensi Persentase Tangan (%) Baik Tidak baik Jumlah HASIL Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Karakteristik Demografi Karakteristik Demografi Frekuensi (%) Usia Jenis Dewasa awal . -35 Dewasa akhir . -45 Lansia awal . -55 Laki-laki Perempuan Pendidikan Di S1/Ners 55,56 44,44 Tabel 3 menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden memiliki perilaku cuci tangan dengan kategori baik yaitu sebanyak 19 responden atau sebesar 70,4% dan kurang dari setengah responden memiliki perilaku cuci tangan dengan kategori tidak baik yaitu 8 responden atau sebesar 29,6%. Hubungan Lama Kerja dengan Perilaku Cuci Tangan Tabel 4 Hubungan Lama Kerja dengan Perilaku Cuci Tangan Responden Perilaku Cuci Tangan Baik Tidak Lama Kerja Baik Baru (<6 Sedang . -10 3,7 0,429* Lama (>10 Total 19 *Kolmogorov Tabel 1 menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden berada pada usia dewasa akhir . -45 tahu. yaitu 15 responden atau sebesar 55,6%. Gambaran Distribusi Responden Berdasarkan Lama Kerja Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Lama Kerja Lama Kerja Frekuensi Persentase (%) Baru (<6 tahu. Sedang . -10 tahu. Lama (>10 tahu. Jumlah Tabel 4 menunjukkan bahwa semua responden dengan lama kerja kategori baru (<6 tahu. memiliki perilaku cuci tangan kategori baik dan responden yang memiliki lama kerja lebih banyak (Ou6 tahu. memiliki kemungkinan atau kecenderungan berperilaku cuci tangan tidak baik, namun hasil uji statistik menggunakan uji Kolmogorov menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara lama kerja dengan perilaku cuci Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki lama kerja dengan kategori lama (>10 tahu. yaitu sebanyak 18 responden atau sebesar 66,7% dan paling sedikit responden memiliki lama kerja dengan kategori baru (<6 tahu. yaitu 7 responden atau sebesar 25,9%. Health Research Journal of Indonesia (HRJI) Vol. No. 4, pp. April 2023 tangan perawat di Ruang IBS RS Swasta di kota Semarang dengan nilai p yaitu 0,429 (>0,. secara langsung akan berdampak pada motivasi perawat dan berkelanjutan pada menurunnya kinerja perawat termasuk dalam pencegahan infeksi yaitu perilaku cuci tangan sesuai SOP (Puspita Andri & Soewondo, 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir seluruh responden berjenis kelamin laki-laki yaitu 19 responden atau sebesar 70,4% dan kurang dari setengah responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 8 responden atau sebesar 29,6%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lain bahwa perawat yang bertugas di ruang bedah mayoritas berjenis kelamin laki-laki atau sebesar 75% (Risanti et al. , 2. Asumsi peneliti yaitu banyaknya persentase jumlah perawat laki-laki di ruang bedah dikarenakan tingginya beban kerja, stresor yang besar serta tuntutan pekerjaan yang cepat di ruang bedah yang membutuhkan daya tanggap yang cepat dan tepat. Hal tersebut lebih memungkinkan dan sesuai dengan karakteristik perawat laki-laki, dimana perawat perempuan memiliki karakteristik lebih feminim, memelihara, peduli dan empati. Beberapa studi terdahulu telah melaporkan keterkaitan gender dengan perilaku hand hygiene di rumah sakit. Sebuah penelitian di Arab Saudi menjelaskan bahwa perawat perempuan hand hygiene lebih baik dibandingkan perawat laki-laki (Mohaithef, 2. Beberapa studi juga menyebutkan hasil serupa kecenderungan lebih patuh dan baik dalam melakukan hand hygiene terutama ketepatan waktu melakukan hand hygiene (Ahmed et al. , 2020. Elkhawaga & El-Masry, 2. Faktor jenis kelamin menjadi salah satu paling dominan yang berhubungan dengan kepatuhan perawat melakukan hand hygiene dikarenakan lebih banyak ketertarikan menjadi perawat adalah perempuan dibandingkan laki-laki, hal ini dibuktikan dengan lebih banyak persentase perawat perempuan dibandingkan perawat laki-laki. Studi yang ini juga menunjukkan bahwa persentase perawat perempuan yang patuh melakukan hand hygiene sebesar 79,9% sedangkan persentase perawat laki-laki yang patuh melakukan hand hygiene hanya sebesar 35,9% (Handiyani et , 2. Studi lain tentang perilaku cuci tangan PEMBAHASAN Berdasarkan tabel 1, hasil penelitian ini serupa dengan penelitian Prabowo tahun 2018 bahwa perawat yang bertugas di instalasi bedah paling banyak atau sebesar 81,1% berada pada usia kategori dewasa. Usia kategori dewasa merupakan tahapan perkembangan seseorang, dimana pada usia tersebut seseorang berada pada usia produktif . 0 tahu. Usia produktif merupakan sebuah fase seseorang memiliki pengetahuan, kekuatan dan status emosional yang lebih baik sehingga paling memungkinkan mereka dapat mencapai puncak karir (Khairul Nasri et al. , 2. Hasil studi terdahulu menyebutkan bahwa lebih dari setengah perawat yang bekerja di ruang bedah memiliki beban kerja berat yaitu sebesar 70% (Rio et al. Beban kerja di ruang bedah yang cukup tinggi memerlukan perawat yang siap baik dari segi pengetahuan, kerampilan, minat kerja dan lainnya sehingga dapat memberikan pelayanan yang Perawat dengan kriteria usia produktif merupakan salah satu pilihan terbaik untuk menjawab tuntutan kerja di instalasi bedah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perawat di Ruang IBS RS Swasta di kota Semarang semuanya berada pada usia produktif namun pada tabel 3 menunjukkan masih ada yang berperilaku tidak baik dalam cuci tangan bedah yaitu sebesar 29,6%. Hal tersebut didukung oleh studi yang dilakukan Hamdana, dkk tahun 2021 yang dilakukan di RSUD Lanto Dg Pasewang mengungkapkan bahwa faktor usia tidak berhubungan dengan perilaku cuci tangan perawat, dimana perawat kategori remaja ataupun dewasa sama-sama mempunyai kemungkinan melakukan cuci tangan tidak sesuai SOP. Hal tersebut karena adanya faktor lain yang dapat mempengaruhi pelaksanaan hand hygiene sesuai SOP seperti beban kerja yang berlebihan. Hasil penelitian Dedy, dkk menjelaskan bahwa beban kerja yang berat di ruang pembedahan ditambah kurangnya tenaga kesehatan dapat mengubah persepsi tentang pentingnya pelaksanaan perilaku cuci tangan. Hal tersebut Health Research Journal of Indonesia (HRJI) Vol. No. 4, pp. April 2023 pada setting komunitas dengan melibatkan 815 responden juga melaporkan hal serupa bahwa perempuan mempunyai pengetahuan dan perilaku lebih baik terkait hand hygiene dibandingkan pria, dimana terlihat banyaknya pria yang melakukan hand hygiene hanya dengan air mengalir tanpa menggunakan sabun atau mengeringkan tangan di pakaian mereka sendiri (Suen et al. , 2. Hasil penelitian menunjukan bahwa lebih dari setengah responden mempunyai pendidikan terakhir Di Keperawatan yaitu 15 responden atau sebesar 55,56% dan kurang dari setengah responden berpendidikan Sarjana Keperawatan atau Ners yaitu sebanyak 12 responden atau sebesar 44,46%. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hartawan, dkk tahun 2018 bahwa perawat dengan jenjang pendidikan Diploma i paling banyak jumlahnya dibandingkan perawat dengan jenjang pendidikan lainnya seperti S1 Ners ataupun Pasca Sarjana. Penelitian lain mengungkapkan hal serupa bahwa perawat yang bekerja di ruang bedah paling banyak atau sebesar 73,53% memiliki jenjang pendidikan terakhir yaitu Diploma i (Pitoyo et al. , 2. Banyaknya perawat yang memiliki jenjang pendidikan Diploma i bukan hanya yang bertugas di ruang bedah namun di hampir semua ruang atau instalasi di rumah sakit (Rosmiati et al. , 2. Hal tersebut dikarenakan untuk menjadi perawat seseorang tidak harus menempuh jenjang pendidikan Sarjana melainkan dengan menempuh jenjang Diploma i Keperawatan saja seseorang telah legal menjadi seorang perawat dan berhak memberikan asuhan keperawatan kepada pasien (Kurniati et al. , 2. Asumsi peneliti tentang masih banyaknya perawat dengan jenjang pendidikan Diploma i Keperawatan juga dapat disebabkan karena kurangnya minat perawat melanjutkan studi ke jenjang Sarjana, ijin belajar atau melanjutkan studi tidak mudah didapatkan dari tempat kerja karena harus menunggu giliran atau dialokasikan untuk kebutuhan hidup lainnya. Studi terdahulu melaporkan hasil yang berbeda-beda tentang hubungan jenjang pendidikan perawat dengan perilaku hand hygiene, dimana penelitian yang dilakukan oleh Setiawan tahun 2017 menjelaskan bahwa adanya hubungan antara jenjang pendidikan dengan perilaku hand hygiene yaitu perawat dengan jenjang pendidikan Di 2,875 kali berpeluang untuk tidak patuh melakukan hand hygiene sesuai SOP. Hal ini disebabkan semakin tinggi jenjang pendidikan yang dimiliki maka semakin baik pengetahuan yang dimiliki oleh perawat tersebut termasuk tentang pentingnya hand hygiene sehingga mempengaruhi kesadaran dan kepatuhannya dalam perilaku hand hygiene. Hasil yang berbeda diungkapkan oleh Pundar, dkk bahwa tingkat pendidikan seorang perawat tidak berhubungan dengan kepatuhan hand hygiene. Hal tersebut dikarenakan pengetahuan dan keterampilan tentang hand hygiene harus dimiliki oleh semua perawat baik yang berpendidikan Di atau lebih tinggi sebagai salah satu tindakan pencegahan infeksi nosokomial. Seorang perawat yang telah melanjutkan studi lanjut ke jenjang lebih tinggi atau telah memiliki pendidikan tinggi (S1 Ner. tentu mempunyai pengetahuan yang baik tentang pentingnya pelaksanaan hand hygiene sesuai SOP namun pengetahuan tersebut tidak dapat direliasasikan menjadi perilaku yang menetap jika tidak didukung oleh faktor lainnya (Mawansyah et , 2. Studi lain menjelaskan bahwa budaya patient safety . erilaku cuci tanga. perlu didukung oleh motivasi perawat, dukungan dan peran kepala ruangan dalam terwujudnya perilaku yang mengedepankan keselamatan pasien, keluarga pasien maupun perawat itu sendiri (Wulandari et al. Berdasarkan tabel 2, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Jama dan Yuliana tahun 2020 bahwa perawat di instalasi bedah paling banyak merupakan perawat dengan masa kerja lebih dari 5 Perawat yang memiliki masa kerja kategori lama tentu mempunyai pengalaman lebih banyak dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal tersebut memungkinkan terjadinya peningkatan pengetahuan, skill dan sikap profesionalisme yang lebih baik dibandingkan mereka yang baru menjadi Hal tersebut akan sangat berguna dalam memenuhi tuntutan beban kerja yang tinggi di instalasi bedah (Husain, 2018. Prasetyo & Wasis. Health Research Journal of Indonesia (HRJI) Vol. No. 4, pp. April 2023 Pengalaman yang banyak selama menjadi perawat tidak selalu dapat meningkatkan kinerja perawat khususnya dalam kepatuhan cuci tangan (Welembuntu & Gobel, 2. Hal ini juga didukung oleh hasil studi yang menjelaskan bahwa baik perawat dengan masa kerja lama maupun baru tidak berhubungan dengan kepatuhan cuci tangan. Hal tersebut karena adanya faktor-faktor lain yang lebih dominan berhubungan dengan kepatuhan perawat seperti sikap, beban kerja, infrastruktur dan supervisi kepala ruangan (Faridah et al. , 2022. Malliarou, 2. Berdasarkan tabel 3, hasil penelitian dari mengobservasi 27 responden dan setiap responden dilakukan 3 kali pengukuran cuci tangan didapatkan beberapa tindakan prosedur yang paling banyak tidak dilakukan atau dilakukan tidak sesuai meliputi prosedur no. ersihkan kuku dengan pembersih kuku di bawah air mengali. sebanyak 16 kali, no. osok tangan seperti cuci tangan procedural masing-masing tangan 30 deti. sebanyak 11 kali, 14 . umuri kembali tangan A lengan dengan menggunakan chlorhexidine 4% . dengan menggunakan spon untuk membersihkan tangan kiri dan tangan kanan . ulai dari menggosok telapak tangan selama 15 detik, punggung tangan tangan 15 detik, kemudian seluruh jari secara beruruta. sebanyak 10 kali, no. 15 sebanyak 8 kali, 10 . ikat lima kuku jari kanan luar secara bersamaan selama 1 menit, lakukan hal yang sama pada lima kuku jari kir. sebanyak 6 kali, no. ilas tangan dengan air yang mengalir pada satu arah secara bergantia. sebanyak 2 kali dan no. uka kemasan sikat halus dan juga spon yang mempertahankan teknik asepti. 1 kali. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Agustin, dkk tahun 2020 bahwa masih adanya perilaku perawat yang tidak sesuai SOP dalam melakukan hand hygiene. Studi lain juga mengungkapkan hal serupa bahwa kepatuhan hand hygiene perawat yang seharusnya 100% belum terealisasikan, dimana masih terdapat perawat sebanyak 24,4% yang melakukan hand hygiene namun tidak sesuai dengan ketentuan (Thirayo et al. , 2. Hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan sebelumya bahwa adanya perawat yang melakukan cuci tangan bedah dengan tergesa-gesa karena ingin segera mengikuti tindakan pembedahan. Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan tiga responden yang berperilaku cuci tangan bedah tidak sesuai SOP memperoleh hasil serupa bahwa mereka merasa waktu untuk melakukan cuci tangan bedah terlalu lama, sedangkan jadwal operasi yang banyak membuat mereka harus bisa bekerja dengan lebih Hal tersebut membuat responden tergesagesa karena harus segera mengikuti tindakan pembedahan, sehingga seringkali terjadi kelalaian dalam melakukan cuci tangan bedah sesuai tahapan dan waktunya. Peneliti berasumsi bahwa waktu pelaksanaan cuci tangan bedah yang cenderung lama yaitu sekitar 5-10 menit membuat adanya perasaan khawatir akan terlambat mengikuti tindakan operasi, sehingga membuat adanya perawat yang secara sengaja ataupun tidak sengaja tidak melakukan cuci tangan bedah sesuai SOP. Hal ini juga dapat membuktikan bahwa tuntutan beban kerja . adwal operasi yang banya. di kamar bedah terkadang membuat perawat lalai melakukan cuci tangan untuk dapat segera bergabung dengan tim bedah dalam melakukan tindakan bedah. Hal tersebut sesuai dengan studi yang dilakukan oleh Morika tahun 2018 bahwa perawat di ruang bedah memiliki beban kerja kategori tinggi sebanyak 20 responden atau sebesar 58,8%. Studi lainnya juga melaporkan hal serupa bahwa sebanyak 11 perawat atau sebesar 44% di ruang bedah memiliki beban kerja kategori tinggi dan hanya sebanyak 5 perawat atau sebesar 20% yang memiliki beban kerja kategori rendah (Gaol et al. , 2. Beban kerja merupakan tuntuan pekerjaan berupa kewajiban yang harus dipenuhi pekerja. Beban sebagai tenaga kesehatan tergolong berat dapat disebabkan beberapa alasan yaitu kurangnya tenaga kesehatan, harapan akan pelayanan yang berkualitas, tuntutan keluarga pasien akan keselamatan pasien, kondisi pasien dan lain sebagainya (Hartawan et al. , 2. Beban kerja yang berlebih akan menimbulkan efek negatif seperti kelelahan dan stres, dimana secara langsung akan berdampak terhadap menurunnya kinerja Health Research Journal of Indonesia (HRJI) Vol. No. 4, pp. April 2023 (Morika, 2018. Prabowo et al. , 2. Penelitian lain juga menjelaskan bahwa perawat yang mengalami stres ketika bertugas melakukan pembedahan ditandai dengan wajah terlihat letih, peregangan otot. Stres ini tentu akan membebani secara fisik maupun mental sehingga kinerja menjadi tidak maksimal termasuk dalam melakukan tindakan patient safety (Rachmawati et al. , 2. Studi lain juga menjelaskan bahwa adanya hubungan antara beban kerja dengan tingkat kewaspadaan universal yang dilakukan perawat termasuk tindakan pencegahan HAIs yaitu perilaku cuci tangan (Sinaga et al. , 2. Berdasarkan tabel 4. Hasil penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Arsabani dan Hadianti tahun 2019 bahwa lama kerja perawat tidak berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam melakukan cuci tangan. Lama kerja merupakan banyak waktu seseorang dalam menjalani sebuah pekerjaan, dimana semakin lama masa kerja maka semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki sehingga lebih memampukan dirinya dalam melakukan pekerjan dengan baik (Layuk et al. , 2. Banyaknya pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan selama bekerja di ruang bedah tidak serta merta dapat meningkatkan kepatuhan hand hygiene. Perilaku cuci tangan sesuai SOP yang seharusnya dilakukan semua petugas kesehatan termasuk perawat dalam mewujudkan patient safety belum terealisasikan dibuktikan dengan masih banyaknya petugas kesehatan yang tidak patuh melakukan hand hygiene sesuai SOP (Pangaribuan et al. , 2. Lama kerja tidak menjadi faktor yang berhubungan dengan perilaku cuci tangan karena adanya faktor lain yang lebih dominan yaitu kurangnya sosialisasi, edukasi, supervisi dan fungsi reward dan punishment (Aidi et al. , 2. Pelatihan yang ditunjukan kepada perawat terbukti dapat meningkatkan kepatuhan hand hygiene, dimana pelatihan tersebut dapat menambah maupun mengupdate pengetahuan perawat tentang cara melakukan cuci tangan maupun menguatkan persepsi perawat tentang pentingnya hand hygiene sebagai upaya pencegahan infeksi nosokomial (Jama, 2. Sebuah studi literature review juga menerangkan hal serupa bahwa supervisi yang dilakukan kepala ruang membawa dampak positif terhadap kepatuhan hand hygiene perawat, yang mana dalam pelaksanaan supervisi ini kepala ruangan bukan hanya melakukan evaluasi kerja perawat namun juga reinformasi, penguatan dan memotivasi perawat untuk selalu berupaya memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin (Pakaya et al. , 2. Beberapa studi terdahulu juga menjelaskan bahwa faktor yang dominan berhubungan dengan kepatuhan cuci tangan yaitu persepsi dan motivasi perawat. Kurangnya pemahaman perawat menimbulkan terhadap persepsi negatif tentang pentingnya hand hygiene ketidakpatuhan perawat dalam melakukan hand hygiene (Abd Rahim & Ibrahim, 2. Perilaku hand hygiene juga dipengaruhi oleh motivasi kerja, dimana motivasi yang baik dalam bekerja dapat membuat perawat akan bekerja sebaik mungkin dalam memberikan pelayanan yang terbaik termasuk mewujudkan patient safety: hand hygiene (Dwi Rianita & Suryani, 2019. Tussakdiah & Kusumapraja, 2. Faktor lain yang berperan dalam kepatuhan cuci tangan yaitu beban kerja dari Beban kerja yang berat akan berpengaruh terhadap kinerja perawat termasuk dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial yaitu cuci tangan sesuai SOP (Morika, 2018. Prabowo et al. , 2. Perawat dengan beban kerja berat akan mengalami stres kerja yang berlanjut dengan turunnya atau ketidakmaksimalnya kinerja kerja (Rachmawati et , 2. SIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini diperlukan upaya evaluasi monitoring agar perawat meningkatkan perilaku cuci tangan dengan baik. REFERENSI